KESKOM. :1-6 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. Determinan Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana Di Wilayah Kerja Puskesmas Tenayan Raya Pekanbaru Tahun 2018 Determinants of menAos participation in family planning in the working area of Health Centre Tenayan Raya Sidri Rizqi Yuniati1. Donel Suheimi2. Nurhapipa3. Oktavia Dewi4. Nurlisis5 Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNRI. RSUD AriAn Achmad Pekanbaru 3,4,5 STIKes Hang Tuah Pekanbaru ABSTRACT ABSTRAK A family planning program is a program to help couples or someone to prevent unwanted pregnancies and reduce the incidence of high-risk pregnancies, morbidity and mortality, create quality and aAordable services, increase male par cipa on and responsibility in family planning prac ces. The purpose of this study was to determine the determinants of male par cipa on in family planning. This research is quan ta ve analy c using an observa onal method with a type of case-control design. This study was conducted in August-September 2018 in the working area of the inpa ent health care center. The popula on of all men of childbearing age who are in the working area of the puskesmas is the large popula on of the case popula on of 712 people and the control popula on of 21,480 people. Research sample of 360 men couples of reproduc ve age divided into 2 groups, namely the case 180 group and the control group 180. purposive sampling sampling technique Data analysis was carried out in univariate, bivariate and mul variate. This research is quan ta ve analy c using an observa onal method with a type of case-control design. This study was conducted in August-September 2018 in the working area of the inpa ent health care center. The popula on of all men of childbearing age who are in the working area of the puskesmas is the large popula on of the case popula on of 712 people and the control popula on of 21,480 people. Research sample of 360 men couples of reproduc ve age divided into 2 groups, namely the case 180 group and the control group 180. purposive sampling sampling technique Data analysis was carried out in univariate, bivariate and mul variate. Conclusion The dominant variable with male par cipa on in family planning is the a tude variable. Sugges ons Health workers are expected to do more counseling about male family planning, pu ng up posters, and leaCets about male family Keywords : Family Planning. Men Couples of childbearing age. Par cipa on Peran serta kaum pria dalam mensukseskan program nasional KB dak boleh berhen hanya sampai tahap memberikan ijin kepada istri tetapi kaum pria harus juga secara ak f memanfaatkan pelayanan kontasepsi khusus bagi pria. Secara global par sipasi pria dalam pemakaian kontrasepsi sangat mendukung seper Korea 27%. Srilangka 26%. Pilipina 24%. China 11%. Thailand 9%. Bangladesh 5% sementara Indonesia hanya 4%. Tujuan peneli an ini adalah untuk mengetahui determinan par sipasi pria dalam keluarga berencana. Peneli an ini bersifat kuan ta f anali k menggunakan metode observasional dengan jenis desain case-control. Peneli an dilakukan pada bulan Agustus-September 2018 di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Tenayan Raya. Populasi seluruh pria PUS yang berada di wilayah kerja puskesmas tenayan raya populasi kasus 712 orang dan populasi kontrol 21. 