Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 STRATEGI PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA DI KAMPUNG BARETO SEBAGAI WISATA BUDAYA DAN EDUKASI BERBASIS WISATA MINAT KHUSUS Resta Nur Mauliddina1, Dani Adiatma2, Nissa Agniya Resmisari3 1,2,3 Universitas Garut Jl. Prof. K.H. Cecep Syarifudin d/h Jl. Raya Samarang No. 52A, Garut, Jawa Barat Email Correspondence: rnurmauliddina@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan atraksi wisata di Kampung Bareto sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi berbasis wisata minat khusus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap pengelola, pemilik, dan wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional (kaulinan barudak) dan nyanyian rakyat Sunda (kakawihan) tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai media edukasi yang efektif. Elemen budaya ini mampu menarik wisatawan dengan ketertarikan khusus terhadap budaya lokal serta mendorong pengalaman pembelajaran yang partisipatif. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan internal berupa keaslian budaya dan keterlibatan masyarakat, serta peluang melalui inovasi atraksi dan kolaborasi lintas sektor. Integrasi antara nilai budaya, pendekatan edukatif, dan partisipasi aktif memungkinkan Kampung Bareto untuk membangun citra sebagai destinasi wisata berbasis minat khusus yang berkelanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pariwisata dengan menekankan pentingnya peran budaya lokal dan keterlibatan wisatawan dalam menciptakan pengalaman wisata yang bermakna. Kata Kunci: Nilai Budaya; Pembelajaran Partisipatif; Permainan Tradisional; Strategi Destinasi; Pengembangan Wisata ABSTRACT This study aims to analyze the development strategy of tourist attractions in Kampung Bareto as a cultural and educational tourism destination based on special interest tourism. A qualitative method was used with data collected through in-depth interviews involving managers, owners, and visitors. The findings indicate that traditional games (kaulinan barudak) and Sundanese folk songs (kakawihan) are not only cultural expressions but also serve as effective tools for cultural education. These elements have the potential to attract visitors with specific cultural interests and enhance participatory learning experiences. The SWOT analysis identified internal strengths such as cultural authenticity and active community involvement, along with opportunities for collaboration and creative innovation. The integration of cultural values, educational content, and participatory approaches enables Kampung Bareto to position itself as a sustainable destination for special interest tourism. This research contributes to the academic discourse on tourism development by emphasizing the role of local culture and active engagement in shaping meaningful tourist experiences. Keywords: Cultural Values; Participatory Learning; Traditional Games; Destination Strategy; Tourism Development 76 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Pariwisata di Indonesia memiliki potensi besar sebagai penambah devisa negara dengan banyaknya daerah tujuan wisata yang terus berkembang dan dikelola dengan baik (Hadi & Yuwanti, 2022) Setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Permainan tradisional sering kali terancam punah akibat modernisasi dan perubahan gaya hidup. Menurut (Damayanti et al., 2023) permainan tradisional diakui sebagai warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi dan perlu dilestarikan agar tidak punah dan terlupakan. Selain itu, permainan tradisional juga berperan dalam melatih perkembangan motorik anak. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Wisata minat khusus merupakan salah satu bentuk pariwisata yang menekankan pada ketertarikan personal wisatawan terhadap aktivitas atau tema tertentu. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh individu maupun kelompok yang ingin mengembangkan minat spesifik melalui kunjungan ke destinasi atau situs yang berkaitan dengan topik tersebut (Kemenparekraf, 2023). Wisata minat khusus lebih mengutamakan wisatawan yang memiliki motivasi dan tujuan spesifik. Berdasarkan (Wirawan dan Semara, 2021), Wisata minat khusus berfokus pada pengalaman unik dan sering kali memerlukan keterampilan tertentu, serta menekankan aspek keberlanjutan lingkungan sebagai elemen penting dalam pengembangannya. (Putu Herny Susanti, Rahmawati & Rizki Amelia, 2024) menekankan bahwa pendekatan inovatif dalam wisata minat khusus harus mempertimbangkan keberlanjutan sebagai pondasi utama, tidak hanya dalam pelestarian alam tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan sosial dan budaya masyarakat lokal. Dalam konteks ini, wisata minat khusus tidak hanya menjadi media rekreasi dan edukasi, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem destinasi. Dalam konteks teoritis yang lebih luas, fenomena wisata budaya dan edukasi ini dapat dijelaskan melalui konsep modal budaya dan habitus yang dikemukakan oleh Bourdieu (1977, 1986). Modal budaya mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilainilai budaya yang diwariskan melalui proses sosialisasi, sementara habitus merujuk pada disposisi internal yang terbentuk dari pengalaman sosial seseorang. Aktivitas seperti permainan tradisional (kaulinan barudak), nyanyian rakyat (kakawihan), serta pelatihan seni dan interaksi langsung antara wisatawan dan pelaku budaya di Kampung Bareto merupakan bentuk pewarisan nilai budaya lokal kepada wisatawan. Praktik ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisata, tetapi juga menjadi mekanisme reproduksi habitus budaya masyarakat Sunda. Dengan demikian, teori ini memberikan kerangka konseptual untuk memahami bagaimana atraksi budaya dalam wisata minat khusus berfungsi sebagai media pelestarian nilai dan penguatan identitas lokal. Sementara itu, Menurut (Wirawan dan Semara, 2021), wisata budaya adalah perjalanan yang dilakukan dengan tujuan memperluas wawasan tentang kebiasaan, adat istiadat, seni, serta cara hidup masyarakat di suatu daerah. Wisata budaya seringkali mencakup aktivitas edukatif seperti kunjungan ke situs sejarah, partisipasi dalam tradisi lokal, atau belajar keterampilan budaya seperti membatik atau menari. Wisata budaya berbasis minat khusus tidak hanya sebatas mengunjungi tempat-tempat budaya atau menyaksikan pertunjukan tradisional, tetapi juga melibatkan wisatawan dalam pengalaman langsung. Wisatawan yang tertarik dengan budaya tertentu akan lebih memilih pengalaman yang memungkinkan mereka untuk ikut serta dalam aktivitas budaya tersebut, seperti belajar memainkan alat musik tradisional, mengikuti lokakarya 77 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 seni rupa khas daerah, atau mempelajari ritual adat dari masyarakat setempat. Wisata budaya berbasis minat khusus melibatkan wisatawan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap budaya tertentu, sehingga lebih terdorong mengikuti aktivitas edukatif dan partisipatif. Keterlibatan langsung dalam praktik budaya, seperti belajar dari seniman lokal, tidak hanya memperkaya pengalaman, tetapi juga mendukung pelestarian seni dan tradisi secara berkelanjutan. Wisata budaya berbasis minat khusus juga dapat dikombinasikan dengan pendekatan edukatif, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati pengalaman budaya tetapi juga memperoleh pengetahuan yang lebih dalam. Wisata edukasi (edutourism) merupakan bagian dari wisata minat khusus yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui kunjungan ke destinasi tertentu. Jenis wisata ini diminati oleh berbagai kalangan, khususnya institusi pendidikan, karena dianggap sebagai metode pembelajaran praktik yang efektif dan kontekstual di lapangan. Selain berfungsi sebagai sarana rekreasi, wisata edukasi juga menjadi media pembelajaran alternatif yang dapat memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang dipelajari (Anggraini & Suryani Chodidjah, 2023). Konsep ini dapat dikembangkan dalam bentuk wisata budaya yang berfokus pada pelestarian dan pembelajaran kesenian tradisional. Pendekatan ini memungkinkan wisatawan untuk lebih memahami latar belakang budaya yang mereka pelajari, sehingga pengalamanwisata tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sarana edukasi yang bermanfaat. Hal ini sejalan dengan pendapat (Abrian et al., 2023) yang menyatakan bahwa pengalaman pariwisata mencakup berbagai aspek selama kunjungan wisatawan ke suatu destinasi, termasuk kegiatan dan interaksi dengan penduduk lokal. Dengan demikian, keterlibatan aktif dalam kegiatan budaya tradisional dapat memperkuat pengalaman wisata secara keseluruhan serta membentuk citra positif terhadap destinasi yang dikunjungi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami strategi pengembangan atraksi wisata di Kampung Bareto sebagai wisata budaya dan edukasi berbasis wisata minat khusus. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). Menurut (Kurniasih et al., 2021), analisis SWOT adalah instrumen perencanaan strategis klasik yang membantu mengenali kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal. Informasi eksternal mengenai peluang dan ancaman dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk pelanggan, dokumen, pemerintah, pemasok, perbankan, serta rekan di industri terkait. Dengan menggunakan kerangka kerja ini, perencana dapat menentukan strategi terbaik yang dapat dilakukan serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam perumusan strategi pengembangan. Dalam konteks penelitian ini, analisis SWOT digunakan untuk: 1. Mengidentifikasi kekuatan (strengths) yang dimiliki Kampung Bareto dalam pengembangan wisata budaya berbasis minat khusus. 2. Menganalisis kelemahan (weaknesses) yang menjadi hambatan dalam pengembangan atraksi wisata. 3. Menentukan peluang (opportunities) yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat daya tarik wisata budaya dan edukasi. 4. Mengevaluasi ancaman (threats) yang dapat berdampak terhadap keberlanjutan pengembangan atraksi wisata di Kampung Bareto. 78 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi akan dianalisis menggunakan pendekatan SWOT untuk menghasilkan strategi yang tepat dalam meningkatkan daya tarik wisata Kampung Bareto. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kampung Bareto Kampung Bareto merupakan destinasi wisata budaya dan edukasi yang berlokasi di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Tempat ini didirikan pada tahun 2022 oleh Cepi Kusumah, S.Pd., seorang tokoh lokal yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Sunda. Nama “Bareto” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “jaman dulu”, sebagai representasi dari konsep wisata yang ditawarkan, yaitu menghadirkan kembali nuansa masa lalu melalui berbagai atraksi permainan tradisional dan kegiatan budaya khas Sunda. Inisiatif pendirian Kampung Bareto juga bertujuan mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pemuatan nilai-nilai kearifan lokal melalui program muatan lokal (mulok), serta turut berkontribusi terhadap amanat (UUD RI, 2017) tentang Pemajuan Kebudayaan. Secara konsep, Kampung Bareto mengedepankan suasana tempo dulu melalui desain fisik kawasan dan aktivitas wisata yang ditawarkan. Penamaan bangunan di area wisata pun disesuaikan dengan bentuk dan fungsinya, Kampung Bareto tidak hanya menawarkan aktivitas bermain, tetapi juga mengintegrasikan kegiatan budaya secara rutin. Menurut pengelola, kegiatan mingguan terbuka untuk umum dan banyak diikuti oleh warga sekitar. Selain kegiatan mingguan, terdapat pula festival tahunan yang digelar setiap malam satu Suro atau malam satu Muharam. Dalam festival tersebut, pengunjung dapat menikmati prosesi budaya seperti kirab pusaka, gerebek tumpeng, lengser, pertunjukan seni tradisi, hingga lomba pencak silat. Festival ini sekaligus menjadi ajang partisipasi masyarakat lokal dan komunitas adat di wilayah Garut. Dari sisi fasilitas, Kampung Bareto menyediakan penginapan berupa cottage dengan dua tipe, yaitu cottage besar dan kecil. Selain itu, tersedia area workshop untuk kegiatan edukatif seperti anyaman dan batik. Dalam beberapa kegiatan besar, pengelola juga memberikan ruang khusus bagi pelaku UMKM lokal untuk berjualan, tanpa dipungut biaya. Namun demikian, dari wawancara dengan salah seorang wisatawan yang juga merupakan guru SD, ditemukan bahwa beberapa fasilitas mulai membutuhkan perawatan, terutama bangunan berbahan kayu yang mulai mengalami kerusakan ringan. Ia juga mengusulkan agar konten sejarah dan budaya yang ditampilkan dapat ditingkatkan agar lebih informatif dan mendalam. Profil pengunjung Kampung Bareto didominasi oleh rombongan sekolah dasar dan menengah yang mengikuti kegiatan pendidikan luar kelas atau program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Selain itu, keluarga lokal dan komunitas seni juga turut meramaikan destinasi ini. Akan tetapi, pengelola mencatat bahwa tingkat kunjungan ulang (repeat visit) masih tergolong rendah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola dalam upaya menjaga keberlanjutan kunjungan. Dalam hal sumber daya manusia, Kampung Bareto melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja tetap maupun musiman. Dengan demikian, keberadaan Kampung Bareto tidak hanya menjadi tempat wisata, melainkan juga instrumen pemberdayaan sosial dan pelestarian budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat lokal. 79 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Posisi Kampung Bareto dalam Kategori Wisata Minat Khusus Kampung Bareto sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi dapat dikategorikan ke dalam jenis wisata minat khusus. Dalam teori yang dijelaskan oleh (Cooper, et al., 1988) tentang wisata minat khusus, jenis perjalanan ini dilakukan oleh wisatawan dengan tujuan yang spesifik terkait dengan suatu aktivitas, tema, atau minat tertentu, yang membedakannya dari pariwisata massal yang lebih bersifat umum. Wisatawan dalam kategori ini mencari pengalaman yang lebih mendalam, personal, dan bermakna dengan objek yang sesuai dengan ketertarikan mereka. Sebagaimana diperbarui oleh (Fletcher et al., 2020) dalam edisi keenam, konsep ini tetap relevan dengan penekanan pada pencarian pengalaman yang lebih khusus dan personal dalam pariwisata. Fokus ini membedakan Kampung Bareto dari destinasi wisata konvensional yang umumnya menawarkan hiburan massal atau wisata alam biasa. Wisatawan yang datang ke Kampung Bareto umumnya memiliki motivasi khusus untuk: ● Mempelajari budaya lokal, ● Mengalami permainan tradisional secara langsung, ● Menumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai sosial dan budaya Sunda, ● Mengintegrasikan aktivitas wisata dengan pembelajaran edukatif berbasis budaya. Segmen