PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Relasi Akal dan Wahyu Era Modern (Analisis Teologis Pemikiran Ibnu Taymiyya. Sindi Lestari 1. Ismail 2 Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu didilestari27@gmail. com, ismail@mail. Abstract: The results of this study are. Ibn Taymiyyah adheres to tauhid uluhiyah because rububiyyah has included it. Ibn Taimiyah divided the concept of Tauhid into three parts. Tauhid Asma' Wa-asshifat. Tauhid Uluhiyyah and Tauhid Rububiyah. Ibn Taimiyyah prioritized revelation over reason, revelation was considered higher than reason but did not leave reason behind, he equated reason and revelation by viewing the position of reason as "gharizah". Ibn Taimiyah's thoughts on the relationship between reason and revelation, namely by concluding that revelation is higher than philosophy and then also trying to reconcile reason and revelation by relating reason and revelation in interpretation in order to understand the sharia by returning to the concept of its suitability because it involves reason. according to him reason and revelation are in harmony. Real revelation and a straight intellectual perspective are always in line. Ibn Taymiyyah formulated the concept of conformity to overcome the conflict between reason and revelation. Theological analysis of Mrs. Taymiyyah's thoughts on the relationship between reason and revelation that has an impact on the modern era with its advantages and disadvantages, namely there are 5 components, first, revelation is prioritized over reason, second, reason may be equal to revelation, third, the conflict between reason and revelation by prioritizing reason, fourth. Ibn Taymiyyah's method of interpretation and fifth. Ibn Taymiyyah's concept of fitrah. Ibn Taymiyyah's thoughts contributed to the progress of the modern era in several fields, first. Ibn Taymiyyah is used in a number of modern disciplines, second. Ibn Taymiyyah's modern Tafsir Al-Quran, third. Islamic Law is influenced by Ibn Taymiyyah, fourth. The impact of modern politics from Ibn Taymiyyah, fifth. Ibn Taymiyyah's Contribution to the modern economy, sixth. Ibn Taymiyyah's Influence on modern thought. Keywords: The Relationship between Reason and Revelation in the Modern Era. Abstrak: Hasil penelitian ini adalah. Ibnu Taymiyyah menganut tauhid uluhiyah. Ibnu Taimiyah membagi pengertian Tauhid menjadi tiga bagian. Tauhid Asma' Wa-asshifat. Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyah. Ibnu Taimiyyah memprioritaskan wahyu dari pada akal, wahyu dianggap lebih tinggi dari akal namun tidak menerbelakangi akal, beliau menyama ratakan akal dan wahyu dengan memandang posisi akal sebagai AugharizahAy. Pemikiran Ibnu Taimiyah pada relasi akal dan wahyu yaitu dengan model menyimpulkan bahwa wahyu lebih tinggi dari filsafat kemudian juga berupaya mendamaikan akal dan wahyu dengan merelasikan akal dan wahyu dalam takwil guna memahami syariat dengan kembali pada konsep kesuaiannya karena melibatkan akal menurutnya akal dan wahyu adalah Ibnu Taimiyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan wahyu. Analisis teologis pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasi akal dan wahyu yang berdampak pada era modern dengan kelebihan dan kekurangannya yaitu ada 5 komponen, pertama, wahyu lebih diprioritaskan dari pada akal, kedua, akal boleh setara dengan wahyu, ketiga, konflik relasi akal dan wahyu dengan mendahulukan akal, keempat, metode penafsiran Ibnu Taymiyyah dan yang kelima, konsep fitrah Ibnu Taymiyyah. Pemikiran Ibnu Taimiyah berkontribusi dalam kemajuan era modern dalam beberapa bidang, pertama. Ibnu Taimiyah digunakan dalam sejumlah disiplin ilmu modern, kedua. Tafsir Al-Quran modern Ibnu Taimiyyah, ketiga. Hukum Islam dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah, keempat. Dampak politik modern dari Ibnu Taimiyah, kelima. Kontribusi Ibnu Taimiyah terhadap perekonomian modern, keenam. Pengaruh Ibnu Taimiyyah terhadap pemikiran modern. Kata kunci : Relasi Akal dan Wahyu Era Modern. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Kaitan antara wahyu dan akal selalu mutakallimun dan filosof sepanjang sejarah pemikiran Islam. Akal diutamakan di atas wahyu dalam pandangan Ibnu Taimiyyah yang menolak akal sebagai landasan wahyu dan tolak ukur untuk menilai kesahihan Penjelasannya, wahyu ada karena diberikan oleh nabi, bukan karena akal. Meskipun akal dapat digunakan untuk menentukan kebenaran wahyu, namun akal saja tidak cukup untuk membuktikan . Karena kemampuan suatu benda untuk dipahami atau diketahui dengan akal bukanlah sesuatu yang khas dari suatu benda, maka legitimasi wahyu tidak mungkin bertumpu pada pengetahuan yang diperoleh dengan Kita tidak bisa menjadikan seluruh pengetahuan akal sebagai landasan wahyu kebenaran wahyu tidak diketahui atau tidak dapat dibuktikan dengan akal, padahal wahyu tersebut masih mempunyai sifat-sifat Menurutnya, keabsahan Nabi menjadi landasan keabsahan wahyu. Mendahulukan akal bisa berujung pada kesesatan dan kekafiran karena berarti menempatkan pandangan para filosof, mutakallim, atau sufi di atas ajaran Nabi. Warisan kebebasan intelektual dan pemisahan ulama dari politik