Jurnal AgroPet Vol. 14 Nomor 2 Desember 2017 ISSN: 1693-9158 PENGARUH POPULASI NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L. ) DI LAPANGAN Oleh: Abd. Rahim Saleh dan Kamelia Dwi Jayanti. RINGKASAN Persoalan serius yang dihadapi dalam pengembangan produksi biji kakao di tingkat petani adalah pohon kakao yang telah menua dan rusak akibat serangan hama Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan rehabilitasi dengan penanaman kembali tanaman kakao yang baru. Namun ancaman kekeringan terutama pada musim kemarau yang menyebabkan terjadinya cekaman kekeringan yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bibit tanaman kakao yang baru pindah tanam . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh kerapan pohon naungan terhadap pertumbuhan awal bibit kakao di lapangan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat taraf penaungan yaitu (N. tanpa naungan. (N. Satu pohon naungan untuk empat tanaman kakao. (N. Dua pohon naungan untuk empat tanaman kakao. (N. Empat pohon naungan untuk empat tanaman kakao. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 12 unit perlakuan. Pengamatan meliputi variabel lingkungan dan variabel pertumbuhan tanaman kakao. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan kerapatan naungan tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman kakao setelah replanting. Hal tersebut diduga akibat intensitas curah hujan yang tinggi selama penelitian yang menyebabkan iklim mikro dibawah kanopi pohon naungan maupun tanpa kakao yang ternaungi tidak berbeda nyata. Kata Kunci: Tanaman kakao, kerapatan naungan dan pertumbuhan PENDAHULUAN Tanaman kokao (Theobroma cocao L. ), salah satu tanaman tahunan yang bernilai ekonomi di dunia, terutama digunakan sebagai bahan baku produksi coklat, menurut data dari International Cocoa Organization (ICCO), produksi kakao tahunan secara global pada tahun 2016 sebesar 3,971 juta ton, sementara kebutuhan biji kakoa dunia sebesar 4,1 juta ton pada tahun 2016, sehingga menyebabkan defisit 197 ribu ton dari permintaan (ICCO, diperkirakan akan meningkat dari 4,1 juta pada tahun 2016 menjadi 4,7 juta ton pada tahun 2020 (ICCO. Sekitar 95% produksi kakao dunia berasal dari perkebunan yang dikelolah petani kecil. Budidaya tanaman kakao merupakan sumber pendapatan utama dari 1,6 juta keluarga petani di Indonesia. Sulawesi Tengah, tanaman kakao 697 keluarga petani dengan luas tanam tahun 2015 diperkirakan seluas 282. 081 ha tersebar dihampir seluruh kabupaten kota termasuk di Kabupaten Poso. Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,Fakultas Pertanian. UniversitasSintuwu Maroso dimana terdapat 40. 529 ha dengan 254 ha tanaman belum menghasilkan (TBM), 23. 279 ha tanaman menghasilkan (TM) dan 996 tanaman tidak menghasilkan (TTM) (BPS, 2. Luas TTM tersebut terdiri dari pohon kakao tua yang sudah menua dan terserang hama penyakit berat. Hama yang menyerang tanaman kakao adalah hama penggerek buah kakao yang merupakan hama utama di perkebunan. Hama penyakit lain adalah helopeltis, busuk buah, kangker batang dan VSD. TTM masih dapat direhabilitasi dengan sistim sambung samping atau diremajakan menggunakan bibit baru dari klon unggul. Kendala replanting tanaman kakao adalah menyebabkan terjadinya perubahan iklim seperti musim kering yang panjang yang berasosiasi dengn ElNino Southern Oscillation (ENSO), dimana menurut para ahli klimatologi memperkirakan dampak ENSO akan sering terjadi dimasa yang akan (Abdulai. Kejadian tersebut diikuti dengan tingkat penyinaran matahari dan mengakibatkan persediaan air tanah berada dalam cekaman kekeringan dilahan perkebunan terlebih lahan tersebut tidak mendapatkan sistem Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan produksi per-tanian dan perkebunan di seluruh dunia. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan biasanya menunjukkan penurunan pertumbu-han dan perkembangan tanaman, menurunnya potensi air daun dan turgor (Tahi dkk. , 2. dan menurunkan laju transpirasi (Ozenc, 2. Banyak fungsi sel tanaman seperti sintesis protein, metabolisme nitrogen dan fungsi membran sel terganggu dalam (Saneoka Salah satu cara mempertahankan kadar air tanah ideal tersedia yang mendukung pertumbuhan tanaman kakao adalah dengan melakukan penanaman pohon yang berfungsi sebagai naungan bagi tanaman kakao. Naungan diharapkan menekan laju transpirasi pada tanaman, sehingga persediaan air tanah cukup tersedia dalam tanah. Teknik budidaya kakao dengan sedikit atau tanpa naungan berpengaruh terhadap persediaan air tanah terutama di areal yang berbukit yang dapat menyebabkan terhadap tanaman kakao. Kendala yang dialami saat ini adalah berkurangnya volume pohon naungan di lahan perkebunan kakao disebabkan oleh sejumlah faktor di sengaja menebang pohon yang berfungsi sebagai naungan untuk menghindari risiko kerusakan yang tidak mendapatkan kompensasi seperti pohon tumbang yang dapat tanaman utama kakao. Selain itu, rekomendasi penyuluhan masa lalu penggunaan sedikit pohon naungan meningkatkan hasil, terutama klon kakao hibrida yang baru. Introduksi membutuhkan sedikit naungan dan produksi yang tinggi menyebabkan pergeseran teknik budidaya kakao dengan menggunakan sedikit atau tanpa naungan. Meskipun dengan praktek budidaya yang demikian membutuhkan input yang tinggi berupa penggunaan insektisida dan pupuk yang banyak. Menurut Okali dan Owusu, . , pertumbuhan bibit kakao terhambat dalam kondisi penyinaran penuh tanpa adanya naungan sedangkan pemberian naungan pembentukan daun. Lambatnya penyinaran matahari penuh menjadi kendala dalam perkembagan daun, mungkin disebabkan oleh transpirasi yang berlebihan yang menyebabkan kekeringan pada daun (Okali dan Owusu, 1. Sebaliknya, pada daun yang ternaungi menunjukkan kandungan air daun relatif tinggi dan stomata lebih sedikit per satuan luas daun dibanding daun tanaman kakao yang tidak ternaungi. Dengan demikian, pohon pelindung yang berfungsi sebagai naungan selalu dianjurkan untuk perkembangan bibit naungan tersebut dapat dihilangkan secara bertahap seiring dengan meningkatkan naungan tersebut dan perkembangan tanaman yang diberi Kondisi di lapangan saat ini, lahan perkebunan kakao yang sudah peremajaan kembali. Lahan kakao tersebut tidak hanya ditumbuhi tanaman kakao, tetapi juga tanaman lain seperti tanaman gamal, pisang, mangga, durian dan lain-lain. Pohonpohon tersebut dapat dimanfaatan sebagai pohon naungan saat melakukan replanting. Kerapatan pohon naungan yang berbeda kemungkinan mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao yang baru ditanam, sebagai respon dari kondisi Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh kerapan populasi pohon naungan terhadap pertumbuhan awal bibit kakao setelah replanting. METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Desa Lape. Kecamatan Poso Pesisir. Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah. Dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Juli Metode Penelitian Penelitian Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan dan tiga kali Perlakuan terdiri dari : N0 = Tanpa naungan. N1 = Satu pohon naungan setiap N2 = Dua pohon naungan setiap N3 = Empat Pohon naungan setiap empat pohon kakao Setiap taraf perlakuan terdiri dari 4 tanaman dan diulang sebanyak tiga Variabel pengamatan yang diamati terdiri dari parameter lingkungan, yaitu: curah hujan, lama penyinaran, kadar lengas tanah, tanaman yang diamati yaitu: tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah Data dianalisis dengan Anova . ji F) dan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5% bila Persiapan lahan Lahan penelitian merupakan lahan kebun kakao yang telah berumur tua. Penanaman kakao dilakukan diselah-selah tanaman kakao tua dan tanaman lain nonkakao. Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan menggali lubang tanam berukuran 40 x 40 x 40 cm, setelah itu lubang tanam diberi pupuk kandang. Penanaman Bahan tanam bibit kakao diperoleh dari produsen bibit kakao di Desa Lape yang telah beruumur 12 bulan. Penanaman pohon kakao dilakukan pada lubang tanam yang telah disiapkan sebelum tanam. Penanaman bibit kakao dilakukan bagian perkaran bibit tanaman kakao sampai batas 5 cm di atas pangkal batang. Pengaturan Satu penanaman, dilakukan pengaturan populasi tanaman naungan, dengan cara menebang pohon naungan yang berlebih dan mempertahankan sebagian pohon sehingga jumlah pohon naungan yang tersisah sesuai dengan perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAAN Lokasi penelitian merupakan wilayah pengembangan perkebunan Poso. Ketinggian tempat <100m dari permukaan laut dengan curah hujan selama penelitian sebesar 506 mm dengan hari hujan sebanyak 45 hari . i catat dari stasiun metereologi Kasigunc. Hujan yang terjadi selama penelitian berlangsung dapat mempengaruhi kandungan lengas tanah dan suhu tanah yang berpengaruh langsung maupun tidak pertumbuhan tanaman kakao. Hasil menunjukan bahwa persentase kadar air tanah tertinggi pada perlakuan populasi naungan yang padat (N. , dan cenderung menurun populasi pohon naungan (Gambar Hal sebaliknya terjadi pada variabel pengamatan suhu tanah, dimana suhu akar tertinggi pada tanaman kakao yang tidak ternaungi (N. dan cenderung menurun seiring dengan bertambahnya populasi naungan (Gambar . Keberadaan kelembaban tanah tetap tinggi dan suhu tanah menjadi rendah pada tanaman yang tumbuh di bawah naungan yang rapat. % Kadar air tanah N1 Kerapatan Naungan N2 Temperatur Tanah . C) Gambar 1. Pengaruh kerapatan naungan terhadap % kadar air tanah Kerapatan Naungan Gambar 2. Pengaruh Kerapatan Naungan Terhadap Suhu Tanah Sifat kimia tanah terutama pH masing-maing perlakuan berkisar antara 6,47 Ae 6,82, kandungan Corganik tanah berada pada kategori tinggi yaitu berada pada kisaran 3,50 Ae 4,96%, kandungan N-total berkisar antara 0,22 Ae 0,29%, kadar hara N tersebut berada pada tingkat kecukupan sedang untuk tanaman berumur muda. Berdasarkan sifatsifat kimia tanah tersebut maka dapat dikategorikan bahwa tingkat kesuburan tanah yang cukup untuk pertumbuhan awal tanaman kakao. Sobari, dkk . menyatakan bahwa sifat kimia dari tanah bagian atas . op soi. merupakan hal yang paling penting karena akar-akar akan menyerap hara. Kemasaman tanah . H) optimum 5. 6 - 6. 8, kakao tidak tahan terhadap kejenuhan Al tinggi, kejenuhan basa minimum 20 persen dan kandungan bahan organik > 3 %. Tinggi Tanaman Hasil analisis sidik ragam kerapatan nungan tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman pada umur 28 HSP, 56 HSP dan 84 HSP. Rata-rata tinggi tanaman kakao disajikan pada 28 HSP Naungan 0 56 HSP Naungan 1 84 HSP Naungan 2 Naungan 3 Gambar 3. Grafik tinggi tanaman kakao pada berbagai populasi naungan yang berbeda Hasil analisis sidik ragam kerapatan nungan tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman kakao pada umur pengamatan 28, 56 dn 84 HSP. Rata-rata tanaman kakao disajikan pada 28 HSP Naungan 0 56 HSP Naungan 1 Naungan 2 84 HSP Naungan 3 Gambar 4. Grafik jumlah daun tanaman kakao pada berbagai populasi naungan yang berbeda Hasil analisis sidik ragam parameter jumlah cabang tanaman perlakuan kerapatan nungan tidak tanaman pengamatan 84 HSP (Gambar . Jumlah Cabang 85 (HSP) Naungan 0 Naungan 1 Naungan 2 Naungan 3 Gambar 5. Grafik jumlah cabang tanaman kakao pada berbagai populasi naungan yang berbeda Gambar 5 menunjukkan bahwa tanaman kakao yang tubuh menghasilkan jumlah cabang yang tanaman yang tumbuh dibawah Pembahasan Budidaya tanaman diarahkan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman guna mendapatkan hasil yang optimal. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang berjalan secara terus menerus dan merupakan proses penting dalam kehidupan tanaman. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tanaman memiliki peranan yang Selain pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga dipengaruhi oleh unsur hara, air, cahaya matahari dan faktor lingkungan (Gregory, 1. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara dalam tanah, bila unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersedia dalam jumlah yang cukup, tanaman akan dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang baik pula. Kerapatan naungan tidak pertumbuhan tanaman kakao yang tanaman, jumlah daun dan jumlah tunas cabang yang terbentuk. Hal ini berbeda dengan dengan Okali dan Owusu . menyatakan bahwa derajat memacu pembentukan daun, sedangan pertumbuhan bibit kakao mengalami perlambatan di bawah sinar matahari penuh menjadi kendala dalam perkembagan daun. Tidak adanya pengaruh yang pertumbuhan tersebut kemungkinan akibat dari pengaruh iklim mikro disekitar tanaman selama priode Intensitas curah hujan selama penelitian terjadi secara intensif . ata tidak ditunjukka. , menyebaban sinar matahari yang diterima di daun cukup optimum umtuk proses fotosintesis berkurang. Keadaan menyebabkan kadar lengas tanah yang diukur dibawah pohon naungan hampir beragam dan cukup tersedia (Gambar . Menurut Cunningham dan Burridge . bahwa air dan hara merupakan faktor yang paling pertumbuhan pada paparan sinar matahari penuh. Hasil pertumbuhan tanaman pada penelitian ini juga didukung oleh ketersediaan hara yang cukup. Menurut Costa, dkk. ketebalan daun meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas cahaya yang didukung konsentrasi nitrogen di daun yang cukup. Kondisi penyinaran yang sedang karena seringnya tertutup oleh awan akibat terjadi hujan ditumbuhkan di bawah naungan menghimpun asimilasi yang sama. Obatolu . melaporkan bahwa tingkat asimilasi kopi arabika ditemukan lebih besar dalam kondisi intensitas cahaya sedang dan tingkat asimilasi total harian lebih besar di bawah naungan daripada di bawah sinar matahari. Perlakuan tanpa naungan memiliki kandungan air yang hampir sama dengan perlakuan naungan. Ini berarti bahwa keduanya tidak terjadi cekaman kekeringan, hal ini sesuai dengan penelitian Olatunde, , . bahwa tanaman yang terbebas dari cekaman kekeringan mendorong pertumbuhan tanaman tersebut tidak terhambat. Tidak adanya perbedaan pertumbuhan antara tanaman yang tumbuh tanpa naungan dengan tanaman yang tumbuh dibawah naungan disebabkan oleh kebutuhan air dan hara yang terpenuhi pada masing-masing perlakuan disebabkan oleh kondisi cuaca yang sering turun hujan mengurangi transpirasi berlebihan pada tanaman kakao, seperti yang dilaporkan Okali dan Owusu, . bahwa pertumbuhan bibit kakao mengalami perlambatan di bawah sinar matahari penuh transpirasi yang berlebihan sampai akhirnya menyebabkan cekaman air pada daun. Kesimpulan Hasil penelitian disimpulkan bahwa pengaruh naungan tidak pertumbuhan awal tanaman kakao, bahkan tidak berbeda dengan tanaman yang tumbuh dibawah penyinaran matahari penuh atau tanpa naungan. Hal tersebut diduga akibat intensitas curah hujan yang tinggi selama penelitian yang menyebabkan iklim mikro dibawah kanopi pohon naungan maupun tanpa kakao yang ternaungi tidak berbeda nyata. Saran Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan, terutama pada musim kemarau. Ucapan terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset Pengembangan Kementerian Ristek. Teknologi dan Pendidikan Tinggi atas pembiayaan penelitian ini. Daftar Pustaka