Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta MICROLEARNING SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN DI ERA DIGITAL: KONSTRUKSI TEORI DAN RISET Lasito Universitas Negeri Jakarta Email Address lasito@unj. Keywords: microlearning, microcontent, micromedia, microknowledge, grounded theories. Abstrak Microlearning is a technology-mediated learning approach in which students are formally or informally engaged in short-term learning tasks. These tasks are built using well-planned microcontent and micromedia platform to enhance microknowledge, embodying the microlearningAos peculiarity. Microlearning is considered as a relevant approach in todayAos learning as it suits with learnersAo characteristic such as goal oriented, self-directed, and technologically savvy. This paper explores the grounded theories of microlearning, how microlearning is brought into second language acquisition, and research informed by microlearning in general educational context and second language acquisition. Pendahuluan Microlearning adalah pendekatan pembelajaran yang dimediasi teknologi di mana siswa secara formal atau informal terlibat dalam kegiatan pembelajaran jangka pendek. Kegiatan belajar ini dibangun menggunakan konten mikro dan platform mikromedia yang terencana dengan baik untuk meningkatkan pengetahuan mikro, yang menjadi kekhasan microlearning (Hug. Lindner, & Bruck, 2006a, 2006b. Lindner & Bruck, 2. Microlearning identik dengan modul atau kegiatan pembelajaran yang di pecah-pecah dan aktivitas pembelajaran jangka pendek. Oleh karena itu, microlearning dapat mengoptimalkan keterbatasan kerja memori otak dengan menurunkan beban kognitif berlebih yang biasanya ada pada pengajaran konvensional yang biasanya berdurasi panjang (Hug, 2. Microlearning memungkinkan pembelajaran yang fleksibel dan mandiri serta sangat sesuai dengan kebutuhan siswa. Contoh materi microlearning adalah klip video pembelajaran singkat yang menyajikan satu tujuan pembelajaran yang disematkan ke platform pembelajaran seperti Learning Management System. Konten pembelajaran mikro ini populer pada pembelajaran yang melibatkan teknologi seperti pembelajaran daring, pembelajaran campuran antara tatap muka dan daring . lended learnin. , atau terintegrasi dalam kelas konvensional sebagai suplemen pembelajaran. Microlearning adalah pendekatan pendidikan hibrid yang bias digunakan untuk semua disiplin Ketika diadopsi ke ranah Pemerolehan Bahasa Asing (Second Language Acquisitio. , microlearning didukung oleh teori Atkinson tentang embodied cognition (Khong & Kabilan, 2. Atkinson . yang menyatakan bahwa "seseorang belajar tidak hanya secara mental, tetapi dalam lingkungan yang terdiri dari tubuh, alat kognitif, praktik sosial, dan segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya" . Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar terjadi ketika seseorang mampu memahami hubungan antara simbol dan maknanya, yang diwujudkan melalui kata-kata, tanda, visual, tindakan, dan objek. Simbol tersebut diwujudkan dalam materi microlearning berupa postur . penampil beserta ucapan, gerakan, grafik, teks, animasi, musik, dll yang menyertai video microlearning. Masing-masing unsur tersebut akan berinteraksi menjadi satu sistem . Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | dan mengaktifkan indera, abstraksi, dan pemahaman peserta didik terhadap konten/materi Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi microlearning, terutamanya. konsep dasar yang mendasari pendekatan microlearning, bagaimana microlearning dilihat dari sudut pandang pembelajaran bahasa asing (SLA), dan penelitian yang telah dilakukan sehubungan dengan microlearning untuk tujuan pembelajaran secara umum dan pembelajaran bahasa asing. Konsep Microlearning Gagasan yang mendasari microlearning adalah bahwa individu dapat belajar lebih efisien jika pengetahuan dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan melalui proses langkah-demilangkah dengan cara