JURNAL RUPA VOL 08 NO 2 2023 DOI address: https://doi. org/10. 25124/rupa. Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Anggi Ayu Lestari1. Riksa Belasunda2. Ardy Aprilian Anwar3* Department of Craft. Faculty of Creative Industries. Telkom University. Bandung. Indonesia Department of Craft. Faculty of Creative Industries. Telkom University. Bandung. Indonesia Department of Visual Art. Faculty of Creative Industries. Telkom University. Bandung. Indonesia* Abstract Film Serial Musikal Nurbaya merupakan film yang menjelaskan mengenai diskriminasi yang terjadi pada kaum perempuan Minangkabau, tentu hal ini sangat bertentangan di dalam kebudayaan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, di mana perempuan adalah figur sentral dalam keluarga maupun masyarakat. Kondisi seperti ini mendorong munculnya kelompok feminisme dalam film tersebut untuk mengembalikan kedudukan perempuan Minangkabau. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi feminisme yang terdapat pada Serial Musikal Nurbaya. Penelitian jenis kualitatif digunakan dengan pendekatan interpretasi budaya. Sumber data dalam penelitian ini adalah unsur sinematik berupa mise en scene dan narasi dalam dialog pada film Serial Musikal Nurbaya. Reduksi data yang dimulai dari Episode 1 sampai 6 dengan yang hanya menggambarkan tindakan feminisme melalui teknik purposive sampling. Data terpilih kemudian dibedah dengan sistem tanda pada level denotasi dan konotasi dalam cakupan semiotika Roland Barthes. Mengacu pada data literasi tentang budaya Minangkabau, kami menginterpretasi temuan konotasi tersebut ke dalam level mitos. Terakhir, kami mengidentifikasi aspek-aspek feminisme pada temuan Keywords Serial Musikal Nurbaya. Sistem Matrilineal. Feminisme. Peran Perempuan dalam masyarakat Budaya Minangkabau Ardy Aprilian Anwar Email: Address Jl. Caringin Cikungkurak No. RT04 RW06 40223 Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar PENDAHULUAN Perempuan dalam budaya Minangkabau sangat dihargai keberadaannya. Pada perkembangannya perempuan memiliki kedudukan tersendiri dalam hal adat dan budaya. Matrilineal mulai dipraktikkan sejak zaman prasejarah hingga masa Islam dan mulai berkembang dengan akulturasi antara budaya lokal dan Hindu-Buddha . Bukti tertulis menyebutkan bahwa sistem matrilineal sudah ada sejak masa pemerintahan Datuk Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang . Hingga sekarang sistem matrilineal di Minangkabau berakar kuat pada nilai-nilai adat dan budayanya . Salah satu bukti bahwa perempuan memiliki kedudukan tersendiri dalam budaya Minangkabau adalah pemberian gelar AuBundo KanduangAy yang memiliki arti ibu kandung kepada perempuan yang telah menikah . Bundo Kanduang memiliki hak istimewa seperti pengambilan garis keturunan, pemegang kunci harta pusaka, pengelolaan harta keluarga serta memiliki hak untuk menentukan hasil musyawarah dalam lingkungan keluarga. Sementara itu kedudukan atau peran perempuan dalam lingkup politik terdapat konsep egaliter, yaitu laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan dan kesempatan yang setara. Konsep egaliter pada budaya Minangkabau memberikan kesempatan bagi perempuan untuk memiliki kedudukan di dalam dunia politik . Oleh karenanya, banyak perempuan yang menyadari bahwa mereka dapat memasuki dunia politik untuk menyuarakan isu terkait perempuan dan menjadi pemimpin dengan pengetahuan serta kemampuan yang mereka miliki. Namun, pada kenyataannya perempuan yang ingin memasuki wilayah politik sering kali mendapatkan diskriminasi, karena masyarakat masih memiliki stigma bahwa perempuan hanya mampu untuk menjadi pemimpin bagi sesama perempuan saja. Sistem matrilineal yang ada di dalam budaya Minangkabau sangat berbanding terbalik dengan konsep pemerintahan yang menganut sistem patriarki di dalamnya. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa perempuan sulit untuk menjadi pemimpin. Perempuan dalam budaya Minangkabau hanya terbatas pada lingkup keluarga saja namun tidak di dalam sosial maupun masyarakat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perempuan belum sepenuhnya memiliki kebebasan dalam masyarakat. Perempuan dalam budaya Minangkabau merupakan sosok sentral dalam sebuah keluarga, namun hal ini hanya dapat dirasakan oleh perempuan yang sudah menikah dan mencapai kedudukan sebagai Bundo Kanduang saja. Jika seorang perempuan di sana belum menikah dan masih lajang, maka perempuan tersebut harus tunduk akan perintah dan keputusan penghulu adat yang memiliki sebutan mamak dalam budaya Minangkabau . Selain kepada penghulu adat, perempuan tersebut harus tunduk kepada kedua orang tua dan seseorang yang dituakan dalam keluarga tersebut. Dalam sistem matrilineal, budaya Minangkabau memberikan hak istimewa kepada perempuan namun hanya dalam lingkup keluarga saja. Hal ini membuat keberadaan perempuan dalam lingkup politik sering kali dianggap tidak setara dengan laki-laki karena dipandang tidak sejajar kedudukannya. Kondisi ini mendorong munculnya kelompok perempuan untuk melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan gender yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan feminisme. Feminisme merupakan pemikiran perempuan untuk menuntut kesetaraan dan hak yang sama dengan kaum laki-laki. Hadirnya gerakan feminisme bertujuan untuk membuat sebuah perubahan masa depan perempuan seperti dalam aspek pendidikan, aspek politik dan aspek ekonomi. Dalam perkembangannya feminisme memiliki ragam jenis aliran, sehingga membuktikan bahwa paham feminisme semakin gencar disuarakan . Feminisme berkembang dari gelombang pertama pada tahun 1848 hingga gelombang keempat pada tahun 2000 hingga sekarang. Gelombang pertama berfokus pada hak pilih bagi perempuan, gelombang kedua fokus pada kesetaraan gender dalam semua aspek kehidupan, ketiga pada kekerasan seksualitas, dan keempat pada isu-isu sosial dan politik . Feminisme membantu perempuan untuk mendapatkan hak-hak mereka dalam berbagai aspek. Film menjadi salah satu media aspirasi yang digunakan untuk merepresentasikan usaha dan perjuangan perempuan dalam mendapatkan kesetaraan gender di masyarakat. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran matrilineal yang terjadi di masyarakat Minangkabau melalui media film. Dengan menggunakan sudut pandang feminisme, penelitian ini dapat merepresentasikan kesetaraan perempuan dan hak yang sama dalam masyarakat. Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar Film Serial Musikal Nurbaya dipilih karena mengangkat isu feminisme yang terjadi di masyarakat Minangkabau. Kisah Siti Nurbaya dalam novelnya menjadi identitas kritik patriarki yang cukup populer di Indonesia. Dalam diskusi AuMenuju Industri Perfilman yang Melek GenderAy. Lisabona Rahma, seorang kritikus film dikutip dari hasil wawancara . mengatakan bahwa banyak karakter perempuan yang digambarkan lemah, tak bisa mengambil keputusan, serta dianggap tidak dapat menjadi pemimpin di lingkungan masyarakat. Sehingga dari penggambaran ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa ketidaksetaraan gender dalam film maupun masyarakat merupakan hal yang wajar dan dapat terus dilakukan secara terus menerus. Dalam film ini, tokoh utama Bernama Nurbaya digambarkan sebagai perempuan yang memiliki pemikiran bahwa perempuan harus merdeka dalam menentukan pilihannya dan mampu untuk hidup secara mandiri. Prinsip tersebut harus dikesampingkan karena Nurbaya dipaksa menikah dengan Tuan Meringgih, untuk membebaskan Datuk Sulaiman yang merupakan Ayahnya sedang ditahan dalam penjara. Selama