TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 14. Nomor 1 (Juni 2. : 1-23 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 13-01-2024 Accepted: 09-04-2025 Published: 30-06-2025 MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER DALAM MISI KRISTEN UNTUK KEBERAGAMAN AGAMA PAUL F. KNITTERAoS MODEL OF ACCEPTANCE IN CHRISTIAN MISSION FOR RELIGIOUS PLURALISM Rio Rocky Hermanus,1* Erlita Silvia,1 Geovanius Wilson Parassa1 1Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Indonesia Timur Makassar. Indonesia *riorockyhermanus@gmail. ABSTRACT Pluralism becomes a discourse in religious life, it cannot be denied that it then becomes a space for dialogue between different religions. In dialogue, it should reach the point of accepting differences because at any time there will be no common ground if the debate is about the teaching principles of a religion. The qualitative-descriptive method strengthens this article to see how Christian mission needs to be constructed properly to contribute to Christian religion positioning itself for dialogue with different religions. Starting from this basis, it is necessary to complete it by creating a basis for thinking as well as a basis for One effective way is to use the approach offered by Paul Knitter regarding the Acceptance Model. So the result of this article is to create a space for harmonious dialogue that is able to penetrate the boundaries of space that claims mutual truth. Key phrases: pluralism. acceptance model. ABSTRAK Pluralisme menjadi suatu diskursus dalam kehidupan beragama, tidak bisa dipungkiri jika kemudian menjadi ruang dialog agama-agama yang berbeda. Dalam dialog semestinya sampai pada titik untuk menerima perbedaan karena sampai kapanpun tidak akan menemukan titik temu jika perdebatan tentang prinsip ajaran dalam suatu agama. Metode Kualitatif-deskritif Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 2 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER memperkuat tulisan ini untuk melihat bagaimana misi Kristen perlu untuk dikontruksi secara baik untuk memberi sumbangsi bagi agama Kristen memposisikan diri untuk berdialog dengan agama yang berbeda. Berangkat dari landasan inilah maka perlu dituntaskan dengan menciptakan suatu landasan berpikir sekaligus landasan berdialog. Salah satu cara yang efektif ialah menggunakan pendekan yang ditawarkan oleh Paul Knitter tentang Model Penerimaan. Sehingga hasil dari tulisan ini ialah menciptakan ruang dialog yang harmonis yang mampu menembus batas, bertindakan yang praksis sebagai langkah awal dalam sebuah keterlibatan membebaskan manusia dari penderitaan. Frasa kunci: pluralisme, dialog, model penerimaan. PENDAHULUAN Agama adalah sistem tata nilai, kepercayaan, budaya dan aturan moral yang menjebatani hubungan manusia dengan susuatu yang diyakini sebagai Ilahiah dan transenden. 1 Salah satu sifat agama juga meliputi sitem budaya dan kepercayaan maka hampir semua masyarakat di dunia memeluk agama sebagai bagian untuk meyakini kepercayaan dan budaya yang di anut. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki enam agama resmi yang diakui negara antara lain: Islam. Protestan. Khatolik. Buddha. Hindu dan Konghucu serta pelbagai agama lokal yang menjadi kepercayaan masyarakat Keberagaman agama menjadi salah satu faktor lahirnya beragam pendapat. Agus Akhmadi berpendapat bahwa keberagaman Auintegrating forceAy bisa mengikat kemasyarakatan, namun disisi lain manjadi faktor yang menyebabkan benturan antar ras, budaya, nilai-nilai hidup, etnik dan salah satunya adalah agama. Keberagaman yang menghiasi kehidupan keberagamaan di Indonesia memberi suatu tantangan sekaligus peluang. Kendati kemudian disebut sebagai tantangan jika perbedaan dikelola dengan tidak bertanggung jawab, kemudian menjadi motor penggerak untuk memecah persatuan. Namun, menjadi peluang bilamana perbedaan itu dikelola dengan baik dalam bingkai kebersamaan. Tentu pada akhirnya pluralisme yang dideskripsikan di atas memiliki keberagaman penafsiran makna dan pengertiannya sendiri. 1 Mohammad Zazuli. Sejarah Agama Manusia: Ikhtisar Agama-Agama. Mitologi. Dan Ajaran Metafisika Selama Lebih Dari 10. 000 Tahun (Jakarta: Narasi, 2. , 1. 2 Koentjaraningrat. Kebudayaan. Mentalitas Dan Pembangunan. (Gramedia, 1. 3 Agus Akhmad. AuModerasi Beragama Dalam Keagamaan Indonesia,Ay Jurnal Diklat Keagamaan 13, no. : 45Ae55. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 3 Ini adalah sebuah tangtangan bagi kerukunan umat beragama dan berimplikasi pada misi kristen yang selalu mencari ruang untuk diterima pada konteks yang beragam. Misi Kristen terus mengalami perkembangan baik teori maupun praksis. Tetapi bagaimanapun misi Kristen selalu berpegang pada Alkitab sebagai embrio dan instrument-instrumen teologi. Sebagai upaya untuk terus memberi muatan kontekstual/indonesianisasi pada misi sehingga terus dihidupi dan dijalani dalam kehidupan bernegara yang plural. Dialog adalah roh yang dinamis untuk menjadikan perbedaan sebagai sebuah kekuatan yang menggerakkan kehidupan. Disebut sebagai kekuatan karena dialog menaklukan konsep egoisme dan eksklusivisme maupun mayoritas dan minoritas. Konsep seperti ini akan terealisasi dengan baik jika prinsip dialog dipahami sebagai gaya hidup. Sebab gaya hidup yang dimaksud Darius Dubut dalam kata pengantar buku Berdialog Antar Umat Beragama karya Olaf H. Schumann menegaskan bahwa kekuatan dialog bukan meniadakan perbedaan tetapi membawa penyadaran akan realitas perbedaan. 4 Dialog merupakan jembatan untuk membangun persatuan, manfaat lain dari dialog adalah membawa pemulihan bagi dua pihak yang sementara berkonflik. Semisalnya Pasca Konsili Vatikan II membawa babak baru bagi Gereja Khatolik dalam menyikapi terhadap agama-agama lain di dunia. Dialog yang dimaksud adalah cara baru untuk melihat konsep misi yang ada di tengah-tengah konteks masyarakat yang majemuk. Menurut J. Lesslie Newbigin dalam bukunya yang berjudul "The Open Secret: An Introduction to the Theology of Mission". Newbigin menegaskan tentang konsep misi yang menggambarkan tindakan-tindakan yang mencerminkan prinsip ajaran dan tindakan Yesus Kristus adalah sebagai suatu pekerjaan misi. Newbigin juga menegaskan bahwa misi semestinya dilihat dari sudut pandang iman dalam tindakan. Misi adalah tindakan yang dilakukan melalui pewartaan dan ketekunan, melalui semua peristiwa sejarah, iman bahwa kerajaan Allah sudah dekat untuk menggunakan: "Bapa, dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu. jadilah kehendakMu di bumi seperti di Bagi Newbigin misi tidak saja mencakup pengamalan ajaran-ajaran moral Yesus, tetapi juga melibatkan tindakan konkret untuk 4 Kata Pengantar Darius Dubut. AuDialog: Gaya Hidup dalam Masyarakat Majemuk,Ay dalam Olaf H. Schumann. Dialog Antar Umat Beragama: Membuka Babak Baru Dalam Hubungan Antarumat Beragama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , xiv. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 4 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER memperjuangkan keadilan sosial, kebebasan, dan pembebasan bagi mereka yang tertindas. Newbigin melihat misi sebagai strategi atau pendekatan yang diperlukan untuk pekerjaan misi Allah (Missio De. Newbigin berharap bahwa orang Kristen dapat menjadi saksi hidup yang efektif bagi Injil dan mempengaruhi secara positif dunia di sekitarnya. Dalam hal ini. Kristopraksis juga dihubungkan dengan misi Kristen. Newbigin mendefinisikan misi Kristen sebagai panggilan untuk menyampaikan pesan Injil kepada manusia dalam konteks budaya dan sosial mereka, serta berpartisipasi dalam usaha untuk membawa transformasi bagi masyarakat dan lingkungan. Beberapa studi terdahulu tentang dialog antar umat beragama telah memberi ruang imajinasi yang baru tentang dialog terhadap agama-agama sebagai ladang misi Allah. Semisalnya. Yohanes Krismantia Susanta dalam karyanya yang berjudul AuMenuju Misi Kristen yang Mengedepankan Dialog AntarimanAy. Susanta menegaskan sebuah kebaharuan misi Kristen yang bercorak trinitarian dengan mengedepankan jalan dialog, karena bagi Susanta perjalanan historis misi kristen sangat mempengaruhi relasi antar umat bergama6 Tidak bisa disangkal apa yang dikatakan Susanta bahwa untuk melihat wajah baru misi Kristen maka harus bergerak dari ketidaknyamanan dan mengedepankan dialog yang relevan dan terbuka bagi pihak yang berbeda. Perbedaan tulisan ini dengan studi terdahulu yang dimaksud ialah bagaimana model penerimaan menurut Paul digunakan sebagai salah cara melihan posisi agama Kristen ketika berdialog dengan agama lain. Model penerimaan memberi penguatan bagi diri seseorang untuk mewujudkan suatau perspektif misi yang relevan dengan konteks setempat. Model penerimaan memberi penguatan sekaligus upaya untuk menciptakan ruang dialog antar umat beragama. Langkah pertama ketika berdialog yang menurut model penerimaan adalah pembekalan diri sebelum masuk dalam arena dialog. Menurut John C. Simon Dialogical Self adalah cara memperlengkapi diri dan menciptakan ruang dialog antar umat beragama. Model penerimaan penting untuk melihat bagaimana suatu konsep misi 5 Lesslie Newbigin. The Open Secret: An Introduction To The Theology Of Mission (America: Library Of Congres Cataloging, 1. , 25-26. 6 Yohanes Krismantyo Susanta. AuMenuju Misi Kristen Yang Mengedepankan Dialog AntarimanAy 1, no. : 73Ae85. 7 John C. Simon. AuDeradikalisasi Di Konteks Sulawesi Selatan Dengan Dialogical Self TheoryAy (Makassar: STT Intim Press & Komojoyo Press, 2. , 10-15. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 5 yang relevan pada konteks pluralisme maka dengan menggunakan model penerimaan menurut Paul F. Knitter. Model penerimaan menjadikan sebuah novelty pada penelitian ini. Sebab model penerimaan Paul F. Knitter adalah hukum yang umat kristiani temukan dalam ajaran Injil: yaitu hukum untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Para penganut model ini mengingatkan umat kristiani lainnya akan sesuatu yang sangat mudah dilupakan. Sehingga, model penerimaan yang di maksud oleh Knitter menjadi sebuah kontruksi berpikir tentang paradigma misi Kriten di tengah konteks yang majemuk. Sebagai tanda bahwa orang Kristen mengasihi sesama manusia maka menerima segala kepelbagaian . erbeda agam. tanpa mendiskriminasi dan Model penerimaan menjadi sebuah kontribusi baik bagi misi Kristen untuk merangkul yang lain, meskipun ia berbeda keyakinan untuk bersamasama terlibat dalam misi Allah dalam memperjuangkan kehidupan bersama yang harmonis di dalam dunia ciptaan Allah. Dialog kepada agama-agama lain semestinya berorientasi kepada prinsip penerimaan atas kesadaran bahwa dua pihak dalam ruang dialog adalah kepribadian yang berbeda, sehingga wadah penerimaan dan refleksi kritis terhadap personal masingmasing adalah jalan menuju sebuah kedamaian. 9 Model penerimaan berpihak pada kemanusiaan, maka misi Kristen mesti berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang ditekankan dalam model Akhir dari tulisan ini ditujukan kepada pembaca untuk bagaimana melihat hasil kontruksi tentang model penerimaan Paul Knitter sebagai upaya menciptakan ruang dialog yang dihiasi dengan hospitalitas yang Serta, upaya dialog ini menekankan misi Allah adalah misi yang univerasal dikerjakan oleh roh kudus yang berdiam pada pribadi seseorang, sehingga hasil dari dialog antar agama boleh terciptanya suatu dialog misi yang relevan dengan konteks ke-Indonesia yang plural atau beragam METODE PENELITIAN 8 Paul F Knitter. Pengantar Teologi Agama-Agama. Terjemahan Nico A. Likumahua . (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 285. 9 Martin Lukito Sinaga. Beriman Dalam Dialog: Esai-Esai Tentang Tuhan Dan Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 73-74. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 6 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER Tulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskritif untuk menggambarkan tentang model penerimaan yang maksudkan oleh Paul F. Knitter. Kemudian pemikiran Knitter dianalisi untuk melihat bagaimana misi Kristen berupaya menciptakan sebuah ruang penerimaan ditengahtengah konteks Indonesia yang multireligi. Pendekatan pustaka menolong tulisan ini untuk mengumpulkan referensi dari artikel jurnal, buku-buku,10 serta beberapa referensi mengenai dialog dengan agama-agama lain. Studi pustaka juga digunakan dalam mengumpulkan hal- hal yang berkaitan dan dibutuhkan sekaitan dengan pokok yang akan dibahas dalam tulisan ini. Selain itu, penulis juga memanfaatkan studi pustaka sebagai pembanding dan penguat tulisan ini. Beberapa referensi terkait dengan dialog misi kepada agama-agama dikombinasikan sehingga mencapai upaya kontruktif misi terhadap agama-agama dengan mengedepankan dialog seperti model penerimaan Paul Knitter. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Singkat Paul F. Knitter Paul F. Knitter . elanjutnya Knitte. lahir pada 25 Februari 1939 di Chicago. Amerika Serikas (AS). Knitter dibesarkan oleh orang tua yang beragama Katolik Roma. Knitter dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang agama Khatolik Roma, orang tuanya adalah sosok pekerja keras yang bekerja di pinggiran kota Chicago. Knitter bertumbuh menjadi seorang remaja Khatolik yang menempuh pendidikan sekolah dasar di St. Joseph. Pada saat menempuh pendidikan sekolah dasar Knitter diajari oleh Suster sekolah St. Francis, yang kemudian membuat Knitter tidak pernah ragu tentang apapun bahwa Tuhan ada di mana-mana dan bagi Knitter Yesus adalah Anak Allah atau Putra-Nya. Pada saat Knitter berusia tiga belas tahun, ia membuat sebuah keputusan yang mengherankan kedua orang tuanya. Knitter memutuskan bahwa Allah memanggil dirinya menjadi imam Katholik dan pada akhirnya ia bersekolah di Sekolah Seminari atau Sekolah Menengah Atas (SMA). Knitter menghabiskan empat tahun dalam hidupnya untuk belajar dan mempersiapkan diri menjadi seorang imam. 10 Alvary Exan Rerung. AuMenangkal Radikalisme Agama Berdasarkan Paradigma Misi Kristen Yang Berlandaskan Doktorin Allah Trinitas,Ay Sola Gratia Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2, no. ,33-34. 11 Paul F Knitter. Without Buddha I Could Not Be a Christian (Oxford: Oneworld, 2. , vi. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 7 Setelah empat tahun bersekolah dan mempersiapkan diri menjadi imam di sekolah seminari dan dua tahun masa seleksi mejadi imam atau sebagai novisiat maka, pada tahun 1958 keinginan terbesar Knitter terpenuhi menjadi seorang misioner. 12 Knitter tergabung menjadi anggota resmi AuDevine Word Missinaries (SVD, singkatan dari Societas Verbi Devin. Setelah tergabung sebagai anggota SVD perjalanan Knitter dikenal sebagai seorang teolog terkemuka dalam dialog antaragama, semuanya berasal dari penelitian, dan publikasinya yang sebagian besar membahas tentang agamaagama. Knitter mulai membahas hal ini dan isu-isu keagamaan kontroversial lainnya, pada tahun 1964 ketika ia menjadi seorang seminaris di Roma dan mengikuti Konsili Vatikan II ketika Gereja Katolik Roma mengungkapkan pandangan baru tentang adanya keselamatan di antara agama-agama lain. Knitter terus melanjutkan karier dalam dunia pendidikan sehingga sampai pada tahun 1966, ia memperoleh lisensi teologi dari Universitas Kepausan Gregorian di Roma. 15 Pada tahun 1969-1972. Knitter melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Marburg di Jerman. Prof. Carl Heinz Ratschow adaah dosen pembimbing Knitter ketika menulis disertasi yang berjudul AuMenuju suatu Teologi Agama-agama ProtestanAy. Isi dari disertasinya merupakan studi kritis terhadap pemikiran beberapa tokoh termaksud salah satunya yang dikritiknya adalah Karl Barth yang mengatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh di dalam Yesus Kristus dan hanya ada di dalam Kekristenan. Knitter kemudian menyatakan sikap bahwa apa yang dikatakan Barth hanyala seporo jalan dalam upaya memahami pihak yang lain. Tidak berhenti sampai disitu, setelah Knitter menyelesaikan studi doktoralnhya pada tahun 1972. Knitter kembali ke Chicago tempat dimana ia berasal dan mengabdikan diri sebagai dosen di Chatolic Theological Union dan mengampuh mata kuliah agama-agama. Pada tahun 1975 Knitter pindah ke Universitas Xavier di Cincinnati. Ohio saat itulah Knitter 12 Sahal Abidin Waluyo. AuStudy Teori Mutualisme Paul F. Knitter Dalam Hubungan Antarumat Beragama Di Indonesia,Ay RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam 2, no. 155Ae172. 13 Paul F. Knitter. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama Dan Tanggung Jawab Global, terj. Nico. A Likumahua (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 4. 14 Stella Y. E Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 48. 15 Jessica Gavilan dan Rebecca Nieto. AuMakalah Paul F . Knitter , 1962-2012,Ay Arsip Union Theological Seminary . : 1Ae11. 16 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 49-50. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 8 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER mengundurkan diri sebagai anggota SVD. Disisi lain Knitter menolak pemikiran gurunya Karl Rahner tentang AuKristen anonimAy dan memilih keluar dari jalur pemikiran Rahner. 17 Alasannya Pada tahun 1984. Knitter mulai berkeliling dunia untuk memperdalam keyakinan agama dan etikanya. Knitter juga melakukan perjalanan ke beberapa negara termaksud Korea Selatan untuk mempromosikan dialog antaragama dalam porsi antara umat Buddha dan Kristen. 18 Semua perjalanan Knitter berangkat dari kecintaan terhadap dunia teologi, baginya teologi adalah cinta kedua setelah istrinya Cathy Cornell. Karena prinsip utama Knitter adalah menjalankan prinsip agama secara interreligius. Sehingga. Knitter telah mencoba mempraktikkan dan memahami kehidupan Kristen melalui keterlibatan dengan cara orang lain sebagai upaya menjalani dan memahami kehidupan keagamaan mereka yang berbeda. Contohnya agama Yahudi. Muslim. Hindu. Budha, penduduk asli Amerika. Pengabdian diri Knitter selama 28 tahun sebagai tenaga pengajar di bidang teologi agama-agama Knitter, ia meraih gelas Profesor Emeritus di bidang teologi di Xavier University Cincinnati. Ohio. Amerika. 20 Sejak tahun 1986-2004 Knitter juga menjabat sebagai Dewan Direksi CRISPAZ (Christians for Peace in El Salvado. Knitter juga menjabat sebagai Dewan Dewan Perdamaian Antaragama Internasional (Board of International Interreligious Peace Counci. yang terbentuk pada tahun 1969. 21 Tahun 20032004 Knitter pernah mengajar di Indonesia sebagai Profesor tamu di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religions and Cross-cutural Studie. Pascasarjana. Universitas Gaja Mada. Yogyakarta. 22 Akhirnya Knitter juga meninggalkan panggilan sebagai seorang imam dan menikahi Cathterine Cornell, ia dikarunahi dua orang anak yang bernama John dan Moira, dan pada tahun 2016 mengabdikan diri sebagai pengajar di Union Theological Seminary sebagai profesor emeritus. 