NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy The Application of the Three-Act Structure in Writing the Feature Video Script "Bamboo Melody: Reviving a Traditional Symphony" Alfan Zibran Aulia Il Ghani1*. Encang2. Ari Agung Prastowo3 Universitas Padjadjaran. Indonesia Email: alfan21003@mail. id1 , encang@unpad. id2, ari. agung@unpad. Article History: Received: Juni 20, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted: Juli 28, 2025. Publish: Juli 30, 2025. Keywords: Three-Act Structure. Feature Script. Angklung. Cultural Preservation. Generation Z. Abstract: This final project report aims to explain the application of a three-act structure in writing a feature video script entitled "Bamboo Melody: Reviving a Traditional Symphony. " The threeact structure is used as a narrative approach that functions to raise the issue of the fading of the angklung's sound philosophy among Generation Z. Each act plays an important role in building a structured and easily understood storyline for the audience. The first act focuses on the introduction of the angklung's philosophical In this act, the audience is invited to understand more deeply about the cultural values contained in the angklung, especially through the perspective of angklung craftsmen who have a direct relationship with the creation of this traditional musical The explanations from the craftsmen provide an overview of how the angklung is not only a musical instrument, but also a symbol of a profound philosophy of life. The second act highlights the crisis of cultural regeneration, which is a major challenge in preserving traditions. In this act, the perspective of cultural experts is introduced to provide an analysis of how the younger generation, especially Generation Z, is increasingly alienated from traditional cultural values, including the angklung. Cultural experts explain various factors that cause the angklung and other cultural values to be less familiar to the younger generation, who are more accustomed to global popular culture. The third act demonstrates concrete efforts to preserve angklung culture through testimonies from young angklung players and performances at Saung Angklung Udjo. Through this performance, the audience sees how the angklung remains relevant and can be revived by involving a younger generation that is adaptable to developments in media and technology. The story's conclusion illustrates that cultural regeneration can be achieved through a creative approach and the active involvement of the younger generation, so that the angklung's sound philosophy becomes more than just a discourse but can also contribute to social harmony relevant to the current context. Abstrak Penulisan laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menjelaskan penerapan struktur tiga babak dalam penulisan naskah video feature berjudul "Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional". Struktur tiga babak digunakan sebagai pendekatan naratif yang berfungsi untuk mengangkat isu tentang meredupnya filosofi suara angklung di tengah generasi Z. Setiap babak memiliki peran penting dalam membangun alur cerita yang terstruktur dan mudah dipahami oleh penonton. Babak pertama berfokus pada pengenalan makna filosofis Di babak ini, penonton diajak untuk memahami lebih dalam tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam angklung, terutama melalui perspektif para pengrajin angklung yang memiliki hubungan langsung dengan pembuatan alat musik tradisional ini. Penjelasan dari pengrajin memberikan gambaran tentang bagaimana angklung bukan hanya alat musik, tetapi juga simbol filosofi kehidupan yang mendalam. Babak kedua menyoroti krisis regenerasi budaya, yang menjadi tantangan besar dalam pelestarian tradisi. Dalam babak ini, sudut pandang Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy budayawan diperkenalkan untuk memberikan analisis tentang bagaimana generasi muda, khususnya generasi Z, semakin terasing dari nilai-nilai budaya tradisional, termasuk angklung. Budayawan menjelaskan berbagai faktor yang menyebabkan angklung dan budaya lainnya kurang dikenal oleh generasi muda, yang lebih terbiasa dengan budaya populer global. Babak ketiga menunjukkan upaya nyata dalam pelestarian budaya angklung melalui testimoni dari pemain angklung muda dan pertunjukan di Saung Angklung Udjo. Melalui pertunjukan ini, penonton melihat bagaimana angklung masih relevan dan dapat dihidupkan kembali dengan melibatkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan media dan teknologi. Penyelesaian cerita ini memberikan gambaran bahwa regenerasi budaya dapat terlaksana dengan pendekatan kreatif dan keterlibatan aktif generasi muda, sehingga filosofi suara angklung tidak hanya menjadi sebuah wacana, tetapi dapat menjadi harmoni sosial yang relevan dengan konteks masa kini. Kata Kunci: Struktur Tiga Babak. Naskah Feature. Angklung. Pelestarian Budaya. Generasi Z. PENDAHULUAN Di tengah gelombang globalisasi yang kian meluas dan arus perkembangan teknologi digital yang tidak terbendung, identitas budaya lokal mengalami pergeseran signifikan. Budaya populer global dengan cepat mengisi ruang konsumsi informasi dan hiburan generasi muda, meninggalkan budaya tradisional dalam posisi marjinal. Studi oleh Fariszy. Sagita, & Adya, . menunjukkan bahwa generasi Z lebih tertarik mengonsumsi konten audiovisual modern yang cepat, interaktif, dan visual dibandingkan konten budaya lokal seperti angklung. Musik tradisional dianggap Aukurang relevanAy karena tidak tersaji dalam media yang sesuai dengan gaya hidup digital mereka. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Ariana & Mahupale, 2. yang menemukan bahwa hanya 8,9% dari generasi Z di Yogyakarta yang berminat terhadap musik tradisional, sementara 74% lebih memilih musik modern dan 17,1% memilih musik hasil asimilasi. Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan penurunan eksistensi musik tradisional secara signifikan dalam persepsi generasi muda saat ini. Perkembangan teknologi dan dominasi budaya populer menjadi penyebab utama penurunan minat generasi muda terhadap alat musik tradisional, termasuk angklung. Ramadhan. Khalida, . mencatat bahwa kurangnya integrasi angklung dalam ekosistem teknologi interaktif membuat generasi muda tidak memiliki keterhubungan emosional atau pengalaman estetik yang kuat terhadapnya. Artinya, meskipun angklung masih dipelajari secara formal, praktiknya tidak membentuk bagian aktif dalam kehidupan kultural generasi Z. Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam melestarikan warisan budaya, salah satunya dengan mengintegrasikan nilai budaya ke dalam kurikulum. Namun, rendahnya perhatian terhadap kesadaran budaya dalam pendidikan formal turut melemahkan eksistensi Pembelajaran seni musik tradisional kerap bersifat simbolis dan kurang prioritas. Menurut Arifin & Ulfa, . pelestarian yang efektif membutuhkan kurikulum muatan lokal yang kontekstual dan aplikatif. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 KAJIAN TEORI Video Menurut Yaum . video berfungsi sebagai media pembelajaran atau komunikasi yang mempermudah pemahaman karena mengaktifkan dua indera sekaligus, yakni penglihatan dan pendengaran. Melalui gabungan visualisasi dan suara, pesan yang disampaikan dapat bersifat faktual maupun imajinatif dengan konteks yang jelas dan bersamaan. Selaras dengan itu. Priyatnanto & Sundari . menyatakan bahwa video memiliki nilai edukatif yang tinggi karena dimensi visualnya mendukung pemahaman pesan secara lebih kuat. Feature Tulisan feature merupakan bentuk jurnalistik yang mendalam, deskriptif, dan bersifat Tulisan ini sering mengangkat isu personal, sosial, atau budaya dengan pendekatan human interest yang kuat, serta memerlukan eksplorasi naratif yang melampaui laporan faktual biasa (Mukoyimah, 2. Proses penulisannya menggabungkan teknik naratif dan elemen sastra untuk menciptakan kisah yang menggugah. Penulis Naskah Penulis naskah merupakan profesional kreatif yang bertugas merancang ide dan mewujudkannya dalam bentuk skenario audio-visual. Dalam produksi program video feature, khususnya pada tahap pra-produksi, penulis naskah memegang peran sentral dalam merumuskan gagasan utama, menyusun struktur cerita, serta membentuk kerangka narasi yang akan menjadi landasan bagi keseluruhan proses produksi. Menurut Bala. Darmawan, & Gulendra, . tugas penulis naskah dimulai dengan pemilihan topik atau subjek yang relevan dan layak diangkat, dilanjutkan dengan pengumpulan data faktual melalui observasi serta wawancara lapangan, kemudian merangkainya ke dalam naskah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan format Video Feature. Naskah Menurut Suprapto, . naskah merupakan bentuk konkret dari ide atau gagasan yang dituangkan secara terstruktur melalui kalimat naratif maupun dialogis, lengkap dengan rincian teknis seperti jenis pengambilan gambar. Dalam konteks video feature, penulisan naskah tidak hanya berfokus pada konstruksi kalimat, tetapi juga mencerminkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam merespons isu sosial dan budaya. Ayuningtyas & Abdullah, . menekankan bahwa naskah video feature harus disusun berdasarkan data lapangan, dengan sudut pandang reflektif yang sejalan dengan pendekatan audio visual. Dengan demikian, naskah berfungsi sebagai struktur naratif yang mengkomunikasikan ide secara terarah dan dapat Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Naskah Feature Naskah feature merupakan salah satu bentuk karya jurnalistik yang memadukan fakta dengan penyampaian cerita secara mendalam, menarik, dan bernuansa humanis. Prastyani & Subechi, . menjelaskan bahwa penulisan naskah feature menuntut struktur kronologis yang dirancang secara cermat, agar informasi mengalir runtut dan mampu menggugah emosi pembaca atau penonton. Dalam produksi media audiovisual, naskah feature tidak hanya memuat fakta, tetapi juga menghidupkan suasana, detail peristiwa, dan karakter yang mendukung tema utama (Vikry, 2. Struktur Tiga Babak Struktur Tiga Babak atau Three-Act Structure merupakan salah satu pendekatan naratif paling klasik dan banyak digunakan dalam penulisan naskah film, teater, hingga novel. Konsep ini berakar dari pemikiran Aristoteles dalam karya Poetics, di mana ia menegaskan bahwa sebuah cerita ideal terdiri dari awal . , tengah . , dan akhir . Pendekatan ini telah mengilhami berbagai teori narasi modern karena kemampuannya menciptakan kesinambungan cerita yang logis dan emosional (Hoek, 2. Dalam berbagai literatur penulisan kreatif, struktur ini disebut sebagai kerangka yang paling umum dan efektif untuk menyusun alur dramatik karena mendorong keterlibatan emosional dan ritme yang Alat Musik Angklung Angklung merupakan instrumen musik tradisional yang berasal dari komunitas agraris masyarakat Sunda, yang pada mulanya digunakan dalam konteks ritual, seperti memohon hujan dan mengekspresikan rasa syukur terhadap alam. Seiring dengan perkembangan zaman, angklung mengalami pergeseran fungsi menjadi alat musik kolektif yang sarat akan makna spiritual dan sosial. Secara historis, varian awal angklung seperti angklung buhun dan angklung gubrag telah menjadi bagian integral dari praktik budaya masyarakat Sunda sejak masa Kerajaan Sunda hingga periode kolonial Belanda. UNESCO secara resmi menetapkan angklung sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2010, menegaskan pengakuan dunia terhadap nilai budaya yang terkandung dalam instrumen ini (Rosyadi, 2. Generasi Z dan Tantangan Representasi Budaya Tradisional Generasi Z yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010an merupakan kelompok yang tumbuh dalam era digital dengan eksposur tinggi terhadap kecepatan informasi, interaktivitas, dan dominasi media visual maupun audiovisual. Kebiasaan konsumsi informasi NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 yang serba cepat ini membuat mereka cenderung tidak tertarik pada budaya tradisional seperti angklung, yang menuntut keterlibatan kolektif, ritmis, dan emosional secara berkelanjutan. Fariszy. Sagita, & Adya, . mencatat bahwa generasi ini cenderung mengesampingkan konten budaya lokal karena dianggap kurang relevan dengan gaya hidup mereka yang cepat, visual, dan individualistik. Media Youtube YouTube merupakan situs berbagi video berbasis internet yang diperkenalkan pada 15 Februari 2005 oleh Chad Hurley. Steve Chen, dan Jawed Karim, yang sebelumnya berkarier di perusahaan teknologi finansial PayPal. Inisiasi awal platform ini bertujuan menyediakan wadah digital bagi individu untuk melakukan unggahan, pemutaran, serta distribusi video berorientasi Dalam perjalanannya. YouTube mengalami ekspansi yang sangat pesat dan berkembang menjadi salah satu jejaring sosial paling berpengaruh dalam ranah konten audiovisual global. Pada tahun 2006, perusahaan teknologi Google mengambil alih kepemilikan YouTube dengan nilai akuisisi mencapai 1,65 miliar dolar Amerika Serikat, yang kemudian menjadi momen strategis dalam mempercepat proses integrasi platform ini ke dalam lanskap digital global serta memperkokoh perannya sebagai pusat distribusi utama konten berbasis visual. (Andrejevic, 2. METODE Ide Penciptaan Fenomena globalisasi yang terus meluas dan pesatnya perkembangan teknologi digital mendorong terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat, termasuk di bidang kebudayaan. Budaya populer global semakin mendominasi ruang konsumsi hiburan generasi muda, sedangkan budaya tradisional seperti seni musik angklung kian terpinggirkan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan semakin pudarnya eksistensi angklung sebagai salah satu warisan seni musik tradisional Indonesia. Data dan observasi lapangan menunjukkan bahwa minat generasi Z terhadap angklung semakin menurun. Sebagian besar hanya mengenal angklung sebatas alat musik khas Jawa Barat tanpa benar-benar memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Padahal, angklung sudah diakui secara internasional oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, yang artinya memiliki nilai budaya tak ternilai untuk dijaga dan diwariskan. Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy Di sisi lain, masih ada kelompok masyarakat yang terus berupaya mempertahankan filosofi suara angklung melalui aktivitas keseharian mereka. Hasil diskusi dan wawancara dengan para pengrajin, budayawan, dan pemain angklung menunjukkan bahwa angklung bukan sekadar instrumen, tetapi simbol harmoni, gotong royong, dan kearifan lokal yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Makna mendalam inilah yang dinilai berpotensi untuk kembali diperkenalkan secara kontekstual kepada generasi muda. Berangkat dari fenomena tersebut, penulis bersama rekan kerja kemudian merumuskan ide penciptaan video feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy. Karya ini dirancang sebagai media edukasi sekaligus refleksi yang menyajikan sisi filosofis suara angklung dalam kemasan visual yang dinamis dan mudah diterima. Dengan menggabungkan footage video feature, arsip foto, ilustrasi bergerak, dan narasi, diharapkan karya ini dapat membangkitkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga dan mewariskan seni musik angklung sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Media Peralatan dan Teknik Produksi Dalam peran sebagai penulis naskah, pemanfaatan berbagai media dan peralatan menjadi unsur penting dalam mendukung kelancaran proses penyelesaian tugas akhir secara optimal dan tepat waktu. Kedua elemen ini memiliki fungsi strategis dalam menunjang tahapan penciptaan karya, baik dari segi pengembangan ide maupun realisasi visual. Media yang digunakan merujuk pada seluruh platform atau sarana yang dimanfaatkan untuk merumuskan serta menyalurkan gagasan, konsep, dan narasi yang akan dikembangkan dalam bentuk karya audiovisual. Di sisi lain, aspek peralatan dan teknik produksi mencakup pemilihan perangkat serta metode kerja yang relevan guna menunjang proses penciptaan, mulai dari penulisan naskah hingga tahap akhir penyuntingan visual. Kombinasi keduanya menjadi fondasi yang menopang kualitas dan efisiensi dalam penciptaan video feature ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis dan Sintesis Karya Analisis Penulisan Naskah pada Babak Pertama Babak pertama dalam struktur tiga babak berfungsi sebagai fase eksposisi yang memperkenalkan elemen-elemen utama cerita, seperti latar, tema, dan subjek yang akan (Fadhilah & Manesah, 2. Dalam video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, bagian ini fokus pada pengenalan angklung sebagai alat musik tradisional sekaligus simbol budaya yang erat kaitannya dengan alam. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 khususnya hutan bambu sebagai sumber material utama. Tahap ini dirancang untuk menumbuhkan kedekatan emosional penonton terhadap isu pelestarian budaya dengan pendekatan visual dan naratif yang humanistik. Narasi voice-over dengan ungkapan bahwa Ausuara angklung mulai redupAy menggambarkan secara simbolik realitas terkikisnya budaya tradisional dalam arus modernitas. Fadhilah & Manesah, . menekankan bahwa babak awal dalam struktur tiga babak menurut Aristoteles perlu memuat pengenalan karakter, latar, dan konflik dasar agar penonton memiliki keterikatan emosional sejak awal. Dalam konteks ini, angklung dihadirkan bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai tokoh utama yang memuat nilai historis, sosial, dan Pendekatan ini berbeda dari video feature konvensional yang umumnya menempatkan manusia sebagai pusat narasi, dan justru memperlihatkan angklung sebagai representasi hidup dari kearifan lokal. Pada Scene 1 dan Scene 2, penekanan utama diarahkan pada upaya membangkitkan kembali kesadaran Generasi Z terhadap budaya musik angklung, sekaligus menyoroti tantangan yang dihadapi para pengrajin dalam menghasilkan kualitas suara angklung yang Pesan tersebut terpantul melalui narasi pembuka: AuDi balik sebatang bambu, tersimpan perjalanan panjang menuju nada yang utuh. Bukan hanya tentang suara, angklung adalah lambang kesabaran, ketekunan, dan kebersamaanA ia hanya menunggu untuk didengar Ay Bagian narasi ini direspons melalui wawancara bersama Kang Olip selaku pengrajin, yang memaparkan secara rinci proses pemilihan dan pengeringan bambu, serta hambatan yang muncul pada musim hujan. Sebagai penulis naskah, penulis merangkai hasil wawancara dan voice-over secara terpadu guna menegaskan bahwa setiap batang bambu memuat nilai filosofis yang melekat erat pada tantangan nyata di lapangan. Isi scene 1 dan 2 dapat digambarkan sebagai berikut. SEQUENCE 1 : MELODI BAMBU SCENE 1 EXT. HUTAN BAMBU ECOLAND - DAY Menampilkan suasana hutan bambu di ecoland dan pengrajin yang keluar dari rumah untuk siap - siap membuat angklung. Di balik sebatang bambu, tersimpan perjalanan panjang menuju nada yang utuh. Bukan hanya tentang suara, angklung adalah lambang kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan. Suatu harmoni yang dulunya akrab di telinga, kini mulai meredup. Tapi suara itu belum mati Ai ia hanya menunggu untuk didengar kembali. Untuk Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy dihidupkanA sebagai simfoni yang nyaris hilang SCENE INI DISAMPAIKAN/BERISI GAMABRAN SUASANA OLEH TENTANG CUT TO: SCENE 2 INT. TEMPAT PEMBUATAN ANGKLUNG - DAY Kang Olip menjawab pertanyaa. Dan menampilkan proses pembuatan angklung (Pertanyaan 1 : Tahapan Proses Pembuatan Angklung?) KANG OLIP Nah, dari proses pembuatan angklung ya. Dari mulai penebangan ya itu nggak boleh dari jam sembilan ke bawah dan nggak boleh lewat dari jam tiga ya. Nah proses pembuatan angklung itu awalnya penebangan bambu hitam itu disisain tiga ruas ya. Tiga ruas dari bawah nanti Dipotong nanti didiamkan satu sampai dua minggu. CUT TO : INT/EXT - UDJO ECOLAND - DAY Melihatkan detail - detail dari pohon bambu dan para pengrajin yang sedang membuat Di balik sunyi hutan bambu, tumbuh batang-batang yang diam, namun menyimpan irama. Tak sembarang usia, tak sembarang waktu, dipilih, ditebang, dengan ketentuan yang diwariskan Ia dibiarkan menua perlahanAi kering oleh angin, digurat waktu, disentuh api. Dalam diamnya, bambu bersiapA menjadi nada yang belum dikenal. (Lanjutan jawaban pertanyaan ke 1 : Tahapan Proses Pembuatan Angklung? ) Pada naskah di atas, eksposisi dimulai dengan visual hutan bambu di Ecoland yang menjadi latar utama. Narasi reflektif digunakan untuk menjelaskan penyebab menurunnya minat terhadap angklung. Pendekatan ini menunjukkan pilihan kreatif dalam menyusun naskah yang tidak hanya informatif tetapi juga mampu membangun suasana emosional yang Bala, et al . menyebutkan bahwa pada tahap praproduksi, penulis naskah bertanggung jawab menyusun struktur cerita dan menyelaraskan fakta lapangan dengan aspek estetika visual. Scene kedua memperkenalkan narasumber Kang Olip, seorang pengrajin angklung, untuk menjelaskan proses pembuatan angklung. Pertanyaan awal AuApa tahapan proses pembuatan angklung?Ay membuka pembahasan mengenai pemilihan bambu hitam, proses penyimpanan, dan penghalusan sebagai bagian dari keterampilan dan ketekunan dalam pembuatan angklung. Informasi ini merupakan hasil wawancara lapangan yang disusun ke NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 dalam struktur naratif oleh penulis, sebagaimana ditegaskan oleh Bala et al. , bahwa penulis naskah berperan dalam mentransformasi data observasi menjadi alur cerita yang KANG OLIP ini ya ini namanya bakalan sebelum ada suara ini udah bakalan nanti bikin suara angklung nah udah disiplut ini nanti di apa pengeringan itu namanya diunun ya diunun atau diasap (Pertanyaan ke 2 : Apa saja tantangan yang Anda hadapi dalam pembuatan angklung, terutama terkait dengan kualitas suara dan daya tahan bambu yang KANG OLIP Ya. kalau tantangan ya bikin angklung atau suara angklung itu pertama ya ini secara ini tantangannya pegang pisau ya pegang pisau terus cari bahan bambu tabutuk tabung suaranya yang bagus ya yang tegar nggak keropos terus tantangnya tuh dimana bambunya masih basah itu sulit untuk bikin suaranya nanti kalau misalnya udah diraut seperti ini itu Suaranya langsung besar atau rendah ya. Biasanya kalau untuk pembuatan angklung itu mesti bambu yang kering benar gitu. Dan tantangnya juga kalau misalkan tantangan itu bambu di musim hujan atau basah. Itu bisa menjadi kendala dan tantangan buat pengrajin angklung. (Pertanyaan ke 3 : Bagi Anda sebagai pengrajin, bagaimana angklung menggambarkan esensi/makna musik tradisional? Apa makna suara angklung bagi masyarakat Jawa Bara. KANG OLIP Kalau makna angklung buat saya sendiri ini tuh unik ya. Maknanya untuk menggambarkan ini sifatnya kerjasama atau gotong royong ya disini juga ada filosofinya juga disini