480 orang. Sampel peneli an 360 Pria PUS yang dibagi 2 kelompok yaitu kelompok kasus 180 dan kelompok kontrol 180. Teknik sampling adalah Purposive Sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan mul variat Hasil analisis mul variat regresi logis k ganda yang diperoleh Pengetahuan. Pria PUS yang mempunyai pengetahuan kurang baik dak akan menggunakan KB sebesar 1,5 kali lebih besar dibandingkan Pria PUS yang pengetahuannya baik. Sikap. Pria PUS yang mempunyai Nega f dak akan menggunakan KB sebesar 2 kali lebih besar dibandingkan Pria PUS yang mempunyai sikap posi f. Pelayanan petugas yang kurang baik dak akan menggunakan KB sebesar 1,3 kali dari pada pria PUS yang mempunyai pelayanan yang baik, pria PUS yang jumlah anak O dak akan menggunakan KB sebesar 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan pria PUS yang mempunyai jumlah anak > 2. Variabel yang dominan dengan par sipasi pria dalam keluarga berencana adalah variabel sikap. Saran diharapkan petugas kesehatan untuk lebih banyak melakukan penyuluhan tentang KB pria, memasang poster, dan leaCet tentang KB Pria. Kata Kunci : perilaku resiko, pela han dan pengawasan Correspondence : Sidri Rizqi Yunia . Jl. Alam Raya. Perum. Putri Indah 2. Blok Manggis. No. Kec. Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Email : sidririzqi@gmail. com, 0852 6520 0370 A Received 18 Oktober 2018 A Accepted 03 Januari 2019 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol5. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. April 2019 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Indonesia urutan penduduk terbanyak keempat di dunia. Berdasarkan informasi Badan Pusat Sta s k (BPS) jumlah penduduk Indonesia adalah 258. jiwa pada tahun 2016. Jumlah penduduk mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2015,sekitar 8,5 % atau bertambah 200 jiwa dengan berjumlah 238. 800 jiwa Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan par sipasi seluruh pasangan usia subur (BAPPENAS, 2. Menurut data Susenas 2015 dari 33 provinsi di Indonesia, persentase PUS di Indonesia yang ter nggi yang menggunakan KB di daerah Kalimantan selatan 70,13% sedangkan yang terendah didaerah Papua yaitu 23,37% (BPS, 2. Par sipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB) dapat bersifat langsung dan dak langsung. Par sipasi pria secara langsung dalam program KB adalah menggunakan salah satu cara atau metode pencegahan kehamilan seper :vasektomi (MOP/Kontap pri. , kondom, senggama terputus, dan patang Sedangkan par sipasi pria secara dak langsung dalam program KB yaitu menganjurkan, mendukung, atau memberikan kebebasan kepada pasangannya . untuk menggunakan kontrasepsi (Irianto 2. Keluarga Berencana (KB) adalah cara untuk menjarakkan kelahiran anak atau mengontrol jumlah anak, menghindari kehamilan yang bersifat sementara dengan menggunakan kontrasepsi sedang untuk menghen kan dapat dilakukan. Program keluarga berencana adalah suatu program untuk membantu para pasangan atau seseorang untuk mencegah kehamilan yang dak diinginkan dan mengurangi insiden kehamilan beresiko nggi, kesakitan dan kema an, membuat pelayanan yang bermutu dan terjangkauserta meningkatkan par sipasi dan tanggungjawab pria dalam prak k KB (Irianto. Peran serta kaum pria dalam mensukseskan program nasional KB dak boleh berhen hanya sampai tahap memberikan ijin kepada istri tetapi kaum pria harus juga secara ak f memanfaatkan pelayanan kontasepsi khusus bagi pria. Secara global par sipasi pria dalam pemakaian kontrasepsisangat mendukung seper Korea 27%. Srilangka 26%. Pilipina 24%. China 11%. Thailand 9%. Bangladesh 5% sementara Indonesia hanya 4%(Andriani dkk, 2. Berdasarkan hasil proyeksi, jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat menjadi 305,6 juta jiwa pada tahun 2035 (BPS. Program KB (Keluarga Berencan. sebagai program pengendalian penduduk, menjadi agenda prioritas di Indonesia. Terdapat beberapa sasaran dalam Buku I RPJMN 2015-2019 yang harus dicapai dalam Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana. Menurut data Badan Pusat Sta s k (BPS) h p://jurnal. 