Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) Vol. No. Juli 2025, pages 82-90 DOI: https://doi. org/10. 58818/jpm. E-ISSN: 3024 - 9473 P-ISSN: 3024 - 9481 Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia (PDPI) Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti Sosial Guna Pemulihan Trauma Pasca Bencana Tanah Bergerak Lili Halimah1. Finny Redjeki2. Herlina Herlina3*. Faizah4. Dewi Saparina5 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pasundan Cimahi. Indonesia Universitas Sangga Buana. Indonesia 3Universitas Mandiri. Indonesia Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon. Indonesia Universitas Nasional Pasim. Indonesia * Corresponding Author: lina. andiirawan@gmail. Received: 02-07-2025. Revised: 10-07-2025. Accepted: 20-07-2025 Abstrak Bencana tanah bergerak merupakan salah satu bencana alam yang berdampak besar terhadap kondisi fisik, sosial, dan psikologis masyarakat terdampak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan dukungan sosial dan psikologis kepada korban bencana melalui program bhakti sosial dan pemulihan trauma . rauma healin. Metode kegiatan meliputi pemberian bantuan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, serta kegiatan psikososial seperti terapi bermain dan konseling kelompok yang difokuskan kepada anak-anak dan kelompok rentan. Kegiatan dilaksanakan di wilayah terdampak bencana tanah bergerak di Desa Pasirmunjul Purwakarta. Jawa Barat, dengan melibatkan relawan, tenaga medis, dan pendamping psikologis. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan memberikan dampak positif terhadap pemulihan emosional korban serta memperkuat solidaritas dan ketangguhan sosial Kegiatan ini diharapkan menjadi model respons cepat pascabencana yang menggabungkan bantuan material dan dukungan psikologis secara holistik. Kata Kunci: Bhakti Sosial. Trauma Healing. Tanah Bergerak. Bencana Alam. Pemulihan Psikologis Abstract Moving land disasters are one of the natural disasters that have a major impact on the physical, social, and psychological conditions of the affected communities. This community service activity aims to provide social and psychological support to disaster victims through social service and trauma healing programs. Methods of activities include providing basic needs assistance, health services, and psychosocial activities such as play therapy and group counseling focused on children and vulnerable groups. The activity was carried out in the area affected by the mobile land disaster in Pasirmunjul Purwakarta Village. West Java, involving volunteers, medical personnel, and psychological companions. The results of the activity showed that the interventions carried out had a positive impact on the emotional recovery of the victims and strengthened the solidarity and social resilience of the community. This activity is expected to be a model of post-disaster rapid response that combines material assistance and psychological support holistically. Keywords: Social Bhakti. Trauma Healing. Moving Land. Natural Disasters. Psychological Recovery Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap berbagai bencana alam, salah satunya adalah tanah bergerak. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian material berupa kerusakan infrastruktur dan hilangnya tempat tinggal, tetapi juga menyisakan dampak psikologis mendalam bagi para penyintas (Adri et al. , 2. Bencana alam maupun kondisi sosial-ekonomi yang kurang menguntungkan seringkali menimbulkan dampak besar bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang tergolong rentan (Dhian Satria Yudha Kartika et al. , 2. Dalam situasi tersebut, kehadiran kegiatan yang bersifat kemanusiaan dan sosial menjadi sangat penting untuk meringankan beban masyarakat serta mempererat hubungan antarwarga. Salah satu bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan bhakti sosial. Bhakti sosial merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, baik dalam bentuk pelayanan kesehatan, pembagian sembako, bantuan pendidikan, pelayanan psikososial, hingga pemulihan pasca bencana (Ulum. Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan kepedulian sosial, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan bhakti sosial, diharapkan terbangun semangat solidaritas, kepedulian, dan kerja sama lintas sektor baik dari unsur akademisi, mahasiswa, pemerintah daerah, hingga masyarakat itu sendiri. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media untuk menumbuhkan nilai-nilai empati, gotong royong, dan tanggung jawab sosial, khususnya bagi para pelaksana kegiatan (Sutarman et al. , 2. Kehilangan harta benda, terpisahnya anggota keluarga, dan pengalaman menyaksikan kehancuran dapat memicu trauma yang berkepanjangan, mengganggu kesejahteraan emosional dan sosial masyarakat (Iqbal et al. , 2. Trauma pasca bencana adalah kondisi psikologis yang dialami oleh individu atau kelompok yang mengalami kejadian bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau tsunami (Dewi Puspitasari et al. , 2. Reaksi trauma dapat berupa ketakutan berlebihan, kecemasan, mimpi buruk, kesulitan tidur, hingga depresi. Kondisi ini terjadi karena individu merasa terancam atau kehilangan rasa aman akibat pengalaman bencana yang menimbulkan luka fisik maupun psikologis. Tanpa penanganan yang tepat, trauma ini dapat menghambat proses pemulihan dan menghambat kemampuan masyarakat untuk kembali beraktivitas secara normal. Bencana tanah bergerak adalah jenis bencana geologi yang terjadi ketika massa tanah atau batuan berpindah dari posisi semula, biasanya menuruni lereng akibat ketidakstabilan tanah (Panma et al. , 2. Istilah lain yang sering digunakan adalah longsor atau gerakan tanah. Bencana ini terjadi ketika keseimbangan lereng terganggu, sehingga gaya gravitasi mengalahkan kekuatan yang menahan tanah tetap di tempatnya. Proses ini dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan, tergantung jenis dan kondisi tanah. Melihat kondisi tersebut, kegiatan "Bhakti Sosial dan Pemulihan Trauma Pasca Bencana Tanah Bergerak" ini diinisiasi sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab Kami menyadari bahwa upaya pemulihan pasca-bencana tidak hanya sebatas bantuan fisik, melainkan juga harus menyentuh aspek psikologis masyarakat. Penguatan komunitas dan dukungan emosional kami sampaikan dan kami berikan agar mereka Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 sama-sama saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Faktor psikologis sangat perlu untuk menjaga mereka dari pikiran-pikiran yang akan membuat mereka lemah (Yeo et al. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan dukungan komprehensif yang meliputi bantuan dasar kebutuhan sehari-hari, serta program pemulihan trauma yang dirancang khusus untuk membantu penyintas mengatasi kecemasan, ketakutan, dan kesedihan yang mereka alami. Melalui pendekatan yang holistik, kami berharap dapat meringankan beban penderitaan masyarakat, mempercepat proses adaptasi pasca-bencana, dan membantu mereka membangun kembali harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara akademisi, praktisi, dan elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan bencana, serta menegaskan komitmen untuk hadir membersamai masyarakat di masa-masa sulit. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat "Bhakti Sosial dan Pemulihan Trauma Pasca Bencana Tanah Bergerak" ini akan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan holistik untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta program pemulihan trauma dapat tersampaikan secara efektif. Berikut adalah tahapan Persiapan dan Koordinasi Pelaksanaan Bhakti Sosial Evaluasi dan Pelaporan Pada tahap persiapan dan koordinasi dilaksanakan selama 2 minggu, tahap awal ini, fokus utama adalah pengumpulan data dan menjalin koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Mengidentifikasi lokasi dan skala bencana, mngumpulkan informasi terkini mengenai desa/wilayah yang terdampak bencana tanah bergerak, termasuk jumlah kepala keluarga (KK) terdampak, tingkat kerusakan, dan kebutuhan mendesak. Asesmen kebutuhan primer dengan melakukan survei cepat atau Focus Group Discussion (FGD) dengan perwakilan masyarakat terdampak dan pihak desa untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar yang paling mendesak . angan, sandang, obat-obatan, kebutuhan bayi/lansia, selimut, terpal, dll. Asesmen kebutuhan psikososial/trauma yaitu berkoordinasi dengan psikolog atau tenaga ahli kesehatan jiwa untuk melakukan asesmen awal mengenai tingkat trauma dan kebutuhan dukungan psikososial di kalangan penyintas, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Ini dilakukan melalui wawancara singkat atau observasi partisipatif. Pada tahap persiapan dibentuk pula tim yang terdiri dari koordinator lapangan, tim psikososial/konseling, tim logistik, dan tim dokumentasi. Penentuan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim sangat penting dalam menunjang lancarnya kegiatan pengabdian masyarakat ini. Melakukan kampanye penggalangan dana dan donasi . aik dalam bentuk uang maupun baran. dari berbagai pihak yaitu organisasi Perkumpulan Dosen Peneliti Idonesia, institusi pendidikan, dan Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 masyarakat umum. Serta menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah desa. BPBD, dinas sosial, tokoh masyarakat, dan relawan lokal untuk memastikan sinergi program dan Tahap