Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 15. No. April 2024 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Analisis Performa Kualitas Air Pada Panerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif Analysis of Water Quality Performance of the CBIB Application in Intensive Pattern Shrimp Ponds Abdul Wafi . Abdul Muqsith . Ach Khumaidi . Tholibah Mujtahidah Program Studi Budidaya Perikanan. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Ibrahimy. Situbondo. Jawa Timur Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Tidar. Magelang. Jawa Tengah *Penulis korespondensi : email : ander. kjavi@gmail. (Diterima Februari 2024 /Disetujui April 2. ABSTRACT Water quality standard criteria for shrimp farming, as regulated by the CBIB, are a crucial aspect in intensive farming operations. This research aims to assess the suitability of water quality parameters in intensive cultivation of vaname shrimp (L. with CBIB standards (Good Fish Cultivation Method. The research method uses an ex post facto causal design during one shrimp cultivation cycle, with a focus on the condition of water quality parameters compared with CBIB standards in accordance with Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation Number 75 of 2016. The research results show that most of the water quality parameters during the cultivation period in accordance with CBIB standards, except for alkalinity and organic matter exceeding the thresholds set by CBIB. Abnormal conditions in these two parameters are caused by unpredictable natural and seasonal factors, as seen in unstable fluctuations in temperature and salinity. However, overall, the cultivation system at the research location still complies with the cultivation quality standards set by CBIB. From this discussion, it can be concluded that the water quality parameters at the research pond location are mostly in accordance with CBIB quality standards, with the exception of alkalinity and organic matter which slightly exceed the limits set by CBIB. Keywords: CBIB, pond, harvest, shrimp. ABSTRAK Kriteria standar mutu air untuk budidaya udang, sebagaimana diatur oleh CBIB, merupakan aspek yang krusial dalam operasional budidaya intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian parameter kualitas air dalam budidaya udang vaname (L. secara intensif dengan standar baku CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Bai. Metode penelitian menggunakan desain kausal eks post facto selama satu siklus budidaya udang, dengan fokus pada kondisi parameter kualitas air yang dibandingkan dengan standar CBIB sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air selama periode budidaya sesuai dengan standar CBIB, kecuali untuk alkalinitas dan bahan organik yang melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh CBIB. Kondisi abnormal pada kedua parameter tersebut disebabkan oleh faktor alam dan musiman yang tidak dapat diprediksi, seperti yang terlihat dalam fluktuasi suhu dan salinitas yang tidak stabil. Namun, secara keseluruhan, sistem budidaya di lokasi penelitian masih mematuhi standar mutu budidaya yang ditetapkan oleh CBIB. Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa parameter kualitas air di lokasi tambak penelitian sebagian besar sesuai dengan standar baku mutu CBIB, dengan pengecualian pada alkalinitas dan bahan organik yang sedikit melampaui batas yang To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. ditetapkan oleh CBIB. Kata kunci: CBIB, tambak, panen, udang. PENDAHULUAN Budidaya udang vaname (L. merupakan salah satu praktik penting dalam industri akuakultur global (Huang et al. , 2. Di Indonesia, sebagai negara dengan iklim tropis, budidaya udang vaname telah menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan akuakultur (Ariadi et , 2. Indonesia juga telah menjadi salah satu eksportir utama udang vaname dalam satu dekade terakhir. Metode budidaya udang vaname di Indonesia mencakup pendekatan tradisional, semi-intensif, dan intensif, dengan perbedaan signifikan dalam hal