2017 jumlah penduduk Riau 2017 adalah 6. 911 jiwa. Dari 20 Kabubapaten/Kota penduduk yang terbanyak adalah Kota Pekanbaru dengan jumlah penduduk 1. 088 jiwa. Jumlah penduduk kota Pekanbaru mengalami peningkatan selama ga tahun terakhir (BPS Riau 2. Provinsi Riau saat ini pencapaian peserta KB baru berdasarkan laporan Juni 2018 peserta KB baru tercatat sebanyak 592 akseptor atau 35,1 % dari PPM yang telah ditetapkan untuk Riau sebesar 209. 390 calon akseptor. Dengan rincian alat kontrasepsi yang digunakan Sun k 38,3%. Pil 29,9%. Kondom 24,5%. Implan 39,8% . IUD 40,4%. MOW 66,2% dan MOP 15,8%. Dari hasil tersebut terlihat masih rendahnya keikutsertaan pria dalam ber- KB 24,5% dan peserta KB MKJP 42,1%. Selain itu. Pencapain KB wanita yang belum Merata seta adanya wanita yg dak bisa berKB atau ada resiko yang harus ditanggung wanita berKB makan diharapkan pada Pria untuk ikut serta dalam berKB, pria beranggapan KB itu hanya wanita saja yang bisa berKB (BKKBN, 2. Jumlah PUS di Kota Pekanbaru Tahun 2017 adalah 160. Akseptor MOP 252 orang. Akseptor Kondom 4. 237 orang dan Data PUS di Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru dari Januari Ae Desember 2017 dilaporkan bahwa jumlah PUS 20. 589 Akseptor KB ak f sebanyak 14,401 antara lain Akseptor pil 4. 115 orang. Akseptor sun k 4. Akseptor AKDR 2. Akseptor implant 022 orang. Akseptor MOW 528 orang. Akseptor MOP 13 orang. Akseptor Kondom 720 orang (BKKBN, 2. Ada beberapa alasan yang menyebabkan mengapa par sipasi pria di Indonesia sangat rendah, menurut Soemarji dalam BKKBN . dikarenakan keterbatasan pengetahuan suami tentang kesehatan reproduksi serta paradigma yang berkaitan dengan budaya patriarki yang masih dianut di Indonesia dimana peran pria lebih besar daripada wanita. Selain itu, sudah tercipta mindset dimasyarakat bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu adalah urusan wanita. Untuk itu pen ng adanya kesetaraan gender dalam mendukung keberhasilan jalannya program Kelurga Berencana (KB) (BKKBN, 2. Menurut Peneli an (Yuswa ning & Hariyono, 2. rendahnya par sipasi pria karena keterbatasan metode kontrasepsi yang tersedia bagi pria. Rendahnya par sipasi pria dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi pada dasarnya dak terlepas dari operasional program KB yang selama ini dilaksanakan mengarah kepada wanita sebagai sasaran. Demikian juga masalah penyediaan alat kontrasepsi yang hampir semuanya untuk wanita, sehingga terbentuk pola pikir bahwa para pengelola dan pelaksana program mempunyai persepsi yang dominan yakni yang hamil dan melahirkan adalah wanita, maka wanitalah yang harus menggunakan alat kontrasepsi (Irianto, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya par sipasi pria dalam KB diantaranya karena terbatasnya sosialisasi dan promosi Sidri, et al Determinan Par sipasi Pria Dalam Keluarga Berencana Determinants of Male Par cipa on in Family Planning KB pria, adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB, terbatasnya akses pelayanan KB pria, ngginya harga yang harus dibayar untuk MOP (Metode Operasi Pri. , adanya ke daknyamanan dalam penggunaan KB pria . , terbatasnya metode kontrasepsi pria, rendahnya pengetahuan pria terhadap KB, kualitas pelayanan KB pria belum memadai. Dampak dari kualitas pelayanan adalah pengetahuan akseptor, kepuasan akseptor, kesehatan akseptor, penggunaan kontrasepsi penerimaan dan kelangsungannya (Muha ah, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan peneli di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru dengan