Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 169 - 182 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index PENGARUH KEMAMPUAN KOMUNIKASI SOSIAL DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) SISWA KELAS Vi SMP DI SURABAYA Niken Rahayu . Katon Galih Setyawan. Nuansa Bayu Segara. Dhimas Bagus Virgiawan. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi di SMP Surabaya melalui pendekatan kuantitatif asosiatif dengan sampel yang ditentukan secara purposive sebanyak 146 siswa dari 3 sekolah. Data dikumpulkan menggunakan angket dan dokumentasi nilai, kemudian dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan, baik secara parsial maupun simultan, terhadap hasil belajar IPS, dengan koefisien korelasi 0,840 yang menandakan hubungan sangat kuat, serta kemampuan komunikasi sosial menjadi variabel yang paling dominan. Temuan ini mendorong pentingnya pengembangan komunikasi sosial dan kemandirian belajar siswa serta penguatan peran guru dan sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif, di samping anjuran penelitian lanjutan untuk memperluas sampel dan menambah variabel lain. Kata Kunci: Perilaku. Fasilitas. Limbah. Sungai Abstract This study investigates the influence of social communication skills and learning independence on the social studies learning outcomes of eighth-grade students in junior high schools in Surabaya using a quantitative associative approach with purposive sampling with 146 students from 3 elementary school. Data were collected through questionnaires and learning-outcome documentation, then analyzed using multiple linear regression. The findings indicate that both social communication skills and learning independence positively and significantly affect social studies learning outcomes, either individually or simultaneously, with a correlation coefficient of 0. 840 indicating a very strong relationship, and social communication skills emerging as the most dominant predictor. These results highlight the importance of strengthening studentsAo communication and independent learning abilities, while encouraging teachers and schools to create interactive learning environments, and suggesting future studies to expand the sample and include additional variables such as learning motivation or parental support. Keyword: Behavior. Facilities. Waste. River PENDAHULUAN Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya, karena pendidikan berperan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, mandiri, dan mampu berinteraksi secara sosial. Pendidikan yang efektif tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan nilai, keterampilan komunikasi, dan kemandirian belajar peserta didik sebagai bekal menghadapi kehidupan bermasyarakat (Muiz et al. , 2. Oleh karena itu, penguatan aspek komunikasi sosial dan kemandirian belajar menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Memasuki era Revolusi Industri 4. 0, perkembangan teknologi dan konektivitas digital menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Dalam konteks ini, kemampuan komunikasi memiliki peran sentral sebagai sarana penyampaian gagasan, pemahaman, serta interaksi Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 169 - 182 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index This is an open access article under the CCAeBY-SA Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 antara guru dan siswa, baik secara lisan maupun tulisan (Ar-raniry, 2. Pembelajaran yang ideal menuntut keterlibatan aktif siswa melalui interaksi yang bermakna, didukung oleh kurikulum yang relevan, tenaga pendidik yang kompeten, serta pemanfaatan teknologi pendidikan secara optimal. Pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pembelajaran diarahkan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang cerdas, kreatif, dan partisipatif. Pembelajaran IPS menekankan pentingnya keaktifan siswa dalam proses belajar agar mereka mampu memahami fenomena sosial secara kritis dan kontekstual (Dewi & Fauziati, 2. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi kunci dalam menumbuhkan kemandirian belajar, terutama melalui strategi pembelajaran yang aktif dan inovatif. Secara teoretis. Teori Belajar Bermakna Ausubel menjelaskan bahwa proses belajar akan lebih efektif apabila informasi baru dikaitkan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik (Luh et al. , 2. Namun, realitas pembelajaran di kelas menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang aktif berpartisipasi dan mengalami kesulitan dalam mengomunikasikan pengalaman serta pemahamannya. Padahal, komunikasi berperan penting dalam proses belajar karena melalui aktivitas berbicara dan menulis, siswa dapat merekonstruksi dan memperdalam pemahaman mereka (Hidayat & Yulianti, 2. Kondisi tersebut diperparah oleh praktik pembelajaran yang masih berorientasi pada pemberian tugas dan penyampaian materi secara satu arah, sehingga interaksi guru dan siswa menjadi terbatas (Astuti et al. , 2. Akibatnya, siswa kurang terlatih untuk belajar secara mandiri dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Padahal, kemandirian belajar merupakan kemampuan siswa dalam menetapkan tujuan belajar, memilih strategi yang sesuai, memanfaatkan sumber belajar, serta melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil belajarnya (Telaumbanua, 2. Kemandirian belajar tercermin dari inisiatif siswa, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, tanggung jawab terhadap tugas, serta kepercayaan diri dalam menyelesaikan permasalahan belajar (Putri et al. Kemandirian ini tidak hanya berpengaruh pada proses belajar, tetapi juga berdampak pada hasil belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagaimana dikemukakan dalam taksonomi Bloom (Utami & Bashofi, 2. Dengan demikian, hasil belajar tidak hanya menggambarkan penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan siswa dalam bersikap dan berkomunikasi secara sosial. Di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), khususnya di Surabaya, masih dijumpai berbagai tantangan dalam pembelajaran IPS, seperti rendahnya kemandirian belajar, kurangnya dukungan motivasional, serta terbatasnya komunikasi antara guru dan siswa, terutama pada pembelajaran yang bersifat pasif dan berorientasi tugas (Sasmita & Prayudi, 2. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan komunikasi sosial dan kemandirian belajar sebagai faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi SMP di Surabaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan strategi pembelajaran IPS yang lebih interaktif dan berorientasi pada penguatan kemandirian belajar serta kemampuan komunikasi sosial peserta didik. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang dirancang secara integratif dari berbagai disiplin ilmu sosial, seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan antropologi, dengan tujuan membekali peserta didik agar mampu memahami realitas sosial dan berpartisipasi aktif sebagai warga negara (Utami & Bashofi, 2022. Oktavia et al. , 2. IPS tidak hanya menekankan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 penguasaan konsep, tetapi juga pengembangan keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, serta kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Oleh karena itu, pembelajaran IPS menuntut keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar melalui interaksi sosial yang bermakna. Salah satu kemampuan penting dalam pembelajaran IPS adalah komunikasi sosial. Komunikasi pada hakikatnya merupakan proses berbagi makna, ide, dan pesan antarindividu yang memungkinkan terjadinya pemahaman bersama (Mulyana, 2. Dalam konteks pembelajaran, kemampuan komunikasi sosial mencakup keterampilan siswa dalam menyampaikan pendapat, berdiskusi, bekerja sama, serta mengekspresikan pemahaman baik secara lisan maupun tulisan. Komunikasi sosial yang efektif memungkinkan siswa untuk mengonstruksi pengetahuan, mengklarifikasi pemahaman, serta merefleksikan pengalaman belajar, sehingga berkontribusi positif terhadap hasil belajar (Oktavia et al. , 2. Selain komunikasi sosial, kemandirian belajar juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran IPS. Kemandirian belajar merujuk pada kemampuan siswa untuk mengatur, mengarahkan, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri, tanpa ketergantungan berlebihan pada guru (Dewi & Fauziati, 2. Konsep ini sejalan dengan teori self-regulated learning yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar, mulai dari perencanaan tujuan, penerapan strategi, hingga refleksi terhadap hasil belajar (Zimmerman dalam Astuty, 2021. Hamida et al. , 2. Siswa yang memiliki kemandirian belajar tinggi cenderung lebih disiplin, bertanggung jawab, serta mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal. Hasil belajar merupakan indikator utama keberhasilan proses pembelajaran yang mencerminkan perubahan perilaku siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Telaumbanua, 2. Pada jenjang SMP, hasil belajar IPS tidak hanya diukur dari penguasaan pengetahuan, tetapi juga dari sikap sosial dan keterampilan siswa