yang menyenangkan (Hug, 2. Jenis pengajaran "sekali gigit" . ite-siz. pada microlearning, dalam kajian desain pembelajaran, dapat dilihat sebagai suatu cara untuk memfasilitasi pembelajaran, memperkuat pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan materi yang sedang Secara esensi, materi microlearning yang berukuran kecil dan menargetkan satu tujuan pembelajaran tertentu pada setiap kegiatan sering kali dikaitkan dengan istilah 'konten mikro' . icro Konten mikro ini dapat dikembangkan dalam tiga cara: . sebagai kegiatan pembelajaran tunggal, . disajikan secara berseri . atu pokok bahasan dipecah ke dalam beberapa kegiatan pembelajaran dan masing-masing disajikan dengan microlearnin. , atau . terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran lainnya/tematik (Hug & Friesen, 2. Microlearning tidak hanya memecah kegiatan pembelajaran yang kompleks . ang biasa ada pada kelas konvensiona. menjadi bagianbagian yang lebih kecil, tetapi yang paling utama adalah konten harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran tertentu yang mendorong siswa untuk dapat mengambil suatu tindakan/keputusan terhadap materi yang telah disajikan (Kumar, 2. Microlearning memberikan beberapa manfaat bagi peserta didik. Pertama, microlearning diyakini dapat memfasilitasi kegiatan belajar mandiri / self-directed learning (Buchem & Hamelmann, 2. dimana microlearning bersifat simpel, mudah diikuti, dan kolaboratif. Siswa akan lebih aktif terlibat dengan teman sebaya untuk bekerjasama dalam kelompok dalam rangka untuk menawarkan umpan balik kepada siswa lainnya. Kedua, microlearning sangat ekonomis, sehingga guru dan siswa dapat menggunakan teknologi gratis . eperti media sosia. dan fitur-fitur yang disematkan untuk membantu pembelajaran microlearning. Para guru dapat merekam dan menyunting video microlearning sesuai dengan kebutuhan siswa dengan menggunakan perangkat yang mereka miliki dan aplikasi penyuntingan tak berbayar yang dapat diunduh dengan menggunakan internet secara cumacuma. Ketiga, ketika diintegrasikan dengan Learning Management System (LMS), sistem analitik dalam LMS memungkinkan guru untuk melacak partisipasi, keterlibatan, dan umpan balik siswa (Melisa, et al, 2. Microlearning mendorong partisipasi aktif melalui komunikasi yang tersinkronisasi dan tidak tersinkronisasi seperti forum diskusi dan pesan berantai . hreaded message. yang biasanya ada pada LMS. Guru dapat menggunakan forum ini untuk bertanya, menjawab pertanyaan, dan mendiskusikan Teori yang Mendasari Pendekatan Microlearning Seperti disebutkan sebelumnya, microlearning adalah pendekatan hibrid dalam pendidikan yang berlaku untuk semua disiplin ilmu. Namun, pada awalnya microlearning dalam dunia pendidikan 59 | Lasito terinspirasi oleh teori AuCognitive Load TheoryAy (CLT) dari Sweller . , teori AuCognitive Theory of Multimedia LearningAy (CTML) dari Mayer . dan teori motivasi AuSelf- Determination TheoryAy (SDT) dari Ryan dan Deci . CLT memandang bahwa pembelajaran terjadi ketika pengetahuan baru secara efektif disimpan dalam penyimpanan memori jangka panjang. Prinsip ini diakomodasi melalui manipulasi konten yang disajikan secara mikro . CTML menggambarkan bagaimana orang secara aktif membangun hubungan yang bermakna dengan memilih kata-kata yang relevan . iucapkan atau dituliska. dan gambar . tatis atau dinami. dengan memroses sensori auditori dan visual menjadi model mental verbal dan model mental visual sehingga dapat direkam ke dalam memori kerja otak. Pada akhirnya otak akan mengintegrasikan dua model mental tersebut dengan pengetahuan yang sudah ada pada memori jangka panjang sebelumnya ke dalam representasi mental baru yang koheren. Prinsip CTML diwujudkan dengan penggunaan media mikro digital. Selain itu, microlerning dapat memotivasi siswa karena berkaitan dengan penggunaan media yang menarik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan preferensi generasi sekarang dan yang akan datang yang familiar dengan