Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE MATERI JENIS USAHA MASYARAKAT INDONESIA PADA SISWA SDN 006 ANGGANA Zara Amelia1. Mustamiroh2 Universitas Mulawarman1,2 pos-el: zaraamelia24@gmail. com1, mustamiroh@fkip. ABSTRAK Kegiatan belajar mengajar yang baik ialah peserta didik memperoleh skill . , value . , dan knowledge . yang didorong oleh peranan guru langsung. Beberapa siswa menganggap materi IPS sulit dimengerti dan dipahami. Hasil observasi memaparkan bahwa pembelajaran belum optimal, sebagian besar masih banyak siswa yang belum mencapai KKM. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi hasil belajar yang kurang optimal dan rendah. Dalam meningkatkan hasil belajar siswa, maka dibutuhkan kemampuan guru yang mampu menguasai model pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, maka guru memiliki tuntutan untuk menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan, efektif, dan inovatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa melalui penerapan model pembelajaran tipe Indonesia. Jenis ini mengadopsi pendekatan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SDN 006 Anggana. Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi merupakan tahapantahapan penting dalam Penelitian Tindakan Kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan mencakup observasi, tes, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode ratarata, persentase, dan peningkatan hasil belajar. Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran kooperatif tipe scramble, saat pra siklus nilai ratarata 67, persentase ketuntasan 21% . angat kuran. dimana 4 siswa tuntas, di siklus I memperoleh nilai rata-rata 74,47, persentase ketuntasan 37% . , dimana 7 siswa tuntas, peningkatan sebesar 11,14% dan di siklus II nilai rata-rata 84, persentase ketuntasan 84%, . dimana 16 siswa tuntas, peningkatan sebesar 25,37%. Melalui perolehan persentase tersebut sudah >70% sehingga dapat dihentikan di siklus II. Kata kunci : Hasil Belajar IPS . Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble . ABSTRACT Good teaching and learning activities are students who acquire skills, values, and knowledge that are driven by the direct role of teachers. Some students consider social studies material difficult to understand and comprehend. The results of observations show that learning is not optimal, most of the students have not reached the KKM. This will certainly affect learning outcomes that are less than optimal and low. In improving student learning outcomes, teachers are required to be able to master learning models. Based on this, teachers are required to apply learning models that are fun, effective, and innovative. The purpose of this study is to improve social studies learning outcomes in students through the application of the type learning model for the material on types of Indonesian community businesses. This type of research adopts a Classroom Action Research approach which is carried out in two cycles, where each cycle consists of two meetings. The location of this research was carried out at SDN 006 Anggana. Planning, implementation, observation, and reflection are important stages in Classroom Action Research. Data collection methods used include observation, testing, and documentation. Data analysis uses the average method, percentage, and improvement in learning outcomes. The results obtained showed an Vol. No. Desember 2024 Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan increase in social studies learning outcomes through the type cooperative learning model, during the pre-cycle the average value was 67, the percentage of completion was 21% . ery poo. where 4 students completed, in cycle I the average value was 74. 47, the percentage of completion was 37% . , where 7 students completed, an increase of 11. 