Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DENGAN PEMANFAATAN PANGAN LOKAL: DAYA TERIMA PMT PUDING (LPOMOEA BATATAS L & CUCURBITA MOSCHATA) Qurrata Aini1*. Wira Setiawan2. Muhammad Amin3. Syarifuddin4. Khairul Adib5 1,2,3,4,5 Universitas Muhammadiyah Bima Corresponding Author email: qurrataaini207@gmail. Abstrak Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal yang kaya gizi, seperti ubi jalar (Ipomoea batatas L) dan labu kuning (Cucurbita moschat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat daya terima puding berbahan ubi jalar dan labu kuning pada anak usia dini melalui uji organoleptik meliputi aspek rasa, warna, aroma, dan tekstur. Desain penelitian menggunakan quasi-eksperimen dengan jumlah responden sebanyak 30 anak TK di Desa Risa yang dipilih secara acak. Analisis data meliputi uji deskriptif, uji normalitas ShapiroWilk, uji Wilcoxon Signed Rank Test, dan One Way ANOVA dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puding labu kuning memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi pada aspek rasa . dan warna . dibandingkan puding ubi jalar . ,13 dan 3,. Uji Wilcoxon memperlihatkan perbedaan signifikan pada atribut rasa . = 0,. , sedangkan warna, aroma, dan tekstur tidak berbeda signifikan . > 0,. Uji ANOVA juga menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada semua atribut . > 0,. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua jenis puding dapat diterima dengan baik, dengan preferensi yang lebih tinggi terhadap puding berbahan dasar labu kuning. Kata Kunci: Stunting. Pangan Lokal. PMT. Puding Ubi jalar. Puding Labu Kuning. Daya Terima PENDAHULUAN Konten naskah memuat bagian-bagian Pendahuluan. Metode Penerapan. Hasil dan Ketercapaian Sasaran. Kesimpulan. Ucapan Terimakasih, dan Daftar Pustaka. Pastikan dalam konten naskah, kecuali pada bagian ucapan terima kasih, tidak mengandung identitas personal maupun afiliasi para penulis. Pembangunan kesehatan merupakan aspek penting dalam pembangunan nasional untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat, serta menjawab ketertinggalan global. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan derajat kesehatan anak dan neonatal sebagai bagian dari tujuan SDGs (Komalasari et al. , 2. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dalam waktu yang panjang, sehingga anak memiliki tinggi badan di bawah standar sesuai usianya (Hizriyani & Aji, 2. Stunting yang tidak P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 disertai dengan proses tumbuh kejar . atch-up growt. dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan. Masalah ini merupakan isu kesehatan masyarakat serius karena berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit, kematian, serta gangguan perkembangan fisik dan mental, termasuk keterlambatan motorik dan kognitif (Rahmadhita, 2. Stunting menjadi perhatian yang sangat penting karena dapat memengaruhi tingkat kecerdasan dan produktivitas generasi Indonesia di masa depan (Rahmadani & Lubis, 2. Pada tahun 2017, sebanyak 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting, menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2000 yang mencapai 32,6%. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kasus berasal dari Asia . %) dan sekitar 39% berada di Afrika. Di Asia sendiri, 58,7% kasus stunting terjadi di Asia Selatan, sementara Asia Tengah mencatat proporsi terendah yaitu 0,9% (Rusliani et al. Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kasus stunting anak di kawasan Asia Tenggara dan berada di peringkat kelima secara global (Raihani et al. , 2. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka prevalensi stunting tercatat sebesar 21,6%. Sementara itu, pada tahun 2021, prevalensinya mencapai 24,4%. Dengan demikian, penurunan yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir tergolong relatif kecil, yakni hanya sebesar 2,8% (Prasetya, 2. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren kenaikan prevalensi stunting, dari 31,4% pada tahun 2021 menjadi 32,7% pada tahun 2022, yang melebihi rata-rata nasional sebesar 21,6% (Anzarkusuma et al. , 2. Stunting memberikan dampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan, sehingga perlu adanya perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan penanganannya (Maria et al. , 2. Terjadinya stunting dipicu oleh berbagai faktor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor langsung mencakup kurangnya asupan nutrisi dan adanya penyakit infeksi, sementara faktor tidak langsung meliputi rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, pola pengasuhan yang tidak optimal, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan di lingkungan tempat tinggal (Roslinawati et al. , 2. P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Masa usia 4Ae6 tahun adalah periode penting bagi pertumbuhan otak anak yang membutuhkan nutrisi optimal. Karena itu, stunting perlu ditangani serius, salah satunya melalui Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) (Salim Bakrisuk & Hasibuan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji daya terima anak anak TK Anisa. Desa Risa terkait PMT puding dengan bahan baku pangan lokal yaitu ubi jalar dan labu kuning. METODE Pengujian dilakukan melalui uji organoleptik dengan menggunakan skala hedonik 1Ae5, mencakup aspek rasa, warna, aroma, dan tekstur. Panelis tidak terlatih diminta untuk memberikan penilaian terhadap produk yang disajikan. Uji organoleptik, yang juga dikenal sebagai uji sensorik atau uji inderawi, merupakan metode evaluasi produk dengan memanfaatkan pancaindra manusia sebagai instrumen utama untuk menilai tingkat penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Indra yang digunakan dalam pengujian ini meliputi penglihatan . untuk menilai tampilan atau warna, penciuman . untuk mengevaluasi aroma, pengecap . untuk merasakan cita rasa, serta peraba . angan atau mulu. untuk mengamati tekstur produk (Gusnadi. Proses pembuatan puding diawali dengan pencampuran seluruh bahan, kemudian dipanaskan hingga mendidih, lalu dituangkan ke dalam wadah dan Formula puding yang digunakan ditampilkan pada Tabel 1. Formula F1 menggunakan ubi jalar sebagai bahan utama dengan tambahan vla vanilla, sedangkan Formula F2 menggunakan labu kuning dengan tambahan vla cokelat. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS, meliputi analisis deskriptif, uji Wilcoxon, dan uji perbandingan (One Way ANOVA) untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan signifikan antar formula. Tingkat signifikansi ditetapkan pada = 0,05. Tabel 1. Formula Puding Ubi (LPOMOEA BATATAS L) & Labu Kuning (CUCURBITA MOSCHATA) KomposisI Formula . P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Ubi Susu Full Cream Gula Garam Bubuk Agar-Agar Plan Labu Kuning Vla Vannila Vla Coklat Air Tabel 1 menyajikan komposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan puding dari dua formula berbeda. Formula pertama (F. menggunakan bahan dasar ubi jalar dengan penambahan gula, agar-agar, susu, dan vla vanilla, sementara formula kedua (F. menggunakan labu kuning dengan komposisi gula lebih rendah, agar-agar lebih sedikit, dan vla cokelat. Perbedaan komposisi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana penerimaan panelis terhadap variasi bahan lokal yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Sampel Hasil Penelitian menunjukan karakteristik responden berdasarkan umur, dapat di lihat pada table 1 dibawah ini: Tabel 2. Karakteristik Sampel Variabel Umur 21 Ae 40 Thn 4Ae5 Thn Jumlah 33,33 66,67 Tabel 2 ini menunjukkan distribusi responden berdasarkan kelompok umur. Dari total 30 responden, mayoritas berusia 4Ae5 tahun . ,7%) dan sisanya berusia 21Ae40 tahun . ,3%). Hal ini wajar karena penelitian memang melibatkan anakanak TK sebagai panelis utama untuk menilai daya terima produk, sedangkan kelompok usia dewasa kemungkinan berperan sebagai kontrol atau tambahan. P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Hasil Analisis statistik deskriptif2 Hasil Analisis statistik deskriptif Tabel 3. Statistik Deskriptif Nilai Rasa. Aroma. Tekstur, dan Warna Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Nilai rasa puding A Nilai rasa puding B Nilai aroma puding Nilai aroma puding B Nilai tekstur puding Nilai tekstur puding Nilai warna puding Nilai warna puding B Valid N . Hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata skor kesukaan yang bervariasi antara kedua produk