Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Program Pengembangan Interaksi Sosial Anak di TKIT Baitusshalihin Nadia Fadila1. Heliati Fajriah2. Muthmainnah3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Indonesia Email Korespondensi: 210210016@student. ar-raniry. 1,2,3 ABSTRAK TKIT Baitusshalihin merupakan salah satu lembaga yang melaksanakan program pengembangan interaksi sosial melalui berbagai kegiatan, tetapi masih ada sebagian anak yang masih menyendiri ketika proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk program pengembangan interaksi sosial dan faktor kendala program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin. Interaksi sosial merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini, karena menjadi dasar bagi terbentuknya kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan interpersonal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah anakanak usia 5-6 tahun . elas B). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi memuat program-program pengembangan interaksi sosial yang ada di sekolah, wawancara dilakukan dengan guru kelas B5 dan kepala sekolah. Pada tahap dokumentasi peneliti melakukan pengambilan foto yang berkaitan dengan program pengembangan interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin dibagi menjadi dua program yaitu program internal sekolah dan program outing class yaitu program internal sekolah meliputi 10 sentra . entra bahan alam, olah tubuh, origami, ibadah, berkebun, seni, melukis, numerasi, literasi, rancang bangu. dan ekstrakurikuler. Adapun outing class yaitu kegiatan field trip. Kata kunci: Program Pengembangan. Interaksi Sosial. Anak Usia Dini. Children's Social Interaction Development Program at Baitusshalihin Kindergarten ABSTRACT TKIT Baitusshalihin is one of the institutions that implements social interaction development programs through various activities, but there are still some children who are still alone during the learning process. This study aims to describe the form of social interaction development programs and the factors that hinder the children's social interaction development program at TKIT Baitusshalihin. Social interaction is an important aspect in early childhood development, because it is the basis for the formation of communication skills, cooperation, and building interpersonal relationships. The research method used is a descriptive qualitative method. The subjects in this study were children aged 5-6 years . rade B). Data collection techniques in this study were observation, interviews and documentation. Observations include programs that exist in the school, the study conducted interviews with class B5 teachers and the principal. In the documentation stage, the researcher took photos related to the social interaction development program. The results of the study indicate that the social interaction development program for children at TKIT Baitusshalihin is divided into two programs: an internal school program and an outing class program. The internal school program includes 10 centers . atural materials center, physical exercise, origami, worship, gardening, art, painting. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X numeracy, literacy, and desig. and extracurricular activities. The outing class is a field trip Keywords: Development Program. Social Interaction. Early Childhood. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Perkembangan sosial pada anak dapat didukung melalui aktivitas seperti mendengarkan, mengamati, dan meniru perilaku orang lain, serta dilengkapi dengan pemberian contoh yang sesuai oleh individu di lingkungan sekitarnya. Indikator dan tahap-tahap perkembangan sosial anak usia dini umumnya mulai tampak secara signifikan pada rentang usia dua hingga enam tahun. Pada usia tersebut, anak mulai menunjukkan perkembangan perilaku, termasuk kemampuan untuk bekerja sama, sikap kompetitif, keinginan untuk berbagi dan mulai menunjukkan prilaku ramah (Aprianti1 & Rita, 2. Terlibat dalam kegiatan menyenangkan yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka adalah Prinsip utama dalam perkembangan anak usia dini. (Nuraeni et al. , 2. TKIT Baitusshalihin menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis sentra untuk mengembangkan berbagai aspek pada perkembangan anak termasuk ber interaksi sosial dengan teman. Anak-anak yang berada pada usia 5 hingga 6 tahun perlu memiliki beberapa keterampilan sosial, seperti memperlihatkan sikap toleran, menjalin kerjasama dengan teman, mengungkapkan emosi dalam berbagai konteks . eperti kegembiraan, kebahagiaan, antusiasm. , mengetahui