Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan 2025. Tersedia di w. jk-risk. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang e-ISSN: 2809-0039 p-ISSN: 2809-2678 Tinjauan Pustaka Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern Optimizing Outcomes in Ventricular Septal Rupture: Integrative Strategies and Modern Challenges Muhammad Azhar Rosyidi1. Setyasih Anjarwati1. Valerinna Yogibuana1 1 Departemen Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya. Indonesia Ae RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Indonesia Diterima 22 November 2025. direvisi 28 November 2025. publikasi 31 Oktober 2025 INFORMASI ARTIKEL Penulis Koresponding: Muhammad Azhar Rosyidi. Departemen Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya. Indonesia Ae RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Indonesia. E-mail : theazhross@gmail. ABSTRAK Infark Miokard Akut (IMA) memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi serius, salah satunya adalah Ruptur Septum Ventrikel (RSV). Komplikasi ini membutuhkan pendekatan multidisiplin karena melibatkan interaksi yang kompleks antara kerusakan iskemik, stres mekanik, dan proses inflamasi dalam jantung. RSV pasca-IMA menyebabkan terjadinya shunt dari ventrikel kiri ke kanan, yang mengakibatkan perubahan hemodinamik dan memengaruhi fungsi jantung serta sirkulasi sistemik. Ekokardiografi menjadi modalitas utama untuk menilai ukuran dan lokasi ruptur, meskipun modalitas pencitraan lain juga digunakan untuk menilai perubahan hemodinamik secara lebih mendetail. Penanganan awal RSV pasca-IMA difokuskan pada stabilisasi hemodinamik menggunakan terapi medikamentosa. Namun, dukungan sirkulasi mekanik, seperti Intra-Aortic Balloon Pump (IABP) atau Extra Corporeal Membrane Oxygenation (ECMO), sering kali diperlukan pada kasus yang lebih berat. Penutupan dengan pembedahan tetap menjadi standar pengobatan utama, meskipun waktu optimal untuk melakukan pembedahan masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Sebagai alternatif, penutupan transkateter menggunakan perangkat penutup dapat digunakan baik sebagai terapi akut, subakut, maupun definitif, tergantung pada kondisi pasien. Pengelolaan RSV pasca-IMA melibatkan stabilisasi hemodinamik serta keputusan antara penutupan bedah atau transkateter, yang harus mempertimbangkan profil klinis pasien dan keahlian tim medis yang terlibat. Kata Kunci: Infark Miokard Akut. Ruptur Septum Ventrikel. Komplikasi Mekanik. Penutupan Transkateter Perkutaneus ABSTRACT Acute Myocardial Infarction (AMI) requires immediate management to prevent serious complications, one of which is Ventricular Septal Rupture (VSR). This complication necessitates a multidisciplinary approach due to the complex interaction between ischemic injury, mechanical stress, and inflammatory processes within the heart. PostAMI VSR leads to a left-to-right shunt, resulting in hemodynamic changes that affect both cardiac function and systemic circulation. Echocardiography serves as the primary modality for assessing the size and location of the rupture, although other imaging modalities are also employed for a more detailed evaluation of hemodynamic Initial management of post-AMI VSR focuses on hemodynamic stabilization through medical therapy. However, mechanical circulatory support, such as IntraAortic Balloon Pump (IABP) or Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO), is often required in more severe cases. Surgical closure remains the gold standard of Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V. Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern. JK-RISK. :37-48. DOI:10. 