7 INTEPRETASI TRADISI ADAT JAWA RUWATAN DALAM FILM PRIMBON KARYA RUDI SOEDJARWO Garcia iktia Received: 14 February 2024. Accepted: 28 February 2024. Published: 30 March 2024 Ed. : 376 - 383 Abstract The increasingly rapid growth of the Indonesian film industry has experienced big leaps to date with many themes and film genre variants emerging for entertainment and conveying messages to its target audience. One of the films that always has a special audience and its own audience is films with the horror genre, and the horror film genre in Indonesian films has experienced a lot of rapid progress apart from the cinematography, setting, and content and stories from discussing religion and myths circulating in the world. society and currently there are more and more horror films highlighting Indonesian culture which is indeed diverse and interesting to discuss in a filmAos narrative. The aim of this research is to describe the interpretation of AoRuwatanAo from the horror film PRIMBON by director Rudi Soedjarwo. This qualitative research uses content analysis and historical analysis regarding the exact role of AoRuwatanAo in this film which has a big impact on Javanese culture in Indonesia. with the results of the analysis that the film AoPrimbonAo succeeded in introducing the ruwatan procession as a Javanese culture and custom that is very essential and cannot be replaced, because it is used as an important procession in salvation to eliminate disasters, a wider audience can understand this with the media films and film directors do not need to change the narrative or context to a more cinematic one, the actual procession can be shown as it is. Culture and customs are very relevant as narratives in films not only because of trends or market accommodation but for the broader purpose of introducing culture and customs by using film as a mass medium that can reach a wider audience. Keywords : Movie, history, culture, ruwatan. PENDAHULUAN Pada kajian tentang kebudayaan, menurut James . , secara keseluruhan, merupakan suatu kesatuan dari banyak aspek tentang manusia yang juga merupakan bagian dari Masyarakat yang kesemuanya berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dalam sistem interaksi pada kepercayaan, pengetahuan, hukum adat juga termasuk upacara dan kesenian. Pendapat berbeda dari Chris Baker dengan Kamus Kajian Budaya, 2014, yang menjelaskan, bahwa pemikiran tentang budaya, merupakan sarana atau prasarana yang penting dan berguna sebagai Aobingkai kehidupanAo bagi manusia. Pada perkembangannya yang dimakhsud dengan kebudayaan, pada dasarnya, selalu berhubungan dengan media interaksi sosial dan berkesinambungan dengan keperluan peristiwa adat, dan pengaruhnya pada kehidupan keseharian, pada kehidupan bermasyarakat saat kini. Sehubungan dengan pengaruh budaya pada adat-istiadat dan tradisi sudah sangat meresap pada setiap kehidupan dan kegiatan di setiap aktivitas dan tindakan pada Masyarakat secara terus menerus dan Sehubungan dengan itu, pemahaman tentang adat istiadat itu sendiri, sebenarnya merupakan tata aturan yang bertindak dan mengatur yang menjadi kebiasaan dan sebagai bagian dari kegiatan ritual masyarakat secara terus menerus, dari generasi ke generasi (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2. Sehubungan dengan itu pula, kegiatan adat dan budaya pada masyarakat kerap dijadikan sebagai identitas dan ciri khas yang tidak terpisahkan oleh satu suku, atau golongan masyarakat yang lebih luas lagi. Mengutip dalam buku AoDasar-dasar Apresiasi filmAo, mengatakan bahwa film dibuat berdasarkan keadaan Masyarakat yang ada pada saat itu (Garcia Iktia, 2018. Marselli Sumarno, 1. Sehingga semakin menarik ketika media yang dimaksudkan adalah film-film Indonesia saat ini membawa adat istiadat serta kebudayaan masyarakat, sehingga kebudayaan yang ada di masyarakat Jawa misalnya, dikenal oleh kebudayaan masyarakat di suku yang lain, dan apabila tidak diangkat kedalam isi sebuah media, maka akan hilang dan terlupakan dengan sendirinya oleh masyarakat Indonesia yang hidup pada saat ini, dan juga merupakan upaya menghindari kepunahan pada saat yang akan datang. Penelitian ini, menggunakan media film sebagai obyek kajian dengan metode historis untuk memperoleh analisis isi, dengan menginterpretasikan beberapa scene dan adegan yang berhubungan inti persoalan, bagian dari upacara ruwatan, yang berasal dari peristiwa adat suku Jawa, yang bertujuan menghindari mala petaka, pada individua atau sekelompok Masyarakat. Oleh karena itu. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan etnis yang menyebar di berbagai daerah dan pulau, saat ini mulai erat mengaitkan antara informasi dengan perkembangan kegiatan adat dan budaya yang sudah terlaksana secara alih pengetahuan dari generasi ke generasi melalui media massa, dengan tujuan antara lain, masyarakat yang lebih luas dapat mengenali dan mengetahui kegiatan atau peristiwa-peristiwa tersebut. Hal ini berhubungan dengan adanya hakikat dari media massa, bahwa kepentingan dari adanya penyebaran konteks peristiwa adat dan budaya, yang lebih sesuai dan menyebar lebih luas dengan cepat, membagikan semua peristiwa melalui AoteksAo dan ilustrasinya, yang terkait dengan berkembangnya budaya modernitas kapitalis, antara lain melalui surat kabar, majalah, televisi dan industri film. Kemudian untuk definisi film itu sendiri, merupakan bagian dari media audio visual, yang cara menginformasikan peristiwa dengan menggunakan teknik merekam gambar melalui alat perekam berupa camera digital. Disertai narasi berupa teks atau suara pada gambar-gambar yang bergerak, dengan menggunakan rangkaian slide yang digerakkan oleh proyektor. (Garcia Iktia, 2018: 196. Pratista, 2008: . METODE PENELITIAN Sebagai upaya dalam pencarian jawaban, tentang keberadaan dari peristiwa ruwatan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian historis dan analisis isi dari interpretasi yang terkandung dalam film yang berjudul AoPrimbonAo karya Rudi Soedjarwo yang rilis pada tanggal 10 Agustus 2023. Menggunakan kajian historis, sebagai upaya untuk mengetahui, tentang sejarah keberadaan dari peristiwa ruwatan tersebut, sekaligus mengetahui hubungannya dengan menggunakan analisis isi dari primbon . anduan hidu. yang merupakan judul dari film yang dikaji tersebut. Melalui analisis kajian historis juga dapat mengetahui keterlibatan unsur-unsur sejarah yang berada di luar objek dari keberadaan film tersebut, sebagai aspek ekstrinsik (Ratna, 2010: . Kajian historis digunakan agar supaya mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang perkembangan isi budaya dalam film Indonesia, sebagai latar belakang dari keberadaan film tersebut, terutama yang berhubungan dengan peristiwa adat AoruwatanAo, dari masyarakat suku Jawa, yang sudah sangat tua. Sedangkan intrepretasi adalah proses menterjemahkan teks, gambar dan peristiwa yang terekam dalam upaya menyampaikan pesan yang secara eksplisit dan implisit yang perlu didapat untuk mencapai tujuan dari penelitian ini. Penggunaan metode kualitatif, dengan pendekatan metode analisis isi . ontent analysi. merupakan teknik penelitian Garcia iktia. Intepretasi Tradisi Adat Jawa Ruwatan Dalam Film Primbon Karya Rudi Soedjarwo. yang digunakan untuk mendapatkan fenomena tertentu pada sebuah peristiwa adat yang dianggap sakral dan rumit, dengan sara yang lebih mudah dan praktis (Krippendorf, 2. Oleh sebab itu, metode analysis isi akan membantu peneliti untuk memahami tentang prosesi AoRuwatanAo yang dilakukan dalam film AoPrimbonAo bersamaan dengan proses Interpretasi yang menterjemahkan arti dari hasil proses edit yang terekam yang siap dipublish, dengan menggunakan bahasa tutur yang lebih sederhana dengan pemahaman pada masing-masing audiens dalam menerima pesan secara terbuka pada gambaran realitas tersebut (Rohidi, 2011: Sehubungan dengan itu, intrepretasi di dalam penelitian ini membantu peneliti untuk mengungkapkan apa yang terkandung di dalam prosesi AoRuwatanAo yang terdapat di dalam film AoPrimbonAo apakah prosesi AoRuwatanAo yang terkandung di dalam film AoPrimbonAo memang membawa realitas tradisi suku Jawa dan di jelaskan dengan gamblang di dalam film tersebut ataukah hanya sekedar pemanis dalam sebuah film, apakah film Indonesia saat ini semakin maju dengan mengangkat tradisi dan budaya Indonesia atau mengangkat adat istiadat dan kebuadayaan Indonesia hanya sekedar mengikuti komoditi pasar atau trend. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada sekitar tahun 1970an, film horror Indonesia, mulai banyak peminat, dan disukai para penonton film. Hal ini menurut keyakinan banyak orang, karena Masyarakat Undonesia memiliki kepercayaan akan halhal yang ada unsur tahayul, mistis, dan supranatural (Garcia Iktia, 2018: . Budaya-budaya mistis erat sekali dengan masyarakat Indonesia, dan tidak bisa di hilangkan karena itu adalah satu yang melekat dengan budaya Indonesia, seperti adanya kepercayaan tentang ratu pantai Selatan yang mempunyai Kerajaan ghoib di Selatan pulau Jawa atau adanya budaya atau adat istiadat yang ketika seseorang sakit yang menurut masyarakat sekitar tidak lazim maka berbondong-bondonglah membawa nya ke pemuka agama, orang sakti atau orang pintar, bukan datang ke dokter untuk berobat, budaya memelihara dan merawat keris agar sakti dan dapat membantu pemilik keris untuk selamat dalam kehidupan dan mendapatkan kesaktian serta kekayaan, kemudian budaya suku jawa yang ketika menuju pernikahan maka haruslah melihat primbon sembari mencari hari baik dan haruslah di sesuaikan dengan wetonnya. Primbon sangat erat kaitannya dengan budaya suku Jawa. Pada Masyarakat Jawa, untuk supaya semua kehidupan berjalan selaras dan harmoni, maka diperlukan catatan-catatan berdasarkan pengalaman masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari, maka lahirlah buku sebagai acuan yang kemudian disebut buku Primbon. Buku ini merupakan hasil catatan-catatan yang memuat tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan dan keburukan dalam daur hidup manusia. Pada buku catatan Primbon, tersimpan semua pengetahuan, berdasarkan interpretasi tentang berbagai hal yang positif dan negatif, yang menggunakan teknik hitung dalam pola Semua daur hidup mulai dari lahir, hingga tumbuh kembang anak, hingga menjadi dewasa, kemudian menikah sampai prosesi kematian, semua terhitung dengan cermat dalam buku Primbon. Memang, tidak semua orang memiliki buku Primbon, dan biasanya kemampuan membaca buku Primbon diturunkan dari generasi ke generasi, dan setiap peristiwa penting selalu dihitung dengan cermat. Kemudian setelah mendapatkan kesepakatan hari baik dan semua dihitung untuk mendapatkan kebaikan, diteruskan dengan pelaksanaan upacara yang menyertainya. Hal-hal yang seperti itulah yang dilihat oleh produser dan sutradara film sebagai salah satu kebudayaan atau adat yang tidak bisa dihilangkan atau bahkan menarik untuk diangkat menjadi sebuah film. Pada cerita ringkas dari film AuPrimbonAy menceritakan tentang kedua orang bersahabat yakni Rana (Flavio Zavier. dengan Janu (Chicco Kurniawa. yang sedang menjelajah hutan dalam