dalam berinteraksi dan memecahkan masalah sosial. Dengan demikian, kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar memiliki keterkaitan yang erat dengan pencapaian hasil belajar siswa. Hubungan antara komunikasi sosial, kemandirian belajar, dan hasil belajar dapat dijelaskan melalui teori sosial-kultural Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif siswa. Melalui komunikasi yang efektif, siswa memperoleh dukungan, umpan balik, dan scaffolding yang membantu mereka mencapai zona perkembangan proksimal (Hidayat & Yulianti. Sementara itu, teori self-efficacy Bandura menjelaskan bahwa keyakinan siswa terhadap kemampuannya dalam mengelola pembelajaran berperan besar dalam meningkatkan kemandirian belajar dan prestasi akademik. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komunikasi dan kemandirian belajar memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPS. Penelitian Batubara dan Yusnaldi . menemukan bahwa efikasi diri berpengaruh positif terhadap kemandirian belajar siswa, sementara penelitian Suswidyantoro et al. menunjukkan bahwa kemandirian belajar berkontribusi signifikan terhadap hasil belajar. Studi lain juga mengungkapkan bahwa intensitas komunikasi, motivasi belajar, serta kemampuan komunikasi interpersonal berpengaruh positif terhadap prestasi belajar IPS (Astuty et , 2022. Wulandari & Prasetyo, 2. Namun, beberapa penelitian masih menunjukkan hasil yang beragam, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut yang mengintegrasikan komunikasi sosial dan kemandirian belajar secara simultan dalam konteks pembelajaran IPS di tingkat SMP. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 Berdasarkan kajian teoretis dan temuan empiris tersebut, dapat diasumsikan bahwa komunikasi sosial dan kemandirian belajar memiliki peran penting dan saling melengkapi dalam meningkatkan hasil belajar IPS. Komunikasi sosial yang baik mendukung interaksi dan keterlibatan siswa, sedangkan kemandirian belajar memungkinkan siswa mengelola proses belajarnya secara efektif. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada analisis pengaruh komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi SMP di Surabaya, baik secara parsial maupun METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif, yang bertujuan untuk menganalisis hubungan dan pengaruh antarvariabel secara empiris melalui data numerik. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan pengujian hipotesis secara objektif dan sistematis terhadap pengaruh kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan teknik statistik inferensial untuk memperoleh kesimpulan yang dapat digeneralisasikan. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Kemampuan komunikasi sosial (XCA) dan kemandirian belajar (XCC) berperan sebagai variabel independen, sedangkan hasil belajar IPS (Y) sebagai variabel dependen. Kemampuan komunikasi sosial diartikan sebagai kemampuan siswa dalam berinteraksi, menyampaikan pendapat, bekerja sama, serta menghargai pendapat orang lain dalam konteks pembelajaran IPS. Kemandirian belajar merujuk pada kemampuan siswa dalam mengatur, mengarahkan, dan mengevaluasi proses belajarnya secara Hasil belajar IPS diukur berdasarkan capaian akademik siswa yang mencerminkan penguasaan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas Vi SMP di Kota Surabaya. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan kesesuaian karakteristik subjek dengan tujuan penelitian. Sampel berjumlah 146 siswa yang berasal dari tiga sekolah, yaitu SMP Negeri 17 Surabaya. SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, dan SMP Labschool Unesa 3 Surabaya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan dokumentasi. Kuesioner digunakan untuk mengukur kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar siswa, sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data hasil belajar IPS. Instrumen kuesioner disusun oleh peneliti berdasarkan indikator masing-masing variabel dan menggunakan skala Likert lima tingkat untuk menggambarkan tingkat persetujuan responden terhadap setiap pernyataan. Sebelum digunakan, instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dilakukan melalui validitas isi . ontent validit. dengan melibatkan penilaian ahli . xpert judgmen. untuk memastikan kesesuaian butir pernyataan dengan indikator variabel yang diukur. Selanjutnya, validitas empiris diuji menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 23. Item pernyataan dinyatakan valid apabila memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari nilai r-tabel atau di atas 0,30. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan teknik CronbachAos Alpha, dengan kriteria nilai alpha lebih dari 0,60 yang menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat konsistensi yang baik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS. Pengolahan data Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 statistik dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 23 untuk menguji signifikansi model . ji F), pengaruh parsial variabel independen . , serta menentukan koefisien regresi. Selain itu, perangkat lunak AMOS digunakan sebagai analisis pendukung untuk memvisualisasikan hubungan antarvariabel dalam bentuk model jalur dan mengonfirmasi arah hubungan yang diperoleh dari hasil Namun, pengambilan keputusan utama dalam pengujian hipotesis tetap didasarkan pada hasil analisis regresi linier berganda menggunakan SPSS. HASIL Hasil Belajar Siswa Penelitian ini berfokus pada analisis pengaruh komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas Vi SMP di Kota Surabaya. Subjek penelitian melibatkan enam kelas dari tiga sekolah, yaitu SMP Labschool Unesa 3. SMP Negeri 17 Surabaya, dan SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, yang dipilih karena memiliki karakteristik lingkungan dan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Tabel Nilai Rata-rata Hasil Belajar Peserta Didik Kelompok Nilai rata-rata Siswa kelas Vi A mapel IPS di SMP Labschool Unesa 3 Siswa kelas Vi C mapel IPS di SMP Labschool Unesa 3 Siswa kelas Vi A mapel IPS di SMP Negeri 17 Surabaya Siswa kelas Vi C mapel IPS di SMP Negeri 17 Surabaya Siswa kelas Vi A mapel IPS di SMP Muhammadiyah 6 Surabaya Siswa kelas Vi B mapel IPS di SMP Muhammadiyah 6 Surabaya Berdasarkan data nilai rata-rata hasil belajar IPS, capaian akademik siswa di ketiga sekolah berada pada kategori baik hingga sangat baik. SMP Labschool Unesa 3 menunjukkan rata-rata nilai tertinggi, yakni 92 pada kelas Vi A dan 90 pada kelas Vi C. Sementara itu. SMP Negeri 17 Surabaya memiliki rata-rata nilai yang relatif seimbang pada kelas Vi A dan Vi C sebesar Di SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, rata-rata nilai kelas Vi A sebesar 89 dan kelas Vi B sebesar 87. Variasi nilai antar kelas dan sekolah masih berada dalam rentang yang relatif tinggi dan merata, yang menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPS telah berjalan dengan baik. Perbedaan capaian tersebut selanjutnya dianalisis lebih lanjut melalui pengujian statistik untuk mengidentifikasi pengaruh komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS. Hasil Angket Hasil angket pada dasarnya merupakan rangkuman data yang diperoleh dari jawaban responden terhadap instrumen penelitian berupa kuesioner atau daftar pertanyaan yang telah dirancang secara sistematis. Angket dipilih sebagai salah satu teknik pengumpulan data karena memiliki kelebihan dalam menjaring informasi dari banyak responden secara cepat, efisien, dan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 Tabel Perhitungan Skor Angket Descriptive Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation KomunikasiSosial KemandirianBelajar Valid N . Dalam penelitian "Pengaruh Kemampuan Komunikasi Sosial dan Kemandirian Belajar terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Siswa Kelas Vi SMP di Surabaya" ini, angket digunakan untuk menggali informasi mengenai kemampuan komunikasi sosial, kemandirian belajar, serta kecenderungan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hasil Validasi Instrumen penelitian berupa angket respon siswa divalidasi oleh dua orang ahli yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (Unes. Proses validasi bertujuan untuk memastikan kelayakan instrumen dalam mengukur variabel komunikasi sosial, kemandirian belajar, dan hasil belajar IPS, ditinjau dari aspek kejelasan petunjuk, kesesuaian indikator, ketepatan bahasa, serta kemudahan pemahaman oleh responden. Hasil penilaian validator menunjukkan bahwa total skor yang diperoleh sebesar 44 dari skor maksimum 56, sehingga menghasilkan persentase validasi sebesar 79%. Berdasarkan kriteria interpretasi validasi, nilai tersebut termasuk dalam kategori sangat setuju, yang menandakan bahwa instrumen dinilai sangat layak digunakan. Para validator menilai bahwa butir pernyataan dalam angket telah sesuai dengan tujuan penelitian, tidak menimbulkan makna ganda, serta mampu merepresentasikan indikator masing-masing variabel secara tepat. Instrumen angket respon siswa dinyatakan memenuhi standar kelayakan dan dapat digunakan dalam