Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan (JIPPER) ISSN 3031-5883. Vol 1. No 1, 2023, 35-46 https://doi. org/10. 35912/jipper. Kajian Penggunaan Daun Pisang Kering dalam Pematangan Buah Pisang (Musa Paradisiaca L CV. Kepo. dengan Metode Pemeraman di Lubang Tanah (Study of the use of dried banana leaves in the ripening of kepok bananas (Musa paradisiaca L. Kepo. using the ripening method in the ground hol. Marhaen Marhaen1*. Riwan Kusmiadi2. Ropalia Ropalia3 Universitas Bangka Belitung. Kepulauan Bangka Belitung1,2,3 marhaen1807@gmail. Abstract Purpose: This study aimed to examine the effect of dried banana leaves on the ripening process of kapok bananas and evaluate their impact on fruit quality. The research intended to determine whether adding different quantities of dried banana leaves could accelerate ripening, reduce post-harvest losses, and offer a natural, low-cost alternative to chemical ripening agents. Research Methodology: The research was conducted from May to June 2022 at the Agrotechnology Laboratory and Research and Experimental Garden. University of Bangka Belitung. A CRD was used with three treatments: bananas without dried leaves, bananas with 108 g/0. 5 mA of partially dried leaves, and bananas with 216 g/0. 5 mA of fully dried leaves. Each treatment was replicated six Riwayat Artikel times, resulting in 18 experimental units. Observations were made Diterima pada 20 Juni 2023 on day 4 and day 6, measuring parameters such as ripening time. Revisi 1 pada 27 Juni 2023 fruit hardness, total dissolved solids, vitamin C content, and weight Revisi 2 pada 29 Juni 2023 Revisi 3 pada 07 Juli 2023 Disetujui pada 21 Juli 2023 Results: The findings showed that adding dried banana leaves did not significantly affect the ripening time or the fruit quality parameters measured. All treatments reached ripening at the same time, and no substantial differences were observed in vitamin C content, fruit hardness, weight loss. Conclusion: Although dried banana leaves did not significantly speed up ripening, they can help maintain consistent fruit quality and reduce post-harvest losses. Limitations: The study was limited by its small sample size, short observation period, and focus on one banana variety. Contribution: This research offers preliminary evidence of dried banana leaves as a potential natural method for post-harvest banana Keywords: Banana. Dried Banana Leaf. Respiration. Ripening Technique. How to Cite: Marhaen. Kusmiadi. Ropalia. Kajian Penggunaan Daun Pisang Kering dalam Pematangan Buah Pisang (Musa Paradisiaca L CV. Kepo. dengan Metode Pemeraman di Lubang Tanah. Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan,1. , 35-46. Pendahuluan Pisang merupakan jenis buah-buahan tropis yang banyak dikembangkan salah satunya di Indonesia. Pisang adalah buah-buahan tinggi peminat dan dapat dikonsumsi dalam bentuk segar ataupun tidak. Pembudidayaan pisang yang mudah membuat tanaman pisang banyak dibudidayakan dengan produksi skala besar (Yahya & Yani, 2. Pisang memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi buah nasional yang mencapai 34,65% dari produksi total buah nasional. Pada tahun 2019 produksi pisang mencapai 7,29 juta ton dengan tiga produsen utama penyalur buah pisang terbesar yaitu Jawa Timur. Jawa Barat dan Lampung (Kementan 2. Salah satu buah pisang yang banyak digemari oleh masyarakat adalah pisang. Pisang memiliki banyak manfaat sehingga banyak digunkan untuk berbagai Pisang memiliki rasa daging buah legit, manis, dan teksturnya renyah, dapat dijadikan bahan baku industri olahan berupa tepung pisang dan olahan produk lainya (Prahardini et al. Pemanfaatan pisang yang paling terkenal sebagai pisang goreng (Prabawati et al. Pemeraman pisang bertujuan untuk menyeragamkan pematangan buah. Pemeraman yang biasa dilakukan untuk buah pisang diantaranya pemberian etilen yang bertujuan untuk mempercepat dan menyeragamkan pematangan buah (Putra & Cahyo, 2. Pemeraman dilakukan sebagai upaya pascapanen setelah Buah pisang setelah dipanen dapat mempengaruhi kualitas buah (Widodo et al. Selama masa pemeraman dapat mempengaruhi kadar vitamin C dapat meningkat menjadi 84,48 mg dan gula reduksi 5,90% (Suryanti et al. pematangan buah pisang yang dipanen pada dua tingkat kematangan buah yaitu 75-80% dan 85- 90% dapat dipercepat dengan Pemberian bahan pemacu pematangan seperti gas etilen, etepon, gas asetilen dan kalsium karbida (Murtadha et al. Proses pemeraman pisang dapat menggunakan agen pematangan berupa bahan kimia atau metode tradisional. Petani dan pedagang pisang umumnya menggunakan bahan pemacu pematangan dipasar local berupa kalsium karbida. sedangkan pihak eksportir menggunakan bahan pemacu pematangan berupa bukan bahan kimia. Bahan pemacu pematangan selain menggunakan bahan kimia bisa menggunakan metode tradisional seperti pembakaran daun hijau dan pemeraman menggunakan daun pisang kering (Maduwanthi & Marapana, 2. Pemeraman menggunakan bahan tradisional seperti daun pisang kering dilakukan oleh masyarakat tradisional Bogor untuk mempercepat pematangan buah pisang, dengan metode pemeraman menggunakan lubang tanah. Mebratie et al. menyatakan bahwa buah pisang yang dibalut dengan daun pisang kering memiliki waktu pematangan buah hingga 14 hari untuk mencapai tahap matang penuh dan berwarna kuning kusam. Daun pisang kering memiliki kelembaban 8,3% . padatan volatil 78,8% . karbon 43,5% . dan nilai energi panas yang tinggi 19,8 MJ/kg (Fernandes et al. Proses pemeraman menggunakan lubang tanah diharapkan dapat meningkatkan suhu lubang pematangan. Hal ini sejalan dengan penelitian Pangestu . menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka kandungan air mudah teruapkan dan semakin rendah suhu maka kandungan air yang dihasilkan akan sedikit. Tingginya kelembaban menandakan kandungan uap air di udara meningkat (Rahmawati et al. Daun pisang kering menghasilkan gas yang dapat meningkatkan suhu (Jena et al. Penilitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemeraman dengan menggunakan daun pisang kering dalam mempercepat pematangan buah pisang serta kualitas buah yang dihasilkan. Informasi dan publikasi terkait pemeraman dengan menggunakan daun pisang kering belum pernah dilaporkan hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab teknik pemeraman secara tradisional dan menjelaskan secara ilmiah (Riadi. Rohmah Nurazizah. Wakano, & Fadilah, 2. Metodelogi penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2022, dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi (Lab. Agr. dan Penelitian (KP. Universitas Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal. Taraf perlakuan terdiri dari P0: pisang kapok tanpa penambahan daun pisang kering. P1: Pisang Kepok dengan penambahan daun pisang kering sebagian dan P2: Pisang Kepok dengan penambahan daun pisang kering penuh. Setiap perlakuan diulang 6 kali sehingga diperoleh 18 unit percobaan. Bahan baku yang digunakan merupakan buah pisang dengan rentang umur buah 90-100 hari yang dihitung berdasarkan hari setelah jantung pisang dipotong. Sampel yang digunakan adalah buah pisang pada bagian tengah tandan, jumlah yang diambil adalah 2 sisir, kemudian dilakukan pemisahan antara sisir dan buah yang dijadikan sampel. 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 35-46 Buah yang dijadikan sempel ditandai label berupa nomor. Setiap unit percobaan terdiri 16 buah pisang yang disusun rapi. Pembuatan media lubang pematangan buah menggunakan lahan seluas 3,5 x 6,5 m, setiap lubang dibat berukuran diameter 50 cm x 50 cm dengan kedalaman 40 cm dan jarak antar lubang samping dan bawah berjarak 30 cm. terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan sehingga diperoleh 18 unit Bahan penelitian ini menggunakan buah pisang kapok dan daun pisang kering. Umur buah pisang yang digunakan berkisar 90-100 hari. Setiap unit terdiri atas 16 buah sehingga total populasinya adalah 288 buah. Sampel yang digunakan adalah buah pisang pada bagian tengah tandan, jumlah yang diambil adalah 2 sisir, kemudian dilakukan pemisahan antara sisir dan buah untuk dijadikan sempel. 1 Parameter penelitian 1 Suhu dan kelembaban lubang pematangan Pengamatan suhu lubang pematangan dilakukan dengan cara mengukur suhu setiap unit percobaan. Pengamatan suhu dilakukan setiap kali pembukaan media pematangan dan diakhir penutupan media Cara pengukuran yang dilakukan terdiri dari awal dan akhir pada saat pembukaan dan penutupan unit percobaan (Nurhaedah. Irmayani. Ruslang, & Jumrah, 2. Alat yang digunakan pada pengukuran suhu menggunakan termo-hygrometer sebagai pengukur suhu tempat penelitian dan termometer sebagai alat pengukur suhu lubang pematangan dengan satuan derajat celsius (EE). 2 Warna buah Pengamatan warna buah dilakukan dengan mengamati perubahan warna setiap hari6, 8,10, 12 dan 14. Pengamatan warna buah dilakukan dengan mengamati satu sempel disetiap lubang unit percobaan. Pengamatan warna buah menggunakan buku munsel . oil munsell color char. dan difoto menggunakan 3 Kekerasan buah (Tekstu. Pengamatan tekstur buah dilakukan setiap hari pengamatan dimulai dari hari ke-1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan Alat yang digunakan untuk menentukan tingkat kekerasan buah . adalah penetrometer. 4 Total padatan terlarut (TPT) Pengamatan pengujian TPT dilakukan setiap hari pengamatan dimulai dari hari ke-1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 Pengujian dilakukan pengambilan satu sempel masing-masing setiap perlakuan. Pengujian total padatan terlarut (TPT) menggunakan alat refractometer. Nilai TPT dinyatakan dalam satuan %brix. Buah dihaluskan dengan blender atau alat penghalusan hingga menjadi bubur pisang. Refractometer terlebih dahulu dibilas dengan akuades dan dibersihkan dengan tissue, sampel diteteskan ke atas prrisma refraktometer dan diukur derajat brix-nya (Wahyudi dan Dewi 2. TPT (ABri. = angka handrefractometer x FP Keterangan: FP: Faktor Pengencer 5 Susut bobot Pengamatan dilakukan untuk semua sampel perlakuan dilakukan setiap hari pengamatan dimulai dari hari ke-1, 2, 4, 6, 10, 12 dan 14. Pengambilan sampel pengamatan susut bobot dilakukan selama pemeraman dengan membandingkan bobot sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Pengukuran susut bobot buah menggunakan alat timbangan analitik. Pengujian susut bobot buah dapat dihitung dengan Susut bobot awal Oe Susut bobot akhir Susut bobot ( %) = Susut bobot awal 6 Vitamin C Larutan standar vitamin C 100 ppm dibuat dengan cara menimbang 50 mg serbuk asam askorbat dan dilarutkan dengan aquades 100mL sampai semua serbuk larut, kemudian diencerkan dengan mengambil 1Ml larutan yang sudah homogeny dengan 100Ml aquades untuk mendapatkan 1 ppm. Selanjutnya dibuat deret larutan standar, penentuan panajang gelombang maksimum dilakukan dengan mengukur nilai absorbansi larutan asam askorbat 1 ppm. Rentang panjang gelombang 200-300 nm, penentuan panjang gelombang tertinggi berada diangka 262. 15 nm. 7 Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of variance (ANOVA) jika diperoleh nilai probabilitas mendekati 0 makan dilakukan ui lanjut dengan uji Tukey atau Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan program Statistical Analytic System (SAS) versi 9. Hasil dan Pembahasan Hasil analisis sidik ragam pemberian setiap pemberian perlakuan daun pisang disajikan pada tabel . , hari ke 4 dan hari ke 6 hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian perlakuan daun pisang berpengaruh tidak nyata terhadap peubah kekerasan buah, total padatan terlarut, susut bobot dan vitamin Tabel 1. Hasil sidik ragam uji Kekerasan buah. Total padatan terlarut. Susut bobot dan