mewawancarai 15 Pria PUS diperoleh diantaranya 6 pria yang m e n g g u n a ka n ko nt ra s e ps i ko n d o m , 3 P r i a awa l nya menggunakan kontrasepsi kondom namun karena dak nyaman akhirnya berhen ber-KB dan 6 Pria lagi sama sekali dak menggunakan kontrasepsi di karenakan 3 orang Kurang paham tentang KB pria, 3 orang karna istri sudah menggunakan KB. Dari 12 Kelurahan di Pekanbaru, wilayah kerja Puskesmas Tenayan Raya Pekanbaru angka PUS Ter nggi ke 2 tetapi pengguna Akseptor KB ak f masih rendah. Rendahnya jumlah par sispasi pria dalam KB. Tujuan dari penelian ini untuk mengetahui determinan apa saja yang mempengaruhi par sipasi pria dalam keluarga berencana yaitu tentang Pengetahuan tentang KB. Sikap pria tentang KB, pendidikan tentang KB. Sosial Budaya tentang KB. Jumlah anak. Akses Pelayanan KB dan Pelayanan petugas Dari analisis bivariat . ihat tabel . didapatkan dari 7 variabel independen, ada 2 variabel yang berhubungan signiAkan . <0,. dengan at risk behavior pada pengemudi mobil sampah, yaitu pela han . value = 0,. dan pengawasan . value = 0,. Pengemudi yang dak mendapatkan pela han berpengaruh 2,6 kali melakukan at Risk Behavior dibandingkan dengan pengemudi yang mendapatkan pela han dan Pengemudi yang dak ada pengawasan berpengaruh 3,1 kali melakukan at Risk Behavior dibandingkan dengan pengemudi yang ada pengawasan. Tidak menggunakan KB), pengambilan sampel secara purposive Variabel dependen Par sispasi pria dalam ber KB dan variabel independen pengetahuan, sikap, pendidikan, sosial budaya, akses pelayanan, pelayanan petugas dan jumlah anak. Skala ukur semua variabel independen yaitu skala Ordinal dengan hasil ukur pengetahuan dengan hasil ukur . Kurang Baik = OMedian 10. Baik = >Median 10, sikap dengan hasil ukur. Nega f < median 11. Posi f Ou median 11, pendidikan dengan hasil ukur. Pendidikan Tinggi = 1. Pendidikan rendah = 0, sosial budaya dengan hasil ukur. Tidak mendukung < median 6. Mendukung Ou median 6, akses Pelayanan KB dengan hasil ukur. Mudah Mengakses = 1. Sulit Mengakses = 0, jumlah anak dengan hasil ukur jumlah anak O 2 = 0. Jumlah anak > 2 = 1. Hasil analisis bivariat dengan chi-square dengan menggunakan taraf signiAkan 0,05, dan mul variat regresi logis k ganda. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Analisis Univariat METODE Peneli an ini bersifat kuan ta f anali k observasional dengan desain peneli an case control. Peneli an dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tenayan Raya Pekanbaru 2018 dan waktu peneli an bulan Agustus- September Tahun 2018. Populasi peneli an Pria PUS yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Tenayan Raya Pekanbaru, populasi Kasus: Semua Pria PUS yang Menggunakan KB berjumlah 712 orang dan populasi Kontrol: Semua Pria PUS yang dak menggunakan KB berjumlah 480 orang. Sampel peneli an dengan menentukan oods ra o hasil peneli an terdahulu dengan alpa 5%, sampel diperlukan 180 Jumlah kasus (Pria Menggunakan KB) dan 180 kontrol ( Pria Hasil analisis univariat pada Tabel 4. 2 diketahui Pria berpengetahuan baik, sebanyak 72,8%, bersikap posi f sebanyak 45%, berpendidikan nggi sebanyak 78,9%, sosial budaya mendukung sebanyak 73,3%, mudah mengakses pelayanan KB sebanyak 55,6%, pelayanan petugas kesehatan kurang baik sebanyak 59,4% dan Jumlah Anak O 2 sebanyak 57,8 %. j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. April 2019 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Analisis Bivariat Faktor yang paling dominan dalam Par sipasi Pria Tabel 3. Pemodelan Mul variat V (Akhi. Omnibus test = <0. Nagelkerke R Square = 0,129 Variabel yang paling dominan berhubungan dengan par sipasi pria dalam keluarga