Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 56 Ae 63 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Problem Based Learning Dengan Modeling The Way Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Pembelajaran IPS Di SMP Islam Perlaungan Ayu SyaAodyah . Nuansa Bayu Segara . Agus Suprijono . Muhammad Ilyas Marzuqi . S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas Vi dalam menghadapi tuntutan pembelajaran abad ke-21, yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan pemecahan masalah. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan Modeling the Way dipandang relevan untuk meningkatkan kemampuan tersebut, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model PBL dengan Modeling the Way terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Perlaungan pada tahun ajaran 2024/2025 dengan menggunakan metode kuasi eksperimen dan desain Nonequivalent Control Group Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling jenis purposive sampling, dengan sampel penelitian terdiri dari kelas Vi B sebagai kelas eksperimen dan kelas Vi A sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa soal pre-test dan post-test untuk mengukur kemampuan berpikir kritis. Data dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, uji N-Gain, dan uji hipotesis menggunakan Independent Sample T-Test. Hasil uji menunjukkan nilai Sig. -taile. < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan model PBL terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Kelompok eksperimen menunjukkan kecenderungan peningkatan kategori kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Persentase NGain sebesar 38,2% menunjukkan bahwa model PBL dengan pendekatan Modeling the Way cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas Vi. Kata Kunci: Problem Based Learning. Berpikir Kritis. Pembelajaran IPS. Modeling the Way Abstract This study is motivated by the need to enhance the critical thinking skills of eighth-grade students in response to the demands of 21stcentury learning, which emphasizes critical, creative, and innovative thinking, as well as problem-solving abilities. The Problem Based Learning (PBL) model, combined with the Modeling the Way approach, is considered suitable for achieving these educational objectives, particularly in Social Studies (IPS) learning. The purpose of this study is to examine the effect of the PBL model integrated with Modeling the Way on students' critical thinking skills. This research was conducted at SMP Islam Perlaungan in the 2024/2025 academic year using a quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design. The sampling technique employed was non-probability sampling with a purposive sampling strategy. The sample consisted of class Vi B as the experimental group and class Vi A as the control group. Research instruments included pre-test and post-test assessments designed to measure students' critical thinking abilities. The data were analyzed using validity and reliability tests, as well as normality, homogeneity. N-Gain, and hypothesis tests. The hypothesis test using the Independent Sample T-Test showed a Sig. -taile. value less than 0. 05, indicating a significant effect of the PBL model on critical thinking skills. The experimental group demonstrated a higher tendency toward improved critical thinking categories compared to the control group. The N-Gain score of 38. 2% suggests that the implementation of the PBL model with Modeling the Way is moderately effective in enhancing the critical thinking skills of eighth-grade students. Keywords: Problem Based Learning. Critical Thinking. Social Studies Learning. Modeling the Way How to Cite: SyaAodyah. A,. Pengaruh Problerm Based Learning dengan Modeling The Way Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis pada Pembelajaran IPS di SMP Islam Perlaungan. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 (No. 2025: halaman 56 - 63 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 PENDAHULUAN Memasuki era abad ke-21, perkembangan teknologi dan arus informasi berlangsung sangat pesat, memberikan dampak signifikan terhadap pola hidup masyarakat global, termasuk dalam dunia Pendidikan tidak lagi sekadar berfungsi sebagai wahana transfer pengetahuan, tetapi harus mampu menjadi sarana pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi agar peserta didik siap menghadapi tantangan kompleks di masa depan. Salah satu keterampilan yang sangat esensial dalam konteks tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Keterampilan ini memungkinkan peserta didik untuk mengolah informasi, menganalisis berbagai persoalan, dan mengambil keputusan berdasarkan penalaran logis dan bukti yang rasional (Trilling & Fadel, 2. Kemampuan berpikir kritis sangat relevan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), karena materi IPS berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang terus berubah. Dalam konteks ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menghafal fakta, tetapi juga harus mampu memahami, menilai, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran IPS perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis secara optimal. Namun, berdasarkan temuan Huda dan Abduh . , masih banyak siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam aspek berpikir kritis karena kurangnya strategi pembelajaran yang mendorong keterlibatan kognitif secara aktif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Perlaungan, yang secara geografis berdekatan dengan kawasan industri dan memiliki sumber daya sosial serta budaya yang melimpah. Potensi ini menjadikan sekolah tersebut memiliki peluang besar untuk mengembangkan pembelajaran berbasis Namun, observasi awal menunjukkan bahwa siswa cenderung pasif dalam pembelajaran, serta lebih mengandalkan pencarian jawaban secara instan dari internet dibandingkan dengan menggali informasi secara mendalam melalui buku dan diskusi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa belum berkembang secara optimal, dan diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat membangun kesadaran serta keterlibatan mereka secara kognitif dan Salah satu pendekatan yang dipandang efektif untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis adalah Problem Based Learning (PBL). Model ini mengarahkan siswa untuk belajar melalui penyelesaian masalah nyata, mendorong mereka untuk mengidentifikasi informasi penting, menganalisis data, serta menyusun solusi berdasarkan proses berpikir reflektif (Barrows, 1. Dalam prosesnya. PBL juga menekankan kerja kolaboratif, diskusi kelompok, dan keterlibatan aktif siswa, yang semuanya merupakan fondasi penting dalam membangun pola pikir kritis. Selain itu, siswa dibimbing untuk belajar secara mandiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap proses belajarnya Sebagai pelengkap dari PBL, strategi Modeling the Way diperkenalkan sebagai pendekatan yang berfokus pada pemberian contoh atau keteladanan oleh guru dalam berpikir dan bersikap. Strategi ini berasal dari prinsip kepemimpinan transformasional yang dikembangkan oleh Kouzes dan Posner . , yang menekankan pentingnya pemimpin . alam hal ini gur. untuk menunjukkan perilaku yang diharapkan dari siswa. Dengan melihat contoh konkret dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan, siswa lebih mudah meniru dan menerapkan keterampilan berpikir kritis dalam situasi nyata. Metode ini diyakini dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam Berbagai penelitian telah membuktikan efektivitas masing-masing strategi tersebut. Misalnya. Nurlaeli . menemukan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan analitis dan pemecahan masalah siswa. Sementara itu, penelitian Kokom . menekankan bahwa Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 pembelajaran berbasis isu kontroversial dalam IPS efektif membangun sikap kritis dan reflektif melalui diskusi terbuka. Namun demikian, belum banyak kajian yang secara eksplisit menggabungkan PBL dengan strategi Modeling the Way dalam pembelajaran IPS di tingkat SMP, khususnya di daerah dengan karakteristik sosial dan geografis seperti SMP Islam Perlaungan. Persamaan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sama-sama bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pendekatan pembelajaran aktif dan Namun, perbedaannya terletak pada integrasi dua pendekatan sekaligus, yakni PBL dan Modeling the Way, serta fokus pada konteks lokal sekolah berbasis potensi daerah. Penelitian sebelumnya cenderung menggunakan pendekatan tunggal dan belum memanfaatkan konteks lingkungan belajar secara maksimal. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki relevansi dan nilai tambah yang kuat untuk dikaji lebih lanjut. Dari uraian tersebut, posisi penelitian ini menjadi strategis karena mengisi kekosongan dalam literatur terkait integrasi PBL dan Modeling the Way dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini juga memperluas konteks implementasi pembelajaran aktif dari wilayah urban ke daerah semi-rural yang kaya potensi lokal. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memberi kontribusi dalam aspek teoritis, tetapi juga memberi panduan praktis bagi guru dan pengambil kebijakan pendidikan dalam merancang pembelajaran yang mendukung keterampilan berpikir kritis secara lebih efektif. Teori konstruktivisme menjadi dasar utama dalam pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Menurut Vygotsky, pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman kontekstual. Dalam hal ini. PBL memberikan pengalaman otentik bagi siswa untuk membangun pengetahuan, sementara Modeling the Way memberikan dukungan sosial berupa contoh perilaku berpikir yang dapat ditiru (Novianti, 2. Dengan memadukan kedua pendekatan ini, diharapkan proses internalisasi keterampilan berpikir kritis dapat berlangsung secara lebih menyeluruh dan mendalam. Berdasarkan seluruh pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pengaruh penerapan Problem Based Learning yang dipadukan dengan strategi Modeling the Way terhadap kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru tentang bagaimana dua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi dalam konteks pendidikan Indonesia, serta menjadi rujukan bagi pengembangan model pembelajaran inovatif berbasis kebutuhan lokal dan tuntutan global. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen, yang secara khusus menerapkan model Nonequivalent Control Group Design. Desain ini dipilih karena memungkinkan peneliti membandingkan hasil pembelajaran antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol meskipun tanpa proses pengacakan subjek secara acak. Pendekatan ini relevan untuk menilai pengaruh intervensi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dikombinasikan dengan pendekatan Modeling the Way terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data yang terukur secara statistik dan mampu menunjukkan perbedaan signifikan antara dua kelompok perlakuan yang berbeda. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas Vi di SMP Islam Perlaungan tahun ajaran 2024/2025, dengan pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling yang dikombinasikan dengan non-probability sampling. Sampel terdiri dari dua kelas yang tersedia, yaitu kelas Vi A dan Vi B, di mana hasil pengundian menetapkan kelas Vi B sebagai kelompok eksperimen yang memperoleh pembelajaran berbasis PBL dan Modeling the Way, serta kelas Vi A sebagai kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional. Jenis data yang dikumpulkan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 meliputi data primer, berupa hasil tes dan observasi langsung, serta data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi yang relevan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup tes, observasi, dan dokumentasi untuk memperoleh informasi yang holistik terkait kemampuan berpikir kritis siswa. Analisis data dilakukan melalui dua tahap utama, yakni uji instrumen dan uji prasyarat. Uji instrumen mencakup uji validitas untuk memastikan bahwa butir soal mengukur aspek yang dimaksud, serta uji reliabilitas guna menilai konsistensi hasil pengukuran. Sementara itu, uji prasyarat terdiri dari uji normalitas dan homogenitas untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi statistik parametrik, serta uji N-Gain untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa, dan uji hipotesis guna menguji pengaruh perlakuan secara signifikan. Pendekatan ini memberikan landasan metodologis yang kuat untuk menilai efektivitas model pembelajaran yang diterapkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada jenjang SMP, khususnya materi Perdagangan Internasional, menuntut pendekatan yang mendorong pemahaman konseptual dan analitis secara Penerapan Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pendekatan Modeling the Way menjadi strategi efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif siswa. PBL menempatkan isu nyata sebagai pusat pembelajaran, seperti ketimpangan ekspor-impor atau tantangan perdagangan bebas, yang dianalisis siswa melalui investigasi kelompok berbasis data dan diskusi argumentatif. Sementara itu. Modeling the Way memperkuat pembelajaran melalui keteladanan guru dalam berpikir sistematis, pengambilan keputusan berbasis data, dan sikap Aktivitas dimulai dengan stimulus berita aktual, dilanjutkan dengan identifikasi masalah, analisis informasi, presentasi, dan refleksi. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai tanggung jawab, integritas, dan kepemimpinan Strategi ini mendukung pembelajaran yang aktif, bermakna, dan sejalan dengan prinsip Merdeka Belajar dalam penguatan karakter dan kompetensi abad ke-21. Pengujian validitas isi dalam penelitian ini dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen benarbenar mengukur konstruk berpikir kritis yang dituju, dengan merujuk pada indikator analisis, sintesis, evaluasi, dan penarikan kesimpulan. Instrumen berupa tes pilihan ganda diuji secara empiris melalui korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 21 terhadap 23 siswa kelas Vi A SMP Islam Perlaungan. No. Item Tabel 1 Hasil Uji Validitas Rhitung Rtabel Kesimpulan 0,331 0,413 Tidak Valid 0,491 0,413 Valid 0,325 0,413 Tidak Valid 0,613 0,413 Valid 0,308 0,413 Tidak Valid 0,458 0,413 Valid 0,271 0,413 Tidak Valid 0,374 0,413 Tidak Valid 0,304 0,413 Tidak Valid 0,416 0,413 Valid 0,473 0,413 Valid 0,285 0,413 Tidak Valid Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 0,528 0,413 Valid 0,326 0,413 Tidak Valid 0,484 0,413 Valid 0,349 0,413 Tidak Valid 0,568 0,413 Valid 0,548 0,413 Valid 0,436 0,413 Valid 0,313 0,413 Tidak Valid Sumber: Diolah oleh penulis, 2025 Hasil uji menunjukkan bahwa dari 20 butir soal, 10 item dinyatakan valid karena memiliki nilai rhitung lebih besar dari r-tabel . , dengan nilai tertinggi pada item nomor 17 . , yang menandakan korelasi signifikan terhadap skor total. Sementara itu, 10 item lainnya dinyatakan tidak valid karena nilai r-hitung berada di bawah batas minimal, sehingga disarankan untuk direvisi atau Validitas yang memadai penting untuk menjamin akurasi, konsistensi, dan kesahihan pengukuran dalam pengambilan data penelitian. Proses untuk menentukan seberapa baik instrumen penelitian menghasilkan data yang konsisten dan dapat dipercaya dikenal sebagai pengujian reliabilitas. Tingkat konsistensi alat ukur yang digunakan dalam penelitian, khususnya dalam bentuk kuesioner, ditunjukkan oleh reliabilitas dalam konteks ini. Untuk memastikan instrumen dapat digunakan secara berkala dengan hasil yang konsisten, pengujian ini sangat penting. Dengan Nilai Cronbach's Alpha digunakan sebagai indikator utama dalam pengujian reliabilitas untuk penelitian ini, yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 21. Suatu instrumen dianggap reliabel jika nilai Cronbach's Alpha-nya lebih besar dari 0,6. Angka ini menunjukkan bahwa konsistensi internal instrumen cukup untuk pengumpulan data. (Amanda et al. , 2. Tabel 2 Hasil Uji Reliabilitas CronbachAos Alpha N of items Sumber: Diolah oleh penulis, 2025 Dapat dilihat pada tabel di atas, butir soal yang nantinya akan dijadikan soal Pre-Test dan PostTest dinyatakan lolos uji reliabilitas menggunakan metode CronbachAos Alpha, pada SPSS 21. 0 karena telah melewati batas reliabel yakni 0,6. Uji Normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov untuk menguji kenormalan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 21. Berikut ini adalah kriteria pengambilan keputusan pengujian: Setiap nilai signifikansi (Sig. ) yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi secara teratur. Di sisi lain, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05, data dianggap terdistribusi secara tidak normal. Bagian selanjutnya menyajikan hasil uji kenormalan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Tabel 3 Hasil Uji Normalitas Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 Sumber: Diolah dari penulis, 2025 Menurut analisis metode Kolmogorov-Smirnov. dari hasil uji normalitas yang ditampilkan dalam tabel di atas, nilai signifikansi (Sig. ) kelas eksperimen adalah 0,551 untuk pra-tes dan 0,065 untuk pasca-tes, berturut-turut. Data dalam kelas eksperimen dianggap terdistribusi normal karena kedua nilai tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Dengan nilai signifikansi 0,534 untuk pra-tes dan 0,110 untuk pasca-tes, yang keduanya lebih tinggi dari 0,05, data dalam kelompok kontrol juga menunjukkan distribusi normal. Untuk mengetahui apakah distribusi varians dari dua atau lebih kumpulan data sama, digunakan uji homogenitas. Data tidak berbeda jika nilai signifikansinya kurang dari 0,05. Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan alat bantu SPSS 21. hasil dari uji homogenitas menggunakan uji Levene: Tabel 4 Hasil Uji Homogenitas Jenis Data Sig. Keterangan Based on mean 0,836 Homogen Based on median 0,871 Homogen Based on median and with adjusted df 0,871 Homogen Based on trimmed mean 0,849 Homogen Sumber: Diolah dari penulis, 2025 Berdasarkan data hasil uji normalitas terdapat beberapa nilai dalam hasil uji homogenitas akan tetapi uji homogenitas dilihat dari AuBased on mean data tersebut dapat dianggap memiliki varians yang homogen karena nilai signifikansi (Si. AuBerdasarkan meanAy adalah 0,836, yang lebih tinggi dari 0,05 Kelompok Tabel 5 Hasil Uji N-Gain Kelas Eksperimen N-Gain Score (%) 38,2 Tafsiran Kelas Kontrol Efektif Tidak efektif Sumber: Diolah oleh penulis, 2025 Persentase N-Gain rata-rata untuk kelompok eksperimen adalah 38,2%, menurut hasil perhitungan nilai N-Gain yang ditampilkan pada tabel sebelumnya. Karena nilai ini melebihi kriteria 30%, maka masuk ke dalam kategori sedang. Sebaliknya, kelompok kontrol mencapai persentase N-Gain ratarata sebesar 17,8%, turun di bawah 30% dan masuk ke dalam kategori rendah. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dengan Modeling the Way pada kelompok eksperimen memberikan efektivitas yang lebih baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang diterapkan pada kelompok kontrol. Metode Independent Sample T-Test digunakan untuk pengujian hipotesis karena uji-t membandingkan rata-rata dua kelompok sampel yang tidak berpasangan. Uji ini dirancang untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan Modeling the Way bersamaan dengan model Problem Based Learning secara signifikan memengaruhi seberapa baik siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Kriteria pengambilan keputusan uji-t adalah sebagai berikut: jika nilai Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 56-63 signifikansi (Sig. 2-taile. lebih tinggi dari 0,05, hipotesis nol (HCA) diterima dan hipotesis alternatif (HCA) ditolak. Namun, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05. HCA diterima dan HCA ditolak. Hasil uji hipotesis menggunakan Uji T Sampel Independen ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 6 Hasil Uji Hipotesis Nilai Signifikansi 0,000 Sumber: Diolah oleh penulis, 2025 Sebanyak 44 siswa menjadi sampel penelitian, yang dibagi menjadi dua kelompok: dua puluh satu siswa dalam kelompok eksperimen dan dua puluh tiga siswa dalam kelompok kontrol. UjiT Sampel Independen menghasilkan nilai-t sebesar 4,3939, lebih besar dari nilai-t tabel sebesar 1,668, dan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,000, kurang dari 0,05. Akibatnya, dapat dikatakan bahwa kapasitas kelompok eksperimen dan kontrol untuk pengembangan berpikir kritis berbeda secara Hipotesis alternatif (HCA) diterima, sedangkan hipotesis nol (HCA) ditolak secara statistik. Dengan demikian, telah dibuktikan bahwa pendekatan Modeling the Way yang dikombinasikan dengan teknik pembelajaran berbasis masalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas di SMP Islam Perlaungan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dikombinasikan dengan pendekatan Modeling the Way memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat SMP, khususnya di SMP Islam Perlaungan. Bukti empiris ditunjukkan melalui hasil uji Independent Samples T-Test, di mana nilai t hitung lebih besar daripada t tabel, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima, yang secara statistik menegaskan efektivitas intervensi pembelajaran berbasis masalah. Lebih lanjut, hasil analisis N-Gain mendukung temuan ini, di mana kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam kategori sedang, sedangkan kelompok kontrol, yang menerima pembelajaran konvensional, menunjukkan peningkatan yang relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan PBL dengan pendekatan Modeling the Way bukan hanya mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna, tetapi juga lebih adaptif terhadap pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, strategi ini dapat dijadikan alternatif pedagogis yang relevan untuk memperkuat kompetensi berpikir kritis siswa secara sistematis dan berkelanjutan dalam pembelajaran IPS. DAFTAR PUSTAKA