Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia (JIKKI) Volume 5 Nomor 3. November 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 314-322 DOI: https://doi. org/10. 55606/jikki. Tersedia: https://researchhub. id/index. php/jikki Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Facto. Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale Var Amaru. dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS Nila Ulliyatun Nur Syarofa. Berliansyah Rahmadani Putrianto. Tarisa Martha Sari. Bima Tutus Widiyanto. Selly Agustina . Ulvi Rohmawati. Diyan Sakti Purwanto* D3 Farmasi. Politeknik Indonusa Surakarta,Indonesia Alamat: Jl. H Samanhudi No. Bumi. Kec. Laweyan. Kota Surakarta. Jawa Tengah 57142 Penulios Korespondensi : diyansakti@poltekindonusa. Abstract. Zingiber officinale Var. Amarum . ommonly known as jahe empri. is a local ginger variety recognized for its richness in bioactive compounds, including flavonoids, phenolics, tannins, saponins, and terpenoids, which are widely reported to possess antioxidant properties and the ability to absorb ultraviolet (UV) radiation. These characteristics highlight its potential as a natural source of photoprotective agents. The present study was conducted to evaluate the Sun Protection Factor (SPF) of ginger rhizome distillation waste and to perform phytochemical screening in order to identify its secondary metabolite content. Distillation was performed on 250 grams of fresh ginger rhizomes using a solvent ratio of 1:2 . The process yielded 130 mL of liquid waste with a 52% recovery rate and retained the distinctive aromatic profile of ginger. Phytochemical analysis revealed the presence of flavonoids, phenolics, saponins, and phytosterols, while alkaloids were detected only in trace amounts, suggesting the waste still contains valuable bioactive constituents despite undergoing distillation. Determination of SPF was carried out using the Mansur spectrophotometric method, which measures absorbance within the wavelength range of 290Ae320 nm at 5 nm intervals. The extract demonstrated an average SPF value of 29, which is categorized as ultra protection, indicating a very high level of photoprotective capacity. These results confirm that ginger rhizome distillation waste retains compounds with strong UV absorption and antioxidant potential, supporting its use as an active ingredient in sunscreen formulations. Beyond its functional efficacy, the utilization of this by-product also promotes sustainability by reducing waste from the essential oil industry and contributing to eco-friendly cosmetic innovation. In conclusion, the study provides scientific evidence that ginger distillation waste can be valorized into high-value products, offering both environmental and economic benefits while meeting the growing demand for natural and safe alternatives in skincare formulations. Keywords: Emprit ginger. Natural sunsreen. Phytochemical screening. Sun Protection Factor . UV-VIS Abstrak. Zingiber officinale Var. Amarum . mumnya dikenal sebagai jahe empri. adalah varietas jahe lokal yang dikenal kaya akan senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan terpenoid, yang secara luas dilaporkan memiliki sifat antioksidan dan kemampuan menyerap radiasi ultraviolet (UV). Karakteristik ini menyoroti potensinya sebagai sumber alami agen fotoprotektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi Faktor Perlindungan Matahari (SPF) dari limbah distilasi rimpang jahe dan melakukan skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekundernya. Distilasi dilakukan pada 250 gram rimpang jahe segar dengan rasio pelarut 1:2 . Proses ini menghasilkan 130 mL limbah cair dengan tingkat pemulihan 52% dan mempertahankan profil aromatik khas jahe. Analisis fitokimia menunjukkan adanya flavonoid, fenolik, saponin, dan fitosterol, sementara alkaloid hanya terdeteksi dalam jumlah renik, menunjukkan bahwa limbah tersebut masih mengandung konstituen bioaktif yang berharga meskipun telah melalui proses distilasi. Penentuan SPF dilakukan menggunakan metode spektrofotometri Mansur, yang mengukur absorbansi dalam rentang panjang gelombang 290Ae320 nm pada interval 5 nm. Ekstrak menunjukkan nilai SPF rata-rata 39,29, yang dikategorikan sebagai perlindungan ultra, menunjukkan tingkat kapasitas fotoprotektif yang sangat tinggi. Hasil ini menegaskan bahwa limbah distilasi rimpang jahe mempertahankan senyawa dengan daya serap UV dan potensi antioksidan yang kuat, mendukung penggunaannya sebagai bahan aktif dalam formulasi tabir surya. Selain efikasi fungsionalnya, pemanfaatan produk sampingan ini juga mendorong keberlanjutan dengan mengurangi limbah dari industri minyak esensial dan berkontribusi pada inovasi kosmetik ramah lingkungan. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa limbah penyulingan jahe dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi. Naskah Masuk: 17 Juli 2025. Revisi: 31 Juli 2025. Diterima: 24 Agustus 2025. Tersedia: 27 Agustus 2025. Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Facto. Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale Var Amaru. dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS yang menawarkan manfaat lingkungan dan ekonomi sekaligus memenuhi permintaan yang terus meningkat akan alternatif alami dan aman dalam formulasi perawatan kulit. Kata kunci Rimpang jahe emprit. Skrining fitokimia. Spektrofotometri UV-VIS. Sun Protection Factor. Tabir surya alami LATAR BELAKANG Paparan sinar ultraviolet (UV) matahari secara berlebihan dapat mengakibatkan gangguan pada kulit. Di antaranya adalah penuaan dini, peradangan kulit . , flek kecokelatan . , dan meningkatkan risiko kanker kulit. Penggunaan tabir surya adalah perlindungan utama dari dampak buruk sinar matahari. Namun, sebagian besar tabir surya yang dijual di pasaran mengandung bahan kimia sintetis yang berpotensi mengiritasi kulit dan merusak lingkungan. Hal ini mendorong pengembangan tabir surya berbahan aktif alami dari tanaman herbal sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan (Saepudin et al. Rimpang jahe emprit (Zingiber officinale var. Amaru. merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki potensi untuk dijadikan bahan aktif dalam tabir surya. Berbagai metabolit sekunder yang ada di dalam rimpang ini seperti flavonoid, fenol, tanin, terpenoid, dan minyak atsiri diketahui memiliki peran penting dalam menjaga kulit dari dampak negatif paparan sinar Flavonoid dan tanin memiliki gugus kromofor yang dapat menyerap radiasi UV, sehingga mengurangi penetrasi sinar tersebut dalam kulit. Sementara minyak atsiri yang bersifat volatil memiliki efek antioksidan dan proteksi kulit. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari rimpang jahe merah dengan konsentrasi 3 % mampu mencapai nilai SPF 25,89 mengindikasikan potensi tinggi jahe sebagai agen aktif dalam produk tabir surya alami (Antari et al. , 2. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari limbah rimpang jahe . aik jahe emprit maupun varian loka. menggunakan metode spektrofotometri UVAcVis serta untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder melalui uji skrining fitokimia. Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi ilmiah berupa data potensi limbah rimpang jahe sebagai bahan aktif dalam produk perlindungan kulit terhadap sinar matahari, sekaligus mendukung prinsip pemanfaatan limbah tanaman obat secara optimal. JIKKI - VOLUME 5 NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 314-322 KAJIAN TEORITIS Penelitian mengenai tanaman herbal lain juga memperkuat bukti bahwa proses pengolahan dapat memengaruhi kandungan zat aktif dan aktivitas biologisnya. Penelitian (Purwanto et al. , 2. menunjukkan bahwa proses purifikasi ekstrak etanol 50% daun kelor (Moringa oleifera L. ) dapat meningkatkan jumlah senyawa bermanfaat. Peningkatan ini meliputi flavonoid, -karoten, saponin, dan tanin yang semuanya dikenal memiliki efek antioksidan yang kuat. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya pengolahan dan pemanfaatan limbah tanaman obat untuk meningkatkan aktivitas fungsionalnya. Hal ini relevan dengan pemanfaatan limbah destilasi rimpang jahe yang meskipun merupakan produk samping, masih berpotensi mengandung metabolit sekunder dengan aktivitas protektif terhadap radiasi UV. METODE PENELITIAN Alat Penelitian ini menggunakan berbagai peralatan laboratorium, seperti timbangan analitik, pH meter, dan spektrofotometer UV-Visible. Selain itu, digunakan juga alat destilasi dan alat-alat gelas standar yang biasa ada di laboratorium. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rimpang jahe emprit (Zingiber Officinale Var Amaru. segar didapatkan dari pasar Projo Ambarawa Jl. Jend. Sudirman. Kupang. Kec. Ambarawa. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah 50614, larutan FeCI3 10%, larutan 1% glatin, larutan NaOH 4%, larutan timbal asetat, etanol 96%, dan air suling. Prosedur ) Pembuatan Hidrosol Rimpang Jahe Rimpang jahe emprit segar dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil, kemudian rimpang jahe emprit dimasukkan ke dalam labu destilat dan ditambahkan air sebagai pelarut, hidrosol dibuat dengan cara destilasi menggunakan alat destilasi, metode pemisahan yang diterapkan untuk memisahkan campuran zat cair didasarkan pada perbedaan titik didih yang besar di antara komponen-komponennya. Setelah pemisahan di dapatkan hidrosol dan limbah cair, pada penelitian ini mengunakan limbah cair rimpang jahe sebagai Sun Protection Factor (SPF) (Itamar et al. , 2. Perhitungan rendemen limbah dititung dengan rumus berikut: Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Facto. Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale Var Amaru. dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS ycyeIyeayeIyeIyeayeIyea (%) = yaAyayayaoya yauyayayauyaoya . y yayaya yaAyayayaoya yayaoyayayayau . ) Skrinnig Fitokimia Skrinning Fitokimia limbah destilat rimpang jahe meliputi uji Alkaloid. Saponin. Fitoserol. Fenolik. Tanin dan Flavonoid. 1 ml filtrat dipindahkan ke dalam tabung reaksi untuk diuji kandungan metabolit sekundernya. ) Uji Alkaloid Mayer Test : tambahkan reagen mayer . alium iodida merkur. ke dalam filtrat. Jika terbentuk endapan kuning, ini menandakan adanya alkaloid. Bila diperlukan, proses ini dapat dipercepat dengan sentrifugasi. Dragendoff Test : tambahkan reagen dragendorff . arutan kalium iodida bismu. ke dalam filtrat. Jika terbentuk endapan berwarna merah, itu menandakan adanya Jika perlu, lakukan sentrifugasi untuk memperjelas endapan. Wagner Test : tambahkan reagen wagner ( larutan kalium iodida dan iodin. ke dalam filtrat. Pembentukan merah bata/jingga/coklat menunjukan adanya alkaloid. Apabila perlu sentrifugasi. ) Uji Saponin Foam Test: sebanyak 2 ml air ditambahkan ke dalam filtrat, kemudian dikocok kuat selama 30 detik. Apabila busa yang terbentuk bertahan semama satu menit, hal ini menandakan bahwa filtrat tersebut mengandung saponin. ) Uji Fitoserol Salkowaki Test: filtrat di tambah dengan bebrapa asam sulfat pekat, digojok dan Perubahan warna menjadi kuning keemasan menunjukan kehadiran fitosrol. Liberman Burchard Test: Filtrat ditambah dengan beberapa tetes asetat anhidrat, dipanaskan sipenagas air dan didinginkam. Ditambah Asam sulfat pada dinding tabung reaksi menyebabkan terbentuknya cincin coklat, yang mengindikasikan adanya senyawa ) Uji Fenolik Fitrat ditambahakan dengan 3-4 tetes larutan FeCI3 10%, jika tetrbentuk larutan berwarna hitam kebiruan menunjukan ekstrak positif mengandung senyawa golongan fenol (Badriyah et al. , 2. JIKKI - VOLUME 5 NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 314-322 ) Uji Tanin Untuk mendeteksi keberadaan tanin, tambahkan larutan gelatin 1% yang mengandung NaCl ke dalam filtrat. Pembentukan endapan berwarna putih menandakan adanya senyawa tanin. Proses sentrifugasi dapat dilakukan untuk membantu memisahkan dan mengamati endapan tersebut. ) Uji Flavanoid Alkali test: fitrat diuji dengan menambahkan sedikit larutan natrium hidroksida (NaOH). Jika ekstrak mengandung flavonoid, larutan akan berubah menjadi kuning Warna kuning ini akan memudar atau hilang setelah ditambahkan larutan asam Pengujian dengan timble asetat: tambahkan beberapa tetes larutan timbal asetat ke dalam sampel. Pembentukan endapan berwarna kuning adalah indikasi positif adanya senyawa flavonoid. Untuk hasil yang lebih jelas, endapan bisa dipisahkan menggunakan proses sentrifugasi (Tinta JulianawatiHendy Hendarto, 2. Penentuan Nilai SPF pada Limbah Rimpang Jahe Nilai SPF ditentukan dengan mengukur absorbansi limbah rimpang jahe. Pengukuran absorbansi dilakukan mengunakan spektromotometer Uv-Vis setiap 5 nm dari panjang gelombang 290 nm sampai 320 nm. Limbah rimpang jahe diambil sebanyak 4 ml. Penetuan nilai SPF dilakukan sebanyak 3 kali replikasi pada limbah. Blanko yang dipakai menggunakan etanol 96%. Setelah absorbansi diperoleh, nilai tersebut dihitung menggunakan rumus metode mansur. SPF = CF X OcEE () X I () X Abs () Keterangan: = Faktor Koreks . Abs = Absorbansi sampel = Efektivas Eritema yang disebabkan sinar Uv pada panjang gelombang nm I = Intensitas sinar Uv pada panjang gelombang nm Hasil nilai SPF (Sun Protection Facto. yang didapat kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori yang telah ditentukan. Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Facto. Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale Var Amaru. dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS Tabel 1. Kategori SPF Nilai SPF >15 Kategori Proteksi minimal Proteksi sedang Proteksiekstra Proteksi maksimal Proteksi ultra Sumber: (Fitra selvina, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Limbah destilasi yang diperoleh dari 250 g rimpang jahe emprit menghasilkan sekitar 130 mL limbah cair. Limbah tersebut memiliki aroma khas jahe yang kuat, dengan warna cokelat kekuningan (Hardiyanti, 2. Rendemen limbah dihitung sebagai berikut: yaycya y yayaya yayeya ycyeIyeayeIyeIyeayeIyea (%) = yeya% ycyeIyeayeIyeIyeayeIyea (%) = Rendemen limbah destilasi rimpang jahe emprit yaitu 52%. Perolehan rendemen ini menunjukkan bahwa sisa destilasi masih cukup banyak, meskipun sebagian komponen volatil telah teruapkan selama proses penyulingan (Zulkarnain, 2. Hal ini mendukung bahwa limbah destilasi rimpang jahe masih berpotensi mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, dan tanin yang bersifat polar serta tidak mudah teruapkan. Skrining Fitokimia Skrinning Fitokimia limbah destilasi rimpang jahe meliputi uji Alkaloid. Saponin. Fitoserol. Fenolik. Tanin dan Flavonoid. Tabel 2. Hasil skrining fitokimia limbah jahe Pemeriksaan Alkaloid Saponin Fenolik Tanin Flavonoid Fitosterol Preaksi Dangdroff Aquadest FeCl3 Gliserin yang mengandung NaCl Alkali Liberman Burchard Hasil Keterangan: ( ) mengandung golongan senyawa, (-) tidak mengandung golongan senyawa Berdasarkan skining fitokimia, limbah rimpang jahe terbukti mengandung senyawa, seperti alkaloid, saponin, fenolik, flavonoid, dan fitosterol (Mangunsong et al. , 2. Hasil ini memperkuat bahwa limbah destilasi rimpang jahe emprit masih mengandung metabolit sekunder polar yang tidak teruapkan selama proses distilasi. Senyawa flavonoid dan tanin JIKKI - VOLUME 5 NOMOR 3. NOVEMBER 2025 E-ISSN : 2827-797X. P-ISSN : 2827-8488. Hal 314-322 memiliki gugus kromofor, yang berfungsi untuk menyerap radiasi UV, sehingga berperan penting dalam aktivitas proteksi kulit (Rahmati & Lestari, 2. Selain itu, senyawa fenolik adalah antioksidan kuat yang mampu menetralkan radikal bebas akibat paparan sinar matahari. Dengan demikian, skrining fitokimia ini menegaskan potensi limbah destilasi rimpang jahe emprit sebagai bahan aktif alami dalam formulasi tabir surya (Putri et al. , 2. Hasil uji SPF Limbah Rimpang Jahe Nilai SPF dihitung menggunakan metode mansur dengan mengukur absorbansi pada rentang panjang goelombang 290-320 nm (Aris & Adriana, 2. Berikut adalah rumus utntuk perhitungan nilai SPF dengan metode mansur: SPF = CF X OcEE () X I () X Abs () Keterangan: = Faktor Koreks . Abs = Absorbansi sampel = Efektivas Eritema yang disebabkan sinar Uv pada panjang gelombang nm = Intensitas sinar Uv pada panjang gelombang nm Tabel 3. Hasil uji SPF limbah rimpang jahe Panjang Gelombang . Total EE x l Absorbansi EE x l x Absorbansi 0,015 0,0817 0,2874 0,3278 0,1864 0,0839 0,018 3,628 3,688 3,888 4,000 4,000 4,000 3,493 0,06 0,2964076 1,1174112 1,3112 0,7456 0,3356 0,062874 3,929 SPF = CFyTotal = 10y3,929 = 39,29 Nilai SPF limbah rimpang jahe emprit menunjukkan rataAcrata sebesar 39,29 yang termasuk kategori proteksi sangat tinggi. Nilai SPF sebesar 39,29 menunjukkan bahwa limbah destilasi rimpang jahe emprit memiliki potensi proteksi sangat kuat terhadap sinar ultraviolet. Menurut klasifikasi proteksi tabir surya, nilai SPF di atas 30 termasuk dalam kategori proteksi ultra (Suhesti, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Wulandari, 2. yang juga melaporkan bahwa ekstrak etanol rimpang jahe merah pada konsentrasi 3% mampu mencapai nilai SPF Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Facto. Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale Var Amaru. dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS 25,89 dalam formulasi lotion, termasuk kategori proteksi ultra. Bahkan, residu hasil destilasi yang diuji dalam penelitian ini memberikan nilai SPF yang lebih tinggi, memperkuat argumen bahwa limbah destilasi jahe masih kaya senyawa bioaktif (Sugihartini et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah destilasi rimpang jahe emprit dari 250 g simplisia menghasilkan 130 mL residu beraroma khas jahe yang masih mengandung senyawa berupa flavonoid, fenolik, saponin, alkaloid dan fitosterol yang diketahui memiliki kemampuan menyerap radiasi UV dan aktivitas antioksidan. Berdasarkan pengujian dengan metode spektrofotometri UV-Vis, didapatkan nilai SPF rataAcrata 39,29 yang tergolong proteksi ultra, sehingga limbah destilasi ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam formulasi kosmetik tabir surya, sekaligus mendukung pemanfaatan limbah tanaman obat secara lebih optimal dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH