Jurnal Kedokteran MEDITEK Volume 31. Number 1. Tahun 2025 page. P-ISSN: 2686-1437 E-ISSN: 2686-0201 DOI: https://doi. org/10. 36452/jkdoktmeditek. Gambaran Pengetahuan Ablasio Retina pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana Shindie Dona Kezia Lethulur1. Silvester Rionoviyanus Temiang Sopian2. Chrisella Michelle Kainama3. Naomi Regina P Br Tobing4. Santi Anugrahsari5* 12345Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Received: August 21, 2023 Revised: July 8, 2024 Accepted: November 11, 2024 Available online: January 30. Introduction: Retinal detachment is the visual nerve layer in the eyeball from the lower layer or retinal layer of pigment epithelium with accumulation in subretinal fluid. The clinical manifestation of retinal detachment is that the patient's vision can decrease from mild to severe. The symptom that suf erers often complain about is floaters, which are visible objects floating around. Purpose: The research is to determine the knowledge of retinal detachment among medical students at the Faculty of Medicine and Health Sciences. Krida Wacana Christian University. Methods: The design of this research is cross-sectional. Participants completed the questionnaire via Google form from 7 December 2022 to 15 December 2022. This research used random sample selection was carried out randomly. Participants numbered 108 students. Results: Students who had a high level of knowledge 69 respondents . 9%), followed by a low level of knowledge, namely 22 respondents . 4%), and then for a medium level of knowledge there were 17 respondents . 7%). Conclusion: Most students at the Faculty of Medicine and Health Sciences. Krida Wacana Christian University have a high level of knowledge. This study had variations in respondents' knowledge levels because there were pre-clinical and clinical clerkship students Keywords: knowledge level. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Medical Faculty and Health Sciences. Krida Wacana Christian University Pendahuluan Ablasio retina adalah terlepasnya lapisan saraf penglihatan pada bola mata dari lapisan di bagian bawah mata atau lapisan retina pigmen epitelium (RPE) dan disertai dengan akumulasi berupa cairan subretina. 1Ae3 Prevalensi kejadian ablasio retina bervariasi, yakni 1:10. Risiko tertinggi ada pada laki-laki dibandingkan perempuan. Risiko ablasio retina regmatogenosa tersering pada orang Asia Tenggara dibandingkan orang ras kulit putih Eropa. Hal ini karena ras Asia Tenggara memiliki risiko miopia lebih tinggi dan aksial yang lebih panjang. Studi lain menemukan perbedaan yang signifikan dalam faktor risiko pada pasien ablasio retina pada orang India. Melayu. Cina, dan Singapura. 3Ae6 Manifestasi klinis ablasio retina berupa menurunnya penglihatan pada pasien, mulai dari ringan sampai berat. Gejala tersering yang menjadi keluhan mayoritas pasien adalah gejala floater, yaitu pasien sering melihat benda yang melayang-layang. Hal ini disebabkan kekeruhan pada vitreus karena ada perdarahan, proses degenerasi yang menyebabkan terlepasnya pigmen retina dari vitreus, serta adanya kilatan cahaya. Kilatan tersebut biasanya dirasakan oleh pasien sewaktu melakukan pergerakan pada mata dalam cahaya dengan keadaan redup atau gelap. Terdapat keluhan juga pada indra penglihatan, seperti pandangan yang tertutup oleh tirai yang makin lama menyebar pada jaringan sekitar. Pada kondisi yang lebih parah, biasanya terjadi *Corresponding author E-mail addresses: santi. anugrahsari@ukrida. Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page 1-8 penurunan tajam penglihatan yang makin lama makin parah. Anamnesis yang dilakukan dengan teliti membuat keluhan ablasio retina dapat diketahui dengan cepat. Terdapat metamorfopsia berupa makropsia dan mikropsia disebabkan cairan ablasi bergerak pada tempat yang rendah. Jika terjadi pada daerah temporal yang terdapat macula lutea, menyebabkan terjadinya gangguan pada visus sentral, sedangkan jika terdapat pada daerah nasal, visus sentral akan lebih lambat mengalami gangguan. Lama-kelamaan, tirai akan semakin turun dan menutupi mata secara keseluruhan karena terjadi ablasio kebutaan total sehingga persepsi cahaya penderita menjadi 3,6 Gejala objektif dapat diketahui dengan pemeriksaan mata menggunakan oftalmoskop. Gejalanya terdapat retina yang memiliki warna abu-abu dengan lipatan-lipatan berwarna putih. Tampak kelainan pada koroid. Pada ablasi yang merata pemeriksaan dengan oftalmoskop, retina tidak bergelombang dan hanya sedikit yang mengalami perubahan warna menjadi abu-abu, seperti awan, kadang-kadang gambaran koroid masih terlihat. Pembuluh darah berwarna lebih gelap, lebih berkelok-kelok, dan refleks cahaya negatif. 2,3,5 Pemeriksaan ablasio retina dapat dilakukan. Namun pada umumnya, pemeriksaan ablasio dilakukan untuk melihat fungsi dari subjektif pada retina, tajam penglihatan, penglihatan terhadap objek yang berwarna, dan pemeriksaan terhadap lapang pandang pasien. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan sebelum terjadi dilatasi pupil. Visus dapat mencapai kurang dari 6/60 jika terdapat keterlibatan makula dalam ablasio retina dan tekanan intraokular teraba menurun. Pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp juga dilakukan untuk melihat keabnormalitasan terhadap segmen anterior mata. Pemeriksaan funduskopi dilakukan apabila pupil dilatasi terlebih 3 Ablasio retina dapat terjadi karena beberapa penyebab. Pertama, karena ada penumpukan cairan subretina dan menyebabkan keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid . Penyebab kedua, adanya tarikan pada jaringan fibrotik di dalam membran vitreus. Penyebab ketiga, adanya pendorongan retina oleh fluid vitreous dan menyebabkan masuknya fluid vitreous melalui lubang pada retina ke rongga subretina sehingga membuat retina terlepas dari epitel pigmen. Ablasio retina diakibatkan tumor koroid yang membuat retina tumbuh ke depan. Hal ini dapat memengaruhi pelepasan oleh retina dari epitel pigmen dan diikuti eksudasi oleh rangsangan pada retina. 3,6 Secara luas, ablasio retina diklasifikasikan menjadi tiga jenis berdasarkan penampilan klinis dan etiologi yang mendasari: . Rhegmatogenous retinal detachment (RRD)/ablasi retina regmatogenosa. Ablasio retina dapat muncul karena ada robekan di retina dan ketika terjadi suatu robekan pada bagian tersebut. Exudative and serous retinal detachments/ablasio retina eksudatif yang merupakan ablasio yang timbul karena adanya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Exudative and serous retinal detachments/ablasio retina yang disebabkan oleh tarikan atau traksi. Ablasio retina tarikan atau traksi merupakan kejadian lepasnya jaringan parut akibat tarikan pada badan kaca dan pada akhirnya mengakibatkan ablasio retina. Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes melitus proliferative, trauma dan perdarahan badan kaca akibat adanya tindakan bedah atau infeksi. 5,7,8 Dari pencarian literatur, masih jarang ditemukan penelitian terkait pengetahuan ablasio retina pada mahasiswa kedokeran dan kepaniteraan klinis. Di sisi lain, pengetahuan tersebut sangat penting diketahui oleh calon dokter dalam upaya deteksi dini ablasio retina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ablasio retina pada mahasiswa FKIK Ukrida. Metode Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan desain deskriptif. Penelitian dilakukan di FKIK Ukrida. Jakarta Barat, dan telah disetujui oleh Komite Etik dengan No. SLKE: 1408/SLKEIM/UKKW/FKIK/KE/VII/2022. Partisipan mengisi kuesioner melalui Google Form dalam rentang waktu 7 Desember