tata krama dan sopan santun, mengerti aturan dan disiplin, serta menghormati budaya dan nilai sosial masyarakat lokal (Berliana et al. , 2. Interaksi Sosial sejak dini memberikan peluang bagi anak untuk berempati serta membangun kepercayaan diri. Jika keterampilan anak yang kurang memiliki perkembangan sosial emosional akan menghadapi bahaya dan tantangan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dimasa depan. (Zahra et al. , 2. Alasan dan faktor lain mengenai tentang pengembangan keterampilan sosial sangatlah penting bagi anak usia dini karna perilaku yang ditanamkan sejak saat usia ini akan melekat dan menjadi faktor penentu bagi kehidupannya dimasa yang akan datang ( Nur Hamzah, 2. Interaksi sosial merupakan suatu bentuk hubungan antara dua orang atau lebih, sehingga tingkah laku individu yang satu dapat mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, dan sebaliknya (Fahri & Qusyairi, 2. Interaksi sosial merupakan bagian dari perkembangan sosial, dimana anak usia 5 sampai 6 tahun memiliki ciriciri di antaranya, bersikap kooperatif dengan teman, menunjukkan sikap toleran, memahami peraturan dan disiplin, menunjukkan rasa empati. Anak sepatutnya beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman yang baru. Seorang anak akan mengalami perubahan yang baik akibat berada di lingkungan yang baru, terutama dalam bidang sosialisasi (Latifah et al. , 2. Interaksi sosial merupakan suatu rangkaian proses di mana individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok saling berhubungan serta membangun relasi satu sama lain. Interaksi sosial dapat didefinisikan sebagai relasi yang bersifat dinamis yang terjadi baik di antara individu dengan individu, antar kelompok, maupun antara individu dan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat. Agar interaksi sosial berlangsung, terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi: . Kontak sosial, yang bisa terlaksana melalui tiga cara berbeda secara khusus, antara kelompok, antara individu, antara individu dan kelompok. Selain itu, komunikasi bisa dilaksanakan baik secara tidak langsung atau pun langsung. Kemampuan berkomunikasi. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X di mana tindakan seseorang memberi makna pada orang lain dan emosi yang akan mereka Individu yang dimaksud kemudian menanggapi emosi yang akan diungkapkan oleh individu tersebut (Nashrillah, 2. Kemampuan berinteraksi sosial dan perilaku sosial dapat distimulasi dan dikembangkan dengan cara pemberian contoh langsung dalam berinteraksi dan berperilaku yang baik terhadap anak dan lingkungan sekitarnya. Sebab lingkungan sosial berpengaruh terhadap interaksi sosial dan perilaku sosial anak (Mushab Al Umairi, 2. Janice J. Beaty dalam Bakri, perilaku berikut merupakan contoh keterampilan sosial yaitu : . empati, di mana anak-anak menunjukkan emosi mereka dengan berempati terhadap teman-teman yang sedang mengalami musibah dan memahami perasaan teman yang terkena musibah tersebut. kebaikan atau kedermawanan, di mana anak-anak dapat berkontribusi serta menyerahkan apa yang mereka miliki. Kolaborasi, terlihat ketika anak-anak mampu berkontribusi bersama dalam suatu proyek, di mana mereka menjalankan peran masing-masing secara harmonis tanpa terlibat dalam perselisihan ataupun perdebatan. Selain itu, anak-anak juga menunjukkan kemampuan untuk saling berbagi kesempatan dalam bermain, dengan cara bergantian secara adil dan teratur. memberikan bantuan, di mana anak-anak memberi bantuan atau mendukung teman-teman yang sedang membutuhkan pertolongan. (Bakri et al. Ada beberapa bentuk interaksi sosial, antaranya adalah persaingan, kerja sama, perpaduan, persesuaian, dan pertentangan. Persaingan merupakan aktivitas yang bersifat sosial yang melibatkan perorangan maupun kelompok yang berupaya serta bersaing demi mendapatkan keuntungan yang muncul pada waktu yang sama. Persaingan biasanya terbagi menjadi 2 bagian utama, yaitu yang bersifat individual dan yang bersifat kelompok. Kerja sama diartikan bentuk usaha bersama yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang dengan tujuan untuk meraih satu atau sejumlah target secara bersama-sama. Kerja sama terjadi akibat perkenalan pribadi antara kelompok sendiri maupun kelompok lain, dan kemungkinan menjadi lebih kuat jika ada ancaman eksternal yang mengintai atau tindakan dari luar yang menguji kesetiaan yang sudah menjadi bagian dari kelompok. Perpaduan merupakan proses di mana dilakukan usaha untuk mengurangi perbedaan antara perorangan maupun kelompok serta untuk memperkuat kebersamaan dalam