tahap pengumpulan data penelitian. Selanjutnya, instrumen tersebut diuji secara empiris melalui analisis validitas konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) berbantuan AMOS untuk memastikan konsistensi dan keakuratan pengukuran secara statistik. Uji Validitas Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson, seluruh variabel penelitian menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan . < 0,. Kemampuan komunikasi sosial berhubungan signifikan dengan kemandirian belajar . = 0,. dan hasil belajar IPS . = 0,. Sementara itu, kemandirian belajar juga memiliki hubungan positif dan signifikan dengan hasil belajar IPS . = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar sejalan dengan peningkatan hasil belajar IPS siswa. Dengan demikian, data penelitian memenuhi prasyarat untuk dilanjutkan pada analisis regresi linier berganda. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat konsistensi instrumen penelitian dalam mengukur variabel yang diteliti. Pengujian reliabilitas pada penelitian ini menggunakan teknik CronbachAos Alpha dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Berdasarkan hasil uji reliabilitas, diperoleh nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,774 dengan jumlah item sebanyak 3 item dan jumlah responden sebanyak 146 siswa. Nilai CronbachAos Alpha tersebut lebih besar dari batas minimal Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 reliabilitas sebesar 0,60, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas yang baik. Uji Normalitas Tabel Hasil Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan menggunakan Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel penelitian sebanyak 146 (> . Hasil uji menunjukkan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0. Berdasarkan kriteria pengujian, apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0. 05 maka data dianggap berdistribusi Data penelitian ini berdistribusi normal dan memenuhi asumsi normalitas yang diperlukan untuk analisis statistik parametrik selanjutnya. Uji Regresi Linier Sederhana Tabel Hasil Ui Regresi Linier Berganda Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,840 dengan tingkat signifikansi p < 0,05, yang mengindikasikan adanya hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi. Dengan demikian, hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Persamaan regresi yang terbentuk menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi sosial (X. dan kemandirian belajar (X. berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPS (Y). Variabel komunikasi sosial memiliki koefisien regresi sebesar 1,095 dengan nilai signifikansi 0,000, sedangkan kemandirian belajar memiliki koefisien regresi sebesar 0,903 dengan nilai signifikansi 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel independen secara signifikan meningkatkan hasil belajar IPS. Berdasarkan nilai standardized coefficients (Bet. , kemampuan komunikasi sosial memiliki pengaruh yang lebih dominan ( = 0,. dibandingkan kemandirian belajar ( = 0,. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi sosial merupakan faktor utama yang memengaruhi hasil belajar IPS siswa. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 Gambar Hasil Uji Regresi Linier Berganda dengan AMOS Tabel Hasil Uji Regresi Linier Berganda dengan AMOS Analisis regresi menggunakan AMOS juga menunjukkan arah pengaruh yang positif antara kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS. Meskipun secara statistik tidak signifikan . > 0,. , hasil ini tetap memperkuat temuan bahwa peningkatan komunikasi sosial dan kemandirian belajar cenderung diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 Uji Hipotesis Tabel Hasil Ui Hipotesis Hasil analisis ANOVA memperlihatkan nilai F sebesar 171,639 dengan tingkat signifikansi (Sig. yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan terbukti signifikan secara simultan, sehingga kemampuan komunikasi sosial (X. dan kemandirian belajar (X. secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPS (Y). Dengan kata lain, apabila nilai signifikansi t < 0,05, maka hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. diterima, menandakan bahwa variabel-variabel independen tersebut berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Jika signifikansi t Ou 0,05. H0 diterima, yang berarti tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi. Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa yang mampu berinteraksi secara efektif dengan guru dan teman sebaya cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga memperoleh pemahaman materi yang lebih baik. Karakteristik pembelajaran IPS yang menekankan diskusi, kerja kelompok, dan pertukaran gagasan menjadikan komunikasi sosial sebagai faktor penting dalam mendukung keberhasilan belajar. Hasil ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky yang menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan komunikasi dengan lingkungan belajar. Selain itu, kemandirian belajar juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPS. Siswa yang memiliki kemampuan mengelola proses belajarnya secara mandiri, seperti mengatur waktu belajar, mencari sumber informasi tambahan, serta mengevaluasi pemahamannya sendiri, menunjukkan capaian akademik yang lebih baik. Temuan ini mendukung teori self-regulated learning yang menyatakan bahwa kontrol dan tanggung jawab siswa terhadap proses belajarnya berkontribusi langsung terhadap peningkatan hasil belajar. Dalam konteks pembelajaran IPS, kemandirian belajar menjadi penting karena materi pelajaran menuntut pemahaman konseptual dan analisis terhadap fenomena sosial. Berdasarkan nilai standardized coefficients, kemampuan komunikasi sosial memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan kemandirian belajar. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi sosial yang efektif tidak hanya mendukung pemahaman materi, tetapi juga mendorong terbentuknya kemandirian belajar siswa melalui proses internalisasi, sebagaimana dijelaskan dalam perspektif Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 Vygotsky. Dengan demikian, komunikasi sosial dan kemandirian belajar saling berkaitan dan bersama-sama berkontribusi dalam meningkatkan hasil belajar IPS. Temuan penelitian ini relevan dengan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pengembangan keterampilan komunikasi dan kemandirian belajar sebagai bagian dari kompetensi 4C. Kemampuan komunikasi sosial mencerminkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi, sedangkan kemandirian belajar berkaitan erat dengan self-directed learning dan kesiapan siswa menjadi pembelajar sepanjang Dalam pembelajaran IPS, kedua kompetensi tersebut sangat penting untuk membentuk siswa yang kritis, partisipatif, dan mampu memahami dinamika sosial di masyarakat. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain ruang lingkup sampel yang terbatas pada siswa kelas Vi di Surabaya, jumlah variabel yang masih terbatas, serta penggunaan instrumen angket yang berpotensi menimbulkan bias subjektivitas responden. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sampel yang lebih luas, menambahkan variabel lain seperti motivasi belajar atau dukungan orang tua, serta menggunakan pendekatan metode campuran agar memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Secara implikatif, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPS di SMP perlu dirancang dengan strategi yang mendorong interaksi sosial dan kemandirian belajar siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar interaktif, sementara siswa diharapkan menjadi subjek pembelajaran yang aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga pada pengembangan keterampilan abad ke-21 dan pembentukan karakter siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas Vi SMP di Surabaya. Secara simultan, kedua variabel tersebut menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan hasil belajar IPS, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,840. Di antara kedua variabel independen, kemampuan komunikasi sosial memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan kemandirian belajar. Temuan ini menegaskan bahwa interaksi sosial yang efektif dan kemampuan belajar mandiri merupakan faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan pembelajaran IPS. Hasil penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pembelajaran IPS. Siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan kemandirian belajar melalui partisipasi aktif dalam diskusi, pengelolaan waktu belajar, serta pemanfaatan berbagai sumber belajar. Guru dan sekolah disarankan untuk menerapkan strategi pembelajaran IPS yang interaktif dan partisipatif guna mendorong komunikasi, kolaborasi, dan tanggung jawab belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan sampel, melibatkan variabel lain yang relevan seperti motivasi belajar atau dukungan orang tua, serta menggunakan pendekatan metodologis yang lebih beragam agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar IPS. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 169-182 DAFTAR PUSTAKA