STUDI PUSTAKA Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia April 2020. Volume 4. Nomor 1: 31-6 P-ISSN. 2685-0249 | E-ISSN. http://jurnal. id/index. php/jrdi/index Gambaran border dan periosteal reaction lesi rahang pada radiograf Aga Satria Nurrachman1*. Farina Pramanik2. Azhari2. Lusi Epsilawati2 ABSTRACT This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Objectives: Understanding the differences of general signs and typical characteristics of a lesion in radiograph is constantly important for dentists to determine the nature of a lesion. Some signs that can be observed more specifically were the presence of periosteal reaction and the border of existing These differences may be taken into consideration to define the diagnosis and type of the lesion. The purpose of this article is to provide an overview of the radiographic features of periosteal reaction and border in jaw lesions. Literature Review: This article is a literature review which discussed several articles relating to the radiographic features of border and periosteal reaction in various jaw lesions. Based on this review, there were different features of border, where each lesion had its own borderline that differs between cystic, benign and malignant properties. While the picture of periosteal reaction indicates the extent to which the lesion involves cortical tissue in the bone. Conclusion: The conclusion is that the border image and periosteal reaction can be one of the typical markers in determining jaw lesions. Keywords: Border, jaw lesions, periosteal reaction, radiograph Cite this article: Nurrachman AS. Pramanik F. Azhari A. Epsilawati L. Gambaran border dan periosteal reaction lesi rahang pada radiograf. Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia 2020. DOI: 10. 32793/jrdi. PENDAHULUAN PPDGS Radiologi Kedokteran Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia. Departemen Radiologi Kedokteran Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia. Correspondence to: Aga Satria Nurrachman uO aga18001@mail. Received on: October 2019 Revised on: December 2020 Accepted on: April 2020 Berbagai lesi jinak maupun ganas dapat terjadi pada area dentomaksilofasial dan seringkali memiliki penampakan yang mirip satu sama lain sehingga susah untuk dibedakan. Dalam menentukan diagnosis suatu lesi rahang, seorang praktisi wajib melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan komprehensif. Kesalahan dalam penentuan diagnosis dapat berakibat fatal, terutama apabila kasus tersebut merupakan Kesalahan diagnosis juga akan mengakibatkan kesalahan dalam penentuan rencana perawatan dan prognosis sehingga seringkali meningkatkan resiko kematian. Evaluasi pada berbagai gejala dan tanda klinis saja sebagai dasar penentuan diagnosis seperti rasa nyeri, pembengkakan, mobilitas gigi seringkali ditemukan tidak cukup adekuat. Dibutuhkan adanya beberapa pemeriksaan lain guna menunjang suatu diagnosis secara lebih kuat dan 2,3 Pemeriksaan radiografi hingga saat ini masih menjadi salah satu jenis pemeriksaan penunjang pertama dan penting dilakukan dalam menginvestigasi sebuah lesi rahang. Gambaran yang tampak dalam hasil radiograf, meskipun terkadang tidak spesifik, seringkali banyak membantu dalam mengenali dan membedakan kondisi jinak atau ganas. Evaluasi radiologis terhadap perubahan gambaran anatomi jaringan normal yang terlihat secara tepat dan mendalam dapat memberikan pertimbangan yang signifikan pada diagnosis dan perencanaan perawatan pasien selanjutnya. 