merupakan titik balik dan penting bagi perkembangan filsafat dan peradaban Islam. Ulama menurut Ibnu Khaldun adalah orang yang mampu menganalisis dan menguraikan makna-makna subliminal yang terdapat dalam kitab agama maupun masyarakat. Masyarakat di seluruh dunia dapat merasakan pencerahan yang dibawa oleh filsafat dan peradaban Islam, yang telah menunjukkan munculnya peradaban yang sungguh mulia. Pemikiran para akademisi Muslim sangat berpengaruh bahkan menjadi landasan bagi gerakan pemikiran Islam kontemporer, terlihat dari buku-buku yang mereka hasilkan, banyak di antaranya yang masih digunakan hingga saat ini. Manusia memikirkan keajaiban alam semesta melalui wahyu dan akal budi, yang membantu manusia menjadi percaya akan kehadiran Tuhan. Manusia juga mampu menganalisa dan membedakan amal shaleh dan shaleh, sesuai wahyu dan akal. Selain itu, wahyu dapat memberikan wawasan mengenai berbagai topik yang berada di luar jangkauan akal, khususnya yang berkaitan dengan ibadah murni dan metafisika. Walaupun akal budi terbatas, namun sangat mungkin untuk mempertemukan akal dan wahyu karena keduanya berupaya untuk Tuhan menghasilkan orang-orang yang bermoral Penolakan didasarkan pada pandangan Ibn al-Shalah . Ae643 H) dan Ibnu Taimiyah . Ae. , yang berpendapat bahwa Al-Qur'an dan Sunnah adalah satu-satunya sumber kebenaran dan karenanya meniadakan segala hal. gagasan lain, termasuk filsafat. Filsafat dan agama diyakini merupakan dua proses berbeda yang mengarah pada Filsafat Yunani lah, bukan filsafat pada umumnya, yang ditolak oleh Ibn al-Shalah sendiri. Namun Ibnu Taimiyah diterimanya ide-ide intelektual asalkan sejalan dengan doktrin agama. Refleksi, konsep . , sentimen, dan pengalaman hidup yang sudah ada sebelumnya, serta kemampuan teknis, disusun lapis demi lapis sepanjang proses menyenangkan, dan meresahkan. bukanlah sesuatu yang dilakukan pikiran secara instan, santai, atau sembarangan. Kritik brilian Ibnu Taimiyah terhadap pendekatan ta'wyl yang menyatakan bahwa ajaran agama lebih unggul dibandingkan gagasannya begitu dahsyat. Ia menyarankan untuk mengadopsi pesan-pesan dari PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 tulisan-tulisan mempercayai makna lahiriah apa pun yang tersirat di dalamnya. Ibnu Taimiyah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dua tokoh di dunia Islam: Muhammad Ibn Abd al-Wahhab dan Ibn alQayyim al-Jawziyyah. Pemikiran Ibnu Taimiyah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap berdirinya seluruh gerakan Islam yang dikenal dengan gerakan Salafiyyah. Bagi pembaruan Islam kontemporer, baik liberal maupun fundamentalis. Nurcholis Madjid mengklaim bahwa gagasan Ibnu Taimiyah telah menjadi kanonik. Lahir pada hari Senin tanggal 10 Rabi'ul Awal 661 H, bertepatan dengan tanggal 22 Januari 1263 M, di kota Harran, adalah orang yang dikenal dengan nama Ibnu Taymiyyah, atau Taqiyuddin Ibnu Taymiyyah. Selain berasal dari keluarga Suriah yang menganut mazhab Hambali dan menganut paham Puritan. Ibnu Taimiyah lahir dari keluarga ilmuwan dan akademisi ternama. Karena ia dibesarkan dalam keluarga terpelajar. Ibnu Taimiyah tentu saja memiliki rasa ingin tahu yang tak terpuaskan dan tidak pernah puas hanya dengan satu informasi saja. Ia mulai mempelajari Islam sejak usia dini, dan meskipun ia masih sangat muda, ia mampu menghafal Al-Quran karena kecemerlangan dan kecerdasan Ibnu Taimiyah. Selain penguasaannya terhadap Alquran. Hadits, dan bahasa Arab. Ibnu Taimiyah juga mempelajari berbagai mata pelajaran lain yang populer saat itu, antara lain ekonomi, matematika, sejarah budaya, sastra Arab. Mantiq, dan filsafat. Selain berpartisipasi dalam dewan ulama yang cukup besar di Damaskus. Ibnu Taimiyah menerima bimbingan dari sekitar dua ratus instruktur dan otodidak. Ibnu Taimiyah adalah seorang pemikir brilian dan analitis yang menarik banyak pengikut. Meskipun demikian, banyak tulisannya yang terkenal tentang berbagai topik menunjukkan karir menulisnya yang aktif. Menanggapi periode modern di mana perselisihan dan konflik umat Islam mengenai penafsiran Al-Quran adalah hal biasa, atau ketika beberapa faksi menolak mendukung keputusan teologis yang mendapat dukungan tidak hanya dari AlQuran dan Hadits tetapi juga dari akal. Para peneliti kini terdorong untuk mempelajari lebih lanjut tentang individu-individu yang menganut sudut pandang ini. Salah satu orang tersebut adalah Ibnu Taimiyah, seorang penulis terkemuka yang memiliki sejarah panjang dalam membela hukum Islam. Dengan rasa keyakinan yang kuat, menjunjung tinggi apa yang baik dan mengutuk apa yang salah. Keterkaitan antara wahyu dan gagasan tauhid, serta keyakinan kalam mengenai hal tersebut, dianggap cukup signifikan oleh para sarjana sehingga memerlukan diskusi dan analisis guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gagasan dua individu yang sangat penting ini. Tujuan penelitian yang menyimpang dari pemikiran tokoh Ibnu Taymiyyah ini adalah untuk menyeimbangkan informasi atau pengetahuan tentang keyakinan Ibnu Taimiyah dalam bidang teologi atau kalam, baik dalam keilmuan salaf dan tasawuf serta semua disiplin ilmu lain yang berhubungan Tujuannya, menurut tokoh Ibnu Taimiyyah yang