Journal for Quality in Women's Health Vol. 3 No. 1 Maret 2020 | pp. 72 Ae 77 p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) Pada Bayi Usia 0-1 Tahun Di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto Dyah Siwi Hety. Ika Yuni Susanti Sekolah Tinggi Ilmu Majapahit Mojokerto Corresponding author: Dyah Siwi Hety . yahsiwi11@gmail. Received: December, 16 2019. Accepted: January, 19 2020. Published: March, 15 2020 ABSTRAK Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan sesuai Imunisasi juga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti efek panas setelah imunisasi PDT (Pertusis Difteri Tetanu. dan Campak. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan rancang bangun survey. Variabel penelitian adalah pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun. Populasi dalam penelitian seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0-1 tahun sebanyak 36 orang dan sampel sebanyak 36 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling tipe total sampling. Penelitian dilakukan di Puskesmas Mojosari Mojokerto pada September 2019 Ae Pebruari 2020. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Pengolahan data dengan cara editing, coding, scoring, tabulating dan dianalisis dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengah responden memiliki cara yang kurang dalam menangani tanda dan gejala pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun sebanyak 15 responden . ,7%). Kesimpulan penelitian adalah pengetahuan ibu tentang cara penanganan kejadian ikutan pasca imunisasi pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Mojokerto adalah kurang. Kata Kunci: Pengetahuan. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Balita This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. PENDAHULUAN Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan sesuai standar sehingga mampu memutus mata rantai penularan penyakit serta menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit (Depkes RI, 2. Imunisasi juga dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan seperti efek panas setelah imunisasi DPT dan campak. Sebetulnya, masih ada efek lain daripada itu seperti sakit pada tempat suntikan, warna kemerahan di sekitar bekas tempat suntikan, anak Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan A. yang menangis terus menerus setelah mendapat imunisasi DPT. Kejadiannya agak jarang, sehingga sering luput dari perhatian orangtua balita (Narulita, 2. WHO (Global Immunization Dat. tahun 2010 menyebutkan 1,5 juta anak meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan hampir 17% kematian pada anak < 5 tahun dapat dicegah dengan imunisasi. Laporan dari Jurnal Kesehatan The Lancet menyebutkan bahwa 7. 000 bayi meninggal dunia setiap harinya dan 98% terjadi di negara-negara Miskin. Negara yang paling tinggi kasus kematian ibu dan bayi adalah negaranegara di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Angka kematian bayi di Indonesia sebesar 34 bayi / 1. 000 kelahiran hidup. Jumlah tersebut tidak terlalu mengesankan karena apabila dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu perubahannya hanya sedikit. Penyebab utama kematian bayi di Indonesia adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ) sebanyak 37%, dan 50% kematian bayi dan balita berkaitan dengan masalah kekurangan gizi. 13% penyebab lainnya adalah penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi seperti campak dan TBC. Jika program imunisasi dilaksanakan dengan baik dan menyeluruh maka keefektifan imunisasi dapat dicapai secara maksimal, dan akan berpengaruh terhadap AKB (Kompas, 2010 dalam Elviani 2. Cakupan imunisasi dasar lengkap di Jawa Timur tahun 2018 sebesar 92,5% (Profil Dinkes Jatim, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Mojosari kepada 5 ibu yang mempunyai bayi usia 0-1 tahun dengan metode wawancara, didapatkan bahwa 1 ibu yang tidak mengimunisasikan bayinya, 2 ibu yang mengimunisasikan bayinya secara tidak lengkap dan 2 ibu yang mengimunisasikan secara lengkap. Gejala klinis pasca imunisasi dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya. Tanda dan gejala yang muncul dari efek samping setelah imunisasi pada bayi satu dengan yang lain akan berbeda, tergantung daya tahan tubuh bayi. Beberapa bayi akan akan sulit tidur, lebih mudah menangis dan gelisah. Hal tersebut bukan karena vaksin yang tidak cocok, namun disebabkan karena naiknya suhu badan yang membuat bayi anda tidak nyaman. Bahkan berhasil atau tidaknya imunisasi bisa dilihat setelah dilakukan imunisasi, dengan tanda perubahan suhu tubuh bayi yang meningkat atau bengkak disekitar area suntikan. Efek samping imunisasi, seperti peningkatan suhu tubuh sering membuat orangtua panik, serba salah bahkan ikut menangis melihat kondisi bayi (Susanti, 2. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan . ragmatic error. Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi (Dokter Anak Indonesia, 2. Penangulangan kecemasan ibu dalam mengatasi efek samping dari imunisasi bidan harus memberikan pendidikan kesehatan ini sebelum imunisasi diberikan pada anak dengan cara memberikan informasi atau penyuluhan pada orang tua tentang imunisasi, dan memberikan penjelasan pada ibu yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan anak melalui pencegahan penyakit dengan imunisasi supaya dapat memberikan pemahaman yang Pada akhirnya diharapkan adanya kesadaran orang tua untuk memelihara kesehatan anak sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak khususnya (Kemenkes RI, 2. METODE Jenis penelitian deskriptif dengan rancang bangun penelitian survey. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah pengetahuan ibu tentang cara penanganan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto sebanyak 36 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Journal for Quality in Women's Health Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan A. Mojosari Kabupaten Mojokerto sebanyak 36 orang. Penelitian menggunakan non probability sampling tipe sampling jenuh . otal samplin. Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto. Waktu dilaksanakan pada September 2019 Ae Februari 2020. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Teknik pengolahan data dilakukan melalui proses : editing, coding, scoring dan tabulating kemudian dianalisis menggunakan HASIL Cakupan Imunisasi dalam 5 Tahun Terakhir di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto Tabel 1 Cakupan Imunisasi dalam 5 Tahun Terakhir di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto Tahun Cakupan Imunisasi (%) Pada tabel 1 menunjukkan bahwa cakupan imunisasi di Puskesmas Mojosari hampir seluruh bayi telah memperoleh imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG. Hepatitis B. DPT-HB. Polio dan Campak. Pengetahuan Ibu dalam Menangani kejadian Ikutan Pasca imunisasi (KIPI) pada Bayi usia 0-1 Tahun di Puskesmas Mojosari Kabupten Mojokerto Tabel 2 Distribusi Frekuensi pengetahuan ibu dalam menangani kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto pada September 2019 - Pebruari 2020 Pengetahuan Ibu Frekuensi . Persentase (%) Baik Cukup Kurang Jumlah Pada tabel 2 menunjukkan bahwa hampir setengah responden memiliki pengetahuan yang kurang dalam menangani kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun sebanyak 15 responden . ,7%). PEMBAHASAN Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu (Hidayat, 2. Efek samping imunisasi yang umum ialah warna merah dan nyeri di tempat injeksi serta demam ringan. Reaksi yang lebih serius terhadap imunisasi jarang sekali. Ibu mungkin dapat memberinya parasetamol untuk membantu mengurangi demam dan rasa nyeri. Efek samping lainnya amat jarang tetapi bila memang terjadi, segeralah konsultasikan kepada dokter (Commonwealth of Australia, 2. Reaksi umum pasca pemberian imunisasi adalah demam tinggi >38,5AC. Bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik sejenis paracetamol atau lainnya. Gunakan termometer untuk melihat perkembangan suhu tubuh bayi. Peningkatan suhu tubuh bayi setelah imunisasi antara, 38- 40AC, dan akan menurun dengan sendirinya dalam waktu 1-2 Journal for Quality in Women's Health Pengetahuan Ibu Tentang Cara Penanganan A. Apabila terjadi demam, kompres menggunakan air hangat, pengompresan dengan air dingin, meningkatkan resiko terjadi kejang (Narulita, 2. Efek samping dari imunisasi DPT ( Diphteri. Pertusis. Tetanus ) adalah timbulnya rasa nyeri pada tempat penyuntikan disertai demam ringan selama 1-2 hari. Cara mengatasinya adalah dengan mendekap bayi, agar bayi dapat meningkatkan zat anti nyeri untuk menurunkan rasa sakit bekas suntikan (Narulita, 2. Reaksi normal dari efek samping imunisasi BCG adalah setelah 2-3 minggu pada tempat penyuntikan akan terjadi pembengkakan kecil berwarna merah kemudian akan menjadi luka dengan diameter 10 mm. Cara mengatasinya adalah dengan memberikan kompres air hangat untuk mengurangi pembengkakan daerah suntikan. Kemudian lakukan pemijatan halus, agar bayi merasa lebih nyaman (Susanti, 2. Reaksi umum dari imunisasi campak adalah munculnya bintik-bintik agak merah . idak menula. Bintik-bintik merah biasanya di tempat injeksi yang terkadang juga di bagian tubuh lainnya. Untuk pengobatan oles pada kulit misalnya dengan pemberian krim biasanya yang mengandung steroid rendah, tapi hal ini harus sesuai dengan anjuran dokter. Berikan bedak . alcum powde. karena bedak bisa mengiritasi kulit bayi. Sebaiknya optimalkan pemberian ASI ekslusif karena ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi Anda yang cukup efektif mencegah dan meringankan alergi. Salah satu tanda dan gejala dari imunisasi campak adalah terjadi pembengkakan pada mata. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan kompres air hangat area mata secara keseluruhan selama beberapa menit setelah bangun tidur (Narulita, 2. Hasil penelitian ini mengindikasikan pengetahuan ibu tentang kejadian ikutan pasca imunisasi kurang sehingga dalam mengambil keputusan dalam penanganan bayi usia 0-1 tahun kurang tepat. Ibu mempunyai cara yang kurang dalam menangani gejala pasca imunisasi, hal ini dibuktikan dari jawaban reponden yang menunjukan tidak memberikan banyak minum cairan . ir putih atau sus. untuk mempercepat proses pemulihan pada bayi dan tidak memberikan asetaminofen . untuk mengurangi nyeri. Ketakutan yang dirasakan ibu tentang adanya efek samping dari imunisasi pada bayinya seperti demam dan kemerahan ditempat suntikan, kemudian pecah menjadi luka dan meninggalkan bekas. Ibu lebih memusatkan perhatiannya pada bayinya saja dan berusaha untuk mengatasi efek samping imunisasi yang dialami balitanya akan tetapi dengan cara yang salah. KESIMPULAN Pengetahuan ibu tentang cara menangani kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto adalah kurang yaitu sebanyak 15 responden . ,7%). REFERENSI