NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Vol. 1 No. : 13-26 e-ISSN 3109-3078 Submitted, 27 Februari 2025. Revised, 12 Mei 2025. Accepted, 2 Juni 2025. Published, 01 Agustus 2025 SIKAP PAULUS DALAM FILEMON 1:8Ae22 DAN IMPLIKASINYA BAGI GEMBALA SIDANG DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK JEMAAT Viki Susanto Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta vikijkw@gmail. Abstract: The church is an organization consisting of various interests and needs of many people. Although engaged in spiritual matters, it does not rule out the possibility of conflict arising within it. Often the pastor must resolve the conflicts that For that, a correct attitude is needed in resolving the conflict. The importance of this article is to provide an example of the correct attitude in resolving a conflict in today's congregation biblically based on Philemon 1: 8-22. The method used in this writing is a qualitative method by conducting a literature study from various journals, books and the Bible to find examples of conflict resolution based on the text of Philemon. This study reveals the relevance of Paul's attitude in Philemon's letter to the pastor in resolving today's congregation conflicts. First, a pastor must not be authoritarian in dealing with congregational conflicts. Second, the pastor must have an attitude of respect for the rights of the congregation. Third, the pastor must have humility in resolving conflicts and fourth, a pastor is required to have a sense of sacrifice in the ministry they carry out. Keywords: Paul's Attitude. Philemon. Pastor. Congregational Conflict. Abstrak: Gereja merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai kepentingan dan kebutuhan orang banyak. Meskipun bergerak dalam urusan kerohanian, tidak menutup kemungkinan timbul konflik di dalamnya. Seringkali gembala sidang harus menyelesaikan konflik yang terjadi. Untuk itu diperlukan sebuah sikap yang benar dalam menyelesaikan konflik tersebut. Pentingnya artikel ini adalah untuk memberikan contoh sikap yang benar dalam menyelesaikan sebuah konflik dalam jemaat masa kini secara alkitabiah berdasarkan Filemon 1:8-22. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan melakukan studi literatur dari berbagai jurnal, buku dan Alkitab untuk menemukan teladan penyelesaian konfliks berdasarkan teks Filemon tersebut. Penelitian ini mengungkapkan relevansi sikap Paulus dalam surat Filemon terhadap gembala sidang dalam menyelesaikan konflik jemaat masa kini. Pertama, seorang gembala sidang tidak boleh bersikap otoriter dalam menghadapi konflik Kedua, gembala sidang harus mempunyai sikap menghargai akan hak-hak jemaat. Ketiga, gembala sidang wajib mempunyai kerendahan hati dalam menyelesaikan konflik dan keempat, seorang gembala sidang dituntut untuk memiliki rasa rela berkorban dalam pelayanan yang mereka emban. Kata Kunci : Sikap Paulus. Filemon. Gembala Sidang. Konflik Jemaat. Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 13-26 PENDAHULUAN Dalam sebuah organisasi, timbulnya konflik adalah sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari. Baik dalam kapasitas yang besar ataupun kecil, konflik dapat timbul sebuah pada organisasi. Sebuah gereja, meskipun utamanya berhubungan dengan kerohanian umat, bagaimanapun adalah sebuah organisasi yang didalamnya terdapat berbagai kepentingan dan kebutuhan orang banyak. Dalam hal ini, gereja tidak luput dari apa yang dinamakan konflik. 1 Sumber konflik bisa berasal dari Poirier menyebutkan bahwa konflik yang muncul biasanya terjadi karena adanya perbedaan pendapat, pandangan, kebutuhan-kebutuhan jemaat yang tidak terakomodir dengan baik ataupun aturan-aturan yang berbenturan dengan kepentingan jemaat. Secara sederhana, konflik dapat diartikan sebuah perbedaan opini yang mempunyai tujuan menghalangi keinginan 2 Halverstadt memberikan contoh konflik yang bisa terjadi dalam gereja, antara lain adanya pertentangan antara pendeta dengan pejabat gereja, keluarga pastori dengan dengan jemaat, staff dengan pendeta pembantu. Jemaat sering berkonflik dalam hal pemilihan pejabat gereja, sumbangan dana untuk kegiatan sosial, yang semuanya itu bisa berujung kepada pengunduran diri jemaat sebuah gereja. 