11594/jkrisk. | 37 Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V treatment, although the optimal timing for surgery is still debated among experts. an alternative, transcatheter closure using occluder devices can be employed as acute, subacute, or definitive therapy, depending on the patient's condition. The management of post-AMI VSR involves hemodynamic stabilization and a decision between surgical or transcatheter closure, which must take into account the patient's clinical profile and the expertise of the medical team involved. Keywords: Acute Myocardial Infarction. Ventricular Septal Rupture. Mechanical Complications. Percutaneous Transcatheter Closure PENDAHULUAN Ruptur septum ventrikel (RSV) merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat terjadi setelah infark miokard akut (IMA) dan secara signifikan meningkatkan morbiditas serta mortalitas. Seiring dengan kemajuan prosedur reperfusi akut untuk IMA, kejadian RSV semakin jarang dan umumnya terdeteksi lebih awal setelah IMA. RSV merupakan komplikasi mekanik paling umum yang terjadi pascaIMA. Berdasarkan laporan Elbadawi, dari 767 pasien yang mengalami komplikasi mekanik, 10. %) di antaranya adalah RSV, sedangkan sisanya adalah regurgitasi mitral akibat robekan otot papiler . %) atau robekan dinding ventrikel . %). Hasil akhir dari RSV biasanya berupa gagal jantung . aik gagal jantung kiri, gagal jantung kanan, atau keduany. dan syok Komplikasi ini sering dikaitkan dengan metode reperfusi tradisional dan memiliki prevalensi komplikasi mekanik yang tinggi, yaitu sekitar 2%. Namun, trombolisis serta prosedur reperfusi baru seperti intervensi koroner perkutan (IKP), insiden RSV menurun secara drastis menjadi 0,31%. Meskipun insidensi RSV menurun, tingkat mortalitas tetap cukup tinggi, berkisar antara 41%-80%, tanpa ada penurunan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir, sehingga RSV pasca-IMA tetap memerlukan perhatian serius. EPIDEMIOLOGI Insiden RSV bervariasi berdasarkan populasi yang diteliti serta kondisi kardiovaskular yang mendasarinya. Pada era sebelum penggunaan trombolisis, komplikasi RSV pasca-IMA tercatat sebesar 1% hingga 2%. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa insiden RSV menurun menjadi 0,17% hingga 0,31%. Menurut laporan Elbadawi yang didasarkan pada data National Inpatient Sample (NIS) dari tahun 2003 hingga 2015, komplikasi mekanik pasca-IMA terjadi pada 0,27% kasus infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) dan 0,04% pada kasus infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST (IMANEST). Meskipun demikian, mortalitas pasca-IMA pada pasien dengan komplikasi mekanik mencapai 42,4%, sementara pada pasien tanpa komplikasi mekanik, angka mortalitasnya adalah 12,7%. Faktor-faktor kemungkinan terjadinya ruptur septum ventrikel (RSV) meliputi usia lanjut, jenis kelamin perempuan, riwayat hipertensi dan IMA sebelumnya, serta keterlambatan dalam menerima penanganan medis saat gejala akut muncul. Individu dengan penyakit komorbid seperti penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami RSV. Selain itu, kondisi yang dapat menurunkan fungsi miokard, seperti penyalahgunaan alkohol atau penyakit jaringan ikat, dapat meningkatkan kerentanan terhadap RSV. Angka mortalitas akibat RSV berkisar antara 40% hingga 80%, tergantung pada populasi pasien serta ketepatan dalam diagnosis dan . JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 38 Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern PATOFISIOLOGI Penyebab utama RSV adalah komplikasi pasca-IMA. Ketika IMA terjadi, aliran darah ke area otot jantung menurun, yang menyebabkan iskemia dan nekrosis. Bagian septum yang melemah kemudian . menyebabkan RSV. RSV lebih sering terjadi pada infark yang melibatkan dinding anterior atau septal ventrikel kiri. Infark transmural yang luas, yang mempengaruhi dinding miokardium, meningkatkan risiko terjadinya RSV. Salah satu faktor risiko yang RSV penanganan medis pasca-IMA. Iskemia yang berlangsung lama dan reperfusi yang