Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Rasionalitas Pengambilan Keputusan Pemberi Sumbangan Kepada Pengemis di Kecamatan Cibinong Jansen Alson Jordan1. Agus Machfud Fauzi2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya Jansen. 20086@mhs. Abstract Limited job opportunities mean that individuals with low levels of education find it difficult to find work. Therefore, begging is a last resort for individuals who have no place in society. The distribution of beggars in Cibinong Subdistrict has increased from year to year. One of the factors for the outbreak of begging in Cibinong District is caused by donors who continue to give donations to beggars. The background of the donor shapes the morality of the individual in acting to give donations to beggars. Cibinong Sub-district has a prohibition for the community to give donations to beggars in Regional Regulation No. 7/2016 Article 57. The morality of the donor is influenced by the background of the donor who shapes the actions of each individual in the midst of applicable normative rules. The purpose of this study is to analyze the morality of donors who are influenced by religious, cultural, environmental and family backgrounds in Cibinong District. This research uses a qualitative approach with the perspective of Max Weber's rationality theory. The data obtained in this study were obtained from observations and interviews conducted by researchers in depth. The results of this study indicate that individual morality influenced by religious background, family and environment in acting to give donations to beggars cannot be influenced by formal rules in Cibinong District. Lapangan pekerjaan yang terbatas menjadi penyebab individu dengan tingkat pendidikan rendah kesulitan dalam mencari pekerjaan. Oleh sebab itu, mengemis merupakan opsi terakhir bagi individu yang tidak mendapatkan tempat di dalam masyarakat. Penyebaran pengemis di Kecamatan Cibinong mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor merebaknya pengemis di Kecamatan Cibinong disebabkan oleh pemberi sumbangan yang tetap memberikan sumbangan kepada Latar belakang pemberi sumbangan membentuk moralitas pada diri individu dalam bertindak memberikan sumbangan kepada pengemis. Kecamatan Cibinong memiliki larangan bagi masyarakat untuk memberikan sumbangan kepada pengemis dalam Peraturan Daerah No 7 Tahun 2016 Pasal 57. Moralitas pemberi sumbangan dipengaruhi oleh latar belakang pemberi sumbangan yang membentuk tindakan masing-masing individu di tengah-tengah aturan normatif yang berlaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis moralitas pemberi sumbangan yang dipengaruhi oleh latar belakang agama, budaya, lingkungan dan keluarga di Kecamatan Cibinong. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori rasionalitas Max Weber. Data yang didapat dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti secara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa moralitas individu yang dipengaruhi latar belakang agama, keluarga dan lingkungan dalam bertindak memberikan sumbangan kepada pengemis tidak dapat dipengaruhi oleh aturan formal yang ada di Kecamatan Cibinong. Keywords: Rationality, donor, morality, formal rules Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Pendahuluan Manusia merupakan makhluk hidup yang berbeda dari makhluk hidup lainnya. secara fundamental, manusia tidak akan terpisahkan dari manusia lainnya dan sepanjang hidup manusia akan selalu melibatkan individu lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjalankan perannya sebagai makhluk sosial. Terdapat dua hal yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk hidup lainnya yaitu kebebasan dalam berpikir dan kehendak bebas. Dalam KKBI kehendak memiliki arti harapan dan keinginan yang keras. Dalam artian lain, kehendak dapat disebut sebagai tingkah laku atau tindakan yang diperbuat oleh manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, kehendak bebas memiliki arti segala bentuk tindakan manusia yang berkaitan dengan baik dan buruk dengan landasan akal budi yang nilainya takt ter hingga. Sedangkan kebebasan dalam berpikir merupakan bentuk dari akal budi yang tak memiliki Batasan. Manusia dengan kehendak bebasnya dapat melakukan bertindakan sesuai dengan keinginannya dan menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Dengan kepelbagaian manusia di dunia ini, demikian juga beragam pemikiran dan latar belakang antara satu manusia dengan manusia lainnya. Fenomena yang menarik untuk dikaji dalam penelitian ini adalah latar belakang yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan tindakan dan keputusan yang diambil. Manusia dapat dikatakan sebagai individu yang unik dengan kepribadian dan tindakan yang berbeda antara satu dengan yang lain dan tidak memiliki batasan dalam berpikir atau bertindak. Oleh karena itu, manusia tidak sepenuh tunduk terhadap realitas sosial yang ada di dalam masyarakat. Dalam perspektif sosiologi. Weber memaparkan bahwa manusia adalah suatu individu yang tergabung di dalam masyarakat dengan berperan sebagai aktor yang kreatif dan memandang realitas sosial bukan sebagai alat statis dari paksaan fakta sosial. Artinya, manusia tidak secara utuh diatur oleh nilai, norma, budaya, dan kebiasan yang terbentuk di dalam realitas sosial. Segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh manusia tidak ditentukan oleh nilai, kebiasaan dan norma yang ada di dalam konsep fakta sosial. Tindakan manusia dilakukan dengan berbagai macam perhitungan dan usaha sendiri. Penulis berpendapat bahwa tindakan seseorang dalam memberikan sumbangan kepada pengemis didasarkan oleh kemauan diri sendiri dan diupayakan oleh diri sendiri secara sadar tanpa mengetahui tindakan yang dilakukan oleh seseorang tersebut melanggar aturan dari norma atau tidak. Hal tersebut sejalan dengan yang dikatakan oleh Pitirim Sorokin bahwa tindakan seseorang dapat dipengaruhi oleh cinta dan empati sehingga individu tersebut rela berkorban demi orang lain atau dengan kata lain individu tersebut memiliki sifat altruisme. Seseorang dapat berkorban demi apapun yang mereka cintai tanpa memedulikan hal yang dilakukannya benar atau salah, melanggar norma atau tidak. Seseorang dengan sifat altruisme juga tidak akan mempedulikan siapapun dan kapanpun mereka menolong orang lain. Orang dengan sifat ini tidak dibatasi oleh apapun saat ingin menolong, saat mereka melihat orang yang membutuhkan bantuan mereka akan segera menolong orang tersebut tanpa memikirkan dampak yang disebabkan orang tersebut. Pada observasi awal, ketidakpatuhan individu terhadap norma yang telah ditetapkan dilatarbelakangi dengan berbagai macam faktor, salah satunya adalah ketidaktahuan terhadap Peraturan Daerah sebagai bentuk dari norma sosial yang ada. Peneliti ingin menganalisis secara lebih mendalam tentang bagaimana pengetahuan Masyarakat Cibinong khususnya pemberi Sumbangan yang berdomisili di Cibinong terkait norma sosial yang ada di daerah Cibinong. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji latar belakang dari keputusan pemberi sumbangan kepada pengemis, walaupun tindakan pemberi Sumbangan tersebut bertentangan dengan norma sosial yang ada di dalam masyarakat. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian oleh Lata Gangadharan, 2018 yang berjudul AuPaternalistic giving: Restricting recipient Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 choiceAy dengan temuan bahwa Fenomena warm-glow dan altruistic atau rasa mempedulikan orang lain yang tinggi dalam diri seseorang yang mempengaruhi seseorang dalam memberikan sumbangan. Temuan dalam penelitian ini adalah orang dengan sifat altruistic cenderung tidak mematuhi peraturan yang ada. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Sri Kuntari dan Eny Hikmawat, 2017 dengan judul AuMelacak Akar Permasalahan Gelandangan-Pengemis (Gepen. Ay dengan temuan bahwa Akar utama permasalahan seseorang menjadi gepng adalah sempitnya lahan kepemilikan. Tingkat pendidikan, tidak mempunya skills dan keterampilan. Semangat juang yang rendah merupakan salah satu faktor bagi gepeng untuk mengemis sehingga banyak laki-laki yang memanfaatkan istri dan anaknya untuk Dinas Sosial memberikan pembinaan dan modal usaha sebagai upaya preventif agar gepeng tidak Kembali ke jalan. Penelitian lain dilakukan Mahatva Yoga Adi Pradana, dkk. 2022 dengan judul AuProblem Patologi Sosial Pengemis Sebagai Kelompok Marginal Pengumpul KeuntunganAy yang menemukan Manusia dapat berubah dengan melakukan tindak-tindakan yang berlawanan dengan moral dan nilai-nilai di dalam Masyarakat. Pengemis gadungan memanfaatkan pengemis lainnya untuk mendapatkan Jika keinginan para pengemis tidak diberi mereka akan melakukan Tindakan yang berlawanan dengan moral seperti memaksa, merampas, dan mencuri. Sehingga diperlukan Upaya pemberdayaan dengan melibatkan banyak instansi. Terdapat beberapa kesamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan, yakni kajian ruang lingkup pengemis. Namun, belum ditemukan penelitian yang menganalisis proses rasionalitas pembentuk keputusan dan tindakan pemberi sumbangan. Untuk mengisi kekosongan tersebut, maka perbedaan penelitian ini terletak pada unit analisisnya, yakni pemberi sumbangan sebagai agen yang akan dibedah. 2 Teori Rasionalitas Max Weber Rasionalitas bermula dari pemikiran seorang ahli politik, ekonomi, filsafat dan sosiologi yang berasal dari Jerman. Pemahaman ini tercipta saat Weber mempelajari tentang akal budi atau rasio. Weber menyatakan bahwa AurationaleAy terbentuk dari AumeansAy dan AuendsAy. Individu yang memiliki pemikiran rasional akan menggunakan alat yang menurutnya paling tepat untuk mencapai tujuan yang Weber membagi rasionalitas dalam 4 bagian . Rasionalitas Instrumental Rasionalitas yang berorientasi pada suatu alat yang digunakan individu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Artinya pilihan rasional yang ditentukan seseorang memiliki kaitan dengan alat dan . Rasionalitas Afektif Tindakan rasional tipe ini sebagian besar dipengaruhi oleh emosional individu tanpa ada campur tangan intelektual dan kesadaran diri individu. Rasionaalitas Nilai Tipe rasionalitas ini lebih didominasi oleh kesadaran akan suatu keyakinan yang dipegang suatu Nilai yang dipegang suatu individu dapat berupa nilai keagamaan, etika, dan budaya. Rasionalitas tradisional Rasionalitas yang didasari tradisi kehidupan masyarakat yang membentuk suatu kebiasaan karena berjalan dari waktu ke waktu sehingga membentuk refleksi secara tak sadar pada seseorang. Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Berdasarkan tipe ini, tindakan individu didapatkan dari kebiasaan yang dilakukan oleh nenek Berdasarkan pembagian tipe tipe rasionalitas, seorang pemberi sumbangan memiliki kaitan yang erat terhadap tipe-tipe rasionalitas di atas. Dengan rasionalitas instrumental, seorang pemberi Sumbangan bertindak sesuai dengan harapan dan tujuan yang sesuai dengan dirinya. Rasionalitas nilai didasari oleh nilai yang dipegang oleh si pemberi Sumbangan. Nilai yang dipegang dapat bersumber dari ajaran agama, lingkungan sekitar, keluarga, dan budaya. Sedangkan rasionalitas afektif memiliki peranan yang penting terhadap emosional pemberi Sumbangan saat melihat pengemis yang memiliki Berikutnya rasionalitas tradisional yang berkaitan dengan kebiasaan yang di diperoleh pemberi sumbangan secara turun temurun seperti adat dan keluarga. Teori rasionalitas Max Weber mampu membedah dan menganalisis latar belakang serta proses pengambilan keputusan pemberi Paradigma yang akan digunakan untuk memperkuat penelitian ini adalah paradigma definisi sosial. Paradigma definisi sosial juga akan digunakan sebagai penguat teori yang akan Pada dasarnya rasionalitas akan membentuk tiga segi di dalam masyarakat. Pertama terjadinya pembentukan ulang secara kultural di dalam masyarakat dengan jaminan kondisi-kondisi baru ayang akan timbul. Kedua, penyatuan sosial menjamin aturan tindakan yang dilakukan individua ntar individu sehingga identitas individu dan kelompok tetap ada. Ketiga, tindakan sosial menjami bahwa kondisi-kondisi baru dalam masyarakat selaras dengan latar belakang individu dan bentuk interaksi dengan masyarakat koletif tetap terpelihara. Berdasarkan tiga segi tersebut, dapat dilihat bahwa kondisi kondisi baru dapat dikaitkan denga napa yang sudah ada dalam individu ataupun masyarakat kolektif sebelumnya. Metode Penelitian 1 Pendekatan Penelitian Berdasarkan judul penelitian yang diambil pada penelitian ini yaitu Rasionalitas Pengambilan Keputusan Pemberi Sumbangan Kepada Pengemis di Kecamatan Cibinong, penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Berdasarkan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti, hasil yang akan ditampilkan berupa kata dan gambar yang ditelaah secara deskriptif. Teknik pengumpulan data didapat melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitinan dilaksanakan di Kecamatan Cibinong, kabupaten Bogor. Jawa Barat. Khususnya pada titik-titik tempat pengemis mangkal, seperti lampu merah, alun-alun dan kolong flyover. Penelitian ini berlangsung selama bulan Ramadhan, 12 Maret Ae 2 Mei 2024 3 Subjek dan Objek Penelitian Pengambilan sampel berlokasi di alun-alun Kecamatan Cibinong dan diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dari pukul 15. 00 sampai 20. 00 WIB. Lokasi berikutnya adalah Pasar Cibinong, sampel diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dari pukul 08. 00 WIB. Selanjutnya, berlokasi di fly over, sampel diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dari pukul 10. 00 sampai 04. 00 WIB. Sedangkan objek yang dikaji pada penelitian ini merujuk pada proses pengambilan Keputusan pemberi sumbangan di tengah adanya larangan memberi kepada pengemis yang diatur dalam Peraturan Daerah. Subjek penelitian yang akan dijadikan sampel adalah subjek yang berjiwa sosial tinggi, peduli terhadap sesama, suka menolong orang lain. Hasil dan Pembahasan Pada realita yang terjadi di dalam masyarakat, kondisi subjektif berkaitan dengan pemikiran yang berasal dari luar diri manusia. Kondisi subjektif diinternalisasi melalui kondisi objektif suatu individu Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 dan berkaitan dengan persepsi serta perspektif yang tidak pernah diungkapkan individu sebelumnya. Selain itu, faktor pengalaman dan latar belakang individu memiliki pengaruh terhadap pola interaksi suatu individu dengan masyarakat sekitar. Kondisi subjektif terbentuk melalui tahap internalisasi yang diperoleh dari riwayat individu saat hidup dalam masyarakat dengan proses sosialisasi primer dan Realitas subjektif mengacu pada pandangan individu dalam menafsirkan lingkungan sekitar dan dipengaruhi oleh perasaan serta pemikiran individu. Dalam konteks ini, realitas bukan hanya entitas yang ada secara objektif, tetapi juga konstruksi mental yang dipengaruhi oleh faktorfaktor subjektif. Setiap individu memiliki realitasnya sendiri yang unik, satu individu dengan individu lainnya memiliki perbedaan realitas, meskipun masing-masing individu mengalami situasi yang sama. Sama halnya dengan para subjek penelitian yang memutuskan untuk memberikan sumbangan kepada Masing-masing subjek penelitian memiliki pandangan yang berbeda ketika dihadapkan dengan pengemis dengan dasar fundamental, nilai-nilai, dan persepsi masing-masing subjek penelitian. Mencapai hasil akhir dari wawancara yang telah dilakukan dengan lima subjek penelitian terkait kondisi subjektif individu dalam kehidupan mereka. Subjek penelitian pertama memberikan pandangannya sebagai seorang pedagang petasan yang menggantungkan kehidupannya pada pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sebagai pedagang yang beroperasi di jalanan, subjek penelitian pertama sering berinteraksi dengan berbagai macam orang dan dituntut untuk memiliki sifat ramah terhadap sesama. Pekerjaan tersebut sebagai faktor eksternal yang berperan signifikan dalam membentuk kepribadiannya menjadi individu yang terbuka dan mudah berinteraksi terhadap sesama individu. Selain pekerjaan, faktor internal yang mempengaruhi cara subjek penelitian pertama bertindak adalah ajaran yang didapat dari keluarganya. Keluarga subjek penelitian telah menanamkan nilai-nilai positif tentang kepedulian terhadap sesama sejak dini. Salah satu konsep ajaran yang diterapkan dalam keluarganya adalah "tong ngitung jeung babatur" yang berarti tidak perhitungan dengan orang lain. Konsep ini menumbuhkan rasa empati yang tinggi terhadap sesama dalam diri subjek penelitian. Lebih lanjut, ajaran keluarga tersebut membentuk moralitas yang kuat dalam diri subjek penelitian dan membuatnya mengabaikan aspek-aspek lain seperti aturan formal. Nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak kecil, berperan penting dalam membentuk karakter dan perilaku subjek penelitian sebagai individu yang peduli dan empatik terhadap sesama manusia. Subjek penelitian kedua menyampaikan pandangannya mengenai kondisi subjektif melalui wawancara secara mendalam dan menceritakan kehidupannya yang sudah menempuh kehidupan selama 25 tahun. Subjek penelitian kedua sudah menjalani kehidupannya di Kecamatan Cibinong sejak masih di dalam kandungan sehingga disebut sebagai penduduk asli Kecamatan Cibinong. Subjek penelitian kedua memiliki perjuangan yang keras dalam hidupnya karena dirinya memiliki permasalahan ekonomi sehingga dirinya harus berjuang lebih keras untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Beliau lahir sebagai anak pertama yang kehilangan sosok ayah sejak dirinya masih kecil sehingga membuat dirinya harus menghidupi ibu dan adik-adiknya. Dirinya memiliki masa lalu yang memprihatinkan dan mengharuskan dirinya untuk hidup di jalananan untuk mendapatkan uang dengan meminta-minta. Kesamaan terhadap latar belakang yang dialami dirinya terhadap para pengemis yang dirinya temui membentuk rasa simpati dan kepedulian yang tinggi ketika dihadapkan dengan para pengemis. Ketaatan terhadap agama membentuk moralitas tersendiri bagi dirinya yang mewajibkan dirinya untuk membantu orang yang kurang mampu. Kepercayaan terhadap agama Islam yang dianut oleh subjek penelitian kedua, membentuk kepribadian alternatif yang mengharuskan dirinya untuk bersikap baik terhadap sesama. Skala prioritas yang menjadi penentu dalam tindakannya paling tinggi dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap agama Islam. Ajaran agama Islam yang menjadi pedoman dalam tindakannya adalah berkah, subjek penelitian kedua mengatakan bahwa semakin banyak dirinya membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, semakin besar upah yang diberikan Tuhan terhadap dirinya sebagai ganti perbuatan baiknya. Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Kondisi Subjektif subjek penelitian ketiga sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakangan lingkungan. Lingkungan sekitar merupakan faktor utama yang menjadi pembentuk sifatnya dalam bertindak. Pembentukan nilai-nilai kemanusiaan diperoleh dirinya melewati proses sosialisasi dengan lingkungan tempat dirinya menempuh pendidikan dan bekerja. Proses sosialisasi yang terjadi di dalam hidupnya, kemudian diinternalisasi ke dalam dirinya sehingga membentuk karakteristik baru. Pekerjaan dan pendidikan yang sudah ditempuhnya selama bertahun-tahun, pada akhirnya menuntun dirinya menjadi manusia yang memiliki kepekaan terhadap individu lain di sekitar dengan jiwa altruisme tinggi. Selain itu, keputusan atas tindakan yang dilakukan dalam hidupnya mencerminkan nilai-nilai yang dipegang teguh dan ajaran yang diterima, lebih dominan membentuk perilakunya dibandingkan dengan aturan formal yang mengatur tindakan dirinya di Kecamatan Cibinong tempat dirinya tinggal. Dalam konteks ini, beliau memprioritaskan keyakinan moral dan rasa empati yang ditanamkan sejak kecil. Hal tersebut menunjukkan persepsi dan interpretasi pribadi terhadap kebaikan dan kewajiban sosial lebih kuat dibandingkan dengan kesadaran terhadap hukum. Selain aturan formal, spiritualitas dan keyakinan yang dirinya pegang tidak menjadi penentu terhadap tindakan dalam memberikan sumbangan kepada pengemis. Tindakan Subjek penelitian ketiga dalam memberikan sumbangan kepada pengemis didasari oleh moralitas yang dibentuk oleh nilai-nilai lingkungan sekitar. Tindakan beliau didorong oleh empati sosial dan mengandalkan nilai-nilai humanis sehingga terbentuk motivasi yang kompleks terhadap Keputusannya untuk membantu pengemis. Di sisi lain, keputusannya tidak selalu selaras dengan keyakinan spiritual tetapi lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai internal dan persepsi tentang kebaikan dan kewajiban sosial. Kondisi yang tidak pernah diungkapkan subjek penelitian keempat terkait persepsi subjektif yang dirinya pandang terhadap individu lain memiliki kaitan erat dengan kepercayaan spiritualitas kepada Tuhan. Beliau memeluk agama Islam dan secara konsisten melibatkan keyakinan spiritualitasnya dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil, termasuk dalam memberikan sumbangan kepada pengemis. Keputusan ini mencerminkan kondisi subjektif di mana nilai-nilai agama dan ajaran spiritual menjadi landasan utama dalam membentuk perilaku sehari-hari. Dalam konteks ini, tindakan subjek penelitian tidak hanya didorong oleh empati sosial tetapi juga oleh keyakinan mendalam bahwa berbuat baik kepada sesama merupakan bagian dari ibadah dan kewajiban religius. Keyakinan ini memberikan panduan moral yang kuat, mempengaruhi cara pandang dan interpretasi subjek penelitian keempat terhadap situasi sosial di sekitarnya. Ajaran agama Islam yang dianut dirinya menekankan pentingnya sedekah dan membantu para pengemis yang kurang beruntung serta menjadi faktor pendorong dalam proses pengambilan keputusan bagi dirinya. Spiritualitas memiliki peran signifikan dalam membentuk tindakan dirinya, di mana keyakinan religius menjadi pedoman moral yang mengarahkan perilaku dan keputusan, bahkan dalam menghadapi aturan formal yang mungkin Maka dari itu, nilai-nilai spiritual menjadi navigator utama yang membentuk kompleksitas kehidupan dirinya ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Keyakinan spiritual yang dirinya pegang merupakan keputusan mutlak dan sejalan dengan kebenaran dan kewajiban moral. Pemaparan kondisi subjektif subjek penelitian kelima menunjukkan dua bagian yang menjadi dasar penentu dirinya dalam mengambil keputusan dan bertindak. Pada bagian pertama, latar belakang keluarga sebagai faktor internal yang berperan sebagi pembentuk sifat, proses pengambilan Keputusan dan tindakan terhadap hidupnya. Keluarga Beliau menerapkan konsep kejujuran dan keadilan bagi setiap anggota keluarga. Konsep kejujuran membentuk diri beliau menjadi manusia yang terbuka terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar, dalam hal lain dirinya akan memberikan sumbangan baik berupa barang atau pun uang kepada pengemis jika beliau memiliki harta yang cukup. Di sisi lain, konsep keadilan membentuk dirinya menjadi pribadi yang dermawan dan gemar untuk berbagi terhadap para pengemis secara sama rata tanpa memandang jenis pengemis yang dirinya temui. Pada bagian kedua, latar belakang lingkungan berperan sebagai faktor eksternal yang membentuk dirinya dalam berinteraksi dengan beragam manusia dari berbagai kalangan. Subjek penelitian kelima bekerja dalam organisasi kemanusiaan yang tidak memprioritaskan keuntungan. Dirinya bekerja secara Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 sukarela dan tidak dibayar demi meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang hidup di jalan. Lingkungan pekerjaan beliau membentuk dirinya sebagai manusia yang peka terhadap lingkungan Nilai-nilai kemanusiaan yang dirinya peroleh melalui tempat bekerja diinternalisasi ke dalam Perpaduan antara latar belakang keluarga dan lingkungan sekitar membentuk subjek penelitian menjadi manusia dengan sifat altruisme. Akan tetapi, sifat altrusime yang dimiliki oleh dirinya menjadi pedang bermata dua terhadap dirinya. Subjek penelitian selalu mengedepankan kepentingan orang lain dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Hal tersebut mengakibatkan dirinya sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab. 1 Tujuan Pemberi Sumbangan dalam Tindakan Memberikan Sumbangan Kepada Pengemis Pada rasionalitas instrumental, proses tujuan terjadi ketika pemberi sumbangan mencapai tujuan utama dengan membantu pengemis sebagai bentuk kebahagian tersendiri bagi individu. Dengan kata lain, individu yang mementingkan kepentingan individu lainnya daripada diri sendiri sehingga tindakannya tergolong ke dalam individu dengan sifat altruisme. Dalam buku AuNicomachaean EthicsAy. Aristoteles mengartikan altruisme sebagai sebuah tindakan yang ditujukan kepada orang lain dan hanya tertuju pada orang lain, bukan kepada diri orang tersebut (Robert, 2. Dengan kata lain, segala upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pemberi sumbangan ditujukkan kepada kemakmuran Lingkungan sekitar sebagai poros utama pembentuk upaya individu dalam memberikan Tindakan yang dilakukan secara berulang-berulang melalui aktivitas yang dilakukan, membentuk karakter dan cara pandang baru ketika melihat pengemis. Karakter pemberi sumbangan mengacu pada dua taraf kebiasaan/perilaku. dan motivasi . Kebiasaan yang dilakukan pemberi sumbangan dengan tuntutan pekerjaan, dan segala tindakan yang bantuan sosial menciptakan identitas pada diri individu untuk membantu menyejahterahkan pengemis secara Tindakan memberikan sumbangan yang dilakukan individu merupakan hasil dari kalkulasi rasional yang mempertimbangkan cara paling efisien untuk mencapai tujuan kemanusiaan. Dalam hal ini, nilai-nilai altruisme yang telah tertanam melalui lingkungan pekerjaan dan interaksi sosial menjadi motivasi utama. Motivasi ini tidak hanya didasarkan pada empati tetapi juga pada keyakinan bahwa membantu sesama adalah tindakan moral yang benar. Oleh karena itu, individu tersebut secara rasional memilih untuk terus memberikan sumbangan kepada pengemis karena tindakan ini sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pribadinya. Weber memberikan pemaparan tentang proses perkembangan rasionalitas sistem kepercayaan Secara garis besar weber membedakan sistem kepercayaan individua tau world view ke dalam beberapa bagian, yaitu magis, religi, dan ilmu pengetahuan. Weber memisahkan agama dan kepercayaan magis yang masih berhubungan dengan berbagai simbol dan cara pemujaan yang diciptakan individu. Agama membatasi tindakan dan perilaku manusia sesuai dengan pedomanpedoman yang tertulis di kitab suci. Dengan kata lain, agama menuntun pemeluknya agar tetap sejalan dengan tujuan dari keselamatan yang dianugerahi oleh Tuhan. Orientasi nurani seseorang akan mengubah tindak yang dilakukannya kepada individu lain dan membentuk relasi sosial dan kemudian berpengaruh pada perubahan sosial di dalam masyarakat. Seluruh aktivitas agama didasari oleh sumber sakral yang berasal dari Tuhan sehingga segala bentuk ajaran atau doktrin dalam agama merupakan hal yang mutlak (Schroeder, 2. Berdasarkan salah satu doktri agama dengan penganut terbanyak di Indonesia, sedekah dan zakat adalah kewajiban dan tindakan yang sangat dianjurkan. Kedua bentuk amal ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan harta dan mendapatkan berkah dari Tuhan. Keyakinan bahwa tindakan memberi sedekah dapat membawa seseorang lebih dekat kepada surga mencerminkan keimanan dan ketaatan terhadap ajaran agama. Individu yang berorientasi terhadap surga, memiliki harapan yang besar terhadap amal atau perbuatan baik diterima oleh Tuhan dan akan mendapatkan pahala di surga. Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Tindakan memberi sedekah dan zakat kepada pengemis dapat dilihat sebagai bagian dari fungsi sosial agama dalam masyarakat. Tindakan ini tidak hanya membantu mengurangi kemiskinan dan penderitaan pengemis, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan solidaritas antarindividu. Orientasi Nurani individu dipengaruhi oleh faktor surgawi yang menentukan tindakan pemberi sumbangan untuk berbuat baik terhadap sesama. Konsep sedekah dalam agama meyakini bahwa penganutnya sudah menjalankan agama dengan kebenaran dan kejujuran. Dengan kata lain, sedekah merupakan pembuktian dari kebenaran yang diterapkan agama bagi penganut kepercayaan agama tersebut. Di sisi lain, dalam etika kepercayaan agama lain, terdapat penekanan pada konsep kasih . sebagai landasan moralitas. Memberikan sumbangan kepada pengemis adalah perwujudan dari kasih, di mana tindakan tersebut tidak dilakukan untuk mendapatkan imbalan tetapi sebagai manifestasi dari kasih yang tulus dan tak bersyarat. Tindakan amal sebagai bukti bagi penganut agama dari iman dan kasih. Dalam rasionalitas afeksi, keluarga berperan sebagai institusi yang membentuk identitas individu melalui kebiasaan-kebiasaan yang telah diterapkan sejak anak usia dini. Keluarga pemberi sumbangan menerapkan konsep memberi (Givin. and menerima(Receivin. dalam ruang lingkung keluarga pemberi sumbangan sehingga membentuk identitas sebagai individu yang aktif berbagi di dalam masyarakat. Setiap individu memiliki pencapaian dalam hidup, keluarga akan berperan memberikan hadiah. sebagai bentuk perjuangan individu tersebut. Nilai tersebut diinternalisasi oleh individu kemudian tercipta output individu yang gemar berbagi terhadap sesama. Selain itu, rasionalitas afeksi berperan dalam output yang dihasilkan individu dalam masyarakat melalui kesamaan emosinal dan kesamaan nasib yang pernah dialami oleh individu di masa lampau. Kehidupan sulit yang dirasakan oleh pemberi sumbangan memberikan gambaran bagaimana para pengemis menjalani hidupnya sehingga terbentuk identitas individu yang berempati dan dengan rasa emosional yang tinggi ketika dihadapkan dengan pengemis. Individu akan bertindak secara spontan ketika melihat pengemis dan bertindak untuk memberikan bantuan, baik berupa barang ataupun uang (Nurmala Sari, 2. Emosi dan pengalaman personal dapat membentuk identitas dan memotivasi tindakan individu dalam konteks sosial. Keluarga pemberi Sumbangan telah menanamkan nilai-nilai yang kuat tentang berbagi dan peduli terhadap sesama, yang kemudian diterjemahkan ke dalam tindakan nyata dalam masyarakat. Identitas sebagai individu yang empatik dan dermawan ini diperkuat oleh pengalaman hidup yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, pengorbanan, dan solidaritas. 2 Moralitas Pemberi Sumbangan Ketika Dihadapkan Aturan Formal Moralitas individu pada dasarnya terbentuk melalui penerimaan identitas bagi individu. Individu dengan moralitas agama meyakini bahwa tindakan menyumbang sebagian dari harta merupakan tindakan rasional yang wajib dilakukan. Sedangkan dalam rasionalitas instrumental, moralitas individu terlihat dalam tujuan individu bertindak dan berperilaku dengan individu lainnya. Dengan begitu, tujuan pemberi Sumbangan dalam memberikan sumbangan dipengaruhi oleh doktrin yang diterima dalam lingkungan sosial kemudian diinternalisasi menjadi bagian diri individu tersebut. Kebahagian internal dan kesejahteraan sosial merupakan hasil dari moralitas yang terbentuk dalam individu. Di sisi lain, moralitas yang didasari doktrin lingkungan keluarga menghasilkan output individu yang peka terhadap lingkungan sosial dan empati yang tinggi. Namun, moralitas individu yang dipengaruhi oleh berbagai latar belakang berdampak pada kesadaran individu terhadap aturan formal yang mengatur. Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Cibinong yang memiliki aturan formal dalam Peraturan Daerah No 7 Tahun 2016 Pasal 57 yang melarang masyarakat untuk memberikan sumbangan kepada pengemis dengan sanksi denda sebesar Rp. 000 Ae, jika melanggar aturan formal tersebut. Namun, berdasarkan moralitas individu yang didasari latar belakang agama, keluarga dan lingkungan, aturan formal tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan dan tindakan pemberi sumbangan. Individu menganggap tindakan yang dilakukan dalam memberikan sumbangan kepada pengemis adalah hal yang rasional dan dalam perspektif individu hak personal tidak dapat diatur oleh aturan formal. Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Moralitas pemberi sumbangan ketika dihadapkan dengan aturan formal sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai kemanusiaan, keyakinan agama, dan pengaruh latar belakang keluarga. Meskipun aturan formal dapat menjadi faktor pembatas, individu sering kali memilih untuk mengutamakan nilai-nilai internal yang dianut oleh diri individu tersebut. Keyakinan terhadap moralitas yang dipercayai individu secara mendalam memiliki makna dalam kehidupan individu tersebut. Dengan demikian, moralitas pemberi sumbangan dapat bertentangan dengan aturan formal yang mungkin tidak mencerminkan atau bahkan mengabaikan nilai-nilai moral yang dipegang teguh oleh individu. 3 Peranan Rasionalitas Tradisional dalam Latar Belakang Lingkunga. Keluarga dan Agama Rasionalitas sering diartikan sebagai tindakan yang dilakukan secara repetisi dan turun Komponen yang terjaring dalam rasionalitas tradisional ialah budaya. Budaya menurunkan nilai-nilai dan kebiasaan generasi sebelumnya kepada generasi penerus agar nilai-nilai yang dipegang tidak hilang. Generasi penerus yang mendapatkan nilai dan kebiasaan dari generasi sebelumnya, tidak selalu berkaitan dengan adat-istiadat. Akan tetapi, ajaran dan nilai yang diturunkan melalui komunitas dalam masyarakat mengandung unsur budaya. Keluarga merupakan komunitas terkecil di dalam masyarakat, orang tua memiliki perananan untuk meneruskan nilai dan pegangan hidup kepada Oleh karena itu, keluarga merupakan irisan yang paling dekat dengan rasionalitas tradisional. Keluarga pemberi sumbangan dalam proses penerusan budaya, berperan sebagai institusi pertama dan utama dalam pemberian nilai dan ajaran kepada pemberi sumbangan. Nilai yang diserap oleh pemberi sumbangan, secara tidak langsung didapatkan melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Kemudian, ketika pemberi sumbangan tumbuh dewasa, output yang dihasilkan institusi keluarga terhadap pemberi Sumbangan adalah cara padangan pemberi sumbangan yang mengedepankan kesejahteraan individu lain. Selain itu, tindak pemberi sumbangan akan selaras dengan nilai-nilai yang sudah diserap dari keluarga pemberi sumbangan. Kemudian nilai yang diinternalisasi akan dibawa ke lingkungan sosial. Di sisi lain, agama berperan sebagai pedoman dalam membatasi seluruh tindakan yang dilakukan manusia karena pada dasarnya larang dan anjuran yang ada di dalam agama ialah mutlak. Oleh karena itu, budaya berkesinabungan dengan latar belakang agama, lingkungan dan keluarga. Kesimpulan Pada penelitian skripsi ini, peneliti menarik sebuah kesimpulan bahwa keputusan dan tindakan yang diambil oleh pemberi sumbangan melewati beberapa proses latar belakang yang kompleks, yang akhirnya membentuk identitas baru pada diri individu tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan di Kecamatan Cibinong menunjukkan bahwa para pemberi sumbangan bertindak atas dasar moralitas yang telah terbentuk dan terinternalisasi dari berbagai latar belakang, seperti lingkungan sosial, keluarga, dan keyakinan agama. Moralitas yang kuat ini ternyata tidak dapat dipengaruhi oleh aturan formal yang berlaku di Kecamatan Cibinong, sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Daerah No 7 Tahun 2016 Pasal 57, yang berisi larangan kepada masyarakat untuk memberikan sumbangan kepada pengemis dengan sanksi denda. Para pemberi sumbangan tetap memilih untuk memberikan bantuan kepada pengemis sebagai ekspresi dari nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang mereka anut. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun aturan formal dibuat untuk mengatur tindakan masyarakat, nilai-nilai moral dan etika yang dipegang individu memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mempengaruhi keputusan dan tindakan mereka. Oleh karena itu, untuk memahami sepenuhnya tindakan sosial dan keputusan individu, penting untuk mempertimbangkan latar belakang moral dan nilai-nilai yang membentuk identitas masing-masing. Paradigma. Volume 13. Number 3, 1Ae10, 2024 Daftar Pustaka