17 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 51. 18 Nieto. AuMakalah Paul F . Knitter , 1962-2012. Ay, 2-3. 19 Knitter. Without Buddha I Could Not Be a Christian, xi. 20Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 52. 21 Knitter. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama Dan Tanggung Jawab Global, 22 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 58. 23 Nieto. AuMakalah Paul F . Knitter , 1962-2012. Ay, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 9 No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitude toward World Religion Karya ini di terbitkan oleh penerbit Orbis Book di Maryaknoll. New York pada tahun 1985. Buku ini membahas pemetaan berteologi Knitter mengenai agama-agama lain atau sering knitter sebut dengan pihak yang Pemikiran Knitter alam karya ini memiliki fokus pada metode dan menghasilkan kesimpulan yang mirip dengan buku karangan Alan Race, yang oleh Race di sebut sebagai Autipologi-tripolar atau eksklusivisme, inklusifisme dan pluralisme. Knitter memang tidak menyebutnya sebagai salah satu pihak yang menolak konsep pemikiran Race, tetapi Knitter melihat model teologi agama-agama secara evolutif dari eklesiosentrisme, kristosentrisme, teosentrisme hingga sampai pada soteriosentrisme. Knitter menegaskan tentang model teologi agama-agama yang koreasional dan bertanggung jawab. 24 Perbedaan ini yang kemudian Knitter merumuskan empat model tipologi, adapun pemikiran Knitter yakni: Model Evangelis Konservatif: Satu Agama yang Benar. Knitter mengutip David Barrett yang menyebutkan tiga jenis Evangelis. Pertama. Evangelis Kaum fundamentalis yang bersikeras pada tujuh doktrin dasar Kekristenan yang otentik dan menolak sinkritisme demi menjaga kemurnian iman Kristen seperti serta menutup diri dari masalah-masalah Kedua. Kaum Evangelis Konservatif adalah gambaran orang Kristen yang ingin meneruskan pemikiran dari paham fundamentalisme namun dengan suasana baru yang lebih terbuka dan kritis. Ketiga, kaum Ekumenis atau Injili Baru, yang lebih terbuka terhadap kerjasama antar lintas denominasi dan agama. Oleh karena itu, mereka sering disebut AuEkumenis EvangelisAy. Salah satu yang menggunakan tipologi ini ialah Karl Barth. kaum Fundamentalis. Evangelis Konservatif, dan Evangelis Ekumenis ketiga kelompok ini berpegang pada otoritas utama Alkitab sebagai satusatunya sumber pengetahuan mutlak tentang Tuhan dan kondisi manusia, . Ketiga kelompok ini menekankan perlunya misi, kesaksian tentang sosok pribadi Yesus kepada semua orang, sehingga semua orang dapat memperoleh keselamatan. Model Protestan Arus-Utama, merupakan pandangan bahwa keselamatan hanya ada dalam Kristus. Menurut Knitter model ini 24 Edi S. Ginting dan Christian Tanduk. AuTheologia Religionum (Teologi AgamaAgam. ,Ay in Teologi-Teologi Kontemporer (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 184Ae201. , 184186. 25 Paul F. Knitter. No Other Name?: A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: Orbis Books, 1. , 78. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 10 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER menegaskan tentang Tuhan yang dapat ditemukan dalam semua agama. Pendekatan dalam model ini mengungapkan bahwa meskipun Tuhan dapat ditemukan melalui semua agama, namun pada prinsipnya hanya didalam Kristus keselamatan dapat ditemukan. Menurut Knitter model ini juga mengundang Barth dan para pengikutnya untuk menelusuri Perjanjian Lama dan Baru dalam kitab suci untuk diberitakan kepada pihak lain diluar Kristen. Tokoh yang dikenal dengan konsep ini di antaranya Paul Althaus. Emil Brunner, dan Wolfhart Pannenberg. Namun perlu di bedahkan kedua model ini, oleh karena itu Knitter mengatakan bahwa perbedaan dari Model Protestan Arus-Utama dan Model Evangelis Konservatif terletak pada pendekatan yang dialogis. Kaum protestan arus-utama mencari pendekatan kristiani yang lebih positif dan dialogis terhadap agama-agama lain dan kaum Evangelis Konservatif sebaliknya tidak menggunakan pendekatan dialog. Model Katolik, tipologi ini beranggapan bahwa jalan menuju Tuhan ada banyak, akan tetapi hanya Kristus yang secara normatif dalam berbagian jalan yang ditempuh. Menurut Knitter, ia mengatakan bahwa Hans Kung dan Karl Rahner sebagai contoh pemikir model ini. Kaum model Katolik berkomitemn pada Kristus sebagai Tuhan yang paling normatif dibandingkan ilah-ilah lain. Model Katholek seolah-olah berpendapat dengan penuh keyakinan bahwa "titik akhir" dalam upaya pengakuan umat Kristiani untuk mencapai teologi agama lain yang lebih Bahkan para teolog liberal, baik Katolik maupun Protestan, tidak berani melampaui hal posisi normatif Kristus. Model Khatolik pada akhirnya menjadi pegangan dalam menjalani praksis kehidupan yang Model Teosentris, model pendekatan yang percaya bahwa banyak jalan menuju pusat, yakni Tuhan sendiri sebagai jalannya. Hal ini mengungkapkan bahwa peran agama non-Kristen sebagai jalan yang diafrimasi konsep ini. Selain Knitter, beberapa teolog lain yang diposisikan di dalam model ini adalah John Hick. Raimundo Panikkar, dan Stanley Samartha. Landasan Teosentris menurut Knitter adalah perjalanan menemui Autitik temuAy . ommon platfo. dari pihak yang lain . gama-agam. Knitter menyampingkan Kristosentris karena bagi Knitter konsep Kristosentris bisa menjadi halangan dalam menembut batas-batas 26 Knitter. No Other Name?: A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions, 101. 27 Knitter. No Other Name?: A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions, 125. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 11 perbedaan, karena bagi Knitter Misteri Ilahi yang disebut sebagai Theos atau Allah lebih besar daripada pengajaran-pengajaran dan realitas Yesus Kristus. One Earth. Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility Tulisan Knitter dalam buku One Earth. Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility, diterbitkan di Maryknoll oleh penerbit Orbis Book pada tahun 1995. Buku ini kemudian di terjemahkan oleh Nico A. Likumahuwa dan diterbitkan oleh penerbit BPK Gunung Mulia pada tahun 2003 dengan judul terjemahan AuSatu Bumi Banyak Agama: Dialog MultiAgama Dan Tanggung Jawab GlobalAy. Buku ini sudah dicetak ulang oleh penerbit dan terhitung pada tahun 2019 buku ini berada pada cetakan ke Tulisan Knitter dalam buku ini menyatakan bahwa kepedulian bersama terhadap penderitaan bumi dan penghuninya dapat menjadi arena dan titik awal dialog antaragama. Karena Knitter menekankan tentang dialog yang korelasional dan bertanggung jawab secara global. 