SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Fakultas Ekonomi Universitas Semarang P-ISSN : 1412-5331. E-ISSN : 2716-2532 DOI: 10. 26623/slsi. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. 2 April 2026. Hal 214 - 231 Model Literasi KeuanganAeBusiness Saving sebagai Dasar Penyusunan Blueprint Intervensi Digital UMKM Efriyani Sumastuti. Tri Widiastuti. Ika Indriasari. Antono Herry Purnomo Adhi. Ali Imron. Rizka Ariyanti. E-mail Korespondensi: efriyanisumastuti@upgris. Program Studi Manajemen. Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Semarang. Indonesia1,2,. Program Studi Pendidikan Ekonomi. Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Semarang. Indonesia. Program Studi Akuntansi. ITSNU Pekalongan. Pekalongan. Indonesia5. INFO ARTIKEL Proses Artikel Dikirim : 18/03/2026 Diterima: 18/04/2026 Dipublikasikan: 29/04/2026 UMKM Akreditasi oleh Kemenristekdikti No. 79/E/KPT/2023 ABSTRAK sering menghadapi keterbatasan pengelolaan arus kas, pencatatan keuangan, dan kesiapan adopsi digital, sehingga rentan terhadap guncangan dan penurunan keberlanjutan usaha. Studi ini penting dilakukan karena intervensi yang dirancang perlu berbasis bukti mengenai mekanisme yang paling berpengaruh, agar program peningkatan literasi dan digitalisasi dapat dioperasionalkan secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji model literasi keuanganAebusiness saving sebagai dasar penyusunan blueprint intervensi digital UMKM. Data penelitian berupa data primer yang diperoleh dari pelaku UMKM melalui survei kuesioner. Literasi keuangan diukur melalui kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan usaha, melakukan pencatatan transaksi, merencanakan arus kas, menyusun anggaran, serta memahami pemanfaatan produk keuangan manual maupun digital. Business saving merepresentasikan kebiasaan menyisihkan dana usaha, pembentukan dana cadangan, penetapan target jumlah yang ditabung, aturan penggunaan, dan orientasi reinvestasi. Adopsi digital keuangan mengukur penggunaan pembayaran dan transfer digital serta pencatatan digital sederhana dalam aktivitas usaha. Keberlanjutan usaha menggambarkan ketahanan terhadap guncangan, stabilitas operasional, kemampuan adaptasi, serta orientasi keberlanjutan. Analisis dilakukan menggunakan PLS-SEM untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung antar konstruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berperan penting dalam mendorong business saving dan memperkuat keberlanjutan usaha, dan business saving menjadi jalur mediasi utama bagaimana literasi keuangan dapat meningkatkan ketahanan usaha. Adopsi digital keuangan tidak selalu berkorelasi positif terhadap keberlanjutan, sehingga penerapan aspek digital perlu mempertimbangkan kesiapan dan konteks operasional UMKM. Temuan SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 ini menegaskan bahwa blueprint intervensi sebaiknya memprioritaskan literasi keuangan terapan dan pembentukan tabungan usaha, sedangkan komponen digital diposisikan sebagai enabler sederhana untuk monitoring dan pencatatan agar tidak menambah beban kompleksitas serta biaya bagi UMKM. Kata Kunci: literasi keuangan. tabungan usaha. adopsi digital keuangan. PLS-SEM ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Abstract MSMEs often face limitations in cash flow management, financial record-keeping, and digital adoption readiness, making them vulnerable to shocks and reduced business sustainability. This study aims to test a financial literacyAebusiness saving model as an empirical basis for designing a digital intervention blueprint for MSMEs. Primary data were collected from MSME owner-managers using a structured survey Financial literacy was measured through the ability to separate personal and business finances, maintain records, plan cash flow, allocate budgets, and understand financial products. Business saving captured regular saving behavior, the existence of a business reserve, saving targets, rules for using reserves, and reinvestment Digital financial adoption reflected the use of digital payments/transfers and simple digital record-keeping, while business sustainability represented resilience to shocks, operational stability, adaptability, and sustainability orientation. The hypothesized relationships were analyzed using PLS-SEM with bootstrapping to assess direct and indirect effects. The results show that financial literacy significantly increases business saving and business sustainability, and business saving positively affects business sustainability. Financial literacy also enhances digital financial adoption. however, digital adoption is negatively associated with sustainability. Mediation through business saving is positive, whereas mediation through digital adoption is negative. These findings