https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 AJARAN MORAL PENDAKWAH DALAM WAYANG TAUHID LAKON AuBABAD SUNAN GIRI SAJIANAy KI SUNARDI WIROCARITO Luwiyanto1*. Krisna Pebryawan2. Tukiyo3 2,3 PBSD Universitas Widya Dharma Klaten *E-mail: luwiyanto63@gmail. Abstrak Wayang tauhid merupakan wayang dakwah yang berisi tentang kisah kesuksesan perjuangan para ulama atau para wali terutama Penelitian tentang wayang jenis ini belum banya k Objek materi penelitian ini adalah wayang tauhid lakon Babad Sunan GiriAy sajian Ki Sunardi Wirocarito, sedangkan objek formalnya ajaran moral dalam lingkup etika Jawa. Tujuan penelitian adalah menganalisis selanjutnya menjelaskan tentang ajara n moral apa yang terungkap dalam teks lakon AuBabad Sunan GiriAy. Sejauh mana ajaran moral itu berkontribusi mendukung pengembangan pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan model analisis filsafati dengan beberapa langkah metodis, yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, koherensi internal, dan refleksi. Hasil penelitian: wayang tauhid lakon Babad Sunan Gresik sebagai media penyampai nilai-nilai moral bagi guru dakwah yaitu keikhlasan, ilmu . dan watak budi rahayu. Ketiga ajaran tersebut mendukung dan membentuk pribadi guru dakwah yang berkarakter khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kata kunci: wayang tauhid, dakwah, etika moral, pendidikan karakter Abstract Wayang tauhid is a da'wah puppet, which contains the story of the success of the struggle of the scholars or saints, especially the walisongo. Research on this type of puppet has not been done much. The material object of this research is the monotheistic puppet play AuBabad Sunan GiriAy presented by Ki Sunardi Wirocarito, while the formal object is moral teachings within the scope of Javanese ethics. The purpose of the research is to analyze and then explain what moral teachings are revealed in the text of the play AuBabad Sunan GiriAy. To what extent the moral teachings contribute to supporting the development of character This research is a literature research with a philosophical analysis model with several methodical steps, namely: description, analysis, interpretation, internal coherence, and reflection. The results of the study: wayang tauhid play Babad Sunan Gresik as a medium for conveying moral values for proselytizing teachers, namely sincerity, knowledge . and good character. These three teachings support and shape the personal character of da'wah teachers in particular and the Indonesian nation in general. Keywords: wayang tauhid, da'wah, moral ethics, character education https://journal. id/widyadidaktika PENDAHULUAN Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang mengalami krisis yang fundamental dan Krisis tersebut telah merasuki ke dalam segala aspek baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik. Dampak yang lebih luas menjadi potensial munculnya konflik horizontal dan vertikal yang terjadi dalam kehidupan sosial sebagai salah satu akibat dari semua krisis yang Bila hal ini terus berlarut-larut maka akan berpotensi melahirkan Indonesia merupakan bangsa yang plural. Kondisi ini dapat mengundang konflik yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu permasalahan yang tidak begitu nampak tetapi besar permasalahan itu masyarakat Indonesia yang begitu Kebanyakan menyadari hal itu sebagai sesuatu yang perkembangan Indonesia ke depan, baik berkaitan dengan peradaban bangsa maupun jati diri atau identitas bangsa di mata dunia. Ini merupakan hambatan besar yang berasal dari dalam Indonesia sendiri, akan tetapi perhatian pemerintah tentang hal itu masih dipandang kurang. Sekarang ini Kesadaran hati nurani setiap warga negara Indonesia pun juga begitu kurang mengenai pentingnya moralitas bangsa. Hal ini bisa juga akan