29 Sehingga peran buku ini merupakan bagian penting yang dapat menunjang kegiatan berteologi di dalam konteks Indonesia yang terus mengupayakan serta mendorong warga Gereja dan kaum akademisi untuk terus beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa di tengah-tengah kepelbagaian. Pengamatan penulis tentang isi dari buku ini adalah hasil pemikiran Knitter tentang pluralis dan pembebasan atau yang ia sebut sebagai dialog pluralis dan dialog pemebasan. Unsur pembebasan menjadi harapan bagi Knitter untuk bagaiaman warga Gereja melihat tanggung jawab global yang mesti dikejakan dengan seluruh kepelbagaian. Unsur pembebasan Knitter gunakan setelah perjumpaan dialogis dengan teokoh-tokoh pembebasan khusunya di India. Sri Lanka dan Thailand. Perjumpaan ini memberi kesadaran dan penguatan bagi Knitter untuk belajar dari dua pihak yang lain (Salah satunya Aloysius Peiri. , jika diperhadapkan dengan pilihan antara dialog antar-agama dan masalah keadilan terhadap manusia. Knitter memilih untuk memberi perhatian pada masalah keadilan dan meninggalkan dialog antar-agama, tetapi bagi Knitter itu tidaklah mungkin, karena perjumpaan dialogis dengan tokoh-tokoh pembebasan telah membuktikan bagaimana dialog antar-agama dan dialog tanggung jawab 28 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 54. 29 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 56. 30 Knitter. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama Dan Tanggung Jawab Global, x. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 12 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER dijadikan sebagai suatu peluang dan bukan untuk kepentingan tertentu. 31 Bagi Knitter keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan fakta kemiskinan yang mengancam menjadi wadah kolaborasi antara dialog antar-agama dan dialog tanggung jawab global. Sekilas tentang Misi Kristen Kata misi Menurut Yosua Feliciano Camerling and Hengki Wijaya, dalam tulisan berjudul AuMisi Dan Kebangkitan RohaniAy memberi penegasan tentang kata Mission yang berarti pekerjaan-pekerjaan spesifik yang dilakukan oleh gereja untuk menunjukkan kepada para pemimpin atau jemaat gereja melayani terpusat kepada kerajaan Allah. 32 Menurut Jusni Saragih kata misi berasal dari bahasa latin mission, yang memiliki kesamaan arti dengan kata Yunani apostole 33 artinya pengutusan. Saragih melihat pada teks Yohanes 20:21 bahwa kata misi menggunakan kata apostello . , pempo . Saragih juga menegaskan bahwa kata misi biasanya dikaitkan dengan pengutusan para utusan gereja, zending dll. Sehingga misi memiliki keterkaitan dengan karya Allah atau kata yang sering disebut oleh beberapa teolog ialah mission ecclesiae. Gereja juga memiliki peran sebagai ladang penyebaran misi tugas pemberitaan Injil, yang secara praktis dalam keseharian dapat diistilahkan bersaksi bagi Kristus, bukan semata-mata tugas orang Kristen Auyang terpanggil secara pribadiAy saja . isalnya Evangelis. Misionaris. Pendet. , namun merupakan tugas setiap orang Kristen yang sudah diselamatkan. Menurut Seri Damarwanti, tugas ini merupakan keharusan bagi setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus, agar dapat ambil bagian dalam Injil. 35 Orang percaya dalam pelayanan memberitakan Injil tidak bisa dipisahkan dari pengabdian dan ketundukan terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus. 31 Knitter. Satu Bumi Banyak Agama: Dialog Multi-Agama Dan Tanggung Jawab Global, 32 Yosua Feliciano Camerling and Hengki Wijaya. AuMisi Dan Kebangkitan Rohani: Implikasi Misi Allah Bagi Gereja,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) 1, no. : 57Ae71. 33 Barclay M. Newman. Kamus Yunani-Indonesia: Untuk Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. ,20. 34 Jusni Saragih. AuTeologi Misi Dan Ekumenisme,Ay in Teologi-Teologi Kontemporer (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 148. 35 Seri Damarwanti. AuPandangan Rasul Paulus Tentang Jembatan Pengantar Injil. Kajian Misiologi Terhadap I Korintus 9:1-23,Ay Sanctum Domine: Jurnal Teologi 8, no. 95Ae132,. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 13 Pengertian ini sejalan dengan pemahaman misi di dalam konteks Kristen, salah satu bentuk diskriminasi tersebut terwujud dalam sejarah lewat misi Kristen mula-mula di Indonesia. Sebagaimana diungkap oleh De Jong bahwa dalam misi Kristen, para pekabar Injil . dari Barat dipengaruhi oleh pemikiran bahwa agama Kristen lebih unggul dibanding agama-agama lain termasuk kepercayaan lokal. Syarat mutlak untuk mendapatkan keselamatan adalah dengan menjadi anggota gereja, sebab di luar gereja tidak ada keselamatan . xtra ecclesiam nulla salu. 36 Dari pemahaman ini menggambarkan situasi bagaimana jika seorang berpindah menjadi pemeluk agama Kristen, ia akan dianggap menemukan kebenaran dan keselamatan. Sedangkan pemeluk agama Kristen yang berpindah menjadi pemeluk agama lain akan dianggap murtad. Hasil dari pemahaman extra ecclesiam nulla salus menjadikan pengertian misi menurut konteks kekristenan menjadi tertutup. Misi pada abad pertengahan semisalnya senada dengan istiah extra ecclesiam nulla salus Thomas Aquinas . , seorang biarawan Dominikan, mengarang tentang Summa contra gentiles (Ajaran Melawan Orang Kafi. yang terutama menghasilkan pendekatan kepada orang kafir dan muslim. Karena kedua kelompok ini dianggap memiliki akal budi alamiah/ kodrati dan diangap perlu untuk diterangi oleh penyertaan Allah yang adikodrati melalu misi Kristen. Namun dengan pemahaman misi pandangan yang berbeda dari Ramundus Lullus . , mengatakan bahwa misi seharusnya melalui peta dialog bersama-sama untuk menyeregamkan pemahaman iman demi tercapainya persetujuan dalam satu iman untuk memuliakan nama Allah. 