wisatawan mencerminkan karakteristik wisata minat khusus, di mana aktivitas wisata yang dilakukan bertumpu pada tema budaya dan pendidikan. Identifikasi Atraksi dan Nilai Edukasi Budaya Beberapa contoh kaulinan dan kakawihan beserta nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 1. Kaulinan Barudak Lembur Urang Sunda (Permainan Tradisional) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kaulinan Barudak Lembur Urang Sunda Maen karet: loncat tinggi, sapintrong, blig bligan, simse, maen kobak, bentuk huruf Gambar: geplak, centring, keprok gambar Kelereng Sondah / engklek Panggal / gangsing Sorodot gaplok Galah sin / galah sodor Pepeletokkan Ketepel (additional) Panahan / jamparingan (additional) Sumpit (additional) Boy boyan Dam daman Peperenan Encrak Bekles Balap karung Tarik tambang Engrang 80 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 No. 20 21 22 23 24 25 e-ISSN : 2620-9322 Kaulinan Barudak Lembur Urang Sunda Egrang batok Layang-layang (additional) Sarung: Alung sarung / lempar sarung, ninja, baju, boneka, kura-kura, buntut ucing Rebon / prisprisan Ucing ucingan: kup, jongkok, hong/25, hayam-peucang Bakiyak Sumber : Pengelola Kampung Bareto Tabel 2. Kakawihan Urang Sunda (Nyanyian Bahasa sunda) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kakawihan Urang Sunda CING CIRIPIT Caca burange Paciwit ciwit lutung Cing cangkeling Trang trang kolentrang Dongdang wayang Oray orayan Manuk japati (aya hiji kurung) Punten mangga Dal del dol Bang kalima gobang (MARGALUYU) Eundeuk eundeukan Endog endog an Jaleuleu Perepet jengkol Ayang ayang gung Sur ser Sep dur Sisig nini Tokecang Kelenenang keleneng Tete tamute Do mi ka do Sumber : Pengelola Kampung Bareto Berdasarkan data yang diperoleh dari pengelola Kampung Bareto, terdapat lebih dari 20 jenis kaulinan barudak yang diperkenalkan, Permainan-permainan ini mencerminkan filosofi masyarakat Sunda, seperti pentingnya kerja sama, ketangkasan, ketahanan fisik, strategi, sportivitas, serta pengendalian diri. Selain permainan tradisional, Kampung Bareto juga mempertahankan tradisi kakawihan, yaitu nyanyian rakyat Sunda yang biasa dinyanyikan dalam aktivitas permainan. Kakawihan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap permainan, tetapi juga sebagai media pembelajaran nilai-nilai kolektif, kecintaan terhadap bahasa daerah, serta penguatan hubungan sosial di antara peserta permainan. Salah satu atraksi tambahan yang turut mendukung fungsi edukatif di Kampung Bareto adalah keberadaan museum mini yang menampilkan koleksi artefak budaya Sunda, seperti peralatan rumah tangga tradisional, alat musik, dan dokumentasi 81 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 kebudayaan sunda. Museum ini berfungsi sebagai ruang interpretasi budaya yang memungkinkan wisatawan memahami konteks sejarah dari aktivitas yang mereka jalani di lapangan. Keberadaan museum menjadi penguat dimensi edukatif destinasi, sekaligus menegaskan Kampung Bareto sebagai ruang pembelajaran budaya yang komprehensif. Peran Pengelolaan dan Keterlibatan Masyarakat Lokal Kampung Bareto juga merupakan ruang partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan. Sejak awal pendiriannya, pengelolaan Kampung Bareto dirancang dengan pendekatan kolaboratif, yang melibatkan masyarakat lokal Cisurupan sebagai mitra utama dalam berbagai aspek, baik dalam ketenagakerjaan, kegiatan budaya, maupun program sosial. Berdasarkan hasil wawancara dengan Cepi Kusumah, S.Pd., pemilik dan pendiri Kampung Bareto, terdapat sejumlah inisiatif strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Salah satu bentuk konkret pemberdayaan tersebut adalah melalui perekrutan tenaga kerja dari masyarakat sekitar, khususnya yang berada di wilayah yang paling dekat dengan lokasi wisata. Masyarakat tersebut dipekerjakan sebagai staf harian tetap maupun sebagai tenaga musiman yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan atau event besar. Selain itu, pengelola Kampung Bareto juga memberikan ruang usaha bagi masyarakat dengan melibatkan pelaku UMKM yang diizinkan berjualan selama event berlangsung tanpa dikenakan biaya sewa. Ini menjadi bentuk dukungan langsung terhadap ekonomi lokal dan menunjukkan bahwa kegiatan wisata tidak dapat dipisahkan dari keberpihakan pada kesejahteraan masyarakat sekitar. Di samping itu, masyarakat juga diberikan akses untuk mengikuti pelatihan keterampilan, seperti membatik dan menganyam. Program-program ini tidak hanya mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan wisata, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa agar lebih siap menghadapi peluang di sektor pariwisata. Dari sisi operasional, Kampung Bareto menunjukkan pengelolaan yang adaptif dan inovatif. Windy, pengelola harian, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam mengelola atraksi wisata seperti ini adalah mempertahankan minat pengunjung. Untuk itu, pihak pengelola terus berupaya mengembangkan programprogram baru, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah, dinas pendidikan, dan komunitas budaya. Pengembangan konten wisata yang melibatkan pengenalan sejarah lokal dan kegiatan spiritual berbasis tradisi juga sedang dirancang sebagai upaya untuk memperluas segmen pasar dan memperkaya pengalaman wisata yang ditawarkan. Dalam konteks relasi budaya dan sosial, Kampung Bareto menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas adat dan paguron di wilayah Kabupaten Garut, termasuk Kampung Dukuh, Kampung Pulo, dan komunitas pelestari aksara Sunda kuno. Kerja sama ini menjadikan Kampung Bareto sebagai titik temu antara tradisi dan inovasi, serta antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Pengelola dan pemilik memosisikan diri sebagai fasilitator yang membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat dan tumbuh bersama dalam ekosistem pariwisata budaya yang sedang dibangun. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip community-based tourism, di mana keberadaan destinasi wisata tidak hanya dilihat sebagai sarana komersialisasi budaya, tetapi juga sebagai upaya kolektif untuk melestarikan identitas lokal dan meningkatkan kesejahteraan sosial. (Nugraha, 2021) 82 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Tantangan dan Harapan dalam Pengembangan Wisata Sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi yang relatif baru berdiri, Kampung Bareto menghadapi berbagai tantangan dalam proses pengembangan dan pengelolaannya. Tantangan ini datang dari berbagai sisi, baik internal maupun eksternal, yang mempengaruhi keberlangsungan kegiatan wisata dan pencapaian tujuan jangka panjang sebagai pusat pembelajaran budaya Sunda. Salah satu tantangan utama yang disampaikan oleh pengelola adalah rendahnya tingkat kunjungan ulang (repeat visit). Banyak wisatawan yang datang ke Kampung Bareto hanya sekali, tanpa dorongan kuat untuk kembali. Hal ini terjadi karena variasi atraksi yang masih terbatas dan kurangnya pembaruan konten atau program yang dapat menarik pengunjung untuk datang lebih dari sekali. Pengelola menyadari bahwa sebagai wisata buatan, daya tarik Kampung Bareto sangat bergantung pada kreativitas dan inovasi program. Oleh karena itu, strategi pengembangan konten yang berkelanjutan menjadi krusial agar wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memiliki pengalaman baru dalam setiap kunjungan. Selain itu, promosi digital menjadi tantangan besar yang dihadapi pihak pengelola. Meskipun Kampung Bareto sudah memiliki akun media sosial di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook, aktivitas promosi masih belum maksimal. Hal ini disebabkan oleh belum adanya tim khusus yang menangani promosi secara konsisten. Keterbatasan ini berdampak pada jangkauan informasi yang dapat diterima masyarakat luas, terutama generasi muda yang sangat bergantung pada media digital dalam memilih destinasi wisata. Pemilik menyampaikan bahwa saat ini promosi masih dilakukan secara mandiri dan belum terstruktur, sehingga dibutuhkan sumber daya tambahan untuk mengelola konten promosi secara profesional. Dari sisi infrastruktur, wisatawan mencatat bahwa beberapa fasilitas di Kampung Bareto memerlukan perawatan, khususnya bangunan-bangunan kayu yang mulai mengalami kerusakan. Ketersediaan fasilitas yang nyaman dan aman merupakan faktor penting dalam memberikan kesan positif bagi pengunjung, terlebih jika menyasar segmen edukasi seperti rombongan sekolah. Oleh karena itu, perbaikan dan pemeliharaan fasilitas fisik menjadi salah satu prioritas pengembangan ke depan. Tantangan lain yang juga menjadi perhatian adalah keterbatasan anggaran. Seluruh kegiatan di Kampung Bareto saat ini dibiayai secara mandiri oleh pemilik dan belum mendapatkan dukungan pendanaan dari pihak luar. Hal ini menyebabkan pengembangan atraksi, perluasan fasilitas, serta program sosial hanya bisa dilakukan secara bertahap dan terbatas pada kemampuan yang ada. Meskipun begitu, semangat dan komitmen pengelola untuk terus bergerak dan berkembang tetap tinggi. Harapan ke depan disampaikan baik oleh pengelola maupun wisatawan. Dari sisi internal, pengelola berharap dapat membentuk tim promosi digital yang solid dan inovatif untuk meningkatkan visibilitas Kampung Bareto di dunia maya. Mereka juga tengah menyiapkan pengembangan atraksi baru, termasuk wisata sejarah dan spiritual berbasis kearifan lokal Garut, untuk memperluas segmen pasar. Pemilik juga berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah, terutama dalam bentuk kemitraan strategis, pelatihan SDM, dan fasilitasi promosi pariwisata. Sementara itu, wisatawan berharap agar Kampung Bareto dapat memperkaya konten sejarah dan informasi budaya, agar wisata ini tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga tempat belajar yang lengkap. Ia juga menyarankan agar fasilitas-fasilitas yang mulai rusak dapat segera diperbaiki untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan 83 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 pengunjung, terutama anak-anak sekolah. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi dan harapan yang telah disampaikan, Kampung Bareto memiliki potensi besar untuk terus tumbuh sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi unggulan di Kabupaten Garut. Diperlukan sinergi antara pengelola, masyarakat, dan pihak eksternal agar proses pengembangan ini dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak positif bagi pelestarian budaya serta pemberdayaan masyarakat lokal. Analisis SWOT Kampung Bareto Matriks analisis SWOT merupakan lanjutan dari evaluasi situasi internal dan eksternal yang telah dilakukan sebelumnya. Pada tahap ini, faktor internal yang mencakup kekuatan dan kelemahan, dikombinasikan secara sistematis dengan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman. Hasil dari kombinasi ini menghasilkan sejumlah alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan Kampung Bareto, dengan tujuan memperkuat daya saing destinasi dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.(Wiswasta et al., 2018) Tabel 3. Analisis SWOT Strengths (Kekuatan) Weaknesses (Kelemahan) 1. Atraksi permainan tradisional yang lengkap 1. Promosi digital belum optimal, dan sarat nilai edukatif. tidak memiliki tim khusus. 2. Kegiatan budaya rutin seperti latihan tari 2. Angka repeat visit rendah dan musik tradisional. karena variasi atraksi belum 3. Pelibatan aktif masyarakat lokal dalam cukup inovatif. operasional dan UMKM. 3. Beberapa fasilitas seperti 4. Desain kawasan yang khas dan jembatan dan elemen merepresentasikan identitas budaya Sunda. pendukung lainnya mulai mengalami kerusakan. 4. Pendanaan masih terbatas karena seluruh kegiatan dibiayai secara swadaya. 5. Plang penunjuk arah ke lokasi wisata masih kecil dan kurang terlihat dari jalan raya. Opportunities (Peluang) Threats (Ancaman) 1. Potensi kerja sama lebih luas dengan 1. Perubahan tren wisata yang sekolah, komunitas budaya, dan komunitas cepat dan dipengaruhi konten wisata edukasi. viral. 2. Minat pasar terhadap wisata nostalgia dan 2. Persaingan dengan wisata alam pengalaman budaya yang meningkat. dan buatan lain yang lebih 3. Dukungan komunitas lokal dan jaringan populer di media sosial. mitra budaya seperti paguron, seniman, dan 3. Harapan wisatawan terhadap pelestari adat. fasilitas modern yang terus meningkat. Melalui analisis ini, dapat dilihat bahwa kekuatan utama Kampung Bareto terletak pada keunikan atraksi berbasis budaya dan keterlibatan komunitas lokal yang kuat. 84 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Namun, kelemahan terkait promosi digital, fasilitas yang belum optimal, serta keterbatasan anggaran, perlu segera diatasi agar dapat memanfaatkan peluang yang ada. Sementara itu, dinamika tren pariwisata modern dan ketatnya persaingan dengan destinasi lain menjadi ancaman yang perlu diantisipasi melalui inovasi produk, peningkatan kualitas layanan, dan strategi pemasaran yang lebih efektif. Strategi Pengembangan Atraksi Wisata Berdasarkan hasil analisis SWOT yang telah dilakukan, disusun beberapa alternatif strategi pengembangan untuk meningkatkan daya tarik dan keberlanjutan Kampung Bareto sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi berbasis wisata minat khusus. Strategi ini mengkombinasikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang diidentifikasi, menghasilkan formulasi strategi SO (Strengths-Opportunities), WO (WeaknessesOpportunities), ST (Strengths-Threats), dan WT (Weaknesses-Threats). (Rangkuti, 2014) Strategi pengembangan Kampung Bareto diarahkan untuk: ● Memaksimalkan kekuatan internal untuk merebut peluang eksternal, ● Meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang, ● Menggunakan kekuatan untuk mengantisipasi ancaman, ● Mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman potensial. Adapun hasil formulasi strateginya sebagai berikut: Tabel 4. Matriks Strategi SWOT Kampung Bareto Strategi SO (Strengths - Opportunities) 1. Mengembangkan paket wisata edukasi berbasis permainan tradisional dan budaya Sunda untuk segmen sekolah dan komunitas budaya. 2. Menjalin kerja sama aktif dengan komunitas budaya, paguron, dan lembaga pendidikan untuk memperluas jangkauan program budaya. 3. Menawarkan paket wisata nostalgia berbasis pengalaman budaya, menyasar pasar wisata minat khusus. 4. Membuka aktivitas khusus untuk wisatawan individu seperti workshop membuat mainan tradisional (egrang mini, katepel sederhana) dan lomba ketangkasan individu, sehingga memperluas pengalaman wisata personal. Strategi ST (Strengths - Threats) 1. Membuat konten digital kreatif (foto, video, reels) berbasis filosofi permainan tradisional untuk mengikuti tren media sosial sambil mempertahankan nilai budaya. Strategi WO (Weaknesses Opportunities) 1. Membentuk tim promosi digital dari tenaga muda lokal untuk meningkatkan pemasaran melalui media sosial dan platform kreatif. 2. Menambahkan inovasi atraksi baru berupa festival budaya, lomba kreatifitas budaya, dan kompetisi permainan tradisional untuk mendorong repeat visit. 3. Mengajukan kemitraan pendanaan kepada pihak ketiga atau program CSR untuk mendukung renovasi fasilitas dan pengembangan atraksi baru. 4. Mendesain tiket masuk yang juga berfungsi sebagai souvenir edukatif bernuansa budaya lokal, seperti gantungan kunci, pembatas buku, atau kartu pos tematik Strategi WT (Weaknesses - Threats) 1. Menyusun program renovasi fasilitas bertahap, prioritas pada jembatan dan area untuk memenuhi publik penting, ekspektasi wisatawan. 85 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 Strategi SO (Strengths - Opportunities) e-ISSN : 2620-9322 Strategi WO Opportunities) (Weaknesses - 2. Menyelenggarakan event budaya tematik 2. Mendesain ulang plang penunjuk arah musiman (Festival Bareto) untuk wisata agar lebih menarik dan jelas terlihat mempertahankan eksistensi di tengah perubahan dari jalan utama. tren pariwisata. 3. Merancang program pengembangan 3. Mengoptimalkan estetika kawasan Sunda atraksi berdasarkan preferensi wisatawan tempo dulu sebagai kekuatan branding visual hasil survei, guna memperbaiki tingkat destinasi. kunjungan ulang dan memperluas segmen pasar. 4. Menyediakan aktivitas personal seperti 4. Membuat paket wisata bertema "sehari permainan ketangkasan individu, instalasi seni jadi jagoan budaya" untuk individu budaya, atau sudut “self-challenge” bertema maupun rombongan kecil, sehingga permainan tradisional untuk menarik wisatawan mengurangi ketergantungan pada event Gen Z yang menyukai tantangan individual. besar. Melalui penyusunan strategi ini, diharapkan Kampung Bareto mampu memperkaya ragam pengalaman wisata, tidak hanya untuk kelompok rombongan, tetapi juga untuk wisatawan perseorangan. Aktivitas berbasis individu seperti workshop kerajinan sederhana, permainan ketangkasan tradisional, dan kuis budaya interaktif dapat meningkatkan engagement wisatawan, memperpanjang durasi kunjungan, serta memperkuat identitas Kampung Bareto sebagai destinasi budaya yang inovatif dan berkelanjutan. Implikasi Manajerial dan Rekomendasi Berdasarkan hasil analisis SWOT dan formulasi strategi pengembangan, Implikasi manajerial pertama adalah pentingnya pembentukan tim promosi digital yang fokus dan terlatih. Mengingat peran media sosial dalam membangun citra destinasi saat ini sangat dominan, pengelola perlu merekrut sumber daya manusia muda yang paham tren digital untuk mengelola konten media sosial secara profesional, konsisten, dan kreatif. Aktivitas ini tidak hanya membantu dalam memperluas visibilitas Kampung Bareto, tetapi juga menjawab tantangan cepatnya perubahan tren pariwisata berbasis viralitas. Kedua, pengelola dapat merancang tiket masuk yang tidak hanya berfungsi sebagai akses ke destinasi, tetapi juga memiliki nilai tambah sebagai cendera mata edukatif. Desain tiket dapat dikembangkan sedemikian rupa agar memiliki manfaat jangka panjang serta mampu memperkuat pengalaman wisatawan terhadap nilai-nilai budaya yang ditawarkan oleh destinasi. Implikasi ketiga adalah perlunya renovasi dan peningkatan fasilitas. Fokus renovasi diarahkan pada perbaikan fasilitas vital seperti jembatan dan area publik utama yang sering digunakan pengunjung. Kualitas infrastruktur yang baik akan meningkatkan kenyamanan wisatawan, memperkuat reputasi destinasi, dan berkontribusi terhadap tingkat kunjungan ulang. Implikasi keempat adalah pentingnya pengembangan kolaborasi strategis. Kampung Bareto perlu memperluas jejaring kerja sama, tidak hanya dengan sekolah dan komunitas budaya, tetapi juga dengan perusahaan swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pendanaan perbaikan fasilitas dan pengembangan program baru. Selain itu, memperkuat hubungan dengan komunitas lokal akan menjaga keberlanjutan sosial, budaya, dan ekonomi destinasi. 86 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Berdasarkan implikasi di atas, berikut rekomendasi yang dapat dijadikan rujukan bagi pengelola Kampung Bareto: 1. Membentuk unit pemasaran digital yang bertugas khusus membuat konten kreatif di media sosial, melakukan promosi berbayar (ads), dan membangun engagement dengan target pasar muda. 2. Mengadakan inovasi atraksi secara berkala, termasuk aktivitas individual seperti workshop kerajinan, lomba ketangkasan permainan tradisional, dan kuis budaya untuk meningkatkan engagement personal. 3. Melaksanakan program renovasi fasilitas bertahap, dimulai dari elemen infrastruktur yang paling strategis dan berdampak langsung terhadap pengalaman pengunjung. 4. Mendesain ulang plang wisata dan signage internal agar lebih menarik, jelas, dan mudah dikenali dari jalan raya maupun dalam kawasan wisata. 5. Menggencarkan kolaborasi dengan komunitas budaya, sekolah, komunitas wisata, dan lembaga CSR untuk memperluas program dan memperkuat dukungan eksternal. 