ada tabung besar ada tabung kecil ini filosofinya disini ini ada orang ibarat kan ya ini ada orang kaya disini ada orang miskin gitu ini ada orang besar ada orang kecil nah disini orang kaya nggak boleh adigung atau sombong ya kalau disini orang miskin juga nggak boleh putus asa gitu ya dan disini kerja bareng- bareng gotong royong dan bisa menghasilkan kerjasama yang baik dan menghasilkan nada yang harmonisi seperti ini ya seperti itu Pertanyaan selanjutnya. AuApa tantangan yang dihadapi oleh pengrajin angklung?Ay mengarah pada pengenalan konflik awal. Kang Olip menyampaikan kesulitan dalam mendapatkan bambu berkualitas dan mencocokkan nada, yang menjadi tantangan utama dalam menjaga kualitas angklung. Konflik ini menjadi dasar pengembangan naratif pada babak Seperti dikemukakan Fadhilah & Mahesah . , konflik dalam babak awal tidak Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy selalu bersifat dramatis, tetapi bisa berupa ancaman terhadap kelestarian budaya yang diangkat secara bertahap. Pertanyaan terakhir di babak ini. AuApa makna dan filosofi suara angklung bagi pengrajin?Ay, menjadi titik emosional yang penting. Kang Olip menjelaskan bahwa harmoni antara tabung besar dan kecil mencerminkan nilai gotong royong dalam masyarakat. Penegasan ini diperkuat melalui voice-over yang menyampaikan bahwa menjaga angklung berarti merawat makna sosial dan budayanya. Hal ini menunjukkan bahwa struktur naskah disusun tidak hanya berdasarkan kronologi fakta, tetapi juga bertumpu pada pengembangan makna melalui elemen sinematik. Berlanjut pada Scene 3, fokus diarahkan pada tantangan membudidayakan seni musik angklung di tengah arus modernisasi, sekaligus menegaskan harapan para budayawan agar filosofi suara angklung dapat diwariskan secara berkesinambungan. Pernyataan Yon Suparman. AuMemperkenalkan harus dengan gebrakan dari generasi paling kecilAAy, dilengkapi voice-over AuDi era digitalA warisan ini sulit berakarAAy, menjadi penanda perlunya strategi regenerasi budaya yang adaptif. Perpaduan testimoni budayawan dengan narasi reflektif dihadirkan untuk memfasilitasi audiens memahami urgensi perlindungan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan era digital. Isi scene 3 dapat digambarkan sebagai berikut CUT TO : SCENE 3 INT. SAUNG ANGKLUNG UDJO - DAY Menampilkan Pentas saung angklung udjo masih ada mereka yang percaya: bahwa harmoni bisa dihidupkan kembali. Bukan sekadar menjaga bentuk fisik, tapi merawat makna, menyentuh jiwaAimengajarkan ulang pada generasi yang nyaris lupa. Sebab angklung bukan hanya alat musikA tapi filosofi tentang kebersamaan yang perlu ditanamkan sejak dini, agar simfoni itu tak benar-benar hilang. Dengan demikian, naskah pada babak pertama telah memenuhi unsur utama dari struktur tiga babak dalam teori Aristoteles: pengenalan karakter . ngklung dan pengraji. , latar . utan bambu dan bengkel kerj. , serta konflik awal . antangan pelestarian buday. Penempatan wawancara, narasi puitis, serta transisi visual menunjukkan kemampuan penulis dalam menyusun narasi yang sistematis dan komunikatif. Sejalan dengan temuan Bala et al. penulisan naskah dalam video feature memiliki peran vital dalam menyatukan hasil observasi menjadi narasi yang relevan secara sosial dan budaya. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 Analisis Penulisan Naskah pada Babak Kedua Babak kedua dalam struktur tiga babak berperan sebagai titik masuk utama konflik dalam narasi. Dalam video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, bagian ini mengangkat permasalahan utama berupa menurunnya minat generasi muda, khususnya Generasi Z, terhadap seni musik tradisional angklung. Permasalahan tersebut diurai melalui wawancara dan narasi reflektif yang menyoroti dampak globalisasi, kemajuan teknologi, dan pengaruh budaya asing dalam membentuk persepsi baru terhadap warisan budaya lokal. SEQUENCE 2 : SUARA ANGKLUNG EXT. RUANG WAWANCARA - DAY Wawancara Bersama ketua budaya Yon Suparman dalam ruangan (Pertanyaan ke 1 : Apa Makna filosofi angklung itu?) YON SUPARMAN Menciptakan nilai-nilai kebersamaan. Harmoni dan kerjasama dalam menghasilkan musik yang (Pertanyaan ke 2 : apa yang menjadi tantangan dalam mempertahankan dan mengenalkan filosofi suara angklung kepada generasi muda? apalagi generasi muda yang semakin terpapar budaya global dan modernisas. YON SUPARMAN elektronik ini kan sudah merambah ke tingkat anak-anak, ya. Jadi untuk memperkenalkan harus dengan dobrakan, gebrakan gebrakan dari tingkat yang terendah. Dari generasi yang paling kecil, anak-anak SD. Harus dibombastik dengan sisi-sisi budaya seperti ini. Jadi, menggunakan budaya dari kecil Di era digital yang merambah hingga anak-anak, memperkenalkan angklung bukanlah hal Dibutuhkan gebrakan dari akar, dari generasi terkecil yang harus dikenalkan dengan budaya ini. Tahap ini dimulai dengan wawancara bersama Yon Suparman. Ketua Budaya. menjelaskan filosofi suara angklung sebagai simbol nilai gotong royong dan harmoni sosial. Menurutnya, suara angklung bukan hanya hasil teknik musikal, melainkan refleksi dari kerja kolektif dan penghayatan mendalam, yang merepresentasikan karakter masyarakat Indonesia. Kadang dengan tekanan, bahkan pemaksaan, karena tanpa itu, warisan ini sulit berakar. Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy Angklung mengajarkan kita satu hal: kebersamaan dalam harmoni, yang menjadi makna hidup dalam setiap getarnya. YON SUPARMAN musik angklung ini juga kan bisa merambah untuk tidak juga lagu-lagu daerah, bisa lagu-lagu internasional juga. Semuanya bisa di-mix untuk menjadi modern, seperti itu. Lanjut menampilkan kegiatan di pentas saung udjo. YON SUPARMAN penciptaan kebersamaan atau harmonisasi tadi, susah, perlupemahaman, perlu soul yang oke lah, yang tinggi lah. Dengan pelatihan, dengan nada-nada angklung itu kan juga akan terbawa. Kita memperkenalkan bahwa kita punya budaya ini ratusan, bahkan ribuan ya. Mungkin ribuan, karena yang belum terjamah ataupun terdeteksi oleh Google masih banyak. pesan saya sih untuk generasi ini lebih kembali mencintai kebudayanya sendiri. Karena di negara lain ini malah kita sangat dihormati dengan budayanya. Itu saja. Pertanyaan berikutnya menyoroti tantangan dalam memperkenalkan filosofi tersebut kepada generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital dan global. Yon Suparman menekankan bahwa pergeseran minat anak muda dipengaruhi oleh arus modernisasi dan hiburan instan yang lebih mendominasi. Solusi yang ditawarkan adalah melalui pendekatan edukatif sejak dini, khususnya di tingkat sekolah dasar, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana sosialisasi budaya. Dengan demikian, konflik utama babak ini terlihat jelas, yakni ketimpangan antara nilai- nilai tradisional dengan dominasi budaya modern yang visual dan serba cepat. Untuk memperkuat narasi tersebut, penulis menyisipkan voice-over puitis yang menyatakan bahwa "di era digital yang merambah hingga anak-anak, memperkenalkan angklung bukanlah hal mudah. " Pernyataan ini menambahkan lapisan emosional dan menyiratkan urgensi terhadap kondisi budaya yang semakin terpinggirkan. Struktur konflik yang dibangun selaras dengan teori tiga babak Aristoteles, di mana babak kedua berfungsi sebagai peningkatan ketegangan. Dalam karya ini, karakter utamanya adalah angklung sebagai representasi budaya yang tengah menghadapi tekanan modernisasi. Fadhilah dan Mahesah . menyatakan bahwa babak kedua harus menyajikan tantangan aktual dan emosional yang memperkuat keterlibatan audiens terhadap isu yang diangkat. CUT TO : INT. SAUNG ANGKLUNG UDJO - DAY Memperlihatkan sorang mahasiswi (Nahiya. yang sedang di wawancara NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 . ertanyaan 1 :Sebagai mahasiswa, apakah Anda benar- benar memahami alat musik angklung, atau hanya sekadar mengetahui keberadaannya saja?) Nahiyah Enggak tahu kalau misalkan uh sebilah bambu tuh bisa menghasilkan suara yang segitu Apalagi ada tangga nadanya sendiri kayak kok bisa gitu. Dan ternyata tadi pas dimainin uh orang awam pun kedengarannya masih enak kayak gitu. ertanyaan ke 2 : Saat Anda mendengar suara angklung, kesan atau perasaan apa yang Anda Setelah perspektif dari tokoh budaya senior, narasi berpindah kepada generasi muda melalui wawancara dengan Nahiyah, seorang mahasiswi. Pertanyaan awal AuSebagai mahasiswa, apakah Anda benar-benar memahami alat musik angklung, atau hanya sekadar mengetahui keberadaannya?Ay dimaksudkan untuk mengevaluasi kesadaran aktual generasi muda terhadap budaya lokal. Nahiyah menjawab bahwa ia baru menyadari keindahan suara angklung setelah menyaksikan langsung penampilannya, menyiratkan adanya jarak pengalaman yang selama ini tidak ia sadari. Nahiyah Jadi kayak lebih ke amazing sih. Mungkin perasaan tuh ternyata memang uh dari almarhumah pak ujonya sendiri itu memang katanya uh punya anak banyak biar bisa main angklung bareng bareng karena kalau ramai ramai itu memang lebih bagus suaranya kayak gitu. ertanyaan ke 3:Apa harapan Anda terhadap perkembanganalat musik angklung, khususnya dalam hal kualitas suaranya?) Nahiyah Janagn Sampai ditinggalkan siap apalagi kan uh sudah diakui oleh dunia juga gimana kita sebagai mahasiswa sebagai uh orang yang lebih muda, generasi muda supaya bisa menyelestarikan punya budaya kita. Menampilkan pertunjukan saung udjo angklung disulam dengan makna dan nilai-nilai yang dalam sebuah warisan budaya yang harus dijaga. Namun, warisan itu baru bernafas dan bergetar ketika tangan-tangan pemain angklung menyatu dalam harmoni. Mereka bukan hanya memainkan alat, tapi menghidupkan jiwa tradisi lewat getaran nada yang saling melengkapi. Dalam era digital dan teknologi, para pemain ini menjadi jembatan, menjaga suara angklung tetap lestari, memadukan kearifan lama dengan sentuhan zaman, mengembalikan simfoni yang sempat hilang ke panggung kehidupan. Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy Pertanyaan selanjutnya menggali respons emosional terhadap pertunjukan angklung. Nahiyah mengungkapkan kekaguman terhadap harmoni suara yang dihasilkan secara kolektif, yang menurutnya terasa menyentuh dan membekas secara personal. Dalam pertanyaan penutup mengenai harapan terhadap pelestarian angklung, ia menyampaikan keprihatinannya dan menyatakan bahwa edukasi perlu diperluas agar generasi muda tidak melupakan warisan budaya ini. Pendapat tersebut mencerminkan tumbuhnya kesadaran, meskipun belum merata. Babak ini diakhiri dengan narasi voice-over yang menegaskan bahwa angklung hanya benarbenar hidup ketika dimainkan dengan pemahaman dan jiwa. Kalimat seperti Aumereka bukan hanya memainkan alat, tapi menghidupkan jiwa tradisiAy memperkuat pandangan bahwa angklung adalah simbol sosial, bukan sekadar artefak. Hal ini sejalan dengan Bala et al. yang menyatakan bahwa penulis naskah video feature harus mampu membangun pengalaman naratif yang menghubungkan nilai historis, kondisi kekinian, dan harapan masa depan. Analisis Penulisan Naskah pada Babak Ketiga Babak ketiga dalam struktur naratif tiga babak berfungsi sebagai tahap resolusi, di mana konflik yang telah dibangun sebelumnya mencapai titik penyelesaian dan pesan utama Dalam video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, bagian ini menampilkan bentuk konkret dari pelestarian budaya angklung melalui pertunjukan langsung di Saung Angklung Udjo. Penekanan diberikan pada sosok Triana, seorang pemain angklung, yang mewakili generasi pelanjut yang tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga menjalankannya secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Pada Scene 4, fokus diarahkan pada tantangan yang dihadapi para pemain angklung dalam menyatukan suara demi terciptanya harmoni yang utuh. Kutipan Triana. AuMain angklung itu nggak bisa sendiriA harus bersamay, menegaskan filosofi kebersamaan yang menjadi inti dari permainan angklung. Sebagai penulis, penulis menambahkan elemen voice-over guna memperkuat visual suasana latihan bersama, sehingga penonton memperoleh pemahaman bahwa memainkan angklung bukan sekadar memetik nada, melainkan juga membangun kesabaran serta kolaborasi yang saling mendukung. Isi scene 4 dapat digambarkan sebagai SEQUENCE 3 : KEMBALINYA SIMFONI TRADISONAL Scene 4 INT. SAUNG ANGKLUNG UDJO - DAY Menampilkan MC yang sedang memandu permainan angklung di saung udjo, dan mulainya wawancara pemain angklung. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 . ertanyaan 1 : Filosofi angklung dari sudut pemain itu apa?) Triana Yang sebetulnya main angklung gitu filosofinya lebih ke ini ya kan kebersamaannya Kerja sama gotong royongnya gitu karena sebetulnya main angklung itu enggak bisa main sendiri ya kang. Meskipun di era sekarang itu sudah ada angklung yang untuk solo nih. Nah tapi uh pada dasarnya main angklung memang harus bersama gitu, jadi enggak bisa satu orang bahkan bisa sampai 50 orang gitu kan jadi filosofinya sih lebih ke. Itunya nilai nilai kebersamaannya gitu. Lanjut VO yang menjelaskan sudut pandang pemain angklung mengenai melestarikan alat munsik angklung Dalam permainan angklung, setiap nada dipegang oleh tangan yang berbeda. Dari Do. Re, hingga Si tersebar di antara para pemain. Menyatukan suara-suara itu, agar tercipta harmoni yang indah dan menyatu, adalah tantangan yang menguji kesabaran dan kebersamaan. Pada scene 4, wawancara dengan Triana membuka pembahasan mengenai filosofi suara angklung dari perspektif pemain. Ia menegaskan bahwa esensi angklung terletak pada semangat kolektivitas. Angklung tidak dapat dimainkan secara individu. setiap nada harus dipadukan dengan nada lainnya untuk membentuk harmoni. Gagasan ini diperkuat dengan narasi voice-over yang menyatakan bahwa setiap nada dimainkan oleh tangan yang berbeda, namun bila disatukan menciptakan simfoni. Pernyataan ini menekankan pentingnya kolaborasi dan kesabaran dalam proses bermain angklung, serta menegaskan nilai sosial yang terkandung dalam praktik budaya ini. Pada Scene 5, penekanan diarahkan pada cara para pemain angklung memaknai pertunjukan serta menyampaikan harapan agar seni angklung senantiasa lestari. Pernyataan Triana. AuAKalau nggak dilestarikan, angklung juga punahAAy dan AuKeep the old one, create the new oneAAy, menutup keseluruhan narasi dengan seruan agar generasi muda tidak hanya mengenal angklung secara permukaan, melainkan turut terlibat aktif dalam upaya Bagian ini ditutup melalui voice-over puitis: AuDulu, simfoninya sempat menghilangA kini suara itu bangkit, bukan sekadar warisan tetapi tumbuh sebagai denyut kehidupan yang segarAAy guna meninggalkan kesan mendalam bahwa pelestarian angklung merupakan tanggung jawab bersama lintas generasi. Isi scene 5 dapat digambarkan sebagai Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy CUT TO: Scene 5 INT. SAUNG ANGKLUNG UDJO - DAY Menampilkan suasana pentas saung udjo (Pertanyaan Ke 2 : Kalau misalnya dari pengalaman Akang, saat tampil gitu ya, maksudnya main Angklung ini, esensinya apa sih buat Akang, maknanya buat Akang ini, ngedengar suaranya, nampilin alat musik Angklung, terus ngelihat ekspresi penontonnya?) Triana kalau di dalam seni pertunjukan, kita kan ada player dan mungkin ada penonton gitu ya. Dari sisi playernya kita ingin menyampaikan apa sih yang kita mainkan gitu kan ya. Terus pengen juga diapresiasi gitu ya sama apresiatornya. Nah, bagi saya sih main Angklung itu, yang pertama, pelestarian ya. Itu mah sangat penting gitu ya kan. Karena kalau nggak dilestarikan, ya Angklung juga punah gitu mungkin. Scene 5 melanjutkan wawancara dengan pertanyaan tentang makna pertunjukan angklung bagi pemain. Triana menjelaskan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara pemain dan penonton. Respons emosional dari audiens menjadi motivasi bagi pemain untuk terus menjaga dan menyampaikan pesan budaya melalui angklung. Ia juga menyampaikan bahwa keberlangsungan angklung bergantung pada keterlibatan aktif para pemain sebagai agen Penyampaian ini mengilustrasikan penyelesaian internal atas konflik yang sebelumnya diangkat, sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya masih dilakukan secara nyata oleh individu-individu yang peduli. ertanyaan Ke 3 : buat Akang sendiri, harapan dan pesan Akang nih, buat generasi-generasi muda ke depannya gitu, dengan minat Angklung itu, apakah pengennya memahami aja apa, mendalami gitu-gitu sih kan?) Triana Angklung ini dilestarikan terus ya kan, sehingga ada berkepanjangan gitu, sampai kapan pun itu, meskipun ada perubahan zaman, mudahmudahan semoga anak-anak muda juga terus tertarik sama Angklung gitu ya, bisa mengembangkannya terus gitu, nggak cuman di Angklung- Angklung yang buhun aja gitu ya, harapannya tetap keep the old one, create the new one gitu kan, yang sesuai sama tujuan sama Angklung Ujo kan itu ya, tetap melestarikan yang lama, tapi ada pembaruannya lagi gitu. Menampilkan pentas saung udjo dan VO narasi NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 Kesimpulan dari video feature ini. Pertanyaan ketiga menggali harapan Triana terhadap generasi muda. Ia menyatakan pentingnya kesinambungan budaya: mempertahankan nilai-nilai lama sekaligus memberi ruang bagi bentuk-bentuk baru yang tetap selaras dengan filosofi angklung. Harapannya adalah agar generasi muda tidak sekadar mengenal angklung secara formal, tetapi turut terlibat dalam pelestarian dan pengembangannya. Perspektif ini mencerminkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya kegiatan kuratorial, tetapi juga bersifat transformatif menggabungkan akar tradisi dengan inovasi masa kini. Di balik getarannya, ada napas masa lalu yang masih berdenyut. Angklung bukan sekadar bunyi, ia adalah jiwaAiberakar dalam tanah, menjulang lewat nada. Suaranya lahir dari kebersamaan, tak bisa berdiri sendiri. Dulu, simfoninya sempat menghilangA tenggelam dalam riuh zaman. Kini, bukan hanya bergema kembaliAiia menyala sebagai denyut kehidupan yang segar. Simfoni itu bangkit, tak sekadar hadir sebagai warisan, tapi tumbuh sebagai suara zaman baru. Dalam tiap getarnya, kita tak hanya mengenangA kita kembali merasakannya hidup dalam diri. Feature ini di tutup dengan kompilasi pentas di saung angklung udjo. Babak ketiga ditutup dengan narasi voice-over yang menyampaikan bahwa suara angklung Autak hanya untuk dikenang, tetapi dihidupkan kembali. Ay Voice-over ini menegaskan bahwa meski sempat memudar, simfoni angklung kini kembali hadir sebagai denyut kehidupan Penyampaian ini menjadi titik klimaks emosional sekaligus reflektif, yang menyiratkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab kolektif yang berlangsung secara aktif. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip resolusi dalam struktur tiga babak Aristoteles, yang menekankan pentingnya perasaan tuntas di akhir cerita (Fadhilah & Mahesah, 2. Penulisan naskah pada babak ini menunjukkan pemahaman mendalam terhadap struktur dramatik sekaligus pendekatan humanis dalam video feature. Penulis berhasil mengarahkan narasi dari konflik menuju harapan melalui sudut pandang pelaku budaya secara Hal ini merefleksikan peran penulis naskah sebagaimana diuraikan oleh Bala et . , yakni membangun narasi yang tidak hanya faktual, tetapi juga menyatu dengan emosi dan nilai estetika untuk menciptakan cerita yang utuh dan bermakna. Dengan struktur ini, setiap scene tidak hanya berdiri sebagai potongan gambar, tetapi terhubung secara naratif dengan pesan yang saling menguatkan. Penulis berharap rangkaian scene ini dapat menggugah kesadaran audiens, khususnya Generasi Z, untuk kembali Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Penulisan Naskah Video Feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisonalAy mendengar, merasakan, dan menghidupkan simfoni tradisional yang hampir terlupakan KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan keseluruhan proses penulisan naskah dan produksi video feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy, dapat disimpulkan bahwa penerapan struktur tiga babak efektif menjembatani narasi filosofis angklung dengan realitas sosial generasi muda. Struktur ini berhasil merangkai alur cerita secara berkesinambungan, mulai dari pengenalan konteks, pengembangan konflik, hingga penegasan resolusi, sehingga nilai budaya dapat disampaikan secara mendalam, emosional, dan relevan. C Penerapan Pada Babak Pertama, pengenalan mengenai sejarah, makna, dan filosofi suara angklung melalui sudut pandang pengrajin terbukti mampu membangun pemahaman awal Cerita yang dirangkai pada tahap ini berhasil menempatkan angklung tidak semata-mata sebagai instrumen musik, melainkan sebagai simbol nilai harmoni sosial dan semangat gotong royong, sehingga kesadaran akan pentingnya pelestarian dapat tumbuh sejak awal narasi Penerapan Babak Kedua penekanan pada konflik regenerasi budaya di era modern dinilai berhasil memotret kesenjangan keterlibatan Generasi Z terhadap musik angklung. Melalui wawancara mendalam serta narasi reflektif, penonton diajak memahami tantangan pelestarian budaya di tengah dominasi globalisasi. Alur cerita pada babak ini menunjukkan bahwa konflik tersampaikan secara jelas dan mampu memicu refleksi kritis audiens. Penerapan Babak Ketiga penyelesaian melalui testimoni pemain angklung muda dan pertunjukan di Saung Angklung Udjo mampu menghadirkan wujud nyata upaya pelestarian. Penonton tidak hanya melihat solusi dalam bentuk wacana, tetapi juga memperoleh gambaran bahwa regenerasi dapat diwujudkan melalui pendekatan kreatif. Bagian ini cerita berhasil menegaskan optimisme bahwa filosofi suara angklung tetap dapat dihidupkan melalui keterlibatan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan media masa kini. Saran Berdasarkan pembahasan dan simpulan yang telah dipaparkan sebelumnya, serta rampungnya produksi video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy penulis mendapatkan beberapa saran guna memproduksi sebuah karya berbentuk video feature yang semakin baik kedepannya, yaitu sebagai berikut: Babak Pengenalan sebaiknya diperkaya dengan teknik visual simbolik atau hook retoris NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 294-313 yang kuat, misalnya kolase footage masa lalu dan kondisi masa kini, guna membangkitkan rasa ingin tahu audiens sejak awal. Babak Pengembangan Konflik dapat dikembangkan dengan wawancara yang lebih interaktif serta penambahan sudut pandang praktisi seni atau komunitas budaya lain, sehingga narasi konflik terasa lebih mendalam dan relevan dengan konteks sosial Babak Resolusi disarankan ditutup dengan call to action yang dirumuskan secara kuat, misalnya merangkai kutipan narasumber dalam montase akhir untuk menegaskan pesan pelestarian sekaligus membangkitkan motivasi audiens agar terlibat aktif. DAFTAR PUSTAKA