menekankan wahyu di atas menciptakan Islam yang murni dan kembali pada metode yang digunakannya, yaitu metode para Nabi dalam menafsirkan makna lahirnya Al-Qur'an dengan apa yang tersirat tanpa menimbulkan keraguan dan kembali mendasarkan pada dalil-dalil dan ayat-ayat Al-Qur'an. Fokus penulis adalah pada ciri-ciri penerapan teologis modern, yang mencakup beberapa polemik, khususnya mengenai hubungan antara wahyu dan akal. Meskipun gagasan modern lebih terfokus pada jawaban-jawaban logis atau normatif, dan sunah merupakan ciri khas teologi Islam PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 kontemporer, namun seluruh kebenaran dalam teologi Islam, seperti yang kita ketahui, berasal dari dan berlandaskan Para penulis mengklaim bahwa untuk mengatasi permasalahan hubungan antara wahyu dan akal di era modern dengan tepat, penting untuk menyelaraskan diri dengan Ibnu Taimiyah, seorang tokoh Islam yang dikenal sebagai kritikus dan pembuat perubahan yang hebat. Dengan meralat tradisi kalam mutakalimin yang praktis tercampur dengan tradisi mantiq Yunani atau filsafat Aristoteles yang melepaskan diri dari AlQur'an dan hadis. Ibnu Taymiyyah menjadi agen perubahan. Penulis memilih istilah ini karena penelitian ini penting untuk disajikan dan dijelaskan secara rinci. Ibnu Taymiyyah adalah seorang pemikir Islam yang terkenal dengan banyak kelebihan dan kary akaryanya yang terkenal. Secara khusus, reputasi Ibnu Taimiyah sebagai kritikus yang dapat dipercaya dan salah satu pemikir terbesar yang membawa perubahan pada masanya menggugah minat para peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang dirinya. Inilah sebabnya mengapa peneliti memilih judul ini: peneliti sangat tertarik dengan pemikiran kalam dan penerapannya. Selain itu, pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyyah masyarakat masa kini, yang hanya merupakan salah satu dari sekian banyak pengambaran tokoh yang menggugah minat para akademisi dan mengarahkan mereka untuk mengkaji kedua individu tersebut. Rumusan Masalah Bagaimana Relasi Akal dan Wahyu Era Modern (Analisis Teologis Pemikiran Ibnu Taymiyya. ? Tujuan Penelitian Untuk mendeskripsikan Relasi Akal dan Wahyu Era Modern (Analisis Teologis Pemikiran Ibnu Taymiyya. Metode Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui penelitian . ibrary stud. , yang meliputi membaca, menganalisis, berdebat, dan mengumpulkan literatur baik terkini maupun sejarah. Analisis isi deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk mengkaji isi objek dengan menggunakan sumber-sumber terkait. Menganalisis teori Ibnu Taimiyah. Artikel tentang Ibnu Taimiyah merupakan contoh sumber Data yang valid digali dengan Untuk menganalisis dan mengevaluasi data, temuan yang relevan dipilih, dibandingkan, digabungkan, dan Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, yaitu metode untuk menarik kesimpulan yang akurat dari suatu data berdasarkan Setelah pengumpulan semua data, penulis akan menganalisis informasi untuk mencapai suatu kesimpulan. Di sini, peneliti menggunakan strategi membaca, pengumpulan data, dan pengumpulan inventaris sebelum melakukan analisis teks untuk mendapatkan temuan yang akurat dan tepat. Untuk mengidentifikasi titik persamaan dan perbedaan antara pemikiran kalam tradisional kedua orang tersebut dapat ditarik dengan cara ini. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Pendekatan filosofis melibatkan pemeriksaan suatu masalah dari sudut pandang filosofis dan upaya memberikan solusi melalui teknik analisis Dengan mengadopsi perspektif filosofis ini, seseorang dapat lepas dari perangkap pengalaman keagamaan yang formalistik, yang mana melakukan aktivitas keagamaan menghasilkan kehidupan yang sia-sia dan tidak bermakna. Satu-satunya keuntungan yang diperoleh seseorang dari formalAimereka PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 menunaikan ibadah haji atau memenuhi persyaratan Islam, misalnya. lima dan berakhir di sana. Prinsip-prinsip spiritual yang dipegangnya tidak dapat mereka Pembahasan Pemikiran ibnu taymiyyah tentang wahyu dan akal Konsep Tauhid Ibnu Taimiyah Ibnu Taimiyah mengatakan dengan tegas bahwa tauhidnya adalah monoteistik Dengan kata lain, tauhid Uluhiyah menjadi landasan awal monoteistik. Karena mengungkapkan pengertian rububiyah, yaitu pemujaan tauhid yang diterapkan pada suatu benda. Membersihkan hati untuk menjalankan ibadah hanya karena Allah yang tidak mempunyai sekutu, termasuk ibadah tauhid yang dimaksud. Ini Tuhan. Mempelajari keesaan Allah sangat penting untuk mendapatkan definisi yang tepat. AlQuran tidak mencantumkan istilah tauhid yang berarti "Keesaan Allah". Namun Nabi Muhammad memberikan petunjuk kepada Ahli Kitab untuk mengajarkan nama Allah kepada mereka dalam hadits. Monoteisme dipandang oleh para sufi sebagai ilusi. Karena manusia disebut sebagai bayangan di hadapan Allah SWT, maka segala sesuatu yang menyangkut tingkah laku manusia harus sesuai dengan qudrah Allah karena dalam keesaan Allah manusia itu fana baik terhadap benda lain maupun terhadap dirinya sendiri. Dia dengan memikirkan keesaan dan hakikat Tuhan. Ittihad, yang diterjemahkan menjadi Autidak adaAy, adalah keyakinan bahwa seseorang hanyalah bayangan, tanpa Dari sudut pandang ini, satu-satunya makhluk yang berwujud dan beraktivitas Lalu Heri Afrizal. AuRubbiyah dan Ulhiyyah Sebagai Konsep Tauhid (Tinjauan Tafsir. Hadits dan Bahas. ,Ay Tasfiyah 2, no. 1 (February 1, 2. : 48. hanyalah Allah SWT. Manusia adalah makhluk istimewa dengan potensi yang tidak terbatas. Suara hati dan visi hati mempunyai potensi yang demikian. Rahasia manusia akan terbongkar melalui tauhid. Imam al-Ghazali menggunakan kasyaf dan nur al-Haqq, dua sumber monoteistik, untuk menunjukkan keesaan Allah. Mereka yang dekat dengan Allah memberikan kesaksian ini. Mereka hanya dapat melihat satu esensi. Fana fi al-Tauhid itulah yang mereka bentuk. Dia hanya melihat satu, jadi dia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Dari segi Tauhid, kedua mazhab ini menganut Wahudat asy-syuhud yang merupakan sudut pandang eksklusif Allah SWT. Tauhid keyakinan hati bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Esa dan maha esa di atas segala bentuk. Klasifikasi Tauhid Ibnu Taimiyah Tauhid membuktikan bahwa Allah SWT itu esa, seperti biasa. Ibnu Taimiyah membagi Tauhid menjadi tiga gagasan dalam rangka mengangkat agama: Tauhid Asma' Wa-asshifat. Tauhid Uluhiyyah . , dan Tauhid Rububiyah . Pertama-tama. Tauhid Rububiyyah berasal dari Rabb. Yang memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, melimpahkan kepada mereka kasih sayang dan bimbingan yang utuh. Tujuan dari bagian ini adalah untuk membantu umat Islam memahami agama mereka. Jadikan ibadah sebagai ritual ketuhanan sejati yang melampaui sekedar pengetahuan. Batasan hak istimewa berfungsi sebagai representasi keesaan Tuhan. Ada tiga gagasan yang saling berhubungan. Tauhid Rububiyyah pertama-tama Monoteistik ini mengakui satu Tuhan. Esensi Kesatuan yang Ditinggikan dalam Karena Dia Maha Esa, maka Imam Al-Ghazali. IhyaAo Ulumiddin. Juz IV (Kairo: Daar Ihya al Arabiyah, t. , 240 PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Allah SWT patut menerima segala puji dan kebaikan dari ciptaan-Nya. Iman diartikan dengan tauhid, menurut Tauhid Uluhiyyah. Setelah mengakui keesaan Tuhan, manusia perlu beribadah kepada Allah SWT. Agar mereka memahami bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai kemampuan menciptakan atau mengatur keberadaan. 3 Seseorang sudah beriman kepada tuhan yang satu jika ia beribadah kepada Allah SWT dan tidak mempunyai hubungan dengan manusia Allah SWT adalah pencipta segalanya. Seseorang dikatakan beriman kepada Rububiyah dan Uluhiyyah apabila mengakui bahwa Allah SWT Maha Esa baik hakikat maupun hakikatnya. Berikut keterkaitan erat antara ketiga teks tauhid tersebut dengan sifat tauhid Rububiyah yang dapat Tiga Orientasi Monoteistik Keesaan Tuhan pendekatan yang saling melengkapi dan komprehensif, menurut Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah menggunakan tiga konsep untuk menunjukkan Keesaan Allah SWT. Khususnya Tauhid Asma' Waasshifat. Tauhid Uluhiyyah . , dan Tauhid Rububiyah . Ketiga gagasan tentang monoteisme ini saling berkaitan. Bersama-sama, ketiganya menggambarkan Keesaan hati dengan Tuhan. Seorang hamba akan beribadah kepada Allah SWT dan mensyukuri Asma dan sifat-sifat-Nya jika ia mengakui Keesaan Allah. Pemikiran Ibnu Taymiyyah Tentang Akal dan Wahyu Ibnu Qayyum menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dalam empat cara yang berbeda: . Mimpi yang 3 Muhammad Imdad Rabbani. AuTauhid Ahlussunnah Wal JamaAoah. Antara Imam al-Asyari Dan Ibn Taymiyyah,Ay Tasfiyah 3, no. 1 (February 1, 2. : 15 4 Bin Has Qois Azizah. Konsep Tauhid Ibnu Taimiyah dan Pengaruhnya Terhadap Pembaharuan Pemikiran Islam. Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol. 12 No. benar, atau ar-ru'ya ash shadiqah, . Tanpa kemampuannya melihat, malaikat membisikkan sesuatu kepada ruh dan . Seorang malaikat laki-laki yang memintanya untuk berbicara sampai dia mengerti . Lonceng yang bergemerincing muncul di hadapannya, lalu muncullah malaikat yang menyampaikan wahyu. Lafazh al aql atau akal menurut Ibnu Taimiyyah merupakan mashdar dari aqala ya'qilu aqlan. Sejumlah besar peneliti bekerja di bidang ini. Hasilnya, ini adalah ilmu yang dipraktikkan dengan baik. Orang bijak tidak mengetahui baik dan jahat, namun mereka tidak mengejar atau Orang-orang tinggal di neraka berkata. AuSeandainya kami . eringatan itu, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyalanyala. Ay Al Mulk Qs. 67: 10. Anda mengira orang-orang munafik itu satu, padahal mereka berbeda hati. Ini akibat kebodohan Ay Qs. Al Hasyr . : 14 Menurut Ibnu Taimiyyah, wahyu lebih utama dari pada akal, sebab ajaran Tuhan adalah supra-rasional. Dia yakin bahwa tak ada pertentangan antara agama dan akal. Agama senantiasa logis, atau bahwa nash . eks agam. dan aql . kal manusi. merupakan dua aspek yang berbeda dari kebenaran yang sama. Kritik Ibnu Taimiyyah terhadap metode ta'wil dilandasi oleh keyakinannya bahwa melalui fitrah, kesadaran manusia mengenai Tuhan menjadi sebuah kebenaran aksiomatik dan pengetahuan yang benar, sehingga Ibnu Taimiyah mengajak umat Islam bersedia kembali ke dasar ajaran, alQurAoan dan hadis Orang bodoh melakukan sesuatu dengan 5 Syamsuddin Mukhtasar. Hubungan Wahyu Dan Akal Dalam Tradisi Filsafat Islam . 