tertunda dapat memperburuk kerusakan miokard dan meningkatkan kemungkinan terjadinya RSV. Ruptur setelah infark transmural dapat menyebabkan kerusakan pada septum ventrikel dan dapat terjadi di berbagai lokasi Infark yang melibatkan arteri koroner anterior kiri bawah, arteri koroner kanan dominan, atau arteri sirkumfleks kiri dominan dapat memengaruhi cabangcabang septal dari arteri koroner. Prevalensi ruptur septum ventrikel pada infark anterior memiliki kesamaan dengan ruptur septum pada infark inferior atau lateral. Infark anterior lebih sering menyebabkan ruptur di area apikal, sementara infark inferior atau lateral lebih cenderung menyebabkan ruptur di area basal, terutama pada percabangan septum dan dinding posterior. Tabel 1 menunjukkan arteri yang terlibat dan bagian septum interventrikular yang terdampak, beserta jenis RSV yang terjadi. Tabel 1. Arteri koroner yang terpengaruh sesuai dengan jenis Ruptur Septum Ventrikel (RSV) . Septum interventricular yang Arteri Koroner yang terpengaruh Tipe RSV Arteri koroner Anterior kiri bawah Bagian Anterior RSV Ventrikel Arteri koroner kanan yang dominan Bagian Inferior RSV Basal Arteri koroner Sirkumflek kiri dominan Bagian Posterior Tidak jelas Gambar 2. Pendekatan Multidisiplin dari manajemen Ruptur Septum Ventrikel . JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 39 Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V Patofisiologi RSV pasca-IMA melibatkan interaksi yang kompleks antara kerusakan iskemik, stres mekanik, dan proses inflamasi dalam jantung. Infark miokard akut menyebabkan penyumbatan atau penurunan aliran darah pada arteri koroner, yang mengakibatkan iskemia dan nekrosis pada jaringan miokardium. Area nekrotik ini melemahkan septum ventrikel, yang merupakan struktur penting yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan Seiring berjalannya waktu, jaringan yang lemah ini dapat mengalami proses mengalami ruptur, yang mengarah pada RSV. Ruptur ini umumnya terjadi pada kondisi infark transmural, di mana seluruh ketebalan dinding ventrikel terpengaruh. Jenis infark ini melibatkan lapisan endokardium, miokardium, dan epikardium, yang menyebabkan kerusakan signifikan di seluruh septum ventrikel. Stres mekanik pada septum yang melemah semakin meningkat seiring dengan peningkatan tekanan ventrikel selama fase sistol, yang turut berkontribusi pada terjadinya rupture. Proses inflamasi juga memiliki peran penting dalam patofisiologi RSV. Kejadian iskemia memicu respons imun, yang menyebabkan aktivasi sel-sel inflamasi, pelepasan sitokin, dan aktivasi matriks metalloproteinase (MMP). MMP adalah kelompok enzim yang berperan penting dalam remodeling jaringan dan degradasi matriks ekstraseluler (ECM). Enzim-enzim ini berperan dalam berbagai proses penyembuhan luka, perbaikan jaringan, dan Dalam kasus RSV. MMP terlibat dalam patogenesis pelemahan dinding septal ventrikel. Setelah IMA, cedera iskemik memicu respons inflamasi, yang ditandai oleh infiltrasi sel-sel inflamasi seperti neutrofil dan makrofag ke area infark. Sel-sel inflamasi ini mengeluarkan berbagai sitokin dan faktor pertumbuhan yang merangsang produksi dan aktivasi MMP. MMP diproduksi dalam bentuk zimogen tidak aktif . roMMP) menjalankan fungsi enzimatiknya. Aktivasi proMMP dilakukan oleh protease lain, seperti plasmin atau MMP lainnya, serta aktivator spesifik. Setelah diaktifkan. MMP mampu mendegradasi komponen ECM, termasuk kolagen, elastin, proteoglikan, dan remodeling jaringan dan degradasi dinding . Gambar 1. Klasifikasi Morfologi dari Ruptur Ventrikel. GEJALA DAN TANDA Setelah terjadinya RSV, terjadi aliran darah dari ventrikel kiri yang tekanannya lebih tinggi ke ventrikel kanan yang tekanannya lebih rendah selama fase sistol. Pengalihan perubahan parameter hemodinamik dan memengaruhi fungsi jantung serta sirkulasi Aliran darah