Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 32-46 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Jenniver Capriaty1. Anggryel Maviana2. Andri3. Junardi4 Institut Agama Kristen Negeri Toraja jcavriaty@gmail. Abstract This research is motivated by the struggle regarding the stigma and discrimination of church members towards People Living with HIV/AIDS (PLWHA). People living with HIV/AIDS are stigmatized as sinners because the congregation often identifies HIV/AIDS as a disease caused by The author found this case in the Toraja Church. Batusura Congregation. To minimize cases of discrimination in the congregation's perspective towards people living with HIV/AIDS, the author analyzed the pastoral approach model found in the story of Job use library research method. Job's suffering is a critique of retributive theology which always generalizes disease because of sin. Job's friends visited Job and helped him understand his suffering with a deductive pastoral approach and retributive theology as the basis of thinking. However. God showed Job's friends the error and claimed that Job's suffering was under the authority of His wisdom and creativity. The author found that Job's story emphasizes a correlational pastoral approach. This approach rejects discrimination and generalization towards people living with HIV/AIDS because not all diseases are the result of sin, including people living with HIV/AIDS. The stigma of a sinner will not restore people living with HIV/AIDS but instead discriminate against them. A correlational approach can also help congregations encounter other causes of HIV/AIDS that are not sinful acts. Keywords: Job. HIV/AIDS. PLWHA, correlational theology, retributive theology. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pergumulan mengenai stigma dan diskriminasi warga gereja kepada orang dengan HIV/AIDS . elanjutnya disebut ODHA). ODHA mendapat stigma sebagai pendosa, karena jemaat kerap mengidentikkan HIV/AIDS penyakit yang diakibatkan oleh dosa. Penulis menemukan kasus ini di Gereja Toraja Jemaat BatusuraAo. Untuk meminimalkan kasus diskriminasi dalam perspektif jemaat terhadap ODHA, penulis menganalisis model pendekatan pastoral yang terdapat dalam kisah Ayub menggunakan studi kepustakaan. Penderitaan Ayub menjadi kritik bagi teologi retributif yang selalu menggeneralisasi penyakit sebagai akibat dari dosa. Para sahabat Ayub mengunjungi Ayub dan membantunya memahami penderitaannya dengan pendekatan pastoral deduktif dan teologi retributif sebagai landasan berpikir. Namun. Tuhan menunjukkan kekeliruan sahabat Ayub dan mengklaim penderitaan Ayub berada di bawah otoritas hikmat dan kreativitas-Nya. Penulis menemukan bahwa kisah Ayub menekankan pendekatan pastoral yang korelasional. Pendekatan ini menolak diskriminasi dan generalisasi terhadap orang dengan HIV/AIDS, karena tidak semua penyakit adalah akibat dosa, termasuk ODHA. Stigma pendosa tidak akan memulihkan ODHA, tetapi justru mendiskriminasinya. Pendekatan korelasional Diterima Redaksi: 26-01-2025 | Selesai Revisi: 21-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura juga dapat membantu jemaat berjumpa dengan penyebab lain dari HIV/AIDS yang bukan tindakan Kata Kunci: Ayub. HIV/AIDS. ODHA, teologi korelasional, teologi retributif. Pendahuluan Human Immunideficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh (Pardede et al. , 2. Infeksi virus ini dapat berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). AIDS merupakan gejala infeksi yang terjadi pada tubuh, karena kerusakan sistem kekebalan tubuh yang diakibatkan oleh infeksi HIV (Susanti, 2. Pada tahun 2023, kasus HIV di Indonesia meningkat, dan dominan terjadi pada ibu rumah tangga, dengan jumlah kasus hingga 35% (Kementerian Kesehatan RI, 2. Khusus di wilayah Sulawesi Selatan, penderita HIV/AIDS pada tahun 2022 mencapai 22. 368 kasus. Penderita HIV Sebanyak 16. 428 dan AIDS sebanyak 5. Dari jumlah tersebut, kabupaten Tana Toraja berada di urutan 14 terbanyak, dengan jumlah 173 kasus (Muh. Irham, 2. Permasalahan kasus HIV/AIDS bukan sekadar pada jumlah kasus yang terjadi di masyarakat, tetapi juga perspektif masyarakat kepada penderita HIV/AIDS atau yang disebut Orang Dengan HIV/AIDS . elanjutnya disebut ODHA). ODHA kerap didiskriminasi oleh masyarakat di sekitarnya. Perspektif yang berkembang di masyarakat mengidentikkan ODHA dengan pelanggaran norma sosial, sebut saja perilaku seks bebas maupun penggunaan obat-obatan terlarang (Ardani & Handayani, 2017. Siddik et al. , 2. Terlepas dari sebagian ODHA memang terlibat dalam pelanggaran norma sosial, akan tetapi, stigma yang menggeneralisasi semua ODHA sebagai pelanggar norma sosial adalah tindakan yang kurang tepat. Menurut Febrianti Maharani, stigma yang disematkan pada ODHA oleh masyarakat disebabkan oleh pandangan negatif yang dimiliki masyarakat, minimnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, serta minimnya interaksi dengan ODHA (Maharani, 2. Masalah ini jugalah yang ditemukan penulis di jemaat BatusuraAo. Beberapa jemaat yang ditemui penulis dalam penelitian ini beranggapan bahwa HIV/AIDS merupakan hukuman yang diakibatkan oleh dosa. Beberapa penelitian sudah membahas mengenai stigma negatif di masyarakat terhadap ODHA. Fitra Yani dkk meneliti pandangan masyarakat Aceh Utara terhadap ODHA, dan menemukan bahwa persepsi negatif yang muncul di masyarakat, seperti rasa takut, risih, dan menolak berdekatan karena takut tertular, pemisahan alat makan, bahkan ada yang diasingkan. Perspektif ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai ODHA. Untuk menyikapi hal ini. Yani dkk merekomendasikan agar tenaga kesehatan setempat melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai ODHA (Yani et al. , 2. Herlina dkk meneliti hubungan antara persepsi dan pengetahuan dengan stigma masyarakat terhadap ODHA di Puskesmas Kibang Budi Jaya melalui analisis kuantitatif, dan menemukan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan masyarakat dengan stigma terhadap ODHA. Masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan minim kerap menyebarkan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura stigma negatif terhadap ODHA seperti mengidentikkannya sebagai pelaku seks bebas, pecandu narkoba, hingga pekerja seks komersial. Oleh karena itu. Herlina merekomendasikan agar masyarakat berupaya mencari informasi seputar HIV/AIDS untuk meminimalkan stigma negatif terhadap ODHA (Herlina et al. , 2. Dari penelitian ini, stigma negatif terhadap ODHA diperlihatkan melalui pembatasan interaksi dan juga sikap diskriminatif yang mengidentikkan ODHA sebagai orang yang melakukan tindakan amoral. Beberapa penelitian di atas memberikan solusi sosiologis dalam menyikapi ODHA. Dalam penelitian ini, penulis akan fokus pada solusi secara teologis. Kajian teologis mengenai ODHA sangat dibutuhkan agar gereja tidak menjadi sumber diskriminasi, melainkan ruang penyembuhan dan penerimaan bagi ODHA. Khusus dari perspektif teologi upaya menyikapi stigma terhadap ODHA dapat ditemukan di beberapa penelitian. Servinus H. Nahak dkk, menganalisis kisah sepuluh orang kusta dalam Lukas 17:11-19 dari perspektif ODHA di Maumere, dengan pendekatan reader oriented. Penelitian ini dilakukan dalam komunitas Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Nahak dkk, menemukan bahwa ODHA membandingkan KDS dengan kesepuluh orang kusta di Lukas 17:11-19. KDS adalah harapan bagi ODHA di tengah maraknya diskriminasi bagi mereka (Nahak et al. , 2. Penelitian dari Yohanes Pranata Selai dan Servinus H. Nahak juga menganalisis diskriminasi ODHA di Maumere, tetapi menggunakan analisis teologi pemerdekaan Mangunwijaya. Selai dan Nahak menemukan bahwa diskriminasi terhadap ODHA disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat. Berangkat dari teologi pemerdekaan Mangunwijaya. Selai dan Nahak merekomendasikan upaya pembebasan ODHA dengan melibatkan negara, agama, bahkan penyintas ODHA sebagai bagian dari pembebasan ODHA dari diskriminasi (Selai & Nahak, 2. Khusus dalam tulisan ini, penulis juga akan menanggapi masalah perspektif jemaat terhadap ODHA dari perspektif teologis. Adapun rujukan yang dipilih adalah kisah penderitaan Ayub dalam keseluruhan kitab Ayub, dengan memberikan penekanan pada interaksi Ayub dan sahabat-sahabatnya serta respons Tuhan (Ayb. 3:1-42:. Ayub merupakan orang yang saleh di hadapan Tuhan, tetapi mengalami bencana bahkan penyakit yang membuat hidupnya berubah sangat kontras. Kisah ini merupakan suatu alternatif berteologi di tengah penderitaan untuk membebaskan pandangan teodise dari perspektif teologi retributif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkritisi penggunaan teologi retributif dalam memaknai HIV/AIDS dan menawarkan pendekatan pastoral korelasional berdasarkan kisah Ayub. Melalui kisah ini, penulis hendak membangun sebuah pandangan alternatif sekaligus kritik terhadap stigma yang diberikan oleh jemaat BatusuraAo kepada ODHA. Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah: Bagaimana kisah Ayub dapat dijadikan kritik pastoral terhadap stigma ODHA yang masih dianut oleh sebagian warga jemaat? Penulis meyakini bahwa tidak semua ODHA menderita karena melanggar norma sosial. Selain didukung oleh pengetahuan medis, upaya ini juga akan dibuktikan secara teologis. Penulis berharap pembebasan ODHA dari Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura diskriminasi dapat dilakukan secara holistik, baik dari sudut pandang teologi, maupun dari pengetahuan secara medis. Metode Metode yang digunakan dalam pemecahan permasalahan adalah metode penelitian kualitatif studi lapangan. Pengumpulan data mengenai perspektif jemaat terhadap ODHA dilakukan melalui proses wawancara terstruktur. Penggunaan teknik pengumpulan ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi secara langsung dari informan, sekaligus memperoleh perspektif yang dapat diperbandingkan dengan adil dan objektif. Observasi atau pengamatan, karena perspektif jemaat terhadap ODHA seharusnya diperoleh dari pengakuan informan secara langsung. Dalam pelaksanaan wawancara, penulis memberikan pertanyaan yang sama kepada 15 narasumber, terdiri dari 1 orang pendeta, 2 orang penatua, 2 orang diaken, 2 orang anggota Persekutuan Bapa Gereja Toraja (PKBGT), 2 orang anggota Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT), 4 orang anggota Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT), dan 2 orang anak remaja anggota Sekolah Minggu Gereja Toraja (SMGT). Adapun narasumber yang dipilih merupakan sampel dari setiap kelompok persekutuan dalam jemaat, yang dianggap sudah memiliki pemahaman mengenai ODHA. Narasumber yang dipilih juga merupakan anggota dewasa dan terlibat dalam kegiatan persekutuan. Untuk melindungi privasi dan kepentingan informan dalam penyajian hasil wawancara, penulis akan menyamarkan nama informan dengan menggunakan sebutan Pdt. Penatua 1. Penatua 2. Diaken 1. Diaken 2. PKBGT 1. PKBGT 2. PWGT 1. PWGT 2. PPGT 1. PPGT 2. PPGT 3. PPGT4. SMGT 1. SMGT 