pelaksanaan bhakti sosial, tahap ini berfokus pada penyaluran bantuan dasar dan pemenuhan kebutuhan mendesak. Mendirikan posko atau pusat distribusi bantuan di lokasi yang mudah dijangkau dan aman bagi penyintas. Mendistribusikan logistik dan kebutuhan dasar yang telah terkumpul, seperti paket sembako, pakaian layak pakai, perlengkapan kebersihan diri, selimut, dan terpal, secara adil dan merata berdasarkan hasil asesmen kebutuhan. Mengadakan posko kesehatan gratis yang melibatkan dokter, perawat, dan relawan medis untuk memberikan pemeriksaan kesehatan dasar, penanganan luka ringan, dan penyuluhan kesehatan terkait sanitasi dan kebersihan pasca-bencana. Tahap pemulihan trauma dengan berfokus pada dukungan psikososial untuk membantu mengatasi trauma pada anak-anak. Menciptakan area yang aman dan nyaman bagi anak-anak dan orang dewasa untuk berinteraksi, bermain, dan berekspresi. Ini bisa berupa tenda khusus atau bangunan sementara yang kondusif. Melaksanakan aktivitas bermain terapeutik, bercerita, menggambar, dan permainan interaktif yang dipandu oleh fasilitator terlatih. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, mengurangi kecemasan, dan membangun kembali rasa aman (Soleman et al. Mengadakan kegiatan yang mendorong partisipasi dan kolaborasi masyarakat, seperti gotong royong kecil, workshop kerajinan sederhana, atau kegiatan keagamaan/budaya. Ini bertujuan untuk membangun kembali kohesi sosial dan menumbuhkan rasa optimisme (Indah Yunitasari et al. , 2. Memberikan edukasi singkat kepada masyarakat dan relawan lokal tentang tanda-tanda trauma dan cara memberikan dukungan awal kepada orang-orang terdekat. Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap efektivitas program bhakti sosial dan pemulihan trauma melalui survei kepuasan, wawancara, atau diskusi kelompok terfokus dengan perwakilan masyarakat dan tim pelaksana. Menyusun laporan kegiatan yang komprehensif, mencakup latar belakang, tujuan, metode, hasil kegiatan, dokumentasi foto/video, evaluasi, serta rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya. Mempublikasikan hasil kegiatan dalam bentuk artikel berita, jurnal pengabdian masyarakat, atau media sosial untuk berbagi pengalaman dan menginspirasi pihak lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat "Bhakti Sosial dan Pemulihan Trauma Pasca Bencana Tanah Bergerak" telah dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2025 hingga 30 Juni 2025 di Desa Pasirmunjul. Kec. Sukatani. Kab. Purwakarta dengan melibatkan tim dari Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia, relawan lokal, serta dukungan dari Pemerintahan Desa setempat. Kegiatan ini berfokus pada dua pilar utama yaitu pemenuhan kebutuhan dasar melalui bhakti sosial dan pemulihan psikologis melalui program trauma healing. Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 Pelaksanaan bhakti sosial bertujuan untuk meringankan beban darurat para penyintas dengan memenuhi kebutuhan dasar mereka pasca bencana. Penyaluran bantuan primer, sebanyak 80 paket bantuan logistik berhasil didistribusikan kepada 80 kepala keluarga Setiap paket berisi kebutuhan pokok. Proses distribusi dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah desa dan perwakilan warga terdampak untuk memastikan bantuan tersalurkan secara adil dan merata, terutama bagi keluarga yang paling parah terdampak. Respons dari masyarakat penerima sangat positif, terlihat dari ekspresi syukur dan rasa terbantu. Bantuan ini secara signifikan membantu mengurangi beban finansial dan kecemasan masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan dasar seharihari dalam masa darurat. Hal ini menciptakan kondisi yang lebih stabil bagi penyintas untuk memulai proses pemulihan. Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 Gambar Lokasi dan Kegiatan Bkati Sosial Program pemulihan trauma difokuskan untuk membantu penyintas mengatasi dampak psikologis bencana dan membangun kembali resiliensi. Sesi psikososial untuk anak-anak sekitar 30 anak-anak usia 4-12 tahun berpartisipasi aktif dalam sesi psikososial yang diadakan di posko kantor desa. Metode yang digunakan meliputi permainan terapeutik yaitu menggambar bebas, bermain peran, bercerita . , kegiatan mewarnai, dan aktivitas fisik ringan. Dampak positif menunjukkan bahwa anak-anak menjadi lebih ceria, berani berekspresi, dan interaksi sosial mereka meningkat. Beberapa anak yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda menarik diri atau kecemasan mulai terbuka dan bermain bersama teman-temannya. Aktivitas ini membantu mereka menyalurkan emosi negatif dan kembali merasakan suasana aman dan menyenangkan (Dewiyanti et al. Penguatan komunitas dan dukungan emosional itu bisa jadi salah satu jalan paling