Volume Volume 33 (No. (No. : 157 157 -- 163 163 Tahun Tahun 2026 Pemanfaatan Limbah Obat Kedaluwarsa sebagai Adsorben dalam Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Nurul Arsyi1*. Risanyel Elsan Tuturop2. Aisya Usili3 Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong *Email: arsynurul809@gmail. Abstract Expired pharmaceutical waste is increasingly recognized as a significant environmental pollutant due to its persistent active compounds that can contaminate water systems. Hospitals generate substantial amounts of pharmaceutical waste, including unused liquid and solid drugs. This study aims to utilize expired drugs as raw material for adsorbent production through carbonization and chemical activation processes, thereby offering a sustainable solution for hospital wastewater The methodology involved collecting expired drugs, subjecting them to hightemperature carbonization, and applying chemical activation to enhance surface area and adsorption capacity. Adsorption tests were conducted on hospital wastewater samples, focusing on COD. BOD, and heavy metal parameters. Results demonstrated that drug-derived adsorbents reduced COD and BOD levels by up to 60% and showed significant efficiency in heavy metal Compared to commercial adsorbents, the performance of expired drug-based adsorbents was competitive, while also being cost-effective and environmentally friendly. This research highlights the dual benefits of reducing pharmaceutical waste and providing an alternative adsorbent material for wastewater treatment. The findings support the concept of circular economy in pharmaceutical waste management, emphasizing resource recovery and environmental sustainability. Keywords: Expired Drug Waste. Adsorption Test. Adsorbent. Wastewater Treatment. Carbonization Process Abstrak Limbah obat kedaluwarsa merupakan salah satu sumber pencemar yang semakin mendapat perhatian karena kandungan senyawa aktifnya dapat bertahan lama di lingkungan dan menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas air. Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan menghasilkan limbah farmasi dalam jumlah signifikan, baik berupa obat cair maupun padat yang tidak lagi digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah obat kedaluwarsa sebagai bahan baku pembuatan adsorben melalui proses karbonisasi dan aktivasi, sehingga dapat digunakan dalam pengolahan air limbah rumah sakit. Metode penelitian meliputi pengumpulan limbah obat, proses karbonisasi pada suhu tinggi, serta aktivasi kimia untuk meningkatkan luas permukaan dan kapasitas adsorpsi. Uji adsorpsi dilakukan terhadap parameter COD. BOD, dan logam berat pada sampel air limbah rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorben berbasis limbah obat mampu menurunkan kadar COD dan BOD hingga 60%, serta menunjukkan kemampuan menyerap ion logam berat dengan efisiensi yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan adsorben komersial, adsorben dari limbah obat memiliki kinerja yang kompetitif sekaligus menawarkan solusi ramah lingkungan dan berbiaya rendah. Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan limbah obat kedaluwarsa tidak hanya mengurangi potensi pencemaran, tetapi juga mendukung konsep circular economy dalam pengelolaan limbah farmasi. Kata Kunci: Limbah Obat Kadaluarsa. Uji Adsorpsi. Adsorben. Pengolahan Air Limbah. Proses Karbonisasi. Diterima 27 April 2026. Disetujui 27 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 157 - 163 Tahun 2026 Pendahuluan Limbah farmasi, khususnya obat kedaluwarsa, semakin mendapat perhatian karena kandungan senyawa aktifnya dapat bertahan lama di lingkungan dan menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan menghasilkan limbah farmasi dalam jumlah signifikan, baik berupa obat cair maupun padat yang tidak lagi digunakan. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat mencemari sumber air dan menimbulkan risiko kesehatan masyarakat. Penelitian terdahulu di Indonesia menunjukkan bahwa limbah farmasi memiliki kontribusi terhadap pencemaran air rumah sakit yang cukup tinggi . Upaya pemanfaatan limbah sebagai sumber energi maupun material fungsional telah banyak dilakukan. Annur dkk. menegaskan bahwa perengkahan katalitik Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi biofuel menunjukkan potensi besar pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi alternatif . Prinsip ini dapat diterapkan pada limbah farmasi, di mana senyawa aktifnya dapat diolah menjadi material adsorben. Tambun dkk. juga menunjukkan bahwa palm stearin dapat dikonversi menjadi biofuel dengan katalis ZSM-5, memperlihatkan bahwa limbah dengan kandungan organik tinggi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah . Penelitian lain oleh Blesvid dkk. menegaskan bahwa pemanfaatan limbah sebagai bahan baku memerlukan optimasi proses, sama halnya dengan karbonisasi limbah farmasi untuk menghasilkan adsorben berkualitas . Mirzayanti dkk. mengembangkan katalis Zn-Mo/HZSM-5 untuk hidrocracking minyak nabati, menunjukkan bahwa teknologi katalitik dapat meningkatkan efisiensi konversi limbah, prinsip yang relevan dengan aktivasi kimia limbah farmasi . Rasyid dkk. meneliti hydrocracking minyak Calophyllum dengan katalis non-sulfida CoMo dan menemukan bahwa proses kimia dapat mengubah senyawa aktif menjadi produk energi . Sirajudin dkk. menekankan bahwa produksi biofuel dari minyak sawit melalui catalytic cracking dapat menjadi solusi energi berkelanjutan, sejalan dengan upaya menjadikan obat kedaluwarsa sebagai adsorben ramah lingkungan . Hazzamy & Zahrina menunjukkan bahwa minyak goreng bekas dapat diolah melalui catalytic cracking dengan katalis fly ash, menegaskan bahwa limbah sehari-hari dapat diubah menjadi produk Dengan analogi ini, obat kedaluwarsa dapat diproses menjadi karbon aktif untuk pengolahan air limbah rumah sakit . Yulianto dkk. mengembangkan desain kontrol PID untuk tungku biofuel menggunakan Arduino, menekankan pentingnya sistem kontrol dalam proses konversi limbah. Dalam konteks penelitian ini, kontrol proses karbonisasi dan aktivasi limbah farmasi menjadi kunci untuk menghasilkan adsorben berkualitas . Prajitno dkk. meneliti produksi biofuel dari minyak kemiri dengan katalis Zn/HZSM-5 dan menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah nabati dapat menghasilkan energi alternatif. Prinsip ini mendukung gagasan bahwa limbah farmasi juga dapat dimanfaatkan sebagai material fungsional untuk pengolahan air limbah . Selain penelitian nasional, hasil penelitian internasional juga mendukung pendekatan ini. Fujishima & Honda memperkenalkan konsep fotolisis elektrokimia menggunakan semikonduktor untuk pemurnian air, yang menjadi tonggak awal teknologi fotokatalisis . Penelitian lanjutan oleh Chong . Zhang dkk. , dan Pelaez dkk. menegaskan bahwa nanoteknologi berbasis TiOCC efektif mendegradasi senyawa farmasi dalam air limbah. Walaupun penelitian ini fokus pada adsorben berbasis limbah obat, integrasi dengan teknologi fotokatalis dapat menjadi arah pengembangan di masa depan . Ae. Metode 1 Pengumpulan Limbah Obat Kedaluwarsa Limbah obat kedaluwarsa dikumpulkan dari apotek dan rumah sakit yang memiliki stok obat tidak terpakai. Jenis obat yang akan di proses: obat padat . ablet, kapsu. dan cair . irup, injeks. dipisahkan untuk memudahkan proses. Diterima 27 April 2026. Disetujui 27 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 157 - 163 Tahun 2026 Prosedur: Obat padat dihancurkan menjadi serbuk halus, sedangkan obat cair dikeringkan dengan oven pada suhu A60 AC hingga diperoleh residu padat. Bertujuan menstandarkan bahan baku sebelum masuk tahap karbonisasi. 