berencana adalah sikap. Pria dengan sikap nega f berisiko 2 kali . % CI=. ,414-3,. dak berpar sipasi dalam keluarga berencana bila dibandingkan dengan pria bersikap posi f. Nilai Nagelkerke R Square = 0,504 ar nya variabel independen . engetahuan, sikap. Pelayanan Petugas Kesehatan, dan Jumlah Ana. dapat menjelaskan variabel dependen . ar sipasi pria dalam keluarga berencan. sebesar 12,9%, sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang dak PEMBAHASAN Sikap Hasil analisis didapatkan Odds Ra o (OR) dari variabel sikap adalah 2,336 . % CI = 1,414-3,. ar nya pria yang mempunyai sikap nega f beresiko sebesar 2,3 kali untuk dak berpar sipasi dalam keluarga berencana bila dibandingkan dengan pria bersikap posi f. Penel an sejalan dengan peneli an . bahwa pada responden yang dak menggunakan alat kontrasepsi proporsi sikap nega f . 2%) lebih besar daripada dengan sikap posi f . 8%). Pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi proporsi sikap posi f . lebih besar daripada sikap nega f . 8%). Untuk mengetahui h p://jurnal. adanya hubungan antara Sikap terhadap KB dengan Par sipasi Pria dalam Keluarga Berencana, maka dapat dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square test diperoleh nilai p value 005 . <0. yang berar ada hubungan yang bermakna antara Sikap terhadap KB dengan Par sipasi Pria dalam Keluarga Berencana. Hasil peneli an ini sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Green yang berpendapat bahwa sikap merupakan faktor predisposisi yang menentukan perilaku seseorang. Penggunaan alat kontrasepsi merupakan bentuk perilaku seseorang yang didasari penilaian posi f pada kegiatan tersebut, baik dengan tujuan tertentu maupun sekedar mengiku lingkungannya. Hal tersebut menekankan pen ngnya sebuah niat dan pemikiran yang posi f terhadap perilaku seseorang. Sikap merupakan salah satu faktor predisposisi suatu perilaku, namun belum berbentuk suatu ndakan atau ak vitas. Dengan adanya sikap dapat memungkinkan mbulnya suatu perbuatan atau ngkah laku ( Novita & Franciska, 2011 . Azwar. Hasil peneli an di lapangan juga didapatkan yang terbanyak adalah Pria PUS dengan sikap nega f tentang KB Pria. menunjukkan bahwa Pri PUS masih belum menger dengan KB Selain itu, pembentukan sikap juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, informasi dari media massa, dan faktor emosi dalam diri individu yang Pengetahuan Hasil analisis didapatkan Odds Ra o (OR) dari variabel pengetahuan adalah 1,565 . % CI = 0,345-0,. ar nya pria yang pengetahuannya kurang baik dak akan berpar sipasi d a l a m ke l u a r g a b e r e n c a n a s e b e s a r 1 , 5 k a l i l e b i h nggidibandingkanpria yang pengetahuannya baik. Peneli an (F. Handayani, 2. responden 304 suami, yang memiliki pengetahuan nggi lebih cenderung menggunakan alat kontrasepsi pria yaitu sebanyak 127 suami . ,8%) dibandingkan dengan suami yang memiliki pengetahuan nggi dan dak menggunakan alat kontrasepsi pria yaitu sebanyak 56 orang . ,4%). Berdasarkan hasil uji sta s k menggunakan uji chisquare dengan ngkat kepercayaan 95% didapatkan nilai 2 hitung = 21,01 dengan p = 0,000 . <0,. ar nya ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan suami dengan par sipasi suami dalam penggunaan alat kontrasepsi pria. Pengetahuan yang nggi terhadap Keluarga Berencana akan memberikan dampak posi f terhadap perilaku seseorang untuk berperilaku baik dengan berpar sipasi dalam menggunakan alat kontrasepsi pria. S e ca ra te o r i p e n geta h u a n s a n gat Pe n n g U nt u k meningkatkan kesertaan KB pria, yang utama hendaklah diberi pengetahuan yang cukup tentang KB dan Kesehatan Reproduksi. Pengelola seyogyanya