6 Syamsuddin Mukhtasar. Hubungan Wahyu Dan Akal Dalam Tradisi Filsafat Islam . PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Sementara itu, rasa takutnya kepada Allah SWT menyebabkan ia mengenal, takut, dan tunduk kepada-Nya. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT diperintahkan-Nya dan menahan diri dari melakukan apa yang dilarang-Nya. Ini adalah penjelasan pertama kami. Percabangan Ibnu Taimiyah di seluruh dunia Islam antara lain sebagai berikut:8 Pertama menolak Ta'wil Ibnu Taimiyah, penulis akan menunjukkan bahwa ketidak setujuan Ibnu Taimiyah terhadap metode ta'wil ada hubungannya dengan aspirasinya terhadap reformasi teologis dan sosial. Para sufi, filosof, dan mutakallimun menggunakan ta'wil untuk memasukkan gagasan asing ke dalam Islam. Setelah menganalisis berbagai aspek inisiatif reformasi Ibnu Taimiyah, kita dapat melihat kerangka kognitifnya. Pertamatama, hanya mantan umat Islam yang saleh . l-salaf alshalihi. yang menjadi inspirasi rencana reformasi Ibnu Taimiyah. Inilah sebabnya mengapa gerakan reformasi dikenal dengan nama Salafi. Pepatahnya adalah AuKembali ke AlQuran dan Sunnah. Ay Kedua, semua inovasi dalam agama dikecam oleh Ibnu Taimiyah. Ia percaya bahwa Islam dinodai oleh tasawuf, panteisme, teologi, filsafat, dan Kemudian. Ibnu Taimiyah menulis menentang para filosof Islam, mu'akallimun, dan sufi Aristotelian. Ketiga, gagasan bahwa akal berkomitmen untuk memahami prinsip-prinsip agama ditolak oleh reformasi Ibnu Taimiyah. Hal ini menunjukkan bahwa akal mendahului wahyu karena akal mempunyai wewenang atau bahkan kewajiban untuk menafsirkan ambiguitas yang terdapat dalam wahyu . yat-ayat mutasyabiha. Karena petunjuk Tuhan tidak logis, bagi Ibnu Taimiyah wahyu lebih penting dari pada akal. Dia percaya bahwa akal dan agama bisa hidup Entah rasional, atau teks agama dan akal manusia adalah dua sisi dari realitas yang sama. Karena beranggapan bahwa kesadaran manusia terhadap Tuhan menjadi fakta yang aksiomatik . elf-evident truth, alhaqiqah albadihiyya. dan pengetahuan akurat melalui alam, maka Ibnu Taimiyyah ta'wil. Dia mendesak umat Islam untuk kembali ke hadis. Alquran, dan dasar-dasar Islam. Relasi Akal dan Wahyu Ibnu Taimiyah menolak akal sebagai landasan wahyu dan kaidah wahyu karena ia menempatkan wahyu di atas akal. Karena wahyu berasal dari Nabi (Alsa. dan bersifat supra rasional. Ibnu Taymiyyah Mendemonstrasikan Ibnu Taimiyah tentang wahyu dan akal . Tidak ada kontradiksi antara wahyu dan akal, menurut Ibnu Taimiyah. Wahyu yang nyata akan selalu sejalan dengan pemikiran yang rasional dan intelektual. Mengingat bahwa wahyu tidak diragukan lagi kebenarannya, terlepas dari apakah wahyu tersebut diketahui oleh akal atau tidak, akal bukanlah dasar untuk menilai apakah wahyu itu benar. Penalaran berdasarkan logika tidak diperlukan agar wahyu dapat Akal budi menjadi sempurna dalam Jika terjadi pertentangan antara wahyu dan akal, niscaya akal akan mendukung wahyu yang sesungguhnya. Akal dan wahyu akan selalu saling terkait. Penulisan tafsir dalam Mushaf Al-Qur'an Utsmani. Ibnu Taimiyyah menekankan ayat-ayat dan membahas Berdasarkan struktur dan 7 Ibnu Taymiyyah. Majmu Alfatawa Ibnu Taymiyyah. Pustakaazzam. Jakarta. 8 Syamsuddin Mukhtasar. Hubungan Wahyu Dan Akal Dalam Tradisi Filsafat Islam . 9 Syamsuddin Mukhtasar. Hubungan Wahyu Dan Akal Dalam Tradisi Filsafat Islam . PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 substansi ulasannya. Tahlili menggunakan teknik al-tafsir bi al-ma'tsur . Dengan menggunakan tafsir semacam ini, ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan berdasarkan ayat-ayat lain, pandangan para sahabat. Nabi, dan Tabi'in. Dia tidak setuju dengan ulama Muslim terkemuka lainnya, al-Razi, yang percaya bahwa wahyu berfungsi sebagai dasar akal. Hanya karena penafsirannya yang tidak sempurna atau salah terhadap wahyu maka Ibnu Taimiyah melihat adanya konflik antara akal dan wahyu. Menurut Ibnu Taimiyyah, taAowil memerlukan adat dan terminologi yang sesuai. Adapun ta'wil Ibnu Taimiyyah, susunan kata yang tepat sangatlah penting. Menurut Ibnu Taimiyah, taAowil memerlukan adat dan terminologi yang sesuai. Ibnu Taimiyah mengutamakan wahyu dibandingkan akal, namun ia tidak Pemahaman bertentangan dengan wahyu. Alasan Ibnu Taimiyyah kurang independensi dari Ibnu Rusdy. Prinsip kesesuaian Ibn Taymiyyah Istilah Muwafaqat dan Dar' Ta'arud pada judul buku yang berarti tidak ada konflik merupakan cerminan paradigma "konkordansi" Ibnu Taimiyah. Meskipun konotasi pepatah ini hampir sama dengan konotasi pepatah ittisal menurut penafsiran Ibn Rusyd, namun konsep yang digunakan berbeda, terutama ketika menafsirkan wahyu . l-naql, al-sa. dan menangkap makna akal ('aq. Ajaran Ibnu Taimiyah tanggapannya terhadap permasalahan yang mutakallimun, khususnya Fakhr al-Din alRazi. Salah satu permasalahannya adalah bagaimana menyelesaikan Aukonflik antara akal dan wahyuAy. Untuk menyelesaikan permasalahan ini dan menetapkan konsep kesesuaian antara akal dan wahyu. Ibnu Taimiyah mengembangkan setidaknya tiga gagasan dasar dari perdebatannya. Berikut tiga konsep panduannya: Pertama, bersikap konvensional atau logis tidak secara otomatis berarti menerima atau menolak suatu gagasan Itu hanyalah sebuah pendekatan Sifat konvensional tidak bertentangan dengan sifat rasional. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berasal dari . l-sam') Terkadang, syariah bersifat tradisional dan bersifat tradisional . am'iyya. ketika mengambil keputusan dan menunjukkan bukti, dan rasional ketika mengeluarkan peringatan dan menunjukkan bukti. Kedua, pabila akal dan wahyu diutamakan dan mengabaikan akal. Karena akal merupakan sarana untuk membuktikan kebenaran wahyu, maka akal tidak dapat mendahului wahyu. Akal tidak boleh digunakan untuk menentukan kebenaran jika diprioritaskan di atas nalar, karena nalar itu sendiri bisa salah. Selain itu, wahyu akan dianggap mencakup kesalahan dalam kasus ini. Benturan antara . pengetahuan tradisional . tidak tercakup dalam premis yang bersifat universal ini. Ketiga, perlu ditentukan apakah suatu gagasan qat'i atau zanni jika terjadi pertentangan antara gagasan akal dan Dalil yang lebih pasti . dipilih jika kedua dalil itu qat'i, karena tidak mungkin ada yang zanni. Pernyataan yang berasal dari akal lebih diutamakan daripada dalil yang berasal dari ilmu wahyu . l-sam'. jika dalil yang dihasilkan oleh akal lebih pasti . , begitu pula sebaliknya. Namun gagasan tentang nalar lebih diprioritaskan karena sifatnya yang qat'i dibandingkan fakta bahwa ia berasal dari nalar. Konflik relasi akal dan wahyu perspektif Ibnu Taymiyyah 10 Ibn Taymiyyah. DarAo TaAoarud, vol. I,ed. Rishad Salim. Dar al-Kutub. Cairo, 1981,198. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Di era modern ini ada beberapa konflik relasi akal dan wahyu dari Ibnu Taymiyyah Yng Msih mengakar, adapun konflik itu adalah. Konflik pertama yaitu pemikiran atau ungkapan akal yang membicarakan hal yang ghaib terkait sifat sifat dan perbuatan Allah. Orang orang ini menalarkan bahwa mengakui sifat sifat allah berarti mengakui banyak bilangan pada dzat Allah itu sendiri. Ini merupakan pendapat yang sangat tidak tepat bahkan tidak bisa diterima oleh akal yang lurus dan selaras dengan wahyu sekalipun karena tidak mungkin ada dzat yang tidak memiliki sifat. Kemudian disamping hal itu berkonsekuensi mengangkat dua hal yang bertentangan, seperti ada orang yang mengungkapkan: AuDia ada tetapi tidak ada. Ay Kita ketahui karena keberadaan (A)OOA adalah sifat utama pada sesuatu yang ada. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa orang-orang Allah mengingkari semua sifatNya, termasuk sifat keberadaan itu sendiri. Artinya, orang yang mengingkari sifat baranggapan pada hakikatnya tidak ada Tuhan. Maha benar Allah atas apa yang dikemukakan orang orang zalim tersebut. Konflik kedua yaitu Akal yang benar dan juga jelas namun bertolak dan bertentang dengan dalil naqli yang tidak Seperti adanya hadits palsu yang bertentangan dengan akal yang benar, yang menyatakan bahwa Allah adalah (A )OOAada. Pencipta segala sesuatu dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya. Semua ayat kauniyah dan syarAoiyyah, akal dan fitrah tidak ada yang membantah kenyataan ini. Karena terkecoh dalam melihat dalil naqli setelah yakin akan kebenaran akal, membuat seseorang mengira ada dalil naqli yang shahih . ang bertentangan dengan aka. , padahal hal tersebut tidak demikian adanya. Lalu tampak di hadapannya sebuah pertentangan, yaitu pertentangan antara dalil yang benar dengan dalil yang salah, padahal dalil yang salah tidak pantas untuk dijadikan dalil, apalagi untuk menentang dalil yang benar. Jadi, seharusnya mendahulukan dalil yang benar, baik dalil itu berasal dari wahyu maupun dari akal. Adapun contoh paparkan adalah dalil naqli yang palsu seperti, hadits . yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya ada yang bertanya: AuWahai Rasulullah! Dari apa Tuhan kita? Beliau menjawab: AuDari air yang mengalir, bukan dari bumi dan bukan dari langit. Dia menciptakan kuda, lalu kuda itu lari dan berkeringat, lalu Dia menciptakan dirinya dari keringat ituAAy. Konflik ketiga yaitu dalil naqli yang shahih tapi tidak jelas maknanya sehingga orang mengambil dalil menjadi salah dalam Pertentangan timbul akibat pemahaman yang tidak sempurna, dan ketidak mampuan akal untuk lebih dalam mengetahui makna dalil naqli yang benar, hal ini merupakan satu sebab pertentangan antara wahyu dengan akal. Pertentangan Wahyu dan Akal sebagai Al-Dakhil dalam Penafsiran AlQurAoan Pertentangan yang terjadi antara wahyu dan akal juga berpengaruh terhadap produk penafsiran yang dilakukan pada suatu ayat. Banyak sekali ditemukan penafsiran yang bertentangan dengan pendapat yang sudah disepakati, ada juga yang bertentangan dengan ayat ayat Seorang mufassir dituntut untuk melepaskan seluruh kepentingan dan ideologi pribadinya serta bersikap seobjektif mungkin dalam menafsirkan al-QurAoan. Karena tidak jarang ditemukan seorang mufassir terjebak dalam romantisme prakonsepsi, ideologi, dan latar belakang keilmuannya dalam menafsirkan ayat alQurAoan, sehingga berdampak pada konsep pemahaman dan produk tafsir yang Oleh karena itu, para ulama memberikan solusi dengan menetapkan suatu konsep dasar dan metodologi PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 penafsiran yang harus dipenuhi oleh para mufassir agar terhindar dari hal-hal tersebut serta untuk mencapai keobjektifan dalam upaya penafsiran yang dilakukan. Salah satu ulama tafsir. Fayed . , parameter dalam mengukur kualitas suatu penafsiran seseorang yakni al-asalat atau alasil. 11 Yang kemudian dari konsep inilah konsep al-dakhil sebagai kebalikannya dapat diketahui dan dipahami. Sebagaimana al-asil yang dalam hal ini dipahami sebagai penafsiran yang memiliki rujukan dasar dan dalil yang jelas serta dapat dipertanggung jawabkan, baik dalil yang bersumber langsung dari alQurAoan, hadis sahih, perkataan sahabat dan tabiAoin yang valid, maupun hasil pemikiran akal yang sesuai dan tidak bertentangan dengan dalil-dalil qatAoi lainnya, maka aldakhil adalah sebaliknya. Pertentangan yang terjadi antara wahyu dan akal merupakan salah satu contoh infiltrasi . yang terjadi dalam penafsiran alQurAoan. Sering kali ditemukan penafsiran suatu ayat yang dinilai bertentangan bahkan bertabrakan dengan ayat al-QurAoan lainnya. Penafsiran semacam ini tentu akan berdampak pada produk penafsiran yang menimbulkan konflik bagi orang yang Adapun hal hal yang sering kali menjadi masalah atau pertentangan antara aldalil al-naql . dengan al-dalil alAoaql . adalah dalam aspek ketauhidan seperti pensifatan Allah dan dalam aspek . Seperti dalam Q. Al-Fat. AC aOeOeNIA a AOa a NEE Aa eOA. AoAo. Tangan Allah di atas tangan mereka, . Ay Muhammad Miqdam Makfi. AuRelasi Agama dan Sains dalam Pemikiran Teologi Ibn Taymiyyah. Studi Kritis Buku DarAou TaAoarrudl al-AoAql wa alNaqlAy. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains 4, . , 335. Atau dalam Q. TaHa ayat 5 A aaOOA a AEe I aIA e AEaO Ea e A Au. Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas AoArasyAy Dalam kedua ayat tersebut terdapat lafadz yad yang berarti tangan dan lafadz Aoala al- Aoarsy istawa' yang berarti bersemayam di atas Aoarasy. Keduanya merupakan dalil qatAoi karena bersumber dari al-QurAoan yang tidak mungkin diragukan kebenarannya. Namun kedua ayat tersebut sekilas akan bertentangan dengan Q. Al-Shura:11 yang menyatakan bahwa Allah berbeda dengan makhluknya AI eO a EaAOeA a Ae EaIeEN eaO U aON aaO EA a AEaOA. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar. Maha Melihat. Ay Menurut nalar akal yang dimaksud dengan AotanganAo adalah salah satu anggota tubuh yang memiliki sejumlah jari. AobersemayamAo adalah duduk atau tinggal di suatu tempat. AoTangan AllahAo tidak bisa disamakan dengan tangan makhluknya, atau Aobersemayamnya Allah di atas AoarshAo bersemayam identik dengan sesuatu yang memiliki ruang sedangkan Allah tidaklah Oleh karena itu, logika akal yang seperti itu tidak sesuai jika diaplikasikan dalam ayat di atas karena akan bertentangan dengan salah satu sifat wajib Allah yakni mukhalafat li alhawadith. Sehingga pemikiran yang seperti ini tidak bisa diterima dan hanya sebuah praduga Berdasarkan hal tersebut sesuai yang disampaikan oleh Ibn Taymiyah bahwa jika ada dua dalil yang terkesan bertentangan maka yang didahulukan adalah dalil yang bersifat qatAoi. Kendati demikian. Ibn Taymiyah tetap memegang pendapatnya bahwa antara wahyu dan akal tidak mungkin ada pertentangan, bahkan keduanya cenderung PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pertentangan tersebut terjadi karena pemberdayaan akal atas wahyu yang dilakukan terdapat kekeliruan yang tidak disadari, sehingga muaranya kepada wahyu yang bertentangan dengan akal atau Adanya penyusupan seperti ini dalam kajian tafsir membentuk konsepsi yang keliru. Bagi mereka yang tidak paham akan mengasumsikan bahwa antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dalam alQurAoan saling bertentangan, atau asumsi bahwa ayat al-QurAoan bertentangan dengan akal, pun sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, maka pertentangan yang terjadi antara wahyu dan akal yang masuk dalam penafsiran suatu ayat bisa dikategorikan sebagai al-dakhil fi al-tafsir. Analisis Teologi Akal dan Wahyu Pemikiran Ibnu Taymiyyah di Era Modern Pandangan Ibnu Taimiyah bermanfaat bagi modernitas. Hal ini ditunjukkan oleh tokoh-tokoh yang membentuk pemikirannya. Dari berbagai literature penulis dapat menyimpulkan bahwa menurut Ibnu Taymiyyah mengemukakan konsep bahwa harus menerima semua yang datang dari wahyu dengan tetap menjunjung tinggi akal. Menerima artinya menyerah dan tunduk kepada kedua wahyu (Al-QurAoan dan AsSunna. dalam masalah akidah dan hukum. Dampak pengaruh, kelebihan dan Ibnu Taymiyyah pada era modern Sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholis Madjid bahwa terkuak fakta Ibnu Taimiyah sebenarnya juga merupakan seorang Sufi. Juga merupakan anggota tarekat Qadiriah, sebuah ordo Sufi, yang pendirinya kebetulan penganut mazhab fikih Imam Ahmad bin Hambal. Melalui tarikat inilah ia dengan menerapkan asas ijtihad kepada Ibnu Taimiyah bahkan dapat dianggap perintis Neo-Sufisme yang akan menghentikan sinkretisme heterodoks dari sebagian besar praktik tarekat, dan menempatkan mereka di bawah kendali intelektualisme Islam yang berdasar kuat, yakni dasar Al-QurAoan dan hadis Nabi. Kemudian kesimpulan terkait relasi akal