2 Proses Karbonisasi Tahap awal. Serbuk limbah obat dimasukkan ke dalam furnace. Pengaturan suhu, karbonisasi dilakukan pada suhu 400Ae600 AC selama 2Ae3 jam dalam kondisi terbatas oksigen. Tahapan hasilnya berbentuk arang . dengan struktur karbon dasar. Proses ini bertujuan menghilangkan senyawa volatil dan meningkatkan kandungan karbon. 3 Aktivasi Kimia Bahan aktivator ialah HCl 1 M atau KOH 1 M digunakan untuk meningkatkan luas permukaan dan porositas. Prosedurnya yaitu arang hasil karbonisasi direndam dalam larutan aktivator selama 24 jam, kemudian dikeringkan. Tahap akhir yaitu pemanasan ulang pada suhu 700Ae800 AC selama 1Ae2 jam untuk memperkuat struktur pori. Bertujuan menghasilkan adsorben dengan kapasitas adsorpsi tinggi terhadap senyawa organik dan logam berat. 4 Uji Adsorpsi Sampel berupa air limbah rumah sakit diambil dari saluran pembuangan . nlet IPAL). Parameter yaitu COD (Chemical Oxygen Deman. BOD (Biological Oxygen Deman. , dan konsentrasi logam berat (Pb. Cd. Prosedurnya yaitu: Eo Adsorben dimasukkan ke dalam 500 mL sampel air limbah dengan variasi dosis . g, 2 g, 5 . Eo Waktu kontak: 30, 60, 120 menit dengan pengadukan konstan. Eo Setelah proses, sampel disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan AAS (Atomic Absorption Spectroscop. Eo Analisis: Efisiensi penurunan COD. BOD, dan logam berat dihitung dalam persentase. Gambar 1. Alat Karbonisasi . Bahan Aktivator . Alat Uji adsorpsi UV-VIS Spectrophotometer . , dan alat analisis Logam Berat Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) . Diterima 27 April 2026. Disetujui 27 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 157 - 163 Tahun 2026 5 Analisis Data Metode digunakan pada data hasil uji, kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu air limbah rumah sakit (Permenkes RI). Statistik menggunakan analisis ANOVA, digunakan untuk melihat perbedaan signifikan antar variasi dosis dan waktu kontak. Pada tahap validasi yaitu hasil dibandingkan dengan kinerja adsorben komersial . ctivated carbo. sebagai kontrol. Metode ini menekankan circular economy, yaitu mengubah limbah farmasi menjadi material Hasil abstrak menunjukkan bahwa adsorben mampu menurunkan COD dan BOD hingga 60% serta menyerap logam berat dengan efisiensi tinggi. Tahapan karbonisasi dan aktivasi kimia adalah kunci untuk meningkatkan kualitas adsorben. Hasil dan Pembahasan Data ini mencakup hasil uji COD. BOD dan logam berat dibandingkan dengan standarbbaku mutu air limbah Rumah Sakit (Permenkes RI No. 7 Tahun 2. Eo Eo Eo Eo Eo COD: O 100 mg/L BOD: O 30 mg/L Pb (Timba. : O 0. 1 mg/L Cd (Kadmiu. : O 0. 05 mg/L Hg (Merkur. : O 0. 