Vitamin C Peubah Pr > F KK(%) Hari ke-4 setelah aplikasi Kekerasan buah Kekerasan buah Susut bobot Susut bobot Total padatan terlarut Hari ke-6 setelah aplikasi Total padatan terlarut Vitamin C Keterangan : Koefisien keragaman. : Berpengaruh tidak nyata. Pr>F : Nilai Probability Data yang disajikan pada Gambar . adalah data rata-rata ulangan di setiap waktu pengamatan. Berdasarkan grafik menunjukan tingkat kekerasan buah pada setiap perlakuan mengalami penurunan. Perlakuan tanpa daun pisang kering penuh pada hari ke-2 daun pisang kering penuh adalah perlakuan yang memiliki tekstur keras dibandingkan dengan perlakuan tanpa daun pisang kering dan daun pisang kering sebagian mengalami penurunan (Ramlan. Irmayani, & Nurhaeda, 2. Daun pisang kering sebagian hari ke-6 memiliki tekstur yang baik dibandingkan dengan tanpa daun pisang dan daun pisang kering penuh. Pisang mengalami penuaan lebih dulu adalah perlakuan daun pisang kering sebagian yang selanjutnya tanpa daun pisang kemudian daun pisang kering penuh. Newton Waktu pengamatan Tanpa daun pisang Daun pisang kering penuh Gambar 1. Kekerasan buah pisang selama penyimpanan 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 35-46 Daun pisang kering sebagian 40% Waktu pengamatan Tanpa daun pisang Daun pisang kering penuh Daun pisang kering sebagian Gambar 2. Susut bobot pisang selama penyimpan Susut bobot merupakan salah satu peubah mutu untuk menukur keseragaman buah. Tingginya susut bobot buah maka tingkat keseragamanya menurun dengan kondisi buah menjadi lunak dan rusak. Susut bobot tertinggi di hari ke-2 hingga ke-8 pada daun pisang kering sebagian dan daun pisang kering penuh. Hasil pengamatan rata-rata susut bobot buah disajikan pada Gambar 2. Hasil pengamatan Total padatan terlarut dapat dilihat pada Gambar 3. Berdasarkan grafik tersaji pola ditunjukan merupakan pola klimaterik, dari pengamatan hari ke-1 hingga ke-6 mengalami peningkatan. Puncak klimaterik menunjukan perlakuan daun pisang kering penuh dan sebagian memiliki nilai padatan terlarut tinggi dibandingkan dengan tanpa daun pisang. Brix Tanpa daun pisang Waktu Pengamatan Daun pisang kering sebagian Daun pisang kering penuh Gambar 3. Total padatan terlarut pisang selama penyimpanan mg/ml Waktu pengamatan Tanpa daun pisang Daun pisang kering sebagian Daun pisang kering penuh Gambar 4. Vitamin C pisang selama penyimpanan Kadar vitamin C pada grafik menunjukan perbedaan setiap perlakuan. Nilai rata-rata absorbansi hari ke-8 pengamatan vitamin C menunjukan bahwa perlakuan daun pisang kering sebagian memiliki kadar vitamin C tertinggi dilanjukan daun pisang kering penuh dan tanpa daun pisang. Pada hari ke-10 perlakuan daun pisang sebagian dan penuh dan sebagian mengalami penurunan berbeda dengan tanpa daun pisang. Kadar vitamin C perlakuan tanpa daun pisang di hari ke-10 merupakan puncak vitamin C yang dilanjukan penurunan pada hari ke-12. Kadar vitamin C tersaji pada Gambar 4. Gambar 5. Peubah warna buah dari hari ke 1 setelah pemeraman. 1-14 . Pengamatan peubah dari hari ke 1-14 . tanpa daun pisang, b . daun pisang kering sebagian, c . daun pisang kering penuh. Pengamatan warna buah disajikan pada Gambar . , buah pisang kapok pada hari ke-2 perlakuan tanpa daun pisang menunjukan indikasi pematangan lebih cepat ditandai dengan warna kulit pisang berwarna hijau kekuningan. pada ke-4 tanpa daun pisang berwarna kuning pada bagian luar sedangkan daun pisang kering sebagian dan daun pisang kering penuh terdapat warna hijau pada bagian luar. Buah pisang pada hari ke-6 memiliki tekstur yang baik dan disarankan dikonsumsi menjadi olahan pisang. Pada hari ke-8 pisang berwarna kuning kehitaman. Hari ke-10 pisang relatif berwarna orange kehitaman menandakan terjadi penurunan hingga hari ke-14 pisang menjadi hitam. ACelcius Waktu pengamatan Tanpa daun pisang Daun pisang kering penuh Daun pisang kering sebagian ACelcius Tanpa daun pisang Waktu pengamatan Daun pisang kering sebagian Daun pisang kering penuh Gambar 6. Peubah suhu lubang pematangan hari ke 1-14 setelah pemeraman. suhu lubang pematangan sebelum pengambilan sempel, b suhu lubang pematangan setelah pengambilan sempel. Berdasarkan grafik suhu lubang pematangan berkisar 29-35 AC. Suhu tertinggi terjadi pada hari ke-6 pengamatan yang mencapai 35 AC sebelum pengambilan sempel sedangkan setelah pengambilan turun menjadi 34 AC pada perlakuan daun pisang kering penuh. Hari ke-8 merupakan suhu terendah yang berkisar 29-30 AC. Hasil pengamatan suhu lubang pematangan tersaji pada Gambar 6. Pengamatan suhu tempat penelitian berbeda dengan suhu lubang pematangan, suhu tempat pematangan berkisar 27-47AC. Pengamatan suhu tempat pematangan dari hari 1-6 mengalami peningkatan. Suhu hari ke 4 suhu tempat pematangan sebesar 39AC dengan kelembaban 56,5% dan pengamatan hari ke-6 menunjukan suhu lebih tinggi mencapai 47AC dengan kelembaban 55%. Semakin rendah suhu maka kelembaban semakin meningkat, suhu dan kelembaban tempat penelitian disajikan pada Gambar 7. Waktu pengamatan Suhu (AC) Kelembaban (%) Gambar 7. Suhu dan kelembaban tempat penelitian 1 Pembahasan. Hasil . menunjukan bahwa. penggunaan daun. pisang kering dalam pematangan buah Pemberian perlakuan daun pisang kering sebagian dengan berat 108 g/0,5 m3 dan perlakuan daun pisang kering penuh dengan berat 216 g/0,5 m3 tidak memberikan laju pematangan yang signifikan. Daun pisang kering diduga dapat menahan laju respirasi dan transpirasi pada pemeraman buah. Daun pisang memiliki permeabilitas terhadap uap air karena pada daun pisan terdapat lapisan zat lilin dipermukaannya sehingga menahan laju respirasi dan transpirasi (Anggraini 2. Permukaan daun pisang tahan terhadap air dan melindungi bahan yang dikemas akibat tingginya suhu tempat penyimpanan sehingga menghambat terjadinya kehilangan air. Permeabilitas daun pisang yang tinggi menyebabkan CO2 menjadi tinggi dan O2 rendah. kondisi O2 yang rendah dapat menghambat laju respirasi sehinnga menyebabkan maa simpan lebih lama (Arisanta & Handriatni 2. Tingginya CO2 dan rendahnya O2 menyebabkan respirasi terhambat, produksi etilen menurun sehingga pembusukan melambat dan waktu pematangan semakin lambat (Kader 2. Kinerja etilen tak lepas dari peranan O2 sebagai aktifator, maka adanya permeabilitas O2 rendah pada pemeraman ke tiga perlakuan dibalut terpal akan memperhambat kinerja etilen, pengaruh etilen dalam pematangan terhambat. Kandungan zat lilin alami dalam daun pisang kering memiliki kadar 0,58% sampai 1,41% dari berat keringnya (Yanagida, et al. Etilen pada buah dapat memacu degradasi klorofil sehingga berdampak pada warna kulit buah yaitu Perubahan warna kuning buah pisang muncul karena hancurnya senyawa klorofil dan pada kulit buah terakumulasinya karotenoid (Kurniawan & Deglas 2. Setelah itu, degradasi klorofil memunculkan senyawa karotenoid . erutama karoten dan xantofi. sehingga berdampak munculnya warna kuning pada kulit buah pisang (Mahapatra et al. Pada hari ke 4 pisang telah matang, proses pematangan ditunjukan dengan adanya perubahan komposisi dari tekstur keras menjadi lunak, susut bobotnya meningkat dan Total padatan terlarut meningkat dan pada hari ke 6 ditandai dengan perubahan tekstur keras menjadi lunak, susut bobotnya meningkat, warna buah yang menunjukan dominan kuning setiap perlakuan. Buah pisang yang diberi perlakuan dengan daun pisang kering sebagian dan penuh memiliki kondisi fisiologis dan morfologis buah yang baik dari pada perlakuan tanpa daun pisang. Selain itu, proses pelunakan buah terjadi karena protopektin tidak larut menjadi asam pektat dan pektin (Murtadha et al. Perubahan warna buah pisang menjadi kuning merata dan aroma matang pisang lebih pekat menandakan buah pisang masak (Noufal, 2. Peningkatan suhu lingkungan dapat memengaruhi laju respirasi dan transpirasi pada pemeraman buah pisang yang berdampak pada susut bobot meningkat, kekerasan buah menurun dan total padatan terlarut, vitamin C menurun dan perubahan warna kulit pisang. Hal ini diduga bahwa pemeraman dibalut terpal dapat mengakumulasi suhu setiap lubang pematangan cenderung sama sehingga perbedaan laju pematangan tidak berbeda Lisawengeng et al. menegaskan dalam penelitianya bahwa peningkatan laju respirasi disebabkan adanya peningkatan suhu antara 0oC - 35oC. Perbedaan suhu memengaruhi laju transpirasi buah, semakin tinggi suhu maka laju transpirasi buah meningkat (Gardjito dan Swasti 2. Semakin 2023 | Jurnal Ilmiah Pertanian dan Peternakan | / Vol 1 No 1, 35-46 tinggi suhu maka kelembaban semakin rendah. Semakin meningkatnya Suhu maka kelembaban udara akan rendah menyebabkan penguapan padatan volatil termasuk air, etilen dan karbon dioksida sehingga buah akan cepat matang dan kehilangan beratnya (Murtiwulandari et al. Kenaikan Suhu menyebabkan penyerapan nutrisi mineral dan metabolisme karena peningkatan suhu sehingga transpirasi meningkat (Kurniawan & Deglas 2. Peningkatan suhu tempat penelitian memengaruhi respirasi buah dengan ditandai meningkatnya susut bobot, kekerasan buah menurun dan total padatan terlarut menurun. Hal ini sejalan penelitian Kanaya et al. yang menjelaskan bahwa proses respirasi akibat peningkatan suhu menyebabkan hilangnya air sehingga memengaruhi susut bobot buah selama proses pemeraman buah berlangsung. Semakin matang buah maka tingkat kekerasannya semakin lunak (Ulva & Deususi, 2. Perubahan komposisi buah terjadi karena tingginya laju respirasi buah maka meningkatnya transipirasi dengan ditandai hilangnya air dalam buah tanpa ada pasokan baru (Veronika 2. Alexandra & Nurlina . menjelaskan bahwa susut bobot adalah kehilangan berat buah selama proses pematangan dari awal penyimpanan hingga akhir penyimpanan karena adanya laju transpirasi dan respirasi. Bobot buah menurun setelah buah dipanen akibat kehilangan air dari proses transpirasi dan respirasi (Znidarcic et Peningkatan susut bobot mempengaruhi tekstur, penampilan dan rasa. Laju transpirasi mengakibatkan lapisan luar buah mengurangnya kadar air buah sehingga menyebabkan berbedanya bobot buah (Budiman et al. Total padatan terlarut meningkat seiring dengan proses pematangan buah dan menurun saat buah rusak dan busuk. Total padatan terlarut pada penelitian ini menunjukan angka 29,62 ABrix. Total padatan terlarut pada pisang yang masak mencapai angka 23,5 ABrix (Marriott et al. Buah pisang memiliki total padatan terlarut mencapai hingga 26,5 ABrix (Markiah et al. Adanya perubahan total padatan terlarut dipengaruhi oleh aktivitas etilen (Meysyaranta et al. Padatan terlarut juga disebabkan oleh adanya proses respirasi sehingga gula hasil matabolisme pati terakumulasi (Murtadha et al. Peningkatan total padatan terlarut akan lebih cepat jika suhu ruang tinggi mengakibatkan buah akan cepat rusak (Ifmalinda & Windasari 2. Peningkatan suhu selama pemeraman akan meyebabkan pelunakan buah. Semakin lunak buah pisang maka menurunkan kadar vitamin C. Oktoviana et al. menyatakan bahwa penurunan kadar vitamin C terjadi karena adanya laju respirasi yang semakin cepat. Percobaan menggunakan ketiga perlakuan bobot daun pisang kering tidak menyebabkan adanya perbedaan suhu pada lubang pematangan sehingga pematangan terjadi pada hari yang sama yaitu hari ke empat. Ketiga perlakuan penelitian ini memiliki selisih 3 hari lebih cepat dari pisang yang disimpan dalam suhu ruang . Ikhsan et al. menyatakan bahwa pisang pada suhu lingkungan . ,3AC) menunjukan pematangan pada hari ke 7. Kesimpulan Penggunaan bobot daun pisang kering tidak mempercepat proses pematangan buah pisang, dan pematangan buah pada ketiga perlakuan bobot daun pisang kering menunjukkan hasil yang sama dengan waktu pematangan yang terjadi pada hari yang sama. Daftar Pustaka