14% and in cycle II the average value was 84, the percentage of completion was 84%, . where 16 students completed, an increase of 25. Through the acquisition of this percentage it is already >70% so that it can be stopped in cycle II. Keywords: Social Studies Learning Outcomes. Scramble Type Cooperative Learning Model. PENDAHULUAN Pendidikan didefinisikan sebagai proses yang berarti memelihara dan memberi latihan, pendidikan dipandang sebagai cara untuk melatih generasi muda yang berkualitas (Elihami, 2. Pada kegiatan pembelajaran, kemampuan dalam menerima materi memiliki kecepatan yang berbeda, mulai dari lamban, sedang, dan Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan pengaturan strategi belajar yang disesuaikan dengan kemampuan belajar peserta didik (Siringoringo et al. , 2. , menyusun proses yang mendorong komunikasi aktif antara guru dan siswa, serta antar siswa itu sendiri, merupakan salah satu aspek terpenting dalam tugas seorang guru. Kegiatan belajar mengajar yang aktif memungkinkan siswa terlibat secara fisik, emosional, dan mental (Marta, 2. Selain penguasaan materi oleh guru, salah satu faktor yang membuat pembelajaran menjadi lebih efektif adalah pemilihan metode yang tepat untuk setiap mata pelajaran yang diajarkan (Ahmad Rizalul Kamal et al. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu inovasi dalam menyesuaikan sistem pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Kegiatan belajar mengajar yang baik ialah peserta didik memperoleh skill . , value . , dan knowledge . yang didorong oleh peranan guru langsung. Dalam meningkatkan hasil kemampuan guru yang mampu menguasai model pembelajaran. Pembelajaran di sekolah dasar meliputi beberapa muatan pembelajaran (Gustina, 2. Pada kegiatan pembelajaran seorang guru Vol. No. Desember 2024 harus menguasai terkait dengan materi menciptakan suatu pembelajaran yang pelaksanaannya (Ahmad Rizalul Kamal Sekolah memperkenalkan ilmu pengetahuan sosial (IPS) sebagai salah satu mata pelajaran yang penting (Regiani et al. ,2. IPS (Ilmu Pengetahuan Sosia. memiliki peran dalam aktivitas kelompok masyarakat dan memiliki keterhubungan dengan beberapa nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Tujuan dari IPS ialah agar siswa menjadi WNI yang memiliki rasa cinta damai, bertanggungjawab, dan Melalui pelajaran IPS ini, bertujuan agar anak-anak peka terhadap kondisi lingkungan sosial. Berdasarkan hal tersebut, maka guru memiliki tuntutan untuk menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan, efektif, dan inovatif. Jika hal tersebut, dilakukan dengan seksama, maka akan tercipta suatu proses pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS di kelas (Rahmaniati et al. , 2. Problem dengan pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosia. adalah bahwa pelajaran belum optimal. Beberapa siswa menganggap materi IPS sulit dimengerti dan dipahami. Hasil observasi di kelas V SDN 006 Anggana memaparkan bahwa guru menggunakan model pembelajaran konvensional pada pembelajaran IPS. Selanjutnya, rendahnya nilai IPS pada siswa kelas V di SDN 006 Anggana terlihat dari rata-rata hasil belajar yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah Zara Amelia1. Mustamiroh2 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama dengan guru mapel memaparkan bahwa sebagai seorang pendidik belum bisa mendapatkan solusi atas permasalahan tersebut . ilai belajar renda. di IPS. Hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran IPS di kelas V masih menggunakan metode yang bersifat konvensional atau ceramah. Hal ini tentu berdampak pada hasil belajar yang kurang optimal dan rendah. Hasil belajar siswa kelas V di SDN 006 Anggana menunjukkan kondisi yang kurang optimal dan masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada tahap awal, hanya 5 dari 19 siswa . %) yang berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sebesar 70, sementara 14 siswa lainnya . %) belum tuntas. Kondisi ini menunjukkan bahwa kurang dari 50% siswa memenuhi standar yang diharapkan. Berdasarkan data tersebut, diperlukan upaya untuk meningkatkan hasil belajar melalui pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Model ini membantu siswa mengembangkan sikap toleransi dengan menerima perbedaan pendapat antar teman. Pendekatan ini juga membuat siswa lebih aktif, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik, dinamis, dan menyenangkan (Maulida et al. , 2. Model memungkinkan siswa untuk saling berdiskusi, bekerja sama, dan berbagi ide dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif mendorong diskusi, kerja sama, dan berbagi meningkatkan pemahaman materi dan keterampilan sosial siswa (Harianti et al. Salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang efektif adalah model tipe Scramble. Dalam pendekatan ini, siswa diajak untuk memecahkan masalah melalui lembar soal yang disertai dengan pilihan berkelompok (Rosidah et al. , 2. Vol. No. Desember 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Penggunaan dari model tersebut memiliki dampak terhadap menciptakan keaktifan siswa, adanya dorongan agar peserta didik mengetahui jawaban secara berkelompok, penciptaan suasana belajar yang gembira, dan pembangunan untuk berpikir kritis. Proses pembelajaran pada IPS sering kali muncul permasalahan yaitu, belum optimalnya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang berlangsung (Komar & Winarsih, 2. Selain itu, ditemukan permasalahan bahwa siswa mengalami kesulitan saat mencerna materi Meskipun guru telah menerapkan berbagai variasi model pembelajaran, hasil belajar IPS masih belu m menunjukkan peningkatan yang signifik Model Kooperatif Tipe Scramble memiliki berbagai keunggulan, di antaranya, peserta didik akan lebih mudah mengingat materi yang disampaikan, melatih mereka untuk berpikir dengan tepat dan cepat, mengasah keterampilan, serta menumbuhkan semangat dan kegembiraan dalam belajar. Terkait permasalahan di atas mengenai pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN 006 Anggana, peneliti berusaha membuat model pembelajaran kooperatif scramble menyenangkan, efektif, inovatif, dan mengaktifkan siswa. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir tingkat kebosanan peserta didik, sehingga hasil belajar, keaktifan, dan pemahaman peserta didik dapat ditingkatkan. Model Scramble adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif mencari jawaban dan memecahkan masalah yang ada. Dalam model ini, siswa diberikan lembar soal dan lembar jawaban yang dilengkapi dengan berbagai alternatif jawaban. Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa berpikir secara kritis, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu. Model Scramble mendorong siswa untuk bekerja sama dalam mencari jawaban, sehingga mereka dapat terlibat secara aktif dan fokus dalam proses Zara Amelia1. Mustamiroh2 Penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa model pembelajaran scramble dapat mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah dan menemukan jawaban. Hal ini dilakukan dengan membagikan lembar soal beserta alternatif jawaban (Putri et al. Berdasarkan paparan di atas, penulis mengambil judul AuPeningkatan Hasil Belajar IPS Materi Jenis Usaha Masyarakat Indonesia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble Pada Siswa Sekolah DasarAy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa melalui penerapan model pembelajaran tipe scramble materi jenis usaha masyarakat Indonesia. METODE PENELITIAN Metode penelitian ialah PTK (Penelitian Tindakan Kela. Hal ini dinyatakan dari tujuan PTK yaitu sekelompok subjek penelitian dengan tujuan meningkatkan mutu pembelajaran Selain itu, penelitian tindakan kelas ini juga mengajar yang sudah dimiliki oleh guru. Subjek penelitian ini terdiri dari guru dan peserta didik kelas V di SD Negeri 006 Anggana, yang terdiri dari 19 siswa, terbagi menjadi 10 siswi dan 9 Penelitian dilakukan di kelas V SDN 006 Anggana yang beralamat di Jalan Masjid RT. 08 Kalimantan Timur. Berikut adalah gambar 1 yang memaparkan terkait prosedur penelitian. Vol. No. Desember 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Gambar 1. Siklus PTK Sumber: (Usman & Yunus, 2. Metode menggunakan pengamatan, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Observasi, yang juga disebut sebagai pengamatan, merupakan suatu metode pengumpulan data yang melibatkan pengamatan langsung terhadap objek yang sedang diteliti di lapangan (Apriyanti et al. Tes dalam bidang pendidikan adalah suatu alat ukur yang dituangkan dalam bentuk beberapa soal ataupun tugas dan harus diselesaikan oleh peserta didik guna pengukuran pada aspek Dalam hal ini alat ukur difungsikan dalam bentuk tes. Pada tes hasil belajar, pengukuran dilakukan terhadap kemampuan siswa terhadap penguasaan konsep dalam suatu materi yang dijelaskan oleh guru (Pitaloka et , 2. Teknik dokumentasi merujuk pada proses pencarian dan pengumpulan data diperlukan dari informasi yang tersedia (Apriyanti et al. , 2. Teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini melibatkan observasi di lapangan, collecting data dengan mendata sebaran nilai predikat, menyebar angket dan instrumen penilaian serta menyebar lembar wawancara terhadap guru. Angket adalah kumpulan pertanyaan tertulis digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi mengenai topik yang Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan bersifat pribadi bagi responden. Instrumen penilaian ini dapat dianggap sebagai alat evaluasi yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi secara sistematis (Badriyah et , 2. Hasil belajar dihitung melalui rumus di bawah ini : ycIycoycuyc ycEyceycycuycoyceEaycaycu Nilai = ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco ycU 100%. Tabel klasifikasi hasil belajar dalam lima Tabel 1. Kriteria Hasil Belajar Siswa Sumber: (Agung, 2. Nilai Predikat Keterangan Interval Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Langkah menggunakan rumus: ycIycnycycyca ycycaycuyci ycycycuycycayc P = ycIycnycycyca ycyceycoycycycEaycuycyca ycU 100% Keterangan : P : Persentase Oc : Siswa yang tuntas N : Jumlah siswa Sumber: Kamal et al. , 2. Untuk menghitung seberapa besar peningkatan hasil belajar setiap siswa di setiap siklus, rumus berikut: ycEycuycycycaycyceOeyaAycaycycycaycyce yaAycaycycycaycyce ycU 100% Sumber: Kamal et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sebagai guru di kelas mengajarkan materi jenis usaha masyarakat Indonesia dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble berbasis kurikulum 2013, dan observer yaitu Pak Pamuji Raharjo. Pd SD, selaku wali kelas V untuk mengawasi bagaimana pembelajaran berjalan. Berdasarkan pembelajaran, guru sudah memberikan bimbingan secara langsung, memberikan apresiasi kepada peserta didik, sehingga mereka akan memiliki rasa percaya diri ataupun pada saat bertanya. Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok selama proses pembelajaran. rasa percaya diri peserta didik mulai muncul saat mereka bertanya maupun mengutarakan pendapat. Selain itu, teman sejawat juga memiliki sikap menghargai bersama Pada pembelajaran sikap rajin juga mulai muncul yang ditandai dengan siswa mencatat terkait dengan konsep-konsep saat belajar. Data awal hasil belajar yang dijadikan pedoman penelitian yang diperoleh dari hasil nilai materi jenis usaha masyarakat Indonesia pada mata pelajaran IPS. Data awal siswa sebelum menggunakan model pembelajaran. Untuk melihat penilaian ketuntasan klasikal prasiklus dijabarkan pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Ketuntasan Klasikal Prasiklus Prasiklus KKM Frekuensi Persentase Keterangan Belum <70 Tuntas Ou70 Tuntas Rata-Rata Predikat Kurang Berdasarkan analisis hasil belajar IPS siswa prasiklus diperoleh jumlah Vol. No. Desember 2024 Zara Amelia1. Mustamiroh2 nilai siswa memiliki rata-rata 67 . Jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas ada 4 siswa . dan 15 siswa . Selanjutnya memaparkan terkait sebaran predikat nilai prasiklus dilihat pada tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Sebaran Predikat Nilai Prasiklus Interval Predikat Frekuensi Persentase Nilai Sangat 0,0% Baik Baik Cukup Kurang Sangat <67 Kurang Jumlah Berdasarkan tabel 3 diperoleh memperoleh predikat baik sebanyak 4 siswa . %), predikat cukup sebanyak 5 siswa . %), dan predikat kurang sebanyak 7 siswa . %). Sementara 3 siswa lainnya . %) mendapatkan predikat sangat kurang. Dari data menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa dengan predikat sangat baik. Selanjutnya dilanjutkan pada tahap siklus I. Pada tahap ini dilakukan beberapa langkah yaitu merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan Pada siklus I dilakukan sebanyak dua kali pertemuan dengan menerapkan langkah pembelajaran berupa kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pertemuan I Siklus I dilakukan pada 22 September 2023, sedangkan pertemuan II siklus I dilakukan pada 23 September 2023. Tabel 4 berikut menunjukkan hasil belajar siklus I. Vol. No. Desember 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 4. Hasil Belajar Siklus I Siklus I KKM Frekuensi Persentase Keterangan Belum <70 Tuntas Ou70 Tuntas Rata-Rata 74,47% Predikat Cukup Peningkatan 11,14 Hasil Belajar Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mencapai