memahami, pengetahuan, sikap dan perilaku dalam berbagai isu serta memahami dalam hubungan Sidri, et al Determinan Par sipasi Pria Dalam Keluarga Berencana Determinants of Male Par cipa on in Family Planning pembagian kekuasaan antara pria dan wanita. Kurang berperannya suami dalam program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi disebabkan oleh pengetahuan suami mengenai KB secara umum rela f rendah. Maka dapat disimpulkan Pria PUS yang memiliki pengetahuan nggi telah mengetahui mengenai KB pria termasuk peran sertanya dalam mewujudkan keberhasilan program KB, sehingga memiliki kecendrungan untuk berpar sipasi dalam menggunakan alat kontrasepsi pria dibandingkan dengan para PUS yang dak mengetahui mengenai KB pria. Pengetahuan nggi yang dimiliki para Pria PUS mengenai KB pria akan dijadikan sebagai landasan atau dasar dari ndakan yang akan dilkukan. Para Pria PUS yang mempunyai pengetahuan yang nggi mengenai KB pria dan meyakini kebenaran akan pen ngnya par sipasi Pria dalam ber-KB akan terus berusaha mewujudkannya dalam prak k nyata namun masih ada Pria PUS yang memiliki pengetahuan nggi tetapi dak menggunakan alat kontrasepsi pria dikarenakan, istri mereka dak mengizinkan mereka menggunakan kontrasepsi, sebagian besar menganggap penggunaan kondom dapat mengganggu hubungan suami istri. Dan beranggapan bahwa yang menggunakan kontrasepsi adalah kondrat wanita atau kewajiban sebagai istri. Jumlah Anak Hasil analisisdidapatkan Odds Ra o (OR) dari variabel jumlah anak adalah 1,4 ar nya Pria PUS yang mempunyai jumlah anak O 2 dak akan menggunakan KB sebesar 1,4 kali lebih besar dibandingkan Pria PUS yang mempunyai jumalah anak > 2. Peneli an yang dilakukan (Ramdani, 2. tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi par sipasi suami dalam penggunaan alat Kontrasepsi di Desa Tegal Rejo Kasihan Bantul Yogyakarta, dari 52 responden, sebagian besar yaitu 22 orang . ,3%) memiliki jumlah anak 1. Hasil uji sta s k dengan menggunakan uji regresi linear ganda didapatkan paritas . umlah ana. dak berpengaruh secara signiAkan terhadap par sipasi suami dalam penggunaan alat kontrasepsi sehingga suami dalam penggunaan alat kontrasepsi masih belum efek f . Peneli an ini sejalan dengan peneli an Ekarini . bahwa responden yang memiliki anak <2100% berpar sipasi secara dak langsung. Responden yang memiliki anak Ou2 yang berpar sipasi secara dak langsung sebanyak 46 orang . ,9%) dan responden yang berpar sipasi secara langsung 1 orang . ,1%). Hasil uji sta s k menggunakan uji chi-square didapatkan hasil . >0,. yaitu 0,556 sehingga secara sta s k diketahui dak ada hubungan antara jumlah anak dengan par sipasi pria dalam KB. Jumlah anak hidup mempengaruhi pasangan usia subur dalam menentukan metode kontrasepsi yang akan digunakan. Pada pasangan dengan jumlah anak hidup masih sedikit terdapat kecenderungan untuk menggunakan metode kontrasepsi dengan efek vitas rendah, sedangkan pada pasangan dengan jumlah anak hidup banyak terdapat kecenderungan menggunakan metode kontrasepsi dengan efek vitas nggi. Hasil peneli an dilapangan bahwasan jika sudah memepunyai anak lebih dari 2 akan perpikir kembali untuk dak menggunakan KB. Karna akan memeperlukan biaya banyak untuk kebutuhan sehari-hari. Pelayanan petugas Kesehatan Hasil uji sta s k didapatkan p value<0,05 . =0,. ar nya dak terdapat hubungan yang bermakna antara Pelayanan Petugas Kesehatan dengan partsipasi Pria Dalam keluarga Berencana diwilayah kerja puskesms tenayan raya. Sejalan peneli Ekarini . nampak bahwa pada responden yang dak menggunakan alat kontrasepsi proporsi kualitas pelayanan KB kurang baik . 6%) lebih besar daripada dengan kualitas pelayanan KB baik . 