mengakibatkan bangsa Indonesia ini akan semakin terpuruk dan dipandang rendah oleh bangsa lain. Moral masyarakat yang semakin remuk JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 tersebut dapat memunculkan adanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang semakin marak di Indonesia. Pelanggaran-pelanggaran hukum yang marak terjadi di Indonesia ini tentu mempunyai sebab atau latar belakang terjadinya krisis moral yang berakibat munculnya pelanggaranpelanggaran terhadap hukum. Adanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang diakibatkan krisis moral tersebut tentu ada suatu cara untuk mengatasi hal Lalu apa sebenarnya krisis tersebut? Apa saja dampak krisis moral terhadap pelanggaran hukum? Faktorfaktor munculnya krisis moral yang hingga pelanggaranpelanggran hukum? Bagaimana cara untuk mengatasi adanya krisis moral yang berakibat terjadinya pelanggaranpelanggaran hukum tersebut?. Permasalahan tersebut usaha-usaha Kearifan lokal yang merupakan warisan dari nenek moyang mengajarkan dan memberi teladan tentang berbagai kebijakan hidup. Kebijakan hidup merupakan jalan menuju keutamaan dan keluhuran hidup masyarakat sehingga dapat mengurangi dan menghindari krisis moral yang berkepanjangan tersebut. Bangsa Indonesia berbagai budaya daerah yang di dalamnya terkandung kekayaan yang tidak ternilai harganya. Kekayaan tersebut berupa karya sastra lama yang wujudnya karya sastra tulis maupun sastra lisan, yang berisi nilai-nilai Penggalian kearifan lokal . ocal wisdo. yang masih tersurat, baik yang https://journal. id/widyadidaktika eksplisit maupun yang implisit dalam khasanah budaya Indonesia yang kaya raya dan beraneka ragam sangat Hal ini menjadi penting memperkaya pemikiran global yang diserap dari seluruh penjuru dunia ( Siswanto, 2009:vi-vi. Nilai moral merupakan kebijaksanaan hidup yang umumnya diwariskan melalui karya Karya sastra ini penuh dengan keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk ajaran (Wibowo, 2013:. Banyak kajian tentang ajaran yang tertuang dalam karya sastra atau Kajian ajaran dari para walisongo sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Beberapa kajian tersebut misalnya tentang dakwah (Saroni, 2020. Budiman, 2020, serta tentang mistik dan filsafat (Waston, 2018. Ukhriyati. Salah satu karya sastra Jawa yang mengandung nilai-nilai moral adalah wayang tauhid lakon AuBabad Sunan GiriAy . elanjutnya disebut BSG) sajian Ki Sunardi Wirocarito. Kajian dalam penelitian ini akan difokuskan pada filsafat etika yang digambarkan sebagai manusia unggul, aulia atau wali yang ajaran-ajarannya mengandung nilai-nilai moral yang Ajaran itu perlu diketahui oleh masyarakat luas sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat moral dalam wayang tauhid lakon BSG sajian Ki Sunardi Wiro Carito yang diekspresikan melalui tokoh Sunan Giri kepribadian bangsa sehingga dapat mengurangi perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral yang sampai sekarang masih sering tejadi. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Pembahasan filsafat moral dalam pendidikan karakter yang pada saat ini sedang gencar-gencarnya dilaksanakan dalam dunia pendidikan. Masyarakat Indonesia karakter karena saat ini pendidikan karakter sangatlah penting. Pendidikan karakter sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa agar tidak hanya menjadi bangsa yang unggul tetapi Menanggapi hal tersebut di atas, menelaah aspek ajaran moral yang tersirat dalam teks wayang tauhid lakon BSG sajian Ki Sunardi Wirocarito. Adapun alasan pemilihan objek kajian ini adalah: lakon BSG belum pernah diteliti oleh pakar, wayang tauhid termasuk wayang kreasi baru tetapi kurang disosialisasikan, wayang tauhid sebagai wayang dakwah banyak mengandung nilai-nilai moral terutama agama Islam. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Penelitian penelitian pustaka. Sumber data yang menjadi objek materi dalam penelitian ini adalah teks hasil rekaman pagelaran wayang tauhid lakon BSG sajian Ki Sunardi Wirocarito yang dipentaskan di Taman Jurug Solo pada tanggal 9 Juni 2017 pukul 21. 00 Ae 22. 00 (Purwadi. Untuk mendukung data pustaka penelitian ini dimanfaatkan juga dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka, yaitu hasil penelitian, buku teks, tulisan ilmiah, dan tulisan populer baik dari media cetak maupun Sumber tulisan ini terutama https://journal. id/widyadidaktika berkaitan dengan objek materi di samping juga buku teks dan hasil penelitian ilmiah sebagai sumber teori yang melandasi penelitian. Penelitian ini tidak diperlukan alat khusus kecuali berupa kertas lepas, blocknote, dan perlengkapan olah data tulis. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan urutan kegiatan sebagai berikut: . Penemuan ide penelitian mendapatkan kejelasan fokus kajian penelitian, . menemukan tujuan penelitian, . mempertegas dasar dan fokus perspektif teoritis yang akan dipakaivsebagai pijakan penelitian, . menuangkan konsep dalam proposal, . melakukan pengumpulan data sesuai dengan tujuan penelitian, dan . melakukan analisis dari data yang sudah dikumpulkan. Analisis data Analisis beberapa langkah metodis (Bakker dan Achmad Charis Zubair, 1994:72-. sebagai berikut: . deskripsi, dilakukan dengan mentranskripsi dari teks lisan berupa rekaman audio-visual ke teks tulis agar mudah memahaminya, . analisis, dilakukan melalui pembacaan teks yang sudah dalam bentuk teks tulis secara heuristik dan hermeneutik. Kedua cara pembacaan itu dilakukan untuk menangkap ajaran moral yang menjadi esensi teks lakon AuBabad Sunan GiriAy, . interpretasi, dilakukan untuk memaknai ajaran moral yang terungkap dalam teks dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang berkembang dalam masyarakat masa kini, . koherensi internal, dilakukan dalam rangka membangun satu pemahaman yang utuh mengenai Sunan Giri. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 keberadaan wayang tauhid, dan nilainilai kearifan lokalnya, dan . refleksi, dilakukan untuk melihat ajaran moral sebagai kearifan lokal yang ada dihubungkan dengan kondisi sekarang yang sedemikian penuh tantangan yang dapat merusak nilai-nilai kearifan lokal HASIL DAN PEMBAHASAN Wayang sebagai media penyampai nilainilai Etika Manusia adalah pencipta kebudayaan. Segala sesuatu yang diciptakan dengan rasa dan karsa manusia dapat dipahami sebagai Wayang adalah kebudayaan, walaupun tidak berasal-muasal sepenuhnya dari Indonesia, tetapi berdasarkan cipta, rasa dan karsa orang Indonesia pada umumnya dan orang Jawa khususnya maka wayang menjadi salah satu khas Jawa (Kushendrawati, 2. Wayang tidak dapat dipisahkan dari orang Jawa. Wayang dalam setiap tokoh dan lakonnya dapat dihayati sebagai pola dasar kehidupan seharihari. Bagi orang Jawa, cerita dalam wayang diresapi sebagai pedoman hidup, bagaimanakah harus bertingkah laku terhadap sesama, bagaimanakah menghayati hakikat diri sebagai manusia, dan bagaimanakah dirinya menjalin hubungan dengan Sang Pencipta. Cerita-cerita dalam wayang mengiaskan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai orientasi tujuan hidup, baik lahir maupun batin. Pemahaman terhadap kias tersebut tidak sematamata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa yang tergantung pada kedewasaan masing-masing orang (Sukirno, 2009:. Orang Jawa gemar mengidentifikasikan diri dengan bercermin dan sekaligus mencontoh perilaku dan watak tokohtokoh wayang tertentu. Bentuk identifikasi tersebut tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Pengidentifikasian itu misalnya dapat ditunjukkan dengan pemberian nama serta penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang yang memiliki kelebihan-kelebihan Orang Jawa kadang-kadang berintrospeksi diri atas kejadian yang dialami sehari-hari mengaitkannya dengan cerita-cerita dalam https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Karena begitu besarnya peran wayang dalam kehidupan orang Jawa, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa wayang merupakan identitas orang Jawa (Haryono. Wayang adalah karya seni yang mengungkapkan tentang kenyataan. Hubungan seni dengan kenyataan menjadi perdebatan sejak Dalam ilmu filsafat. Plato menjelaskan bahwa kenyataan itu bersifat hierarkis, maksudnya ada bebrapa tataran tentang Ada yang masing-masing mencoba melahirkan nilainilai yang mengatasi tatarannya. Yang dikatakan nyata secara mutlak hanya yang baik dan derajat kenyataan semesta tergantung pada derajat kedekatannya terhadap Ada yang abadi. Dunia empirik tidak mampu mewakili kentaan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis dengan cara peneladanan, pembayangan atau peniruan. Seni yang terbaik adalah melalui peneladanan kenyataan yang mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan Pandangan yang berbeda telah disampaikan oleh Aristoteles, bahwa seorang seniman tidak hanya sekedar meniru kenyataan, tidak mementaskan manusia yang nyata atau peristiwa sebagaimana adanya. Seniman menciptakan dunianya sendiri. Apa yang terjadi dalam ciptaan seorang seniman masuk akal dalam keseluruhan dunia ciptaan itu. Menurut Aristoteles bahwa karya seni merupakan sarana pengetahuan yang khas, cara unik untuk membayangkan pemahaman tentang aspek atau tahap situasi manusia yang didak dapat diungkapkan dan dikomunikasikan dengan jalan lain. Kenyataan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah kenyataan yang telah ditafsirkan sebelumnya dan yang telah dialaminya secara subjektif sebagai dunia yang bermakna dan koheren (Teeuw. Wayang merupakan refleksi dari budaya Jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Sementara itu. Jatinurcahyo . menyatakan wayang adalah simbol dari hidup dan kehidupan Dalam hal ini cerita wayang pada setiap pertunjukkan wayang terdapat nilai-nilai luhur yang berguna untuk masyarakat karena dapat mengetahui gambaran kehidupan manusia dan harus bagaimana hidup ini dilakukan oleh Tidak jarang bahwa di dalam pertunjukan lakon wayang tertentu terdapat berbagai aspek etika yang kemudian dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat untuk memandang hakikat hidup dan kehidupan. Wayang merupakan salah satu media pendidikan watak bagi orang Jawa. Wayang tidak mengajarkan etika secara indoktrinasi . arus begini atau begit. , melainkan memberi keleluasaan penonton untuk menafsirkan setiap Wayang mengajarkan nilai-nilai secara teoretis, melainkan konkret dalam cerita atau lakon-lakon Melalui adegan-adegan yang sifatnya lucu, mengharukan, membuat hati panas dan geram, serta membuat orang tersentuh hatinya menjadikan wayang sebagai media pendidikan watak yang total namun dipandang nonformal. Nilai-nilai etis dalam wayang tidak dapat dipisahkan dari filsafat, agama, bahkan estetika, karena nilai-nilai etis di dalamnya memang erat dengan nilai-nilai tersebut (Suseno, 2. Wayang tauhid lakon Babad Sunan Giri sajian Ki Sunardi Wirocarito Tema pokok wayang tauhid lakon BSG adalah kisah perjuangan Sunan Giri mengislamkan Resi Minta Semeru dan sekaligus menyiapkannya menjadi seorang guru dakwah. Tema ini terurai dalam narasi teks Babad Sunan Giri dari awal sampai akhir cerita. Cerita bermula adanya berita bahwa di puncak Gunung Giri ada seseorang yang mendirikan pondok pesantren yang mengajarkan agama Islam. Hal itu tidak disukai oleh Adipati Belambangan. Adipati Belambangan kemudian memanggil Resi Minta Semeru dari Gunung Lawu. Resi Minta Semeru ini merupakan tokoh agama Hindu yang Dengan ditemani dua orang