kriteria ketuntasan telah mengalami peningkatan selama siklus I. Namun, sebagian besar siswa tidak menghadiri pertemuan, dan ada variasi pada pertemuan kedua. Persentase sebesar 37% didapatkan oleh siswa yang tuntas. Berdasarkan penilaian yang dilakukan. Tabel 5 memperlihatkan sebaran predikat hasil belajar dari siklus I. Tabel 5. Distribusi Predikat Hasil Belajar pada Siklus I Interval Predikat Frekuensi Persentase Nilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat <67 Kurang Jumlah Tabel 5 mengungkapkan bahwa 11% siswa, atau sebanyak 2 siswa, "Sangat Baik". Sementara itu, 26% siswa termasuk dalam kategori "Baik" dan "Cukup", masing-masing dengan jumlah 5 siswa. Selanjutnya didapatkan persentase 37% . rekuensi 7 sisw. pada siswa yang termasuk dalam kategori AuKurangAy. Selanjutnya didapatkan persentase 0% . rekuensi 0 sisw. pada siswa yang termasuk dalam kategori AuSangat KurangAy. Pada siklus I diperoleh 74,47. Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 6 menyajikan hasil aktivitas guru pada siklus I. Tabel 6. Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I Tahap Penelitian Pertemuan Jumlah Skor Pertama Kedua Rata-Rata Skor Siklus I Berdasarkan Tabel 6 tersebut diketahui bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe scramble kemampuan guru pada pertemuan I mendapatkan nilai persentase 67% dengan jumlah skor 27 (Kuran. Sedangkan mendapatkan peningkatan persentase menjadi 70% dengan jumlah skor 28 (Bai. Pada hasil tersebut diketahui bahwa adanya skor yang memaparkan kategori kurang, sebab guru belum memiliki kemampuan dalam menguasai kelas serta memiliki dampak terhadap kurangnya rasa tanggung jawab peserta didik dalam mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan pendapat (Studi et al. , 2. sejauh mana proses pembelajaran berhasil ditentukan oleh seberapa baik guru menjalankannya. Lebih dikemukakan oleh (Ecosystem. Guru pembelajaran yang beragam untuk Persentase Vol. No. Desember 2024 Kurang Baik Kurang memperbaiki sistem pengajaran. Dengan demikian, mereka dapat membantu siswa belajar lebih efektif sekaligus menciptakan lingkungan kelas yang serius, menarik, dan mendukung. Gambar 2 menunjukkan diagram peningkatan aktivitas guru. Peningkatan Aktivitas Guru 68,75% 82,5% Siklus I Siklus II Gambar 2. Diagram Peningkatan Aktivitas Pengajar Tabel 7 berikut menunjukkan hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa pada siklus pertama. berdasarkan aspek Tabel 7. Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus I Siklus I Persentase No Aspek yang Diamati Rata-Rata (%) Persiapan 66,6% Pelaksanaan 64,9% Pengolahan Kelas 63,3% Suasana Kelas 64,9% Jumlah Skor Kelas 58,37% Berdasarkan hasil analisis aktivitas yang ditampilkan dalam Tabel 7, pertemuan I dan II pada siklus I memperoleh skor total 468. Rata-rata kelas tercatat sebesar 233,5, dengan persentase mencapai 58,37%, yang Kategori Kategori Kurang Kurang Kurang Kurang Sangat Kurang tergolong dalam kategori sangat kurang. Namun, perolehan dari skor tersebut belum menunjukkan kemaksimalan, sebab peserta didik tidak melaksanakan kegiatan diskusi bersama kelompok. Selain itu, siswa dalam memaparkan Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan sebuah kesimpulan tidak didasarkan dengan kegiatan diskusi yang dilakukan bersama dengan kelompok. Selanjutnya dilanjutkan pada tahap siklus II. Ada beberapa langkah yaitu merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan Siklus kedua terdiri dari dua pertemuan, setiap pertemuan mencakup kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pertemuan pertama dalam Siklus II dilaksanakan pada 29 September 2023, diikuti oleh pertemuan kedua yang berlangsung pada 2 Oktober Berikut adalah hasil belajar pada siklus II. Keberhasilan ini disebabkan oleh pelaksanaan model pembelajaran scramble yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan benar dan sesuai langkahlangkah yang dijelaskan di bagian teori. Hasilnya, dampak positifnya sangat terasa terhadap pencapaian belajar siswa (Oktavia et al. , 2. Pada tabel 8 berikut ini akan dijabarkan hasil belajar. Tabel 8. Hasil Belajar Siklus II Siklus I KKM Frekue-nsi Persentase Keterangan <70 Belum Tuntas Ou70 Tuntas Rata-Rata 84,21% Predikat Baik Peningkatan Hasil Belajar 25,37 Tabel 8 diketahui bahwa pada siklus II diketahui bahwa terdapat sejumlah peserta didik mendapati peningkatan terkait ketuntasan. Persentase siswa yang "belum tuntas" . adalah 16%, sedangkan persentase siswa yang tuntas adalah 84% . Hal ini sejalan dengan pandangan yang menyatakan ba hwa siswa sudah tidak mengalami kesulitan lagi saat memahami dan mengerjakan soal-soal, materi yang diajarkan sudah bisa dipahami, dan siswa sudah merasa senang dengan model pembelajaran yang digunakan (Sanuriah et , 2. Selanjutnya pada tabel 9 berikut ini memaparkan terkait sebaran hasil belajar. Tabel 9. Sebaran Hasil Belajar pada Siklus II Interval Nilai <67 Predikat Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Jumlah Pada Tabel didapatkan 21% . dan 42% . termasuk dalam kategori "Sangat Baik" dan AuBaikAy. Selanjutnya, diperoleh persentase sebesar 21% yang terdiri dari 4 peserta didik dalam Vol. No. Desember 2024 Frekuensi Persentase kategori "Cukup". Di samping itu, terdapat 16% atau 3 peserta didik yang masuk dalam kategori "Kurang". Terakhir didapatkan persentase 0% . peserta didi. pada kategori AuKurangAy. Hal tersebut dikarenakan beberapa siswa Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan masih belum sepenuhnya memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam kerja kelompok, hal ini disebabkan oleh ketidakbiasaan mereka dengan model pembelajaran yang diterapkan. Interaksi antar siswa juga belum optimal, terutama karena banyak di antara mereka yang belum terbiasa untuk mengemukakan pendapat kepada teman-teman. Terdapat pula siswa yang bersikap pasif, sehingga diskusi kelompok sering didominasi oleh siswa-siswa yang lebih pintar dan berkemampuan, membuat kontribusi dari yang lain menjadi terbatas. Berikut Tabel 10 memaparkan terkait dengan kegiatan observasi yang dilakukan oleh pendidik selama kegiatan pembelajaran. Tabel 10. Hasil Observasi Aktivitas Guru pada Siklus II Tahap Penelitian Pertemuan Pertama Kedua Rata-RataSkor SiklusII Tabel 10 di pertemuan I dan II diketahui peneliti pada penerapan Kooperatif Tipe Scramble mendapatkan predikat Baik dengan rerata 33 dengan persentase 82%. Perolehan skor pada pertemuan I serta II ialah 32 serta 34. Melalui penerapan siklus ini diketahui kelompok, guru sudah memberikan bimbingan secara langsung. Sejalan dengan pendapat yang mengemukakan bahwa guru telah mengumumkan pembentukan kelompok belajar dan penataan ruang kelas pada pertemuan Dengan demikian, ketika tiba saat pertemuan, para peserta didik sudah mengetahui posisi masingmasing, sehingga proses pembelajaran dilaksanakan dengan baik. Guru kemudian memberikan pengarahan mengenai tujuan dari model ini, agar tidak muncul kompetisi yang tidak sehat di antara peserta didik. Selain itu, guru Jumlah Skor Persentase Kategori Baik Baik Baik juga mengingatkan mereka untuk tetap mengganggu proses belajar di kelas Untuk menambah semangat, guru memberikan motivasi kepada peserta didik agar selalu bersemangat dalam belajar (Radyah Bintang et al. , 2. Kemudian, pendidik bisa mensharing apresiasi kepada peserta didik, sehingga mereka akan memiliki rasa percaya diri ataupun pada saat bertanya. Sejalan dengan pendapat (Waruwu & Tafonao, kebahagiaan dan semangat yang tinggi dalam proses belajar berkat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Metode ini memungkinkan mereka untuk terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Berikut ini, pada Tabel 11, disajikan hasil observasi kegiatan siswa pada Siklus II. Tabel 11. Hasil Observasi Kegiatan Siswa pada Siklus II Siklus II Persentase No Aspek yang Diamati Rata-Rata Kategori (%) Persiapan 56,7% Sangat Kurang Pelaksanaan 60,3% Kurang Pengolahan Kelas 56,7% Sangat Kurang Suasana Kelas 63,3% Kurang Jumlah Skor Kelas 64,62% Vol. No. Desember 2024 Zara Amelia1. Mustamiroh2 Kompetensi Universitas Balikpapan Pada Tabel 11 tersebut memaparkan terkait dengan siklus II dalam kegiatan pembelajaran, dimana pada pertemuan I serta II didapatkan nilai persentase rerata ialah 64,62% dengan jumlah skor 517. Perolehan tersebut memiliki kategori AuTinggiAy. Hasil observasi tersebut memaparkan bahwa peserta didik memiliki keaktifan dalam kegiatan diskusi bersama kelompok. Rasa percaya diri peserta didik mulai muncul saat mereka bertanya