pernikahan. Nurbaya harus tunduk akan perintah Tuan Meringgih. Masih banyak lagi adegan dalam film ini yang memperlihatkan bahwa laki-laki memiliki sifat lebih superior dari kaum perempuan. Berdasarkan penggambaran masalah di atas, muncul kelompok feminisme yang bertujuan untuk mendapatkan kesetaraan dan hak yang sama dalam masyarakat. Karakter Nurbaya digambarkan menganut aliran feminisme liberal. Feminisme liberal merupakan konsep yang menempatkan bahwa perempuan memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya . Feminisme liberal berawal dari pemikiran liberal politik yang mana tujuan utamanya adalah memperjuangkan hak yang setara bagi kaum perempuan. Penggambaran feminisme ditampilkan menggunakan unsur-unsur naratif dan Dalam unsur sinematik terdapat aspek mise en scene. Mise en scene merupakan gambar maupun adegan yang terlihat di dalam sebuah film. Mise en scene terdiri dari set latar, kostum serta tata rias, karakter dan pencahayaan. Unsur naratif terdapat dialog yang merupakan percakapan para pemain dalam sebuah film. Penelitian terdahulu berfokus pada pandangan feministik tokoh Marah Rusli dan Sutan Takdir Alisyahbana dengan jenis Penelitian deskriptif berupa pencatatan dokumen . Penggalian representasi feminisme dengan semiotik Roland Barthes juga juga dilakukan pada film Moxie, yaitu fokus objek analisisnya pada adegan yang menampilkan Gerakan feminisme liberal . Tokoh Marlina dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak juga dinilai sisi feminismenya menggunakan semiotika Roland Barthes . Penelitian tersebut memiliki banyak kesamaan dengan penelitian kami, yaitu menggunakan model signifikasi denotasi, konotasi dan mitos, namun perbedaannya terletak di objek analisisnya yaitu simbol dan teks. Dari beberapa penelitian tersebut, kami memosisikan Perbedaan dalam penelitian ini terletak pada penggunaan mise en scene yang dijadikan sebagai data pada adegan-adegan yang berkaitan dengan feminisme dalam Serial Musikal Nurbaya. Dengan diadakannya penelitian terkait fenomena ini, peneliti berharap dapat mengetahui representasi feminisme dan penyebab terjadinya feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya sebagai penganut sistem kekerabatan matrilineal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menempatkan fokusnya untuk menemukan hipotesis dari kejadian maupun peristiwa yang akan diteliti . Metode kualitatif dapat menjadi bentuk pendekatan yang dapat menginterpretasikan sebuah budaya. Objek Penelitian berupa adegan dalam bingkai gambar dikumpulkan dengan purposive sampling melalui pengamatan langsung atau menonton filmnya. Salah satu contoh populer dalam menentukan indikator patriarki saat purposive sampling yaitu pada adegan Nurbaya diperkenalkan kepada Tuan Meringgih sebagai bentuk penjalinan hubungan paksa. Dalam menganalisis objek penelitian, peneliti menggunakan Semiotika Roland Barthes. Menurut Roland Barthes, semiotika dibagi menjadi dua kelompok yaitu, pertama hubungan antara penanda dan petanda yang disebut denotasi yang merupakan makna yang sebenarnya dari sebuah tanda . Kedua makna yang bersifat subjektif yaitu konotasi, merupakan makna yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang. Makna yang dimunculkan tersebut kemudian dipetakan pada feminisme liberal dengan menemukan aspek-aspek kesetaraan, kebebasan, dan persamaan hak, agar ditemukan representasi feminisme serta penyebab terjadinya feminisme dalam lingkup budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya. Peneliti menggunakan observasi langsung yang dilakukan dengan menonton film Serial Musikal Nurbaya. Kami mengobservasi unsur mise en scene yang terdapat dalam film Serial Musikal Nurbaya. Purposive sampling dilakukan untuk mereduksi data dari visual dan narasi yang menggambarkan Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya tindakan feminisme dan penggambaran budaya Minangkabau. Pencarian data dan informasi melalui film Serial Musikal Nurbaya yang dimulai dari episode satu sampai episode enam. Peneliti melakukan tanya jawab bersama perempuan yang berasal dari suku Minangkabau dan sudah menikah untuk mengetahui lebih banyak informasi mengenai budaya Minangkabau dan hubungannya dengan sistem matrilineal. Tujuan dilakukannya wawancara pada penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tambahan untuk memahami terkait topik pembahasan yaitu budaya Minangkabau dan sistem matrilineal. Adegan dipilih berdasarkan inti narasi yang mewakili feminisme liberal, yaitu segala bentuk perilaku dan usaha Nurbaya untuk menjunjung kedudukan yang tidak dibedakan dengan kaum lelaki, lalu dari cara dia mengekspresikan usaha membebaskan ayahnya tanpa pengekangan, dan tentunya pada adegan-adegan yang mengandung haknya mengutarakan pendapat dengan berani. Adegan terpilih kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dengan keterangan yang dikodekan seperti berikut: Adegan terpilih kemudian dibedah dengan sudut pandang mise en scene, yaitu dari setting latar, kostum dan tata rias, karakter, dan pencahayaan. Pembedahan tersebut menjadi data deskriptif untuk kemudian dicari apa yang menjadi penanda dan petanda baik secara visual maupun narasi atau dialog. Berdasarkan sudut pandang mise en scene, kami mengategorisasi pemaknaan budaya Minangkabau secara denotatif. Berikutnya kami menginterpretasi hubungan tanda dengan budaya Minangkabau untuk menemukan konotasi pada masing-masing aspek mise en scene. Berbekal aspek budaya Minangkabau dari sumber-sumber literatur, kami menghubungkan gagasan konotasi untuk menghasilkan mitos. Berdasarkan mitos tersebut, dilakukan kajian lebih lanjut untuk menemukan aspek-aspek feminisme Hasil temuan dari penelitian ini tidak menjadi ukuran adat dan budaya Minangkabau yang Berdasarkan penyajian novel maupun filmnya, kisah Siti Nurbaya direpresentasikan dengan memasukkan unsur-unsur internal pembuat film dengan berbagai kepentingannya. Sehingga, penelitian ini terbatas pada penggambaran feminisme dalam film Serial Musikal Nurbaya yang disutradarai oleh Naya Anindita dan rilis pada 1 Juli 2021. PEMBAHASAN Serial musikal Nurbaya merupakan film serial adaptasi dari novel populer karya Marah Rusli yang berjudul Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampa. Serial ini menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Siti Nurbaya yang terpaksa harus menikah dengan Tuan Meringgih agar dapat membebaskan Ayahnya yang sedang ditahan di dalam penjara. Dikarenakan pernikahan yang dilakukan tidak berlandaskan oleh cinta. Nurbaya merasa tertekan dan menolak untuk menuruti perintah yang diberikan oleh Tuan Meringgih. Suatu hari Nurbaya mengetahui bahwa ia dan ayahnya dijebak oleh Tuan Meringgih agar dapat menikahinya, hal ini membuat Nurbaya semakin membenci Tuan Meringgih dan berniat untuk meruntuhkan kekuasaan Tuan Me ringgih. Berdasarkan unit data yang sudah didapatkan pada Serial Musikal AuNurbayaAy ini, peneliti akan melakukan analisis terhadap film Serial Musikal AuNurbayaAy yang berlandaskan pada unit analisis yang terdiri dari 11 unit analisis data. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan aspek feminisme yang terdapat pada tokoh utama yaitu Siti Nurbaya serta melihat penyebab terjadinya upaya penentangan tindakan diskriminasi yang terjadi pada budaya Minangkabau. Pada analisis ini akan disajikan dalam bentuk tabel analisis yang berlandaskan kepada konsep semiotika Roland Barthes dengan pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos. Denotatif merupakan signifikansi tahap pertama yang menjadi penghubung antara penanda dan petanda. Denotasi merupakan makna yang sebenarnya terlihat dalam sebuah tanda. Konotatif merupakan signifikansi tahap kedua yang berdasarkan pandangan dari yang melihat sebuah tanda atau makna yang bersifat subjektif berdasarkan sudut pandang bagi yang Mitos merupakan pemaknaan tingkat lanjut yang di mana sebuah kebudayaan menjelaskan dan memahami sebuah tanda. Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar Dalam pengerjaan analisis akan berfokus kepada mise en scene yang terdapat dalam film seperti set latar, kostum dan tata rias, karakter dan pencahayaan. Pada bagian ini peneliti akan berfokus kepada analisis untuk mengungkapkan penerapan budaya Minangkabau pada Serial Musikal AuNurbayaAy. Penggunaan mise en scene menjadi penentu dari aspek yang akan diteliti lebih lanjut menggunakan konsep semiotika Roland Barthes. Gambar 1. Analisis 1 pada episode 1 babak pengenalan adegan ke-4 Tabel 1. Analisis Episode 1 Babak Pengenalan Adegan ke-4 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Tuan Meringgih dan Nurbaya yang sedang menatap Pertemuan antara Tuan Meringgih dan Nurbaya satu sama lain yang berakhir dengan pembicaraan yang saling menyudutkan, hal ini dapat dilihat dari tatapan mereka keluarkan Tanda Denotatif (Denotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Indoor A Nurbaya menggunakan baju kurung berwarna A Kerumunan tamu undangan biru muda dengan corak bunga A Latar yang digunakan adalah Baralek Gadang A Nurbaya menggunakan selendang berwarna yang merupakan pesta pernikahan khas budaya Minangkabau A Nurbaya menggunakan perhiasan berwarna emas A Nurbaya memiliki warna rambut yang hitam A Riasan Nurbaya menggunakan make up semibold yang di mana tegas di bagian mata A Tuan Meringgih menggunakan baju kurung berwarna biru tua dengan corak yang berwarna A Tuan Meringgih menggunakan selendang berwarna biru tua dengan corak silver A Tuan meringgih menggunakan penutup kepala berwarna hitam dengan corak putih A Tuan Meringgih menggunakan cincin emas dengan batu berwarna hijau muda Karakter Nurbaya: A Perempuan A Sedang berdiri A Wajah menghadap lawan bicara A Menonjolkan ekspresi wajah tegas Pencahayaan Pencahayaan pada adegan ini menggunakan teknik Key Lighting untuk menonjolkan objek yang ada di Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Tuan Meringgih: A Laki-laki A Sedang berdiri dan menghadap lawan bicara A Mendekatkan wajahnya kepada lawan bicara untuk mempertegas kalimat yang sedang A Tangan yang menggosok dan berada di depan Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Baralek Gadang bagi masyarakat Minangkabau A Baju kurung panjang yang menutupi tubuh bagian merupakan sebuah perayaan dan wujud rasa atas hingga mencapai di bawah lutut merupakan syukur yang dilakukan melalui sebuah acara gaya berpakaian khas perempuan Minangkabau Salah satunya yaitu pesta pernikahan yang mencerminkan kesopanan serta kemuliaan A Acara Baralek Gadang merupakan salah satu perempuan dalam menjaga auratnya selain itu juga bentuk pelestarian terhadap budaya leluhur melambangkan kekayaan budaya Minangkabau Minangkabau yang berlimpah. A Selendang atau yang disebut balapak memiliki makna bagi perempuan yang belum menikah untuk meneruskan keturunan keluarganya. A Perhiasan yang digunakan Nurbaya seperti kalung berbentuk Dukuah Nasura. Dukuah Rago-Rago, anting dan suntiang memiliki beberapa makna yaitu Dukuah Nasura mencerminkan bahwa perempuan Minangkabau memiliki sifat disiplin yang tinggi, hal ini dapat dilihat pada bentuk kalung yang hampir mencekik leher penggunanya. Kemudian Dukuah Rago-Rago mencerminkan bahwa perempuan Minangkabau berpedoman pada syariat Islam dalam menjalani kehidupan. Anting memiliki mencerminkan pengetahuan dan intelektual yang dimiliki oleh perempuan Minangkabau serta yang terakhir adalah penggunaan suntiang mencerminkan kebesaran perempuan Minangkabau A Rambut Nurbaya memperlihatkan kesan perempuan Minangkabau A Riasan Nurbaya memperlihatkan makna perempuan yang tegas, bertanggung jawab dan berpendidikan A Baju kurung yang dikenakan oleh Tuan Meringgih melambangkan kegagahan seorang laki-laki Minangkabau A Penutup kepala atau yang disebut dengan deta ataupun destar memiliki makna kekuasaan dan status sosial Tuan Meringgih Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Nurbaya merupakan cerminan perempuan Minangkabau A Posisi Nurbaya yang sedang berdiri dan menatap lawan bicaranya mengartikan bahwa ia memperhatikan gesture dan kalimat yang dikeluarkan oleh lawan bicaranya. A Ekspresi wajah yang tegas memperlihatkan bahwa Nurbaya merupakan pribadi yang mandiri dalam menentukan pilihannya tanpa terpengaruh oleh orang lain A Tatapan yang mengarah ke depan memberikan gambaran bahwa Nurbaya sedang melakukan intimidasi kepada Tuan Meringgih A Tatapan mata ke arah kanan memberikan makna bahwa Nurbaya sedang mencoba untuk meminta Tuan Meringgih untuk mendeskripsikan mengenai perempuan Key Lighting yang merupakan pencahayaan utama menggambarkan bahwa terlepas dari kekuasaan yang ia miliki, ketika menghadiri sebuah acara ataupun perayaan maka kedudukannya akan sama dengan yang lainnya. Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar Tuan Meringgih: A Posisi mendekatkan wajah kepada lawan bicara memiliki makna bahwa ia sedang mempertegas kalimat yang sedang diungkapkan serta untuk melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh lawan A Tangan yang saling menggenggam ataupun menggosok yang berada di depan memiliki makna bahwa ia sedang mengharapkan keuntungan yang akan didapatkan dari lawan bicaranya serta sedang merencanakan sebuah tipu daya Mitos A Baralek Gadang bagi masyarakat Minangkabau merupakan sebuah bentuk kegembiraan yang sedang mereka rasakan serta salah satu bentuk upaya masyarakat Minangkabau dalam menjalin nilai-nilai kekerabatan kepada sanak saudara serta masyarakat Minangkabau. Budaya Minangkabau dalam hal berpakaian memiliki nilai moral basandi syarak syarak basandi kitabullah yang merupakan adat yang berlandaskan kepada syariat sehingga diharuskan untuk menutup auratnya. A Nurbaya merupakan perempuan Minangkabau yang memiliki sikap tegas dan pengetahuan dalam bidang pendidikan, sehingga ketika dirinya mendapatkan stereotip bahwa perempuan hanya sebatas membahagiakan suami saja Nurbaya menentang hal tersebut Feminisme Liberal A Dalam adegan ini terdapat unsur feminisme liberal yang digambarkan oleh Nurbaya selaku tokoh utama perempuan pada Serial Musikal AuNurbayaAy. Nurbaya mendapatkan diskriminasi dari laki-laki yang beranggapan bahwa setinggi apa pun ilmu perempuan pada akhirnya tugas perempuan hanya sebatas membahagiakan suami saja. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan konsep feminisme liberal yang di mana, perempuan berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki termasuk dalam hal pendidikan. A Feminisme liberal menekankan bahwa perempuan dan laki-laki diberikan hak yang sama dalam mendapatkan sebuah kebebasan untuk memilih hal yang baik maupun buruk selagi itu tidak merugikan orang lain. A Nurbaya pada adegan ini menggambarkan perempuan yang menganut konsep feminisme liberal yaitu ia menentang bahwa perempuan hanya sebatas membahagiakan suami saja, ia beranggapan bahwa kodrat perempuan tidak serendah dan sebatas apa yang telah diucapkan oleh Tuan Meringgih. Dalam analisis 1 ditemukan unsur budaya Minangkabau yang digambarkan melalui set latar yang digunakan yaitu Baralek Gadang yang merupakan tradisi pernikahan masyarakat Minangkabau, kemudian kostum dan tata rias yang mencerminkan nilai-nilai budaya Minangkabau seperti baju kurung, selendang, penutup kepala, suntiang dan lainnya. Selanjutnya dalam adegan ini ditemukan pula unsur feminisme dan penyebab terjadinya feminisme. Penyebab terjadinya feminisme dalam adegan ini dikarenakan adanya anggapan bahwa perempuan tidak perlu untuk memiliki pendidikan yang tinggi sehingga hal ini memicu terjadinya perlawanan yang dilakukan oleh tokoh utama perempuan yaitu Nurbaya. Nurbaya yang menyadari baik laki-laki dan perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Gambar 2. Analisis 2 Tabel 2. Analisis Semiotik Gambar 2 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Samsul Bahrie dan Nurbaya yang sedang berbincang Samsul Bahrie dan Nurbaya yang saling mencintai di tengah keramaian satu sama lain, hal ini dapat dilihat dari tatapan diberikan kepada Nurbaya. Sebaliknya Nurbaya yang tampak membenarkan baju Samsul Bahrie Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Tanda Denotatif (Denotative Sig. A A A A Setting Latar Kostum dan Tata Rias Indoor Kerumunan tamu undangan Dekorasi pelaminan Minangkabau Latar yang digunakan adalah Baralek Gadang yang merupakan pesta pernikahan khas budaya Minangkabau A Nurbaya menggunakan baju kurung berwarna biru muda dengan corak bunga A Nurbaya menggunakan selendang berwarna A Nurbaya menggunakan perhiasan berwarna emas A Nurbaya memiliki warna rambut yang hitam A Riasan Nurbaya menggunakan make up semibold yang tegas di bagian mata A Samsul Bahrie menggunakan setelan jas berwarna coklat muda A Samsul Bahrie menggunakan kemeja berwarna A Samsul Bahrie memiliki rambut berwarna hitam Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Perempuan A Sedang berdiri A Wajah menghadap lawan bicara A Berada di depan Samsul Bahrie A Key Lighting A Fill Lighting Samsul Bahrie: A Laki-laki A Sedang berdiri A Berada di depan Nurbaya A Menundukkan kepala Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Baralek Gadang bagi masyarakat Minangkabau A Baju kurung panjang yang menutupi tubuh bagian merupakan sebuah perayaan dan wujud rasa atas hingga mencapai di bawah lutut merupakan syukur yang dilakukan melalui sebuah acara gaya berpakaian khas wanita Minangkabau Salah satunya yaitu pesta pernikahan yang mencerminkan kesopanan serta kemuliaan A Acara Baralek Gadang merupakan salah satu perempuan dalam menjaga auratnya selain itu bentuk pelestarian terhadap budaya leluhur juga melambangkan tentang kekayaan budaya Minangkabau Minangkabau yang berlimpah A Selendang atau yang disebut balapak memiliki makna untuk perempuan yang belum menikah untuk meneruskan keturunan keluarganya A Perhiasan yang digunakan Nurbaya seperti kalung berbentuk Dukuah Nasura. Dukuah Rago-Rago, anting dan suntiang memiliki beberapa makna yaitu Dukuah Nasura mencerminkan bahwa perempuan Minangkabau memiliki sifat disiplin yang tinggi, hal ini dapat dilihat pada bentuk kalung yang hampir mencekik leher penggunanya. Kemudian Dukuah Rago-Rago mencerminkan bahwa perempuan Minangkabau berpedoman pada syariat islam dalam menjalani kehidupan. Anting memiliki mencerminkan pengetahuan dan intelektual yang dimiliki oleh perempuan Minangkabau yang terakhir adalah penggunaan suntiang mencerminkan kebesaran perempuan Minangkabau. A Rambut Nurbaya memperlihatkan kesan perempuan Minangkabau A Riasan Nurbaya memperlihatkan makna perempuan yang tegas, bertanggung jawab dan berpendidikan A Setelan jas dan kemeja yang digunakan oleh Samsul Bahrie gaya busana formal untuk menghadiri acara sakral maupun resmi. Hal ini Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar dilakukan sebagai penghormatan kepada pemilik Kemudian Samsul Bahrie merupakan bukan pemuda asli Minangkabau sehingga ia tidak bisa menggunakan baju adat Minangkabau untuk menghadiri pesta acara tersebut Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Key lighting digunakan agar penggambaran A Nurbaya merupakan salah satu perempuan adegan menjadi lebih jelas dan dramatis untuk Minangkabau menunjang dialog dan karakter yang ditonjolkan A Wajah yang menghadap lawan bicara ketika oleh Nurbaya dan Samsul Bahrie berinteraksi menunjukkan bahwa seseorang A Fill Lighting digunakan untuk mengisi kekosongan merasa tertarik dan menghargai lawan yang ada cahaya yang terjadi akibat pergerakan pemain di hadapannya agar pencahayaan menjadi lebih maksimal A Tatapan mata yang konsisten mengarah ke lawan bicara menandakan bahwa ia tertarik untuk mendengar perbincangan yang sedang Samsul Bahrie: A Pergerakan Samsul Bahrie menundukkan kepalanya memberikan penggambaran bahwa ia sedang berada di dalam kondisi sedang tidak percaya diri dikarenakan Atek Rahma tidak menyetujui hubungannya dengan Nurbaya dikarenakan ia bukan pemuda yang memiliki keturunan Minangkabau Mitos A Budaya Minangkabau merupakan budaya yang mengutamakan syariat Islam dalam berkehidupan sehari-hari. Kemudian dalam budaya Minangkabau terdapat konsep pernikahan ideal yang di mana untuk mencapai pernikahan ideal terdapat istilah awak samo awak atau pulang ka bako yang merupakan konsep pernikahan ideal apabila masyarakat Minangkabau melakukan pernikahan dengan sesama orang Minangkabau ataupun sekorong sekampung yang memiliki arti satu kampung A Konsep pernikahan ideal dalam masyarakat Minangkabau membuat perempuan belum memiliki kebebasan seutuhnya dalam hal memilih pasangan hidupnya sendiri Feminisme Liberal A Dalam adegan ini menunjukkan bahwa Nurbaya tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya baik dalam hal pendidikan maupun sosial. Hal ini jika dikaitkan dengan konsep feminisme liberal akan sangat bertentangan karena perempuan berhak untuk menentukan pilihan hidupnya harus seperti apa selagi tidak merugikan pihak mana pun. A Nurbaya sebagai tokoh utama dalam adegan ini sudah menggambarkan perempuan yang memperjuangkan kehidupannya meskipun mendapatkan pertentangan dari keluarganya. Nurbaya beranggapan bahwa ia mampu bertanggung jawab penuh terhadap masa depan dirinya harus seperti apa. Dalam analisis 2 menunjukkan unsur budaya Minangkabau yang digambarkan melalui set latar yaitu Baralek Gadang, kostum dan tata rias yang digunakan oleh karakter perempuan yaitu Nurbaya serta sistem pernikahan dalam masyarakat Minangkabau. Dalam budaya Minangkabau terdapat konsep pernikahan ideal yang di mana pernikahan yang harus dilakukan dengan sesama orang Minangkabau dan apabila seseorang menikah dengan yang bukan sesama orang Minangkabau maka hal ini akan disebut sebagai pernikahan yang tidak sesuai dengan adat. Selanjutnya dalam adegan ini ditemukan unsur feminisme dan penyebab terjadinya. Dalam adegan ini penyebab terjadinya tindakan feminisme dikarenakan Nurbaya mengalami tindakan diskriminasi bahwa dirinya tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri seperti dalam hal menentukan pasangan hidupnya. Gambar 3. Analisis 3 Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Gambar 3. Analisis 3 Tabel 3. Analisis Semiotika Gambar 3 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Memperlihatkan Nurbaya dan Atek Rahma yang Perbincangan antara Nurbaya dan Atek Rahma yang sedang berbincang di halaman rumah berujung dengan perdebatan, hal ini dapat dilihat dari gesture dan tindakan yang dikeluarkan oleh Nurbaya Tanda Denotatif (Denotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Nurbaya menggunakan dress selutut tanpa lengan berwarna hijau tua A Nurbaya kaos kaki berwarna putih A Nurbaya menggunakan sepatu berwarna putih A Nurbaya memiliki rambut berwarna hitam dengan panjang sebahu A Make up semi bold A Atek Rahma menggunakan baju kurung berwarna oranye muda A Atek Rahma menggunakan kodek . panjang hingga lutut berwarna coklat A Atek Rahma menggunakan selendang berwarna hijau muda dengan corak bunga A Atek Rahma menggunakan perhiasan berwarna putih dan emas A Atek Rahma menggunakan sandal tinggi berwarna coklat muda A Atek Rahma memiliki rambut berwarna hitam dan A Make up semi bold Outdoor Halaman rumah Nurbaya Tembok bagian depan rumah Nurbaya Berada di teras rumah Nurbaya Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Berdiri tegak A Wajah menghadap ke arah lawan bicara A Wajah tertunduk ketika berjalan A Key Lighting A Motivated Lighting Atek Rahma: A Berdiri tegak A Wajah menghadap ke arah lawan bicara A Wajah tegak ketika berjalan Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Halaman rumah memiliki makna sebagai A Dress atau gaun merupakan pakaian yang identik pembatas dari dunia luar dan dunia yang kita dengan perempuan feminin. Hal ini merupakan penggambaran bahwa Nurbaya merupakan perempuan Minangkabau yang memiliki sisi Serta warna hijau tua pada dress yang digunakan pada baju Nurbaya memiliki makna harapan bagi penggunanya Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar A Rumah merupakan bangunan yang menciptakan A Warna putih yang digunakan pada sepatu dan kenyamanan dan kehangatan bagi seluruh kaos kaki Nurbaya melambangkan kepolosan dan penghuninya, namun sebaliknya rumah juga kemurnian seorang perempuan Minangkabau dapat menciptakan suasana yang menakutkan A Rambut bagi penghuninya. mencerminkan perempuan Indonesia yang sebagian besar memiliki warna rambut berwarna Rambut panjang sebahu mencerminkan karakter perempuan mandiri dan dapat diandalkan dalam keluarga dan lingkungannya A Make up semibold merupakan jenis make up yang memfokuskan poin utama riasannya pada mata, yang memberikan makna bahwa seseorang yang menggunakan make up semibold memiliki sifat tegas dan kuat A Baju kurung berwarna oranye muda yang dilengkapi oleh selendang berwarna hijau memiliki makna bahwa Atek Rahma merupakan sosok AuBundo KanduangAy A Kain songket yang digunakan oleh Atek Rahma memiliki makna bahwa seorang perempuan Minangkabau harus mampu memosisikan dirinya serta sesuatu pada tempatnya yang sesuai dengan hukum adat Minangkabau A Perhiasan yang digunakan oleh Atek Rahma seperti gelang, kalung, anting dan cincin melambangkan kekayaan perempuan Minangkabau serta dalam Minangkabau harus melakukan tindakan sesuai dengan asas Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Key lighting digunakan agar penggambaran A Tubuh dan wajah yang menghadap dan sejajar adegan menjadi lebih jelas dan dramatis untuk dengan lawan bicaranya menandakan bahwa menunjang dialog dan karakter yang ditonjolkan orang tersebut menghargai dan fokus kepada oleh Nurbaya dan Samsul Bahrie topik yang sedang dibicarakan A Fill Lighting digunakan untuk mengisi kekosongan A Wajah yang tertunduk ketika berjalan memiliki cahaya yang terjadi akibat pergerakan pemain makna bahwa seseorang sedang berada pada agar pencahayaan menjadi lebih maksimal posisi tidak percaya diri Samsul Bahrie: A Tubuh dan wajah yang menghadap kepada lawan bicaranya dengan memainkan tangannya menandakan bahwa ia sedang dalam kondisi tergesa-gesa A Wajah yang tegak ketika berjalan dengan pandangan lurus ke depan menandakan bahwa ia sedang percaya diri dan penuh kekuasaan Mitos A Dalam budaya Minangkabau Bundo Kanduang merupakan simbol konsep matrilineal yang berlaku di Minangkabau. Bundo Kanduang berfungsi sebagai penyeimbang bagi masyarakat Minangkabau dalam melaksanakan aturan adat yang sesuai dengan syariat agama Islam di dalam budaya Minangkabau A Bagi perempuan yang masih lajang dalam budaya Minangkabau dalam pengambilan keputusan ia harus patuh dan tunduk kepada orang tua, ninik mamak dan bundo kanduang. Dikarenakan hal ini terkadang perempuan harus tunduk dan patuh terhadap keputusan yang bertentangan dengan keinginan dirinya Feminisme Liberal A Dalam adegan ini menunjukkan bahwa Nurbaya diharuskan menikah dengan Tuan Meringgih yang merupakan laki-laki asli Minangkabau kaya raya. Hal ini harus dilakukan apabila Nurbaya ingin membebaskan ayahnya yang sedang di dalam penjara. A Nurbaya yang memiliki pemikiran bahwa setiap perempuan mendapatkan hak untuk memilih masa depannya tentu saja menolak hal itu, dikarenakan ia tidak mencintai Tuan Meringgih dan merasa bahwa Tuan Meringgih merupakan laki-laki yang sangat memandang rendah perempuan. Namun ia tidak bisa memilih dikarenakan desakan dari Atek Rahma serta ayahnya yang sedang dalam penjara dan sakitsakitan. Dalam analisis 3 terdapat unsur budaya Minangkabau yang divisualisasikan melalui pakaian yang digunakan oleh Atek Rahma yaitu berupa baju kurung, kain songket, selendang dan lainnya. Dalam adegan ini terdapat unsur feminisme berupa Nurbaya yang dituntut untuk menikah dengan Tuan Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Meringgih agar dapat membebaskan ayahnya yang sedang ditahan di dalam penjara. Sehingga kondisi ini menunjukkan bahwa Nurbaya tidak memiliki kebebasan atas pilihan hidupnya sendiri. Gambar 4. Analisis 4 Tabel 4. Analisis Semiotika Gambar 4 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Nurbaya dan Siti Alimah yang sedang berbincang Nurbaya yang tampak sedih ketika menceritakan ketika Malam Bainai kisahnya kepada Siti Alimah dikarenakan ia tidak menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Kemudian dengan menikah Nurbaya beranggapan bahwa dirinya sudah tidak pantas untuk memiliki cita-cita Tanda Denotatif (Denotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Indoor A Nurbaya menggunakan baju tokah berwarna emas A Kain-kain bersulam benang emas dengan corak bunga A Latar yang digunakan adalah Malam Bainai A Nurbaya menggunakan kain songket berwarna yang merupakan salah satu tahapan sebelum pernikahan adat Minangkabau A Nurbaya menggunakan suntiang emas A Nurbaya menggunakan aksesoris gelang, kalung dan anting A Siti Alimah menggunakan baju kurung berwarna coklat muda dengan corak bunga A Siti Alimah menggunakan selendang berwarna A Siti Alimah menggunakan aksesoris seperti kalung dan anting berwarna emas Karakter Nurbaya: A Key Lighting A Perempuan yang sedang putus asa A Perempuan yang meragukan masa depannya A Wajahnya tertunduk A Tatapan mata yang tertunduk dan tidak berani menatap lawan bicaranya A Bahu tidak tegak Siti Alimah: A Tubuh yang mengarah kepada lawan bicara A Tatapan mata yang konsisten menatap lawan A Kedua tangannya berusaha untuk menggenggam tangan lawan bicaranya Pencahayaan Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Malam Bainai merupakan tradisi adat Minangkabau yang harus dilakukan oleh perempuan sebelum A Malam Bainai bagi masyarakat Minangkabau merupakan simbolik bagi seorang perempuan sebelum melepas masa lajangnya A Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan seperti mandi-mandi, kain jajakan kuning, memakai daun inai atau henna dan memberikan dan mendapatkan petuah dari pihak keluarga A Dalam tahapan Malam Bainai, hal yang pertama yang harus dilakukan adalah mandi-mandi. Proses ini dilakukan dengan cara memercikkan air dengan jumlah ganjil. Angka ganjil diibaratkan kepada hal yang sakral seperti rukun Islam yang berjumlah ganjil. Hal ini dilakukan karena budaya Minangkabau merupakan budaya yang berlandaskan kepada syariat Islam A Kemudian kain jajakan kuning merupakan tahapan di mana kedua orang tua mengantarkan anak daro menuju ke pelaminan. Proses ini memiliki makna perjalanan hidup yang akan dilalui oleh calon pengantin. Kemudian setelah