2. Khusus dalam menganalisis kisah Ayub, penulis melakukan analisis terhadap data kepustakaan yang membahas mengenai kisah Ayub melalui buku-buku tafsiran, jurnal, dan referensi terkait. Hasil pengumpulan data di atas, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif. Analisis data dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, penulis mendeskripsikan masalah HIV/AIDS serta pandangan yang dimiliki jemaat BatusuraAo terhadap ODHA. Kedua, penulis menganalisis teologi pastoral dalam kisah penderitaan Ayub. Ketiga penulis menganalisis implikasi teologi pastoral dalam kisah Ayub terhadap perspektif jemaat dan pelayanan pastoral terhadap ODHA di Gereja Toraja jemaat BatusuraAo. Hasil dan Pembahasan Penyebaran HIV/AIDS dan Pandangan Jemaat BatusuraAo terhadap Orang dengan HIV/AIDS Penyakit HIV/AIDS adalah salah satu penyakit menular (Murni & Green, 2. Setidaknya terdapat empat cara penyebaran HIV/AIDS, yaitu melalui hubungan seks, jarum suntik, transfusi darah, serta melalui perempuan yang mengandung dan menyusui. Air mani dan cairan vagina dapat menjadi medium untuk menularkan HIV/AIDS melalui hubungan Kemudian dalam kasus pengguna narkoba, penggunaan jarum suntik secara bergantian juga dapat menjadi alat untuk menularkan penyakit HIV. Dalam kasus transfusi darah, menerima darah dari seorang ODHA dapat menyebabkan si penerima ikut tertular. Kasus Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura yang paling terakhir adalah ketika seorang ODHA sedang mengandung, maka anak yang dikandungnya akan tertular. Begitu pun ketika sedang menyusui. Air susu ibu (ASI) akan menjadi medium untuk menularkan HIV/AIDS. Selain bergumul dengan proses penyembuhan penyakit, masalah yang tidak kalah urgen dalam menyikapi HIV/AIDS di masyarakat adalah stigma yang disematkan masyarakat kepada ODHA. Hal ini juga terjadi pada warga jemaat di Gereja Toraja jemaat BatusuraAo. Dalam proses wawancara, beberapa informan secara eksplisit memberi stigma negatif terhadap ODHA. Stigma dan diskriminasi yang diberikan kepada ODHA dimulai dari kekeliruan mengenai penularan penyakit HIV/AIDS. Beberapa warga jemaat secara eksplisit menyebutkan bahwa ODHA perlu membatasi diri dalam bekerja. Potensi ODHA untuk menularkan penyakitnya membuat beberapa informan merasa perlu membatasi kebebasan ODHA untuk terlibat dalam pekerjaan yang melibatkan interaksi yang intens dengan masyarakat umum, agar tidak mengganggu orang lain (Wawancara Penatua 2, 2024. PKBGT 1, 2024. PKBGT 2, 2024. PWGT 2, 2024. SMGT 1, 2. Meski demikian, dominan informan . juga merasa bahwa ODHA tidak perlu didiskriminasi dalam lingkungan pekerjaan karena mereka juga memiliki hak untuk bekerja (Wawancara Diaken 1, 2024. Diaken 2, 2024. Penatua 1, 2024. Pendeta, 2024. PPGT 1, 2024. PPGT 2, 2024. PPGT 3, 2024. PPGT 4, 2024. PWGT 1, 2024. SMGT 2, 2. Temuan ini mengindikasikan bahwa sekalipun ada sikap diskriminatif kepada ODHA dalam lingkungan pekerjaan, tetapi dominan warga jemaat sudah memahami bagaimana proses penularan HIV/AIDS, sehingga tidak perlu membatasi ODHA secara ketat. Pandangan yang diskriminatif ditemukan dalam perspektif teologis. Semua informan yang diwawancarai penulis menganggap bahwa HIV/AIDS merupakan akibat dari dosa. Alasan yang dominan disampaikan oleh informan adalah karena HIV/AIDS disebabkan oleh perbuatan yang melanggar kekudusan Allah, misalnya perzinaan. Dominan informan meyakini bahwa penyebab HIV/AIDS adalah perzinaan. Oleh karena itu. HIV/AIDS juga digeneralisasi sebagai hasil dari perbuatan dosa (Wawancara Pendeta, 2024. Diaken 1, 2024. Diaken 2, 2024. PKBGT 1, 2024. PKBGT 2, 2024. PPGT 1, 2024. PPGT 3, 2024. PPGT 4, PWGT 1, 2024. PWGT 2, 2024. SMGT 1, 2024. PPGT 2, 2024. SMGT 2, 2. Seorang informan secara implisit merujuk pada teologi retributif dengan menyebutkan bahwa HIV/AIDS merupakan akibat dari apa yang ditabur (Wawancara Penatua 2, 2. Satu informan yang tersisa menggeneralisasi semua penyakit, termasuk HIV/AIDS sebagai akibat dari dosa (Wawancara Penatua 1, 2. Berdasarkan beberapa sikap dan pandangan di atas, penulis menemukan bahwa dominan warga jemaat di Gereja Toraja jemaat BatusuraAo memberikan stigma negatif terhadap ODHA. Penerimaan masih cukup dominan dalam lingkungan sosial atau pekerjaan meskipun ada yang mendiskriminasi dan menolak ODHA di lingkungan kerja. Diskriminasi yang menonjol adalah perspektif teologis. Hampir semua informan mengklaim dan menganggap ODHA sebagai pendosa. Bahkan ada yang spesifik menunjuknya sebagai akibat dari perzinaan. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Perspektif jemaat di atas, khususnya dalam perspektif teologis tentu sarat akan Jika ditelusuri kembali penyebab dan penyebaran HIV/AIDS, tentu penyakit HIV/AIDS tidak seharusnya digeneralisasi sebagai akibat dosa. Begitu pun dengan ODHA. Mereka tidak seharusnya digeneralisasi dalam stigma sebagai pendosa. Stigma seperti ini tentu akan menimbulkan dampak bagi proses pemulihan dan pendampingan ODHA. Ardani dan Handayani menyebutkan bahwa stigma dari masyarakat ikut mempengaruhi proses pemulihan dan pengobatan ODHA. Bahkan beberapa ODHA menjadi enggan untuk meminta bantuan kepada orang lain, hingga mengakhiri pengobatan akibat dari stigma yang diterima di masyarakat (Ardani & Handayani, 2. Untuk mengatasi kekeliruan dalam perspektif jemaat, serta mengupayakan pendampingan yang tepat bagi ODHA, penulis akan menganalisis kisah Ayub sebagai salah satu rujukan untuk mengonstruksikan bentuk perspektif dan pendekatan