maupun mengutarakan Selain itu, teman sejawat juga memiliki sikap menghargai bersama Pada pembelajaran dikap rajin juga mulai muncul yang ditandai dengan siswa mencatat terkait dengan konsep-konsep saat belajar. Peningkatan aktivitas siswa dapat diamati pada Gambar 3 berikut ini. Peningkatan Aktivitas Siswa Siklus I Siklus II Gambar 3. Diagram Peningkatan Aktivitas Siswa Penelitian ini terdiri dari dua siklus, di mana setiap siklus melibatkan dua Pelaksanaan setiap siklus dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Sebelum memulai siklus I, peneliti melakukan tes prasiklus untuk mengetahui kondisi awal siswa. Nilai yang diperoleh dari tes prasiklus digunakan sebagai nilai dasar sebelum menerapkan model Kooperatif Tipe Scramble. Hasil dari prasiklus memaparkan bahwa didapatkan persentase 21% ketuntasan oleh 4 subyek penelitian, dan persentase 79% ketidaktuntasan oleh 15 subyek penelitian. tidak tuntas. Nilai rata-rata pada prasiklus ialah 67% pada kriteria kurang dan masih di bawah Vol. No. Desember 2024 standar KKM. Penyebab dari hasil belajar yang rendah kelas V SDN 006 Anggana dikarenakan siswa kurang memahami materi penggunaan model pembelajaran konvensional. Hal tersebut menimbulkan meningkatkan kepasifan peserta didik. Hal ini disebabkan oleh penerapan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional, seperti Sejalan dengan pendapat (Nurtikasari & Fahri, 2. rendahnya aktivitas belajar siswa dalam memahami materi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya daya tarik dalam metode pengajaran yang diterapkan oleh guru, serta minimnya antusiasme belajar pada siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar mereka yang belum mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Tujuan penerapan model kooperatif tipe Scramble adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengenai jenis usaha masyarakat Indonesia. Siswa akan mencari dan membangun pengetahuannya sendiri dengan cara berperan aktif di kelas V SDN 006 Anggana khususnya pada muatan IPS, karena siswa bukan hanya mendengarkan penjelasan guru akan tetapi ikut berperan aktif dengan melakukan pengamatan, percobaan, dan Pada siklus I serta II terkait dengan aktivitas guru adanya peningkatan menjadi 82% yang sebelumnya adalah Berdasarkan hasil tersebut, terlihat adanya peningkatan yang signifikan pada siklus II. Hal ini menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan siklus I, di mana masih ada beberapa aspek yang belum dilaksanakan dengan maksimal, khususnya dalam penumbuhan motivasi melalui pemberian pertanyaan berbasis Kemudian pada aspek pengamatan atau melaksanakan percobaan serta aspek memberikan penjelasan terkait tujuan pembelajaran. Hal tersebut senada dengan pendapat Kaharuddin . yang Zara Amelia1. Mustamiroh2 scramble memiliki tujuan dalam menciptakan keaktifan peserta didik melalui pembagian alternatif jawaban, lembar jawaban, dan soal kepada peserta Permainan anak-anak dapat di implementasikan pada metode scramble ini yang dilakukan pada pembentukan beberapa huruf ataupun kosakata yang Kegiatan dilakukan dikelas peserta didik, dapat khususnya peserta didik yang duduk di bagian belakang. Selain itu, keaktifan siswa dalam pembelajaran juga masih kurang dan tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan jawaban. Pada aktivitas kelompok, beberapa siswa tidak turun tangan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok. Beberapa siswa juga memiliki semangat yang kurang terhadap tugas yang diberikan. Selain itu, juga terdapat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran namun ditemukan juga peserta didik yang pasif pada saat presentasi, memiliki rasa malu dalam menjelaskan. Melalui hal tersebut diketahui hasil observasi aktivitas siswa siklus I memperoleh kategori cukup dengan skor 289,5 dengan persentase Hal tersebut senada dengan pendapat Burhanudin et al. yang menjelaskan untuk meningkatkan minat belajar, maka peran guru harus mampu menciptakan suatu pembelajaran yang menarik dan adanya domain siswa yang terlibat, seperti psikomotorik, afektif, dan kognitif. Dalam hal ini guru bisa mendesain pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Saran dalam menunjang perbaikan ialah sebagai seorang pendidik untuk mempersiapkan beberapa pertanyaan