tindakan, tingkah laku, dan proses berpikir yang mempertimbangkan kepentingan serta tujuan bersama. Persesuaian digunakan sebagai cara untuk menenangkan pertentangan dan memperoleh keadaan stabil. Langkah ini menunjukkan bahwa individu maupun kelompok mencoba beradaptasi demi mengatasi ketegangan yang sedang berlangsung. Pertentangan merupakan Suatu bentuk interaksi sosial yang dikenal sebagai konflik, muncul ketika orang atau organisasi mencoba mencapai tujuan mereka dengan menggunakan kekerasan atau ancaman terhadap pihak lain. Konflik muncul dari berbagai pertentangan individu atau kelompok serta perubahan sosial yang tidak menguntungkan. (Ayuningrum & Afif, 2. Agar anak mampu belajar berinteraksi sosial, salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pendidikan di sekolah, di mana guru perlu memahami betapa pentingnya interaksi sosial bagi perkembangan anak agar mereka lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Anak diharapkan memiliki kemampuan untuk mengontrol keinginan serta perilakunya sendiri, di samping menjalin kerja sama secara efektif dalam kelompok guna beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Kurangnya interaksi anak dengan lingkungan sosial umumnya berimplikasi pada timbulnya hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang Selain itu, anak yang minim pengalaman sosial juga cenderung mengalami kesulitan serta kecemasan ketika berkomunikasi dengan individu di sekitarnya. (Fitri et al. , 2. Kemampuan sosial anak mulai menunjukkan perkembangan dengan terlihat dari kemampuannya beraktivitas dalam kelompok, selain itu anak mulai mampu bermain dengan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X teman-teman sebayanya, anak sudah memahami juga bagaimana mematuhi aturan saat bermain, serta anak mulai menyadari pentingnya perasaan sesamanya. Tahapan ini biasa terjadi pada anak-anak yang berusia diantara 4 sampai 6 tahun (Nurhayati, 2. Hal tersebut sesuai dengan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Nina Kurniasih dkk, dengan judul AuPenerapan Metode Belajar Beyond Center And Circles Time Dalam Pengembangan Interaksi Sosial Anak Usia DiniAy persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada pembahasan tentang interaksi sosial dan menggunakan metode kualitatif. Perbedaannya terletak pada penelitian sebelumnya membahas tentang motode belajar BCCT untuk pengembangan interaksi sosial sedangkan dalam penelitian ini membahas tentang program pengembangan interaksi sosial dan juga lokasi penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasil yang diperoleh mengungkapkan bahwa penggunaan metode belajar BCCT dapat memperbanyak pengalaman bermain anak, dan merangsang kemampuan sosial anak (Kurniasih et al. , 2. Penelitian yang dilakukan Henny & Nurus SaAoadah, dengan judul AuPeran Bimbingan Konseling Islam Dalam Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autisme Melalui Program Pagi Ceria Dan Kegiatan Outdoor di Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita YongyakartaAy persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada pembahasan tentang kemampuan interaksi sosial dan menggunakan metode kualitatif. Perbedaannya terletak pada penelitian sebelumnya membahas tentang peran bimbingan konseling islam dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak autisme melalui program pagi ceria dan kegiatan outdoor sedangkan dalam penelitian ini membahas tentang program pengembangan interaksi sosial dan juga lokasi penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasil yang diperoleh mengungkapkan bahwa program pagi ceria dan kegiatan outdoor dapat memperbaiki kemampuan interaksi sosial anak autisme berbasis bimbingan konseling islam( Henny & Nurus SaAoadah, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ella & Ima dengan judul Aumengembangkan kemampuan interaksi sosial dengan kegiatan renang pada anak usia diniAy persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada pembahasan tentang kemampuan berinteraksi dan menggunakan metode kualitatif. Perbedaannya terletak pada penelitian sebelumnya membahas tentang mengembangkan kemampuan interaksi sosial dengan kegiatan renang sedangkan dalam penelitian ini membahas tentang program pengembangan interaksi sosial dan juga lokasi penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Hasil yang diperoleh bahwa kegiatan renang dapat mengajarkan anak tentang cara bergaul dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat (Ella Putri & Ima Nia Uliasari, 2. Aspek-aspek yang terdapat dalam proses sosial meliputi: . munculnya interaksi sesama individu . muncul