005 mg/L Tabel 1. Hasil uji COD. BOD dan Logam Berat dengan Variasi Dosis Adsorben Limbah Obat Dosis Waktu COD BOD Ket. Adsorben Kontak . g/L) . g/L) . g/L) . g/L) . g/L) Tdk memenuhi 30 menit 0,08 0,01 . elebihi 0,1 mg/L) Tdk memenuhi 60 menit 0,15 0,06 0,008 Tdk memenuhi 120 menit 0,12 0,05 0,006 Tidak memenuhi 30 menit 0,18 0,07 0,009 Mememnuhi . epat di 60 menit 0,05 0,005 ambang bata. 120 menit 0,08 0,04 0,004 Mememnuhi Tdk memenuhi 30 menit 0,12 0,06 0,007 60 menit 0,09 0,05 0,005 Memenuhi. ibawah 0,1 mg/L) Memenuhi 120 menit 0,07 0,04 0,004 Data menunjukkan bahwa dosis 2 g dan 5 g dengan waktu kontak Ou 60 menit sudah memenuhi baku mutu Permenkes RI. Angka 0,09 mg/L . g, 60 meni. memang sudah di bawah ambang batas 0,1 mg/L, jadi masih memenuhi standar Permenkes RI, sehingga COD. BOD dan Pb yang semuanya berada Oambang batas pada kondisi tersebut. Diterima 27 April 2026. Disetujui 27 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 157 - 163 Tahun 2026 Gambar 2. Grafik penurunan COD. BOD dan Pb berdasarkan variasi dosis adsorben . g, 2 g, 5. dan waktu kontak . , 60, 120 meni. Grafik COD . menunjukkan penurunan signifikan terutama pada dosis 2 g dan 5 g setelah 60Ae120 COD turun hingga mendekati standar baku mutu (O 100 mg/L). Grafik BOD . , tren penurunan konsisten, dengan dosis 2 g dan 5 g mencapai O 30 mg/L pada 120 menit, sesuai standar Permenkes RI. Grafik Pb . , terlihat bahwa dosis 2 g . dan 5 g (Ou 60 meni. berhasil menurunkan kadar Pb hingga O 0,1 mg/L. Angka 0,09 mg/L . g, 60 meni. memang sudah di bawah ambang batas, sehingga memenuhi standar. Dosis optimum adalah 2 g dengan waktu kontak 120 menit karena efisien secara biaya dan sudah memenuhi baku mutu COD. BOD dan Pb Tabel 2. Perbandingan Efisiensi Adsorben Limbah Obat VS Activated Carbon (Kontro. Parameter COD Removal (%) BOD Removal (%) Pb Removal (%) Cd Removal (%) Hg Removal (%) Limbah Obat . g, 120 meni. Activated Carbon . g, 120 meni. Adsorben dari limbah obat kompetititf dengan activated carbon komersial, meskipun sedikit lebih rendah, tetapi tetap efektif dan ramah lingkungan. Analisis ANOVA Eo Faktor: Dosis adsorben . g, 2 g, 5 . dan waktu kontak . , 60, 120 meni. Eo Hasil: Nilai p < 0. 05 menunjukkan perbedaan signifikan antar variasi dosis dan waktu kontak terhadap penurunan COD dan BOD. Interaksi dosis y waktu kontak juga signifikan, artinya peningkatan dosis lebih efektif bila dikombinasikan dengan waktu kontak lebih lama. Diterima 27 April 2026. Disetujui 27 April 2026. Dipublikasikan 30 April 2026 Volume 3 (No. : 157 - 163 Tahun 2026 Eo Interpretasi: Dosis 2 g dengan waktu kontak 120 menit adalah kondisi optimum. Dosis 5 g tidak memberikan peningkatan signifikan dibanding 2 g, sehingga 2 g lebih efisien secara biaya. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah obat kedaluwarsa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku adsorben melalui proses karbonisasi dan aktivasi kimia. Adsorben yang dihasilkan terbukti mampu menurunkan kadar pencemar utama pada air limbah rumah sakit, seperti COD. BOD, serta logam berat, dengan efektivitas yang sebanding bahkan kompetitif terhadap adsorben komersial. Pendekatan ini tidak hanya memberikan solusi teknis dalam pengolahan limbah farmasi, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah berbahaya menjadi produk yang bermanfaat. Selain itu, penerapan metode ini berpotensi menekan biaya pengolahan limbah rumah sakit sekaligus mengurangi dampak lingkungan jangka panjang. Dengan demikian, pemanfaatan limbah obat kedaluwarsa sebagai adsorben merupakan strategi yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, serta dapat dijadikan alternatif inovatif dalam sistem pengelolaan limbah rumah sakit di Indonesia maupun secara global. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan Terima Kasih kepada Pengelola laboratorium Fakultas Farmasi yaitu Laboratorium Farmasetika. Laboratorium Bahan Alam. Laboratorium Instrumentasi. Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, atas dukungan fasilitas penelitian, serta rekan sejawat yang membantu dalam proses eksperimen. References