JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipiner Vol. No. Agustus 2022, pp. http://journal. id/index. php/jipsi || ISSN 2962-9187 Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalam Membina Moral Remaja (Studi Kasus Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoy. Hafidz a,1,*. Auliya Putri Salsabila b,2. *a Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia. b Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia. 1haf682@ums. as@gmail. *Correspondent Author A R T I C L E I NF O Article history Received: 4 Mei 2022 Revised: 10 Juni 2022 Accepted: 25 Juli 2022 Keywords Parenting Styles. Coaching. Youth Morale. A BS T R A C T This study has a background of orphanage teenagers who commit violations from starting to smoke, not obeying the rules to running away from the orphanage. Parenting style needs to be used to foster morale at the age of teenagers who are experiencing a transition period or have a high emotional level. Meanwhile, in fostering adolescent morale, there are also supporting factors, and of course also inhibiting factors. The objectives of this study are . to determine the implementation of parenting style in fostering adolescent morale at the Tirtonugroho Tirtomoyo Orphanage. To find out the supporting and inhibiting factors in fostering youth morale at the Tirtonugroho Tirtomoyo Orphanage. The type of research used is a qualitative field research. The approach in this research is psychological. Sources of data obtained from primary and secondary data sources, with data collection techniques through observation, interviews and documentation. The data analysis technique is by reducing data, presenting data and drawing The results of the study showed that there are three parenting styles used in fostering adolescent morale in orphanages, namely authoritarian, authoritative and permissive. Three types of parenting styles that depart from the background of teenagers who violate the rules are included in the authoritarian parenting style, because many rules are applied in orphanages. Based on observations made by researchers, the parenting style that can make teenagers more obedient to the rules is the authoritative parenting Meanwhile, permissive parenting style was found less. The methods used in fostering adolescent morale are exemplary, habituation, and advice. This method is applied by the caretakers of the orphanage to their foster children through daily activities. A BS TRA K Penelitian ini berangkat dari latar belakang remaja panti asuhan yang banyak melakukan pelanggaran dari mulai merokok, tidak taat pada aturan hingga melarikan diri dari panti Parenting style perlu digunakan untuk membina moral pada usia remaja yang sedang mengalami masa transisi atau memiliki tingkat emosional yang tinggi. Sedangkan dalam membina moral remaja juga memiliki faktor pendukung, dan tentunya juga memiliki faktor penghambat. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah . Untuk mengetahui implementasi parenting style dalam membina moral remaja di Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam membina moral remaja di Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo. Jenis penelitian yang digunakan adalah field research yang bersifat kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah psikologis. Sumber data yang diperoleh dari sumber data primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya dengan cara mereduksi data, penyajian data dan penarikan Hasil penelitian yang diperoleh bahwa parenting style yang digunakan dalam membina moral remaja di panti asuhan ada tiga, yaitu authoritarian, authoritative dan Tiga jenis parenting style yang berangkat dari latar belakang remaja yang melanggar aturan termasuk dalam parenting style authoritarian, karena banyak aturan yang https://journal. id/index. php/JIPSI husna@gmail. JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 diterapkan dalam panti asuhan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, parenting style yang dapat menjadikan remaja lebih taat pada aturan yaitu parenting style Sedangkan parenting style permissive lebih sedikit ditemukan. Metode yang digunakan dalam membina moral remaja yaitu keteladanan, pembiasaan, dan nasehat. Metode ini diterapkan oleh pengasuh panti kepada anak asuhnya melalui kegiatan seharihari. Kata Kunci: Parenting Style. Pembinaan. Moral Remaja. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Keutuhan keluarga menjadi hal pokok dalam mengasuh anak, dari mulai mengajarkan anak bicara, hingga mengajarkan penerapan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Husna Nashihin, 2. sesuai ajaran agama, sehingga orangtua menjadi tempat bercerita dan mampu memberikan solusi dari masalah yang dihadapi anak. Parenting style berasal dari kata parent yang memiliki arti orang tua, yang ditambah dengan verb AuingAy yang artinya pengasuhan dan style biasa diartikan dengan gaya (Prayoga et al. , 2. Pengasuhan adalah tindakan yang dilakukan orangtua, bertanggung jawab, berkontribusi sebagai masyarakat pada saat menghadapi anak yang agresif, berbohong, atau menunjukan kompetensi yang tidak sesuai dengan pendidikan. Pada umumnya tidak semua anak beruntung perihal keluarganya, ada kebanyakan dari mereka tidak mempunyai orangtua dari sejak kecil, ayah atau ibunya meninggal, serta keterbatasan kondisi ekonomi keluarga (Nashihin, 2019. Hal ini mengakibatkan anak tidak dapat tumbuh seperti lainnya, karena hilangnya tanggung jawab orang tua terhadap Perhatian khusus perlu diberikan kepada mereka, yang dapat digantikan dengan peran orang tua asuh. Lembaga yang menampung dalam satu wadah bagi mereka yang kurang beruntung agar berjalan normal sesuai haknya termuat dalam UU RI Nomor 23 tahun 2002 Bab II pasal 2 (Husna Nashihin, 2. yang menjelaskan setiap anak memiliki kebebasan untuk keberlangsungan hidup, pengasuhan dan bimbingan melalui kasih sayang yang baik, dengan keluarganya maupun dengan asuhan khusus agar dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Setiap anak berhak mengembangkan kompetensi dan aktivitas sosialnya. Seorang anak barhak atas perawatan dan perlindungan ketika dalam kandungan maupun setelah hahir di dunia. Setiap anak juga berhak untuk mendapatkan perlindungan dari ancaman kehidupan yang dapat menganggu tumbuh kembangnya dikemudian hari. Peran orangtua sangat diperlukan untuk memenuhi hak anak, upaya yang dilakukan untuk menyelesaikannya salah satunya adanya peran pengganti fungsi orang tua yang sejajar dengan perannya salah satunya adalah lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) (Hafidz & Nashihin, 2. atau panti asuhan. Panti asuhan memiliki aturan dan cara tersendiri yang sesuai dengan kerangka kerja Nasional yang diatur oleh Pemerintah Indonesia. Menurut kepmensos No. 50/HUK/2004 Panti asuhan adalah lembaga sosial yang misinya memberi pembinaan dan bantuan pelayanan kepada anak yatim, piatu, dhuafa dan anak terlantar, yang dapat memulihkan kemampuan belajarnya serta dapat tumbuh dan kembang seperti anak pada lainya. Panti asuhan adalah tempat untuk melindungi dan mengasuh anak yatim piatu dan lainnya Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. Terkhusus di Wonogiri jumlah panti asuhan pada tahun 2021 tercatat 5 panti asuhan swasta, yang salah satunya adalah panti asuhan Tirtonugroho, dalam penelitian ini berada di Kecamatan Tirtomoyo. Kabupaten Wonogiri. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak ini salah satunya adalah Panti Asuhan Tirtonugroho yang berada di Tirtomoyo. Panti Asuhan ini bertujuan memiliki pelayanan yang baik kepada anak yatim, terlantar dan tidak Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari berbagai masalah keluarga yang berbeda, seperti kurang mampu dari segi ekonominya, ditinggalkan salah satu orang tuanya, dan ada bahkan yang ditinggalkan keduanya. Sebagian besar adalah karena faktor ekonomi keluarga, karena orang tuanya tidak memiliki biaya lebih untuk menyekolahkan anaknya. Setiap pengasuh memiliki penerapan parenting style atau bisa disebut gaya pengasuhan yang berbeda-beda. Gaya pengasuhan dijelaskan melalui tiga proses:mengajar, memberi penghargaan, dan membujuk. Gaya pengasuhan juga akan mempengaruhi perkembangan anak secara psikologis keseluruhannya. Gaya pengasuhan yang terdapat di panti asuhan ini terdapat berbagai macam, berupa pendidikan, memberikan tempat tinggal yang layak, memberikan pelayanan yang baik untuk pertumbuhan anak. Fokus dari penerapan parenting yang berada di panti asuhan ini adalah pada usia remaja. Masa remaja merupakan peralihan dalam kehidupan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak pada masa dewasa. Remaja merupakan penduduk yang berusia 10-19 tahun, sedangkan dalam pengertian lain, remaja merupakan penduduk yang memiliki usia 10-18 tahun. Seiring terjadinya pertumbuhan dan perkembangan secara psikologis, maupun psikis maka sifat yang dimiliki remaja adalah memiliki rasa penasaran yang besar, dan cenderung berani mengambil resiko, serta tidak bisa mengontrol diri dengan sepenuhnya. Keputusan yang telah diambil ketika tidak baik, maka akan menimbulkan resiko dalam jangka pendek, dan akan mengakibatkan masalah Pengaruh lingkungan sosial dari sekitar terbukti dari bahasa komunikasinya, cara berfikirnya serta perilakunya. Apabila lingkungannya baik dan dapat mengajarkan proses tumbuh dan berkembang dengan hal positif maka kemudian perilaku dari remaja juga akan memberikan dampak yang baik. Perbuatan yang baik dan buruk (Nashihin, 2. , akan diterima secara umum dimasyarakat. Gaya pengasuhan kepada remaja dari panti asuhan harus dilakukan dengan maksimal karena nantinya akan mempengaruhi moral Sedangkan moral dalam arti umum adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan baik dan buruknya tingkah laku manusia, sehingga moral terkait dengan nilai emosional . Pembahasan moral yang ditekankan dalam penelitian ini adalah moral agama. Secara terperinci moral agama menjadikan kebiasaan buruk yang telah digariskan dalam Islam, manusia akan menahan diri dari tindakan tersebut, dan membiasakan diri berlaku dengan baik. Panti Asuhan Tirtonugroho memberi pelayanan parenting yang fokusnya terutama pada bidang agama, tentang penanaman moral yang baik, saling menghormati kepada sesama. Pengasuh mendidik serta merawat mereka berdasarkan ajaran Rasulullah SAW dan perintah Allah SWT. Gaya pengasuhan yang diterapkan di panti asuhan ini memiliki aturan yang harus ditaati, kemudian setiap masalah diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan harapannya anak-anak khususnya remaja memiliki perilaku yang baik. Pengajaran moral tidak hanya berlangsung di dalam lingkungan panti, melainkan juga saat berada di luar, dimana setiap individu bermasyarakat. Jika pengurus anak yatim dapat menjalankan titipan atau amanahnya dan dapat mengelola harta milik anak yatim serta mendidiknya dengan baik maka besar pahala di sisi Allah. Dari pemaparan diatas, supaya penelitian lebih terfokus maka permasalahan dibatasi ke dalam sebuah pertanyaan bagaimana Implementasi Parenting Style dalam membina Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 moral remaja di Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo. Dengan pendekatan psikologis psikoanalitik, menurut Sigmund Freud ia percaya setiap individu dikendalikan oleh alam bawah sadar, sehingga banyak tindakan yang dapat hidup dialam bawah sadar dan muncul kapanpun ketika ada keinginan, dorongan, atau tekanan yang di dasarkan pada sesuatu yang belum disadari, seperti dorongan hati. Maka menjadi penting untuk melihat dan mengetahui orang secara lebih dalam. Penelitian bersifat deskripti kualitatif yang mana datanya diperoleh dari wawancara, berupa kata-kata, gambar, catatan lapangan, foto yang memberikan penjelasan tentang parenting dalam membina moral remaja di Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo. Metode Jenis Penelitian yang digunakan adalah Jenis Penelitian kualitatif (Rodhi, 2. berdasarkan penelitian lapangan dengan pendekatan psikologis,dimana dalam penelitian ini pengurus panti dan remaja yang berada di panti asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo, serta sumber tambahan dari kepustakaan berupa buku, jurnal, dan dokumen (Santosa, 2. , sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data menggunakan Teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi (Mukhtazar, 2. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Teknik analisis data menggunakan Teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik analisis data yang digunakan merupakan data kualitatif yang dikumpulkan dengan kata, kemudian disusun secara terstruktur melalui proses observasi, wawancara pada narasumber, dokumentasi pada saat pelaksanaan untuk diolah terlebih dahulu, untuk dipadukan, disusun dalam pola, memilih data, kemudian penarikan kesimpulan. Menurut Miles & Huberman, analisis data yang dapat disertakan terbagi menjadi tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil dan Pembahasan Konsep Parenting Style Menurut Baumrind, pengelompokkan parenting style orang tua dibagi menjadi dua perspektif, yaitu orang tua memaksa dan orang tua responsif. Gaya dari orang tua yang memaksa, ditunjukan dengan orang tua yang bertanggung jawab atas perilaku anaknya, dan selalu mengharapkan perilaku sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan gaya orang tua yang responsif, orang tua lebih menunjukan perhatian dan lebih mengerti dengan apa yang diinginkan anaknya. Baumrind mengelompokan parenting style menjadi tiga aspek yaitu authoritarian, authoritative, dan permissive (Nashihin, 2019. Dari tiga aspek tersebut semuanya mempunyai pengaruh dan punya ciri tersendiri pada perilaku Jenis-jenis Parenting Style. Menurut Baumrind gaya pengasuhan dibagi menjadi tiga jenis yaitu: . Gaya pengasuhan authoritarian Gaya pengasuhan yang sifatnya menghukum kemudian anak harus patuh pada intruksi yang dilakukan oleh orang tua, serta dituntut menghargai semua upaya dan kerja keras yang telah dilakukan orang tua. Orang tua disini disebut orang tua otoriter, yang membatasi dan mengontrol dengan ketat, serta lebih sedikit memberikan kesempatan berdiskusi secara lisan, sehingga orang tua otoriter memberikan kontrol penuh atas anak-anaknya. Orang tua yang otoriter berusaha melatih, mengekang dan menilai perilaku anaknya menurut norma yang telah ditentukan. Setiap langkah dalam kehidupan anak sudah ditetapkan dengan orang tuanya. Sikap orang tua ini menunjukan mereka Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. sosok otoriter, anak harus patuh pada kehendak mereka. Orang tua lebih meminta remaja untuk patuh, ketika melanggar persyaratan mereka maka cenderung untuk menghukumnya, orang tua tidak pernah saling bertukar cerita untuk membuka keterbukaan pada remaja, tentang masalah individu seorang remaja, dan tidak memberikan kepercayaan diri secara penuh untuk mengurus dirinya. Orang tua tidak memberi peluang secara verbal, tetapi menyukai remaja yang terima atas perkataan orang tua itu benar. Jenis orang tua yang otoriter menerapkan aturan yang ketat, dan memperkirakan tindakan hukuman, tergantung apa perbuatan salah yang dilakukan. Orang tua menetapkan aturan ketat dan tidak membalas dengan baik, lebih mengutamakan aturan yang telah di buat, apapun jika tidak termuat dalam aturan akan menyebabkan hukuman dari orang tua. Setiap orang tua otoriter mengharuskan kemauanya, tidak pernah mendengar permintaan anaknya dengan cara yang baik. Gaya Pengasuhan Authoritative Gaya pengasuhan ini mendidik anak agar mandiri, tetapi tetap memiliki aturan dan batasan dalam sikap serta perilaku mereka, orang tua authoritative memiliki waktu untuk berkomunikasi secara lisan dengan anaknya. Orang tua ini mempunyai sikap yang terbuka, luwes, dan membiarkan anaknya hidup dengan aturan logis. Sehingga dapat dikatakan orang tua memiliki interaksi yang baik dengan anak-anaknya, serta anak merasa lebih dekat dengannya. Aturan yang diterapkan berdasarkan hasil mufakat bersama dengan jiwa yang sadar. Orang tua yang authoritative akan membiming anak dengan rasional atau secara logis yang mengarah pada inti permasalahan. Orang tua mengarahkan untuk memberi dan menyetujui keputusan anak dengan memberi alasan yang pasti dan mengkaji ulang pendapat yang diambil anak. Orang tua ini mengambil langkah untuk tetap memberikan perhatian, peduli pada hal yang diinginkan anak, tetapi dalam mengambil keputusan tetap berkomunikasi bersama. Secara langsung, anak lebih mengerti mengapa orang tua melarangnya, agar anak tetap patuh pada aturan. Anak juga dapat berpendapat untuk menyuarakan isi hati, komunikasi yang baik akan membantu tumbuh kembang seorang remaja, agar mereka merasa tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan orang tua, atas keputusannya sendiri. Orang tua juga menjelaskan bahwa setiap aturan terdapat alasan, orang tua juga dapat memberi reward dan punishment disertakan alasannya. Sikap orang tua mempunyai persetujuan yang tinggi, tetapi otoritasnya juga tinggi, bersikap reseptif pada anak agar dapat mengeskpresikan pendapatnya, kemudian juga menjelaskan akibat baik dan akibat . Gaya Pengasuhan Permissive Gaya pengasuhan yang diterapkan dalam orang tua permisif adalah menyetujui sikap anak dan tidak memberikan aturan serta hukuman, orang tua tidak bercampur tangan dengan perbuatan anak. Orang tua tidak sepenuhnya memberi tanggung jawab, karena sedikitnya tuntutan yang diberikan. Aturan yang diberikan tidak bersifat selektif. Orang tua yang permissive kurang menanamkan disiplin pada anaknya. Kebebasan yang diberikan dilakukan secara penuh oleh remaja, dan akan bertindak sesuai apa yang diinginkan anak, hingga memunculkan sikap yang agresif. Menurut Baumrind, permisif adalah sikap menerima dan cenderung memiliki kontrol yang rendah dalam menyikapi keputusan anak, gaya pengasuhan ini memberi kebebasan ekspresi untuk berperilaku sesuai keinginannya anak dan tidak banyak menuntut. Sejarah Panti Asuhan Tirtonugroho Panti Asuhan Tirtonugroho terletak di Kecamatan Tirtomoyo. Pada mulanya tahun 1944 orang yang bernama Mbah Kyai Ilyas bertempat tinggal di Desa Cangkring Kec. Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri, semasa hidup beliau selalu mengembangkan agama Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 Islam melalui pengajianpengajian disebuah surau didekat tempat kediamannya. Belia dikenal sebagai orang islam yang taat pada agamanya, yang telah menyatu dengan masyarakat yang keadaannya sangat awam, pada tahun 1945 beliau mengadakan kerja sama dibidang pertanian, tujuannya untuk lebih dekat dengan masyarakat, dan mengenal secara lebih mendalam, kemudian telah menyatu tanpa jarak sehingga dapat memperjuangkan agama islam. Berbagai hambatan telah ditempuhnya, dengan banyaknya kesulitan akhirnya dapat dilakukan berbagai cara. Anak merupakan kegemaran dan perhatian utama dalam perjuangannya dakwahnya, beliau bersama-sama anak lainnya terutama cucunya sendiri yang bernama Mohammad Idris di bina sejak badannya sejajar dengan meja sampai dengan dewasa oleh Mbah Kyai Ilyas. Pada tahun 1960 Muhammad Idris dikawinkan dengan anak kepala desa setempat, agar mempermudah tujuan dakwahnya, dan menyebarkan Islam dikalangan masyarakat Desa Cangkring. Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1980 perjuangan pendidikan serta pemeliharan anak yatim diteruskan dan dikembangkan oleh bapak Muhammad Idris atau cucu dari Mbah Kyai Ilyas. Pada saat beliau mempunyai putra, maka terus dikembangkan bersama putranya Ahmad Dimyathi sebagai Sarjana Ilmu Sosial pada 1985. Pada tahun 1989 Yayasan menghadap Notaris R. Moh. Hendarmawan Sarjana Hukum di Jakarta untuk mendapatkan Akta Notaris dengan perjuangannya yang panjang, pada tahun 1990 atas bimbingan dan petunjuk Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri beserta Bapak Kepala Wilayah Kecamatan Tirtomoyo telah meresmikan berdirinya Panti Asuhan yang diberi nama AoAoPanti Asuahan TirtonugrohoAy berdasarkan UU. No. 6 th 1974 tentang ketentuan Ae ketentuan pokok kesejahteraan social. Berdasarkan surat keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Tirtonugroho memiliki surat izin: 250/ORSOS/2009/2012 yang berada dibawah Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri. Jumlah keseluruhan anak asuh yang berada dalam panti asuhan Tirtonugroho berjumlah 46 orang. Adapun rinciannya 24 putra dan 22 putri. Adapun jumlah keseluruhan pengasuh 9 orang. Penerapan Parenting Style Authoritarian Panti asuhan ini menerapkan parenting style atau gaya pengasuhan authoritarian, pengasuh memberikan hukuman kepada anak asuhnya khususnya pada remaja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pengurus panti asuhan. Gaya pengasuhan yang terapkan oleh pengasuh memiliki kontrol penuh terhadap anaknya, anak harus patuh pada perintah orangtua, ketika anak melanggar aturan, maka orangtua akan menghukumnya, kemudian lebih senang dengan remaja yang yang menerima perkataan Orangtua disini lebih menekankan hukuman berdasarkan kesalahan yang dilakukan pada aturan yang telah ditetapkan. Pelanggaran hukuman yang diberikan disini diterapkan oleh pengasuh kepada anak asuhnya yang telah melanggar aturan di panti asuhan pada usia remaja. Sukron sebagai pengasuh menyampaikan terdapat banyak remaja yang tidak taat pada aturan, sedangkan aturan yang ditetapkan panti asuhan diberikan tanpa terkecuali supaya mereka terdidik dengan baik. Berbagai bentuk pelanggaran terjadi di panti asuhan seperti merokok, mencuri, tidak mengikuti kajian, solat berjamaah, dan melarikan diri dari panti asuhan. Kemudian mereka akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Hukuman yang diberikan akan diterapkan pada peraturan yang dilanggarnya setelah dua kali melakukan hal yang sama. Hukuman yang berikan adalah membersihkan kamar mandi, membantu di dapur umum, membersihkan lingkungan panti asuhan, hafalan surat dan tilawah. Maka apabila melanggar aturan yang berlaku, orangtua akan memberinya hukuman. Pada gaya pengasuhan ini banyak remaja yang melakukan perlawanan, tidak melakukan hukuman Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. dengan baik, dan melakukan negosiasi dengan pengasuhnya untuk mengurangi hukuman, karena merasa tertekan dengan hukuman tersebut sehingga mengakibatkan seorang remaja mempunyai sifat pembantah. Hal positifnya adalah mendidik kedisiplinan pada remaja, untuk taat pada peraturan yang berlaku, dan patuh terhadap perintah orangtua Penerapan Parenting style authoritative Pengasuh juga menerapkan gaya pengasuhan ini dengan membimbing anak untuk mandiri tetapi memiliki batasan pada perilakunya, lebih perhatian pada anak, orangtua memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan terbuka dan fleksibel, kemudian seorang anak akan menjadi dekat dengan orangtua. Orangtua akan menuntun dan memberi persejutuan atas alasan yang disampaikan anaknya, kemudian menelaah kembali pendapat yang disampaikan oleh anak. Sikap orangtua menaruh perhatian dengan memperhatikan keinginan anak, dan menetapkan keputusan secara bersama-sama. Pengasuh secara tidak langsung mencontohkan kepada anak asuh untuk tetap bersikap baik dalam keadaan apapun (Nashihin et al. , 2. , kemudian memberikan arahan kepada mereka untuk mensyukuri apa yang telah terjadi pada dirinya. Selanjutnya pengasuh akan melakukan mediasi dengan mereka ketika ada permasalahan, tujuannya menyelesaikan permasalahan dengan baik, mendengarkan alasan mengapa anak asuh melanggar aturan dan kemudian menelaah alasan yang disampaikan untuk menetapkan keputusan yang akan diambil. Pelanggaran yang paling berat juga diberikan pilihan untuk tetap berada di panti asuhan atau keluar dari panti Jika anak menuntut pelayanan lebih baik maka seperti halnya yang disampaikan oleh bapak sukron pada mereka akan diberikan pengasuhan dengan baik, setiap mereka membutuhkan apapun akan dilayani asalkan itu baik. Apabila anak asuh membutuhkan tempat bercerita, keluh kesah maka pengasuh disana akan tetap bersedia mendengarkan dengan baik tanpa harus membedakan yang satu dengan yang lainnya. Sehingga mereka juga akan menganggap pengasuh sebagai orangtuanya sendiri. Sesuai dengan teori bahwa anak akan lebih dekat dengan orangtuanya. Bagi anak asuh yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, orangtua asuh akan mengkomunikasikan kembali dengan para pengurus panti asuhan lainnya, kemudian akan diberikan solusi yang terbaik, seperti dicarikan perguruan tinggi yang ada beasiswanya. Karena orangtua lebih memperhatikan anak khususnya pada pendidikannya. Pada gaya pengasuhan ini remaja akan lebih mudah menyampaikan suara hatinya, memudahkan komunikasi antara remaja dengan pengasuh, sehingga dapat bertanggungjawab dan mempunyai kepercayaan lebih atas dirinya serta keputusannya (Kholish et al. , 2. Sehingga, remaja yang berhasil dengan gaya pengasuhan ini jarang ditemukan melanggar aturan yang diberikan panti Penerapan Parenting style permissive Gaya pengasuhan ini juga didapatkan dalam panti asuhan ini. Orangtua tidak memberikan tuntutan, tetapi memberi kebebasan anak untuk berbuat atau bertindak. Kebebasan sudah diserahkan penuh pada remaja, sesuai dengan kehendaknya. Menurut hasil temuan peneliti seperti yang disampaikan bapak sukron, setelah remaja keluar dari panti asuhan, akan diberikan kebebasan untuk bekerja atau melanjutkan ke perguruan Pada kondisi ini, pengasuh yang berperan sebagai orangtua asuh yang sudah menyerahkan secara penuh tanggung jawab kepada mereka. Tidak memaksakan keputusan mereka, karena mereka juga akan melanjutkan hidupnya, keputusan kembali pada remaja tersebut. Sesuai dengan teori yaitu apa yang akan dilakukan remaja tanpa campur tangan dari orangtua. Hal tersebut memiliki sisi positifnya, karena remaja bebas Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 berekspresi sesuai apa yang dikehendaki, sehingga dapat menanamkan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Jika dilihat dari sisi negatifnya, maka seorang remaja menjadi lebih agresif, karena kebebasan yang dipegang, tanpa adanya kendali dari orangtuanya. Parenting Style yang terapkan dalam panti asuhan ini berdasarkan pada nilai-nilai ajaran islam. Peran pengasuh menjadi dasar pembentukan sikap mereka. Perhatian serta kasih sayang diberikan secara tidak langsung kepada mereka melalui pengasuhan yang baik, dari berbagai latar belakang anak asuh. Para pengasuh harus mempunyai kesabaran, karena kunci untuk mendidik mereka adalah sabar. Apalagi bagi para remaja yang sedang mengalami masa transisi dalam kehidupannya, yang mempunyai emosional yang tinggi dan mudah terpengaruh pada lingkungan luar. Pengasuh atau yang disebut dengan orangtua asuh memberikan tauldan yang baik kepada mereka dengan memberikan contoh yang baik. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, orangtua asuh memberikan berbagai contoh, dengan datang lebih awal untuk solat berjamaah, menanamkan sopan santun dengan cara bersikap menghormati kepada pimpinan panti asuhan, menghargai sesasama dengan para pengasuh dan menyayangi kepada anak asuh tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Orangtua asuh memberikan makanan serta minuman yang bermanfaat bagi mereka, terutama makanan yang halal. Maka dengan demikian akan tertanam dalam diri mereka, untuk selalu mencari rezeki dengan cara yang Orangtua asuh juga menjelaskan sejak masuk di panti asuhan, bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dikemudian nanti. Membiasakan mereka untuk mendidik sesuai dengan syariat islam adalah hal yang wajib bagi para pengasuh panti. Remaja yang berada di panti asuhan ini, berada dalam tahapan perkembangan moral penalaran konvensional dan pascakonvensional. 