Zulfa, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . ISSN 2809-6541 Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung Received: 27 Juni 2025 Accepted: 12 Agustus 2025 Published online: 19 Agustus 2025 DOI: 10. 30659/jmhsa. RE S E A RC H A RT IC L E Hubungan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dengan Kejadian Stunting di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara Siti Ani Zulfa1*. Ana Zumrotun Nisak1. Dwi Astuti1 S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus. Kudus Indonesia Corresponding author: anizulfa92@gmail. One of the nutritional problems that occurs in children is short toddlers, that is, their height does not match their age or what is usually called stunting. Based on the health profile of Jepara district, the annual stunting incidence rate in community health centers is ranked 11th out of 22 community health centers in Jepara district, 68% of stunted toddlers in 2022. With this phenomenon, researchers are interested in conducting research with the title the relationship between Kadzi behavior and the incidence of stunting. Objective: to find out how the level of behavior of the community, especially mothers who have toddlers aged 24-60 months, to find out what the nutritional status of toddlers is based on TB/U, and whether there is a relationship between level behavior and the nutritional status of children. Research method: The type of research used is quantitative research with correlation analytical methods. Data collection was carried out cross-sectionally by conducting interviews with 41 respondents and reading a checklist containing 5 indicators. Respondents only gave a tick (O. to the selected answer. The statistical data test in this research was using chi square test Results: the majority of mothers did not behave Kadarzi, the condition of the toddlers was not stunted, and there was no relationship between Kadarzi behavior and the incidence of stunting. Conclusion: Kadarzi behavior does not affect the condition of stunted toddlers. Keywords: Kadarzi behavior, stunting. Toddlers PENDAHULUAN Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan anak yang paling mendesak dan menjadi perhatian khusus bagi anak-anak di negara berkembang dan terbelakang. Stunting merupakan kondisi yang disebabkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada anak usia di bawah lima tahun (Kurniawan, 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting didefinisikan dalam Tujuan Gizi Global 2025 sebagai gangguan pertumbuhan permanen yang dipengaruhi secara signifikan oleh asupan nutrisi yang tidak memadai selama 1. 000 hari pertama kehidupan dan infeksi berulang. Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 Stunting merupakan suatu permasalahan dimana anak menderita gizi buruk kronis yang disebabkan karena kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan anak. Anak dikatakan stunting apabila tinggi badannya lebih pendek atau lebih kecil . dari standar normal untuk usianya (Kementrian Kesehatan, 2. Perawakan pendek atau biasa dikenal dengan stunting menjadi salah satu masalah gizi yang terjadi pada anak. Secara global, sekitar 150,8 juta anak usia di bawah lima tahun . ,2%) menderita retardasi pertumbuhan. Keterlambatan pertumbuhan bayi terjadi di Asia, yang tingkat prevalensinya paling tinggi di dunia, yakni sekitar 55%. Benua Afrika berada di posisi kedua, dengan 39 persen anak menderita stunting. Ada 83,6 juta anak yang mengalami stunting di Asia. Prevalensi stunting tertinggi terdapat di Asia Selatan sebesar 58,7 persen, sedangkan terendah terdapat di Asia Tengah sebesar 0,9 persen(WHO, 2. Prevalensi stunting pada anak Indonesia sebesar 21,6% pada tahun 2022, berdasarkan Survei Status Gizi 2022 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Angka ini turun 2,8% dari Provinsi Jawa Tengah tahun 2022 berada di peringkat 20 dari 33 Provinsi dengan angka kejadian mencapai 20,8% turun 0,1% dari tahun sebelumnya. angka kejadian stunting di Kabupaten Jepara di tahun 2022 berada di peringkat 25 dari 36 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah mencapai 18,2%, sedangkan berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Jepara angka kejadian stunting di puskesmas Tahunan berada diperingkat 11 dari 22 puskesmas yang ada di Kabupaten Jepara mencapai 10,68% balita stunting di tahun 2022 (Profil Kesehatan Kabupaten Jepara, 2. Stunting merupakan salah satu keadaan kurang gizi kronis yang disebabkan oleh multi Faktor penyebab stunting antara lain pola pengasuhan,penyakit infeksi seperti gangguan pencernaan, dan pemberian asi eksklusif (Ariyanti, 2. Menurut penelitian Andriani et al . ketersediaan posyandu memiliki hubungan protektif dengan status berat badan anak di Indonesia. Layanan posyandu ditempatkan dengan baik untuk memainkan peran penting dalam pencegahan dan pengobatan obesitas diawal kehidupan (Andriani, hellen andriani. chu yung liaou, 2. Perilaku kadarzi dapat secara mandiri mewujudkan Nutrisi yang optimal tercermin dalam pola makan yang bervariasi dan seimbang. Kadarzi merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. Perilaku kurang peduli gizi berdampak pada kurangnya dukungan keluarga dan berkurangnya kemandirian dalam menangani masalah gizi keluarga (Heriviyatno julika siagian, 2. Penelitian oleh Nisak et,al . adanya keterlibatan keluarga dengan melatih para ahli gizi anak dan memberikan konseling tentang gizi anak, perkembangan dan pertumbuhan anak, serta praktik pemberian makanan yang tepat untuk anak kecil, dan menyediakan materi promosi yang menarik untuk meningkatkan kesadaran tentang gizi anak dan mencegah terhambatnya pertumbuhan anak. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan staf puskesmas dan memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu tentang gizi yang tepat sesuai usia anak-anak mereka serta pemahaman tentang tahap-tahap normal pertumbuhan dan perkembangan anak. Itulah yang kami lakukan. Hasil yang diperoleh setelah penerapan langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa angka stunting telah menurun (Siswanti et al. , 2. Menurut penelitian Astuti et,al . terdapat hubungan antara kategori stunting dengan konsumsi pangan beryodium dengan p-value 0,038. Kebutuhan gizi yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak pada dasarnya meliputi kebutuhan cairan, kalori, karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Yodium merupakan mineral penting untuk pertumbuhan tinggi badan anak. Yodium dibutuhkan untuk menghasilkan tiroksin, hormon yang Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 dibutuhkan tubuh untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan dari janin hingga dewasa (Astuti et al. , 2. Masalah gizi masyarakat masih memerlukan perhatian, hal ini diketahui dari masih tingginya kejadian stunting di desa Ngabul mencapai 16,1%. Karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap upaya perbaikan gizi. Dapat dilihat dari cakupan pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Jepara mencapai 76,4%, serta kurangnya tingkat partisipasi masyarakat untuk melakukan penimbangan rutin ke posyandu 85,4% (Profil Kesehatan Kabupaten Jepara, 2. Perilaku adalah cara seseorang, suatu zat, hewan, dan lain-lain berperilaku dalam situasi tertentu atau dalam kondisi tertentu. Ini adalah aktivitas nyata organisme hidup, termasuk manusia, yang dapat diamati dalam situasi dan kondisi tertentu sebagai hasil dari rangsangan internal dan eksternal (Swarjana, 2. Keluarga yang sadar gizi adalah keluarga yang mengonsumsi makanan seimbang dan mampu mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah gizi pada setiap anggota keluarga. Menururt Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2007 Kadarzi merupakan sikap dan perilaku keluarga yang mampu secara mandiri menciptakan status gizi optimal yang tercermin dari asupan pangan yang beragam. (Linar. Cut Sofiyetti Hapsari, 2. Perilaku Kadarzi akan dievaluasi berdasarkan lima indikator. Indikator-indikator ini perlu dikategorikan menurut kriteria tertentu kemudian digolongkan kedalam perilaku kadarzi yaitu menimbang anak secara teratur setiap bulan, memberikan ASI eksklusif sampai usia enam bulan, dan menyediakan makanan bervariasi dengan garam beryodium dalam memasak dan memberikan vitamin A satu tahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus. Mengingat pentingnya perilaku keluarga sadar gizi Untuk meningkatkan gizi dan status kesehatan anak kecil, penelitian perlu dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara perilaku Kadarzi dan kejadian stunting. Survey pendahuluan yang dilakukan di bulan Agustus 2024 data yang diperoleh peneliti di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan dari 15 anak diperoleh 6 anak yang memiliki ibu yang berperilaku kadarzi dan 9 anak yang memiliki ibu yang tidak berperilaku kadarzi dikarenakan ibu tidak melakukan penimbangan rutin setiap satu bulan sekali keposyandu, tidak memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dikarenakan ibu bekerja, dan kurangnya pengetahuan ibu tentang makanan yang beraneka ragam, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul hubungan perilaku kadarzi dengan kejadian stunting. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian dimana data yang disajikan berupa numeric dan dianalisis menggunakan teori Desain Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik korelasi. Motode Analitik korelasi pada penelitian ini digunakan untuk mengukur hubungan antara Perilaku KADARZI dengan Kejadian Stunting di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Dimana variable bebas . adalah perilaku KADARZI dan variable terikat . adalah kejadian stunting. Penelitian ini dilaksanakan di desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara di posyandu mawar pada pertemuan kelas balita dan kelas tumbuh kembang yang dilakukan pada bulan Desember 2024 - Januari 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 24-59 bulan sebanyak 41 responden. Partisipan bisa disebut sebagai narasumber atau Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 Pengambilan sampel menggunakan tehnik cross sectional yaitu pengambilan data dengan cara melakukan wawancara kepada responden dengan membagikan instrument penelitian berupa lembar checklist, peneliti membacakan lembar checklist yang berisi 5 indikator kadarzi dan responden memberikan tanda (O. pada jawaban yang sesuai. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 24-59 bulan yang bersedia untuk menjadi responden. Cara pengolahan data dengan metode analitik kuantitatif korelasi dengan uji Chi square Penelitian ini telah lulus kaji etik oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus pada tanggal 5 Desember 2024 dengan Nomor : 87/Z7/KEPK/UMKU/XII/2024. HASIL Karakteristik responden Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan karakteristik No Karakteristik Frekuensi Presentase (%) Umur <20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun Pendidikan SMP SMA Total Pekerjaan tidak bekerja Total Sumber: data primer, 2024 Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah berdasarkan usia ibu balita di desa Ngabul berusia 20-35 tahun sebanyak 34 responden . %). Analisis univariat Perilaku kadarzi Tabel 2. Distribusi kategori perilaku kadarzi Kategori Frekuensi Tidak kadarzi Total Sumber: data primer, 2024 Presentase(%) Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 Tabel 3. Distribusi Hasil Perilaku Kadarzi Berdasarkan 5 Indikator Kadarzi di Desa Ngabul Jumlah Indikator kadarzi Menimbang berat badan secara teratur setiap bulan Memberikan ASI . ir susu ib. sampai umur 6 bulan. Makan yang beraneka ragam. Menggunakan garam beryodium Minum Kapsul vitamin A untuk bailta 2 kali yaitu bulan Februari dan agustus Sumber: data primer, 2024 Mayoritas responden berperilaku tidak kadarzi sebanyak 30 . %). Kejadian stunting Tabel 4. Distribusi kategori kejadian stunting Kategori stunting Frekuensi Stunting Tidak stunting Total Sumber: data primer, 2024 Presentase Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa mayoritas responden mempunyai balita dengan kategori tidak stunting 34 balita . %). Hubungan perilaku Kadarzi dengan kejadian stunting Tabel 5. Hubungan Perilaku kadarzi dengan Kejadian Stunting Kejadian Stunting Perilaku kadarzi Stunting Tidak stunting Kadarzi Tidak kadarzi Total Sumber: data primer, 2024 Perolehan uji chi square didapatkan p=0. 361 yang artinya tidak ada hubungan signifikan antara perilaku kadarzi dengan kejadian stunting. PEMBAHASAN Karakteristik responden dalam penelitian ini berdasarkan usia ibu balita di desa Ngabul berusia 20-35 tahun sebanyak 34 responden . %). Usia menentukan tingkat kedewasaan seseorang, semakin dewasa maka semakin matang pemikirannya. Usia dewasa juga mempengaruhi pengalaman yang diperoleh, seseorang dengan usia muda dikatakan belom berpengalaman dibandingkan dengan usia dewasa. dalam penelitian ini menjelaskan bahwa Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 mayoritas ibu adalah usia 20-35 tahun memiliki anak dengan kategori tidak stunting disebabkan karena usia tersebut adalah usia reproduktif. Berdasarkan pendidikan mayoritas ibu balita adalah SMA sebanyak 29 . %). Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah seseorang itu mendapatkan informasi. Dalam hal ini pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kesadran dan memberikan atau memperluas pengetahuan masyarakat tentang menjaga dan meningkatkan kesehatan pribadi atau keluarga. Mayoritas responden tidak bekerja sebanyak 23 . %). Balita memiliki kebutuhan asah asih dan asuh yang didapatkan dari ibunya. Ibu bekerja diluar dengan ibu rumah tangga memiliki perbedaan dalam hal pengasuhan. Ibu rumah tangga mempunyai waktu dirumah hal ini memungkinkan ibu menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan berpartisipasi dalam aktivitas komunitas yang berhubungan dengan kesehatan seperti: Misalnya, bawa anak ibu ke posyandu sebulan sekali dan dapatkan informasi melalui konsultasi dengan petugas kesehatan setempat. Mayoritas responden berperilaku tidak kadarzi sebanyak 30 . %). Menurut departemen kesehatan