orang tua dan anak daro sudah sampai ke pelaminan maka kain tersebut akan digulung kembali, yang memiliki makna bahwa sebuah pernikahan idealnya hanya dilakukan sekali seumur hidup saja A Dalam tradisi ini perempuan yang ingin menikah akan disebut sebagai anak daro A Baju yang digunakan pada budaya Minangkabau tidak hanya berfungsi sebagai kain yang menutupi tubuh saja melainkan berfungsi sebagai cerminan maupun kelengkapan dalam sebuah acara adat dalam budaya Minangkabau A Baju tokah bagi masyarakat Minangkabau memiliki arti sebagai pelindung dari segala petaka bagi calon pengantin. Pada pemakaiannya baju tokah merupakan kain yang dililitkan secara menyilang pada tubuh calon pengantin perempuan A Kain songket memiliki fungsi sebagai kain yang berguna untuk menutupi aurat dan melindungi tubuh seorang perempuan A Warna kain emas pada songket memiliki makna kejayaan dan kemakmuran bagi pemakaiannya A Suntiang dalam budaya Minangkabau memiliki makna bahwa seorang anak perempuan telah berhasil melewati masa peralihan dari perempuan remaja menuju perempuan dewasa A Perhiasan yang digunakan memiliki makna seperti gelang, kalung, anting dan cincin melambangkan kekayaan perempuan Minangkabau serta dalam Minangkabau harus melakukan tindakan sesuai dengan asas A Baju kurung panjang yang menutupi tubuh bagian atas hingga mencapai di bawah lutut merupakan gaya berpakaian khas perempuan Minangkabau yang mencerminkan kesopanan serta kemuliaan perempuan dalam menjaga auratnya selain itu juga melambangkan tentang kekayaan budaya Minangkabau yang berlimpah. A Warna coklat muda pada baju kurung memiliki makna kejujuran, ketulusan dan ramah bagi A Selendang warna putih memiliki makna kemurnian dan kesederhanaan seorang perempuan Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Key lighting pada adegan ini memiliki fungsi untuk A Wajah yang tertunduk ketika berbicara memberikan cahaya secara menyeluruh pada menunjukkan bahwa ia sedang memiliki setiap sudut ruangan. perasaan kurang percaya diri A Key Lighting pada adegan ini seperti ingin A Tatapan mata yang cenderung terus menerus menyampaikan dan menggambarkan secara melihat ke bawah menandakan bahwa ia sedang jelas mengenai perasaan Nurbaya yang sedang memiliki gejolak batin di hatinya dan berusaha sedih dikarenakan harus menikah dengan Tuan untuk menutupi perasaan sedih yang bercampur Meringgih dengan perasaan kurang percaya dirinya A Bahu yang tidak tegak ketika sedang berbicara menandakan bahwa ia sedang berusaha untuk mempertahankan seseorang yang ia cintai agar tidak pergi dari kehidupannya serta sedang memikirkan bahwa ia akan menghadapi kerasnya kehidupan Siti Alimah: A Tubuh yang mengarah kepada lawan bicaranya memiliki makna bahwa ia tertarik dan tulus untuk mendengarkan percakapan yang sedang mereka lakukan A Tatapan mata yang konsisten mengartikan bahwa ia tertarik dengan percakapan yang ia A Kedua menggenggam tangan lawan bicaranya memiliki Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya makna bahwa ia memiliki perasaan iba dan berusaha untuk menguatkan lawan bicaranya ketika mereka sedang tidak percaya diri ataupun sedang rapuh ketika menghadapi sebuah masalah Mitos A Malam Bainai bagi masyarakat Minangkabau dipercaya sebagai salah satu cara untuk menghindarkan pasangan pengantin dari bahaya sebelum pernikahan. Pernikahan dalam budaya Minangkabau merupakan prosesi adat yang memiliki nilai keharusan, seperti dalam pepatah tak ai talang di pancuang, tak kayu janjang di kupiang, tak ameh bungka diasah. Pepatah ini memiliki arti bahwa untuk sebuah pernikahan seseorang tidak boleh berkata tidak ada karena pada dasarnya segala sesuatu yang tidak ada harus Feminisme Liberal A Dalam adegan ini menunjukkan bahwa Nurbaya terpaksa menikah dengan Tuan Meringgih agar dapat membebaskan ayahnya. Nurbaya merasa malu dikarenakan ia selalu berusaha untuk menggapai citacitanya yang ingin dicapai di masa depan, namun pada kenyataannya ia harus mengubur impian itu dikarenakan sudah tidak memiliki kesempatan dan menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. A Nurbaya sebagai perempuan yang memperjuangkan hak individu untuk mencapai cita-citanya terpaksa mengorbankan dirinya untuk keluarganya dikarenakan desakan keluarga dan tuntutan lingkungan yang memaksa seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam analisis 4 terdapat unsur budaya Minangkabau yang digambarkan melalui proses pernikahan yang ada di dalam budaya Minangkabau yaitu malam bainai yang merupakan tradisi pemasangan inai pada jari calon anak daro. Tradisi ini dijadikan sebagai simbol untuk melepas masa lajang bagi calon pengantin. Dalam pelaksanaannya, malam bainai menggunakan baju tokah yang memiliki arti sebagai pelindung dari mara bahaya bagi calon pengantin dikarenakan dalam pemakaiannya berbentuk menyilang. Kemudian dalam adegan ini pula ditemukan unsur feminisme yang direpresentasikan oleh Nurbaya. Nurbaya memiliki pola pikir mengenai kebebasan seorang perempuan, namun dikarenakan ketidakberdayaannya pada saat itu ia belum mampu untuk melakukan perlawanan. Penyebab terjadinya hal ini dikarenakan Tuan Meringgih menjadikan ayah Nurbaya sebagai objek untuk mencapai tujuannya yaitu memperistri Nurbaya. Gambar 5. Analisis 5 Tabel 5. Analisis Semiotika Gambar 5 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Nurbaya dan Tuan Meringgih sedang memperlihatkan Nurbaya dan Tuan Meringgih saling beradu argumen ekspresi marah yang disaksikan oleh Isabella dikarenakan Nurbaya enggan menuruti perintah Tuan Meringgih agar tunduk akan perintahnya Tanda Denotatif (Denotative Sig. Setting Latar A Indoor A Kain gorden atau tirai berwarna putih Kostum dan Tata Rias A Nurbaya menggunakan dress lengan panjang dengan corak berwarna oranye dan biru muda Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar A Kursi berwarna ungu A Meja berwarna coklat A Makanan yang diletakkan di atas meja makan A Nurbaya menggunakan anting mutiara berukuran A Nurbaya memiliki warna rambut hitam yang diikat A Nurbaya menggunakan make up natural namun tegas pada bagian mata A Tuan Meringgih menggunakan baju tidur berwarna coklat bercorak tumbuhan A Tuan Meringgih menggunakan perhiasan seperti kalung berwarna emas dan cincin berhiaskan batu A Tuan Meringgih memiliki warna rambut hitam A Isabella menggunakan baju bulu berwarna merah A Isabella menggunakan perhiasan seperti kalung dan cincin emas A Isabella menggunakan pewarna kuku berwarna A Isabella memiliki rambut ikal berwarna hitam Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Key Lighting A Perempuan yang enggan menuruti perintah Tuan Meringgih A Memiliki sifat yang tegas A Tatapan mata tajam A Bahu tegak Tuan Meringgih: A Laki-laki yang memberikan perintah kepada Nurbaya untuk tunduk akan aturan yang ia A Tatapan mata tajam A Tangan yang menunjuk ke arah lawan bicaranya A Badan yang mengarah kepada lawan bicaranya Isabella: A Perempuan yang tunduk akan perintah A Perempuan hanya diam ketika melihat Nurbaya dan Tuan Meringgih berbincang Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Rumah merupakan bangunan yang menciptakan kenyamanan dan kehangatan bagi seluruh penghuninya, namun sebaliknya rumah juga dapat menciptakan suasana yang menakutkan. A Kain gorden atau tirai berwarna putih memiliki makna kebebasan dari segala himpitan permasalahan yang ada di dalam ruangan, hal ini dikarenakan warna putih merupakan warna yang memiliki makna kesucian dan kesederhanaan A Kursi berwarna ungu memiliki makna sebuah ambisi, kekuatan dan kemewahan. Hal ini mencerminkan sifat Tuan Meringgih yang memiliki ambisi untuk memiliki dan membuat Nurbaya tunduk akan perintahnya. Kemudian Tuan Meringgih memiliki kekuatan yang mampu untuk membuat seseorang di sekitarnya tunduk akan Serta kemewahan yang berasal dari kekayaan yang dimiliki oleh Tuan Meringgih A Meja warna coklat memiliki makna nyaman dan hangat. Hal ini dikarenakan meja makan merupakan tempat untuk mengisi tenaga dari penatnya keseharian serta ajang untuk berkumpul bersama penghuni rumah A Dress lengan panjang menandakan bahwa seorang perempuan berusaha untuk melindungi tubuhnya agar tidak dijadikan objek oleh siapa pun yang melihatnya A Warna oranye pada sebuah baju memiliki makna Hal ini mewakili sifat Nurbaya yang tidak percaya sedikit pun kepada perkataan Tuan Meringgih A Warna biru muda memiliki makna kebebasan dan kepekaan seseorang. Hal ini mencerminkan sifat Nurbaya yang memiliki prinsip bahwa seorang perempuan memiliki kebebasan terhadap dirinya A Perhiasan mutiara merupakan perhiasan yang jika dirawat akan berkilau dalam kurun waktu yang sangat lama. Hal ini seperti mencerminkan bahwa perempuan jika diperlakukan dengan baik maka ia akan memiliki kebahagiaan dan umur yang panjang A Rambut mencerminkan perempuan Indonesia yang sebagian besar memiliki warna rambut berwarna Rambut panjang sebahu mencerminkan karakter perempuan mandiri dan dapat diandalkan dalam keluarga dan lingkungannya A Make up yang natural dan tegas pada bagian mata mencerminkan bahwa Nurbaya merupakan seorang perempuan yang memiliki sisi lemah Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya lembut dan feminin namun jika ada seseorang yang berusaha untuk menghancurkannya maka ia akan bersikap tegas dan tak kenal takut Baju berwarna coklat memiliki makna kuat dan percaya diri. Hal ini mencerminkan sifat Tuan Meringgih yang memiliki kekuatan mendominasi yang tinggi di lingkungannya. Kemudian rasa percaya diri yang tinggi dikarenakan ia mempunyai sebuah kekuatan yang mampu untuk membuat siapa pun tunduk akan perintahnya Perhiasan yang digunakan oleh Tuan Meringgih melambangkan status sosial yang ia punya Baju merah muda yang digunakan oleh Isabella melambangkan bahwa ia merupakan perempuan yang mempunyai sifat feminis dan loyalitas Cat kuku berwarna merah memiliki makna bahwa Isabella merupakan perempuan yang memiliki kehangatan dalam dirinya serta hasrat dan nafsu yang dimilikinya Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Key Lighting pada adegan ini mencerminkan A Tatapan mata tajam yang dikeluarkan oleh bahwa Nurbaya sedang berada di bawah tekanan Nurbaya Tuan Meringgih, hal ini dapat dilihat dari bayangan sedang ia rasakan pada adegan tersebut yaitu gelap dari Tuan Meringgih yang jatuh di bagian kemarahan dan ia memiliki pendapat tersendiri wajah Nurbaya mengenai aturan yang dikatakan oleh Tuan Meringgih A Bahu tegak mencerminkan bahwa Nurbaya percaya dan yakin dengan tindakan yang ia lakukan saat itu benar Tuan Meringgih: A Tatapan mata tajam yang dilakukan oleh Tuan Meringgih mencerminkan bahwa ia memiliki sifat tidak sabaran dan keras kepada hal yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan yang telah ia buat A Tangan yang menunjuk kepada lawan bicaranya menandakan bahwa ia sangat serius dengan apa yang telah diucapkan pada saat itu A Badan yang mengarah kepada lawan bicaranya menandakan bahwa Tuan Meringgih memberikan penegasan bahwa dirinya sangat serius dan marah Mitos A Mutiara merupakan perhiasan yang memiliki simbol kesedihan dan air mata. Hal ini terjadi karena pada perkembangannya mutiara dikaitkan dengan tangisan seorang putri duyung. Sehingga mutiara dipercaya merupakan perhiasan yang memiliki simbol kesedihan dan air mata bagi Nurbaya yang dipaksa untuk menikah dengan Tuan Meringgih Feminisme Liberal A Dalam adegan ini menunjukkan bahwa Nurbaya diharuskan tunduk terhadap perintah Tuan Meringgih. Tuan Meringgih beranggapan bahwa selagi Nurbaya tinggal di dalam rumahnya, maka peraturannya lah yang berlaku dan harus dituruti seluruh penghuninya. A Nurbaya yang menyadari bahwa dirinya mendapatkan ketidaksetaraan gender ia berusaha untuk melawan dan menolak perintah yang diberikan. Nurbaya beranggapan meskipun Tuan Meringgih secara sah merupakan suaminya, ia tidak bisa mengatur Nurbaya semaunya. Hal ini dikarenakan baik perempuan maupun laki-laki harus memiliki kedudukan yang sejajar termasuk di dalam rumah agar menciptakan kenyamanan bagi seluruh penghuninya. Dalam analisis 5 terdapat unsur feminisme yang digambarkan oleh Nurbaya. Nurbaya dalam adegan ini melakukan tindakan perlawanan terhadap kekuasaan Tuan Meringgih. Perlawanan ini dikarenakan adanya sistem patriarki yang identik dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Tuan Meringgih menggunakan kekuasaannya untuk membuat perempuan tunduk akan kekuasaannya dan status sosial yang dimilikinya. Sehingga hal ini memicu terjadinya perlawanan yang dilakukan oleh Nurbaya untuk menghentikan tindakan diskriminasi yang dialaminya. Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar Gambar 6. Analisis 6 Tabel 6. Analisis Semiotika Gambar 6 Semiotika Roland Barthes Penanda (Signifie. Petanda (Signifie. Nurbaya yang sedang berbincang dengan Isabella Nurbaya yang mengetahui bahwa dirinya merupakan korban kejahatan Tuan Meringgih, hal ini dapat dilihat dari ekspresi yang dikeluarkan oleh Nurbaya Tanda Denotatif (Denotative Sig. Setting Latar A Indoor A Kursi berwarna ungu A Lampu Kostum dan Tata Rias A Nurbaya menggunakan dress lengan panjang dengan corak berwarna oranye dan biru muda A Nurbaya menggunakan anting mutiara berukuran A Nurbaya memiliki warna rambut hitam yang diikat A Nurbaya menggunakan make up natural namun tegas pada bagian mata A Isabella menggunakan baju bulu berwarna merah A Isabella menggunakan perhiasan seperti kalung dan cincin emas A Isabella menggunakan pewarna kuku berwarna A Isabella menggunakan pewarna kuku berwarna A Isabella memiliki rambut ikal berwarna hitam Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Side Lighting A Perempuan yang menyadari bahwa dirinya dijebak oleh Tuan Meringgih A Perempuan yang menolak untuk menyerah akan keadaan yang menghambat cita-citanya A Perempuan yang memperjuangkan haknya A Tatapan mata tajam ketika berbicara dengan lawan bicaranya Isabella: A Perempuan yang terpaksa tunduk akan perintah Tuan Meringgih A Tatapan mata sayu ketika melihat lawan A Tangan yang memainkan rambut ketika Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya Tanda Konotasi (Connotative Sig. Setting Latar Kostum dan Tata Rias A Kursi berwarna ungu memiliki makna sebuah ambisi, kekuatan dan kemewahan. Hal ini mencerminkan sifat Tuan Meringgih yang memiliki ambisi untuk memiliki dan membuat Nurbaya tunduk akan perintahnya. Kemudian Tuan Meringgih memiliki kekuatan yang mampu untuk membuat seseorang di sekitarnya tunduk akan Serta kemewahan yang berasal dari kekayaan yang dimiliki oleh Tuan Meringgih A Lampu yang memiliki cahaya berwarna kuning mencerminkan sikap optimis dan sebuah keinginan seseorang. Hal ini menjadi cerminan bahwa Nurbaya merupakan seorang perempuan yang memiliki sikap optimis atas keinginannya A Dress lengan panjang menandakan bahwa seorang perempuan berusaha untuk melindungi tubuhnya agar tidak dijadikan objek oleh siapa pun yang melihatnya A Warna oranye pada sebuah baju memiliki makna Hal ini mewakili sifat Nurbaya yang tidak percaya sedikit pun kepada perkataan Tuan Meringgih A Warna biru muda memiliki makna kebebasan dan kepekaan seseorang. Hal ini mencerminkan sifat Nurbaya yang memiliki prinsip bahwa seorang perempuan memiliki kebebasan terhadap dirinya A Perhiasan mutiara merupakan perhiasan yang jika dirawat akan berkilau dalam kurun waktu yang sangat lama. Hal ini seperti mencerminkan bahwa perempuan jika diperlakukan dengan baik maka ia akan memiliki kebahagiaan dan umur yang panjang A Rambut mencerminkan perempuan Indonesia yang sebagian besar memiliki warna rambut berwarna Rambut panjang sebahu mencerminkan karakter perempuan mandiri dan dapat diandalkan dalam keluarga dan lingkungannya A Make up yang natural dan tegas pada bagian mata mencerminkan bahwa Nurbaya merupakan seorang perempuan yang memiliki sisi lemah lembut dan feminin namun jika ada seseorang yang berusaha untuk menghancurkannya maka ia akan bersikap tegas dan tak kenal takut A Baju berwarna coklat memiliki makna kuat dan percaya diri. Hal ini mencerminkan sifat Tuan Meringgih yang memiliki kekuatan mendominasi yang tinggi di lingkungannya. Kemudian rasa percaya diri yang tinggi dikarenakan ia mempunyai sebuah kekuatan yang mampu untuk membuat siapa pun tunduk akan perintahnya A Perhiasan yang digunakan oleh Tuan Meringgih melambangkan status sosial yang ia punya A Baju merah muda yang digunakan oleh Isabella melambangkan bahwa ia merupakan perempuan yang mempunyai sifat feminis dan loyalitas A Cat kuku berwarna merah memiliki makna bahwa Isabella merupakan perempuan yang memiliki kehangatan dalam dirinya serta hasrat dan nafsu yang dimilikinya Karakter Pencahayaan Nurbaya: A Side Lighting merupakan pencahayaan yang A Nurbaya ketika mengetahui bahwa dirinya memanfaatkan pantulan cahaya yang berasal dijebak oleh Tuan Meringgih merasa sangat dari sekitar pemain, hal ini agar lebih menonjolkan marah dan ia berencana untuk mencari lebih bayangan dan mempertegas arah cahaya. Side banyak bukti agar ia dapat meruntuhkan Lighting bertujuan untuk menampilkan kesan kekuasaan Tuan Meringgih dramatis terhadap adegan yang sedang dimainkan A Nurbaya merupakan perempuan yang memiliki prinsip bahwa perempuan tidak boleh diam saja ketika menyadari dirinya mendapatkan diskriminasi yang dilakukan oleh Tuan Meringgih A Tatapan tajam yang dikeluarkan oleh Nurbaya menggambarkan bahwa ia memiliki kekuatan untuk melawan diskriminasi yang dilakukan oleh laki-laki Tuan Meringgih: A Perempuan yang tunduk akan kuasa Tuan Meringgih karena ia hanya mementingkan Anggi Ayu Lestari. Riksa Belasunda. Ardy Aprilian Anwar harta yang diberikan untuk memuaskan nafsu dunianya tanpa memedulikan dirinya harus tunduk akan perintah Tuan Meringgih A Tatapan mata sendu yang dikeluarkan oleh Isabella menggambarkan bahwa ia merasa kasihan kepada Nurbaya yang dijebak agar menjadi istri ke 10 Tuan Meringgih, namun ia tidak bisa melakukan banyak hal karena dirinya pun mengalami hal yang sama A Menggerakkan tangan ketika berbincang dengan seseorang menandakan bahwa ia memiliki kepribadian yang hangat dan ramah Mitos A Mutiara bagi masyarakat Indonesia merupakan perhiasan yang dipercaya mengandung sebuah kesedihan bagi siapa pun yang memakainya, lebih dari bagi sebagian masyarakat bahwa perhiasan mutiara memiliki makna bagi penggunanya tidak akan memiliki pasangan secara permanen A Hal ini menunjukkan bahwa Nurbaya perempuan yang memiliki kecantikan yang sangat indah namun pada kenyataannya ia memiliki kehidupan yang tidak seindah dengan kecantikan yang dimilikinya karena ia harus terbelenggu di dalam kekuasaan Tuan Meringgih Feminisme Liberal A Dalam adegan ini menunjukkan Nurbaya yang menyadari bahwa dirinya telah dijebak oleh Tuan Meringgih agar menjadi istrinya. Hal ini diberitahukan oleh Isabella yang merupakan istri pertama dari Tuan Meringgih. A Nurbaya yang menyadari bahwa dirinya mendapatkan ketidakadilan ia berusaha untuk melawan dan mencari bukti agar dapat meruntuhkan kekuasaan Tuan Meringgih. Hal ini karena Nurbaya memiliki pemikiran bahwa ia bukan perempuan yang akan diam dengan nasib yang sudah diterimanya. Nurbaya akan berusaha agar nasib yang diterimanya merupakan nasib yang baik karena ia berhak untuk mendapatkan kebebasan dalam menentukan masa depan kehidupannya. Dalam analisis 6 terdapat unsur feminisme yang digambarkan oleh Nurbaya. Nurbaya yang mengetahui bahwa dirinya dijebak oleh Tuan Meringgih membuat Nurbaya bertekad untuk membongkar kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Meringgih. Kemudian dalam adegan ini pula menunjukkan perlawanan Nurbaya terhadap sistem patriarki yang dilakukan oleh Tuan Meringgih, dominasi laki-laki yang disebabkan oleh patriarki memberikan gambaran bahwa perempuan merupakan kaum lemah yang dapat diatur oleh kekuasaan. Analisis 6 juga memperlihatkan unsur budaya Minangkabau yang digambarkan melalui pakaian yang digunakan oleh Nurbaya yaitu baju kurung dan kain songket. Kemudian selain memperlihatkan unsur budaya Minangkabau, adegan ini memperlihatkan pula unsur feminisme yang terjadi di dalam lingkup budaya Minangkabau pada Serial Musikal AuNurbayaAy seperti Nurbaya yang menyadari bahwa hakim yang menangani kasus ayahnya disuap oleh Tuan Meringgih untuk menjebak dirinya. Sehingga hal ini memicu gerakan feminisme yang dilakukan oleh Nurbaya untuk menegakkan hak dan kebebasan untuk dirinya agar terbebas dari kekuasaan Tuan Meringgih. KESIMPULAN Penyebab terjadinya tindakan feminisme dalam lingkup budaya Minangkabau pada film Serial Musikal AuNurbayaAy dapat disimpulkan bahwa Nurbaya yang merupakan perempuan Minangkabau mendapatkan diskriminasi yang dilakukan oleh Tuan Meringgih. Representasi feminisme dalam Serial Musikal Nurbaya ditunjukkan dengan usaha Nurbaya untuk memperoleh pendidikan tinggi, usaha untuk membebaskan ayahnya dari penjara, pemberontakan Nurbaya dari kendali Meringgih, tekad Nurbaya dalam membongkar kejahatan Tuan Meringgih. Sistem patriarki yang tergambar dalam Serial Musikal Nurbaya adalah anggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi, diskriminasi dalam menentukan pilihan hidup, kendali Tuan Meringgih atas Nurbaya karena kondisi ayah Nurbaya. Dengan adanya dominasi yang dilakukan oleh laki-laki membuat perempuan sulit untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki seperti dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi dan masyarakat. Tokoh Siti Nurbaya merepresentasikan feminisme melalui tindakan yang dilakukannya dalam film Serial Musikal AuNurbayaAy untuk melawan kesemena-menaan kaum laki-laki terhadap kaum Penelitian ini dilakukan pada saat pandemi covid-19 berlangsung, sehingga kami tidak melakukan observasi langsung ke Minangkabau untuk menemukan eksistensi matrilinealitas. Selain itu kami memiliki keterbatasan anggaran untuk menemukan implikasi dan respon budaya Minangkabau Feminisme dalam Budaya Minangkabau pada Serial Musikal Nurbaya atas temuan dalam penelitian ini, khususnya pada konteks Serial Musikal Nurbaya. Tidak menutup kemungkinan bagi penelitian berikutnya untuk melanjutkan hasil dalam penelitian ini ke tahap Pada kehidupan nyata, berdasarkan data dari Komnas Perempuan, angka kekerasan terhadap perempuan di Minangkabau terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, masih banyak perempuan Minangkabau yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak. Penelitian ini menjadi salah satu media kami dalam menyuarakan kesetaraan gender. Selain itu, diperlukan upayaupaya dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan organisasi perempuan. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendukung kesetaraan gender, seperti kebijakan tentang pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan. DAFTAR PUSTAKA