3 Munculnya konflik bisa menyebabkan adanya perpecahan dalam sebuah jemaat gereja. Konflik yang tidak terselesaikan dengan baik bisa menyebabkan kericuhan dalam gereja. Disaat yang sama, tidak tertanganinya suatu konflik menandakan bahwa gereja tidak berbeda dengan orang di luar gereja dalam mengatasi permasalahan. 4 Konflik dalam jemaat ini, dapat menuntut seorang gembala sidang harus turun tangan untuk mengatasi dan mencari jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Maka dari itu, dalam sebuah penyelesaian konflik, seorang gembala sidang memerlukan sikap yang benar sehingga tindakan yang diambil bisa memberikan solusi terbaik bagi jemaat dan juga bagi organisasi gereja tersebut. Sedangkan Klena berpendapat bahwa pelayan Tuhan mempunyai sebuah tugas utama yaitu saling mengasihi. Tugas ini sangat penting untuk diingat pada saat terjadi sebuah konflik, khususnya dalam jemaat gereja. Hal yang sama dilakukan oleh para rasul dan penatua pada jemaat mula-mula, mereka senantiasa memberikan dorongan dan bimbingannya dalam menghadapi sebuah konflik dalam jemaat. Contoh dalam Alkitab mengajarkan sebagaimana Yudas dan Silas senantiasa menguatkan iman saudarasaudara mereka dalam sebuah jemaat (Kis 15:. 5 Dibutuhkan hati yang penuh kasih dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dalam jemaat gereja. Dalam Surat Filemon 1:8-22, terdapat sebuah narasi mengenai konflik yang terjadi antara Filemon dengan Onesimus yang merupakan budaknya. Onesimus adalah budak Filemon yang diketahui melarikan diri dari rumah tuannya dan kemudian bertemu dengan Paulus di penjara. Selama di penjara. Onesimus melayani Paulus dengan baik sampai akhirnya menjadi percaya dan dibaptis oleh pelayanan Paulus. Paulus sangat tertolong oleh pelayanan Onesimus ini dan menginginkan supaya Onesimus ini tetap melayani Paulus. Akan tetapi Paulus sadar, bahwa Onesimus ini adalah budak dari Filemon, orang yang juga dimenangkan oleh Paulus kepada Kristus. Paulus tidak mengambil Onesimus untuk menjadi pelayannya, tetapi mendapat persetujuan dari Filemon, karena bagaimanapun Onesimus ada dalam kekuasaan Filemon sebagai budaknya. Paulus Grace Felma Esther Palit. AoKonflik Dan Perpecahan Jemaat. Studi Tentang Perpecahan Jemaat Di GMIBM AuLembah YardenAy Dodap Pantai Dari Perspektid Pengelolaan Konflik Dalam OrganisasiAo (Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, 2. ,hal. Alfred Poirier. The Peace Making Pastor. A Biblical Guide to Resolving Church Conflict (BakerAos book. Hugh F. Halverstadt. Managing Church Conflict (Westminster John Knox Press, 1. David W. Kale. Managing Conflict In The Church (Beacon Hill Press, 2. David V. Edling. Tara Klena Barthel. Reedeming Church Conflict. Turning Crisis into Compassion and Care (BakerAos book, 2. Yabes. Prabowo memilih untuk mengembalikan Onesimus terlebih dahulu kepada Filemon di Kolose untuk menghindari konflik yang bisa saja terjadi antara dia dengan Filemon. Dari narasi surat Filemon tersebut, kita mengetahui bahwa Paulus begitu melindungi Onesimus bahkan dia rela untuk menanggung kerugian yang disebabkan Onesimus terhadap Filemon. Hal yang seharusnya juga dilakukan oleh gembala sidang masa ini, bahwa dalam membantu menyelesaikan konflik dalam jemaat, gembala sidang juga harus meneladani sikap Paulus tersebut. Hal ini menjadikan jemaat yang berkonflik memiliki rasa dilindungi dan diperhatikan. Sebagai gembala sidang, apabila sedang menyelesaikan masalah di jemaat tidaklah dibenarkan apabila justru permasalahan tersebut menjadi lebih rumit karena sikap yang salah. Sebuah konflik yang tidak terselesaikan dengan baik, akan mendatangkan konflik-konflik lain. Maka dari itu, seorang gembala sidang, harus mau dituntun oleh kebenaran Alkitab dalam menyelesaikan konflik yang muncul dalam jemaat. Sikap Paulus dalam surat ini, memberikan sebuah gagasan yang bisa diambil untuk diterapkan pada seorang gembala sidang dalam menghadapi konflik yang terjadi dalam jemaat gereja masa kini. Beberapa artikel terdahulu telah meneliti antara lain: Yosia, mengkaitkan narasi ayat tersebut dengan komunikasi yang terjadi antara Paulus. Onesimus dan Filemon. Komunikasi yang terjadi dalam surat tersebut tidak lain untuk memperbaiki sebuah hubungan yang tidak harmonis lagi antara Filemon dan Onesimus dimana kemudian mengimplementasikan kepada sebuah kunci pelayanan yang berhasil berasal dari sebuah komunikasi yang baik. 6 David, dalam tulisan eksposisinya mengenai surat Filemon ini, memberikan gambaran model kepemimpinan yang diteladankan oleh Paulus dalam pengalamannya. Paulus melakukan apa yang disebut kepemimpinan kasih yang dilakukan dalam pelayanan Paulus tersebut. 7 Sedangkan menurut Junio, melalui pembahasan ayat dalam surat Filemon tersebut ditarik sebuah kesimpulan bahwa dalam menyelesaikan sebuah permasalahan haruslah didasari dengan adanya sikap damai dan berlandaskan pada kasih persaudaraan dimana semuanya diperoleh di dalam Tuhan8. Pendapat diatas diambil dari sudut pandang yang berbeda dari surat Filemon, dimana menurut penulis bisa saling memberi kelengkapan pemahaman mengenai surat Filemon sebagai diaplikasikan kepada pelayanan gembala sidang. Dari berbagai penelitian sebelumnya, penulis mencoba untuk memberikan pandangan mengenai sikap Paulus yang tertulis dalam surat Filemon tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis sikap Paulus dalam Filemon 1:8Ae22 sebagai model penyelesaian konflik jemaat oleh gembala sidang sehingga dapat memberikan kontribusi yang praktis untuk bisa diterapkan dalam pelayanan gereja pada masa kini. Yosia Belo. AoImplementasi Komunikasi Paulus Dalam Menyelesaikan Masalah Berdasarkan Surat FilemonAo. Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi, 3. , p. 165, doi:10. 47457/phr. David Susilo Pranoto. AoModel Kepemimpinan Paulus: Sebuah Studi Eksposisi Surat FilemonAo. Manna Rafflesia, 5. , pp. 37Ae49, doi:10. 38091/man_raf. Junio Richson Sirait and others. AoTinjauan Praktis Tentang Resolusi Konflik Berdasarkan Filemon 1:125Ao. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 5. , pp. 114Ae24, doi:10. 37329/kamaya. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 13-26 METODE Dalam penulisan artikel ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. 9 Pendekatan ini dilakukan dengan mengumpulkan data melalui studi literatur dari berbagai sumber, seperti jurnal ilmiah, artikel, ensiklopedia, buku, dan Alkitab sebagai sumber utama. 10 Tujuannya adalah untuk menganalisis sikap Paulus dalam Surat Filemon 1:8Ae22 dan merelevansikannya dengan peran gembala sidang dalam menangani konflik jemaat masa kini. Hasil dari kajian ini diolah dan disimpulkan menjadi panduan praktis mengenai sikap yang dapat diterapkan oleh gembala sidang dalam penyelesaian konflik di lingkungan pelayanan gereja. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar belakang surat Filemon Surat Filemon adalah salah satu surat yang ditulis oleh Paulus dari penjara Roma. Surat ini adalah surat yang terpendek, bersifat pribadi dan hampir tidak pernah dipersoalkan. 11 Surat ini ditulis khusus ditujukan untuk seseorang yang bernama Filemon yang tinggal di Kolose. Filemon juga merupakan seorang Kristen, yang merupakan buah dari pelayanan Paulus dan merupakan seorang yang kaya sebab memiliki budak dalam rumahnya. Filemon mempunyai seorang budak bernama Onesimus akan tetapi telah melarikan diri karena kesalahan yang diperbuat budak tersebut kepada Filemon. 12 Dalam pelariannya. Onesimus bertemu dengan Paulus dan akhirnya dia dimenangkan oleh Paulus dan menjadi Kristen. Onesimus kemudian menjadi sahabat yang sangat berguna bagi pelayanan Paulus waktu itu. Dalam Perjanjian Lama, meskipun perbudakan Yahudi telah terjadi tetapi tetaplah dilandaskan oleh nasionalisme Israel yang terjaga. Budak Yahudi seolah oleh mendapat jaminan kemerdekaan khususnya pada waktu tahun Sabat. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani, dimana budak ada dalam keadaan yang sudah alami. Budak ini hanyalah dihargai sebagai sebuah benda daripada dipandang sebagai manusia. Kategori perbudakan yang paling umum terjadi adalah perbudakan rumah tangga dan negara, dimana untuk sebuah rumah tangga yang memiliki banyak budak maka derajad atau posisi keluarga tersebut dianggap lebih tinggi daripada kelkuarga yang hanya memiliki sedikit budak. Seorang bisa mendapatkan status sebagai budak antara lain dikarenakan, pertama, mereka dilahirkan dari seorang budak sehingga dia merupakan keturunan dari budak. Kedua, orang itu telah dibuang dan tidak diinginkan oleh sanak keluarga, maka orang yang rela memelihara dan membesarkan mereka akan menjadi majikannya. Ketiga, mereka dijual oleh orang tuanya. Keempat, karena alasan ekonomi yang sulit mereka dengan rela hati menjadikan dirinya budak bagi orang lain. Kelima, mereka adalah seorang hukuman sehingga harus menjadi Keenam, mereka merupakan orang yang diculik. Pada jaman gereja mula-mula, jemaat yang terbentuk seringkali merupakan gabungan dari banyak rumah tangga . hususnya di luar Palestin. dan anggotanya terdiri dari tuan-tuan dan budak-budak. Dalam sebuah persekutuan yang telah terjadi di dalam kesatuan dengan Kristus, maka hubungan tuan-budak ini tidaklah bermakna lagi. Prof. Dr. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. (Alfabeta, 2. Hal 7-8. Sonny Eli Zaluchu. Metode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan. Jurnal Teologi Berita Hidup 3, 2021 . Jurnal Teologi. Agama Kristen, and Johny Christian Ruhulessin. AoKonflik Dan Rekonsiliasi Antarjemaat: Sebuah Analisis TeologisAo, 7. , pp. 329Ae37. Jusaktri Susanto Putra. Christiani Hutabarat, and Henoch Budiyanto. AoKepemimpinan Pastoral Dalam Mengelola Konflik Jemaat Di Gereja Lokal Berdasarkan Markus 10:41-45Ao. RERUM: Journal of Biblical Practice, 2. , pp. 89Ae107, doi:10. 55076/rerum. Yabes. Prabowo seorang gembala ikut turun menyelesaikan permasalahan tersebut. Menjadi seorang gembala sidang, memang bukan hal yang ringan. Selain mereka harus secara rutin mempersiapkan makanan rohani untuk jemaat berupa kotbah-kotbah, mereka juga dituntut untuk bisa mengerti dan memahami setiap jemaat yang dipimpinnya. Maka dari itu, gembala sidang harus sadar benar akan tanggungjawab yang dia emban. Mereka dituntut untuk mempunyai keterampilan serta kecerdasan dalam hal mengatasi konflik serta mau berkomitmen melakukan semua tugasnya sesuai dengan peraturan yang ada. Mereka melakukannya harus dilandasi dengan kasih kepada jemaat yang sudah dipercayakan Tuhan kepadanya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk jemaat yang dia 34 Itulah mengapa, sebagai seorang gembala sidang harus mempunyai sikap yang teguh dan mandiri dalam menghadapi semua hal yang bisa muncul dalam pelayanan yang dipercayakan kepada mereka sesuai dengan teladan dalam Alkitab. Relevansi Sikap Paulus terhadap Gembala Sidang dalam Menyelesaikan Konflik Jemaat Paulus adalah salah satu pelayan Tuhan yang memiliki pengaruh besar dalam Kekristenan. Apa yang telah Paulus lakukan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam sebuah pelayanan pastoral pada masa kini. Sikap Paulus yang telah dibahas dalam surat Filemon diatas, dapat ditarik sebuah analogi yang logis terhadap apa saja sikap yang harus dimiliki oleh pelayan Tuhan khususnya seorang gembala sidang dalam menghadapi serta menyelesaikan konflik yang terjadi diantara Seorang gembala sidang tidak hanya bertugas untuk menyiapkan kotbah di mimbar setiap minggunya untuk para jemaat, tetapi dituntut juga untuk bisa melakukan pendampingan pastoral kepada setiap jemaat dengan baik. Seperti Tuhan mengenal setiap domba-dombanya, demikian juga seharusnya seorang gembala sidang dalam kerendahan hati Kristianinya harus juga mengenal