6. Menyusun roadmap pengembangan atraksi jangka menengah, berbasis survei kepuasan dan preferensi wisatawan, untuk menjaga relevansi dan memperkuat daya saing Kampung Bareto di tengah persaingan destinasi budaya lainnya. Dengan implementasi rekomendasi ini, diharapkan Kampung Bareto dapat mempertahankan identitasnya sebagai destinasi budaya dan edukasi, sekaligus meningkatkan adaptabilitas terhadap perkembangan kebutuhan dan preferensi pasar wisata di masa depan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan atraksi wisata di Kampung Bareto dapat diarahkan melalui optimalisasi potensi lokal berupa permainan tradisional dan kakawihan sebagai media edukasi yang bernilai budaya. Analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi yang relevan dengan kondisi internal dan eksternal destinasi, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih terarah. Integrasi pendekatan wisata minat khusus memperkuat keterlibatan wisatawan dalam pengalaman budaya yang bersifat partisipatif dan bermakna. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa perpaduan antara pelestarian budaya, strategi pengelolaan yang adaptif, dan konsep wisata berbasis minat khusus menjadi dasar yang kuat dalam upaya pengembangan destinasi wisata budaya dan edukasi yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Abrian, Y., Wardi, Y., Abror, A., Dwita, V., & Evanita, S. (2023). Pengalaman Wisata dan Citra Destinasi: Sebuah Kajian Pustaka Sistematis. Indonesian Journal of Tourism and Leisure, 4(2), 125–138. https://doi.org/10.36256/ijtl.v4i2.347 Anggraini, L., & Suryani Chodidjah. (2023). Pengaruh Wisata Edukasi,Niat Perilaku dan Lokasi Terhadap Niat Berkunjung Ulang Ke Taman Ismail Marzuki Jakarta. 10(2), 1–17. Adiatma, D., Susilawati, W., & Anggraeni, W. (2024). Pengaruh accessibility dan social media marketing pada minat berkunjung kembali di objek wisata Taman Wisata Alam Talaga Bodas. Jurnal Industri Pariwisata, 6(2), 190-203. Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice (R. Nice, Trans.). Cambridge University Press. 87 Jurnal Industri Pariwisata Vol 8, No. 1, 2025 e-ISSN : 2620-9322 Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241–258). Greenwood Press. Cooper, C., Fletcher, J., Gilbert, D., Shepherd, R., & Wanhill, S. (1988). TOURISM PRINCIPLES AND PRACTICE. Damayanti, S. N., Tiaraningrum, F. H., Nurefendi, J., & Lestari, E. Y. (2023). Pengenalan Permainan Tradisional untuk Melestarikan Budaya Indonesia. Jurnal Bina Desa, 5(1), 39–44. https://doi.org/10.15294/jbd.v5i1.41045 Fletcher, J., Fyall, A., Gilbert, D., & Wanhill, S. (2020). TOURISM PRINCIPLES AND PRACTICE sixth edition. pearson. Hadi, F., & Yuwanti, S. (2022). Strategi Pengembangan Tarian Tradisional Zapin Bengkalis Sebagai Upaya Peningkatan Minat Khusus Daya Tarik Wisata Dan Budaya. Jurnal Ekonomi, Manajemen Pariwisata Dan Perhotelan, 1(3), 271–276. https://doi.org/10.55606/jempper.v1i3.537 Kemenparekraf. (2023). Laporan Akhir Identifikasi Tingkat Ketertarikan Negara Bebas Visa Terhadap Minat Aktivitas Wisata Minat Khusus. Kemenparekraf.Go.Id. Kurniasih, D., Rusfiana, Y., Subagyo, A., & Nuradhawati, R. (2021). Teknik Analisa. In Alfabeta Bandung. Kartika, N., Firmansyah, D., & Dhamayanty, S. (2024). The role of pentahelix elements in the tourism development process in Jati Tourism Village, Garut Regency. Nokialita, F., Susilawati, W., & Dhamayanty, S. (2024). Strategi pemasaran desa wisata Sindangkasih dalam meningkatkan perekonomian masyarakat lokal melalui penjualan paket wisata. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 8(2), 1469–1481. Nugraha, Y. E. (2021). Pariwisata Berbasis Masyarakat Konsep dan Praktik. Pena Persada, 1–11. Purnama, A., Adiatma, D., & Rukma, D. F. S. (2024). Pengaruh Instagramable, memorable tourist experience dan destination image pada revisit intention di Pantai Sayang Heulang Kabupaten Garut. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 24(3), 2233–2238. https://doi.org/10.33087/jiubj.v24i3.5569 Putu Herny Susanti, Rahmawati, F., & Rizki Amelia. (2024). Strategi Inovatif Dalam Mengembangkan Wisata Minat Khusus Di Bali: Menemukan Keunikan Baru Di Pulau Dewata Oleh. Open Journal Systems, 19(1978), 4233–4244. Rangkuti, F. (2014). Analisis Swot Teknik Membedah Kasus Bisnis. UUD RI. (2017). Undang - Undang RI Nomor 34 tahun 2017. 6, 5–9. Utami, A. T., Wufron, W., Wahid, A. A., & Rahayu, D. A. (2022, December 14). Minat berkunjung wisatawan dianalisis melalui citra destinasi dan daya tarik wisata kuliner warung terapung. Jurnal Wacana Ekonomi, 22(1), 48-58 Wirawan, Putu Eka dan Semara, I. M. T. (2021). Pengantar Pariwisata (Anak Agung). Putu Eka Wirawan I Made Trisna Semara Ipb Internasional Press. Wiswasta, I. G. N. A., Agung, I. A. A., & Tamba, I. M. (2018). Analisis SWOT (Kajian Perencanaan Model, Strategi, dan Pengembangan Usaha). 88