technology . echnologically savv. dalam kegiatan belajar. Karakteristik siswa saat ini yang cenderung menyukai teknologi, fleksibel, tidak terbatas oleh ruang dan waktu menjadikan microlearning menjai pilihan yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Relevansi komponen microlearning terhadap teori motivasi untuk pendidikan sangat jelas ditunjukkan oleh sifat microlearning yang adaptif dan otonom yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu. SDT menjadi rujukan utama microlearning untuk terwujudnya pembelajaran berbasis teknologi yang dapat mengarah pada tericiptanya pengetahuan mikro . icro knowledg. Microlearning dalam Perspektif Pemerolehan Bahasa Asing (SLA) Ketika dibawa ke ranah Linguistik Terapan (SLA misalny. , hubungan antara CTML. CLT, dan SDT sejalan dengan pandangan Atkinson . tentang embodied cognition. Didasarkan atas pendekatan sosio-kognitif dalam pemerolehan bahasa asing (SLA). Atkinson berpendapat bahwa ada tiga prinsip untuk terciptanya kognisi. Pertama, prinsip yang tidak terpisahkan . dari pada pikiran, tubuh, dan lingkungan yang bekerja sama dan saling mempengaruhi dalam pemerolehan bahasa asing. Hal ini berarti bahwa manusia belajar dalam konteks yang terdiri dari tubuh, alat kognitif, perilaku sosial, dan elemen lingkungan, bukan hanya apa yang ada di kepala mereka. Prinsip ini selaras dengan gagasan CTML dalam microlearning dimana seseorang akan secara aktif membuat koneksi dengan memilih kata-kata yang terkait . iucapkan atau dituli. dan gambar . tatis atau bergera. dalam memori kerja otak, mengatur kata-kata dan gambar yang dipilih ke dalam model mental verbal, dan menciptakan model mental visual. Kedua, prinsip belajar-adaptif . daptive principl. Ini menyiratkan bahwa pembelajaran bahasa asing membutuhkan ketekunan dan keteguhan dalam menghadapi situasi yang rumit. Misalnya, seseorang terkadang melalui masa-masa sulit dalam melakukan sesuatu dan pada saat itulah tanpa disadari sebenarnya mereka sedang belajar. Prinsip ini dikaitkan dengan teori motivasi SDT dalam microlearning karena kemampuannya untuk membawa pembelajaran ke dalam pengalaman belajar yang disesuaikan, adaptif, mandiri, dan memotivasi. Ketiga, prinsip keselarasan . Prinsip keselarasan menunjukkan sistem yang rumit dimana manusia memulai interaksi yang Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | terorganisir dan menjaganya tetap berjalan dengan cara yang fleksibel dan dinamis. Keselarasan tersebut konsisten dengan prinsip-prinsip microlearning yang melihat totalitas hubungan antara konten, media, dan pengetahuan dalam satu desain instruksional untuk dapat memfasilitasi kognisi. Singkat kata. Atkinson menjelaskan bagaimana embodied cognition bekerja melalui tiga teori yang mendasari microlearning (CTML. CLT, dan SDT) dimana masing-masing saling mendukung dan bekerjasama untuk memfasilitasi terciptanya kognisi. Riset Berdasarkan Pendekatan Microlearning Sebagai pengajaran berperantara teknologi, penelitian tentang microlearning menjadi lahan yang kaya untuk dapat dieksplorasi di dalam dunia pendidikan. Microlearning telah terbukti memiliki kemampuan untuk memfasilitasi siswa dalam belajar secara mandiri/self-directed (Nikou & Economides, 2. dan menjadikan siswa sebagai pembelajar mandiri sepanjang hayat/long-life learner (Buchem & Hamelmann, 2. Nicou and Economides . , misalnya, melakukan studi eksperimen untuk melihat apakah motivasi dan prestasi belajar sains siswa SMA dapat ditingkatkan dengan menggunakan mobile-based microlearning and assessment (MBmLA). Dalam kurun waktu 5 minggu, 138 siswa dari sekolah menengah atas di Eropa secara acak dilibatkan ke dalam salah satu dari dua kondisi: kontrol . ugas-tugas kelas konvensional berbasis kerta. dan eksperiment . enggunakan MBmLA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan strategi penugasan konvensional berbasis kertas, teknik MBmLA dapat meningkatkan kinerja siswa terhadap tugas, terutamanya dalam hal pengetahuan faktual, serta