pastoral yang tepat kepada ODHA. Pendekatan Teologi Pastoral dalam Kisah Ayub Teologi Pastoral Teologi pastoral merupakan cabang ilmu teologi praktika (Raintung & Raintung. Marthen Nainupu menyebut teologi pastoral sebagai cabang ilmu teologi yang memuat proses penggembalaan dalam rangka pemeliharaan jemaat, yang berorientasi pada bentuk pelayanan dan kehidupan Kristus (Nainupu, 2. Sedangkan Harianto GP menyebut teologi pastoral sebagai bagian dari ilmu teologi yang membahas proses penggembalaan yang memuat peran gereja dan pendeta, serta merumuskan sebuah konsep teologis berdasarkan hasil pengamatan (GP, 2. Menurut J. Burck dan R. Hunter, sebagaimana dalam Daniel Sutanto, terdapat tiga bentuk pengertian teologi pastoral dalam kalangan gereja Protestan. Pengertian pertama adalah teologi pastoral sebagai pembahasan mengenai pelayanan pendeta, termasuk prinsip, teori, maupun panduan pelayanan penggembalaan. Pengertian kedua adalah teologi pastoral yang merujuk kepada pembahasan mengenai strategi atau model pendampingan dan pelayanan dalam pastoral konseling. Pembahasan ini memuat kepribadian, masalah sosial, relasi dalam keluarga, relasi interpersonal, isu etika, serta berbagai masalah lain seperti isu penyakit, rasa bersalah, dan dukacita. Pengertian ketiga adalah pembahasan mengenai pengalaman pastoral misalnya masalah penyakit, kematian, seksualitas, dan keluarga. Pembahasan pengalaman ini selalu mengacu kepada tema teologi seperti Allah, keselamatan, iman, pengharapan, dan kasih ( J. Burck & R. Hunter 1990. Sutanto, 2. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka teologi pastoral dapat diartikan sebagai cabang ilmu teologi yang memuat pembahasan mengenai pelayanan pendeta, isuisu teologis yang digumuli oleh jemaat, serta strategi atau alternatif menyikapi persoalan teologis di jemaat. Dengan kata lain, teologi pastoral merupakan pembahasan mengenai strategi pelayanan berdasarkan nilai-nilai Injil dan kebutuhan pelayanan jemaat. Menurut Daniel Sutanto, terdapat tiga pendekatan teologi pastoral, yaitu metode deduktif, induktif, dan korelasi. Pendekatan deduktif merupakan metode yang berangkat dari teori atau pandangan teologis tertentu, untuk diterapkan dalam proses pastoral. Dalam Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura pendekatan ini, pengalaman dan situasi praktik pastoral tidak mempengaruhi proses dan pengembangan teori pastoral (Sutanto, 2. Pendekatan ini tentu sangat urgen dalam mempertahankan nilai-nilai Injil. Akan tetapi pendekatan deduktif cenderung mendikte situasi di lapangan tanpa mengenal lebih dalam situasi atau kebutuhan di lapangan. Pendekatan induktif merupakan metode yang bekerja berlawanan dengan metode Kebenaran atau prinsip teologi disusun berdasarkan situasi pelayanan. Dalam hal ini praktik pelayanan pastoral menjadi bagian yang urgen dalam proses berteologi. Praktik inilah yang kemudian menjadi titik berangkat untuk sampai kepada sebuah konsep teologi (Sutanto, 2. Pendekatan ini sangat situasional, namun perlu diwaspadai karena dapat berisiko berat sebelah pada pengalaman dan mengabaikan berita Injil sebagai pusat dari kebenaran teologis. Menurut Sutanto, pendekatan yang paling tepat digunakan, terlebih dalam situasi dan konteks Indonesia adalah pendekatan korelasional. Pendekatan ini mengakomodasi pengalaman sebagai titik berangkat untuk berteologi, dan pada saat yang sama berupaya juga untuk membangun dialog dengan pandangan-pandangan teologis, entah secara teoritis, maupun dengan tradisi. Metode ini berupaya menggali pengalaman jemaat terlebih dahulu, kemudian membangun dialog dengan konsep teologi Kristen, melakukan refleksi, hingga sampai kepada jawaban mengenai pendekatan dan penanganan yang tepat dalam proses pastoral (Sutanto, 2. Pendekatan ini dianggap paling ideal, karena tidak mengabaikan berita Injil, sekaligus memperhatikan kepentingan atau pengalaman jemaat. Untuk memahami proses pastoral sesuai beberapa metode di atas, penulis akan menganalisis kisah Ayub dan penderitaannya, serta memberikan pendekatan pastoral yang tepat untuk memahami penderitaan Ayub. Kisah Penderitaan Ayub Ayub adalah orang yang saleh. Ia tinggal di tanah Us, dan memiliki kekayaan yang Ia memiliki tujuh orang anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia juga memiliki tujuh ribu ekor domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina, serta memiliki banyak budak (Ayb 1:1-. Kondisi Ayub berubah total ketika Tuhan memberi izin kepada iblis untuk mencobainya (Ayb 1:12. Ayub kehilangan ternak-ternaknya karena dirampas oleh orang Syeba serta kehilangan anak-anaknya karena angin ribut merobohkan rumah dan menimpa mereka (Ayb. 1:12-. Ayub juga mengalami penyakit barah yang busuk (Ayb. 2:7-. Kondisi ini memutarbalikkan kehidupan Ayub, dan ia berada dalam penderitaan. Menanggapi situasi di atas, beragam pandangan datang kepada Ayub untuk merespons penderitaan yang dialaminya. Setidaknya terdapat tiga bentuk respons yang disampaikan kepada Ayub dalam penderitaannya yaitu sebagai berikut: Teologi Retributif (Elifas. Bildad, dan Zofa. Dalam penderitaan yang dialami Ayub, sahabat-sahabatnya mengunjunginya dan membantu Ayub untuk memahami penderitaan yang dialaminya. Ketiga sahabat Ayub yaitu Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Elifas. Bildad, dan Zofar menyampaikan pandangan yang merepresentasikan sikap masyarakat pada umumnya. Elifas merespons penderitaan Ayub dengan menekankan bahwa penderitaan adalah hasil dari kesusahan atau