dari kiri ke kanan akibat RSV menyebabkan peningkatan beban pada ventrikel kiri selama sistol. Peningkatan volume ini mengakibatkan ventrikel kiri harus memompa lebih banyak darah ke dalam sirkulasi sistemik, sehingga meningkatkan beban kerja jantung. Ketika darah dialihkan dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan, volume darah yang teroksigenasi dalam sirkulasi sistemik Akibatnya, terjadi penurunan JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 40 Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern perfusi sistemik yang memicu gejala seperti kelelahan, hipotensi, dan disfungsi organ. Peningkatan aliran darah ke ventrikel kanan akibat shunt dari kiri ke kanan juga dapat memicu hipertensi Tekanan arteri pulmonal meningkat sebagai respons terhadap volume dan tekanan darah yang lebih tinggi dalam menyebabkan gejala seperti dispnea, edema pulmonal, dan gagal jantung kanan. RSV juga dapat menyebabkan gangguan fungsi ventrikel kiri. Beban ventrikel kiri meningkat akibat afterload yang lebih besar, menyebabkan dilatasi dan hipertrofi ventrikel kiri. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ventrikel kiri dan penurunan output jantung. Ventrikel kanan menerima tambahan aliran darah dari ventrikel kiri selama sistol, sehingga menyebabkan peningkatan beban volume pada ventrikel kanan, yang dapat menyebabkan dilatasi dan berpotensi hipertrofi. Beban kerja yang meningkat pada ventrikel kanan akhirnya dapat memicu disfungsi dan kegagalan ventrikel kanan. iskemia dan revascularisasi, seringkali menunjukkan adanya obstruksi total pada arteri koroner tanpa adanya kolateral. Pencitraan resonansi magnetik jantung atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) memberikan informasi lebih rinci terkait fungsi ventrikel, ukuran infark, viabilitas jaringan, serta karakterisasi jaringan, sehingga membantu dalam penilaian risiko. Tes diagnostik lainnya, seperti angiografi koroner, bermanfaat dalam mengidentifikasi penyakit arteri koroner yang mungkin memerlukan intervensi lebih lanjut. Biomarker juga memiliki peran penting dalam stratifikasi risiko dan prognosis pada RSV. Biomarker jantung seperti troponin, peptida natriuretik tipe B (B-Natriuretic Peptide atau BNP), dan peptida natriuretik pro-tipe B N-terminal (N-terminal pro-BNP atau NT-proBNP) dapat memberikan informasi mengenai luasnya cedera miokardium, disfungsi ventrikel, dan tingkat keparahan gagal Kadar biomarker yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan RSV. PEMERIKSAAN PENUNJANG MANAJEMEN Berbagai modalitas pencitraan memiliki peran penting dalam stratifikasi risiko pada RSV. Ekokardiografi merupakan modalitas utama yang digunakan untuk menilai ukuran, lokasi, dan perubahan hemodinamik pada RSV, serta untuk mengevaluasi fungsi ventrikel dan kelainan katup yang mungkin terkait. Ekokardiografi bersifat diagnostik dalam menilai ukuran dan lokasi shunt kiri-ke-kanan, fungsi biventrikular, serta adanya regurgitasi Kateterisasi jantung kanan dapat digunakan untuk mengevaluasi oksigenasi antara atrium kanan dan arteri pulmonal serta mengukur rasio aliran pulmonalsistemik yang meningkat . ergantung pada ukuran defe. Kateterisasi jantung kiri, yang biasanya dilakukan pada fase awal Pasien yang mengalami komplikasi mekanis setelah infark miokard akut memiliki risiko tinggi untuk mengalami kegagalan organ multisistem, sehingga membutuhkan manajemen perawatan kritis yang komprehensif guna mencegah disfungsi organ sistemik. Penanganan secara menyeluruh memerlukan kolaborasi yang solid dari tim multidisiplin dalam pengambilan keputusan di unit perawatan intensif jantung. Komplikasi mekanis dapat bervariasi dalam presentasi klinis, mulai dari gejala minimal hingga syok kardiogenik. Pada pasien dengan syok stadium B hingga E Society Cardiovascular Angiography Interventions, keterlibatan