kondisi cuaca buruk, badai dan kabut tebal, yang kemudian membuat keduanya tersesat dan terpisah. Rana menghilang dan Janu Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 376 - 383 berhasil selamat dan kembali ke desa untuk meminta pertolongan warga. Keluarga Rana dibantu oleh penduduk desa mencari Rana yang hilang di gunung. Keluarga Rana terkenal sangat menjunjung budaya Jawa, menjunjung budaya leluhur dan memakai AoPrimbonAo sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari. Seminggu berlalu setelah Rana menghilang, keluarga Rana mulai pasrah dan menganggap Rana sudah meninggal. Mereka mulai menyiapkan acara tahlilan, namun diam-diam ibu Rana (Happy Salm. masih berharap bahwa anaknya belum meninggal, dan berdoa agar anaknya kembali pulang. Pada saat malam tahlilan. Rana pulang kerumah tanpa kekurangan suatu apapun, ayah dan ibu Rana bahagia anaknya pulang kerumah. Lalu timbul pertanyaan besar, bagi ke dua orang tua Rana dan keluarga besar mereka, yang datang adalah Rana atau seseorang seperti Rana. Lantas akhirnya mereka mumutuskan menggunakan AoPrimbonAo untuk acuan, ketika seseorang pulang kerumah tepat di malam tahlilan bisa mendatangkan malapetaka dan hal yang janggal. Keluarga Rana pun sempat mengutarakan bahwa penggunaan AoPrimbonAo untuk menentukan jodoh keluarga, sempat tidak di gubris oleh ayah dan ibu Rana, sehingga keluarga mereka mengalami kesialan. Mereka juga menggunakan perhitungan weton untuk bisa membantu mereka menemukan yang terjadi dengan Rana, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan prosesi AoRuwatanAo yang disesuaikan dengan perhitungan weton Rana, yang pelaksanaan untuk melakukan prosesi AoRuwatanAo yang tidak boleh sembarangan dilakukan. Menurut keluarga besar Rana, prosesi AoRuwatanAo harus dilakukan untuk mengembalikan Rana kembali menjadi Rana dan mengusir hawa jahat yang ada di dalam Rana. Serta membuang kesialan yang berkali-kali menimpa keluarga Rana. Ibu Rana awalnya tidak setuju dengan terlalu percaya pada AoPrimbonAo tapi akhirnya ia tidak bisa untuk menolak, karena semua adalah untuk kebaikan anaknya dan ia juga merasakan memang ada yang aneh dengan anaknya. Maka proses AoRuwatanAo pun dilakukan untuk Rana, sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh AoPrimbonAo. Prosesi AoRuwatanAo berjalan dengan semestinya, kemudian Rana mengalami kesakitan yang luar biasa dalam prosesi tersebut, hingga akhirnya setelah proses AoRuwatanAo itu berakhir, keluarga Rana mengetahui bahwa anaknya memang sudah meninggal di Prosesi AoRuwatanAo tersebut membantu Rana untuk menemukan jalan pulang dan membantu keluarga nya untuk ikhlas bahwa anaknya memang sudah meninggal. Prosesi Ao Ruwatan Ao sendiri adalah salah satu dari prosesi selamatan dalam adat istiadat dan religi Kejawen. Upacara selamatan dapat digolongkan-golongkan ke dalam bentuk upacara Ruwatan, antara lain dalam bentuk, 1. Upacara yang berhubungan dengan keselamatan hidup individu . pacara 7 bulanan dalam kandungan ibu, potong rambut pada bayi yang baru lahir, pertama tanah menjejakkan tanah pada anak bayi, upacara menusuk telinga pada anak, khintan, dan upacara untuk kematian. Upacara yang berhubungan dengan acara gotong royong bersih desa, mensyukuri panen padi, dan kesuburan tanah pertanian. Upacara yang berhubungan dengan hari besar Islam. Upacara yang penyelenggaraannya di saat-saat tertentu, misalnya. membangun rumah baru, menolak bahaya . pacara ruwata. , atau akan mengadakan bepergian jauh (Koentjaraningrat, 2002 : 348 ). Prosesi AoRuwatanAo merupakan prosesi yang cukup penting di adat Jawa, karena dianggap dapat memberikan penjagaan atau perlindungan bagi orang yang diruwat, dan membuang kesialan atau pengaruh-pengaruh jahat yang menempel pada orang tersebut, orang yang diruwat biasanya orang yang selalu mendapat kesialan berturut-turut atau dianggap tubuhnya di masuki oleh roh jahat, sehingga prosesi tadi diyakini dapat mengusir roh jahat dalam tubuh orang tersebut. Contoh. seorang anak terlahir tanpa saudara, kakak atau adik, sehingga biasa disebut anak Tunggal, orang Jawa menyebutnya bocah ontang-anting, yang sangat digemari oleh Batara Kala . aksasa tokoh wayan. untuk dijadikan Oleh karena itu, upaya untuk menghindari ancaman tersebut, orang tua dari si anak Tunggal tersebut segera mengadakan upacara ruwatan yang biasanya disertai den- Garcia iktia. Intepretasi Tradisi Adat Jawa Ruwatan Dalam Film Primbon Karya Rudi Soedjarwo. gan naggap wayang kulit semalam suntuk, sekaligus dengan mengundang dukun . rang yang punya kekuatan menghilangkan penyakit, dan ruh jahat (Koentjaraningrat, 2002: . Pada Masyarakat Jawa, terdapat kepercayaan yang sudah santar mentradisi, bahwa dalam hal peristiwa tertentu yang tidak dapat diterima karena mendatangkan musibah, merak memandang bahwa kejadian atau peristiwa tersebut karena adanya Batara Kala sedang Sehubungan dengan itu, maka perlunya upacara untuk menolak dan melepaskan gangguan dari Betara Kala, dengan upacara ruwatan, yang oleh Masyarakat Jawa meyakini bahwa segala sesuatu yang telah tertib dan selaras, hendaknya jangan rusak yang nantinya akan mengakibatkan malapetaka. Kemudian untuk menyelaraskannya, biasanya upacara ruwatan, disertai pergelaran wayang kulit semalam suntuk, untuk menghalau malapetaka, dan sekaligus media komunikasi dan pembelajaran tentang kebaikan dan keburukan bagi warga, yang sudah mentradisi, dan sekaligus menghibur (Soekatno, 1992: . Pada berbagai upacara adat jawa yang sakral, wayang juga sering dipakai sebagai penghubung antara manusia dengan penciptanya melalui penceritaan oleh dalang dan lagu-lagu yang mengiringi penceritaan. Dalam visualisasi yang digunakan dalam pertunjukan wayang untuk prosesi ruwatan, menggunakan tokoh karakter wayang Batara Kala yang digambarkan dengan raksasa besar, menakutkan pemangsa yang lemah. Karena memiliki bentuk visual raksasa. Batara Kala lazim dipergunakan sebagai lambang (Yudayana, 2. Selain mengadakan pagelaran wayang, yang merupakan prosesi dalam ruwatan adalah menyelenggarakan siraman dan adanya sajen. Pemahaman sajen atau sesajen, sebenarnya disiapkan untuk makhluk supranatural . yang ditata sedemikian rupa, sebagai sarana yang berhubungan dengan di luar manusia (Darmoko, 2002: . Oleh karena bentuk sarana tersebut digunakan unruk makhlus AohalusAo, maka sesajen, sebenarnya cukup menggunakan bebauan saja, yang oleh G. J Hazeu, menjelaskan bahwa karena sifatnya supranatural, maka yang berhubungan dengan alam supranatural, selalu berhubungan dengan bebauan termasuk bentuk-bentuk sesajinya (Hazeu, 1. Tabel adegan prosesi ruwat dalam film AoPrimbonAo No. Adegan: Keterangan: Awal adegan ruwatan dimulai dengan menyiapkan Rana memakai baju Panjang serba putih, keluarga memakai baju adat jawa Type of shot: MS, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: seluruh keluarga datang untuk siraman yang dimulai dengan keluarga inti lalu keluarga besar Type of shot: MS, tone: Warm Gambar: Batara Kala Sumber: Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 376 - 383 No. Adegan: No. Adegan: Keterangan: Prosesi siraman memakai bunga 7 rupa. Type of shot: Close up, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Adegan berikutnya sutradara ingin menunjukkan bahwa di dalam ruwatan selain ada wayang, sajen bunga dan dupa juga ada makanan berupa tumpeng nasi kuning. Rana yang diruwat harus duduk di depan dan disaksikan oleh banyak