dan wahyu dalam pemikiran Ibnu Taymiyyah yang masih mempengaruhi sampai masa modern dibagi menjadi lima komponen yaitu: Pertama. Pemikiran Ibnu Taymiyyah tentang wahyu lebih di prioritaskan dibanding akal dalam pandangannya sebagai seorang teolog, dengan kelebihan pemikiran ini dimasa modern yaitu membantu menyongsong pemikir islam agar tetap pada keurnian ajaran islam, disertai dengan kekurangan diera modern yaitu terlalu kaku karena diklaim terlalu tekstual sehingga berakibat kurangnya anjuran akan toleransi dan moderenitas, berpegangan pada sunnah secara kaku dan baik secara agama, disertai kekurangan menerima seluruh korpus laporan hadist sebagai kodifikasi asli dan suci dari sunnah menjadikannya termasuk otentik, dan ini merupakan sebuah problematis, kemudian terjaganya kemurnian hadist pada agama Islam era modern disertai kekurangan menjadikan kumpulan kumpulan hadist susah untuk dipertahankan klaimnya sebagai sumber hukum agama. Kedua, konflik akal dan wahyu dengan mendahulukan akal,disini Ibnu Taymiyyah menyikapi dengan mengangkat pemikirannya pada prinsip kesuaian yaitu apabila proposisi akal lebih qot I dan wahyu lebih dzanni. Kelebihan dari ini mampu memberi jawabna atas konflik ayat atau hadist yang mengandung sifat qat i dan dzanni serta menambah pendalaman pada ayat atau hadist, adapun kekurangannya yaitu bagi kelompok yang membenarkan sifat taqlid akan susah menerima Ketiga, akal boleh setara dengan wahyu asal posisi akal sebagai ghazirah dengan kelebihan dimasa modern sekarang menyempurnakan kekuatan hadist dan PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 kebenaran hadist namun kekurangannya yaitu bagi yang salah menposisikan akal dan berlebihan dalam membenarkan akal dapat berakibat menyalahkan arti atau bahkan Keempat yaitu metode penafsiran Ibnu Taymiyyah, beliau menggunakan menggunakan metode bil al matsur. Kelebihan yang berdampak pada masa modern yaitu memberi kemudahan dalam penafsiran era modern dengan kurangannya yaitu kurangnya sumber penguat dalam mengetahui kualitas kebenaran ayat atau Kelima yaitu konsep fitrah Ibnu Taymiyyah, yang menganggap konsep fitrah ini sebagai rasionalitas yang lebih islami kelebihannya yang tetap mengarahkan pada kemurnian agama yaitu kembali pada al quran dan hadist atau metode para nabi, sedangkan kekurangannya yaitu sedikit mengenyampingkan akal sehingga tidak memberi toleran pada tradisi era modern. Kontribusi Relasi Akal dan Wahyu Pemikiran Ibnu Taymiyyah di Era Modern Pemikiran Ibnu Taymiyyah berkontribusi dalam kemajuan era modern dalam beberapa bidang, 1. Pemikiran Ibnu Taimiyah digunakan dalam sejumlah disiplin ilmu pendidikan modern. Tafsir Al-Quran modern Ibnu Taimiyyah. Hukum Islam dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah. Dampak politik modern dari Ibnu Taimiyah. Kontribusi Ibnu Taimiyah Pengaruh Ibnu Taimiyyah pemikiran modern. Kesimpulan Ibnu Taymiyyah menganut tauhid Ibnu Taimiyah pengertian Tauhid menjadi tiga bagian: Tauhid Asma' Wa-asshifat. Tauhid Uluhiyyah . , dan Tauhid Rububiyah . dalam rangka revitalisasi agama. Perlu diketahui bahwa Ibnu Taimiyyah memandang akal sebagai sarana untuk AugharizahAy. Karena perintah Allah berada di luar nalar dan akal dapat disamakan dengan wahyu . , maka wahyu lebih utama dari pada akal itu sendiri. Akal dan agama menurutnya bisa hidup berdampingan. Dalam menetapkan relasi akal dan wahyu Ibnu Taimiyah menyimpulkan dengan model pemikran bahwa wahyu lebih tinggi dari filsafat kemudian juga berupaya mendamaikan akal dan wahyu dengan merelasikan akal dan wahyu dalam takwil guna memahami syariat dengan kembali melibatkan akal. menurutnya akal dan wahyu adalah selaras. Wahyu yang nyata dan perspektif intelektual yang lurus selalu Akal tidak mampu menilai realita wahyu karena wahyu itu benar dan supra Dengan wahyu, akal menjadi lebih Meskipun wahyu dan akal budi mungkin berbeda, wahyu dan akal budi yang lurus akan selalu selaras. Ibnu Taimiyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan Analisis pengaruh pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasi akal dan wahyu yang difahami dan terealisasi diera modern penolakan Ibnu Taimiyah terhadap Ta'wil yang digunakan untuk memasukkan gagasan asing ke dalam Islam. Memahami doktrin agama dengan menerima semua makna lahir yang tersirat pada teks agama. Pendapat Ibnu Taimiyah tentang agama dipandang memiliki kelebihan untuk masa modern dari doktrin agama ini. Kemudian Ibnu Taymiyyah Yang berdampak pada era modern dengan kelebihan dan kekurangannya yaitu ada 5 diprioritaskan dari pada akal, kedua akal boleh setara dengan wahyu, ketiga konflik mendahulukan akal, keempat metode penafsiran Ibnu Taymiyyah dan yang kelima konsep fitrah Ibnu Taymiyyah. Pemikiran Ibnu Taymiyyah berkontribusi dalam kemajuan era modern PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 dalam beberapa bidang, 1. Pemikiran Ibnu Taimiyah digunakan dalam sejumlah disiplin ilmu pendidikan modern. Tafsir Al-Quran modern Ibnu Taimiyyah. Hukum Islam dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah. Dampak politik modern dari Ibnu Taimiyah. Kontribusi Ibnu Taimiyah Pengaruh Ibnu Taimiyyah pemikiran modern. Daftar Pustaka