soreng. Lembusura dan Keboarja. Mereka ini Majapahit. Pertemuannya dengan Adipati di Belambangan membuahkan kesepakatan bahwa Resi Minta Semeru akan pergi ke Gunung Giri ingin ketemu langsung dengan Sunan Giri. Tujuannya adalah mengingatkan kepada Sunan Giri agar jangan mendirikan pondok pesantren serta tidak boleh mengajarkan agama Islam. Akhirnya mereka sampai di Gunung Giri dan bertemu muka dengan Sunan Giri. Di Gunung Giri. Resi Minta Semeru berdialog sembari berdebat tentang etika seorang guru dakwah. Perdebatan terjadi sengit dan akhirnya Resi Minta Semeru merasa kalah dan mengakui bahwa apa yang diajarjan oleh Sunan Giri memang benar. Untuk menebus kekalahannya. Resi Minta Semeru masuk Islam https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 dengan dibimbing oleh Sunan Giri. Sunan Giri banyak menasehatinya terlebih menyiapkannya untuk menyebarkan agama Islam di daerahnya. Dalam teks cerita BSG, pusaran cerita dalam pengendalian Sunan Giri. Tokoh ini menjadi sentral cerita. Cerita yang mengemban tema pokok yakni perjuangan pengislaman Resi Minta Semeru dan menyiapkannya menjadi seorang guru dakwah dilakukan oleh Sunan Giri. Dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Sunan Giri termasuk tokoh yang sangat Ia adalah anggota senior walisongo. Kemasyhurannya sebagai pendakwah sangat dikagumi mulai dari masyarakat kecil hingga di istana kerajaan. Sunan Giri mempunyai sebutan lain, misalnya: Joko Samudro. Raden Paku. Maulana Ainul Yaqin. Sunan Giri dalam perjalanan hidupnya pernah bertahta, menjadi raja dengan sebutan Prabu Satmoko. memerintah di Kerajaan Giri Kedaton pada tahun 1487-1506 M, berkedudukan di Gresik Jawa Timur Di samping melalui jalur pendidikan. Sunan Giri dalam berdakwah sering memanfaatkan jalur budaya sebagai medianya, terutama bidang kesenian. Beberapa karya seni diciptakan, misalnya: lagu Ilir-ilir, permainan tradisional Cublak-cublak Suweng, tembang macapat dhandhanggula, wayang, dan Cerita dalam BSG berawal dari munculnya berita atas pendirian perguruan . ondok pesantre. di daerah pegunungan Giri yang dipimpin oleh Sunan Giri. Bupati Belambangan merasa tidak nyaman atas berita itu selanjutnya memanggil Resi Minta Semeru yang berasal dari Gunung Lawu. Resi Minta Semeru merupakan tokoh agama Hindu yang dulu menjadi guru agama Hindu ketika masih tinggal bersama di kerajaan Majapahit. Bupati Belambangan menyuruh Resi Minta Semeru untuk menghadapi Sunan Giri. Bupati Belambangan berpesan kepada Sang Resi agar membubarkan pendirian perguruan studi Islam di pegunungan Giri. Sang Resi segera menuju ke pegunungan Giri bersama beberapa prajurit dari Belambangan. Pertemuan Sang Resi dengan Sunan Giri telah terjadi. Berawal dari pertemuan itulah terjadi dialog antara Resi Minta Semeru dengan Sunan Giri. Dialog diawali dengan pertanyaan dari Resi Minta Semeru kepada Sunan Giri tentang modal apa yang harus dimiliki oleh seorang daAoi . uru dakwa. Menurut Sunan Giri, modal dasar yang harus dimiliki seorang guru . adalah memiliki ilmu, rasa keikhlasan, dan watak budi rahayu. Memiliki ilmu Maksudnya adalah wawasan yang mumpuni tentang agama Islam, tidak hanya sekedar mengetahui tetapi benar-benar paham dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru dakwah dituntut menguasai ilmu yang komprehensif yang dibarengi dengan akhlak yang mulia. Pada dasarnya mutu dan penampilan daAoi sangat menentukan kelemahan dan kekuatan dalam Seorang guru dakwah tidak hanya pandai mengatakan sesuatu ini boleh dikerjakan dan yang lain haram dilaksanakan. Di sisi lain ia dirinya belum mampu melaksanakan apa yang ia sampaikan, akan tetapi alangkah baiknya jika ia melaksanakan dakwah dengan memulai dari dirinya sendiri (Julaiha, 2. Dalam wayang tauhid lakon BSG dijelaskan melalui nasehat Sunan Giri kepada Resi Minta Semeru. Nasihat ini bermula dari pertanyaan Resi Minta Semeru yang ingin mengukur sejauh mana kedalaman pengetahuan agama Islam Sunan Giri. Pertanyaan itu sebagai berikut: menawi panjengan madeg dadi guru, apa ta gegarane dadi guru? AoKalau Anda menjadi guru . apa yang harus dimilikinya?Ao Oleh Sunan Giri dijawab, bahwa modal utama yang harus dimiliki oleh seorang guru . adalah memiliki ilmu tentang agama (Isla. yang mumpuni. Dalam teks sebagai berikut. Menawi saking kula lan ngelmu ingkang kula tampi agama suci ingkang kula rasuk dene gegarane dados guru menika, satunggal, anggadhahi ilmu. AoKalau menurut saya berdasarkan pengetahuan yang saya terima dari agama suci (Isla. yang saya percayai bahwa modal untuk menjadi seorang guru . itu, yang pertama adalah memiliki ilmuAo. Seorang guru dakwah atau guru dakwah harus mau mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya seoptimal mungkin agar ia mampu menghadapi perkembangan zaman yang mengakibatkan semakin kompleksnya umat. Seorang guru dakwah harus mampu melayani umat serta mampu menjawab banyak hal tentang agama (Isla. yang dihadapinya. Ikhlas menjalaninya secara lahir dan batin. Sikap ikhlas mempunyai kaitan erat https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 dengan niat. Adanya sifat ikhlas tergantung pada Ketika dalam ibadah seseorang berniat hanya karena Allah SWT (Lillahi taAoal. , maka akan muncul sifat ikhlas di dalam hatinya, sebaliknya ketika ada campuran di dalam niatnya seperti agar dipuji, mendapat imbalan, dan lain sebagainya maka tidak akan muncul sifat ikhlas di dalam hatinya. Niat merupakan keadaan atau sifat yang timbul dari dalam hati manusia yang menggerakan atau mendorongnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan (Fathani, 2. Dalam teks lakon BSG, di samping harus menguasai ilmu seorang guru . harus memiliki niatan yang ikhlas. Demikian kutipan dalam teks BSG: dados guru kedah kanthi ati ingkang iklas lair trusing batin Aomenjadi seorang guru . harus disertai dengan keikhlasan lahir dan batinAo. Selanjutnya dijelaskan yang dimaksud dengan pernyataan keikhlasan lahir dan batin sebagai berikut. Lair, tata lair menika, guru menika ambeg amejang amulang dhumateng muridmuridipun, nanging tata batin menika tumanduk hablum minan naas lan hablum Ao(Keikhlasa. lahir atau tata lahir itu . seorang guru . itu mempunyai keinginan untuk mengajarkan, menyampaikan kepada murid-muridnya, sedangkan tata mengimplementasikan sebagai ibadah untuk sesame manusia dan ibadah kepada AllahAo. Niatan perbuatan tersebut semata-mata untuk mendorong mendekatkan diri kepada Allah, tetapi jika di dalam hati sudah terdapat goresan yang merusak niat untuk mendekatkan diri kepada Allah maka amal itu dikatakan lebih ringan dari sebelumnya dan amalnya dikatakan keluar dari batas ikhlas dan menjadikan amal yang syirik. Dalam teks BSG. Resi Minta Semeru masih bimbang atas jawaban Sunan Giri, maksudnya apakah ada orang/daAoi yang benar-benar ikhlas: Menapa wonten guru ingkang lair batin? AoApakah ada guru . lahir dan batin?Ao Tentu ada, tetapi tak dapat dipungkiri ada juga seseorang/guru dakwah yang berakhlak tidak ikhlas. Dalam teks BSG demikian penjelasannya. guru ingkang boten . lair batin menika menawi guru ingkang cukeng, tegesipun guru ingkang ndhelikake ilmune supaya aja nganti kababar liyan, yen nganti kababar liyan sing dadi guru bakal rumangsa dadi mlarat AoSeorang guru . yang tidak . lahir dan batin, itulah guru . yang cukeng, maksudnya . menyembunyikan keilmuannya supaya jangan sampai tersampaikan pada orang Jika sampai diketahui oleh orang lain maka yang menjadi guru . merasa rugi/miskinAo. Berwatak budi rahayu Budi yang artinya usaha atau kepribadian, dan rahayu yang artinya berusaha untuk membentuk kepribadian yang luhur agar selamat (Poerwadarminto, 1. Dalam bentuk kelompok kata