orang. Type of shot: Medium Shot, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Adegan berikutnya sutradara ingin menunjukkan bahwa di dalam ruwatan yang penting harus ada selain bunga 7 rupa, juga ada sajen dupa. Type of shot: Close up, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Setelah adegan prosesi siraman oleh kembang 7 rupa maka pagelaran wayang pun dimulai oleh dalang. Type of shot: Close up, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Rana yang sedang diruwat menampakkan wajah kesakitan. Type of shot: Close up, tone: Warm Keterangan: Adegan pembuka pagelaran wayang dimulai dengan munculnya Batara Kala. Type of shot: Close up, tone: Warm Garcia iktia. Intepretasi Tradisi Adat Jawa Ruwatan Dalam Film Primbon Karya Rudi Soedjarwo. No. Adegan: Keterangan: Dilanjutkan dengan penceritaan pembebasan korban yang diambil oleh Batara Kala. Type of shot: Close up, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Rana pulang kerumah setelah maghrib dalam keadaan meninggal ditemukan oleh sahabatnya di gunung, setelah sahabatnya membantu mencari lagi Rana ketika prosesi ruwatan Prosesi Ruwatan membantu Rana untuk ikhlas dan pulang. Type of shot: Medium Shot, tone: Warm No. Adegan: Keterangan: Kursi yang tadi diduduki oleh Rana, sudah kosong, karena Rana AoPulangAo dalam keadaan Type of shot:Medium S2hot, tone: Warm Dari tabel diatas tampak terlihat dengan jelas prosesi ruwatan yang ada di dalam film AoPrimbonAo karya Rudi Soedjarwo adegan ruwatan dari awal hingga akhir, dengan detail-detail yang terlihat dari adegan pertama hingga adegan akhir prosesi ruwatan, dimulai dengan menunjukkan kesakralan ruwatan dengan pakaian Rana yang serba putih, prosesi yang penting dan harus di saksikan banyak orang, bagaimana keluarga rana sangat menghormati prosesi tersebut juga terlihat jelas dengan pakaian adat jawa yang dipakai untuk keluarga Rana dalam prosesi ruwatan tersebut, detail lain tampak dari pengambilan gambar Closeup dan detail untuk bunga, sajen dan pelakonan adegan Batara Kala. Rudi Soedjarwo berhasil membawa dan mengenalkan tradisi ruwatan dengan semua detail dalam filmnya dan memberikan makna yang baik. KESIMPULAN Dari analisis isi dari intrepretasi tentang AoRuwatanAo melalui kajian historis, dapat disimpulkan bahwa film AoPrimbonAo 2023 karya Rudi Soedjarwo sukses membawa realitas tradisi suku Jawa, dengan detail yang ditunjukkan oleh Sutradara dalam filmnya seperti pemakaian baju putih bagi yang diruwat yang dikategorikan sebagai symbol kesakralan dalam prosesi AoRuwatanAo, pemakaian pakaian adat jawa untuk keluarganya sebagai bentuk dari mengharagai upacara adat yang sedang di lakukan, kembang 7 rupa dalam prosesi siraman yang di ibaratkan dengan prosesi pembersihan diri dan adanya sajen seperti dupa dan nasi kuning, pengadeganan wayang dengan tokoh Batara Kala sebagai makna bahwa proses ruwatan ini berlangsung untuk membersihkan dan membantu menghilangkan kesialan. Sutradara tidak hanya mengikuti trend atau komoditas pasar tapi melalui riset yang sesungguhnya, begitu juga dengan analisis isi . ontent analysi. tentang AoRuwatanAo di dalam film tersebut tidak melenceng dari arti asli dalam prosesi AoRuwatanAo yang digunakan untuk membantu orang yang diruwat kembali ke jalan yang baik, keluar dari mara bahaya dan membantu mereka yang di masuki roh jahat untuk melepaskan diri dari pengaruh roh jahat, dan kembali ke jalan Tuhan. Film AoPrimbonAo berhasil mengenalkan prosesi ruwatan sebagai budaya dan adat Jawa ke khalayak masyarakat yang lebih luas tanpa perlu Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 376 - 383 mengganti narasi atau konteks yang digunakan dalam prosesi yang sesungguhnya. DAFTAR PUSTAKA