Jurnal Humaniora Vol. No. 505 - 520 http://jurnal. id/index. php/humaniora p-ISSN: 2684-9275 e-ISSN: 2548-9585 Pengaruh Mental Toughness dan Cultural Intelligence yang di Mediasi oleh Organizational Commitment terhadap Learning Goal Orientation pada Pegawai yang Bekerja secara Shifting di Pabrik Zahira Rabinawal Irsaputri 1. Netania Emilisa1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Trisakti. Jakarta, 11440. Indonesia netania@trisakti. https://doi. org/10. 30601/humaniora. v%vi%i. Published by Universitas Abulyatama Abstract Artikel Info Submitted: 20-09-2024 Revised: 20-10-2024 Accepted: 22-10-2024 Online first : 22-10-2024 This research aims to analyze mental toughness, cultural intelligence, organizational commitment, and learning goal orientation in shift workers at the Toyota Karawang factory. The method is quantitative with hypothesis testing, treating mental toughness and cultural intelligence as independent variables, organizational commitment as a connecting variable, and learning goal orientation as the dependent variable. Data was collected through a questionnaire with purposive sampling among Toyota Karawang workers. Minimum sample of 155 respondents. This research has the potential to contribute to the understanding of variable relationships in the Toyota Karawang factory work environment. The results of hypothesis testing show that Mental Toughness has a significant positive impact on Learning Goal Orientation, while Cultural Intelligence has a significant negative impact, and Organizational Commitment has a significant positive impact. However. Mental Toughness does not have a significant impact on Organizational Performance. Cultural Intelligence also has a significant negative impact on Organizational Commitment. Furthermore, no significant impact was found between Mental Toughness or Cultural Intelligence on Learning Goal Orientation which was mediated by Organizational Commitment. A study of shift workers at Toyota Karawang found that the average score for Mental Toughness. Cultural Intelligence. Organizational Commitment, and Learning Goal Orientation was Keywords: Budge Mental Toughness. Cultural Intelligence. Organizational Commitment. Learning Goal Orientation Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis mental toughness, cultural intelligence, organizational commitment, dan learning goal orientation pada pekerja shift di pabrik Toyota Karawang. Metodenya adalah kuantitatif dengan uji hipotesis, memperlakukan mental toughness dan cultural intelligence sebagai variabel bebas, organizational commitment sebagai variabel penghubung, dan learning goal orientation sebagai variabel terikat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan purposive sampling pada pekerja Toyota Karawang. Sampel minimal 155 responden. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi pada pemahaman hubungan variabel di lingkungan kerja pabrik Toyota Karawang. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Mental Toughness memiliki dampak positif yang signifikan pada Learning Goal Orientation, sementara Cultural Intelligence memiliki dampak negatif yang signifikan, dan Organizational Commitment memiliki dampak positif yang signifikan. Namun. Mental Toughness tidak memiliki dampak signifikan pada Organizational Performance. Cultural Intelligence juga memiliki dampak negatif yang signifikan pada Organizational Commitment. Selanjutnya, tidak ditemukan dampak signifikan antara Mental Toughness atau Cultural Intelligence pada Learning Goal Orientation yang dimediasi oleh Organizational Commitment. Studi pada pekerja shift di Toyota Karawang menemukan bahwa rata-rata nilai Mental Toughness. Cultural Intelligence. Organizational Commitment, dan Learning Goal Orientation adalah sekitar Kata kunci: Mental Toughness. Cultural Intelligence. Organizational Commitment. Learning Goal Orientation This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa PENDAHULUAN