PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA Arinta Rara Kirana STKIP PGRI Bandar Lampung arintarara@gmail. How to cite . n APA Styl. : Kirana. Arinta Rara. Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 14 . , pp. Abstract: The problems studied in this study are related to the low ability of students to solve mathematical problems. The purpose of this study was to determine the effect of the Blended learning model on the mathematics problem solving ability of grade Vi students of even semester SMP Negeri 34 Bandar Lampung for the 2019/2020 academic year. This study used an experimental method with the population in this study, namely all students of class Vi even semester of SMP Negeri 34 Bandar Lampung which consisted of eight classes with a total of 238 students, while the sample was taken from two classes, namely class Vi-A as an experimental class that applied the Blended learning model. and class Vi-B as a control class that applies conventional learning models. Samples were taken using cluster random sampling technique. From the results of hypothesis testing using the t-hit statistical formula, the value of = 3. 14 is From the t distribution table at a significant level of 5%, it is known = 1. 68, then , which means that the average mathematical problem solving ability of students who use the Blended learning model is higher than the average mathematical problem solving ability of students who use the learning model conventional. Key word: Blended learning, problem solving ability Abstrak: Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Blended learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas Vi Semester Genap SMP Negeri 34 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas Vi Semester Genap SMP Negeri 34 Bandar Lampung yang terdiri dari delapan kelas dengan jumlah 238 siswa, sedangkan sampel diambil dua kelas yaitu kelas Vi-A sebagai kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran Blended learning, dan kelas Vi-B sebagai kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Sampel diambil menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Dari hasil pengujian hipotesis menggunakan Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa rumus statistic t-hit diperoleh nilai t hit = 3,14. Dari tabel distribusi t pada taraf signifikan 5 % diketahui t daf = 1,68 maka yang artinya ratarata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran Blended learning lebih tinggi dari rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran Kata kunci: Blended learning, kemampuan pemecahan masalah PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aset untuk membangun sumber daya manusia yang Oleh karena itu, dalam membangun sumber daya manusia yang bermutu, diperlukan strategi yang dapat membuka pola pikir peserta didik bahwa ilmu yang mereka pelajari memiliki kebermaknaan sehingga ilmu tersebut mampu mengubah sikap, pengetahuan, dan keterampilan menjadi lebih baik. Salah satu ilmu yang mampu mengubah sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik menjadi lebih baik adalah matematika. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang menuntut siswa untuk memiliki kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kemampuan dimana siswa berupaya mencari jalan keluar dalam mencapai tujuan tertentu yang memerlukan kesiapan, kreativitas, dan pengetahuan. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa karena kemampuan pemecahan masalah memberi manfaat bagi siswa dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah matematika menjadi tujuan inti dari pembelajaran matematika. Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari Garcia & Nunez . yang menyatakan bahwa AuSolving mathematical is common task for students at all educational level. Problem solving is a core goal of mathematics in struction at school, which is justified by great importance that this skill has in everyday lifeAy yang artinya memecahkan masalah matematika adalah tugas umum bagi siswa di semua tingkat pendidikan dan pemecahan masalah merupakan tujuan inti matematika dalam pembelajaran di Kemampuan pemecahan masalah matematika membuat siswa untuk dapat menyelesaikan masalah dengan proses yang jelas dan sistematis. Keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat diketahui dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Semakin tinggi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa maka semakin baik pula pemahaman dan penguasaan materi siswa tersebut. Untuk itu, penting dalam menanamkan tujuan pembelajaran mengenai kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika, namun kenyataannya berbanding terbalik dengan pentingnya kemampuan pemecahan masalah tersebut. Fakta yang Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 83-92 terjadi menunjukan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah, hal tersebut juga terjadi di SMPN 34 Bandar Lampung. Dari hasil pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukan bahwa 85% siswa SMP Negeri 34 Bandar Lampung belum mampu menyelesaikan soal pemecahan masalah matematika secara tepat. Siswa terbiasa mengerjakan soal rutin sehingga ketika diberi soal non rutin mereka bingung menyelesaikan soal. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki siswa juga dapat diketahui dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran matematika di sekolah tersebut. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa siswa terbiasa menerima informasi dari guru sehingga pembelajaran belum bersifat student center. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan siswa dalam menggali informasi tidak maksimal dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Akibatnya siswa juga kurang memahami soal-soal non rutin yang diberikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak berani bertanya atau menyatakan pendapatnya mengenai kelemahannya dalam memecahkan masalah dan hanya aktif mencatat apa yang ditulis guru di papan tulis tanpa harus memahami esensi dari pemecahan masalah yang ada. Akibatnya pencapaian tujuan pembelajaran menjadi kurang Agar peserta didik mempunyai kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, maka harus dikembangkan model pembelajaran matematika yang dapat memberikan kesempatan peserta didik untuk lebih aktif dan mampu mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang mereka miliki. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Blended Model pembelajaran Blended learning memberikan lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan berbagai metode pembelajaran yang dilakukan dengan media yang berbeda dan waktu yang fleksibel. Kualitas pemecahan masalah matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model ini tergolong tinggi karena peserta didik mendapat kesempatan untuk bertanya kepada teman, guru, ataupun mengakses mengguankan internet dalam setiap proses pembelajaran. Husamah . 4: . menjelaskan bahwa Blended learning merupakan istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata. Blended dan Learning. Blended artinya campuran atau kombinasi yang baik. Blended learning ini pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka dan secara virtual. Munir . 7: . berpendapat bahwa Blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan strategi penyampaian pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis computer . dan komputer secara online . nternet dan mobile learnin. Pada pembelajaran Blended learning semua sumber belajar yang dapat memfasilitasi terjadinya pembelajaran dikembangkan. Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dengan kombinasi sumber-sumber belajar tatap muka dengan Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pengar maupun yang dimuat dalam media komputer, telepon seluler. Saluran televisi, satelit, konferensi vidio dan media elektronik lainnya. Pembelajar dan pengajar bekerja sama meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan Blended learning adalah memberikan kesempatan bagi pembelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, berkembang sehingga belajar akan lebih menjadi efektif, efisien, dan menarik. Berpijak pada beberapa persoalan yang penulis uraikan di atas, diharapkan model pembelajaran Blended learning dapat mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Blended learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas Vi Semester Genap SMP Negeri 34 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020 KAJIAN TEORI Hendriana, dkk . 6: . menyatakan masalah dalam matematika adalah persoalan yang tidak rutin, artinya cara metode solusinya belum diketahui, jadi pemecahan masalah adalah mencari cara/metode melalui kegiatan mengamati, memahami, mencoba, menduga, menemukan dan meninjau kembali. Lestari dan Yudhanegara . 5: . menyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kemampuan menyelesaikan masalah rutin, non rutin, rutin terapan, rutin non terapan, dan masalah non-rutin non-terapan dalam bidang Sedangkan menurut Aunnurahman . 