padat tebar, jenis pakan, manajemen teknis, dan ukuran tambak (Apud, 1. Kualitas air adalah faktor kunci yang berpengaruh pada keberhasilan budidaya udang vaname (Huang et al. , 2. Parameter kualitas air mencerminkan kondisi lingkungan di tambak dan terdiri dari aspek fisika, kimia, dan biologi (Ariadi et al. , 2. Budidaya udang yang intensif dapat secara signifikan memengaruhi kualitas air dalam tambak (Jayanthi et al. , 2. Kualitas air yang baik dapat meningkatkan produktivitas budidaya, sedangkan kualitas air yang buruk dapat menghambat pertumbuhan udang. Standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan acuan penting dalam operasional budidaya perairan (Nugroho et al. , 2. CBIB memberikan pedoman mengenai parameter kualitas air yang harus dipertahankan selama periode budidaya (Sau et al. Penerapan CBIB dianggap penting dalam menjaga keberhasilan budidaya. Salah satu tantangan dalam budidaya udang vaname adalah masalah kualitas air yang buruk, baik disebabkan oleh kesalahan dalam sistem budidaya maupun pencemaran . e los Santos et al. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian parameter kualitas air dalam budidaya udang vaname pola intensif dengan standar CBIB. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada April-Juli 2022 di sembilan kolam tambak budidaya udang milik PT. Cindomas Hartawi. Pandeglang Banten, selama satu siklus budidaya intensif udang vaname. Metode penelitian yang digunakan adalah desain kausal ex-pose facto, di mana data penelitian dikumpulkan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Parameter kualitas air yang diamati meliputi pH, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, suhu, alkalinitas, fosfat, nitrit, amonia, bahan organik, total vibrio, dan total bakteri. Pengukuran pH, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, dan suhu dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Sedangkan untuk parameter alkalinitas, fosfat, nitrit, amonia, bahan organik, total vibrio, dan total kelimpahan bakteri, pengambilan sampel dilakukan seminggu sekali pada pukul 10 pagi, dan sampel air dianalisis di Loka Pemeriksaan Penyakit dan Lingkungan Kabupaten Serang. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan menggunakan berbagai alat dan metode, seperti pH eutech ecotestrTM untuk pH, hand refractometer ATAGO MASTER 53 untuk salinitas. DO meter YSI550i untuk suhu dan oksigen terlarut, secci disk untuk kecerahan, dan metode titrimetri untuk alkalinitas dan bahan organik. Analisis fosfat, nitrit, dan amonia menggunakan metode Selanjutnya, untuk total bakteri vibrio dan total kelimpahan bakteri, dilakukan penanaman pada media TCBS agar dan TSA agar, diikuti oleh inkubasi selama 24 jam pada suhu 37AC. Data parameter kualitas air dikelompokkan berdasarkan waktu pengambilan sampel, lalu hasilnya dibandingkan dengan standar baku mutu kualitas air untuk CBIB sesuai Permen KP No. 75 Tahun Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft ExcelTM. To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Kualitas Air Rata-rata nilai parameter kualitas air dari sembilan kolam di tambak selama satu siklus budidaya tercantum dalam Tabel 1. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai parameter kualitas air secara umum masih memenuhi standar yang baik dan cocok untuk menjadi lingkungan budidaya udang vaname. Dalam kisaran parameter yang diukur, diperoleh nilai rata-rata pH 9, salinitas 32A, oksigen terlarut 5. 56 mg/L, suhu 27. 740C, kecerahan 36 cm, alkalinitas 157 mg/L, bahan organik 104. 43 mg/L, fosfat 0. 681 mg/L, nitrit 0. 302 mg/L, amonia 0. 072 mg/L, total kelimpahan bakteri vibrio 699 CFU/ml, dan total kelimpahan bakteri sebanyak 214,038 CFU/ml. Kualitas air yang baik memainkan peran penting dalam menentukan pertumbuhan udang dan kelangsungan siklus budidaya (Hlordzi et al. , 2. Tabel 1. Nilai parameter kualitas air dan baku mutu CBIB Parameter Salinitas (A) Oksigen terlarut . g/L) Suhu ( C) Kecerahan . Alkalinitas . g/L) Bahan organik . g/L) Fosfat . g/L) Nitrit . g/L) Amonia . g/L) Total bakteri vibrio (CFU/m. Total kelimpahan bakteri (CFU/m. Nilai 9 (A0. 32 (A3. 56 (A0. 74 (A0. 36 (A14. 157 (A14. 43 (A14. 681 (A0. 302 (A0. 072 (A0. 699 (A516. Baku mutu CBIB* < 90 < 0. < 1. Status tidak sesuai tidak sesuai 214,038 (A183. >10 x Total Vibrio *Permen KP No. 75 Tahun 2016 Berdasarkan data yang tercantum dalam Tabel 1, dari semua parameter kualitas air, hanya alkalinitas dan konsentrasi bahan organik yang tidak memenuhi standar baku mutu sesuai Permen KP No. 75 Tahun 2016. Rata-rata nilai alkalinitas selama periode budidaya adalah 157 mg/L, sedangkan konsentrasi bahan organik adalah 104. 43 mg/L. Kedua nilai tersebut melebihi ambang batas baku mutu, yaitu 100-150 mg/L untuk alkalinitas dan <90 mg/L untuk bahan organik. Alkalinitas menggambarkan kemampuan air dalam menetralkan asam, dan berperan sebagai penyangga perubahan nilai pH di lingkungan budidaya (Bintoro dan Abidin, 2. Alkalinitas yang stabil penting untuk menjaga kestabilan pH perairan dalam ekosistem budidaya (Ariadi et al. Konsentrasi bahan organik yang melampaui batas baku mutu mungkin disebabkan oleh penggunaan sistem budidaya pola intensif. Sistem ini cenderung menyebabkan penumpukan limbah budidaya secara bertahap dalam tambak (Paez-Osuna, 2001. Ariadi et al. , 2. Bahan organik di tambak berasal dari partikel tersuspensi, partikel terlarut, dan partikel kasar di perairan. Penumpukan bahan organik ini dapat mempengaruhi siklus biokimia air dan menyebabkan fluktuasi parameter kualitas air yang signifikan (Martinez-Garcia et al. , 2. Alkalinitas Air Trend fluktuasi nilai alkalinitas dalam tambak selama musim budidaya udang vaname dapat dilihat dalam Gambar 1. Nilai alkalinitas dari sembilan kolam budidaya cenderung fluktuatif dengan rentang antara 124-180 mg/L. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh sumber air yang digunakan dan prosedur operasional budidaya yang sama di semua kolam (Ariadi et al, 2. Perlakuan budidaya memiliki dampak signifikan terhadap riwayat kualitas air dan keragaman mikroorganisme di tambak (Somridhivej dan Boyd, 2. Alkalinitas dan kesadahan air adalah parameter penting yang memengaruhi produktivitas ekosistem perairan (Boyd et al. , 2. To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Nilai alkalinitas sesuai standar CBIB, berdasarkan Permen KP No. 75 Tahun 2016, seharusnya berada dalam kisaran 100-150 mg/L. Konsentrasi alkalinitas yang rendah dapat menyebabkan fluktuasi pH yang tidak stabil, sementara konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kelebihan kesadahan air. Alkalinitas berkaitan erat dengan pH, suhu, kesadahan, dan salinitas air (Boyd et , 2. Nilai alkalinitas tambak dapat meningkat melalui pengapuran, penambahan mineral, dan peningkatan suhu air (Boyd et al. , 2. Stabilitas alkalinitas yang diharapkan selama budidaya udang bertujuan untuk mencegah fluktuasi pH yang dapat terjadi pada siang dan malam hari (Ariadi et al. , 2. umur budidaya . Kolam 1 Kolam 2 Kolam 3 Kolam 4 Kolam 6 Kolam 7 Kolam 8 Kolam 9 Kolam 5 Gambar 1. Nilai alkalinitas tambak Bahan Organik Fluktuasi konsentrasi bahan organik di perairan tambak selama periode budidaya udang vaname dapat diamati dalam Gambar 2. Selama budidaya udang, konsentrasi bahan organik di sembilan kolam budidaya menunjukkan fluktuasi yang konsisten. Rentang nilai konsentrasi bahan organik selama 90 hari berkisar antara 59. 35 hingga 131. 96 mg/L. Gambar 2 menunjukkan bahwa konsentrasi bahan organik meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke-23 budidaya, kemudian mengalami penurunan dan fluktuasi tinggi. Hal ini disebabkan oleh kegiatan siphon pertama kali pada hari ke-23, yang kemudian diulang setiap 7 hari hingga menjelang panen. Siphon, atau pembuangan lumpur dari sedimen tambak, merupakan metode paling efektif untuk menghilangkan bahan organik dan limbah budidaya (Burford dan Lorenzen, 2. Pembuangan limbah ini membantu mengurangi risiko infeksi patogen d (Khan, 2. Tingginya kelarutan bahan organik di tambak dapat menyebabkan pertumbuhan komunitas bakteri patogen dan plankton yang merugikan (Ariadi et al, 2. Bahan organik ini kebanyakan berasal dari limbah pakan dan kotoran udang yang terakumulasi akibat budidaya intensif (Amirkolaie. Tingginya kandungan bahan organik juga meningkatkan konsumsi oksigen terlarut untuk proses dekomposisi (Ariadi et al, 2. Oleh karena itu, dalam setiap tambak budidaya dilakukan panen parsial, penggunaan kincir air, dan penambahan bakteri dekomposer untuk mengurangi beban bahan organik yang berlebihan (Ariadi et al, 2020. Wafi et al, 2. To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. umur budidaya . Kolam 1 Kolam 2 Kolam 3 Kolam 4 Kolam 6 Kolam 7 Kolam 8 Kolam 9 Kolam 5 Gambar 2. Nilai bahan organik tambak Salinitas dan Suhu Konsentrasi alkalinitas dan bahan organik yang tinggi di perairan tambak seringkali terkait dengan aktivitas operasional tambak, terutama selama musim pancaroba. Hal ini tercermin dari fluktuasi suhu dan salinitas perairan yang dinamis . ihat Gambar 3 dan Gambar . Musim pancaroba memiliki potensi besar untuk memengaruhi ekosistem perairan selama budidaya akuakultur berlangsung (Paez-Osuna, 2. Suhu dan salinitas merupakan faktor lingkungan kunci yang memengaruhi kesejahteraan udang yang dibudidayakan (Reid et al, 2. Perubahan dalam salinitas dan suhu dapat memengaruhi kemampuan udang dalam mengatur keseimbangan osmotiknya (Buckle et al, 2. Rentang yang ekstrem dari salinitas dan suhu dapat menyebabkan stres dan kematian pada Fluktuasi suhu juga memengaruhi kelarutan oksigen dalam air tambak, mengikuti tren suhu (Wafi et al, 2. Sementara itu, salinitas yang stabil selama masa budidaya dapat mengurangi stres fisiologis pada udang (Ariadi et al, 2. Baik suhu maupun salinitas memiliki pengaruh tidak langsung terhadap kelarutan ion alkali dan proses dekomposisi bahan organik (Soeprapto et al. Pada kondisi suhu dan salinitas yang tinggi, kelarutan ion alkali dan proses dekomposisi oleh bakteri cenderung meningkat (Qin et al, 2019. Linayati et al, 2. Grafik salinitas tambak (Gambar . menunjukkan perbedaan dalam konsentrasi dan tren salinitas air antara kolam 1 dengan yang lain, yang cenderung lebih tinggi. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh variasi dalam salinitas air laut yang digunakan untuk mengisi kolam saat periode persiapan air sebelum tebar benih udang (Soeprapto et al, 2. Perubahan dalam salinitas air laut bisa dipicu oleh gejolak arus, perubahan iklim ekstrem, intrusi air, dan sirkulasi harian (Cullum et al, 2. Salinitas di perairan laut sendiri dapat berubah secara musiman karena dinamika iklim dan perubahan musim (D'Addezio et al, 2. To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. 31,00 30,00 29,00 28,00 27,00 26,00 25,00 24,00 23,00 1 4 7 101316192225283134374043464952555861646770737679828588 umur budidaya . Kolam 1 Kolam 4 Kolam 7 Kolam 2 Kolam 5 Kolam 8 Kolam 3 Kolam 6 Kolam 9 Gambar 3. Grafik fluktuasi suhu perairan tambak 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49 52 55 58 61 64 67 70 73 76 79 82 85 88 umur budidaya . Kolam 1 Kolam 2 Kolam 3 Kolam 4 Kolam 6 Kolam 7 Kolam 8 Kolam 9 Kolam 5 Gambar 4. Nilai salinitas tambak sepanjang masa budidaya Evaluasi Ketercapaian CBIB Budidaya Udang Pada tambak yang menjadi subjek penelitian ini, penerapan Cara Budidaya Integrasi dan Berkelanjutan (CBIB) masih mematuhi standar mutu budidaya yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 Tahun 2016. Mulai dari konstruksi kolam hingga aspek teknis budidaya dan parameter pendukung lainnya, tambak yang diselidiki masih sepenuhnya memenuhi persyaratan CBIB. Tambak yang menerapkan CBIB secara ketat dan konsisten cenderung menghasilkan tingkat produktivitas dan efisiensi produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengikuti standar CBIB (Yulisti et al, 2. Prinsip penerapan CBIB dalam budidaya bertujuan untuk menciptakan sistem budidaya yang unggul dan efisien (Triyanti dan Hikmah, 2. Program CBIB merupakan upaya kebijakan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan nasional melalui praktek budidaya akuakultur (Yulisti et al, 2. Implementasi CBIB secara menyeluruh oleh para petani merupakan langkah penting untuk membentuk sistem budidaya nasional yang To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. Selain menciptakan standar operasional budidaya yang menguntungkan. CBIB juga bertujuan untuk menciptakan praktik budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan (Wigiani et al, 2. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para petani untuk memahami dan mengikuti indikator yang tercantum dalam standar CBIB sebelum mereka memulai kegiatan budidaya Tabel 2. Evaluasi standar CBIB budidaya udang vaname No. CBIB Budidaya Udang Vaname* Penggunaan kincir air sesuai daya dukung . HP/500 kg Kedalaman kolam budidaya . in 100 c. Keberadaan tandon air Pemantauan parameter kualitas Penggunaan biosecurity Penggunaan benur udang kategori SPF/SPR Memiliki desain saluran inlet dan outlet terpisah Penerapan IPAL Penggunaan sarana pendukung budidaya . enset, pompa air, probiotik, pupuk, kapur dl. Penerapan manajemen pakan yang berstandar SOP CBIB Kondisi di tambak penelitian Menggunakan kincir air dengan kapasitas total 16 HP untuk padat tebar 120 ekor/m Kedalaman kolam 100 cm untuk luas Memiliki 3 buah tandon untuk 9 kolam Kualitas air di cek secara rutin setiap hari dan setiap minggu Digunakan biosecurity (Sterilisasi, filtrasi. BSD, dan CPD) Benur udang kategori SPF/SPR Saluran inlet dan outlet terletak IPAL diterapkan untuk pengelolaan limbah budidaya Digunakan sarana pendukung . enset, pompa air, probiotik, pupuk, kapur dl. untuk mengkawal berlangsungnya siklus budidaya udang Manajemen pakan diterapkan mengacu pada CBIB Status Sesuai Sesuai *Permen KP No. 75 Tahun 2016 Kegiatan budidaya udang vaname di lokasi penelitian secara keseluruhan masih sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Cara Budidaya Integrasi dan Berkelanjutan (CBIB) sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 tahun 2016. Konsistensi dan kedisiplinan dalam menerapkan CBIB memiliki dampak teknis, ekonomis, dan ekologis terhadap praktik akuakultur yang dilakukan (Yulisti et al, 2. Profil kualitas air pada penelitian ini sebagian besar memenuhi atau bahkan melebihi ambang batas mutu standar CBIB, dan jika ada parameter yang tidak sesuai, hal itu lebih disebabkan oleh faktor alamiah. Meskipun standar CBIB tidak menjadi satu-satunya faktor penentu keberhasilan budidaya, namun CBIB merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai hasil budidaya yang produktif. Menurut penelitian oleh Wigiani et al. , penerapan CBIB dalam budidaya udang memiliki indeks keberlanjutan yang lebih baik daripada sistem non-CBIB. Secara ekonomis, sistem budidaya yang menerapkan CBIB cenderung memberikan nilai profit yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem non-CBIB (Triyanti dan Hikmah, 2. Namun, masih ada masalah dalam penerapan CBIB oleh sebagian pembudidaya karena kurangnya informasi yang mereka terima. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan diseminasi informasi tentang CBIB melalui berbagai kegiatan seperti penelitian, penyuluhan, dan proyek-proyek percontohan. KESIMPULAN Secara umum, parameter kualitas air di lokasi tambak penelitian masih memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan dalam Cara Budidaya Integrasi dan Berkelanjutan (CBIB) menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 tahun 2016. Namun, terdapat sedikit perbedaan pada konsentrasi alkalinitas dan bahan organik yang sedikit lebih tinggi daripada standar CBIB. To Cite this Paper : Wafi. Muqsith. Khumaidi. Mujtahidah. Analisis Performa Kualitas Air Pada Penerapan Konsep Budidaya CBIB Di Tambak Udang Pola Intensif. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 112-120. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. SARAN Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian ini maka dapat dikembangkan suatu model penelitian yang mengkaji terkait performa tambak budidaya udang yang menggunakan prinsip CBIB dalam operasionalisasi budidayanya. DAFTAR PUSTAKA