kejahatan yang ditaburkan (Ayb. Oleh karena itu. Ayub perlu mengintrospeksi diri. Penderitaan yang dialaminya tentu berasal dari kesalahan yang dilakukannya (Singgih, 2. Selain mengintrospeksi diri. Elifas juga menekankan kepada Ayub bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan didikan dari Allah (Ayb. Bildad juga merespons penderitaan Ayub dengan menekankan pandangan tradisional mengenai keadilan Allah. Bagi Bildad. Ayub tentu akan dipulihkan dan Allah akan bangkit menolongnya jika ia berada dalam keadaan tidak bersalah (Ayb. 8:6-. Berdasarkan perspektif tradisi ini. Bildad menekankan bahwa Ayub perlu menyadari kebersalahannya. Kondisinya bertentangan dengan pandangan tradisional tentang sikap Allah kepada orang yang tidak bersalah (Singgih, 2. Zofar menanggapi penderitaan Ayub dengan mengingatkan Ayub agar ia tidak merasa memahami Allah. Bagi Zofar. Ayub adalah pembual, yang merasa benar, padahal Tuhan sendiri telah menunjukkan kepadanya indikasi kesalahan pada diri Ayub (Ayb. 11:4-. Oleh karena itu. Zofar mengajak Ayub untuk berbenah diri, meninggalkan kejahatan yang ada pada dirinya (Ayb. 11:13-. Selain mendapat respons dari sahabat-sahabatnya, penderitaan Ayub juga ditanggapi secara negatif oleh masyarakatnya. Ayub mengalami penyakit kusta, penyakit yang dianggap menular, sehingga ia ditolak oleh masyarakat dan membuat dia dikucilkan dan disingkirkan (Girard, 2. Dalam hal ini. Ayub mengalami diskriminasi dan penolakan dari masyarakatnya, akibat penderitaan yang dialaminya. Pandangan yang dianut oleh ketiga sahabat Ayub dan masyarakat pada umumnya adalah pandangan teologi retributif yang menganggap penderitaan ditentukan oleh keadilan Allah. Mereka yang berdosa mendapat hukuman, dan yang menaati hukum dan hidup saleh akan mendapat berkat dari Tuhan (Stevanus, 2. Dengan kata lain, para sahabat Ayub menuduh Ayub sebagai orang berdosa yang sedang mendapat hukuman dari Tuhan. Sikap Elihu Setelah Ayub berdebat dengan ketiga sahabatnya. Elihu sebagai orang termuda dari sahabat Ayub lahir sebagai penengah. Elihu menekankan posisi Allah yang tak terselami atau tidak dipahami untuk menegur pandangan Ayub dan sahabat-sahabatnya (Ayb. 37:23-. Elihu mengkritik sikap Ayub yang bersikukuh dengan pendiriannya yang seolah-olah merasa lebih benar dari Allah. Pada saat yang sama. Elihu juga memarahi ketiga sahabat Ayub yang hanya mempersalahkan Ayub, tanpa memastikan atau menunjukkan letak kesalahannya (Panjaitan & Haryanto, 2. Elihu mengajak Ayub untuk merenungkan perbedaan yang kontras antara dirinya dengan Allah. Posisi Allah yang sudah ada sebelum dunia dijadikan dan posisi Ayub yang hanyalah bagian dari ciptaan, menunjukkan bahwa Ayub tidak seharusnya bersikukuh mempertahankan posisi ketidakbersalahannya sebagai tolak ukur di hadapan Allah yang tak Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Posisi yang kontras ini tidak memungkinkan bagi Ayub untuk memahami hikmat Allah yang tak terjangkau (Wardoyo, 2. Dalam situasi ini. Elihu menjadi penengah bagi posisi Ayub yang terus membenarkan diri, dan posisi sahabat-sahabatnya yang menyalahkan Ayub (Panjaitan & Haryanto, 2. Bagi Elihu, posisi Allah yang tidak terselami atau tidak terpahami membuat pandangan sahabat Ayub tidak dapat digeneralisasi pada semua penderitaan. Sementara itu, posisi ini juga membuat Ayub tidak seharusnya terjebak dalam perasaan paling benar untuk memahami penderitaannya. Respons Tuhan kepada Ayub Tuhan juga menanggapi penderitaan Ayub dengan menyadarkan Ayub akan keterbatasan dan ketidaktahuannya dengan misteri keadilan Allah. Sebelumnya Ayub hanya mengenal dan mengetahui Tuhan dari pemahaman yang diwariskan oleh tradisi, yakni Akan tetapi. Tuhan memberikan kesempatan kepada Ayub untuk mengalami dan mengenal secara langsung kehendak dan kreativitas Tuhan (Panjaitan & Haryanto, 2. Tuhan yang dijumpai Ayub dalam pengalamannya adalah Allah yang kreatif dan melampaui batas-batas teologi yang dirumuskan oleh tradisi, termasuk teologi retributif (Damara & Panjaitan, 2. Allah dalam pengalaman Ayub tidak pasif dan hanya bekerja berdasarkan pola sebab akibat, dan memahami penderitaan hanya berasal dari penyebab tunggal yaitu dosa. Kehidupan manusia berjalan berdasarkan hikmat dan kreativitas Allah sendiri, bukan oleh pola-pola teologi retributif semata (Panjaitan & Haryanto, 2. Manusia tidak dapat mengendalikan apalagi mengatur Allah dengan tindakan dan sikap Allah sendiri yang akan mengatur kehidupan manusia berdasarkan hikmat dan kreativitas-Nya. Tanggapan Tuhan terhadap penderitaan Ayub membongkar stigma yang melekat pada orang yang mengalami penderitaan. Mereka tidak dapat digeneralisasi sebagai pendosa yang perlu bertobat. Cara hidup Ayub dan penderitaannya adalah miniatur dari rangkaian kreativitas Allah yang mengatur hidup manusia melampaui pemahaman dan kendali Di akhir kisah. Tuhan murka kepada ketiga sahabat Ayub yang telah salah menilai kehidupan Ayub. Meski demikian. Tuhan tetap memberi kesempatan untuk mempersembahkan korban, dan meminta Ayub berdoa bagi mereka. Sedangkan Ayub, kehidupannya kembali dipulihkan. Selain keluarganya, harta bendanya juga dipulihkan bahkan Tuhan memberikan dua kali lipat dibanding kepunyaannya dahulu (Ayb. Pendekatan Pastoral Berdasarkan Kisah Ayub Berdasarkan analisis di atas, dapat ditemukan bahwa langkah-langkah pendekatan pastoral yang digunakan sahabat-sahabat Ayub adalah teologi pastoral deduktif. Para sahabat Ayub datang kepada Ayub dengan membawa teologi retributif sebagai