9%). Pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi proporsi kualitas pelayanan KB baik . 1%) lebih besar daripada kualitas pelayanan KB kurang baik . 4%). maka dapat dianalisis dengan menggunakan uji ChiSquare test diperoleh nilai p value sebesar 0. <0. yang berar ada hubungan yang bermakna antara Kualitas pelayanan KB dengan Par sipasi Pria dalam Keluarga Berencana. Informasi merupakan suatu bagian dari pelayanan yang sangat berpengaruh bagi calon akseptor maupun akseptor pengguna, mengetahui apakah kontrasepsi yang dipilih telah sesuai dengan kondisi kesehatan dan sesuai dengan tujuan akseptor dalam memakai kontrasepsi tersebut. Informasi sangat menentukan pemilihan alat kontrasepsi yang dipilih, sehingga informasi yang lengkap mengenai kontrasepsi sangat diperlukan guna memutuskan pilihan metode kontrasepsi yang akan Bruce menjelaskan dalam kerangka teorinya bahwa dampak dari kualitas pelayanan adalah pengetahuan klien, kepuasan klien, kesehatan klien, penggunaan kontrasepsi, penerimaan, dan kelangsungannya. Pendidikan Hasil uji sta s k didapatkan p value 0,896 ar nya dak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan partsipasi Pria Dalam keluarga Berencana. Hasil odds ra o (OR) dari variabel pendidikan adalah 1,070, ar nya pria yang pendidikan dak akan berpar sipasi dalam keluarga berencana sebesar 2 kali lebih nggi di bandingkan pria yang penndidikan Hasil peneli anini sejalan dengan peneli an yang dilakukan Saptonotentang faktor-faktor yang berhubungan denganpar sipasi pria dalam keluarga berencana, dari 100responden, sebagian besar mempunyai pendidikanSMA dengan jumlah 34 orang . ,0%), kemudiandilakukan hasil uji sta s k dengan menggunakan ujichi-square didapatkan dak ada hubungan antara ngkat pendidikan dengan par sipasi pria j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. April 2019 dalam KB. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap tentang metode Orang yang berpendidikan nggi akan memberikan respon yang lebih rasional daripada mereka yang berpendidikan rendah, lebih krea f dan lebih terbuka terhadap usaha-usaha Ia juga lebih dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan sosial. Secara langsung maupun dak langsung dalam hal Keluarga Berencana (KB). sehingga semakin meningkatnya pendidikan semakin nggi proporsi mereka yang m e n g e t a h u i d a n m e n g g u n a k a n ko n t r a s e p s i u n t u k membatasijumlah anaknya (Adriani et al. , 2. Hal ini kemungkinan disebabkan di duniapendidikan formal juga dak ada materi khusus yangmembahas tentang kesehatan reproduksi khususnyatentang keluarga berencana sehingga disini seseorangmengetahui tentang par sipasi pria dalam KB bukandari sektor pendidikan formal melainkan dari teman danmedia terutama dari surat kabar dan televisi. KESIMPULAN Hasil analisis univariat mayoritas berpendidikan nggi yaitu 78,9%. Berdasarkan hasil analisis bivariat variabel sikap, pengetahuan, pelayanan Kesehatan, dan jumlah anak berhubungan signiAkan dengan par sipasi Pria dalam keluarga berencana, sedangkan pendidikan dak berhubungan par sipasi Pria dalam keluarga berencana. Sosial budaya merupakan variabel counfonding terhadap akses pelayanan, variabel yang paling besar pengaruhnya Variabel sikap KonCik Kepen ngan Tidak terdapat konCik kepen ngan dalam peneli an ini Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada kepala dinas kesehatan kota Pekanbaru, kepala Puskesmas Tenayan Raya, kepala BKKBN Kota Pekanbaru. RT dan RW kecamatan Tenayan Raya. Dr. Donel S. Sp. OG (K). Nurhapipa. SST. Kes, drg. Oktavia Dewi. Kes. Nurlisis. SKM. Kes dan seluruh responden dalam peneli an ini. DAFTAR PUSTAKA