3211 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 11 April 2026 PENGUATAN IDENTITAS LOKAL KERAJINAN SARUNG LAWO KEMBO SEBAGAI SUMBER EKONOMI RUMAH TANGGA Oleh Damianus Tola1. Sayful Amrin2. Alina Indriani Beri3. Dewi Seda Gadi4 1,2,3,4Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Flores. Ende. Nusa Tenggara Timur. Indonesia E-mail: 1datobela28@gmail. Article History: Received: 28-02-2026 Revised: 06-03-2026 Accepted: 31-03-2026 Keywords: Lawo Kembo. Identity. Economy. Abstract: This community service aims to strengthen the identity of the ndona community through household handicraft enterprises, specifically the production of sarung lawo kembo, as a from of creative expression rooted in the local wisdom of Manulondo village. Through these homebased industries, both economic and cultural values embedded in the meanings and symbols represented in the motifs of the sarung lawo kembo can be identified and developed as a consumer attraction. Sarung lawo kembo is a traditional ikon weaving of the Ndona community, which holds high philosophical value and serves as a symbol of brotherhood, togetherness, and the social identity of the people. The results of the progam indicate that the household handicraft enterprixe of sarung lawo kembo represents a highly remarkable traditional of the ndona community. There are three types of lawo kembo motifs, namely lawo kabhi, lawo onemesa and lawo ngera. Each of these motifs carries distinct narratives and meanings within the social life the The preservation of sarung lawo kembo not only plays a role in maintain tradition, but also creates opportunities for the development of the creative emocomy among the ndona people. Furthermore it contributes to sustaining production community and strengthening the position of sarung lawo kembo as a cultural identity of the ndona community. PENDAHULUAN Desa Manulondo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Ndona dengan jarak A 5 KM dari kota Kabupaten Ende. Di desa manulondo di kenal dengan salah satu usaha kerajinan tangan sarung lawo kembo, sarung lwo kembo ini dibagi dalam tiga jenis da motif berbeda-beda sarung lawo kabhi-nya, lawo Onemesa-nya, lawo ngera-nya. Dari ketiga jenis dan motif sarung lawo kembo menjadi branding prodak yang telah terbukti meningkatkan presepsi nilai dan loyalitas terhadap produk lokal, bagi masyarakat desa manulondo. Motif yang dituangkan dalam sarung lawo kembo menjadi nilai seni yang menggambarkan keadaan dan budaya ndona yang telah diwariskan oleh para leluhur secara turun temurun sehingga http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. April 2026 saat ini. (Liputo 2. Kerajinan rumah tangga sarung lawo kembo ini merupakan asset budaya yang perlu dilestarikan secara integral dan terstruktur secara sosial ekonomi masyarakat desa manulondo dengan prinsip keberlanjutan, kerja keras, usaha nyata (Donggala et al. Karajinan sarung lawo kembo dimulai sejak masa nenek moyang terdahulu dengan alat dan modal seadaanya. Jaman dahulu nenek moyang mengunakan benang yang di buat sendiri dari hasil yang ditanam di kebun yaitu lelu wunuu . ohon kapa. , untuk dijadikan kapas prosesnya di djata dan di nggoru sehingga menghasilkan seutas benang. Produktivitas kerajinan tangan berkaitan erat dengan kemampuan pengerajin dalam menghasilkan produk baru, atau hasil yang diperoleh dengan sumber daya lokal yang digunakan dalam proses produksi seperti yang dilakukan oleh pengrajinan tenun lawo kembo berada di dusun Nuakota Desa Manulondo. (Wardana and Angella 2. Untuk menghasilkan selembar sarung tenun ikat lawo kembo membutuhkan waktu dan langkahlangkah panjang dan keuletan sangat tinggi. Sarung lawo kembo merupakan salah satu hasil karya masyarakat ndona yang memiliki nilai-nilai estetika dalam mencermikan kehidupan masyarakat di desa Manulondo Kecamatan Ndona. Tempat usaha kerajinanan tangan sarung lawo kembo terletak di dusun Nuakota dari filosofi sejarah adalah nama nuakota merupakan sebuah kampung yang artinya kampung susunan bebatuan dengan berbagai rumah adat yang berjejer dengan bentuk dan corak yang sama. Berdasarkan pengamatan di lokasi kerajinan tangan sarung lawo kembo ditemukan permasalahanya yakni keterbatasan tenaga kerja, bahan baku alami, pewarna dari tumbuhan-tumbuhan, menjadi hambatan besar dalam proses pembuatan sarung lawo Solusi untuk meningkatkan produktivitas kerajinan tangan sarung lawo kembo masyarakat dusun nuakota perlu menyiapkan lahan untuk dijadikan lahan pmenanam bahan baku alami guna meningkatkan produksi pengolahan sarung lawo kembo dan juga dapat meningkatkan usaha kerajinan tangan terus berlanjut di masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswa program studi manajemen dan sekaligus menggali sumber-sumber pendapatan melalui usaha kerajianan rumah tangga sarung kembo sebagai keratifitas kearifan lokal desa Manulondo. Metode Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan memahami secara langsung proses pembuatan sarunng lawo kembo sebagai branding prodak penguatan identifas budaya ndona. Data dikumpulkan memalui pengamatan dan observasi, serta wawancara terakit pembuatan produk lawo kembo sebagai simbol kearifan lokal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil wawancara lapangan menunujukan bahwa proses pembuatan lawo kembo dimulai sejak masa nenek moyang dahulu bahan-bahan yang dibutuhkan pembuatan lawo kembo atau sarung kembo seperti benang. pada zaman dulu nenek moyang masih mengunakan benang yang diolah sendiri dari hasil tanaman yang diberi nama setempat lelu wunu . ohon kapa. , dari kapas dilakukan djata . dan Nggoru . untuk dijadikan benang. Selain benang, menggunakan pewarna alami dari akar kembo ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 11 April 2026 (Mengkud. dan juga daun Taru. Tetapi dalam perjalanan waktu mengalami kendala yakni tidak lagi budidaya tanaman kapas dan benangnya diganti dengan benang buatan pabrik. Tahapan-tahanpan proses pembuatan sarung lawo kembo: Tahap pertama. Benang guda warna putih dari pabrikan dicuci menggunakan air hangat, lalu dijemur sampai kering, setelah benang kering diproses woe lelu, . ulung benan. dengan menggunakan alawoe . lat yang terbuat dari bamb. Tahap kedua. Benang yang sudah digulung selanjutnya benang di goAoa . dengan menggunakan ologoAoa lalu benang dipindahkan ke meka peru . ayu untuk merentangkan benan. Tahap ketiga. Benang yang sudah dibentang lalu benang tersebut di pete peru . dengan daun gebang untuk membentuk motif-motif daerah seperti motif jara lela, . udang terban. Tahap keempat. Persiapan pewarna proses pembuatan pewarna pertama berwarna biru. pasta taru dimulai dari perendaman daun taru, garam dan kapur siri difrementasi selama tiga hari sampai air berubah warna biru pekat bertekstur kental, pewarna kedua berwarna merah. kar mengkud. , lobbha . , minyak kemiri, dicampur jadi satu lalu ditumbuk sampai halus lalu direndam dengan air tirisan abu dapur diaduk-aduk sampai berwarna merah. Tahap kelima. Peru . sudah diikat dimasukan dalam wadah pewarna buatan alamia dari pastal ae taru dicelup, dijemur sampai tiga kali, selanjutnya peru . dinentangkan hingga kadar airnya berkurang kemudian dipasangkan kembali ke meka peru. Tahap keenam. Masuk proses perminyakan peru . dengan minyak kemiri, air abu dapur dan lobbha . , kemudian dicelup, dijemur sampai delapan kali selama empat belas hari, kemudian pembukaan tali gebang . lalu proses pewa lawo . embentang benan. Tahap ketujuh. Pembentangan benang selesai dimasukan alat penenun: kabhe, bhela, viAoa, kogo. Sisi, ditenun selama empat belas hari, dan menghasilkan kain sarung lawo kembo. Tahap kedelepan. Proses penjahitan sambung dari ujung kain tenun untuk dijadikan sarung tenun dengan diameter yang sama. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. April 2026 Gambar 1. Tahapan Pembuatan Sarung Lawo Kembo PEMBAHASAN Pemanfaatan sarung Lawo Kembo merupakan upaya masyarakat Ndona dalam menjaga dan memperkuat identitas budaya lokal. Penggunaan Lawo Kembo dalam kegiatan adat dan upacara keagamaan menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya (Lewa & Nggaba, 2. Dalam tradisi ndona Ada tiga motif lawo kembo yakni: lawo atau sarung tenun, yaitu lawo kabhi, one mesa, dan lawo ngera, dari ketiga jenis ini punya cerita dan arti yang berbeda dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Lawo kabhi menceritakan tentang kehidupan persaudaraan dalam satu Rahim ibu yang tak dipisahkan. Lawo One Mesa menceritakan tentang kehidupan kampung tanpa penghuni. Lawo Ngera yang artinya warga pendatang dari berbagai suku dan menetap tinggal dalam satu kampung Ndona. Pengerajin sarung lawo kembo ada sepuluh orang tenaga kerja, tenaga kerja yang terlatih dan sudah terbiasa, dalam satu bulan menghasilkan sarung lawo kembo sebanyak empat lembar motif lawo kebhi, dua lembar motif onemesa, dan dua lembar motif ngera, jadi selama satu bulan menghasilkan delapan lembar sarung lawo kembo. Gambar 2. Lawo Kebhi Harga pasar yang ditetapkan oleh pengerajin sarung lawo kembo dengan jenis lawo kabhi kisaran harga jual perlembar dengan harga satuan mencapai Rp. 000,00 ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 11 April 2026 Gambar 3. Lawo Onemesa Harga pasar yang ditetapkan oleh pengerajin sarung lawo kembo dengan jenis lawo kabhi kisaran harga jual perlembar dengan harga satuan mencapai Rp. 000,00 Gambar 4. Lawo Ngera Harga pasar yang ditetapkan oleh pengerajin sarung lawo kembo dengan jenis lawo kabhi kisaran harga jual perlembar dengan harga satuan mencapai Rp. 000,00. Penentuan harga jual Penentuan harga jual seharusnya menggunakan metode akuntansi sehingga bisa mengetahui untung dan rugi dalam memproduksi sarung lawo kembo walaupun kerajinan rumah tangga masih berskala lokal tetapi akan dihitung mulai biaya pengadaan, biaya operasional, dan biaya tenaga kerja (Evayanti et al. Metode penjualan sarung lawo kembo Ada dua metode penjualan sarung lawo kembo. menggunakan sistem penjualan tidak langsung melalui makelar dan metode langsung pihak konsumen datang dan mencari pada pengerajin sarung lawo kembo (Amalijah. Andari, and Narastri 2. Upah pengerajin sarung lawo kembo Upah yang diterima oleh pengerajin sarung lawo kembo dalam satu bulan berdasarkan hasil jualan, berkhisaran per orang mencapai Rp. 000,00 upah didapat berdasarkan hasil produksi dari ketiga jenis sarung lawo kembo. Upah yang diterima pengerajin sarung lawo kembo masih sangat minim karena ketergantungan pada cepat atau lambat daya beli konsumen. Pembagian upah oleh para penenun bersifat transparan jika ada konsumen membeli sarung lawo kembo langsung dibagikan seketika itu dihadapan semua anggota pengerajin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. April 2026 KESIMPILAN DAN SARAN Kesimpulan Usaha rumah tangga sarung lawo kembo adalah satu simbol kearifan lokal masyarakat desa manulondo yang memiliki nilai budaya, sosial dan ekonomi yang perlu dipertahankan keutuhan yang berfungsi sebagai pakaian tradisional dan juga sebagai representasi identitas ndona yang telah diwariskan secara turun temurun sebagai branding produk tetap pertahankan dan terus menjaga kualitas sebagai penguatan identitas ndona. Sarung lawo kembo menjadi identitas budaya ndona yang perlu dilestarikan menjadi kearifan lokal masyarakat ndona ditengah perubahan sosial dan budaya. Oleh karena itu perlu upaya bersama menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan tradisi tenun lawo kembo sebagai bagian warisan budaya masyarakat ndona. Upah yang diterima pengerajin sarung lawo kembo masih sangat minim karena ketergantungan pada cepat atau lambat daya beli konsumen. Pembagian upah oleh para penenun bersifat transparan jika ada konsumen membeli sarung lawo kembo langsung dibagikan seketika itu dihadapan semua anggota pengerajin. Saran Ada perhatian dari pihak pemerintah daerah, budayawan. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) guna mengatasi keterbatasan penyediaan bahan baku. Pemerintah desa manulondo dan kelompok peduli lingkungan memfasilitas sanggar tenun agar lebih dikenal di dunia luar. DAFTAR PUSTAKA