Shift kerja merupakan polawaktu kerja yang telah diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam. Proporsi pekerja shift semakin meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan oleh investasi yang dikeluarkan untuk pembelian mesin-mesin yang mengharuskan penggunaannya secara terus menerus siang dan malam untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Ratih et al. , 2. Menurut (Sudrajat et al. , 2. , menjadwalkan shift kerja diterapkan dengan maksud untuk memastikan kelancaran operasional dan pencapaian target selama jam kerja. Menurut UndangUndang No 13 Tahun 2003, standar jam kerja adalah 7 jam per hari dan 40 jam per minggu bagi karyawan yang bekerja selama 6 hari dalam seminggu. Sementara itu, bagi karyawan yang bekerja selama 5 hari dalam seminggu, mereka diwajibkan untuk bekerja selama 8 jam per Learning goal orientation mengacu pada keinginan anggota perusahaan untuk mengembangkan keterampilan baru, memperoleh kemampuan, dan menguasai situasi baru, penelitian yang ada menunjukkan bahwa Learning Goal Orientatioin meningkatkan upaya individu, efikasi diri, dan hasil kinerja di antara anggota perusahaan (Kang et al. , 2. Dukungan perusahaan, fasilitas, pelatihan, serta pengembangan keahlian menjadi krusial. Cultural intelligence dan mental toughness mungkin memainkan peran penting dalam meningkatkan keahlian pegawai yang bekerja dengan sistem shift. Organizational Commitment mengacu pada kesetiaan karyawan terhadap organisasi, rasa tanggung jawab mereka untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka, dan niat mereka untuk tetap berada di perusahaan (Loan, 2. Studi ini fokus pada pegawai shift untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan keahlian dalam menghadapi tuntutan ganda pekerjaan dan keahlian. Oleh karena itu, penelitian ini akan menyelidiki pengaruh mental thoughness terhadap cultural intelligence pegawai yang bekerja shifting. Itu juga akan menyelidiki apakah organizational commitment berfungsi sebagai mediator dalam hubungan ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang komponen yang memengaruhi peningkatan keahlian pegawai. Ini akan membantu perusahaan dan pegawai dalam meningkatkan keahlian walaupun bekerja secara shifting. A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa KAJIAN PUSTAKA Mental Toughness Menurut (Lee & Kim, 2. Mental Toughness adalah kombinasi dari tantangan, kendali, komitmen, dan kepercayaan diri. Perlu dicatat, kepercayaan diri merupakan faktor yang tidak ada dalam penelitian sebelumnya. Mental Toughness dapat diukur melalui konsistensi, fokus, kepercayaan diri, dan pengendalian diri individu, terutama dalam situasi yang menekan. Ini melibatkan keseimbangan emosional dan kemampuan untuk berkinerja optimal saat dihadapkan pada situasi yang menantang (Jones et al. , 2. Mental Toughness merupakan hal penting bagi pegawai yang bekerja dalam segala Menurut penelitian oleh Nurfauziyah. Hambali, dan Rahmat . , atribut ketangguhan mental meliputi keyakinan diri, motivasi, dan fokus pada gaya hidup. Penelitian lain oleh Gucciardi . menunjukkan bahwa ketangguhan mental juga mencakup kepercayaan diri, sikap teguh, ketahanan, dan kemampuan mengendalikan tekanan. Dalam situasi yang menantang, individu dengan ketangguhan mental akan tetap yakin, tegar, mampu mengatasi kesulitan, dan berkinerja baik. Cultural Intelligence Pegawai di pabrik yang bekerja bergantian harus memiliki culture intelligence agar menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Organisasi tentu menyadari bahwa setiap karyawan mempunyai latar belakang budaya atau kultur yang berbeda. Interaksi dengan rekan kerja dari berbagai belahan dunia membuat pentingnya meningkatkan kecerdasan budaya. Culture intelligence memainkan peran kunci dalam menjelaskan variasi dalam kompetensi lintas Keterampilan berinteraksi antar budaya menjadi penting dalam tim yang terdiri dari individu dengan latar belakang dan keahlian yang beragam. Culture intelligence (CQ) merupakan dimensi tambahan yang memperkaya pemahaman terhadap kecerdasan dalam berbagai konteks (Van Dyne et al. Culture intelligence hadir di dalam organisasi sebagai kemampuan yang dimiliki individu dalam memahami secara meluas, memiliki keyakinan dengan kemampuan yang dimiliki, memiliki ketertarikan dalam menghadapi pengalaman baru serta mampu menyesuaikan perilaku baik secara verbal maupun nonverbal dengan karakteristik multikultural untuk mencegah timbulnya hal-hal yang akan terjadi dalam situasi beragam latar budaya yang berbedabeda (Dahzuki et al. , 2. A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Organizational Commitment Komitmen organisasi adalah keadaan di mana karyawan mendukung tujuan organisasi dan ingin tetap menjadi bagian darinya (Lubis & Jaya, 2. Komitmen organisasi mendorong upaya aktif untuk keberhasilan organisasi, bukan hanya loyalitas pasif (Hidayat, 2. Karyawan yang memiliki komitmen kuat cenderung lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan memberikan kontribusi terbaiknya menurut Emilisa dan Kurniawan Aziza Idris . 3, . Pritanadhira . memperkenalkan teori komitmen organisasi Allen dan Meyer tahun 1990, yang mendefinisikannya sebagai kecenderungan untuk menjunjung keanggotaan dalam suatu organisasi sebagai suatu kewajiban. Komitmen ini menyangkut dimensi seperti keinginan untuk mempertahankan keanggotaan, keterikatan emosional, keinginan untuk tetap menjadi anggota dengan tetap berpegang pada norma, dan menimbang untung dan rugi. Teori ini menyoroti faktor-faktor yang membentuk komitmen organisasi dan memahami hubungan individu dengan organisasi melalui dimensi yang diusulkan ini. Neale dan Northcraft . yang dikutip dalam Lubis dan Jaya . mengidentifikasi tiga faktor komitmen: pribadi . sia, posisi, disposis. , organisasi . esain pekerjaan, kepemimpina. , dan non-organisasi . Menumbuhkan komitmen melibatkan memperjelas tujuan, mengkomunikasikan misi organisasi, dan memastikan keadilan. Komitmen organisasi memiliki tiga indikator: komitmen afektif . mosional dan identifikas. , komitmen kelanjutan . iaya meninggalkan organisas. , dan komitmen normatif . ewajiban untuk tetap bekerj. menurut (Meyer and Allen 1997 dalam Darmawan 2. Learning Goal Orientation Goal orientation, sebagaimana didefinisikan oleh (McCollum dan Kajs, 2. , (Kaplan & Maehr, 2. , (Midgley, 2. mengacu pada tujuan perilaku yang membentuk pendekatan karyawan terhadap pekerjaan. Ini mencakup keyakinan tentang tujuan dan pentingnya tujuan, dan ini menjelaskan mengapa individu berusaha keras untuk mencapai prestasi. Setiap individu memiliki orientasi tujuan yang berbeda-beda, sehingga memengaruhi respons kognitif, afektif, dan perilaku di tempat kerja. Menurut Midgley . , ada tiga jenis goal orientation yang meliputi: Mastery goal orientation, di mana individu ingin mengembangkan kompetensi dan pemahaman mereka. Fokusnya adalah pada tugas dan pembelajaran adaptif. Performance approach orientation, di mana individu berusaha untuk menunjukkan kompetensi dan keunggulan pribadi mereka. Perhatian A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa utama adalah pada diri sendiri dan pembelajaran adaptif atau maladaptif. Performance avoid goal orientation, di mana individu berusaha untuk menghindari penampilan yang menunjukkan Fokusnya tetap pada diri sendiri dan pembelajaran yang maladaptif. Maka, berdasarkan penjabaran atas masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian, dirumuskan rerangka dan hipotesis sebagai berikut: Mental Toughness Cultural Inteligence Goal Orientation Organizational Commitment Gambar 1. Rerangka Pemikiran Sumber: Data diolah Berdasarkan kerangka pemikiran dan rumusan masalah yang telah diungkapkan sebelumnya, maka penulis menarik hipotesis penelitian yang bersifat sementara dalam memecahkan permasalahan tersebut sebagai berikut: H1: Mental Toughness memiliki pengaruh yang positif terhadap Goal Orientation H2: Cultural Inteligance memiliki pengaruh yang positif terhadap Goal Orientation H3: Organizational Commitment memiliki pengaruh yang positif terhadap Goal Orientation. H4: Cultural Inteligance memiliki pengaruh yang positif terhadap Organizational Commitment. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan uji hipotesis untuk menguji pengaruh antara mental toughness, cultural intelligence, organizational commitment, dan learning goal orientation. Variabel-variabel tersebut dijelaskan sebagai variabel bebas . ental toughness dan cultural intelligenc. , variabel penghubung . rganizational commitmen. , dan variabel terikat . earning goal orientatio. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebar kepada pekerja di pabrik Toyota Karawang menggunakan teknik purposive sampling. Studi pustaka dilakukan untuk mendukung informasi dari berbagai sumber, termasuk literatur, artikel, dan studi sebelumnya. Dalam pengambilan sampel, penelitian ini menetapkan jumlah minimal responden sebanyak 155 dan maksimal 310, berdasarkan jumlah item pertanyaan. A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form kepada responden, dan data yang terkumpul diolah menggunakan Google Drive. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antar variabel tersebut dalam konteks lingkungan kerja pabrik Toyota Karawang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil Uji Validitas Tabel 1. Hasil Uji Validitas Mental Thoughness Item Dalam situasi yang penuh tekanan, saya dapat tetap fokus dan tenang. Factor loading Keterangan 0,520 Valid Saya melihat sebuah kegagalan sebagai kekalahan daripada kesempatan untuk belajar 0,592 Valid Dalam sebuah situasi yang stress atau frustasi, saya mampu mengontrol emosi. 0,547 Valid Saya tidak yakin bahwa saya dapat mencapai tujuan saya ketika ada hambatan. 0,757 Valid Ketika saya sedang tidak bersemangat, saya masih dapat memotivasi diri sendiri. 0,759 Valid Saya biasanya melihat setiap tantangan bukanlah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. 0,742 Valid Saya tidak memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk mencapai sebuah tujuan. 0,742 Valid Saya cenderung memiliki tingkat daya tahan yang tinggi dalam menghadapi situasi sulit atau tugas yang membutuhkan usaha ekstra. 0,556 Valid Sumber : Hasil Pengelolaan data Dari analisis pada tabel 1, terlihat bahwa uji validitas dilakukan terhadap variabel mental Semua indikator memiliki Factor Loading Ou 0,45. Oleh karena itu, semua item pernyataan dapat dianggap valid atau dapat diukur. Tabel 2. Hasil Uji Validitas Cultural Intelligence Item Sebelum berinteraksi dengan orang lain, saya tidak selalu mencari tahu mengenai budaya mereka. Factor loading Keterangan 0,462 Valid A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Ketika saya berada di lingkungan budaya yang berbeda, saya selalu berusaha memahami budaya yang ada. Berbicara tentang perbedaan budaya dan mengajukan pertanyaan untuk memahami perspektif orang lain membuat saya merasa nyaman. Saya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan bahasa dan cara saya berbicara agar sesuai dengan budaya orang Saya sulit menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya di lingkungan atau situasi baru. Saya tidak dapat berperilaku dengan baik saat berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang Saya menyadari stereotip budaya saya dan berusaha untuk menghindari prasangka saat berinteraksi dengan orang-orang dari budaya lain. Saya tidak merasa nyaman mengambil bagian dalam upacara atau tradisi budaya yang berbeda. Sumber : Hasil Pengelolaan data 0,627 Valid 0,572 Valid 0,468 Valid 0,730 Valid 0,741 Valid 0,106 Tidak Valid 0,442 Tidak Valid Dari analisis pada tabel 2, terlihat bahwa uji validitas dilakukan terhadap variabel Cultural Intelligence. Namun, hanya 6 indikator yang memiliki Factor Loading Ou 0,45. Oleh karena itu, item pernyataan yang tidak valid akan dikeluarkan. Lalu dilanjutkan dicari Factor Loading untuk item pernyataan yang valid. Tabel 3. Hasil Uji Validitas Organizational Commitment Item Factor loading Keterangan Saya dengan senang hati akan melakukan lebih banyak upaya 0,812 Valid untuk membantu organisasi berkembang. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah organisasi. 0,834 Valid Menurut pendapat saya, dengan mengikuti sebuah organisasi menjadi sebuah kesempatan yang besar dalam berkembangnya Saya tidak merasa memiliki hubungan yang kuat dengan rekanrekan di dalam organisasi. Saya percaya bahwa saya akan tetap bekerja di sebuah organisasi dalam jangka waktu yang panjang. Saya rasa, organisasi yang saya ikuti ini tidak memperlakukan karyawan dengan adil. Menurut saya, organisasi ini tidak menghargai seluruh hasil kerja yang telah saya lakukan. Saya memiliki rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan dari organisasi yang saya ikuti. Sumber : Hasil Pengelolaan data 0,792 Valid 0,602 Valid 0,722 Valid 0,674 Valid 0,558 Valid 0,797 Valid A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Dari analisis pada tabel 3, terlihat bahwa uji validitas dilakukan terhadap variabel Organizational Commitment. Semua indikator pernyataan memiliki Factor Loading Ou 0,45. Oleh karena itu, 8 item pernyataan tersebut dapat dianggap valid atau dapat diukur. Tabel 4. Hasil Uji Validitas Organizational Commitment Item Factor loading Saya selalu mencoba untuk memahami konsep-konsep baru saat belajar. Saya tidak berusaha untuk memperluas pemahaman saya tentang materi pembelajaran. Mengembangkan pengetahuan saya bukan tujuan utama saya dalam belajar. Ketika saya berhasil memahami konsep yang awalnya terlihat sulit, saya merasa puas. Saya tidak selalu mencari cara untuk memperluas Saya tidak selalu mencari cara untuk belajar lebih banyak, karena belajar adalah proses yang berkelanjutan. Saya selalu mencoba untuk memahami konsep-konsep baru saat belajar. Sumber : Hasil Pengelolaan data 0,615 0,687 0,787 0,601 0,835 0,802 0,615 Keterangan Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Dari analisis pada tabel 4, terlihat bahwa uji validitas dilakukan terhadap variabel Learning Goal Orientation. Semua indikator yang memiliki factor loading Ou 0,45. Oleh karena itu, 6 item pernyataan tersebut dapat dianggap valid atau dapat diukur. Hasil Uji Reliabilitas Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas Variabel Mental Thoughness Jumlah Item Pertanyaan CronbachAos Alpha 0,658 Ket. Reliabel Cultural Intelligence 0,675 Reliabel Organization Commitment 0,691 Reliabel Learning Goal Orientation Sumber : Hasil Pengelolaan data 0,709 Reliabel Dari tabel 5 yang disajikan, terlihat bahwa Coefficient CronbachAos Alpha telah digunakan untuk menguji reliabilitas instrumen yang terkait dengan variabel mental thoughness, cultural intelligence, organizational commitment, dan juga learning goal orientation. Hasil pengujian menunjukkan bahwa setiap instrumen memiliki nilai Coefficient CronbachAos Alpha yang melebihi A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa 0,60. Hal ini menunjukkan bahwa semua indikator yang ada dalam variabel penelitian dapat diandalkan . Hasil Uji Goodness of Fit Tabel 6. Hasil Uji Goodness of Fit Goodness Of Fit Index XA -Chi-square Criteria (Cut-off Valu. Diharapkan kecil Hasil 1035,48 Kesimpulan Goodness of Fit Ou 0,05 0,000 Poor of Fit RMSEA O 0,08 0,113 Poor of Fit NFI Ou 0,90 0,602 Poor of Fit RFI Ou 0,90 0,627 Poor of Fit TLI Ou 0,90 0,659 Poor of Fit CFI Ou 0,90 0,516 Poor of Fit GFI Ou 0,90 0,603 Poor of Fit 0,531 Goodness of Fit Significance probability AGFI O GFI Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Dari tabel dapat disimpulkan bahwa secara menyeluruh dari indikator-indikator pengujian Goodness of Fit sudah dinyatakan baik artinya terdapat dua indikator dikatakan goodness of fit. Maka untuk selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan ke pengujian hipotesis. Hasil Uji Statistik Deskriptif Tabel 7. Hasil Uji Statistik Deskriptif Mental Thoughness Item Dalam situasi yang penuh tekanan, saya dapat tetap fokus dan tenang. Saya melihat sebuah kegagalan sebagai kekalahan daripada kesempatan untuk belajar Dalam sebuah situasi yang stress atau frustasi, saya mampu mengontrol Saya tidak yakin bahwa saya dapat mencapai tujuan saya ketika ada Ketika saya sedang tidak bersemangat, saya masih dapat memotivasi diri Saya biasanya melihat setiap tantangan bukanlah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Saya tidak memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk mencapai sebuah Saya cenderung memiliki tingkat daya tahan yang tinggi dalam menghadapi situasi sulit atau tugas yang membutuhkan usaha ekstra. Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Mean 3,94 2,23 3,94 2,13 4,16 2,11 1,79 4,00 A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Berdasarkan tabel 7 diatas dapat diketahui total rata Ae rata sebesar 3,04, artinya Mental Thoughness perusahaan tersebut tergolong tinggi. Nilai rata Ae rata tertinggi sebesar 4,16 yang menunjukkan bahwa secara umum ketika karyawan sedang tidak bersemangat, karyawan masih dapat memotivasi diri sendiri. Tabel 8. Hasil Uji Statistik Deskriptif Cultural Intelligence Item Sebelum berinteraksi dengan orang lain, saya tidak selalu mencari tahu mengenai budaya mereka. Ketika saya berada di lingkungan budaya yang berbeda, saya selalu berusaha memahami budaya yang ada. Berbicara tentang perbedaan budaya dan mengajukan pertanyaan untuk memahami perspektif orang lain membuat saya merasa nyaman. Saya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan bahasa dan cara saya berbicara agar sesuai dengan budaya orang lain. Saya sulit menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya di lingkungan atau situasi baru. Saya tidak dapat berperilaku dengan baik saat berinteraksi dengan orangorang dari budaya yang berbeda. Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Mean 3,00 4,18 3,96 3,85 2,12 1,99 Berdasarkan tabel 8 diatas dapat diketahui total rata Ae rata sebesar 3,18, artinya perusahaan memiliki Cultural Intelligence tergolong tinggi. Nilai rata Ae rata tertinggi sebesar 4,18 yang menunjukkan bahwa Ketika karyawan berada di lingkungan budaya yang berbeda, karyawan selalu berusaha memahami budaya yang ada. Tabel 9. Hasil Uji Statistik Deskriptif Organizational Commitment Item Saya dengan senang hati akan melakukan lebih banyak upaya untuk membantu organisasi berkembang. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah organisasi. Menurut pendapat saya, dengan mengikuti sebuah organisasi menjadi sebuah kesempatan yang besar dalam berkembangnya karir. Saya tidak merasa memiliki hubungan yang kuat dengan rekan-rekan di dalam Saya percaya bahwa saya akan tetap bekerja di sebuah organisasi dalam jangka waktu yang panjang. Saya rasa, organisasi yang saya ikuti ini tidak memperlakukan karyawan dengan adil. Menurut saya, organisasi ini tidak menghargai seluruh hasil kerja yang telah saya lakukan. Saya memiliki rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan dari organisasi yang saya ikuti. Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Mean 4,27 4,20 4,18 2,06 3,96 1,98 2,03 4,19 A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Berdasarkan tabel 9 diatas dapat diketahui total rata Ae rata sebesar 3,36, artinya Organizational Commitment perusahaan tersebut tergolong tinggi. Nilai rata Ae rata tertinggi sebesar 4,27 yang menunjukkan bahwa Perusahaan meningkatkan reputasi dalam menjaga standar lingkungan yang tinggi dan karyawan dengan senang hati akan melakukan lebih banyak upaya untuk membantu organisasi berkembang. Tabel 10. Hasil Uji Statistik Deskriptif Learning Goal Orientation Item Saya selalu mencoba untuk memahami konsep-konsep baru saat belajar. Saya tidak berusaha untuk memperluas pemahaman saya tentang materi Mengembangkan pengetahuan saya bukan tujuan utama saya dalam Ketika saya berhasil memahami konsep yang awalnya terlihat sulit, saya merasa puas. Saya tidak selalu mencari cara untuk memperluas pengetahuan. Saya tidak selalu mencari cara untuk belajar lebih banyak, karena belajar adalah proses yang berkelanjutan. Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Mean 4,22 2,04 2,09 4,17 1,96 2,06 Berdasarkan tabel 10 diatas dapat diketahui total rata Ae rata sebesar 2,76, artinya Learning Goal Orientation karyawan terhadap perusahaan tersebut tergolong rendah. Nilai rata Ae rata tertinggi sebesar 4,22 yang menunjukkan bahwa karyawan selalu mencoba untuk memahami konsep-konsep baru saat belajar. Hasil Uji Hipotesis Tabel 11. Hasil Uji Hipotesis Hipotesis Mental Thoughness memiliki pengaruh positif terhadap Learning Goal Orientation. Cultural Intelligence memiliki pengaruh terhadap learning goal orientation Organizational commitment memiliki pengaruh terhadap learning goal orientation mental thoughness memiliki pengaruh terhadap organizational commitment cultural intelligence memiliki pengaruh terhadap organizational commitment mental thoughness memiliki pengaruh terhadap learning goal orientation yang dimediasi oleh organizational commitment cultural intelligence tidak memiliki pengaruh terhadap learning goal orientation yang dimediasi oleh organizational commitment Estimasi () p-value (< 0,. 0,419 0,016 -0,207 0,03 0,123 0,027 0,012 0,486 -0,568 0,002 0,034 0,486 -1,599 0,055 Keputusan Hipotesis Hipotesis Hipotesis Hipotesis Hipotesis Hipotesis Hipotesis A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa Sumber: Data diolah menggunakan SEM AMOS Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Mental Toughness berpengaruh positif signifikan terhadap Learning Goal Orientation . -value=0,. Sebaliknya. Cultural Intelligence memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap Learning Goal Orientation . -value=0,. Organizational Commitment berpengaruh positif signifikan terhadap Learning Goal Orientation . value=0,. Namun. Mental Toughness tidak berpengaruh signifikan terhadap Organizational Performance . -value=0,. Kesimpulannya. Mental Toughness. Cultural Intelligence, dan Organizational Commitment memengaruhi Learning Goal Orientation, tetapi Mental Toughness tidak memengaruhi Organizational Performance. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa Cultural Intelligence Organizational Commitment . -value=0,. Sebaliknya. Mental Toughness tidak berpengaruh signifikan terhadap Learning Goal Orientation yang dimediasi oleh Organizational Commitment . value=0,. Begitu pula. Cultural Intelligence tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Learning Goal Orientation yang dimediasi oleh Organizational Commitment . -value=0,. Kesimpulannya. Cultural Intelligence Organizational Commitment, sementara Mental Toughness tidak berpengaruh signifikan terhadap Learning Goal Orientation yang dimediasi oleh Organizational Commitment. KESIMPULAN Studi pada pekerja shift di Toyota Karawang menemukan temuan penting: nilai rata-rata mental toughness, cultural intelligence, organizational commitment, dan learning goal orientation sekitar 3. Mental toughness berhubungan positif dengan learning goal orientation, sementara cultural intelligence berkorelasi negatif. Organizational commitment berpengaruh positif terhadap learning goal orientation. Namun, mental toughness tidak berdampak langsung pada organizational commitment. Cultural intelligence juga memiliki dampak negatif pada organizational commitment. Tidak ada hubungan langsung antara mental toughness atau cultural intelligence dengan learning goal orientation dan organizational commitment sebagai SARAN Saran penelitian berikutnya mencakup perluasan sampel dan penambahan variabel. Disarankan untuk melibatkan sampel yang lebih besar dan beragam industri, serta memasukkan A Zahira Rabinawal Irsaputri. Netania Emilisa variabel seperti kepuasan kerja dan motivasi untuk mendalami hubungan antar variabel yang DAFTAR PUSTAKA