budi rahayu artinya mengacu pada keluhuran budi, maksudnya memberikan atau mengajarkan pengetahuan agama tersebut benar-benar membutuhkannya supaya dapat mencapai keselamatan hidup. Keluhuran budi atau budi rahayu menunjuk pada watak atau tabiat yang Dalam teks BSG, keluhuran budi seorang guru dakwah ditunjukkan dengan ungkapan seperti ini. Tegesipun awatak budi rahayu menika paring sandhang ingkang kawudan, paring obor kang kapetengan, ora seneng nduweni cecongkrangan marang sapa AoBerwatak budi rahayu maksudnya . memberi pakaian bagi yang sedang telanjang, memberi lampu obor bagi yang sedang kegelapan, . tidak mempunyai rasa perselisihan dengan siapa sajaAo. Ajaran Sunan Giri di atas, yaitu ilmu, ikhlas, dan budi rahayu, merupakan satu kesatuan yang saling terkait antara yang satu dengan yang Ketiganya berkontribusi dalam membentuk moral seorang guru dakwah. Berilmu yang tidak dilandasi dengan niatan keiklasan hati maka bisa jadi sebuah kesombongan atau riya, keiklasan saja tanpa berilmu bisa jadi sebuah kebodohan, berilmu disertai keikhlasan tetapi ketika diimplementasikan dalam tindakan tidak didasari dengan keluhuran budi maka akan sis-sia. penilaian terhadap moral tentang baik dan buruknya suatu tindakan yang dilakukan oleh manusia. Seorang guru dakwah adalah Kepribadian yang dimiliki oleh seorang guru dakwah menjadi unsur penting https://journal. id/widyadidaktika ketika melakukan dakwah, karena hakikatnya manusia itu sendiri menjadi yang menentukan dan unsur terpenting untuk sukses atau Ketika pendakwah itu mempunyai kepribadian yang baik insyaallah dakwah yang disampaikan untuk orang lain akan terjadi feedback, dan sebaliknya jika diri seorang pendakwah itu sendiri tidak mempunyai daya tarik bagaimana untuk orang lain, bisa jadi usahanya menjadi seorang pendakwah akan gagal. Ilm Budi Ikhla Mempunyai ilmu dan keikhlasan tetapi tidak diimplemntasikan sebagai tindakan syiar maka tidak berhasil, mempuyai ilmu selanjutnya disyiarkan tetapi tindakannya itu tidak dilandasi keikhlasan maka dakwahnya tidak berhasil, dan aktif berdakwah dan ikhlas tetapi ilmunya kurang juga tidak baik. Pendidikan karakter tidak mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter melibatkan afektif dan psikomotorik dalam pengembangan potensi diri, melakukan proses internalisasi dan pengahayatan nilai- nilai menjadi kepribadian. Karakter berkaitan dengan aqidah, akhlak, sikap, pola perilaku dan atau kebiasaan yang mempengaruhi interaksi seseorang terhadap Tuhan dan lingkungannya. Karakter menentukan sikap, perkataan dan Akhlak adalah segala sesuatu yang telah tertanam kuat atau terparti dalam diri seseorang, yang akan melahirkan perbuatanperbuatan tanpa melalui pemikiran atau perenungan terlebih dahulu. Artinya, perbuatan itu dilakukan dengan reflek dan spontan tanpa dipikirkan terlebih dahulu (Sulistiyowati dalam Majid, 2. Ajaran moral di atas mengacu pada kepribadian seseorang, apa pun posisinya, apakah menjadi seorang guru, pejabat, pendakwah, ilmuwan, masyarakat, bahkan menjadi anak, orang tua. dan sebagainya. Harapannya, setiap manusia Indonesia memiliki moral atau budi pekerti yang dilandasi oleh berilmu, ikhlas, dan dilandasi oleh keluhuran JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 11-19 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 SIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:Wayang tauhid lakon BSG sarat ajaran moral bagi seorang Menurut Sunan Giri, seorang pendakwah harus memiliki modal moral kepribadian yaitu: memiliki ilmu . gama Isla. yang mumpuni, keikhlasan hati, serta keluhuran budi. Modal moral kepribadian tersebut akan bermanfaat tidak hanya bagi seorang pendakwah saja tetapi bagi manusia secara umum, terutama bagi bangsa Indonesia yang gencar-gencarnya membangun mental melalui pendidikan DAFTAR PUSTAKA