yang dapat meningkatkan minat siswa Selanjutnya, pendidik dapat Vol. No. Desember 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan pengerjaan LKPD dengan jelas dan baik. Saat siswa mengerjakan tugas yang tertera pada LKPD, guru dapat bimbingan dalam aktivitas diskusi. Peran guru tidak mendominasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Kemudian sifat tegas harus dimiliki oleh guru pada saat mengondisikan situasi Akhirnya, sebagai seorang pendidik, guru memiliki peran penting dalam memberikan arahan kepada peserta didik agar mereka lebih teliti dalam menyelesaikan soal-soal yang dihadapi. Sejalan dengan pendapat (Sartika et al. penerapan model pembelajaran scramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa di dalam kelas. Dengan metode ini, guru dapat mengorganisir siswa ke dalam kelompok dan mengawasi proses pembelajaran yang berlangsung. Setelah guru memperbaiki aktivitas tersebut memiliki dapat terhadap peningkatan hasil belajar yaitu 74,47% dari siklus I. Pada siklus II tersebut diketahui bahwa siswa mencapai ketuntasan belajar sebanyak 16 peserta didik atau sekitar 84%. Hasil belajar di siklus II memaparkan bahwa peserta didik sudah mencapai ketuntasan belajar yang indikator keberhasilan yaitu dengan nilai persentase 70%. Aktivitas peserta didik serta guru juga mengalami peningkatan. Terkait pada siklus I di aktivitas guru didapatkan persentase 67,5% dengan skor 27 serta mendapatkan kurang. Meningkat dengan perolehan persentase 70% pada pertemuan kedua, dengan skor 28 atau predikat yang cukup. Pada pertemuan pertama dalam siklus I, aktivitas guru mencatat nilai 32 . %), yang dinyatakan dengan predikat "Baik". Pada peningkatan yang signifikan, dengan nilai mencapai 34 . %). Pada pertemuan pertama siklus I, aktivitas siswa mencatat skor 286 . %), yang menunjukkan predikat "Cukup". Zara Amelia1. Mustamiroh2 Namun, skor ini mengalami peningkatan pada pertemuan kedua, yaitu mencapai 293 . %), sekaligus mempertahankan predikat "Cukup". Kemudian didapatkan rerata skor aktivitas siswa pada siklus I pertemuan I ialah 311 . %) atau mendapatkan kategori AuCukupAy. Pertemuan II didapatkan skor 327 . %) atau berkategori AuBaikAy. Melalui perolehan persentase tersebut sudah >70% sehingga keberhasilan dapat dinyatakan di siklus II. Hasil penelitian senada dengan Damayanti . yang memaparkan dalam meningkatkan hasil belajar dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe scramble. Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan terdapat nilai rata-rata awal ialah 60,14% atau kategori kurang. Selanjutnya, pada siklus I, rata-rata yang diperoleh adalah 71,67%, sementara pada siklus II, hasilnya meningkat menjadi 88,89%. Lebih lanjut hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Choerifki . memaparkan aktivitas siswa dalam belajar di siklus I ialah 75,29% atau kategori cukup serta di siklus II ialah 83,23% atau kategori baik. Persentase ketuntasan klasikal pembelajaran PKN mengalami peningkatan. KESIMPULAN Peningkatan hasil belajar saat prasiklus didapatkan rata-rata nilai 67 . %) . angat kuran. dimana 4 siswa tuntas dan pada saat peneliti pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble, pada siklus I, terjadi peningkatan sebesar 11,14% dengan nilai rata-rata mencapai 74,47. Persentase ketuntasan siswa mencapai 37%, yang tergolong cukup, di mana 7 siswa dinyatakan tuntas. Sementara itu, pada siklus II, terjadi peningkatan yang lebih signifikan, yaitu sebesar 25,37%, dengan nilai rata-rata 84 dan persentase ketuntasan mencapai 84% di mana 16 siswa berhasil tuntas Vol. No. Desember 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan dengan predikat yang baik. Melalui perolehan persentase tersebut sudah >70% sehingga keberhasilan dapat dinyatakan di siklus II. Pada penelitian ini disarankan kepada peserta didik untuk memahami dan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar dengan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Bagi guru, diharapkan dengan telah dilaksanakan penelitian ini agar dapat lebih banyak menerapkan model pembelajaran serta terdorong untuk menemukan model yang sesuai, guru diharapkan dapat memberikan upaya tindak lanjut kepada kelima siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. DAFTAR PUSTAKA