interaksi di antara kelompok . terdapat hubungan yang berdampak satu sama lain . terjadinya proses timbal balik . Adanya saling mempercayai, menghargai, dan mendukung satu sama lain. (Faiz Noormiyanto, 2. Pada tanggal 12-16 Oktober 2023, observasi awal dilakukan pada TKIT Baitusshalihin Banda Aceh dalam pelaksanaannya masih terdapat tantangan dalam mengoptimalkan interaksi sosial anak, di TKIT Baitusshalihin masih ada sebagian anak yang masih menyendiri ketika proses pembelajaran berkelompok, berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, fokus permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah terkait dengan identifikasi serta analisis bentuk atau model pelaksanaan program pengembangan interaksi sosial yang diterapkan di TKIT Baitusshlihin Untuk menjawab permasalahan yang telah diidentifikasi, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap proses pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah, serta analisis dokumen yang merekam berbagai aktivitas terkait pengembangan interaksi antar peserta didik. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Menurut Arikunto dalam nanda penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Nanda et al. , 2. Penelitian ini mengambil subjek penelitian dari kelompok anak-anak yang berumur 56 tahun kelas B5 berjumlah 29 orang anak . Perempuan- 16 Laki-lak. guru kelas B5 dan kepala sekolah. Penelitian dilakukan pada tanggal 06 Mei- 20 Mei 2025. Lokasi penelitian Jl. Iskandar Komplek Mesjid Baitusshalihin Gampong Ceurih Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh. Anak-anak pada rentang usia ini berada dalam tahap perkembangan usia dini, yang merupakan masa terpenting dalam pembentukan kemampuan interaksi sosial. Pada usia ini, anak mulai belajar memahami norma sosial, menjalin hubungan dengan teman sebaya, serta mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama. Dalam penelitian ini anak-anak bukan sekedar berperan sebagai subjek yang diamati, akan tetapi juga menjadi objek utama dari program pengembangan interaksi sosial. Menurut Hurlock dalam Ahmad Susanto indikator iteraksi sosial anak meliputi dukungan sosial, kerja sama, perilaku akrab, persaingan, empati, dan membagi. (Ahmad Susanto, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat melihat bentuk program pengembangan interaksi sosial dan faktor kendala program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif, di mana peneliti secara aktif terlibat dalam kegiatan program pengembangan interaksi sosial anak. Pada tahap pengambilan data melalui wawancara, informan utama yang dipilih meliputi guru kelas B5 berjumlah 1 orang dan kepala sekolah, yang dianggap memiliki relevansi dan pengetahuan mendalam terkait subjek penelitian. Dokumentasi berfungsi sebagai pelengkap dalam bentuk koleksi foto-foto yang merekam aktivitas interaksi sosial anak selama pelaksanaan penelitian. Penelitian ini menggunakan triangulasi data dari segi metode yaitu: Observasi yang dilakukan untuk melihat program pengembangan interaksi sosial anak yang ada pada sekolah tersebut, wawancara yang dilakukan dengan guru dan kepala sekolah untuk mengetahui lebih dalam program pengembangan interaksi sosial, dokumentasi dilakukan dalam bentuk foto program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin. Ulber Silalahi dalam Nurdewi kegiatan analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. (Nurdewi, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh melalui penerapan program pengembangan interaksi sosial yang dilaksanakan pada anak-anak usia 5-6 Tahun di TKIT Baitusshalihin. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menjalin hubungan sosial, bekerja sama, serta berkomunikasi secara efektif dengan teman sebaya. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada aspek-aspek interaksi sosial anak setelah mengikuti program. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya frekuensi anak dalam ber inisiatif menyapa teman, berbagi mainan, bekerja sama dalam kelompok, serta menunjukkan empati terhadap teman lain. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara disekolah TKIT Baitusshalihin, ditemukan bahwa pengembangan interaksi sosial anak usia 5-6 Tahun dilakukan melalui dua jenis program utama, yaitu Program Internal Sekolah dan Program Kegiatan Outing Class. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara guru dan kepala sekolah. Program yang ada pada sekolah tersebut dirancang sesuai dengan kurikulum dan dilakukan rapat keja terlebih dahulu dengan guru yang ada di TKIT Baitusshalihin. Rapat kerja Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X dilakukan setiap satu tahun sekali dan dilaksanakan pembekalan tiga bulan sekali untuk membahas program yang ada pada sekolah TKIT Baitusshalihin. Tabel 1. Instrumen Observasi Aspek Kerja Sama Persaingan Empati Dukungan Sosial Membagi Berperilaku Akrab Aktivitas Berkebun Pramuka Bermain sabun Mengelompokkan biji-bijian Bermain kartu Bermain karet Melukis Bermain balok Family gathering Bercerita Membereskan mainan Bermain karet Bermain bola Makan siang Menggambar Mewarnai Senam Berenang Program ue ue ue Kegiatan ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue Program Internal Sekolah Program internal sekolah yang dilaksanakan secara rutin di dalam kelas dan di lingkungan sekolah TKIT Baitusshalihin menjadi salah satu sarana utama dalam mengembangkan interaksi sosial anak. Berdasarkan hasil observasi program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin itu memuat sentra Aesentra yang ada pada sekolah tersebut, karna pada sentra-sentra tersebut sudah dirancang dan diatur sehingga anak bisa bekerja sama dan berinteraksi dengan teman-temannya. Ada 10 sentra yang ada pada sekolah TKIT Baitusshalihin yaitu: . Sentra Bahan Alam, contoh kegiatan anak membuat busa dari . Sentra Olah Tubuh, contoh kegiatan bermain bola dan bermain lompat karet. Sentra Origami, contoh kegiatan yaitu menganyam. Sentra Ibadah, mengenalkan nilai-nilai keislaman seperti menyebutkan rukun islam, iman dan lain sebagainya. Sentra Berkebun, bercocok tanam atau merawat tanaman. Sentra Seni, seperti contoh membuat tas dari . Sentra Melukis, di mana anak dapat mengekspresikan diri melalui warna, bentuk, dan goresan. Sentra Numerasi, pengenalan konsep matematika dasar. Sentra Literasi, pada sentra ini anak berfokus pada kemampuan berbahasa, komunikasi, dan kegiatan menulis dan membaca. Sentra Rancang Bangun, pada sentra ini anak dapat membangun, merancang, dan menyusun berbagai bentuk bangunan secara berkelompok. Hasil pengamatan tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala sekolah yang dilakukan pada tanggal 21 Mei 2025 berikut ini: AuDi semua sentra, program kegiatan pembelajaran kita rancang agar dia bisa saling bekerja sama, saling berinteraksi dengan temannya, contohnya saja di sekolah mempunyai 10 sentra, semua sentra kita atur kegiatan mainnya agar dia tidak bermain sendiri, dari pengembangan kegiatan bermain dirancang agar dia bisa bersosialisasi dengan temannya. Di semua kegiatan sentra ditanamkan nilai-nilai sosial supaya mereka dapat bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ay Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Model pembelajaran sentra di wujudkan melalui perancangan ruang kelas dalam bentuk sentra-sentra dengan tema-tema yang berbeda. Masing-masing dari sentra tersebut dapat memberikan suasana yang berbeda selama proses belajar. Kegiatan bermain dilakukan dengan cara berpindah ruang atau sudut sesuai dengan jadwal perputaran sudut yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kejenuhan anak dalam bermain dan belajar, dengan pola dan media permainan yang beragam dan lebih kreatif akan memotivasi kreativitas anak berkembang lebih optimal (Amirul Mukminin et al. , 2. Setiap sentra anak akan diarahkan mengenal konsep bagaimana menghargai teman, saling bergantian menggunakan APE dan bahan permainan, bekerja sama membuat suatu karya, dan menunggu giliran dengan sabar (Khadijah et al. , 2. Di TKIT Al Mumtaz Jayanti, model pembelajaran sentra dipilih sebagai pendekatan yang paling sesuai untuk mengembangkan potensi kecerdasan siswa di usia dini. Pembelajaran sentra tidak hanya bertujuan untuk mentranfer pengetahuan, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan sosial, kreativitas, serta keterampilan motorik halus dan kasar anak-anak (Solihin. Berikut beberapa contoh program kegiatan sentra yang dilakukan untuk mengembangakan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin: Gambar 1. Kegiatan Sentra Kegiatan ekstrakurikuler di TKIT Baitusshalihin merupakan bagian dari program pengembangan interaksi sosial anak usia dini yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan aspek sosial, emosional, dan keterampilan dasar anak. Melalui kegiatan seperti bermain bersama, bernyanyi, menari atau olahraga ringan yang dilakukan secara berkelompok, anak-anak belajar berbagi, menunggu giliran, bekerja sama, serta membangun hubungan sosial yang sehat dengan teman sebaya. Berdasarkan hasil observasi program kegiatan ekstrakurikuler di TKIT Baitusshalihin yaitu: Permainan Tradisional, permainan Bertali . ercerita dan diceritaka. Permainan Lanang (Mandi Kola. Pramuka Cilik. Sipeta . timulasi, perlindungan, dan keselamata. Permainan 3B (Arab. Inggris. Indonesi. Permainan Gerla (Gerak dan Lag. Permainan Peci . enemuan Cili. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran strategis dalam mendukung program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin. Hasil wawancara dengan kepala sekolah pada tanggal 21 Mei 2025 berikut ini: AuProgram ekstrakurikuler yang paling efektif itu di kepramukaan, sentra rancang bangun, sentra olah tubuh. Di mana kegiatan kepramukaan itu semua berbasis bersama, mulai dari game dan baris berbaris, dikatakan sentra olah tubuh itu efektif karna Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X kegiatannya harus bersama seperti bermain karet harus berkelompok tidak bisa bermain sendiri dan bermain bola. Ay Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang berlangsung di luar jam pelajaran formal, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Pada pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ekstrakurikuler hadir dalam beragam bentuk yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman ilmiah anak, menyalurkan bakat mereka, dan mengaitkan berbagai pelajaran dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan minat dan bakat mereka sejak dini, yang pada akhirnya akan mendorong kreativitas mereka. Kegiatan di luar jam sekolah tersebut juga memberikan ruang bagi anak untuk berkreasi, sehingga mendukung perkembangan aspek emosional mereka sekaligus meningkatkan keterampilan social (Dija Jesika et al, 2. Kegiatan Ekstrakurikuler memberikan dampak positif diantaranya menghormati sesama. Respon positif dari siswa terlihat dari sikap saling menghargai yang mereka tunjukkan serta keterlibatan aktif dalam kegiatan gotong-royong. Hal ini memperkuat nilai kebersamaan di antara siswa, menunjukkan bahwa kegiatan pramuka berhasil membangun interaksi sosial yang sehat dan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut (Fery et al. , 2. Berikut kegiatan ekstrakurikuler yang ada pada TKIT Baitusshalihin: Gambar 2. Kegiatan Ekstrakurikuler Program outing Class Tujuan utama dari Outing class adalah untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang signifikan, memfasilitasi keterlibatan aktif siswa dengan lingkungan di sekitarnya, serta menanamkan nilai-nilai karakter utama seperti kemandirian, kemampuan bekerja sama, dan rasa tanggung jawab. Berdasarkan temuan yang ada, kegiatan outing class diidentifikasi sebagai sebuah aktivitas yang secara berkala dilaksanakan di lingkungan sekolah, berfungsi sebagai bagian integral dari upaya pembelajaran kontekstual yang berlangsung di luar ruang kelas formal. Program ini dirancang sebagai upaya untuk menghubungkan pembelajaran teoritis di kelas dengan pengalaman langsung di lapangan. Adapun kegiatan outing class adalah field trip seperti berkeliling sekolah, fashion show baju dengan barang bekas/daur ulang, berkunjung ke polda aceh, berkunjung ke basarnas, berkunjung ke perternakan, pergi ketaman kota, berkeliling dengan trans kuta raja, sesuai dengan tema kegiatan. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Outing class merupakan salah satu cara yang digunakan sebagai upaya mendekatkan diri anak terhadap kehidupan yang sesungguhnya yaitu lingkungan masyarakat. Kegiatan outing class yang dilaskanakan adalah dengan mengajak anak-anak ke luar ruangan ke tempat yang di telah direncanakan untuk tujuan kegiatan pembelajaran maupun aktivitas lain yang bertujuan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak usia dini (Siti Aminatuz et al. Pembelajaran outing class dilaksanakan di luar ruangan, bukan dilaksanakan di dalam Aktivitas tersebut memberi manfaat pada anak untuk dekat dengan lingkungan. Kegiatan pembelajaran seperti ini dapat meningkatkan wawasan anak serta perkembangan Kegiatan pembelajaran outing class juga merupakan suatu aktivitas yang berhubungan secara langsung dengan alam yang dapat dijadikan untuk sumber belajar. Outing class merupakan pembelajaran yang dilakukan pada lingkungan luar sekolah. Sehingga, anak dapat memperoleh dampak positif dan peningkatan wawasan serta perkembangan anak dari lingkungan luar sekolah (Darmawan et al. , 2. Berikut Kegiatan Outing Class yang ada pada TKIT Baitusshalihin: Gambar 3. Kegiatan Outing Class Faktor kendala dalam program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin, hasil wawancara dengan kepala sekolah pada tanggal 21 Mei 2025 berikut ini: AuKetika ada anak yang sistem mainnya itu bermain sendiri/ cenderung bermain sendiri. Apapun kegiatan yang kita kasih tetap bermain sendiri seperti