puding. Puding B . abu kunin. memperoleh rata-rata nilai lebih tinggi pada aspek rasa (Mean = 4,. dibandingkan Puding A . bi jalar. Mean = 3,. Dari sisi tekstur, kedua puding relatif sama (Mean 3,50 vs 3,. Warna Puding B juga lebih disukai (Mean = 3,. dibandingkan Puding A (Mean = 3,. Hasil ini mengindikasikan bahwa penggunaan labu kuning cenderung lebih dapat diterima anak-anak terutama dari segi warna dan rasa. Uji Wilcoxon Signed Ranks Test Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Variabel Sig. -taile. Interpretasi ( = 0,. warna_labu Ae warna_ubi Tidak signifikan . > 0,. rasa_labu Ae rasa_ubi Signifikan . < 0,. tekstur_labu Ae tekstur_ubi Tidak signifikan . > 0,. aroma_labu Ae aroma_ubi Tidak signifikan . > 0,. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test terhadap tingkat kesukaan panelis pada puding ubi dan puding labu kuning. P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 diperoleh hasil yang bervariasi pada setiap atribut yang dinilai. Pada atribut rasa, nilai signifikansi sebesar 0,038 . < 0,. menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara puding ubi dan puding labu. Hal ini mengindikasikan bahwa panelis dapat merasakan perbedaan cita rasa dari kedua jenis puding tersebut, sehingga faktor rasa menjadi salah satu aspek pembeda utama antara Sementara itu, pada atribut warna diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,222 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat perbedaan nyata antara puding ubi dan puding labu. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara visual, warna kedua produk relatif serupa atau tidak memberikan kesan yang berbeda secara signifikan bagi panelis. Hasil yang sama juga terlihat pada atribut tekstur, dengan nilai signifikansi sebesar 0,748 . > 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa konsistensi atau kelembutan puding ubi dan labu kuning dinilai tidak jauh berbeda oleh panelis. Selain itu, pada atribut aroma nilai signifikansi diperoleh sebesar 0,098 . > 0,. , sehingga juga tidak terdapat perbedaan signifikan meskipun nilainya mendekati batas signifikansi. Hal ini menunjukkan bahwa aroma kedua jenis puding masih dianggap sebanding oleh panelis. Secara keseluruhan, hasil uji Wilcoxon memperlihatkan bahwa perbedaan utama antara puding ubi dan puding labu kuning hanya terletak pada aspek rasa, sementara atribut warna, tekstur, dan aroma relatif sama dan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Temuan ini menguatkan bahwa pengembangan produk dengan variasi bahan baku seperti ubi dan labu kuning terutama akan berpengaruh pada cita rasa yang dihasilkan, sedangkan aspek visual, tekstur, dan aroma masih dapat dipertahankan dalam kualitas yang P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Distribusi tingkat kesukaan penelis terhadap rasa puding ubi dan labu kuning menggunakan Uji Compare means > One-Way ANOVA Tabel 5. Tabel 5. Uji ANOVA Ae Rasa ANOVA Skor Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Mean Square Sig. Hasil analisis ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p = 0,309 (> 0,. , yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal rasa antara puding ubi jalar dan puding labu kuning. Meski demikian, nilai rata-rata memperlihatkan bahwa panelis cenderung lebih menyukai rasa puding berbahan labu kuning. Distribusi tingkat kesukaan penelis terhadap warna puding ubi dan labu kuning menggunakan Uji Compare means > One-Way ANOVA Tabel 6. Uji ANOVA Ae Warna ANOVA Skor Between Groups Within Groups Total Sum of Squares df Mean Square Sig. Nilai signifikansi p = 0,864 (> 0,. , artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua formula dari segi warna. Namun secara rata-rata, puding labu kuning memiliki skor warna lebih tinggi, yang kemungkinan disebabkan oleh warna kuning alami labu yang lebih menarik perhatian anak-anak. P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Distribusi tingkat kesukaan penelis terhadap aroma puding ubi dan labu kuning menggunakan Uji Compare means > One-Way ANOVA Tabel 7. Uji ANOVA Ae Aroma ANOVA Skor Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Mean Square Sig. Nilai p = 0,241 (> 0,. , menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada aspek