Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 FILSAFAT HUMANISME ABRAHAM MASLOW DALAM PERSPEKTIF PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Tri Wiyoko1,2 Program Studi Doktor Kependidikan. Universitas Jambi. Indonesia Universitas Muhammadiyah Muara Bungo. Indonesia email: triwiyoko01@gmail. ABSTRAK Filsafat Humanisme dalam pemikiran Abraham Maslow dengan hirarki kebutuhan individu memberikan konsep Pendidikan yang sangat menghargai perkembangan manusia. Hal ini sangat bersesuaian dengan Pembelajaran berdiferensiasi. Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan konsep pembelajaran berdiferensiasi ditinjau dari perspektif filsafat pendidikan humanism. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode studi literatur untuk mengumpulkan literatur berkaitan dengan pembelajaran berdifrensiasi dan filsafat humanism Abraham maslow. Selanjutnya referensi yang terkumpul akan disintesis sehingga dapat memberikan informasi secara logis dan bermakna dan dianalisis secara deskriptif Hasil penelitian diperoleh bahwa filsafat humanisme dari pemikiran Abraham Maslow sangat relevan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran berdiferensiasi. Pemenuhan kebutuhan dalam pembelajaran berdiferensiasi sangat ditentukan dari tingkatan kebutuhan peserta didik. Dengan menyediakan diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar yang nyaman, maka kebutuhan peserta didik dapat terpenuhi. Oleh karena itu, pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan proses pembelajaran yang memanusiakan peserta didik dengan menerapkan hirarki kebutuhan. Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Humanisme. Abraham Maslow ABSTRACT The philosophy of humanism in Abraham Maslow's thinking and the hierarchy of individual needs provides an educational concept that highly values human development. This is very much in line with Differentiated Learning. The purpose of writing this article is to describe the concept of differentiated learning and review it from the perspective of the philosophy of humanism education. This research used the literature study method to collect literature on differentiated learning and Abraham Maslow's humanism philosophy. Furthermore, the collected references will be synthesized to provide information logically, meaningfully, and analyzed descriptively and argumentatively. The study results showed that the philosophy of humanism from Abraham Maslow's thinking is very relevant to be implemented in differentiated learning. Student needs largely determine the fulfilment of needs in differentiated learning. Student needs can be met by providing differentiation of content, processes, products, and a comfortable learning environment. Therefore, differentiated learning can realize a learning process that humanizes students by applying the hierarchy of needs. Keywords: Differentiated Learning. Humanism. Abraham Maslow PENDAHULUAN Filsafat pendidikan humanisme selalu menempatkan peserta didik sebagai individu yang unik dengan segala potensinya. Pendidikan sendiri tidak mengharuskan guru untuk mengukur atau memastikan keberhasilan peserta didik, tapi mengarahkan peserta didik kepada potensi terbaiknya. Oleh karena itu. Guru harus memahami berbagai strategi belajar agar mereka dapat membuat pembelajaran menjadi aktif dan menyenangkan sambil memperhatikan kebutuhan peserta didik (Fitra, 2. Filsafat Pendidikan humanisme akan memunculkan cara berpikir aktif positif yang berguna untuk meningkatkan intelektual, emosi atau perasaan (EQ), afeksi, dan keterampilan Lingkungan humanistik akan menjadikan peran guru semakin penting dalam membangun manusia (Bagoes Malik Alindra & Amin, 2. Filsafat pendidikan humanisme memiliki peran yang penting untuk pembelajaran diferensiasi, karena pembelajaran berdiferensiasi menempatkan kebutuhan peserta didik yang utama untuk mendapatkan materi dan https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 337 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-625 kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar setiap peserta Hal ini Ini sangat sejalan dengan humanisme, yang menekankan manusia dan mengutamakan pengembangan potensi individu. Jadi, pendidikan tidak hanya mencakup pengetahuan akademik. itu juga mencakup perkembangan moral, sosial, dan emosional siswa (Nahdiyah et al. , 2. Menurut Undang-Undang No 20 Tahun Pendidikan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan Pendidikan yang tidak diskriminatif lingkungan belajar yang inklusif dengan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik. Sehingga peserta didik bisa memahami dan mengembangkan potensi diri melalui bimbingan dan keteladanan pendidik selama menjalani Pendidikan. Pembelajaran pengembanganya harus tetap berlandaskan pada filsafat Pendidikan. Filsafat dalam* pendidikan mencoba untuk memahami *dan menguraikan konsep-konsep dasar *yang terkait dengan pendidikan,*serta mempertimbangkan pandangan-pandangan yang berbeda terkait dengan Pendidikan (Nahdiyah et al. , 2. Oleh karena itu. Pendidik dalam menjalankan proses pembelajaran dalam lingkungan belajar di kelas harus bisa memberikan layanan yang baik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Keragaman layanan dari perbedaan karakteristik peserta didik disebut dengan diferensiasi pembelajaran (Purba et al. , 2. Seluruh peserta didik di kelas tentunya pengalaman, bakat, minat, bahasa, gaya belajar, dan kecerdasan serta perbedaan yang lainnya. Berdasarkan kondisi tersebut, tidak adil rasanya jika pendidik mengadakan proses pembelajaran dengan cara yang sama dalam menyampaikan materi pelajaran dan menilai peserta didik Pendidik wajib memperhatikan perbedaan yang ada antar peserta didik dengan tetap memberikan layanan yang sesuai dengan Pada terdapat tiga aspek penting yang wajib diperhatikan oleh pendidik, yaitu pertama aspek konten, pada aspek ini pendidik harus dapat memahami dan menguasai materi agar seluruh peserta didik dapat mengerti bahan pelajaran yang dipelajari. Kedua aspek proses yaitu kegiatan-kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan beragam strategi agar pembelajaran yang dilaksanakan bermakna untuk peserta Ketiga aspek produk yaitu pendidik memodifikasi asesmen/evaluasi untuk mengukur kemampuan dari peserta yang dapat diwujudkan dalam pembuatan produk agar bisa mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan penjelasan di atas, maka perlu adanya kajian secara literatur dalam bentuk penulisan artikel ini dengan tujuan untuk menjelaskan perspektif filsafat pendidikan Abraham Maslow pembelajaran berdiferensiasi. METODE Penelitian menerapkan metode studi literatur. Data yang digunakan untuk membuat artikel ini diambil dari literatur kepustakaan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas (Rahmadi, 2. Sumber literatur kepustakaan dalam penelitian ini menggunakan buku, dokumen undang-undang, dan artikel-artikel ilmiah. Referensi yang sudah didapatkan kemudian dibaca dan diseleksi agar dapat diolah sebagai bahan penelitian. Sumber pustaka yang sesuai dengan topik penelitian ini yaitu terkait pembelajaran berdiferensiasi dan Selanjutnya, penelitian yang berkaitan dengan subjek digunakan sebagai data pendukung, yang kemudian disintesis untuk memberikan informasi yang masuk akal dan relevan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif Sehingga perlu adanya argumen dan mengeksplorasi informasi data yang berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi dan analisis filsafat humanism Abraham Maslow. HASIL DAN PEMBAHASAN Abraham Maslow Abraham Maslow lahir pada tahun 1908 di New York dan meninggal pada tahun 1907 di California. Abraham Maslow menegaskan bahwa tujuan utama dari perilaku seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan yang berhierarki. Adapun piramida Hirarki kebutuhan Abraham Maslow di ilustrasikan pada piramida berikut ini. https://ejournal. id/index. php/mp | 338 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. Desember . Gambar 1. Hierarki Kebutuhan Maslow . ttps://brandadventureindonesia. Maslow membagi hierarki kebutuhan dalam lima tingkat dasar kebutuhan yaitu: Kebutuhan fisik . hysiological need. merupakan kebutuhan fisik yang mendasar dan mendominasi kebutuhan manusia, sehingga kebutuhan fisik menjadi hal utama yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan rasa aman (Safety need. yang berupaya untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan bagi setiap hidup individu agar lebih baik. Kebutuhan akan kepemilikan dan cinta (The belongingness and love Need. Kebutuhan akan cinta Menegaskan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa satu sama lain. Kebutuhan untuk dihargai (The esteem Need. Kebutuhan ini akan berpengaruh terhadap psikologis berupa perasaan percaya diri, nilai, dan kekuatan manusia. Kebutuhan (Self Actualizatio. Pencapaian aktualisasi diri berdampak pada kondisi psikologi individu pada level yang lebih tinggi, seperti perubahan cara pandang, cara beripirkir dan pengelolaan keinginan untuk terus maju dan berkembang (Muazaroh & Subaidi, 2. Berdasarkan Hirarki kebutuhan Abraham maslow diatas, maka terlihat bahwa pemenuhan kebutuhan dasar manusia dimulai dari hal fisik, lalu berlanjut pada kebutuhan yang bersifat eksternal yang berhubungan dengan lingkungan Pembelajaran berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi merupakan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, dan kebutuhannya sehingga tidak frustasi atau gagal dalam mendapatkan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-625 pengalaman belajarnya (Tomlinson, 2. Pembelajaran berdiferensiasi harus dapat mendayagunakan kemampuan guru untuk mengelola empat komponen diferensiasi yaitu konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Guru dapat bertindak untuk melakukan perubahan-perubahan yang bersesuaian dengan konten, proses, produk, dan lingkungan sesuai dengan profil kebutuhan peserta didik yang ada di kelasnya. Menurut (Tomlinson, 2. terdapat elemen-elemen yang harus dipahami untuk melaksanakan proses berdiferensiasi, yaitu: Pertama, pembelajaran berdiferensiasi itu bukan pembelajaran individual. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran berdiferensiasi tiap-tiap peserta didik akan memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan minat dan bakat peserta didik. sehingga guru perlu memfasilitasi peserta didik baik secara individual, atau mendampingi peserta didik secara bersamaan dalam kelas. Kedua, pembelajaran berdiferensiasi di kelas dilakukan dengan tetap menjaga tata kelola kelas yang baik, dengan tetap mengakomodir kompetensi, keterampilan, minat belajar dan kesiapan belajar yang dimiliki peserta didik. Ketiga, pembelajaran berdiferensiasi itu pembelajaran yang mengelompokkan peserta didik secara dinamis dan homogen Sehingga perlu adanya pemahaman dari guru bahwa setiap peserta didik mempunyai kelebihan dan kelemahan pada bidang-bidang tertentu. Oleh karena itu pengelompokkan peserta didik akan selalu berubah-ubah disetiap mata pelajaran (Ramadhani & Isom, 2. Hal ini dilakukan untuk membantu peserta didik dalam belajar beradaptasi dengan individu-individu yang karakternya berbeda-beda. Sehingga peserta didik tidak hanya mengandalkan kelebihan yang dimiliki dan atau menutupi kelemahannya, tetapi lebih pada saling mendukung pemenuhan kebutuhan belajar dan penguatan minat belajar peserta didik. Keempat, pembelajaran berdiferensiasi itu bukan sekedar menyamakan pakaian yang Pembelajaran berdiferensiasi tidak sekedar memberikan pertanyaan secara terbuka kepada peserta didik agar memberikan jawaban Namun pembelajaran berdiferensiasi https://ejournal. id/index. php/mp | 339 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-625 harus dapat mewadahi seluruh persepsi dari tingkat kemampuan yang dimiliki peserta didik Kelima, pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus. Tetapi peserta didik harus mendapatkan kesempatan belajar yang sama dalam proses pembelajaran. Kemudian peserta pendampingan yang tepat dari guru sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow sangat erat kaitannya dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi yaitu pertama. Kebutuhan fisiologi (Physiological Need. merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan mendominasi manusia. Kebutuhan ini bersifat biologis, seperti makan, minum, udara dan sebagainya. Terkait dengan kebutuhan fisiologi, sekolah dapat menyepakatinya dengan orang tua peserta didik dalam menyediakan menyediakan makan siang dan air minum untuk peserta didik yang proses pembayaran satu bulan sekali. kemudian sekolah dapat menjamin kebersihan lingkungan agar udara dilingkungan sekolah tetap sehat untuk peserta didik. Selanjutnya guru juga dapat mengingatkan peserta didik untuk membawa bekal makanan yang sehat sesuai dengan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hal ini penting untuk dilakukan karena dengan sarapan pagi dapat meningkatkan fungsi kognitif yang baik sebagai bahan bakar agar otak dalam menjalankan aktivitas (Salsabila & Nareswari, 2. Sehingga peran guru sangat penting untuk mengingatkan peserta didik agar terbiasa dengan sarapan pagi. Selanjutnya pada proses pembelajaran guru harus dapat memahami kebutuhan gaya belajar dari masing-masing peserta didik. serta perlunya keterampilan awal peserta didik terhadap materi pelajaran yang akan dibahas. Kemampuan awal perkembangan peserta didik. Misalnya untuk memahami pembelajaran tentang fotosintesis maka peserta didik harus paham terlebih dahulu tentang bagian-bagian dari tumbuhan. Dengan mempertimbangkan materi, strategi, dan pendekatan pengajaran yang berbeda pada sekelompok peserta didik untuk memenuhi kebutuhan dan kesiapan belajarnya sangat efektif untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Dhera et al. , 2. Kedua. Kebutuhan rasa aman (Safety Need. kebutuhan yang mendorong peserta Pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan dengan adanya penjaga sekolah dan guru untuk melindungi seluruh siswa. Selain itu sekolah dapat menyediakan fasilitas bimbingan konseling untuk menambah rasa keamanan peserta didik. Filsafat Humanisme Abraham Maslow Pembelajaran Berdiferensiasi Aliran Keduanya menghendaki adanya pengajaran kepada peserta didik agar menemukan makna dalam belajar sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan peserta didik baik didalam kelas maupun diluar kelas. Selain itu, aliran filsafat humanistik mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam mencapai keberhasilan sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Pada teori belajar humanistik sangat mengutamakan bagaimana memanusiakan manusia yaitu peserta didik. Selain itu, dalam teori belajar humanistik proses Pendidikan harus dapat memanfaatkan kemampuan peserta didik untuk memaksimalkan potensinya. Sehingga hal ini sejalan dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang mengkonsep pembelajaran di dalam kelas untuk dapat mengakomodir keunggulan yang dimiliki oleh peserta didik tanpa harus melemahkan kekurangan yang dimilikinya. Abraham Maslow berpandangan bahwa manusia mempunyai potensi untuk maju dan berkembang (Insani, 2. Jadi, manusia akan mengalami pematangan melalui lingkungan yang memaksimalkan potensinya. Hal ini erat kaitanya dengan keberadaan peserta didik di dalam kelas. Setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk berkembang agar memiliki kemajuan baik dalam pengetahuan maupun dalam bersikap. Hal ini dapat dilakukan dengan proses pembelajaran berdiferensiasi, dikarenakan setiap peserta didik yang berada di dalam kelas sangat heterogen dengan bakat dan minatnya. https://ejournal. id/index. php/mp | 340 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-625 Pada proses pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan menjamin tidak adanya bullying peserta didik baik di dalam kelas maupun diluar sekolah. Guru kemudian dapat mengatur susunan tempat duduk peserta didik sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan gaya Peserta didik dapat memilih tempat duduk sesuai dengan kebutuhannya, baik dalam bentuk kelompok kecil atau besar. Peserta didik juga dapat bekerja secara individu atau berpasang-pasangan. Selain dikelompokkan berdasarkan minat belajar dan gaya belajarnya untuk mempermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Jadi. Guru harus memastikan bahwa siswa merasa aman, nyaman, dan tenang saat belajar dalam lingkungan dan suasana yang menyenangkan. Karena lingkungan belajar yang baik akan meningkatkan minat belajar peserta didik (Resal et al. , 2. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pembelajaran berdiferensiasi agar peserta didik dapat kondusif dalam belajar. Ketiga. Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (Sosial Need. Pada diri peserta didik perlu pemenuhan kebutuhan untuk dicintai dan disayangi seperti berada dalam komunitas Adanya interaksi sosial dalam praktik pembelajaran diferensiasi berdampak baik untuk membangun hubungan yang positif antara guru dan siswa baik dalam kesejahteraan sekolah, inklusi sosial, dan pembentukan konsep diri peserta didik (Pozas et al. , 2. Hal ini dapat diterapkan dalam diferensiasi proses, yang mana guru dihadapkan dengan peserta didik di dalam kelas yang memiliki berbagai karakter, namun guru harus dapat menerima dan memahami profil dari masing-masing peserta didik. Guru harus bersikap sabar, adil dan menjadi pendengar yang baik kepada seluruh peserta didik. Selanjutnya menghormati dan menghargai setiap ide, pendapat dan keputusan setiap peserta didik. Keadaan tersebut sangat membantu untuk merespon peserta didik dengan cara yang lebih informatif dan penuh afeksi, sehingga lingkungan belajarnya menjadi nyaman. Adanya rasa nyaman peserta didik dalam belajar, maka akan melahirkan perasaan memiliki dan senang untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Keempat. Kebutuhan untuk dihargai (Esteem Need. seperti rasa bagaimana dibutuhkan, kepercayaan dan tanggung jawab terhadap orang lain. Terpenuhinya self-esteem pada diri peserta didik akan menumbuhkan timbulnya sikap percaya diri, rasa kuat, rasa mampu, rasa berguna. Pada pembelajaran berdiferensiasi peserta didik dapat ditugaskan sesuai dengan minat dan gaya belajar. guru menugaskan kepada peserta didik untuk melalui media video pembelajaran, pengamatan Peserta didik dapat memilih mediamedia diatas untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru baik secara individu ataupun kelompok. Kemudian guru harus dapat menjadi ruang bertanya setiap peserta didik, ketika mereka mengalami kesulitan. Sehingga memengaruhi sikap tanggung jawab peserta didik (Ningsih & Rasyid, 2. Selain itu guru dapat membagi tugas kepada peserta didik untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam merawat serta menjaga sarana pra sarana yang terdapat di dalam kelas. Hal ini akan kepercayaan terhadap diri peserta didik. Kelima. Kebutuhan aktualisasi diri . menunjukkan kemampuan diri kepada orang lain. Pada pembelajaran diferensiasi guru dapat memfasilitasi peserta didik untuk mengkreasikan kemampuannya masing-masing dari setiap Misalnya pembelajaran IPAS peserta didik diberikan ruang untuk menunjukkan proyek keberhasilannya Kegiatan aktulisasinya dapat diwujudkan dalam bentuk proyek, misalnya presentasi di depan kelas, membuat poster perkembiakan tumbuhan, membuat tulisan yang ditempelkan pada mading sekolah, dan ikut serta dalam bazar yang diadakan oleh sekolah ketika mengadakan proyek profil pelajar Pancasila. Selain itu, sekolah juga dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggali kemampuan dan potensi peserta didik dalam kegiatan pentas seni dan class meeting. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengekpresikan kreativitas, potensi dan bakat mereka setelah mengikuti proses pembelajaran. Hal mengaktulisasikan diri peserta didik. Aktualisasi https://ejournal. id/index. php/mp | 341 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 9 No. Desember . diri pada peserta didik sangat dibutuhkan, karena dengan aktulisasi diri pengembangan potensi bakat peserta didik akan semakin baik (Ariani et , 2. Selain itu, menurut Alaghmand . kebutuhan aktualisasi diri yang dapat dipenuhi di sekolah akan meningkatkan efisiensi pendidikan dan keberhasilan akademik peserta didik. Berdasarkan analisisis hirarki kebutuhan, maka setiap peserta didik mempunyai kebutuhan yang harus terpenuhi agar kemampuan dan potensi yang dimiliki dapat berkembang dengan Guru mempunyai peran penting dalam pembelajaran berdiferensiasi. Selain sebagai fasilitator, perlunya memahami profil dari setiap peserta didiknya untuk lebih dalam mengenali minat, bakat dan gaya belajar dari masingmasing peserta didik. Selanjutnya berdiferensiasi guru juga harus dapat memahami bagaimana tingkat kebutuhan peserta didiknya. Hiraki kebutuhan diketahui bahwa prioritas pemenuhan kebutuhan dalam pembelajaran berdiferensiasi sangat dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik yang sudah memenuhi kebutuhan fisiologis dasar, mereka secara otomatis akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan yang lebih Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan memperhatikan aspek konten, proses, produk dan lingkungan belajar. Proses berdiferensiasi inilah mewujudkan proses pembelajaran untuk memanusiakan peserta didik sebagaimana dalam aliran filsafat pendidikan humanistik. KESIMPULAN Hasil analisis studi Pustaka dari Filsafat Pendidikan humanisme menurut Abraham Maslow menunjukan bahwa hirarki kebutuhan memberikan konsep Pendidikan yang sangat menghargai perkembangan manusia. Konsep Hirarki kebutuhan yang meliputi kebutuhan fisiologi, kebutuhan keamanan, kebutuhan kasih sayang, kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk aktualisasi diri, dan kebutuhan untuk rasa aman memiliki relevansi dalam mewujudkan Melalui pembelajaran berdiferensiasi, peserta didik dapat mempelajari materi sesuai dengan bakat, minat dan gaya belajar dari peserta didik. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi mengupayakan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-625 proses pembelajaran yang peserta didik secara utuh. DAFTAR PUSTAKA