37 Pemahaman dan penerapan misi terus mengalami perubahan secara terus-menerus terutama pemaknaan dan penerapan tentang misi yang berubah sesuai konteks zaman. Perubahan terhadap misi dan semangat untuk menjadikan semua agama memeluk agam Kristen adalah salah satu tantangan yang besar dan kesalahan yang fatal dalam memaknai misi Kristen. Tipe pemberitaan misi yang menjadikan semua agama memeluk agama Kristen diungkapkan oleh Paul F. Knitter tentang Model Evangelis Konservatif dengan arti yang lain ahawa Satu Agama yang Benar. Knitter mengutip David Barrett yang menyebutkan tiga jenis Evangelis. Pertama. Evangelis Kaum fundamentalis yang bersikeras pada tujuh doktrin dasar Kekristenan yang otentik dan 36 Kees De Jong. AuMisiologi Dari Perspektif Teologi Kontekstual,Ay Gema Teologi 21, 2 . : 2. 37 Arie de Kuiper. Misiologi: Ilmu Pekabaan Injil (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 14 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER menolak sinkritisme demi menjaga kemurnian iman Kristen seperti serta menutup diri dari masalah-masalah sosial. Kedua. Kaum Evangelis Konservatif adalah gambaran orang Kristen yang ingin meneruskan pemikiran dari paham fundamentalisme namun dengan suasana baru yang lebih terbuka dan kritis. Ketiga, kaum Ekumenis atau Injili Baru, yang lebih terbuka terhadap kerjasama antar lintas denominasi dan agama. Oleh karena itu, mereka sering disebut AuEkumenis EvangelisAy. Salah satu yang menggunakan tipologi ini ialah Karl Barth. Paul Knitter seorang professor teologi dan agama-agama di dunia, di Union Theological Seminary. New York, yang di kenal sebagai teolog pluralisme memberi pemaknaan baru misi Kristen dalam menjalankan tugas penginjilan di tengah pluralisme agama. Semangat yang di latarbelakangi, tentang hubungan agama-agama dalam menciptakan perdamaian. Paul Knitter adalah teolog agama-agama yang selalau terlibat dalam dialog antar Eksplorasi Knitter mengenai teologi agama-agama, menegaskan bahwa setiap agama bukanlah sentral melainkan agama adalah salah satu bagian dari keberagaman yang ada. 39 Agama memiliki keterbatasan dan sifat yang dinamis karena bahasa agama terbatas dalam menggambarkan realitas Keterbatasan dalam hal ini agama semestinya terbuka dengan agama Knitter menegaskan bahwa keterbukaan terhadap agama lain di dalam kerendahan hati adalah jembatan dialog yang pertama untuk saling memperkaya dan melengkapi dalam kehidupan beragama. 40 Oleh sebab itu. Knitter menghadirkan empat model pendekatan bagi umat kristiani dalam menentukan posisi diri untuk berdialog agama lain antara lain. pemenuhan, model pergantian, model mutualutas, dan model penerimaan The Replacement Model (Model Penggantia. Menurut John C. Simon bahwa model ini bersifat optimis bahwa, menganggap realitas semua agama sudah diketahui, yaitu digantikan oleh agama Kristen. 41 Model penggantian menghormati perbedaan yang ditemui dalam agama-agama lain, namun tujuannya menghilangkan dan 38 Paul F. Knitter. No Other Name?: A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: Orbis Books, 1. , 92. 39 Paul F Knitter. No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions. American Society of Missiology Series, 5. 40 Paul F Knitter. Without Buddha I Could Not Be a Christian (Oxford: Oneworld, 2. , 67s. 41 John C. Simon. Islam Yang Aku Pahami: Dari Masa Formatif Hingga Perkawinan Lintas Iman (Makassar: Komojoyo Press, 2. , 142. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 15 menggantikannya dengan tradisi Kristen . Agama Kristen diciptakan untuk menggantikan semua agama lain. Sikap ini juga dominan dan pada umumnya dianut sepanjang sebagian besar sejarah agama Kristen. Model penggantian menegaskan keberpihakan Allah yang menghendaki hanya satu agama, yaitu agama Kristen. Sederhananya bahwa Kasih Allah yang universal untuk semua orang, namun disisi lain kasih itu dianut oleh komunitas Kristen beraliran Fundamentalisme atau Evangelikalisme menjadikan kasi Allah yang universal terbatas pada suatau agama tertentu. Model pergantian atau penolakan menurut Knitter ialah model yang menganggap agama yang lain sesat dan tertolak. The Fulfillment Model (Model Pemenuha. Model Pemenuhan, yang bersumber pada gagasan bahwa Tuhan hadir di dalam agama di luar agama Kristen, akan tetapi kekristenan dalam hal ini Yesus Kristus berperan sebagai penyempurna agama lainnya. Simon juga menegaskan bahwa di dalam model ini memiliki sifat teologis yang paling mencerminkan watak teologi katolik pra Konsili Vatikan II, di mana kekristenan menjadi ujung paling sempurna dari keberadaan agama-agama yang ada dan mengundang masuk yang lain masuk ke dalam Kristus Kristen. 43 Model pemenuhan mewakili pandangan mayoritas umat Kristen saat ini, yaitu gereja-gereja Aualiran utamaAy: Lutheran. Reformasi. Methodis. Anglikan. Ortodoks Yunani, dan Roma Katolik. Mereka percaya bahwa agama-agama lain memiliki nilai. Tuhan ada pada mereka, dan umat Kristen perlu berdialog dengan mereka, bukan sekedar memberitakan Injil. The Mutuality Model (Model Mutualita. Model Mutualitas memiliki prinsip yang menyatakan bahwa seluruh agama memiliki pondasai atau dasar yang sama, paling tidak dalam beberapa hal ada kesamaan. Dari sinilah yang memungkinkan adanya dialog secara mutual. Bagi Knitter, model mutualitas adalah cara untuk memelihara keberagaman dan perbedaan yang nyata di antara agamaagama. Cara untuk menjaga keberagaman mesti termuat sebuah Auaturan 42 Paul F Knitter. Pengantar Teologi Agama-Agama, terj. Nico A. Likumahuwa. (Yogyakarta: PT Kanisius, 2. ,21. 43 Simon. Islam Yang Aku Pahami: Dari Masa Formatif Hingga Perkawinan Lintas Iman, 44 Knitter. Pengantar Teologi Agama-Agama, 22. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 16 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER mainAy sehingga terjadi sebuah dialog. 45 Karena bagi Kniter model ini harus mengedepankan dialog yang mutual, atau dialog dua arah, memungkinkan kedua pihak harus berdialog, mendengarkan, terbuka untuk belajar dan merubah kondisi lingkungan yang mengancam kedua pihak. The Acceptance Model (Model Penerimaa. Model ini menyambut pluralitas/keanekaragaman religius tanpa membangun asumsi atau prasangka agama-agama lain. Tidak ada dasar bersama bagi semua agama, namun ada tempat yang lebih besar untuk berdialog dalam pranata bersesama yang baik, yaitu keselamatan Allah bagi Simon menegaskan bahwa model penerimaan yang ditawarkan oleh Knitter secara sederhana bertujuan untuk menciptakan kebersaman di dalam keberagaman antara agama-agama, dan menerima perbedaanperbedaan yang menjadi ringkasan penting dalam model penerimaan 47. Konseptual model penerimaan menganggap bahwa perbedaan antar agama bukan hanya pada bahasa, melainkan, lebih jauh lagi, menyangkut tujuan terakhir dan AupemenuhanAy dalam setiap agama. Agama-agama bukan hanya berbeda dalam bentuk, tetapi juga berbeda dalam tujuan dan keselamatan. Stella Y. E Patypeilohy di dalam bukunya yang berjudul Keselamatan Menurut Paul Knitter mengatakan bahwa Knitter sebelum mengenal empat model ini, ia berada pada jembatan Eklusivisme. Inklusivisme dan Pluralisme. Pada saat menemukan empat model ini (Replacement. Fuilfillment. Mutuality dan Acceptanc. Knitter bergerak melampaui tiga jembatan yang dianut sebelumnya. 48 Harapan terbesar Knitter adalah ketika melihat realitas kemajemukan dan keberagaman agama dalam kehidupan manusia maka yang perlu menjadi fokus bersama oleh setiap agama untuk saling melengkapi dan memperkaya satu dengan yang lain. Harapan yang sama oleh Knitter melalui Empat model ini, bukan untuk mendamaikan semua pihak yang menganut empat model ini, tetapi tujuan Knitter ketika meringkas dan menggambarkan model-model ini supaya para pembaca dapat menentukan posisi yang tepat bagi masing-masing pribadi. 45 Knitter, 131. 46 Knitter, 130. 47 Simon. Islam Yang Aku Pahami: Dari Masa Formatif Hingga Perkawinan Lintas Iman, 48 Pattipeilohy. Keselamatan Menurut Paul. Knitter, 54. 49 Knitter. Pengantar Teologi Agama-Agama, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 17 Dialog Model Penerimaan Paul Knitter dengan Misi Kristen Pintu Masuk Dialog Model Penerimaan Fakta sejarah menceritakan bahwa terjadi pergeseran-pergeseran paradigma teologi Kristiani beberapa abad lalu, pergeseran dari eklesiosentris . eologi yang berpusat pada gerej. ke teologi agama-agama yang kristosentris . erpusat pada Kristu. , yang diembuskan oleh Konsili Vatikan II, kemudian ke teologi agama- agama yang teosentris . erpusat pada Alla. 50 Anggap bahwa pemahaman Konsili Vatikan II menjadi landasan berpikir warga gereja hari ini, yang memahami Yesus sebagai Allah yang tidak ditemukan di agama-agama lain. Konsep berpikir inilah yang membatasi perjalanan pemaknaan dan pemahaman tentang misi di ruang Misi yang dinarasikan kemungkinan tercermin dari pemahaman tentang Imagodei, untuk menjalankan MissioDei sehingga menjadi FamiliaDei. Model Penerimaan memberi kesimpulan bahwa ketika misi itu dihidupi di luar gereja dalam pengertian lain misi yang dihidupi oleh agama Maka, sebuah pendekatan terhadap agama lain yang merasa lebih baik ketika membicarakan misi di luar lingkup kekristenan, maka perlu terlebih dahulu untuk memahami diri mereka sendiri dan dunia mereka dan pada saat yang sama memberikan perbaikan aspek teologi sebelumnya yang tampaknya bekerja dengan baik. Peta dialog-lah yang memberikan arah untuk mendialogkan Misi Kristen dengan agama-agama lain, dengan bantuan model penerimaan Paul Knitter maka berdialog pada hal-hal yang bersifat pluralism orientational, berdiri pada peta perspektif kebenaran yang menganggap semua pihak benar di dalam cara pandang mereka sendiri. Misi Kristen tidak dipaksanakan untuk diterima oleh agama lain Siapapun yang terlibat dalam dialog harus mengakui argumen Model Penerimaan, bahwa secara sadar atau tidak sadar, kita semua adalah seseorang inklusif . rang yang berkecenderungan melihat dan memandang orang lain berbeda dari sudut pandang dan pengalamannya yang subjekti. Kita terkadang cenderung meyakini suatu hal yang benar dan berharga, di dalam diri kita. dan mengukur keberadaan orang lain dari diri kita sendiri. Keberadaan diri menentukan posisi seperti apa jadinya kita ketika berdialog dengan orang yang berbeda keyakinan. John C. Simon dalam karya kolektif dengan beberapa kolega berjudul AuDeradikalisasi Di Konteks Sulawesi Selatan dengan Dialogical Self TheoryAy. Menawarkan suatu 50 Knitter, 74-91. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 18 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER pendekatan dialog yang menarik yaitu dengan teori AuDialogical Self TheoryAy. Simon menegaskan bahwa Dialogical Self Theory mampu membangun landasan pemikiran dari diri . sebagai agen dan sumber pertama yang memproduksi makna, agen merujuk pada bagaimana kemampuan seseorang terlibat dalam upaya perubahan dalam struktur sosial tatanan Simon juga menegaskan bahwa Dialogical Self Theory membangun landasan pemikiran dari status aleteritas atau Auyang lainAy Aumemurnikan akuAy sehingga memahami diri lebih baik. Catatannya menurut Simon tanggung jawab kepada yang lain bukan karena dituntut oleh Auyang lainAy melainkan melalui dialog ke dalam diri (Dialogical Sel. , kritis terhadap diri sendiri dan membongkar kepentingan yang berlandaskan pada diri sendiri. Dialogical Self Theory yang ditegaskan oleh John C. Simon dan teman kolega yang lain, menggambarkan kesamaan dengan model penerimaan menurut Paul Knitter. John C. Simon menggunakan pendekatan dialogical self dengan memberi kritik terhadap diri untuk memurnikan diri sebelum berada pada suatu lingkaran dialog interfaith. Sedangkan Knitter senada dengan itu berbicara tentang model penerimaan, menerima diri dan memperlengkapi diri sambil menantikan orang diluar pribadi kita. Secara sederhana Joas Adiprasetya menjelaskan bahwa dengan membuka dua lengan (Perikoresi. secara bersamaan seperti posisi berpelukan tetapi tujuannya untuk menerima subjek lain masuk, kemudian menutup kembali lengan itu dan kemudian kembali membuka lengan untuk melepaskan subjek itu pergi menjadi dirinya. Senada dengan perikoresis Lesslie Newbigin adalah seorang missionaris yang mengedepankan kemajemukan. Newbigin mengantakan bahwa orang Kristen akan bersemangat untuk bekerja sama dengan orangorang dari semua iman dan ideologi dalam semua proyek yang sejalan dengan pemahaman Misi Kristen tentang tujuan Allah didalam sejarah. Pengendalian adalah dibawah Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus yang kesabaranNya tidak terbatas dalam setiap hari dari kehidupan kita. Newbigin menegaskan bahwa komitmen bersama untuk pekerjaan dunia memberikan konteks untuk dialog bersama yang menimbulkan kerjasama dari berbagai jenis agama mengenai isu-isu yang nyata, dialog tersebut akan menjadi dialog yang nyata apabila penekanan dalam dialog berisi tentang 51 John C. Simon. AuDeradikalisasi Di Konteks Sulawesi Selatan Dengan Dialogical Self TheoryAy (Makassar: STT Intim Press & Komojoyo Press, 2. , 33. 52 Joas Adiprasetya. An Imaginatife Glimpsi: Tritunggal Dan Agama-Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 19 arti dan riwayat manusia. 53 Newbigin mengatakan bahwa agama apapun jika dihadapkan pada perbedaan komitmen maka setiap agama harus mencari jalan keluar demi kesatuan atau setidaknya terdapat kerangka kerja untuk memahami perbedaan. Inilah konseptual misi Kristen seharunya mesti terbuka kepada setiap undangan dari agama-agama lain dan merengkung . ukan memasukan engertian konvensi, pidah agam. membuka ruang didalam diri saya sendiri bagi yang lain untuk masuk dan berdialog. Selanjutnya menutup lengan oleh kedua pihak . yang berarti mengakui yang lain sebagai perbedaan yang lain, sekaligus mengubah cara pandang terhadap yang lain dan akhirnya membuka kembali rangkulan lengan karena perengkuhan bukan untuk menyeragamkan atau menciptakan kesatuan melainkan membiarkan mereka menjadi diri sendiri . ua tangan Allah yang 55 Dialog kepada agama-agama lain semestinya berorientasi kepada prinsip penerimaan atas kesadaran bahwa dua pihak dalam ruang dialog adalah kepribadian yang berbeda, sehingga wadah penerimaan dan refleksi kritis terhadap personal masing-masing adalah jalan menuju sebuah Refleksi Teologi Misi Kristen dalam Dialog Misi Kristen bukanlah misi gereja melainkan misi Allah Tritunggal . isi yang bercorak Trinitaria. Hal tersebut dipertegas oleh Moltmann sebagaimana dikutip oleh Bosch. AuBukanlah gereja yang mempunyai misi keselamatan yang harus digenapi di dalam dunia. ini adalah misi sang Anak dan Roh Kudus melalui Bapa yang mengikutsertakan dunia. Ay Ikut serta di dalam misi berarti ikut serta di dalam gerakan kasih Allah Tritunggal kepada 57 Misi Kristen sesungguhnya merupakan usaha yang berpadanan dengan misi Allah Tritunggal yang terwujud . melalui pelayanan Yesus Kristus sendiri. Pelayanan yang Yesus kerjakan adalah pelayanan yang membebaskan umat manusia, sekaligus menghadirkan nila-nilai Kerajaan Allah di bumi. Kitab-kitab Injil sedikitnya menunjukkan tiga 53 Lesslie Newbigin. The Gospel in a Pluralist Society (CAMBRIDGE. K: B. Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, 1. , 195-197. 54 Lesslie Newbigin. The Open Secret: An Introduction To The Theology Of Mission (America: Library Of Congres Cataloging, 1. , 120-121. 55 Adiprasetya. An Imaginatife Glimpsi: Tritunggal Dan Agama-Agama, 185-186. 56 Martin Lukito Sinaga. Beriman Dalam Dialog: Esai-Esai Tentang Tuhan Dan Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 73-74. 57 David J. Bosch. Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah Dan Berubah. Terj. Step. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 598. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 20 | MODEL PENERIMAAN PAUL F. KNITTER tindakan yang seringkali Yesus lakukan dalam pelayanan-Nya yaitu memberitakan Injil, mengusir setan, dan menyembuhkan orang yang sakit. Ketiga tindakan tersebut adalah pelayanan yang membebaskan manusia. Memberitakan Injil berarti membebaskan orang dari tertutupnya akses mengenai Kerajaan Allah. mengusir setan berarti membebaskan orang dari kuasa si jahat . menyembuhkan orang sakit berarti membebaskan orang dari penindasan penyakit. Selain itu, berbagai Mujizat lain yang Yesus lakukan . emberi makan lima ribu orang, meredakan angin ribut, mengubah air menjadi anggur, dan membangkitkan orang mat. adalah tindakan yang membebaskan orang dari rasa takut, khawatir dan tekanan hidup. Yesus juga mengajar banyak orang tentang kebenaran untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kejahatan yang menyelimuti hati dan pikiran mereka. Tindakan Yesus di salib adalah tindakan untuk membebaskan dan menebus manusia dari kematian kekal. Temuan penelitian ini adalah bahwa dialog Misi Kristen kepada agama lain memposisikan diri untuk menerima perbedaan yang sifatnya ajaran . namun menghasilkan sutau rencana tindak lanjut . menciptakan suatu perdamaian da kesejahteraan bersama seluruh umat manusia. Misi Kristus di dalam dunia merupakan cerminan dari misi Allah Tritunggal dan manusia juga diundang untuk masuk dan berpartisipasi di dalamnya. Dengan demikian, misi Kristen tidak lagi dipahami secara sempit atau semata-mata sebagai usaha untuk membuat orang lain menjadi pemeluk agama Kristen . enambah jumlah secara Misi Kristen juga berarti merangkul orang lain, meskipun ia berbeda keyakinan untuk bersama-sama terlibat dalam misi Allah dalam memperjuangkan kehidupan bersama yang harmonis di dalam dunia ciptaan Allah. KESIMPULAN Paradigma Misi Kristen di era kolonial sarat dengan diskriminasi dan menolak perbedaan. Pola misi demikian harus ditinggalkan dan direkonstruksi ulang. Gereja-gereja di Indonesia perlu mengembangkan paradigma misi yang mengedepankan dialog, memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan yang tercermin lewat misi trinitarian. Misi Kristen juga seharusnya di pahami sebagai usaha bersama untuk menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan bersama pemeluk agama yang berbeda di Indonesia. Misi Kristen adalah misi yang meneladani Kristus dalam seluruh hidup dan karya-Nya guna menghadirkan nilainilai kerajaan Allah di bumi. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. RIO ROCKY HERMANUS. ERLITA SILVIA. GEOVANIUS WILSON PARASSA | 21 Perbedaan agama menjadi sebuah peluang untuk menciptakan dialog untuk saling menerima satu dengan yang lain demi mencapai satu tujuan bersama mencari dan menemukan kehendak Allah sebagai sebuah tindakan atau gerakan bersama menciptakan keadilan sosial, perdamaian, keutuhan Agama-agama menganggap dialog yang dibangun atas dasar tindakan iman adalah bagian dari praksis, yang bagi umat Kristen merupakan fungsi-fungsi yang dijalankan dalam persekutuan orang Fungsi ini menjadi momentum untuk mengingat dan menghayati Yesus Kristus yang disalib dan kebangkitan-Nya membawa pengharapan tentang Kerajaan Allah sebagai ungkapan keprihatinan-Nya. Sehingga Gereja sebagai persekutuan orang beriman . dengan penuh kegembiraan mewartakan kasih dan kebenaran. Sederhananya fungsi-fungsi Gereja di antara kemajemukan adalah membangun persekutuan antara orang beriman dan di sisi lain membuka diri dengan agama-agama lain untuk sebuah perubahan di dalam masyarakat atau sebagai agen transformasi sosial. DAFTAR PUSTAKA