jemaatnya dengan baik. Dalam proses berinteraksi dengan jemaat dalam sebuah organisasi yang disebut gereja ini, maka tidak jarang gembala sidang menghadapi konflik yang muncul didalam kehidupan jemaat, hal ini membuat seorang gembala sidang tidak hanya dituntut untuk terampil menyampaikan kotbah di mimbar, tetapi juga dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk melakukan sebuah rekonsiliasi yang mumpuni yang berdasarkan prinsip Alkitabiah untuk bisa menyelesaikan setiap konflik dalam jemaat. Oleh karena itu, gembala sidang harus mengetahui sikap yang benar dalam menyelesaikan sebuah konflik dalam jemaat sesuai dengan apa yang diteladankan dalam Alkitab, antara lain dengan mengambil sikap: Pertama, tidak bersikap otoriter Sebagai seorang pemimpin dalam hal ini adalah gembala sidang yang mempunyai otoritas tertinggi dalam sebuah organisasi gereja, sikap Paulus dengan jelas memberikan teladan bagi para gembala sidang dalam menghadapi konflik yang terjadi dalam jemaat yang dipimpin-nya. Sikap otoriter tidaklah sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Paulus. Sebagai gantinya. Paulus memberikan contoh sebuah pendekatan secara pribadi kepada pihak yang sedang berkonflik, untuk Pieter Anggiat Napitupulu. AoKualifikasi Dan Tanggung Jawab Gembala Jemaat: Perspektif TeologisAo. Jurnal Teologi Kependetaan, 10. , p. 151 . Zakaria Harefa. AoMakna AuSalamAy Dalam Surat Paulus Dan Implementasinya Pada Pelayan Tuhan Saat KiniAo. Real Didache, 6. , p. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 13-26 bisa dengan kepala dingin menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi sekaligus tanpa mengorbankan hak-hak pihak yang berkonflik. Belajar dari tokoh Saul dalam Perjanjian Lama, yaitu bagaimana dia begitu berambisi . tetap mengakui posisinya sebagai raja yang adalah pemimpin tertinggi meskipun Tuhan tidak lagi berkenan kepadanya dan menyerahkan kedudukan raja tersebut kepada Daud melalui nabi Samuel. Seorang gembala sidang seharusnya juga peka terhadap kehendak Allah yaitu seperti apa yang Allah inginkan dalam menghadapi sebuah konflik, sehingga kehendak Tuhanlah yang dilakukan oleh gembala sidang tersebut. Seorang gembala sidang bisa meminta dengan lembut kepada jemaat untuk bisa belajar mengasihi dan mengampuni dalam menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi di antara mereka. 36 Model pendekatan seperti ini, akan bisa lebih baik dalam menyelesaikan konflik. Kedua. Menghargai Hak Orang Lain Sebagai pemimpin tertinggi dalam organisasi gereja, seorang gembala sidang harus mempunyai sikap hati yang mau menghargai hak orang lain, meskipun secara struktural posisi seorang gembala sidang paling tinggi. Penyelesaian masalah atau konflik yang terjadi harus diselesaikan tanpa sikap semena-mena oleh karena jabatan/posisi yang dimiliki seorang gembala Ada kalanya, sebuah konflik akan menyisakan perasaan-perasaan yang tidak nyaman satu sama lain. Bahkan rasa kebencian dan dendam masih tersimpan diantara mereka. Hubungan antar mereka juga sebisa mungkin harus dilakukan pemulihan lagi seperti keadaan sebelum adanya 37 Pihak yang berkonflik harus diberi kesempatan untuk bisa berpikir dan mengambil keputusan sesuai dengan arahan seorang gembala dan pada akhirnya pihak yang berkonflik bisa menemukan solusi tanpa paksaan ataupun intimidasi dari seorang gembala sidang. Dalam Injil Matius 18:15-17, disana diberikan sebuah contoh nyata yang bisa diterapkan oleh seorang gembala sidang yaitu bagaimana sebuah proses penyelesaian masalah yang sesuai dengan prinsip Apabila seorang gembala sidang sedang menyelesaikan konflik jemaat, maka sangatlah bijaksana apabila jemaat tersebut dipanggil terlebih dahulu untuk memperjelas keadaan sebuah Hal ini tentu saja bisa menghindarkan dari sebuah kabar fitnah yang tidak Untuk itu, sebagai gembala sidang yang bijaksana, alangkah baiknya apabila mereka senantiasa memakai prinsip alkitabiah tersebut dalam menghadapi sebuah konflik jemaat. Ketiga. Rendah Hati Seorang gembala sidang, dalam kedudukan yang tinggi dalam sebuah struktur gereja seharusnya bisa meneladani sikap Paulus ini. Surat Filipi 2:2-3 merupakan teladan dari Paulus dalam melakukan pelayanannya. Au. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri. dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain jugaAy. Saat menghadapi sebuah konflik dalam jemaat, gembala sidang harus bisa memposisikan dirinya sebagaimana yang telah dilakukan Paulus kepada Filemon yaitu dengan menganggap pihak yang berkonflik adalah Sekolah Tinggi. Teologi Baptis, and Indonesia Semarang. AoServants of God and Masters: Theological Thought According to Equality of Status in GodAos JustificationAo, 20 . , pp. 96Ae107, doi:10. 46494/psc. AGUNG GUNAWAN. AoMengelola Konflik Dalam GerejaAo. SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika, 1. , pp. 7Ae16, doi:10. 47596/solagratia. Yabes. Prabowo rekan seiman, sehingga baik gembala maupun jemaat yang berkonflik tidak terdapat jarak yang dipisahkan oleh kedudukan/jabatan antara gembala dan jemaat. Kerendahan hati wajib menjadi sikap bagi seorang gembala sidang. Sikap ini membantu untuk bisa menghargai jemaat karena kasih Tuhan juga ada dalam diri jemaat. 38 Maka dari itu, dengan kerendahan hati seorang gembala sidang terhadap jemaat, diharapkan penyelesaian sebuah konflik yang terjadi bisa berakhir dengan lebih baik berlandaskan kasih Kristus. Keempat. Rela Berkorban Seringkali sebagai seorang gembala sidang, permasalahan yang terjadi dalam jemaat menuntut adanya pengorbanan dari kedua belah pihak. Meskipun pada kenyataannya, tidak jarang konflik yang terjadi membuat pihak yang terlibat tidak rela untuk berkorban demi terselesainya permasalahan itu. Yesus melalui Injil Yohanes memperkenalkan diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik, dimana seorang gembala mempunyai kerelaan untuk berkorban bahkan jikalau harus sampai mengorbankan nyawa-Nya (Yoh 10:. Melalui prinsip yang terdapat dalam ayat tersebut. Yesus dengan jelas memberikan sebuah contoh nyata bagaimana Dia telah rela berkorban untuk domba-domba yang dipercayakan kepada-Nya. Pada posisi ini, seorang gembala sidang terkadang harus dengan kesadaran penuh mau untuk Aopasang badanAo dan dengan demikian mengambil sikap mau rela berkorban seperti yang telah diteladankan oleh Paulus. Seorang gembala sidang bahkan dipaksa untuk mengambil sebuah resiko dari konflik tersebut meskipun sebenarnya hal itu bukan menjadi kewajibannya. Namun demikian, untuk menjadi seorang gembala sidang yang mempunyai sikap yang benar seperti Paulus, suka atau tidak harus memperlihatkan rasa rela berkorban ini untuk bisa menyelesaikan sebuah konflik dalam jemaat dengan baik. KESIMPULAN Seorang gembala sidang merupakan sebuah posisi tertinggi yang ada pada sebuah struktur organisasi gereja. Kepada seorang gembala sidang sudah tentu melekat sebuah otoritas yang lebih besar dari pelayan Tuhan lainnya di sebuah gereja. Setiap keputusan akhir dan kebijakan yang menyangkut gereja dan jemaat akan ditentukan oleh seorang gembala sidang. Tak jarang, ada keputusan-keputusan yang bisa menyebabkan timbulnya konflik dalam jemaat disamping konflik yang berasal dari luar gereja. Maka dari itu seorang gembala sidang harus mempunyai sikap yang benar yang sesuai dengan Alkitab dalam menyelesaikan konflik yang muncul. Sikap tersebut antara lain: pertama, gembala sidang tidak boleh mempunyai sikap otoriter, kedua, gembala sidang harus menghargai hak-hak jemaat yang sedang berkonflik, ketiga, seorang gembala sidang harus mempunyai sikap yang rendah hati dan keempat, gembala sidang harus berani untuk rela berkorban jikalau dirasa perlu untuk menyelesaikan konflik yang muncul. Notatema Waruwu and others. AoKerendahan Hati Sebagai Hasil Latihan Badani Berdasarkan Tinjauan Dari Philokalia Dan Implikasinya Bagi Pertumbuhan Spiritualitas Generasi ZillenialAo, 7. , p. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 13-26 DAFTAR PUSTAKA