98 Pada masa penalaran konvensional, keyakinan mereka tidak sepenuhnya ditanamkan pada dirinya seperti pada teori yang ada. Bagi anak asuh yang tidak taat aturan khususnya remaja, mereka sedang tidak yakin pada dirinya, terkadang percaya aturan itu berlaku, tetapi terkadang juga ingin melakukan keinginannya dimana tidak sesuai dengan aturan Pada tahap penalaran konvensional terjadi pada usia 12 tahun hingga 15 tahun, sedangkan dalam panti asuhan ini yang sering melanggar aturan adalah usia ini. Sehingga orangtua asuh harus bisa menyesuaikan dengan norma yang berlaku di masyarakat dan Pada observasi yang dilakukan peneliti, pengasuh sudah mendidik mereka sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat dan agama. Pada tahapan penalaran pascakonvensional, remaja sudah lebih paham akan dirinya, mereka akan lebih menggunakan hati dalam menyikapi segala hal, tahapan ini terjadi 16 tahun keatas. Mereka yang berusia 16 tahun keatas tidak ditemui melakukan pelanggaran, karena berdasarkan hasil observasi, interaksi yang dilakukan pengasuh dengan anak asuh terjalin dengan baik. Pada tahap ini, pengasuh bisa mengerti perkembangan moral anak asuh usia remaja. Kegiatan pengasuh untuk membina moral remaja yang berdasarkan syariat islam menjadikan mereka memiliki sikap terpuji. Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh, ditemukan remaja yang berperilaku baik dan buruk. Pengasuh dalam kondisi ini dituntut untuk mendidik mereka yang masih berperilaku buruk dengan menyempurnakan nilainilai moral remaja sesuai yang berlaku dimasyarakat. Mereka yang melanggar aturan yang telah ditetapkan di panti asuhan perlu diberikan pengasuhan yang baik melalui berbagai Dengan memberikan hukuman atau sanksi kepada mereka juga merupakan suatu cara agar mereka lebih tertib dan taat pada aturan dikemudian hari nanti. Hafidz, et. al (Penerapan Pola Asuh Parenting Style dalamA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. Untuk lebih jelasnya dapat diketahui melalui bagan kerangka berpikir berikut ini. Penjelasan bagan diatas yaitu bahwa penerapan parenting style merupakan gaya pengasuhan yang diterapkan oleh pengasuh dalam membina moral remaja. Kegiatan yang digunakan untuk membina moral remaja dapat dilakukan dengan metode tertentu yang dapat menghasilkan output yaitu remaja yang bermoral. Implementasi parenting style dapat diterapkan melalui kegiatan membina moral remaja supaya dapat menjadikan remaja yang bermoral baik. Selain itu, diharapkan implementasi parenting style dapat memberikan dampak pada perilaku remaja sesuai dengan jenis parenting style yang diterapkan supaya menjadikan remaja yang bermoral baik. Simpulan Dari hasil pemaparan Penerapan Parenting Style dalam Membina Moral Remaja di Panti Asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo. Parenting style yang diterapkan dalam membina moral di panti asuhan Tirtonugroho Tirtomoyo, yaitu menggunakan tiga jenis gaya pengasuhan yaitu authoritarian, authoritative, dan permissive. Sedangkan berdasarkan latar belakang banyak remaja yang melakukan pelanggaran termasuk dalam parenting style authoritarian, karena pengasuh banyak menerapkan hukuman, sehingga anak akan mengalami pemberontakan dengan cara melakukan kesalahan atau pelanggaran di panti Pada gaya pengasuhan authoritative lebih banyak ditemukan dalam pengasuhan di panti asuhan tirtonugroho, karena gaya pengasuhan authoritative mengasuh dan memberikan respon yang baik terhadap anak asuhnya khususnya remaja. Sehingga anak lebih mudah untuk diarahkan oleh orangtua. Daftar Pustaka