parameter dalam menilai penderitaan Ayub. Pandangan ini hanya terkurung pada perspektif bahwa penderitaan merupakan akibat dari dosa. Dosa akan mendatangkan hukuman dan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura penderitaan, sedangkan berkat berlaku bagi mereka yang hidup taat di hadapan Tuhan. Sahabat-sahabat Ayub menganggap Ayub berada pada posisi yang pertama. Oleh karena itu. Ayub tentu perlu mengintrospeksi diri dan bertobat dari dosanya. Akan tetapi, di akhir cerita. Tuhan menunjukkan ketidakbersalahan Ayub dalam kehidupannya, dan kekeliruan dari ketiga sahabatnya. Tuhan menunjukkan bahwa penderitaan Ayub tidak berasal dari kesalahannya, melainkan karena Allah hendak menunjukkan hikmat dan kreativitas-Nya sebagai pengatur kehidupan ini. Dalam hal ini Ayub menderita bukan karena dosanya melainkan karena Allah hendak meruntuhkan pandangan yang telah menjadi perspektif tunggal di masyarakat. Kisah ini menunjukkan bahwa pendekatan teologi pastoral deduktif yang berangkat dari teologi retributif, tidak relevan dalam memahami dan menganalisis penderitaan Ayub. Sahabat-sahabat Ayub tidak seharusnya berangkat dari pemahaman teologis tertentu untuk menilai Ayub, melainkan mendialogkan pengalaman Ayub dengan tradisi atau pandangan teologi setempat untuk menemukan perspektif alternatif dalam memahami kisah Ayub. Tindakan tersebut dapat ditemukan dalam usaha Elihu menolak sikap sahabat Ayub yang mempersalahkan Ayub, sekaligus mengkritik Ayub yang merasa paling benar. Upaya inilah yang kemudian mengantar pembaca kitab Ayub untuk sampai kepada kesadaran akan misteri hikmat Allah yang tak terselami atau tidak terpahami oleh manusia. Pendekatan dialektis yang direpresentasikan oleh Elihu di atas dapat juga disebut sebagai teologi pastoral korelasi. Pendekatan ini berupaya mencari perspektif alternatif di balik ketegangan antara teologi retribusi ala sahabat Ayub, dan pembenaran diri yang juga dipertahankan oleh Ayub. Dengan berangkat dari pengalaman pribadi Ayub yang hidup dalam kesalehan, dan perjumpaan dengan konsep teologi yang tersedia, maka ditemukanlah perspektif alternatif untuk memahami pengalaman Ayub dengan penderitaan. Berdasarkan pengalaman Ayub, maka teologi pastoral yang dibutuhkan atau relevan dalam konteks jemaat adalah model teologi korelasional. Pendekatan ini tidak sekadar membawa perspektif teologi untuk menjadi parameter dalam menilai permasalahan di Pendekatan ini juga mengakomodasi pengalaman jemaat, sekaligus terbuka untuk melangsungkan dialog. Keterbukaan dan dialektika yang terjadi inilah yang kemudian akan melahirkan strategi penanganan dan pendampingan pastoral yang relevan kepada setiap pergumulan jemaat. Kisah Ayub sebagai Model Teologi Pastoral: Kritik terhadap Stigma Negatif kepada Orang dengan HIV/AIDS Kisah Ayub memperlihatkan bahwa teologi pastoral dengan model deduktif memiliki Menilai pergumulan jemaat dari perspektif teologi tertentu tanpa mendengar terlebih dahulu keadaan jemaat dapat menghasilkan kekeliruan. Kecenderungan sahabat Ayub memahami penderitaan dari sudut pandang teologi retribusi menyebabkan mereka gagal memahami pengalaman Ayub. Mereka hanya mengidentikkan penderitaan atau penyakit sebagai hukuman dari Tuhan akibat dosa. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Pemahaman seperti ini juga ditemukan dalam beberapa jemaat di Gereja Toraja Jemaat BatusuraAo. Sebagian dari mereka memandang HIV/AIDS sebagai akibat dari dosa. Pandangan ini mengindikasikan bahwa tidak sedikit dari jemaat yang juga menggunakan pendekatan teologi retributif untuk menilai ODHA. Jika belajar dari kisah Ayub, pandangan ini tentu perlu dikritisi dan ditinjau kembali dalam rangka menolong dan memulihkan kehidupan ODHA melalui pendekatan teologis. Mengonstruksi perspektif yang tepat mengenai ODHA dapat dimulai dari tujuan kisah Ayub dan sikap Tuhan terhadap sahabat-sahabat Ayub. Kisah Ayub sebagai kritik terhadap teologi retributif menunjukkan bahwa Tuhan tidak pasif bergerak dalam kehidupan Tuhan tidak dapat dimanipulasi oleh tindakan manusia. Tuhan bertindak sesuai dengan hikmat dan kreativitasnya dalam keberlangsungan hidup manusia (Panjaitan & Haryanto, 2. Para sahabat Ayub yang menganut pandangan retributif mendapat murka dari Tuhan. Mereka telah keliru dalam menilai penderitaan Ayub. Kisah ini dapat menjadi landasan kritik untuk tidak menggeneralisasi penyakit HIV/AIDS sebagai akibat dari dosa. ODHA tidak harus selalu dimutlakkan sebagai pendosa yang dihukum Tuhan. Penderitaan atau penyakit dapat saja menjadi sarana untuk memahami dan mengalami Tuhan dalam dimensi hikmat dan kreativitasnya. Belajar dari respons Tuhan yang mempersalahkan sahabat Ayub, warga jemaat perlu berhati-hati menggeneralisasi ODHA identik dengan perzinaan atau pelanggaran dosa lainnya. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA perlu Kasus HIV/AIDS seharusnya diselidiki lebih dalam sebelum menyimpulkan penyebab HIV/AIDS pada masing-masing ODHA. Berkaitan dengan usaha meminimalkan stigma kepada ODHA, jemaat juga perlu belajar dari respons Ayub terhadap sahabat-sahabatnya. Sahabat Ayub yang mengandalkan pemahaman teologi retributif, atau menggunakan pendekatan teologi deduktif, tidak mampu menolong Ayub untuk memahami penderitaannya. Sebaliknya Ayub menyebut mereka sebagai penghibur sialan (Ayb. Hal ini mengindikasikan bahwa sahabat Ayub tidak menolong atau pun menghibur melainkan menambah beban dengan menyudutkan Ayub (Damara & Panjaitan, 2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perspektif kepada penderitaan atau penyakit yang bersifat deduktif dapat berakibat pada menyudutkan atau menambah beban orang yang bergumul. Oleh karena itu, jemaat perlu meninjau kembali pandangannya yang semata-mata berangkat dari hukum sebab-akibat. Cara pandang ini dapat saja semakin memperberat pergumulan ODHA, dan sama sekali tidak signifikan dalam upaya pemulihan. Selain berefleksi secara teologis dari kisah Ayub, warga jemaat BatusuraAo juga perlu mempertimbangkan perspektifnya berdasarkan proses penyebaran HIV/AIDS. Tidak semua HIV/AIDS menyebar melalui tindakan dosa atau pelanggaran terhadap kekudusan Allah. Perempuan yang menikahi laki-laki ODHA, tentu dapat saja tertular. Kondisi yang sama dapat terjadi bagi bayi yang berada dalam kandungan seorang ibu yang positif HIV/AIDS. Begitu pun dengan bayi yang menyusui dari seorang perempuan HIV/AIDS. Beberapa kondisi ini menunjukkan bahwa penularan HIV dapat saja terjadi dalam kasus yang bukan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura termasuk kesalahan (Malonta & Padele, 2. Oleh karena itu, menggeneralisasi ODHA sebagai pendosa adalah sebuah kekeliruan. Berdasarkan analisis di atas, setidaknya terdapat tiga alasan mengapa stigma pendosa tidak tepat digeneralisasi pada ODHA. Pertama, kisah Ayub menunjukkan bahwa penderitaan atau penyakit tidak mutlak disebabkan oleh dosa. Kedua, memaksakan pandangan bahwa semua penyakit disebabkan oleh dosa, dapat saja tidak menolong melainkan semakin mendiskriminasi dan menyudutkan ODHA. Ketiga, penyebaran HIV/AIDS tidak selalu identik dengan tindakan dosa. Dengan mempertimbangkan ketiga alasan di atas, penulis menawarkan agar penanganan kasus HIV/AIDS dilakukan dengan pendekatan pastoral korelasional. Pendekatan ini berupaya untuk memberi ruang mendengarkan pengalaman jemaat, sebelum melakukan dialog dan refleksi dari pandangan teologi tertentu untuk memberikan alternatif penyelesaian masalah. Jika dibandingkan dengan pendekatan deduktif, pendekatan korelasional memberikan kesempatan untuk mempelajari situasi masing-masing ODHA di jemaat agar dikenali terlebih dahulu sebelum diberikan penggembalaan, bukan langsung memvonis semua ODHA tanpa mengenalnya lebih dahulu. Jika dibandingkan dengan pendekatan induktif, pendekatan korelasional tetap akan mempertahankan nilai-nilai Injil. Sekalipun ODHA di jemaat dikondisikan oleh situasi tertentu, tetapi tidak menutup kemungkinan dalam proses dialog jika ditemukan penyebab yang berkaitan dengan pelanggaran moral, maka tentu diperlukan juga teguran dalam proses penggembalaan. Dalam kisah Ayub, salah satu contoh adalah sikap Elihu. Elihu mendengarkan terlebih dahulu keluhan Ayub. Elihu menolak untuk menggugat Ayub dengan teologi retributif, tetapi pada saat yang sama Elihu juga menolak pendirian Ayub yang merasa paling Ruang yang diciptakan Elihu menjadi ruang dialektis yang menolong Ayub berjumpa dengan Tuhan yang bertindak sesuai hikmat dan kreativitasnya. Dalam kasus HIV/AIDS, serta ODHA di jemaat BatusuraAo penerapan pendekatan korelasional dapat dilakukan dengan meningkatkan pemahaman jemaat mengenai HIV/AIDS, serta menyelidiki pengalaman masing-masing ODHA. Upaya edukasi mengenai HIV/AIDS, serta penyelidikan terhadap penyebab HIV/AIDS pada masing-masing ODHA diharapkan akan memberikan gambaran spesifik bagi masyarakat atau jemaat setempat mengenai penyakit yang dialami masing-masing ODHA. Dengan demikian jemaat tidak cepat memutuskan bahwa penyebab HIV/AIDS adalah dosa, serta pelayan gereja dapat menindaklanjuti dengan pendekatan penggembalaan yang tepat. Melalui pendekatan korelasional. ODHA dapat dibebaskan dari stigma dan diskriminasi, sekaligus dapat diterima keberadaannya di tengah gereja dan masyarakat. Implikasi Kisah Ayub dalam Pelayanan Pastoral kepada Orang dengan HIV/AIDS Analisis kisah Ayub dengan kasus ODHA di jemaat Batu SuraAo menunjukkan bahwa pendekatan pastoral deduktif tidak selalu relevan dalam pelayanan pastoral. Pendekatan ini cenderung diskriminatif terhadap ODHA. Penemuan ini kemudian mengimplikasikan bahwa pendekatan yang relevan dalam pelayanan pastoral adalah pendekatan korelasional. Secara Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura teoritis, pelayanan pastoral yang ideal adalah pelayanan yang menjaga secara berimbang antara nilai-nilai Injil dengan realitas di lapangan. Pelayanan pastoral model ini akan mengakomodir pengalaman masing-masing orang, termasuk ODHA, dalam proses pastoral. Proses ini akan membuat nilai-nilai Injil menjadi relevan dan tepat sasaran. Injil tidak lagi akan menjadi pisau bedah yang bekerja otomatis di berbagai kondisi berbeda, melainkan hadir sebagai jawaban yang relevan dan kontekstual. Secara praktis, hasil analisis di atas menekankan bahwa diskriminasi dan stereotip yang disematkan kepada ODHA perlu dihapuskan. Hal ini berlaku kepada para pelayan yang akan melakukan pelayanan pastoral kepada ODHA, dan juga kepada warga jemaat yang hidup berdampingan dengan ODHA. Pelayan yang melakukan pastoral perlu melepaskan pandangan yang mendiskreditkan ODHA dalam pelayanan pastoral, agar dapat melakukan pendekatan korelasional. Dengan tidak adanya pandangan yang diskriminatif, maka pelayan dapat mendengarkan situasi yang dihadapi oleh ODHA, termasuk penyebab penyakitnya, sebelum memberikan penguatan pastoral yang tepat. Sementara itu, urgensi penghapusan diskriminasi di kalangan warga jemaat adalah sebagai bentuk dukungan atau motivasi bagi ODHA, sehingga mereka tidak merasa tertolak dalam masyarakat. Dengan upaya ini, maka gereja dapat menunjukkan perhatian dan dukungan kepada ODHA. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Untuk memperoleh gambaran yang holistik mengenai pelayanan pastoral dan diskriminasi yang dialami oleh ODHA, penulis merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian kepada ODHA yang latar belakang penyakitnya secara eksplisit karena pergaulan bebas . erzinaan maupun narkob. Penelitian yang direkomendasikan ini diharapkan memberikan gambaran yang berbeda dari tulisan ini, termasuk memberikan alternatif pendekatan pastoral yang tepat bagi ODHA yang diakibatkan oleh pergaulan bebas. Kesimpulan Kisah Ayub menjadi kritik bagi teologi pastoral deduktif yang menjadikan teologi reteributif sebagai titik tolak dalam menilai ODHA. Stigma dan diskriminasi yang lahir dari teologi retributif, berikut dampak dari diskriminasi ini menunjukkan ketidakefektifan metode ini dalam pemulihan ODHA. Melalui kisah Ayub, penulis menemukan bahwa penderitaan dan penyakit perlu ditelusuri seluk-beluknya masing-masing dalam pendekatan teologi pastoral korelasional. Pendekatan ini memungkinkan jemaat untuk berjumpa dengan berbagai kemungkinan penyebab HIV/AIDS, termasuk jika ternyata itu disebabkan oleh peristiwa atau tindakan yang bukan kesalahan. Melalui pendekatan ini, stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dapat diminimalkan. Daftar Rujukan Ardani. , & Handayani. Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebagai Hambatan Pencarian Pengobatan: Studi Kasus pada Pecandu Narkoba Suntik Jakarta. Buletin Penelitian Kesehatan, 45. , 81Ae88. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura https://doi. org/10. 22435/bpk. Damara. , & Panjaitan. Analisa Kritis terhadap Konsep Allah yang tidak Kreatif dalam Teologi Retribusi Kitab Ayub. Jurnal Teruna Bhakti, 3. , 98Ae109. Girard. Ayub Korban Masyarakatnya. BPK Gunung Mulia. GP. Teologi Pastoral. PBMR ANDI. Herlina. Lestari. , & Diny. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Dengan Stigma Masyarakat terhaadap Orang Dengan HIV/AIDS(ODHA). Jurnal Penelitian Sistem Kesehatan, 1. , 54Ae66. https://rumahjurnal. id/index. php/JPSK/article/view/39 Kementerian Kesehatan RI. Kasus HIV dan Sifilis Meningkat. Penularan Didominasi Ibu Rumah Tangga. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku. id/baca/rilis-media/20230508/5742944/kasus-hivdan-sifilis-meningkat-penularan-didominasi-ibu-rumah-tangga/ Maharani. Faktor-Faktor yang berhubungan Dengan Stigma Terhadap Orang Dengan HIV/AIDS. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 2. , 158Ae167. https://doi. org/10. 22216/jen. Malonta. , & Padele. Gereja Menjadi Sahabat: Suatu Penelusuran terhadap Identitas Gereja untuk Merangkul Mereka yang Terpinggirkan. Uepuro, 1. , 49Ae66. https://jurnal. id/index. php/uepuro/issue/view/3 Muh. Irham. Penderita HIV/AIDS di Sulsel Capai 22. 368 Orang. Tana Toraja di Urutan Terbanyak. Tribun Toraja. https://toraja. com/2022/12/22/penderita-hivaids-di-sulsel-capai-22368orang-tana-toraja-di-urutan-ke-14-terbanyak#google_vignette Murni. , & Green. Hidup Dengan HIV/AIDS. Yayasan Spiritia. Nahak. Galus. Nepa. Wedho. , & Sempo. Kesepuluh Orang Kusta (Lukas 17:11-. dari Perspektif Penyintas HIV di Maumere-Flores. Gema Teologika, 8. , 181Ae200. https://doi. org/10. 21460/gema. Nainupu. Teologi Pastoral: Suatu Pengantar bagi Pelayanan Pastoral Konsep. Karakteristik, dan Implementasi. Media Nusa Creative. Panjaitan. , & Haryanto. Allah yang Kreatif dan Dinamis dalam Ayub 42:7-17: Sebuah Perlawanan terhadap Teologi Retribusi. Kurios, 6. , 240Ae254. Pardede. Hutajulu. , & Pasaribu. Harga Diri dengan Depresi Pasian HIV/AIDS. Jurnal Media Keperawatan, 11. , 57Ae64. https://doi. org/10. 32382/jmk. Raintung. , & Raintung. Teologi Pastoral dalam Keunikan Konteks Indonesia. Poimen, 1. , 27Ae39. https://doi. org/10. 51667/pjpk. Selai. , & Nahak. Stigmatisasi dan Diskriminasi terhadap ODHA di Maumere dalam Terang Teologi Pemerdekaan Mangunwijaya. Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology AuFilsafat Kontekstual Indonesia", 2. , 209Ae232. https://doi. org/10. 24071/snf. Siddik. Oclaudya. Ramiza. , & Nashori. Hubungan antara Ikhlas dan Dukungan Sosial dengan Kebermaknaan Hidup pada Orang Dengan HIV/AIDS. Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 3. , 98Ae114. Singgih. Dua Konteks. Gunung Mulia. Stevanus. Analisis Pertanyaan Retorika dalam Ayub 40:1-28. Dunamis, 2. , 119Ae Susanti. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Tentang HIV/AIDS Di Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Kisah Ayub sebagai Kritik Pastoral terhadap Stigma kepada Orang dengan HIV/AIDS: Studi Lapangan di Gereja Toraja Jemaat Batusura Universitas Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Martenity and Neonatal, 2. , 341Ae349. https://e-journal. id/index. php/akbd/article/view/1721 Sutanto. Menggumuli Teologi Pastoral yang Relevan bagi Indonesia. Diskursus, 13. , 77Ae107. https://doi. org/10. 36383/diskursus. Wardoyo. Redefinisi Arti Sahabat Dalam Perspektif Kitab Ayub. Prosiding: Seri Filsafat Teologi Widya Sasana, 30. , 200Ae215. https://doi. org/10. 35312/serifilsafat. Yani. Sylvana. , & J. Hadi. Stigma Masyarakat Terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Di Kabupaten Aceh Utara. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 3. , 56Ae62. https://doi. org/10. 56338/mppki. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025