hingga 15 Desember 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi mahasiswa yang bersedia mengisi kuesioner dan mahasiswa yang sedang menempuh studi, baik preklinik maupun kepaniteraan klinik. Kriteria eksklusi adalah mahasiswa yang tidak bersedia mengisi kuesioner dan mahasiswa yang sedang JKMEDITEK. P-ISSn: 2686-1437 E-ISSN: 2686-0201 Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page. mengambil cuti. Penelitian ini menggunakan random sampling, yaitu proses pemilihan sampel dilakukan secara acak. Jumlah sampel minimal dalam penelitian ini adalah 80 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat untuk mengetahui besaran presentasi data. Presentasi data yang diambil berupa pengetahuan mahasiswa FKIK Ukrida tentang ablasio retina. Penelitian ini memiliki 20 pertanyaan yang dibagi menjadi beberapa domain, yakni domain pengetahuan tentang anatomi retina, pengetahuan ablasio retina, pemeriksaan fisik terkait diagnosis, diagnosis ablasio retina, etiologi gejala klinis, dan faktor risiko. Pada akhir penghitungan untuk menghitung nilai rata-rata pengetahuan ablasio retina, diberikan skor 5 untuk setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar dan 0 untuk pertanyaan yang salah dijawab oleh responden. Hasil Penelitian ini mengikutsertakan 108 peserta didik kedokteran, terdiri atas mahasiswa kedokteran dan kepaniteraan klinis. Partisipan laki-laki berjumlah 51 orang . ,2%) dan perempuan berjumlah 57 orang . ,8%). Responden pada penelitian ini berusia 20 tahun sampai dengan 30 tahun. Usia terbanyak yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah responden yang berusia 22 tahun, yaitu sebanyak 38 orang . ,2%). Terdapat 20 pertanyaan dalam kuesioner ini, interpretasi nilai 80-100 dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan tinggi, nilai 50Ai75 dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan sedang dan nilai <50 dikategorikan sebagai tingkat rendah. Sebanyak 20 pertanyaan tersebut telah memenuhi uji reliabilitas pertanyaan pengetahuan dan didapatkan nilai CronbachAos Alpha adalah 0,893 (>0,. sehingga bisa dikatakan bahwa reliabilitas pertanyaan-pertanyaan tentang tingkat pengetahuan tersebut sangat baik. Untuk validasi kuesioner, nilai pearson-correlation untuk semua pertanyaan adalah 1, r tabel = 0,361 dari uji validitas menggunakan 30 sampel percobaan. Validitas yang didapatkan adalah 100% valid untuk setiap pertanyaan Tabel 1. Karakteristik partisipan penelitian Karakteristik Mahasiswa Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia . Tabel 2. Domain Pengetahuan Ablasio Retina Domain Anatomi Retina Jumlah Soal Nomor 1, 2, 3, 4, 7, 8 Jenis Pertanyaan Benar/Salah Pengertian Ablasio Retina 5, 6 Benar/Salah Pemeriksaan Fisik Diagnosis Ablasio Retina 9, 12 Benar/Salah Benar/Salah Etiologi Gejala Klinis Faktor Risiko 13,14 Benar/Salah Benar/Salah Benar/Salah Shindie Dona Kezia Lethulur/Gambaran Pengetahuan Ablasio Retina pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page 1-8 Tabel 3. Tingkat Pengetahuan Ablasio Retina Mahasiswa Tingkat Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Tinggi Tingkat Pengetahuan Sedang Tingkat Pengetahuan Rendah Total Jumlah Presentasi (%) Dari hasil penelitian variabel pengetahuan pada tabel 3, diketahui bahwa mahasiswa FKIK Ukrida mayoritas memiliki tingkat pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 69 responden . ,9%). Diikuti dengan tingkat pengetahuan rendah, yaitu sebanyak 22 responden . ,4%), dan selanjutnya untuk tingkat pengetahuan sedang sebanyak 17 responden . ,7%). Tabel 4. Ketepatan Jawaban Pertanyaan Berdasarkan Domain Domain Anatomi Retina Pengertian Ablasio Retina Pemeriksaan Fisik Terkait Diagnosis Diagnosis Ablasio Retina Etiologi Gejala Klinis Faktor Risiko Jawaban Benar (%) Jawaban Salah (%) Dari tabel