4 Beberapa penanda dan karakteristik khas yang dapat kita amati dengan lebih spesifik dalam radiograf pada suatu lesi rahang seperti bentukan pinggiran . dan reaksi pembentukan tulang baru . eriosteal reactio. , dapat menjadi panduan dalam menyempitkan differential diagnosis. 1,4Ae6 WHO pada tahun 1992 mengklasifikasikan lesi pada rahang menjadi tiga jenis, yakni lesi kistik, tumor jinak . dan lesi tumor ganas . 7 Melalui bentukan border pada radiograf, kecenderungan dari suatu lesi termasuk dalam klasifikasi yang mana dapat kita lihat dengan lebih mudah. Sementara dalam tampakan jenis periosteal reaction, kita dapat menilai seberapa besar dan agresif suatu lesi rahang dalam mendestruksi jaringan kortikal pada tulang. Pada artikel ini dibahas mengenai gambaran border dan periosteal reaction lesi rahang dalam radiograf, yang diharapkan menjadi bahan pustaka yang dapat membantu para praktisi dalam menentukan sifat dari suatu lesi secara lebih akurat. A 2020 JRDI. Published by Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia. All rights reversed. STUDI PUSTAKA STUDI PUSTAKA Border merupakan bagian tepi atau batas terluar . dari suatu lesi. Suatu border dapat memiliki bentuk yang jelas . ell-define. ataupun kabur . ll-define. Hal yang paling membedakan diantara kedua bentukan tersebut ialah kita dapat menelusuri serta menentukan batas dari suatu lesi dengan mudah pada well-defined border, sebaliknya pada ill-defined border hal ini menjadi sukar dilakukan. Border juga dapat memiliki dimensi atau zona transisi yang memisahkan suatu lesi dengan tulang normal disekitarnya. Zona ini dapat berupa garis radiopak tipis yang menunjukkan zona transisi yang kecil atau border sklerotik yang tebal yang menggambarkan zona transisi yang lebih lebar. Lesi well-defined pada umumnya memiliki zona transisi yang kecil, sedangkan pada lesi ill-defined memiliki zona transisi yang luas. Berdasarkan bentukan dan zona transisinya, gambaran border lesi dalam radiograf dapat dibagi menjadi 4 tipe antara lain bentukan punched-out tanpa disertai sklerosis pada tepi lesi, bentukan lesi dengan sklerosis yang samar pada tepi atau yang biasanya disebut juga dengan bentuk corticated, bentukan sklerotik tebal dan bentukan dengan tepi daerah yang tidak jelas (Gambar . Berbagai gambaran jenis border ini dapat kita temukan dan bedakan dengan mudah pada berbagai lesi Periosteum menyelimuti bagian terluar dari tulang kortikal. Periosteum tersusun atas dua lapisan yakni lapisan kolagen dan jaringan ikat padat pada bagian luar . serta lapisan osteogenetik/kambium pada bagian dalam . Lapisan inner tersebut biasanya dapat terpisah dengan mudah apabila terdapat suatu trauma atau perdarahan Lapisan outer melekat pada korteks Gambar 1. Gambaran jenis border dari lesi rahang dalam radiograf Gambar 2. Gambaran jenis periosteal reaction dalam radiograf terbagi menjadi dua, tidak terputus . dan terputus . Umumnya reaksi yang termasuk dalam interrupted cenderung memiliki sifat lesi yang lebih ganas, agresif dan invasif 3,13 Gambar 3. Tampakan periosteal reaction yang dikaitkan dengan lesi keganasan pada rahang. Lamellar atau onion-skin periosteal reaction, cenderung mengindikasikan iritasi kronis dengan derajat yang rendah . Spiculated atau sunray periosteal reaction, sangat erat berkaitan dengan lesi yang bersifat malignan atau benign agresif . CodmanAos triangle menunjukkan tidak terbentuknya tulang pada bagian tengah dari lamellar periosteal reaction, menunjukkan sifat lesi yang agresif14 Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia 2020. 31-6 | DOI: 10. 32793/jrdi. STUDI PUSTAKA tulang melalui serat-serat kolagen yang disebut SharpeyAos fibers. Pada keadaan normal periosteum tidak dapat terlihat secara radiografik, namun apabila terdapat suatu keadaan patologis periosteum dapat terangkat dan mengalami osifikasi sehingga tampak radiopak. 9,10,11 Periosteal reaction merupakan suatu reaksi pembentukan tulang baru terhadap adanya suatu Tumor, infeksi, trauma, obat-obatan tertentu dapat memisahkan periosteum dari korteks dan membentuk berbagai bentukan periosteal reaction. Sebuah lesi rahang dapat berkembang lebih lanjut dari bagian dalam dan berkembang hingga mencapai bagian kortikal tulang. Hal ini kemudian dapat memicu timbulnya reaksi pada bagian periosteal dimana tubuh akan merespon dengan bentukan yang berbeda-beda, antara lain seperti terputusnya tulang kortikal, penebalan atau pembentukan lapisan periosteal, serta destruksi 3,10,12 Terdapat teori yang tumpang tindih antar berbagai literatur mengenai terminologi yang digunakan dalam mendeskripsikan periosteal Periosteal reaction telah diklasifikasikan antara lain dalam bentukan kontinyu versus interrupted, lapisan single versus multiple, dan tipe agresif versus non-agresif (Gambar . Dalam banyak kasus, bukan tidak mungkin radiografi dapat membantu melihat sifat jinak atau keganasan dari suatu lesi yang ada. Proses yang menyebabkan deposisi tulang secara cepat dalam waktu yang cepat dapat memicu periosteal reaction yang agresif, sedangkan pada proses yang lebih lambat menghasilkan gambaran non-agresif. Suatu lesi yang mengarah pada kasus keganasan juga umumnya mengakibatkan destruksi pada kortikal yang ditunjukkan dengan hilangnya tulang kortikal secara tidak beraturan atau dapat membentuk gambaran CodmanAos triangle, sunburst dan sunray appearance (Gambar . Sementara lesi yang jinak seringkali hanya menyebabkan ekspansi atau desakan pada tulang kortikal. 10,11,12 Terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemunculan periosteal reaction, antara lain seperti kecepatan perkembangan lesi . , aktivitas sel-sel osteoblas pada periosteum, masa/durasi injury dan usia pasien. Periosteum pada usia muda atau anak-anak cenderung lebih aktif dan memiliki ikatan yang lebih lemah dengan tulang kortikal dibandingkan pada saat dewasa, sehingga periosteal reaction pada anak-anak cenderung lebih sering terjadi dan tampak lebih agresif. 9,12 gambaran radiolusen dengan border yang jelas, unilokuler dan terdefinisi dengan baik. Apabila lesi memiliki bentukan multilokuler dengan border yang jelas, biasanya lesi tersebut memiliki sifat jinak dengan kecenderungan agresif. Suatu bentukan border dapat memiliki zona transisi yang berbeda. Pada kasus zona transisi yang sempit, bentukan border dapat diklasifikan menjadi bentukan punched-out . o sclerotic ri. , corticated . hin sclerotic ri. dan sclerotic . hick sclerotic ri. Umumnya lesi dengan bentukan border tersebut cenderung memiliki sifat yang jinak atau kistik, dan tumbuhnya cenderung lambat. 3,5,8 Punched-out border memiliki pinggiran yang jelas dan tajam namun tidak terdapat reaksi kortikasi tulang disekitarnya. Bentukan ini dianalogikan dengan alat pembolong kertas . , dimana ketika suatu kertas kita lubangi menghasilkan lubang dengan batas yang jelas dan tajam, dan area sekitarnya memiliki tampakan yang normal (Gambar . Tampakan border ini seringkali dapat ditemukan dengan mudah pada kasus multiple myeloma. Gambar 4. Tampakan punched-out border pada kasus multiple myeloma . anda pana. 5 Corticated border memiliki pinggiran radiopak tipis dan tajam yang merupakan gambaran dari reaksi tulang disekitar lesi. Border ini umumnya nampak pada kasus kista dan tumor jinak dengan pertumbuhan yang lambat (Gambar . Adanya proses kortikasi yang terlihat secara radiografi adalah merupakan hasil dari kemampuan tulang disekitarnya untuk membentuk tulang baru lebih cepat dibandingkan proses resorpsinya. 5,15 DISKUSI Keagresifan dari suatu lesi dapat ditunjukkan melalui radiograf. Lesi yang tumbuh lambat umumnya bukan merupakan suatu keganasan. Gambar 5. Tampakan corticated border dengan zona transisi ditandai dengan gambaran border yang tajam, wellyang kecil berupa garis radiopak, menandakan area sklerotik defined, baik yang unilokuler maupun multilokuler. yang tipis pada kasus kista radikuler5 Apabila pertumbuhan menjadi lebih ganas dan Sclerotic border menunjukkan zona transisi yang agresif/tumbuh cepat, maka border akan menjadi kurang jelas. Lesi jinak hampir 80% berupa lebih luas dengan border radiopak yang tebal. Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia 2020. 31-6 | DOI: 10. 32793/jrdi. STUDI PUSTAKA biasanya lebih tidak seragam ketebalannya dibandingkan dengan gambaran corticated border. Border ini dapat terlihat pada kasus periapical osseous dysplasia (POD) dan dapat mengindikasikan pertumbuhan lesi yang sangat lambat maupun potensial lesi dalam menstimulasi produksi tulang di sekitarnya (Gambar . Sebagian besar kasus inflamasi kronis pada tulang juga dapat menunjukkan tepi sklerotik, yang mencerminkan reaksi dari tulang treabekula disekitarnya terhadap lesi inflamasi yang terjadi. Beberapa lesi malignan lain juga dapat memiliki border sklerotik ini. Gambar 6. Tampakan sclerotic border pada kasus . periapical osseous dysplasia (POD) dan . infeksi periapikal yang persisten post perawatan saluran akar5 Jika suatu lesi memiliki border yang kabur . , hal tersebut dapat ditandai dengan gambaran berupa perubahan gradual dari kondisi abnormal sampai normal pada jaringan tulang ataupun gambaran border yang agresif dan infiltratif (Gambar . Gambaran border ini umumnya ditemukan pada kasus inflamatif dan juga keganasan. Gambar 7. Border ill-defined pada kasus squamous cell carcinoma5 Bagaimanapun pertumbuhan yang cepat dapat ditemukan baik pada kasus jinak ataupun Pada beberapa kasus keganasan, lesi juga dapat tumbuh lambat dan memiliki border yang jelas. Hal ini menandakan meskipun dapat menunjukkan keagresifan dan pertumbuhan dari suatu lesi, pemeriksaan radiografis tidak selalu dapat mendefinisikan secara pasti bahwa suatu lesi tersebut cenderung jinak atau ganas. Pada sebagian kecil kasus, seperti eosinophilic granuloma, aneurysmal bone cyst, giant cell tumor dapat memiliki gambaran radiografis yang agresif, namun tetap bersifat jinak. Kebalikannya, terdapat pula sebagian kecil kasus, antara lain seperti solitary Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia 2020. 31-6 | DOI: 10. 32793/jrdi. myeloma yang tumbuh lambat dan secara radiografis tampak tidak agresif, namun faktanya merupakan kasus keganasan. Analisis mendalam pada kedua macam border ini dapat membantu dalam menentukan sifat suatu lesi. 1,5,7 Kehadiran periosteal reaction juga dapat menjadi salah satu indikator dalam melihat sifat Lesi yang tumbuh lambat seringkali mengakibatkan ekspanksi pada kortikal hingga dapat membentuk gambaran busur yang mencuat dari dalam tulang, sedangkan gambaran destruksi kortikal menandakan lesi yang agresif dan Reaksi ini dapat menampilkan beberapa macam gambaran pada radiograf. Sebagian besar literatur mengklasifikasikan periosteal reaction menjadi dua kelompok, yakni bentukan kontinyu atau uninterrupted dan bentukan terputus atau Sebagian lain membaginya menjadi bentukan agresif dan non-agresif. Semua teori tersebut tetap saling berkaitan dan menjabarkan konsep dasar yang sama, semakin kompleks dan interrupted bentukan suatu periosteal reaction, maka aktivitas biologis dan perkembangan lesi yang ada cenderung berjalan cepat dan agresif. 9,10,12 Shell-type merupakan salah satu bentukan periosteal reaction kontinyu, dimana terbentuk pada saat resorpsi endosteal melebihi daya pertumbuhan tulang periosteal yang baru sehingga kemudian memunculkan bentukan garis tipis radiopak yang memisahkan lesi di bawahnya dengan jaringan lunak sekitar. Garis radiopak ini yang kemudian disebut sebagai bentukan shell. Gambaran shell-type dapat halus ataupun bergerigi. Apabila halus, umumnya diasosiasikan dengan lesi jinak seperti giant cell tumor dan fibrous dysplasia, sedangkan apabila bergerigi berkaitan dengan daya tumbuh dari lesi itu sendiri, seringkali terlihat pada kasus non-ossifying fibroma atau keadaan malignan yang tumbuh lambat seperti chondrosarcoma. Solid periosteal reaction adalah bentukan nonagresif yang umumnya jinak dan tumbuh lambat. Bentukan ini menandakan bahwa periosteum memiliki waktu yang cukup dalam merespon lesi yang ada dengan memicu aposisi lapisan tulang baru pada korteks. Periosteal reaction ini kadang juga disebut sebagai penebalan kortikal atau kortikal hiperostosis. Gambaran ini dapat terlihat pada kasus chondroma dan osteoid osteoma, sangat jarang terlihat pada lesi keganasan. 8,11,12 Gambar 8. Tampakan . shell-type periosteal reaction pada aneurysmal bone cyst, . solid periosteal reaction berupa penebalan kortikal pada kasus osteoid osteoma 11 STUDI PUSTAKA Gambar 9. Tampakan solid periosteal reaction pada inferior mandibular kasus . osteomyelitis kronis dan . GarreAos osteomyelitis pada pasien usia muda16 Single lamella menggambarkan adanya satu lapisan pada periosteal reaction. Hal ini ditandai dengan tampakan garis radiopak samar dengan lebar 1-2 mm yang berjalan pararel dengan permukaan tulang kortikal. Gambaran ini merupakan tanda spesifik dari suatu proses yang jinak, umumnya terlihat pada kasus trauma atau infeksi seperti osteomyelitis akut dan jarang ditemukan pada kasus neoplasma. Spiculated periosteal reaction ditandai dengan adanya garis-garis yang seragam, jelas dan tegak lurus . dengan tepi kortikal, sehingga seringkali gambaran ini disebut juga sebagai Auhair-on-endAy, karakteristik utama dari EwingAos tumor. Bentukan sunburst atau divergent periosteal reaction merupakan karakteristik khas osteosarkoma. Perbedaannya dengan spiculated, pada sunburst bentukan ujung tulang . lebih irregular dan tersebar divergen ke berbagai arah. Gambaran ini dapat terbentuk akibat pembentukan spikula dari tulang baru yang tumbuh di sepanjang pembuluh darah dan pita jaringan ikat (SharpeyAos fiber. yang juga baru saja terbentuk. Akibat adanya lesi yang mendesak dengan cepat, periosteum tidak memiliki waktu yang cukup untuk merespon dengan pembentukan tulang baru, sehingga SharpeyAos fibers yang menghubungkan periosteum dengan tulang tertarik dan meregang ke arah luar tegak lurus dengan tulang dan kemudian mengalami proses osifikasi. Tampilan periosteal reaction seperti ini pada umumnya menandakan lesi yang cenderung ganas dan agresif, namun dapat juga terlihat pada kasus jinak seperti hemangioma dan kondisi non-neoplastik lainnya seperti thalassemia dan sickle cell anemia. 6,8,11,12 Gambar 10. Tampakan single lamella periosteal reaction . pada tulang tibia pada kasus eosinophilic granuloma . pada bagian proximal femur kasus EwingAos sarcoma11 Onion skin atau laminated periosteal reaction dikarakteristikan dengan adanya beberapa lapisan lamella atau serangkaian pembentukan tulang kortikal baru berupa garis-garis radiopak tipis yang terletak paralel dan konsentris di sekitar tepi Gambaran ini menunjukkan proses yang lebih agresif, namun dapat ditemukan baik pada kasus jinak ataupun keganasan. Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa lapisan multiple tersebut dapat terbentuk oleh karena adanya modulasi dari sekumpulan fibroblast pada jaringan lunak disekitarnya, yang dimana hal tersebut kemudian membangkitkan sel osteoblastik potensial dan terjadi pembentukan tulang baru. Teori lainnya mengatakan bahwa saat lapisan tulang baru yang terbentuk telah mengangkat korteks, bagian dalam cambium ikut terstimulasi untuk membentuk lapisan tulang lain di bawahnya. Tampilan ini paling khas pada kasus EwingAos sarcoma, namun juga dapat ditemukan pada kasus-kasus lain seperti osteosarcoma, osteomyelitis, chondroblastoma, fraktur dan eosinophilic granuloma pada pasien dengan usia yang sangat muda. 6,8,11,12 Gambar 11. Tampakan onion-skin periosteal reaction pada kasus . Osteomyelitis dan . Periostitis proliferatif yang merupakan perluasan lesi inflamatif pada rahang5 Gambar 12. Tampakan . spiculated periosteal reaction yang membentuk gambaran Auhair-on-endAy . divergent periosteal reaction . unburst/sunray appearanc. pada kasus osteosarkoma5 Gambar 13. Tampakan CodmanAos triangle periosteal reaction pada kasus . Osteomyelitis17 dan . Osteosarkoma, tampak salah satu sisi periosteum yang terangkat membentuk segitiga 18 Gambaran periosteal reaction juga dapat berupa garis terputus . dan hanya melapisi sebagian permukaan dari lesi. Sebuah bentukan segitiga yang terdiri dari beberapa lapisan periosteal reaction dapat terbentuk pada pinggiran lesi yang disebut sebagai CodmanAos triangle. Segitiga tersebut dapat terbentuk saat sebagian dari lapisan periosteum terangkat dari korteks oleh adanya lesi tumor, pus, atau perdarahan di salah satu ujungnya. Saat suatu lesi berkembang terlalu Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia 2020. 31-6 | DOI: 10. 32793/jrdi. STUDI PUSTAKA cepat dan periosteum belum dapat untuk merespon hal tersebut dengan membentuk lapisan tulang baru, maka pada saat itu salah satu bagian kecil dari periosteum akan terangkat dan AurobekAy oleh lesi. Bagian periosteum tersebut akan mengalami osifikasi terlebih dahulu dan kemudian menghasilkan tampilan massa lesi yang mencuat dari tulang dengan bentukan CodmanAos triangle pada ujungnya. Tampakan ini dapat menandakan lesi yang agresif, dan biasanya terlihat pada kasus osteosarkoma dan EwingAos sarcoma atau kadang juga pada kasus perluasan infeksi seperti osteomyelitis dan metastasis. 6,9,11,12,17 Pada sebuah lesi juga dapat memiliki bentuk periosteal reaction yang lebih dari satu macam, bentukan ini disebut dengan combined atau complex pattern. Bentukan ini menggambarkan reaksi pertumbuhan yang berbeda-beda pada satu lesi yang sama. SIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil ialah bahwa gambaran border dan periosteal reaction dapat dijadikan penanda yang khas dari suatu lesi rahang. Lesi jinak umumnya menunjukkan tampilan border well-defined dan tidak terjadi periosteal reaction atau dengan tampakan uninterrupted periosteal reaction, sedangkan lesi keganasan cenderung menampakkan border ill-defined dan gambaran periosteal reaction dengan bentukan interrupted atau irregular. DAFTAR PUSTAKA