9: . , dalam proses pembelajaran anak harus sesering mungkin diajak untuk memecahkan masalah maka berarti guru telah membangun pengalaman yang kelak dapat mereka gunakan pada masalah berikutnya. Pendapat senada diungkap oleh Lestari dan Yudhanegara . menyatakan indikator kemampuan pemecahan masalah matematika, yaitu: . mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan. merumuskan masalah matematis atau menyusun model matematis. menerapkan strategi untuk menyelesaikan . menjelaskan atau meninterpretasikan hasil penyelesaian masalah. Polya dalam Chairani . 6: . menyebutkan Langkah-langkah pemecahan masalah yaitu : . memahami masalah . nderstanding the proble. , yaitu kemampuan memahami prinsip dari permasalahan misalnya hal apa yang belum diketahui, data dan kondisi. memikirkan rencana . evising pla. meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahuinya, dan . melaksanakan rencana . arrying out the pla. termasuk mempresentasikan setiap langkah proses pemecahan, apakah langkah yang dilakukan sesuai dengan rencana, sudah benar atau masih meragukan? meyakinkan diri sendiri kebenaran dari setiap langkah yang dilakukan. Perbaiki apabila masih ada kesalahan dengan memperhatikan data dan apa yang diperoleh. memeriksa kembali . ooking bac. meliputi pengujian terhadap proses Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 83-92 pemecahan masalah yang telah dilakukan. Dimulai dari langkah-langkah pemecahan, kelengkapannya dan kebenarannya. Kemungkinan dapat ditemukan suatu pemecahan yang baru dan lebih baik. Penelitian ini merujuk langkahlangkah/indikator pemecahan masalah menurut Polya. Adapun Charkes. Charles dan Antony . mengungkapkan pada awalnya istilah Blended learning dikenal dengan konsep pembelajaran hiprida yang memadukan pembelajaran tatap muka, online dan ofline. Gambar 1 Ilustrasi Blended learning: Husni . Dwiyogo . 8: . berpendapat bahwa istilah Blended learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Saat ini Blended menjadi popular, maka semakin banyak kombinasi yang dirujuk sebagai Blended learning. Pengertian pembelajaran berbasis Blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan strategi penyampaian pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer . dan computer secara online . nternet dan mobile learnin. Langkah-langkah model pembelajaran Blended learning yang digunakan dalam penelitian ini mengambil dari pendapat Soekartiwi dalam Husamah . , yaitu: . menetapkan materi dengan cara berinteraksi melalui tatap muka dan melalui pembelajaran online atau berbasis web. membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen online atau berbasis web dan tatap muka. menetapkan format pembelajaran jika berbasis web dan untuk tatap muka menetapkan materi yang akan diajarkan berupa teks. menerapkan format dan materi yang sudah disiapkan sesuai dengan pembelajaran. menyelenggarakan interaksi seperti chatroom untuk siswa yang ingin mengajukan pertanyaan dan pendidik sebagai instruktur khusus yang tugas utamanya menjawab pertanyaan peserta didik. menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pembelajaran. Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Munir . 7: . menyatakan bahwa kelebihan pembelajaran model Blended learning sebagai berikut: . pembelajaran lebih efektif dan efisien. pembelajaran memiliki daya tarik tinggi. interaksi dapat berupa teks, gambar, film, atau animasi. dapat dikonversi dalam berbagai bentuk digital. Sedangkan kekurangan pembelajaran Blended learning yaitu: . mobilitas terbatas karena bergantung pada daya listrik. tidak ada teknologi pembelajaran yang ideal untuk semua jenis pembelajaran. Husamah . menuliskan kelebihan pembelajaran Blended learning adalah sebagai berikut: . pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi. pembelajaran lebih efektif dan efisien. meningkatkan Dengan adanya Blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajaran. peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri dengan memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara online. peserta didik dapat melakukan diskusi dengan pengajar atau peserta didik lain di luar jam tatap muka. Sedangkan kekurangan pembelajaran Blended learning yaitu: . media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung. tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam Blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam megikuti pembelajaran mandiri via online. kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap teknologi. tidak meratanya fasilitas yang dimiliki, seperti komputer dan akses internet. Karakteristik Blended learning yaitu ada komposisi alokasi waktu yang Komposisi yang sering digunakan yaitu dengan pola 50/50, dalam alokasi waktu yang tersedia 50% tatap muka dan 50% pembelajaran online, juga ada pula yang menggunakan pola 75/25 yang artinya 75% pertemuan tatap muka 25% pembelajaran online, dan ada juga yang menerapkan 25/75 yang berarti 25% tatap muka dan 75% pembelajaran online. Penggunaan pola tersebut tergantung dari analisis kompetensi yang dibutuhkan, mulai dari tujuan mata pelajaran, karakteristik peserta didik, dan sumber daya yang tersedia. Namun pertimbangan utama dalam merancang komposisi pembelajaran yaitu penyediaan sumber belajar yang cocok untuk berbagai karakteristik peserta didik agar pembelajaran menarik dan efisien (Dwiyogo, 2018:. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Dimana dalam pengambilan data penulis menggunakan dua kelas. Kelas pertama dijadikan kelas eksperimen yaitu kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran Blended learning dan kelas kedua dijadikan kelas kontrol yaitu kelas yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas Vi Semester genap SMP Negeri 34 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 238 siswa. Penulis Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 83-92 mengambil sampel dengan teknik Cluster Random Sampling dengan prosedur undian kemudian di dapat dua kelas yang dijadikan sampel yaitu kelas Vi A sebagai kelas eksperimen dan Vi B sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berbentuk uraian. Tes ini bertujuan untuk menguji kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang berjumlah 5 soal. Tes ini telah melalui uji validitas dan reliabilitas alat ukur dan terbukti valid dan reliabel. Dari hasil tes ini kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh yang terjadi guna menarik kesimpulan penelitian. Teknik pengujian hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji-t dengan uji prasyarat analisis . ji normalitas dan uji HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 34 Bandar Lampung tahun pelajaran 2019/2020 yaitu pada semester genap. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas Vi A sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 32 siswa dan kelas Vi B sebagai kelas kontrol dengan jumlah 32 siswa. Dalam penelitian ini penulis memberikan perlakuan berupa model pembelajaran Blended learning dalam pembelajaran matematika di kelas Vi A dan memberikan perlakuan pembelajaran konvensional dalam pembelajaran matematika di kelas Vi B. Penelitian ini dilakukan sembilan kali pertemuan, pertemuan pertama sampai pertemuan kedelapan diberikan materi pembelajaran mengenai bangun ruang dan pertemuan kesembilan diberikan tes kemampuan pemecahan masalah matematika Setiap pertemuan berlangsung selama 2x40 menit baik untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol yang disesuaikan dengan RPP. Komposisi Blended learning yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan pola 50/50 yang artinya dalam alokasi waktu yang tersedia 50% tatap muka dan 50% pembelajaran online. Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Dari kelas yang menggunakan model pembelajaran Blended learning diperoleh hasil analisis dan diperoleh demikian terlihat berarti Ho diterima sehingga sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Dari kelas yang menerapkan pembelajaran konvensional diperoleh hasil analisis dan diperoleh dengan demikian terlihat berarti Ho diterima sehingga sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Setelah mengetahui bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal, kemudian dilakukan uji homogenitas menggunakan rumus F. Berdasarkan perhitungan diperoleh Fhit = dan untuk = 5% didapat Fdaf Terlihat bahwa Fhit < Fdaf atau 1,63 < 1,82, berarti H0 diterima sehingga dapat disimpulkan kedua data mempunyai varians yang sama. Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Langkah berikutnya dilakukan pengujian hipotesis menggunakan rumus ttes. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Hasil Analisis Uji t Kelas Rata-rata 77,44 3,14 Eksperimen 32 66,50 Kontrol 1,68 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelas eksperimen sebesar 77,44 dan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelas kontrol sebesar 66,50. Dari perhitungan diperoleh thit = 3,14 dengan taraf signifikansi 5% didapat tdaf = 1,68. Dapat terlihat bahwa thit > tdaf sehingga Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran Blended learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa Kelas Vi SMP negeri 34 Bandar Lampung. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menerapkan model pembelajaran Blended learning dengan yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menerapkan model pembelajaran Blended learning lebih tinggi dari kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang umumnya digunakan guru saat pembelajaran di kelas. Pembelajaran konvensional yang dilakukan di kelas Vi SMP Negeri 34 Bandar Lampung yaitu siswa belum sepenuhnya aktif dalam proses pembelajaran. Informasi yang diberikan masih banyak bersumber dari guru, siswa hanya memperhatikan penjelasan guru tanpa banyak aktif dalam menemukan ide dan konsep materi yang dipelajari. Hal tersebut mengakibatkan siswa kebingungan jika diberi soal-soal pemecahan masalah karena siswa tidak memahami konsep dari suatu materi pelajaran. Pada pembelajaran konvensional siswa hanya terbiasa mengerjakan soal yang bersifat rutin saja. Berbeda halnya dengan situasi di kelas Vi SMP Negeri 34 Bandar Lampung yang menggunakan model pembelajaran Blended Learning. Model pembelajaran Blended learning memberikan gambaran pembelajaran yang mendukung pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hal tersebut dapat terlihat dari proses pembelajaran pada kelas eksperimen yang selalu mengarahkan siswa untuk menganalisis masalah dengan berbagai cara demi mencapai solusi yang diinginkan. Proses pembelajaran dibantu dengan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang mereka diskusikan dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 5-6 siswa. Kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 83-92 siswa dapat melatih siswa untuk berfikir kritis, kreatif, analitis dan sistematis. Siswa mudah menggunakan informasi-informasi matematika yang sudah mereka dapatkan secara tepat dalam memahami masalah yang diberikan, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan rencana, hingga menemukan solusi dan melakukan pengecekan kembali. Dalam proses pembelajaran, siswa dapat bekerjasama dengan baik antar anggota kelompok sehingga suasana pembelajaran menjadi Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ruchi dan Sunita . yang menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran Blended learning salah satunya siswa dapat bersosialisasi dengan baik dengan sesama, siswa mempunyai waktu banyak dan dapat melakukan feedback, siswa juga dipandu dengan baik oleh guru serta siswa belajar dengan atmosfer yang ideal. Model Pembelajaran Blended learning juga dapat mengarahkan siswa untuk menganalisis informasi yang tersedia dalam soal dan apa yang ditanyakan soal, menyusun kerangka penyelesaian masalah, kemudian mencari solusi yang paling efektif hingga melakukan review, evaluasi dan revisi terhadap jawaban yang sudah ditemukan sehingga siswa akan terhindar dari kesalahan saat memecahkan masalah. Siswa terbiasa memecahkan masalah secara sistematis dan ketika diberi soal-soal pemecahan masalah siswa tidak kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya. Selain itu, aktivitas siswa dengan model pembelajaran Blended learning mampu mengembangkan kemampuan berfikir secara mandiri dari pertemuan awal hingga pertemuan akhir, kemampuan berkerja sama juga terbentuk, siswa terbiasa untuk mengkonstruksi pengetahuannya dan siswa termotivasi untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pembelajaran menggunakan model Blended learning dapat membuat siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan dibandingkan pembelajaran Siswa dengan berbagai kemampuan pemahaman pada kelas eksperimen dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri dalam diskusi kelompok, sedangkan pada kelas kontrol siswa justru terlihat kebingunan dan hanya mengandalkan penjelasan guru atau siswa yang pandai. Terlihat juga perbedaan dari keduanya yaitu siswa yang menggunakan model pembelajaran Blended learning dalam memecahkan masalah mampu bekerja sama dan berfikir secara mandiri serta sistematis dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, tentunya perbedaan keadaan kedua kelas ini berakibat pada perbedaan perolehan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan uji hipotesis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu ada pengaruh model pembelajaran Blended learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas Vi SMP Negeri 34 Bandar Lampung tahun pelajaran 2019/2020. Hal tersebut Pengaruh Model Pembelajaran Blended Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ditunjukan dengan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika yang menggunakan model pembelajaran Blended learning pada kelas eksperimen yaitu kelas Vi A 77,44 lebih tinggi daripada rata-rata kemampuan pemecahan masalah yang menggunakan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol yaitu Vi B yaitu 66,50. DAFTAR PUSTAKA