di atas, ditemukan hasil persentase data terhadap domain anatomi retina. Pada domain Pengetahuan Anatomi Retina, 86% menjawab pertanyaan dengan benar dan 14% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak enam pertanyaan . ertanyaan mengenai gambar anatomi mata, yaitu: gambar anatomi retina, gambar anatomi iris, gambar anatomi pupil, gambar anatomi lensa, lapisan fotoreseptor yang merupakan lapisan terdalam retina dan terdiri atas sel batang yang memiliki bentuk ramping dan sel kerucut, retina dibentuk oleh dua lapisan laminer, yaitu epitel pigmen retina pada bagian terluar dan neurosensoris pada retina pada bagian dala. Pada Domain Pengertian Ablasio Retina, 80% menjawab pertanyaan dengan benar dan 20% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak dua pertanyaan . ertanyaan yang ditanyakan mengenai pengertian ablasio retina: ablasio retina merupakan kejadian lepasnya lapisan saraf penglihatan dalam bola mata dari lapisan bawah atau lapisan retina pigmen epitelium/RPE dengan akumulasi berupa cairan subretina, ablasio retina sering diklasifikasikan sebagai suatu kelainan pada mata yang disebabkan terpisahnya lapisan neuroretina dari lapisan epitel pigmen pada retin. Adapun pada domain Pemeriksaan Fisik terkait diagnosis, 59% menjawab pertanyaan dengan benar dan 41% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak dua pertanyaan . ertanyaan yang ditanyakan mengenai pemeriksaan fisik mata bagian retina: pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan utama untuk mendiagnosis ablasio retina dengan pasti, penderita ablasio retina memiliki lapang pandang yang tidak terbata. Pada domain Gejala Klinis, 79% menjawab pertanyaan dengan benar dan 21% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak satu pertanyaan etiologi dan dua pertanyaan mengenai gejala klinis ablasio retina . ertanyaan mengenai gejala klinis ablasio retina: gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien dengan ablasio retina adalah floaters, yaitu terlihat benda melayang-layang, pada lesi ablasio kronis dapat dijumpai penipisan retin. Pada domain faktor risiko retina, 79% menjawab pertanyaan dengan benar dan 21% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak enam pertanyaan . ertanyaan mengenai faktor risiko: ablasio retina sering dijumpai pada penderita diabetes, terdapat hubungan riwayat operasi katarak dengan ablasio retina, ablasio retina dapat menyebabkan kebutaan permanen, penggunaan gadget dalam waktu yang lama dapat JKMEDITEK. P-ISSn: 2686-1437 E-ISSN: 2686-0201 Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page. menyebabkan ablasio retina, usia memengaruhi angka kejadian ablasio retina, penderita miopia lebih berisiko mengalami ablasio retin. Pada domain Etiologi Ablasio Retina, 76% menjawab pertanyaan dengan benar dan 24% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu sebanyak satu pertanyaan . ertanyaan mengenai etiologi retina: ablasio retina dapat diakibatkan oleh tumor koroid yang membuat retina tumbuh ke depa. Pada domain Diagnosis Ablasio Retina, 62% menjawab pertanyaan dengan benar dan 38% menjawab dengan salah. Pertanyaan pada domain ini adalah terkait penegakan diagnosis ablasio retina. Domain anatomi retina merupakan domain yang paling banyak dijawab dengan benar disusul dengan domain pengertian ablasio retina, gejala klinis, faktor risiko, dan etiologi. Adapun domain diagnosis dan pemeriksaan fisik mengenai ablasio retina masih tergolong rendah karena spesifikasi keilmuan tentang pengetahuan ablasio retina dapat dipelajari lebih dalam selama masa kepaniteraan klinik pada stase oftalmologi . Pembahasan Pada penelitian yang dilakukan terhadap 108 responden ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ablasio retina pada mahasiswa FKIK Ukrida. Mahasiswa FKIK Ukrida mayoritas