aroma antara kedua produk. Skor rata-rata aroma relatif seimbang, dengan sedikit keunggulan pada puding ubi jalar. Hal ini dapat disebabkan oleh aroma khas ubi yang lebih kuat dibandingkan Distribusi tingkat kesukaan penelis terhadap tekstur puding ubi dan labu kuning menggunakan Uji Compare means > One-Way ANOVA Tabel 8. Uji ANOVA Ae Tekstur ANOVA Skor Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Mean Square Sig. Hasil uji menunjukkan nilai p = 0,437 (> 0,. , sehingga tidak ada perbedaan signifikan dalam tekstur kedua puding. Rata-rata skor tekstur hampir sama . ,50 vs 3,. , yang berarti baik puding ubi maupun labu memiliki konsistensi tekstur yang dapat diterima panelis. Rasa (Tabel . : Nilai p = 0,309 (> 0,. , artinya tidak ada perbedaan signifikan anatara dua formula. P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Warna (Tabel . : Nilai p = 0,864 (> 0,. , juga tidak ada perbedaan A Aroma (Tabel . : Nilai p = 0,241 (> 0,. , menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan. Tekstur (Tabel . : Nilai p = 0,437 (> 0,. , menandakan tidak ada perbedaan signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan signifikan antara puding ubi jalar dan labu kuning pada semua aspek Namun secara deskriptif, puding labu kuning memperoleh skor lebih tinggi terutama pada aspek rasa dan warna. Penerimaan kemungkinan dipengaruhi oleh warna kuning alami yang lebih menarik bagi anak-anak serta rasa manis yang khas. Sebaliknya, puding ubi jalar memiliki aroma yang lebih kuat, sehingga sebagian anak mungkin kurang terbiasa. Hal ini sejalan dengan penelitian Gusnadi . yang menyatakan bahwa daya terima produk pangan sangat dipengaruhi oleh warna dan rasa sebagai faktor utama preferensi konsumen. Secara umum, hasil penelitian ini mendukung pemanfaatan pangan lokal seperti ubi jalar dan labu kuning sebagai alternatif PMT (Pemberian Makanan Tambaha. untuk anak-anak, karena keduanya memiliki nilai gizi yang baik serta diterima oleh anak usia KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa puding berbahan dasar ubi jalar (Ipomoea batatas L) dan labu kuning (Cucurbita moschat. dapat diterima dengan baik oleh panelis anak usia dini. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa puding labu kuning memperoleh rata-rata skor lebih tinggi pada atribut rasa dan warna dibandingkan puding ubi jalar. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada atribut rasa . = 0,. , sedangkan atribut warna, aroma, dan tekstur tidak menunjukkan perbedaan signifikan . > 0,. Hasil uji One Way ANOVA juga mendukung temuan tersebut dengan tidak ditemukannya perbedaan bermakna secara statistik pada semua atribut P-ISSN 3047-4027 | E-ISSN 3046-4838 Jurnal Penelitian. Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. 2 September 2025 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua jenis puding memiliki tingkat daya terima yang baik, dengan preferensi panelis cenderung lebih tinggi terhadap puding berbahan dasar labu kuning. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian serta pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Desa Risa dapat berjalan dengan baik. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Desa Risa beserta seluruh masyarakat yang telah memberikan izin, dukungan, serta partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Penghargaan yang setinggi-tingginya juga penulis sampaikan kepada dosen pembimbing KKN yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, serta masukan yang sangat berarti dalam penyelesaian kegiatan maupun penyusunan artikel Terima kasih juga ditujukan kepada seluruh anggota KKN Tematik Posko 04 Desa Risa atas kerja sama dan kontribusi yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Selain itu, apresiasi diberikan kepada pihak sekolah yang telah mendukung pelaksanaan program, khususnya dalam penyediaan fasilitas serta kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif. Akhirnya, penulis berharap bahwa segala dukungan dan kontribusi dari berbagai pihak menjadi amal kebaikan yang bernilai di sisi Allah SWT, serta hasil kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi rujukan dalam pengembangan program sejenis di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA