Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 HUBUNGAN SUPERVISI KLINIS DENGAN MOTIVASI KERJA GURU DI MADRASAH ALIYAH NEGERI KOTA BOGOR Ima Rahmawati1*. Hana Lestari2. Bintang Caraka Soeganda3 Institut Agama Islam Sahid Bogor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Universitas Brawijaya *Alamat email koresponden: dafenta. ima13@gmail. Doi: https://doi. org/10. 56406/jurnalkajianislammodern. ABSTRACT This study aims to determine the relationship between clinical supervision and teachersAo work motivation at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) in Bogor City. A quantitative approach was employed using a correlational survey method, with data analyzed through Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS). The sample consisted of 92 permanent teachers selected through purposive sampling. The research instrument was a questionnaire with indicators of clinical supervision covering planning, observation, and feedback, while work motivation indicators included intrinsic, extrinsic, and professional goal motivation. The findings revealed that clinical supervision has a significant effect on teachers' work motivation, with a path coefficient of = 0. 676 and RA = 0. Clinical supervision implemented through collaborative and reflective approaches significantly enhances teachersAo sense of professional responsibility, emotional involvement, and enthusiasm for work. These results indicate that improving the quality of clinical supervision is an effective strategy to encourage teachersAo motivation in fulfilling their professional duties. This research contributes to the development of education management practices that emphasize constructive and continuous professional Keywords Clinical Supervision. Work Motivation. Teachers. Education. SEM-PLS. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara supervisi klinis dengan motivasi kerja guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Bogor. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode survei korelasional dan analisis data melalui Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS). Sampel penelitian terdiri dari 92 guru tetap yang dipilih secara purposive. Instrumen penelitian berupa kuesioner dengan indikator supervisi klinis mencakup perencanaan, observasi, dan umpan balik, sedangkan indikator motivasi kerja terdiri atas motivasi intrinsik, ekstrinsik, dan tujuan profesional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi klinis berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru dengan nilai koefisien jalur = 0. 676 dan RA = 0. Supervisi klinis yang dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan reflektif mampu meningkatkan rasa tanggung jawab profesional, keterlibatan emosional, dan semangat kerja guru. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas supervisi berbasis klinis merupakan strategi yang efektif untuk mendorong motivasi guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan manajemen pendidikan berbasis pembinaan profesional yang konstruktif dan berkelanjutan. Kata Kunci Supervisi Klinis. Motivasi Kerja. Guru. Pendidikan. SEM-PLS. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDAHULUAN Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh peran guru sebagai pelaksana utama proses pembelajaran di kelas. Guru yang memiliki motivasi kerja tinggi cenderung menunjukkan komitmen terhadap profesinya, aktif dalam kegiatan sekolah, serta berupaya meningkatkan kompetensi diri secara berkelanjutan. Namun, dalam kenyataan di lapangan, masih terdapat berbagai kendala yang menghambat optimalisasi motivasi kerja guru, termasuk di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Bogor (Putra & Sari, 2021. Wulandari, 2. Beberapa indikasi rendahnya motivasi kerja guru di madrasah dapat dilihat dari rendahnya partisipasi dalam pelatihan, kurangnya inovasi dalam pengajaran, serta lemahnya antusiasme terhadap pembaruan pembelajaran (Fitriani et al. , 2. Fenomena ini berpotensi mengganggu pencapaian tujuan pendidikan dan melemahkan kualitas proses belajar-mengajar (Suharti et al. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi yang strategis dari pimpinan sekolah dalam rangka meningkatkan motivasi kerja guru. Salah satu pendekatan yang dianggap efektif dalam meningkatkan motivasi guru adalah melalui pembinaan yang bersifat personal dan profesional, seperti supervisi klinis. Supervisi klinis merupakan suatu pendekatan pembinaan profesional guru yang dilaksanakan secara terencana, terstruktur, dan berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran melalui hubungan kolaboratif antara supervisor dan guru. Berbeda dari supervisi tradisional yang cenderung evaluatif sepihak, supervisi klinis menekankan hubungan dialogis yang dilandasi rasa saling percaya dan keterbukaan, sehingga guru merasa didampingi, bukan dihakimi (Rahmawati. Prosesnya umumnya meliputi tiga tahap, yakni pertemuan pendahuluan . reobservation conferenc. untuk menentukan tujuan dan fokus pengamatan, observasi kelas sesuai kesepakatan, dan pertemuan balikan . ost-observation conferenc. untuk menganalisis praktik mengajar serta menyusun rencana perbaikan (Handayani & Hidayat, 2. Pendekatan ini memberikan ruang refleksi bersama yang mendorong guru mengenali kekuatan dan area pengembangan dirinya, sekaligus memupuk motivasi intrinsik untuk meningkatkan kinerja Sejalan dengan pandangan Acheson dan Gall . serta Sergiovanni dan Starratt . , supervisi klinis dipandang sebagai proses pembinaan yang memfasilitasi perkembangan kompetensi pedagogis dan profesional guru secara berkelanjutan, bukan sekadar penilaian administratif. Dengan demikian, hakikat supervisi klinis adalah menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif melalui siklus refleksi, umpan balik konstruktif, dan aksi perbaikan yang berkesinambungan, sehingga guru terdorong untuk terus berkembang dan memberikan pembelajaran yang berkualitas. Namun sayangnya, praktik supervisi di banyak madrasah masih bersifat formalitas dan belum menyentuh aspek reflektif dan partisipatif yang menjadi kekuatan utama supervisi klinis. Di MAN Kota Bogor, supervisi cenderung dipahami sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai sarana pembinaan profesional yang mendalam. Padahal, supervisi klinis dapat menjadi peluang besar dalam membangun budaya kerja yang mendukung motivasi intrinsik guru (Nasution & Siregar, 2. Motivasi kerja guru sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kepemimpinan kepala madrasah, dukungan lingkungan kerja, dan rasa memiliki terhadap institusi (Urfatullaila et al. Ketika guru merasa dilibatkan secara aktif dalam proses peningkatan kualitas pembelajaran, mereka cenderung menunjukkan semangat kerja yang lebih tinggi. Supervisi klinis memiliki potensi untuk membangkitkan motivasi tersebut karena prosesnya mendorong keterlibatan emosional dan intelektual guru dalam kegiatan profesionalnya (Ahmad & Haris. Iskandar et al. , 2022. Rahmawati, 2. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas pengaruh supervisi terhadap kinerja atau profesionalisme guru, kajian yang secara spesifik menghubungkan supervisi klinis dengan motivasi kerja guru di konteks madrasah masih sangat terbatas, terutama di wilayah perkotaan Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 seperti Kota Bogor. Kondisi lingkungan madrasah yang khas, baik dari segi kurikulum maupun budaya kerja, membutuhkan pendekatan supervisi yang disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual (Rohim & Fitriyah, 2. Penelitian ini dirancang untuk menganalisis hubungan antara supervisi klinis dan motivasi kerja guru di MAN Kota Bogor. Studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Handayani dan Hidayat . , menunjukkan bahwa supervisi klinis dapat meningkatkan profesionalisme dan kualitas pembelajaran guru, sementara penelitian Rahmawati . menegaskan adanya pengaruh positif pembinaan berbasis supervisi terhadap motivasi intrinsik guru. Namun, sebagian besar penelitian terdahulu lebih menitikberatkan pada pengaruh supervisi klinis terhadap kompetensi pedagogis atau kinerja mengajar, dan jarang yang secara spesifik mengkaji keterkaitannya dengan motivasi kerja guru di lingkungan Madrasah Aliyah, khususnya pada konteks pendidikan Islam di perkotaan. Selain itu, kajian sebelumnya umumnya dilakukan dengan pendekatan kualitatif atau studi kasus terbatas, sehingga belum banyak tersedia data kuantitatif yang mengukur kekuatan hubungan kedua variabel tersebut. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional untuk mengeksplorasi sejauh mana praktik supervisi klinis berpengaruh terhadap tingkat motivasi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi praktis dan teoretis bagi pengembangan manajemen pendidikan madrasah, sekaligus menjadi dasar rekomendasi bagi pengambil kebijakan pendidikan Islam dalam mengoptimalkan supervisi klinis sebagai instrumen peningkatan motivasi dan mutu kerja guru. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara supervisi klinis dengan motivasi kerja guru. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS), karena mampu menguji hubungan laten antar variabel dengan jumlah sampel yang relatif kecil serta tidak mengharuskan asumsi normalitas data (Hair et al. Lokasi penelitian ini adalah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Bogor. Populasi penelitian mencakup seluruh guru PNS dan non-PNS di MAN Kota Bogor sebanyak 120 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan kriteria guru tetap yang telah mengajar minimal dua tahun. Sampel akhir berjumlah 92 Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner dengan skala Likert 1Ae5, yang telah divalidasi oleh ahli dan diuji reliabilitasnya. Indikator supervisi klinis meliputi perencanaan, observasi, dan umpan balik (Glickman et al. , 2. , sedangkan indikator motivasi kerja mencakup motivasi intrinsik, ekstrinsik, dan tujuan profesional (Ryan & Deci, 2. Pengolahan data dilakukan menggunakan SmartPLS 4. 0, dimulai dari pengujian outer model, inner model, hingga uji signifikansi jalur hubungan antar variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara supervisi klinis dan motivasi kerja guru. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode SEM PLS melalui aplikasi SmartPLS 4. Hasil uji outer model menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai loading factor di atas 0,70, yang mengindikasikan bahwa validitas konvergen telah terpenuhi (Hair et al. Selain itu, nilai composite reliability untuk variabel supervisi klinis sebesar 0,911 dan motivasi kerja sebesar 0,908. Kedua nilai tersebut melebihi ambang batas minimum 0,70, sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Tabel 1. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen . uter mode. Indikator SK1 Ae Perencanaan SK2 Ae Observasi SK3 Ae Umpan Balik MK1 Ae Motivasi Intrinsik MK2 Ae Motivasi Ekstrinsik MK3 Ae Tujuan Profesional Loading Factor Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Temuan ini menunjukkan bahwa indikator-indikator pada supervisi klinis yaitu perencanaan, observasi, dan umpan balik mampu merepresentasikan konstruk teoritis secara konsisten dan valid. Hasil ini konsisten dengan pandangan Glickman et al. yang menekankan pentingnya pendekatan reflektif dan dialogis dalam pelaksanaan supervisi klinis untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Uji validitas diskriminan dilakukan menggunakan metode Heterotrait Monotrait Ratio (HTMT). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai HTMT antara konstruk supervisi klinis dan motivasi kerja adalah 0,662, yang berada di bawah nilai ambang 0,85 sebagaimana disarankan oleh Henseler et al. Hal ini menandakan bahwa kedua konstruk memiliki validitas diskriminan yang baik. Tabel 2. Uji Validitas Diskriminan (HTMT) Variabel HTMT Value Keterangan Supervisi Klinis - Motivasi Kerja 0. Valid Validitas diskriminan ini menunjukkan bahwa responden mampu membedakan antara pengalaman mereka terhadap pelaksanaan supervisi klinis dan persepsi mereka terhadap motivasi kerja, sehingga masing-masing konstruk terdefinisi secara jelas. Analisis hubungan antar variabel dilakukan pada model struktural . nner mode. Hasil analisis menunjukkan bahwa supervisi klinis berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja guru, dengan nilai koefisien jalur () sebesar 0,676, t-statistic sebesar 10,423, dan p-value sebesar 0,000 . < 0,. Tabel 3. Uji Hubungan Antar Variabel (Inner Mode. Path T-Statistics P-Value Keterangan Supervisi Klinis Ie Motivasi Kerja 0. Signifikan . < 0. Nilai koefisien jalur tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas supervisi klinis yang diterima guru, semakin tinggi pula tingkat motivasi kerja yang dirasakan. Hal ini memperkuat teori motivasi dari Ryan dan Deci . , yang menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu kompetensi, otonomi, dan Supervisi klinis yang dijalankan secara profesional dan suportif mampu menjawab ketiga kebutuhan tersebut melalui pendekatan yang partisipatif dan tidak Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian Iskandar et al. , yang mengungkap bahwa guru merasa lebih dihargai dan termotivasi ketika dilibatkan dalam proses refleksi dan perencanaan pembelajaran, serta memperoleh umpan balik konstruktif. Dalam konteks MAN Kota Bogor, praktik supervisi semacam ini menjadi peluang strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan. Selanjutnya, hasil analisis terhadap koefisien determinasi (RA) menunjukkan bahwa supervisi klinis memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap variasi motivasi kerja guru. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Tabel 4. Koefisien Determinasi (RA) Variabel Dependen Keterangan Motivasi Kerja 457 Moderat Nilai RA sebesar 0,457 mengindikasikan bahwa 45,7% variasi motivasi kerja guru dapat dijelaskan oleh supervisi klinis, sementara 54,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model. Oleh karena itu, selain penguatan supervisi klinis, penting untuk memperhatikan variabel lain seperti iklim organisasi, gaya kepemimpinan kepala madrasah, serta dukungan antar rekan kerja dalam upaya meningkatkan motivasi guru (Nasution & Siregar, 2. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pendekatan supervisi klinis yang kolaboratif dan reflektif memiliki potensi yang signifikan dalam meningkatkan semangat kerja guru. Serupa dengan penelitian Rahmawati . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif pembinaan berbasis supervisi terhadap motivasi intrinsik guru. Untuk itu, kepala madrasah perlu dibekali pelatihan dalam menerapkan model supervisi klinis secara efektif agar mampu menjadi fasilitator pengembangan profesional, bukan hanya sekadar pelaksana tugas Di lingkungan MAN Kota Bogor, implementasi supervisi yang menekankan aspek personal dan dialogis dapat mendorong keterlibatan emosional maupun profesional guru secara optimal, serta berkontribusi pada peningkatan kepuasan kerja dan loyalitas terhadap SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi klinis memiliki hubungan yang signifikan dan positif terhadap motivasi kerja guru di Madrasah Aliyah Negeri Kota Bogor. Supervisi yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan berfokus pada dialog reflektif terbukti mampu mendorong guru untuk meningkatkan keterlibatan profesional dan semangat kerja Pendekatan klinis dalam supervisi memberikan ruang bagi guru untuk merasa didukung secara profesional, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepuasan Kondisi ini memperkuat pentingnya peran kepala madrasah dan pengawas dalam melaksanakan supervisi yang tidak sekadar administratif, tetapi membangun hubungan edukatif dan produktif dengan guru. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar kepala madrasah lebih mengoptimalkan pelaksanaan supervisi klinis sebagai bagian dari pembinaan profesional guru. Supervisi hendaknya dilakukan secara terarah, kolaboratif, dan membangun, sehingga dapat mendorong guru untuk lebih termotivasi dalam menjalankan tugas. Selain itu, penting pula untuk memperhatikan faktor-faktor lain di luar supervisi yang dapat mendukung peningkatan motivasi kerja, seperti lingkungan kerja, hubungan antar rekan sejawat, serta kepemimpinan yang mendukung perkembangan profesionalisme guru. REFERENSI