kebutuhan psikologis mereka terkait akan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan terhadap tugas-tugas yang diberikan. Lebih lanjut, peserta melaporkan bahwa penilaian mikro berbasis teknologi dan proyek pekerjaan rumah dengan menggunakan microlearning meningkatkan pengalaman belajar mereka. Microlearning yang berupa potongan kegiatan belajar yang lebih kecil, dengan topik spesifik, dan memberikan otonomi kepada siswa dapat diintegrasikan ke dalam rutinitas pembelajaran seharihari dengan mempertimbangkan waktu yang tepat . apan harus menggunakan materi microlearnin. Selain itu, karena karakteristiknya yang personal, kontekstual, riil, spontan, dan informal, microlearning sering dikaitkan dengan pembelajaran seluler/ mobile learning . Cates at al. Edge et al, 2. Oleh karena itu, para peneliti dari berbagai disiplin banyak yang meneliti penerapan pembelajaran mesin/machine learning dalam Massive Online Open Courses . Sun et al. , 2015. Sun et al. , 2. Penelitian-penelitian tersebut telah meghasilkan beberapa model prototipe microlearning untuk diintegrasikan dengan teknologi pembelajaran seluler/mobile learning dan platform pembelajaran umum seperti LMS. Agenda Penelitian Meskipun penerapan teori untuk mendukung microlearning dalam pembelajaran bahasa asing terkonfirmasi, namun perlu dicatat bahwa model yang diusulkan tidak membahas berbagai fenomena pembelajaran bahasa asing dan interaksi dari variabel microlearning belum dapat dikonfirmasi secara oleh karena itu, riset untuk membuktikan keterkaitan antara variable dalam microlearning dalam mengkonstruksi pengetahuan siswa perlu untuk dilakukan. Selain itu, perlu pula dicatat bahwa pembelajaran tidak terjadi hanya karena konten yang ditampilkan dalam potongan yang lebih kecil, 61 | Lasito masih diperlukan riset mendalam apakah pembelajaran yang disajikan secara sepotong-sepotoong tersebut terbukti efektif dalam membangun konstruksi pengetahuan siswa atau justru pemahaman yang diperoleh menjadi tidak comprehensive seperti hal nya disampaikan oleh Shackleton-Jones . Namun demikian, harus diakui bahwa microlearning didukung oleh konstruksi teori yang kuat, sehingga patut untuk dijadikan sebagai alat pedagogis yang dapat dicoba, meskipun tidak akan dapat menggantikan pengajaran formal. Harus dipertimbangkan pula bahwa microlearning tidak dapat dijadikan sebagai pendekatan satu ukuran untuk semua . ne-size-fit-all approac. , oleh karenanya penelitian lebih lanjut diperlukan untuk dapat memberikan bukti empiris yang kuat apakah microlearning dapat dijadikan sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat diandalkan . , praktis, dan bermakna serta dapat bertahan sepanjang masa dengan kondisi yang dinamis, domain yang bervariasi, dan level dari pada siswa yang berbeda beda. Kesimpulan Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mengkaji landasan teoretis terhadap pembelajaran microlearning yang saat ini popular dan mendapat banyak perhatian serta dianggap sebagai pendekatan pembelajaran yang berhasil dalam berbagai aspek pembelajaran, metodik, dan edukasi secara umum. Microlearning dibangun atas premis-premis dari teori-teori yang kuat. CLT, CTML dan SDT, melalui kajian yang cermat terhadap karakteristik konseptual dan juga penelitian secara Namun demikian, makalah ini juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman agar tidak terlalu terjebak dengan hegemoni microlearning dengan mengetahui adanya potensi-potensi lain yang mungkin dapat timbul berkaitan dengan microlearning dan konstruksi teorinya . eperti yang dibahas pada agenda penelitia. Agenda penelitian tersebut akan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang dinamika pembelajaran menggunakan microlearning yang tidak hanya mengakui pentingnya hubungan teori dan praktik, serta untuk memajukan penelitian terhadap microlearning terutamanya dalam hal pemerolehan bahasa asing yang selama ini tidak banyak dibahas oleh penelitian microlearning. Daftar Pustaka