tim syok JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 41 Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V manajemen dapat meningkatkan hasil Tujuan utama dari manajemen awal RSV pasca-IMA hemodinamik, salah satunya dengan pengurangan beban kerja jantung melalui penggunaan vasodilator. Terapi vasodilator, seperti nitrogliserin atau nitroprusid, dapat dimulai jika tekanan darah sistolik (TDS) pasien lebih dari 90 mmHg. Penggunaan inotropik diperlukan untuk meningkatkan fungsi pompa jantung, menstabilkan kondisi pasien, dan mempersiapkan tindakan . Pengurangan afterload bertujuan untuk mengurangi aliran darah dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan melalui penggunaan IABP yang dikombinasikan dengan terapi farmakologi. Terapi ini digunakan pada lebih dari 80% kondisi darurat dan 65% kondisi mendesak. Dalam SHOCK Trial Registry. IABP digunakan pada 75% kasus RSV pasca-infark. Pemasangan IABP dalam waktu 30 menit dilaporkan dapat meningkatkan TDS rata-rata dari 81 mmHg menjadi 102 mmHg. Ketika pasien penggunaan ECMO dapat dipertimbangkan untuk mencegah kegagalan organ akhir dan berfungsi sebagai jembatan menuju kelayakan operasi. Pada pasien tanpa tanda klinis kegagalan organ akhir, penundaan memungkinkan pembentukan jaringan ikat atau jaringan parut di sekitar area ruptur, sehingga menciptakan jaringan yang lebih stabil untuk penjahitan dan menurunkan potensi kebocoran jahitan. Oleh karena itu, pasien dengan syok yang tidak mengalami kegagalan multiorgan berpotensi menjadi kandidat terbaik untuk operasi darurat (Gambar . Stabilisasi Mechanical Circulatory Support (MCS) seperti ECMO. Impella, dan TandemHeart dapat menjadi jembatan menuju terapi definitif. Tujuan utama MCS ventrikel kiri adalah untuk mengurangi beban kerja ventrikel kiri, sehingga mengurangi volume darah yang melewati shunt ke paru-paru. Hal ini dapat menurunkan edema paru dan meningkatkan pertukaran gas. MCS ventrikel kiri juga diperlukan untuk mengurangi risiko cedera paru akut dan sindrom Harlequin. Selain itu, penggunaan MCS ventrikel kiri dapat meminimalkan risiko trombosis pada ventrikel kiri atau aorta. Namun, tindakan ini juga memiliki kelemahan pada pasien dengan RSV, termasuk potensi penurunan oksigenasi darah. Pembedahan darurat diindikasikan pada pasien dengan syok kardiogenik dan edema paru yang tidak responsif terhadap dukungan sirkulasi Mortalitas yang lebih rendah dilaporkan pada pasien yang operasinya ditunda hingga satu minggu setelah diagnosis, meskipun hasil ini dapat dipengaruhi oleh bias. Penundaan operasi pada pasien yang stabil secara hemodinamik dianggap rasional untuk menghindari perdarahan akibat penggunaan obat antiplatelet dan memungkinkan persiapan pasien yang lebih optimal untuk hasil akhir yang baik. Peningkatan mortalitas juga dilaporkan berkaitan dengan tindakan termasuk trombolisis dan IKP yang mungkin disebabkan oleh risiko perdarahan yang lebih tinggi setelah prosedur tersebut, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan . MECHANICAL CIRCULATORY SUPPORT (MCS) Sesuai pedoman saat ini. IABP merupakan strategi Mechanical Circulatory Support (MCS) lini pertama pada pasien dengan syok kardiogenik akibat komplikasi mekanis pasca-IMA. Penggunaan dan pemasangan MCS mempunyai efek pada hemodinamik yang berbeda sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Tabel 2. Gambar JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 42 Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern . Penggunaan IABP pada pasien dengan RSV telah dilakukan sejak tahun 1980-an, dan memberikan efek pengurangan afterload, yang menurunkan tekanan kontraktilitas dan meningkatkan curah jantung, sekaligus mengurangi shunting dari kiri ke kanan. Meskipun merupakan jenis MCS yang paling aman dan paling hemat biaya, penggunaan IABP tidak cukup digunakan pada kondisi pasien yang lebih . pasien dengan RSV. VA ECMO telah digunakan sebagai jembatan menuju operasi untuk pasien yang sering dianggap tidak dapat dioperasi atau bahkan sebagai dukungan untuk penutupan perkutan. EMCO juga dapat digunakan pada pasien sadar untuk menghindari komplikasi terkait ventilator sebelum intervensi. Oksigenasi deoksigenasi sistemik dalam kasus inversi shunt yang tidak terduga. Meskipun kanulasi perifer dan sentral keduanya mungkin, implantasi awal dan perifer sering dianjurkan dalam setting ini untuk stabilisasi hemodinamik yang terus Penggunaan EMCO memungkinkan dalam waktu yang lebih lama dengan tingkat komplikasi yang lebih . Vena Arterial Extracorporeal Membrane Oxygenation (VA ECMO) adalah perangkat oksigenasi dari sistem vena dan dialirkan ke arteri yang saat ini telah digunakan lebih luas untuk stabilisasi hemodinamik dan dukungan kardiorespirasi pada pasien dengan syok kardiogenik refrakter. Pada Tabel 2. Efek Hemodinamik MCS pada Jantung dan Sirkulasi . MCS Afterload Preload PAP CVP IABP VA ECMO Impella Ic Ie IcIcIc IeIe IcIcIc IeIeIe Ie IcIc IeIeIe Ie Ie IeIe Ie Ie IeIe LV Wall Stress Ie IcIcIc IeIeIe RV Wall Stress Ie IcIcIc IeIeIe TandemHeart IcIcIc IeIeIe IeIe IeIe Ie IeIe IeIeIe VA ECMO IABP Ic Ie IeIe IeIe Ic Ie Ie VA ECMO Impella Ie or Ii IeIeIe IeIeIe IeIeIe IcIc IeIeIe IeIeIe VA ECMO PA Canulla Ie IeIeIe IeIeIe IeIeIe Ic IeIe IeIeIe TandemHeart Impella Ie or Ii IeIeIe IeIeIe IeIeIe IcIc IeIeIe IeIeIe LVAD IeIeIe IeIeIe IeIeIe IeIe IcIcIc IeIeIe IeIeIe CO = Cardiac Output. CVP = Central Venous Pressure. PAP = Pulmonary Artery Pressure. PCWP = Pulmonary Capillary Wedge Pressure. LV = Left Ventricular. RV = Right Ventricular Impella adalah pompa mikroaksial mengurangi beban ventrikel kiri atau ventrikel kanan ke arteri pulmonal atau aorta, atau keduanya. Secara tradisional. Impella dikontraindikasikan pada pasien dengan trombus ventrikel. RSV juga telah dianggap sebagai kontraindikasi untuk Impella, karena risiko embolisasi akibat aspirasi debris miokard nekrotik. Pada Shunt Ie IcIcIc IeIeIe or IeIe Ii IeIeIe Ii pasien dengan RSV. Impella dapat membantu stabilisasi hemodinamik melalui pengurangan beban ventrikel kiri, sehingga mengurangi stres dinding miokard. Selain itu, impella dapat mengurangi shunt sehingga mengurangi kelebihan beban ventrikel kanan, sehingga mengurangi kongesti paru. Namun, pada pasien RSV. Impella berbasis Ventrikel kiri berisiko menyebabkan inversi shunt interventrikular JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 43 Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V . anan ke kir. , yang menyebabkan desaturasi sistemik dengan risiko hipoksia koroner dan otak. Untuk menghindari venovenous ECMO (VV EMCO) sangat direkomendasikan . Gambar 3. Efek Hemodinamik MCS . TandemHeart adalah Ventricular Assist Device (VAD) arteri femoral atrium kiri perkutan dengan pompa sentrifugal aliran kontinu ekstrakorporeal. namun dapat digunakan untuk jantung kanan. Berbeda dari Impella. TandemHeart juga dapat digunakan untuk pasien dengan Left Ventricular (LV) trombus dan memiliki risiko lebih rendah hemolisis. Drainase atrium kiri memungkinkan pengurangan beban ventrikel kiri dengan pengurangan preload, menghindari risiko aspirasi debris nekrotik dengan Impella. Namun, perlu diperhatikan bahwa unloading yang berlebihan dapat menyebabkan inversi shunt, yang dapat mengakibatkan cedera otak hipoksik. Selain itu, drainase yang peningkatan afterload seperti pada VA ECMO dapat mengganggu pembukaan AV, sehingga meningkatkan stres dinding dan membatasi efek positif dari unloading ventrikel kiri. Batasan dari TandemHeart mencakup komplikasi terkait akses vaskular serta kesulitan dalam posisi yang berkaitan dengan tusukan transseptal, dengan risiko terkait malposisi atau pelepasan kanula . PENUTUPAN TRANSKATETER Strategi intervensi perkutan untuk penutupan defek septum ventrikel pascainfark mulai diperkenalkan pada tahun 1988 oleh Lock dan rekan-rekan. Penutupan penutup dapat menjadi alternatif dalam beberapa situasi, termasuk: . sebagai terapi akut dalam tiga hingga lima hari setelah Ruptur Septum Ventrikel (RSV) terdeteksi, . sebagai terapi subakut setelah terjadi remodeling jaringan dan . penyelamatan setelah pembedahan atau adanya shunt substansial residu . Pembedahan untuk RSV memiliki risiko yang sangat tinggi, sehingga beberapa faktor penting perlu dipertimbangkan, seperti waktu penutupan dan keputusan untuk melakukan penutupan RSV primer atau perbaikan setelah pembedahan . Penutupan RSV secara perkutan menawarkan manfaat pengurangan shunt dini, yang dapat membantu meminimalkan penurunan kondisi hemodinamik. Prosedur ini juga dianggap sebagai alternatif yang layak untuk perbaikan prabedah, mengingat tingkat keberhasilannya yang tinggi (Gambar . RSV pasca-infark memiliki prognosis yang buruk jika tidak ditangani dengan segera. Sebagian besar pasien yang menjalani penutupan defek septum dalam kondisi akut dilaporkan memiliki tingkat mortalitas yang tinggi, terutama akibat kegagalan multiorgan selama perawatan rawat inap. Namun, pasien yang bertahan cenderung memiliki hasil jangka menengah hingga jangka panjang yang lebih baik. Oleh karena itu, penutupan perkutan RSV pascainfark dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk perbaikan prabedah . Mengingat sebelumnya, evaluasi yang menyeluruh oleh JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 44 Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern tim multidisiplin sangat penting dalam menentukan pilihan terapi terbaik . edah versus pendekatan intervensi perkuta. berdasarkan kompleksitas defek RSV. Prosedur keberhasilan dan presisi yang tinggi, meskipun masih menjadi area yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Hasil akhir selanjutnya yang terkait dengan prosedur ini belum sepenuhnya dipahami, pengelolaan harus mempertimbangkan profil pasien serta keahlian tim medis yang Laporan penutupan atrial septal defect (ASD), yang dilaporkan memiliki risiko hemolisis lebih rendah karena profil hemodinamik yang lebih baik dibandingkan dengan perangkat penutupan Ventricular Septal Defect (VSD). Gambar 4. Ilustrasi penutupan perkutan RSV. PEMBEDAHAN Pedoman dari American College of Cardiology Foundation (ACCF) dan American Heart Association (AHA) merekomendasikan penutupan segera pada ruptur septum ventrikel (RSV) setelah infark miokard akut (IMA), hemodinamik saat diagnosis. Studi menunjukkan bahwa waktu antara diagnosa RSV dan pembedahan merupakan faktor kelangsungan hidup atau mortalitas pada pasien dengan RSV pasca-infark. Meskipun ada konsensus di antara para ahli tentang perlunya perbaikan prabedah, waktu yang optimal untuk intervensi masih belum . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembedahan yang dilakukan lebih awal pada pasien RSV dapat meningkatkan risiko Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan hemodinamik dan cedera iskemik-reperfusi pada miokardium yang mengalami infark, yang memperparah kerusakan jaringan. Miokardium yang mengalami infark membutuhkan waktu untuk memulihkan jaringan otot jantung yang mengalami nekrosis. Pada fase awal setelah IMA, miokardium yang terkena infark masih rapuh, sehingga menyulitkan spesialis bedah untuk bekerja di sekitar robekan septum dengan aman, yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya laserasi dan defek septal berulang. Interval pendek antara IMA dan RSV juga menunjukkan iskemia parah dan kurangnya sirkulasi kolateral. Keuntungan dari peningkatan kekuatan miokardium yang mengalami infark, yang mempermudah proses perbaikan bedah dan mengurangi risiko defek berulang atau residu. Penundaan pembedahan RSV paska IMA memungkinkan jantung dan sistem tubuh lainnya beradaptasi dengan perubahan hemodinamik akibat shunt kiri-ke-kanan. Ini juga memberi waktu bagi pembentukan sirkulasi kolateral jantung, serta adaptasi tubuh terhadap perubahan hemodinamik yang terjadi. Panduan European Society Cardiology (ESC) menyatakan bahwa belum ada kesepakatan di antara para ahli mengenai waktu optimal untuk melakukan penutupan RSV. Waktu ideal untuk operasi tampaknya adalah setelah proses penyembuhan fibrotik pada otot yang mengalami nekrosis. Namun, studi histologis menunjukkan bahwa proliferasi jaringan ikat baru muncul pada minggu ketiga pasca- JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 45 Rosyidi MA. Anjarwati S. Yogibuana V Selain itu, pada sejumlah besar memungkinkan karena risiko gagal jantung berat dan disfungsi organ yang sangat tinggi. Pada kasus seperti itu, pembedahan segera setelah diagnosis RSV adalah tindakan logis untuk mencegah penurunan hemodinamik lebih lanjut. Bagi pasien yang mengalami gangguan hemodinamik berat, penggunaan alat bantu ventrikel seperti IABP atau ECMO sebelum operasi dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasca-RSV. IABP berguna dalam mengurangi afterload pada ventrikel kiri dan meningkatkan perfusi koroner, namun tidak selalu efektif pada semua pasien. TANTANGAN DI INDONESIA Kejadin RSV pasca-IMA di Indonesia masih belum ada data yang lengkap. Tantangan dalam penanganan RSV di Indonesia meliputi keterbatasan akses terhadap fasilitas baik diagnostik, penunjang, maupun definitif, keterlambatan rujukan, dan biaya Penatalaksanaan melibatkan stabilisasi awal dengan terapi farmakologis dan dukungan mekanis, diikuti dengan koreksi definitif melalui pembedahan atau penutupan transkateter sudah bisa dilakukan di Indonesia walaupaun dengan keterbatasan Upaya perbaikan mencakup penguatan sistem rujukan, pelatihan tenaga medis, dan kardiovaskular dapat meningkatkan hasil pengobatan dan kualitas hidup Pasien. KESIMPULAN Gambar 5. Teknik pembedahan RSV . Pembedahan dengan teknik "extended sandwich patch" dirancang untuk memenuhi beberapa persyaratan utama dalam pembedahan pada ruptur septum ventrikel (RSV) (Gambar . Persyaratan tersebut mencakup penggunaan tambalan yang cukup besar di sisi ventrikel kiri (LV), fiksasi tambalan yang kuat, minimnya kerusakan fungsi LV, serta prosedur yang relatif Teknik ini menggunakan tambalan ganda berukuran besar yang difiksasi dengan jahitan matras transmural besar yang melingkar, dan dilakukan melalui insisi pada ventrikel kanan. Namun, terdapat kekhawatiran mengenai kurangnya data jangka panjang pada teknik ini. Oleh karena itu, hasil klinis dan evaluasi ekokardiografis jangka pendek dan menengah perlu dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan teknik ini. Pembedahan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengobati ruptur septum ventrikel (RSV) guna mencapai hasil kelangsungan hidup yang lebih baik. Namun, waktu pelaksanaan operasi dan tingkat keparahan syok saat pasien pertama kali datang juga sangat memengaruhi prognosis RSV. Angka mortalitas pada fase awal tetap kemajuan dalam tatalaksana IMA dan teknik bedah untuk perbaikan RSV dalam 20 tahun Penutupan RSV secara transkateter keberhasilan teknis yang tinggi dan komplikasi prosedural yang minimal, tetapi masih dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi dalam kondisi akut. Pasien dengan hemodinamik yang stabil, serta dapat bertahan selama masa observasi yang cukup mungkin dapat dipertimbangkan untuk penutupan transkateter. Pasien yang diobati pada fase subakut dan bertahan hingga keluar dari rumah sakit umumnya JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 46 Optimalisasi Hasil pada Ruptur Septal Ventrikel : Strategi Integratif dan Tantangan Modern memiliki prognosis jangka panjang yang DAFTAR PUSTAKA