suatu keluarga dikatan kadarzi jika sudah berperilaku gizi yang baik yang sesuai minimal 5 indikator. Berdasarkan kenyataan didapatkan mayoritas perilaku yang tidak dilakukan responden tidak memberi ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 18 orang . %), rata-rata bayi hanya diberikan ASI sampai usia 2 bulan, pada usia 3 bulan bayi sudah diberikan susu formula karena ditinggal ibu bekerja, namun mayoritas ibu mengatakan tidak diberikan ASI Eksklusif karena bayinya rewel jika hanya dikasih ASI saja. Selain tidak diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, terdapat 7 responden tidak menggunakan garam beryodium untuk masak masakan sehari Dalam penelitian Dwi astuti,et al dikatakan bahwa terdapat hubungan antara klasifikasi stunting dengan asupan makanan mengandung yodium dengan p-value 0,038. (Astuti et al. Selain itu terdapat 10 responden Pemeriksaan berat badan bulanan rutin tidak dilakukan di tempat kesehatan umum. Ibu mengatakan dia tidak menimbang anaknya secara teratur karena dia merasa anaknya tumbuh normal dan imunisasi sudah lengkap. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa mayoritas responden mempunyai balita dengan kategori tidak stunting 34 balita . %). Baik buruknya kondisi gizi anak dipengaruhi oleh sebagian faktor yaitu ibu yang tidak sadar akan pentingnya status gizi, lebih sering ibu mengawasi asupan makanan yang dimakan anak sesuai dengan kebutuhan akan lebih baik, karna dapat memperhatikan proses pertumbuhan dan perkembangan balita. Ada ibu yang tidak memperhatikan asupan yang sesuai menu seimbang karena keadaan keluarga dan sosial Pola makan yang tidak seimbang pada anak kecil dapat menimbulkan gangguan fisik maupun mental dan menghambat tumbuh kembang selanjutnya. Peningkatan perilaku kadarzi Ini adalah salah satu upaya paling penting untuk meningkatkan kesehatan anak usia dini. Dalam penelitian ini, perilaku kadarzi didefinisikan sebagai pemenuhan minimal lima indikator kadarzi yang ditetapkan oleh Kementerian Arisanti, et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 2: . p18-24 ISSN 2809-6541 Kesehatan, meliputi penimbangan berat badan secara teratur dan pencatatan dalam KMS, pemberian ASI eksklusif sampai usia enam bulan, dan asupan makanan yang beragam. Hal ini merupakan tindakan keluarga Makan makanan yang dianjurkan, gunakan garam beryodium, dan minum suplemen. Perolehan uji chi square didapatkan p=0. 361 yang artinya tidak ada hubungan signifikan antara perilaku kadarzi dengan kejadian stunting . artinya keadaan stunting pada anak tidak disebabkan oleh perilaku ibu ketika balita sudah pada fase pertumbuhan usia 24-59 bulan tetapi juga perlu diperhatiakan pada masa kehamilan dan kondisi kesehatan ibu sebelum hamil. Kesehatan perempuan remaja di usia reproduktif untuk menjadi calon ibu juga perlu diperhatikan, misalnya perempuan ketika sedang menstruasi mengonsumsi tablet tambah darah sehari sekali, menjaga pola makan di era yang modern saat ini dengan banyaknya remaja mmengkonsumsi makanan instan dan lebih sering konsumsi minuman teh sehingga berpengaruh pada kadar Hb nya. Saat ini untuk mengatasi pencegahan stunting sudah ada aplikasi Elsimil yaitu aplikasi elekronik siap nikah dan hamil dimana calon pengantin mengisi beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan laborat darah untuk mengetahui bagaimana kondisi pasangan calon pengantin sebelum menikah. serta adanya progam pembentukan tim pendamping keluarga yang bertugas untuk melakukan kunjungan pendampingan kepada masyarakat terutama perempuan mulai dari kemantin, menjadi pasangan usia subur, ibu hamil, ibu melahirkan,ibu nifas sampai anaknya berusia 2 tahun. Pendampingan yang dilakukan kader kesehatan bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan ibu dan balitanya. Dalam jurnal penelitian diterangkan bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan stunting adalah faktor sosiodemografi dan layanan kesehatan, sehingga disarankan meningkatkan pendidikan perempuan dan mendorong keterlibatan keluarga besar dalam mengasuh anak, serta memastikan konsumsi tablet tambah darah atau zat besi yang cukup selama kehamilan (Kusumajaya et al. , 2. Dalam literature review juga dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupanprotein yang dikonsumsi balita dengan kejadian stunting. Apabila protein dikonsumsi 90% dari total kebutuhan harian serta mengkonsumsi protein hewani yang berkualitas . etyani,2. KESIMPULAN Berdasarkan teori, hasil dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku kadarzi dengan kejadian stunting,Perilaku ibu balita mayoritas berperilaku tidak kadarzi 30 responden. Status gizi balita mayoritas kategori tidak stunting yaitu 34 balita. DAFTAR PUSTAKA