ampuh untuk menciptakan perubahan secara psikis yang berdampak dan bertahan lama (Yates & Paquette, 2. Mereka kita harapkan lebih tegar dan lebih solid dalam menghadapi bencana ini. Namun bentuknya bisa sangat beragam, tergantung jenis permasalahannya atau demam. Strategi Penguatan Komunitas bisa melalui pemberdayaan melalui pendidikan dan pelatihan, misalnya pelatihan keterampilan kerja, digital literacy, atau kewirausahaan lokal. Pembentukan forum diskusi atau kelompok aksi bisa dalam bentuk ngobrol ringan namun serius. Penguatan komunitas juga mengarah kepada penguatan jaringan dan kolaborasi komunitas yang terhubung dengan lembaga lokal, pemerintah, dan perusahaan sekitarnya (Jung et al. , 2. Tak lupa penguatan komunitas juga perlu dikompakkan dengan menggunakan media sosial seperti pembuatan group Whatsapp atau platform online untuk berbagi informasi penting. Kegiatan "Bhakti Sosial dan Pemulihan Trauma Pasca Bencana Tanah Bergerak" ini telah menunjukkan bahwa respons komprehensif yang menggabungkan bantuan fisik dan psikologis sangat krusial dalam penanganan bencana. Penyaluran bantuan primer menciptakan fondasi rasa aman dan stabilitas yang diperlukan sebelum program Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 pemulihan trauma dapat berjalan efektif. Sulit bagi seseorang untuk fokus pada penyembuhan emosional jika kebutuhan dasar seperti makan, tempat berlindung, dan kesehatan belum terpenuhi. Program pemulihan trauma yang dilakukan di awal masa pasca-bencana memiliki dampak signifikan dalam mencegah trauma akut berkembang menjadi masalah kesehatan mental kronis. Intervensi yang terarah, terutama bagi anakanak, membantu mereka memproses pengalaman traumatis dengan cara yang sehat. Keterlibatan aktif masyarakat lokal, tokoh desa, dan relawan sangat mendukung keberhasilan kegiatan. Mereka menjadi jembatan informasi, membantu mobilisasi, dan menciptakan suasana penerimaan yang positif bagi tim pengabdi. Dukungan sosial internal komunitas juga terbukti menjadi faktor protektif yang kuat terhadap dampak Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain aksesibilitas lokasi yang sulit, keterbatasan waktu, serta variasi tingkat penerimaan dan partisipasi masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya asesmen kebutuhan yang lebih mendalam sebelum pelaksanaan dan fleksibilitas dalam merancang program agar sesuai dengan konteks lokal. Diperlukan juga pendampingan jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan proses pemulihan, mengingat trauma bisa memiliki efek jangka panjang. Pemulihan trauma bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan pendekatan holistik yang memperhatikan aspek psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi korban (SAEMAH MURNI, 2. Pendekatan ini juga harus berkelanjutan, karena dampak trauma bisa muncul secara bertahap atau bahkan setelah waktu yang cukup lama sejak bencana terjadi. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil memberikan kontribusi nyata dalam upaya pemulihan pasca bencana tanah bergerak di Desa Pasirmunjul Purwakarta. Kolaborasi antara penyediaan bantuan darurat dan intervensi psikososial telah membantu meringankan penderitaan fisik dan emosional penyintas, serta memperkuat resiliensi komunitas. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan holistik dan berkelanjutan sangat diperlukan dalam setiap upaya penanggulangan dan pemulihan pasca-bencana di Indonesia. KESIMPULAN Kegiatan bhakti sosial dengan fokus pada penguatan komunitas dan dukungan emosional pasca bencana tanah bergerak merupakan bentuk intervensi yang efektif dan relevan dalam membantu masyarakat terdampak pulih secara psikologis dan sosial. Melalui pendekatan yang partisipatif, kegiatan ini mampu membangun kembali rasa aman, meningkatkan solidaritas antarwarga, serta memperkuat ketahanan mental korban. Penguatan Komunitas dan dukungan emosional yang diberikan dalam bentuk konseling, aktivitas rekreatif, dan forum berbagi pengalaman telah membantu meredakan gejala trauma dan kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak. Sementara itu, penguatan komunitas melalui kegiatan kolektif, pelatihan, dan revitalisasi fungsi sosial warga, mendorong masyarakat untuk saling mendukung dalam proses pemulihan. Bencana tanah bergerak merupakan ancaman nyata di wilayah dengan curah hujan tinggi dan topografi curam, seperti Indonesia. Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda gerakan tanah, menjaga Penguatan Komunitas dan Dukungan Emosional sebagai Bentuk Bhakti SosialAA. (Halimah, dk. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 3 . Juli, 82-90 kelestarian hutan dan vegetasi lereng, melakukan pemetaan dan peringatan dini di daerah DAFTAR PUSTAKA