ketika bermain lego dirancang untuk bermain bersama tetapi anak tersebut mengambil lego sebagian dipindahkan kesudut agar dia bisa bermain sendiri, ada juga anak yang tidak mau berbagi mainan. Faktor kendala lainnya berasal dari kurangnya partisipasi orang tua dalam program yang dirancang oleh sekolah. Meskipun pihak sekolah telah menyusun kegiatan yang melibatkan kolaborasi antara anak dan orang tua, sering kali tidak direspons dengan baik, misalnya, dalam kegiatan Ecoprint yang telah dipersiapkan sebelumnya, terdapat orang tua yang tidak hadir pada hari pelaksanaan kegiatan tersebut. Kurangnya feedback dan kehadiran ini menjadi hambatan dalam mencapai tujuan program, terutama dalam membangun kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam mengembangkan kemampuan sosial anak. Pembelajaran dengan bekerjasama membuat siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi, bekerjasama, saling membantu untuk memecahkan masalah (Ahmadi, 2. Ketidakmampuan anak dalam bekerjasama masih sering ditemui saat ini, seperti contoh ketika masih banyaknya anak yang tidak mau Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X berbagi mainan, bahkan sampai menjauhkan temannya jika temannya tidak mau berbagi. Hal tersebut akan menyebabkan kelak anak menjadi sulit bersosialisasi dengan lingkungan (Indah et al. ,2. Kemampuan sosial anak dapat dikatakan sudah mulai berkembang dilihat dari kemampuan anak berkegiatan dalam kelompok, selain itu anak mulai dapat bermain bersama anak-anak yang lain, anak sudah paham aturan dan tunduk dengan aturan bermain, serta anak mulai menyadari kepentingan orang lain. Tahap ini biasanya terjadi pada usia 4-6 tahun (Siti et al. , 2. Kemahiran dalam bersosial anak bisa didapatkan dari bermacam peluang dan pengalaman berteman dengan orang-orang disekelilingnya. Perkembangan sosial merupakan kecakapan individu pada karakter atau perilaku saat menjalin hubungan dengan faktor bersosialisasi pada masyarakat yang serasi dengan arahan sosial (Juwita et al. , 2. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Pada anak usia dini interaksi sosial memanglah sangat dibutuhkan karena anak nantinya akan diajarkan bagaimana hidup bermasyarakat, lalu anak juga akan diajarkan berbagai peran yang nantinya akan menjadi indentifikasi dirinya, selain itu pula saat melakukan interasi sosial anak akan memperoleh berbagai informasi yang ada disekitarnya (Novitasari, 2. Interaksi sosial merupakan suatu proses dinamis yang terjadi dalam relasi antara individu dengan individu lainnya, antar individu dengan kelompok, maupun di antara berbagai kelompok sosial. Proses ini mencerminkan polapola keterhubungan yang kompleks, di mana setiap unsur saling memengaruhi dan berkontribusi terhadap terbentuknya struktur sosial dalam masyarakat. Sering kali dikatakan bahwa individu tersebut akan menghadapi kesulitan untuk bisa terus hidup. Ketika dia tidak membangun hubungan dengan individu lain. Hal ini menjadi dasar bagi proses sosial, khususnya interaksi sosial (Angeline, 2. Pendidikan mengenai interaksi sosial sudah mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Salah satu bentuk konkret dari interaksi sosial pada masa kanak-kanak dapat diamati melalui relasi yang terjalin antara anak dengan teman sebaya, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dalam konteks berinteraksi dengan rekan sebaya, anak cenderung memilih individu lain yang memiliki rentang usia yang serupa. Selama proses ini, anak diharapkan mampu menerima dan menghargai keberadaan teman-temannya, menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas bermain bersama, bersikap inklusif terhadap anggota baru dalam kelompok, serta memperoleh tingkat kebebasan tertentu dari pengawasan orang tua maupun orang dewasa lainnya. Selain itu, anak-anak juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dalam kelompok sosial yang beragam dan tidak homogen (Kurnia, 2. Perkembangan interaksi sosial adalah Pilar utama pembentukan kepribadian Tujuan dari perkembangan interaksi sosial adalah agar anak mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Meningkatkan interaksi sosial anak sangat penting untuk membantu mereka mengembangkan kepribadian yang lebih baik. Oleh sebab itu, interaksi sosial secara terus-menerus terus dibangun dan dikembangkan. (Septi & Eliza. Interaksi sosial diartikan sebagai hubungan sosial yang bersifat dinamis yang dapat berlangsung antara individu dengan individu lain maupun antara individu dengan kelompok. Pemahaman akan konsep ini menjadi penting karena memungkinkan kita untuk mengidentifikasi pola-pola interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi sosial dapat terwujud dalam berbagai bentuk, antara lain: Pertama, pertemuan yang melibatkan dua individu sering kali telah menunjukkan munculnya interaksi sosial, misalnya ketika kedua pihak saling menyapa, berjabat tangan, atau bertukar percakapan, di mana sejak saat itulah proses interaksi dimulai. Bahkan dalam kondisi tidak terdapat aktivitas nyata di antara dua individu yang saling berhadapan, sebenarnya interaksi tetap berlangsung karena masing- Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X masing individu menyadari keberadaan pihak lainnya, sehingga memicu perubahan pada sistem saraf serta emosi mereka. Kedua, interaksi antara individu dengan kelompok tercermin dalam aktivitas seorang guru yang sedang melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, yang memperlihatkan wujud interaksi sosial antara perseorangan dengan sekelompok orang. Sejak awal, guru berupaya mengendalikan kelas agar tercipta interaksi sosial yang seimbang antara dirinya selaku individu dengan murid-muridnya sebagai kelompok, sehingga interaksi sosial pun dapat berlangsung secara efektif di lingkungan kelas. Namun demikian, terjadinya interaksi sosial tidak mungkin diwujudkan tanpa terpenuhinya dua syarat utama, yaitu keberadaan kontak sosial dan komunikasi. Tanpa adanya kedua unsur tersebut, interaksi sosial tidak akan dapat terjadi secara optimal. (Nasution et al. , 2. Komponen penting dari hubungan sosial yang selalu berubah adalah interaksi sosial, yang meliputi sentuhan, timbal balik, dan rangsangan yang memengaruhi satu sama lain. Interaksi sosial merepresentasikan respons serta pertukaran yang berlangsung di antara individu, baik dalam konteks kelompok kecil maupun besar, sekaligus merujuk pada bagaimana individu tersebut terlibat secara aktif dalam dinamika kelompok tersebut. lingkungan sekolah, peserta didik memperoleh berbagai kesempatan untuk menjalin hubungan dengan rekan-rekan sebayanya, sehingga memungkinkan mereka untuk mempelajari proses interaksi sosial secara langsung. Melalui proses ini, anak-anak tidak hanya mengenal beragam latar belakang budaya, namun juga menginternalisasi nilai-nilai toleransi, menemukan strategi untuk menghadapi berbagai aspek kehidupan sosial, sekaligus memahami norma, aturan, serta tatanan sosial yang berlaku di lingkungan sekolah (Nadia et al. , 2. Aspek-aspek interaksi sosial terdiri dari dua bagian utama, yaitu: a. Situasi, yaitu konteks terjadinya kontak sosial, di mana setiap individu memperlihatkan dan memperagakan perilakunya sendiri b. Aksi atau interaksi adalah Perilaku yang ditunjukkan dan dilakukan orang selama interaksi sosial dikenal sebagai tindakan atau interaksi. Ada umpan balik antara orang-orang pada saat itu karena tindakan atau interaksi yang merupakan hasil dari orang lain. Aktivitas atau interaksi seseorang dengan orang lain juga saling terkait. (Yudhiyantoro & Kusma Pharamita, 2. Dalam panduan program pembelajaran untuk guru taman kanak-kanak yang bertujuan untuk menumbuhkan keterampilan sosial anak-anak, keduanya mencantumkan hal berikut sebagai indikator keberhasilan keterampilan interaksi sosial: Anak-anak berbaur secara aktif dalam kelompok bermain, mereka dapat berkomunikasi dengan teman-temannya selama kegiatan belajar, mereka dapat mendengarkan orang lain ketika mereka berbicara, mereka dapat mengekspresikan perasaan mereka, dan mereka menyapa teman-teman ketika mereka bertemu (Annisa,Yuyun, & Hilman 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa program pengembangan interaksi sosial anak di TKIT Baitusshalihin itu terdapat dua program yaitu program internal sekolah dan program Outing Class. Program internal sekolah memuat sentra- sentra yang ada pada sekolah tersebut baik di dalam kelas dan di lingkungan sekolah, yaitu 10 sentra (Sentra Bahan Alam seperti membuat busa dari sabun. Olah Tubuh seperti bermain karet. Origami seperti membuat tikar. Ibadah seperti . Berkebun seperti menanam. Seni seperti tas dari origami . Melukis . Numerasi seperti menghitung tutup botol dalam bentuk APE . Literasi seperti bermain kartu. Rancang Bangun seperti membuat mesji. dan program Ekstrakurikuler (Renang. Pramuka. Menar. Adapun program Outing Class itu kegiatan yang di luar kelas yaitu field trip . erkunjung ke hutan kota, menasik haj. Program ini mampu mengembangkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial dengan teman sebaya hal tersebut dapat dilihat dari bekerja sama, dukungan sosial, saling berbagi dan menunjukkan empati. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X DAFTAR PUSTAKA