memiliki tingkat pengetahuan tinggi, yaitu sebanyak 69 responden . ,9%). Diikuti dengan tingkat pengetahuan rendah, yaitu 22 responden . ,4%), dan selanjutnya untuk tingkat pengetahuan sedang sebanyak 17 responden . ,7%). Hal ini berkaitan dengan variasi responden pada penelitian ini di mana terdapat mahasiswa preklinik dan mahasiswa kepaniteraan klinik . yang menjadi responden sehingga terjadi perbedaan pada tingkat pengetahuan. Dari hasil pencarian literatur, masih sedikit penelitian terkait pengetahuan mengenai ablasio retina. Penelitian oleh Dadh et al. mengenai tingkat kesadaran tentang kegawatdaruratan mata di kalangan mahasiswa perguruan tinggi kedokteran di Universitas Swasta Suriah, diketahui tingkat pengetahuan rata-rata tergolong tinggi pada penyakit glaukoma, diikuti oklusi arteri retina dan pengetahuan mengenai ablasi retina dengan tingkat pengetahuan sedang. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam tingkat pengetahuan dan tentang penyakit mata darurat di kalangan mahasiswa kedokteran di universitas swasta Suriah. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan kegawatdaruratan mata pada mahasiswa kedokteran, farmasi, dan kedokteran gigi. Adapun penelitian oleh Uhr et al. mengemukakan tingkat kesadaran dan pengetahuan tentang kegawatdaruratan mata pada pasien di poliklinik penyakit dalam yang tergolong rendah. Kesadaran setiap penyakit yang diteliti sebagai berikut: 61 dari 220 responden . ,7%) mengetahui ablasi retina. 32 dari 219 responden . ,6 %) memiliki pengetahuan mengenai glaukoma sudut tertutup akut. 11 dari 216 responden . ,1%) mengetahui arteritis sel raksasa. dan 10 dari 218 responden . ,6%) memiliki pengetahuan mengenai oklusi arteri retina sentral. Responden berpengetahuan 29 dari 199 . ,6%) mengenai patofisiologis ablasi retina, 1 dari 208 . ,5%) untuk gejala ablasio retina, 2 dari 203 . ,0%) untuk pengobatan arteritis sel raksasa, dan 1 dari 193 . ,5%) untuk fitur patofisiologis oklusi arteri retina sentral. Lan et al. meneliti pada pasien miopia yang sudah dilakukan tindakan laser refraktif. Penelitian ini diperoleh dari 19 pasien ablasio retina dengan riwayat tindakan laser refraktif, sebanyak 47% pasien keliru mengira bahwa tindakan laser refraktif dapat menyembuhkan miopia dan komplikasinya. Sebanyak 84% berpikir bahwa pengetahuan yang tepat dan pendidikan lebih lanjut tentang tindakan laser refraktif dan miopia untuk masyarakat adalah Pendidikan lebih lanjut dengan pengetahuan yang tepat tentang tindakan laser refraktif, miopia, dan ablasio retina dianjurkan bagi pasien untuk mencegah atau mendeteksi dini terjadinya ablasio retina. Penelitian lain oleh Munim menunjukkan, sekitar 9,3% pasien ablasio retina mengatakan bahwa mereka tidak tahu ke mana harus pergi, 30% pasien berpikir bahwa itu bukan kondisi yang parah, 36,4% pasien berpikir bahwa itu akan sembuh sendiri, 17,1% pasien tidak pergi ke dokter karena kendala keuangan, sedangkan 7,1% pasien tidak memiliki dokter mata ahli retina di dekat tempat tinggal mereka. Tingkat pengetahuan mengenai penyakit mata, terlebih kegawatdaruratan mata, diteliti di Shindie Dona Kezia Lethulur/Gambaran Pengetahuan Ablasio Retina pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page. banyak negara. Allmar et al. meneliti tingkat pengetahuan antara katarak dan glaukoma di Saudi Arabia. Penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang mengukur pengetahuan tentang kedua penyakit tersebut, yaitu glaukoma kurang dikenal dibandingkan katarak. Sementara banyak responden mampu mendefinisikan glaukoma dan katarak, mereka memiliki banyak kesulitan mengidentifikasi bagaimana terjadinya dan gejala mana yang termasuk katarak dan glaukoma. Sebuah penelitian di Ghana mengukur tingkat kesadaran di kalangan mahasiswa mengenai penyakit mata karena alergi umumnya rendah dan masih membutuhkan langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk membantu mendidik siswa tentang pencegahan dan kontrol penyakit mata akibat alergi serta komplikasi yang terkait dengan kondisi ini. 14 Mahasiswa kesehatan, baik mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, maupun keperawatan dan bidan di masa mendatang menjadi garda terdepan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian oleh Unsal et al. terhadap 337 orang mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, keperawawan dan bidan menunjukkan bahwa mereka tidak tahu tentang beberapa pengetahuan dasar, seperti penggunaan kacamata hitam, retinopati prematuritas, dan adanya kemungkinan kelainan pada mata pada penyakit kronis. 15 Alsaedi et al. melakukan penelitian observasional cross-sectional dari 351 civitas hospitalia, terdiri dari residen, perawat, farmasis, dan optometris, di Saudi Arabia Barat. Total skor pengetahuan adalah 75,21% untuk ablasi retina, 74,9% untuk glaukoma sudut tertutup akut, 44,15% untuk arteritis temporal, dan 41,88% untuk oklusi arteri retina sentral. Lain halnya penelitian Douglas et al. Survei pada 239 optometris, sebagian besar responden menunjukkan pengetahuan tentang hubungan antara miopia tinggi dan kerusakan retina, ablasi retina dan glaukoma sudut terbuka primer. 17 Penelitian Ibrahim et al. pada optometris di Malaysia, menunjukkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap layanan low vision. Untuk penelitian terhadap dokter umum, merujuk pada Almotairy et al. bahwa para dokter umum sebanyak 33,4% memiliki pengetahuan tingkat rendah, 47,4% memiliki tingkat pengetahuan sedang, dan 19,1% memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi terkait Retinopati Diabetika. KamiAonska et al. mengemukakan bahwa pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penyakit mata dapat memengaruhi perilaku individu terhadap penggunaan layanan perawatan mata dan metode pencegahan. Dilakukan survei berbasis web cross-sectional nasional pada Desember 2022 dengan sampel representatif dari 1. 076 orang dewasa di Polandia. Sebagian besar responden pernah mendengar katarak . ,6%), glaukoma . ,7%), konjungtivitis . ,3%), dan hordeolum . ,8%). Kesadaran akan sindrom mata kering dinyatakan oleh 50% responden dan 40% menyadari ablasi retina. Di antara responden, 32,3% pernah mendengar tentang AMD dan 16,4% pernah mendengar tentang retinopati diabetik. Kurangnya kesadaran glaukoma dinyatakan oleh 38,1% dari responden, dan 54,3% menyatakan kurangnya kesadaran akan faktor risiko AMD. Studi ini menunjukkan, tingkat kesadaran rendah mengenai pengetahuan penyakit mata umum di kalangan orang dewasa. Ablasio retina termasuk dalam kegawatdaruratan dalam bidang mata. Dengan adanya kemampuan untuk mengenali tanda dan gejala adalah hal yang dapat menyelamatkan masyarakat dari keterlambatan penanganan. Ketepatan diagnosis dan tata laksana yang tepat sangat berpengaruh pada prognosis. 3 Sudah seharusnya calon dokter memiliki pengetahuan mengenai ablasio retina. Pengetahuan dan kesadaran terkait ablasio retina, baik pada dokter umum, mahasiswa kedokteran, maupun pasien, sangat penting dalam upaya deteksi dini ablasio retina dan hal tersebut dapat mengurangi penderitaan, meningkatkan kualitas hidup pasien, bahkan menurunkan risiko kebutaan pada masyarakat. Simpulan Mahasiswa FKIK Ukrida mayoritas memiliki tingkat pengetahuan tinggi. Pada penelitian ini terdapat variasi tingkat pengetahuan responden karena terdapat mahasiswa preklinik dan mahasiswa kepaniteraan klinik. Untuk penelitian selanjutnya, perlu dilakukan dalam partisipan yang lebih banyak dan beberapa universitas. JKMEDITEK. P-ISSn: 2686-1437 E-ISSN: 2686-0201 Jurnal Kedokteran MEDITEK, vol. No. 1, 2025, page. Daftar Pustaka