imply that the blueprint should prioritize actionable financial literacy and the formation of business saving as a financial buffer, while digital components should be positioned as lowburden enablers for monitoring and record-keeping to avoid additional complexity and costs for MSMEs. Keywords: financial literacy. business saving. digital financial adoption. business sustainability. PLS-SEM This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 PENDAHULUAN UMKM menghadapi tantangan keberlanjutan yang erat dengan ketahanan arus kas, kualitas pengelolaan keuangan, dan tekanan adaptasi digital dalam persaingan yang semakin ketat. Ketidakstabilan pendapatan, kenaikan biaya input, serta lemahnya pencatatan keuangan membuat banyak UMKM sulit membangun bantalan likuiditas, merencanakan modal kerja, dan mengambil keputusan berbasis data, sehingga risiko distress dan kegagalan usaha meningkat (Choudhury & Goswami, 2019. Deb & Baruah, 2. Di berbagai konteks negara berkembang, keterbatasan akses pembiayaan formal, termasuk persyaratan agunan, friksi aplikasi, dan asimetri informasi akibat catatan keuangan yang tidak memadai secara konsisten dilaporkan sebagai kendala utama yang menahan pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM (Endris & Kassegn, 2022. Pellegrino & Abe, 2. Pada situasi krisis seperti COVID-19, gangguan arus kas makin mempertegas rapuhnya likuiditas UMKM, sehingga dibutuhkan pendekatan terarah yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi mengubahnya menjadi praktik manajerial keuangan yang konsisten (Quak et al. , 2. Literasi keuangan dipandang sebagai kapasitas inti yang membentuk kualitas keputusan finansial UMKM, mulai dari penyusunan anggaran, pencatatan transaksi, perencanaan arus kas, hingga pengelolaan utang dan risiko. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pelaku UMKM dengan literasi keuangan lebih baik cenderung menerapkan penganggaran dan manajemen kas secara lebih disiplin, sehingga kinerja dan ketahanan usaha meningkat meskipun kekuatan pengaruhnya dapat berbeda menurut konteks pasar (Hererra et al. , 2023. John, 2022. Meitriana et al. , 2022. Mukarromah et al. , 2. Literasi juga dapat mengurangi asimetri informasi dan membantu UMKM mengakses pembiayaan eksternal atau memperoleh syarat yang lebih baik melalui pemahaman proses kredit dan negosiasi (Anshika & Singla, 2022. Meldona et al. , 2023. Priyantoro et al. , 2023. Widyastuti et al. , 2. Pada masa krisis. UMKM yang lebih literat relatif lebih mampu mengelola likuiditas dan memanfaatkan instrumen keuangan untuk mempertahankan kelangsungan usaha (Ahmad, 2. Secara teoretis, pengaruh literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha tidak selalu bekerja secara langsung, melainkan melalui perilaku keuangan produktif yang memperkuat ketahanan business saving, kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan/laba usaha untuk dana cadangan dan reinvestasi diposisikan sebagai mediator karena literasi keuangan mendorong praktik penganggaran, manajemen kas, dan disiplin saving, yang kemudian meningkatkan resiliensi dan keberlanjutan (Abbas et al. , 2024. Korompis et al. , 2023. Widagdo & SaAodiyah. Dana cadangan berfungsi sebagai cash buffer untuk menutup kesenjangan likuiditas saat guncangan, menjaga pembayaran operasional, dan menurunkan risiko distress (Misrofingah et al. Nassuna et al. , 2023. Rachmadana et al. , 2. Selain itu, saving memberi ruang reinvestasi . tok, alat, pemasara. ketika pembiayaan eksternal mahal atau sulit, sehingga menopang kelangsungan jangka panjang (Asman & Manurung, 2023. Legowo & Sorongan. Transformasi digital, khususnya adopsi layanan keuangan digital, kerap dipromosikan sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pencatatan, dan memperluas akses layanan keuangan bagi UMKM. Penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS dapat mendukung kinerja UMKM melalui peningkatan efisiensi transaksi dan capaian pendapatan pada konteks tertentu (Chyntia et al. , 2. Namun, temuan empiris menunjukkan dampaknya tidak otomatis positif. manfaat adopsi digital muncul ketika kesiapan . iterasi digital, keterampilan TI, kapasitas manajerial, dan kesehatan organisas. memadai serta didukung infrastruktur dan ekosistem yang sesuai (Badriyah & Muhtarom, 2023. Cueto et al. , 2022. Heliani, 2023. HS & Himawati, 2. Selain itu, integrasi teknologi melalui implementasi ERP dapat meningkatkan efektivitas proses bisnis dan mendukung kinerja yang lebih berkelanjutan ketika sistem terintegrasi dengan operasi usaha (Nugroho et al. , 2023, 2. Di sisi lain, adopsi yang tidak selaras dengan kebutuhan, misalnya produk digital tidak cocok dengan siklus kas, biaya adopsi tinggi, atau proses bisnis tidak terintegrasi dapat menghasilkan efek lemah bahkan kontraproduktif, termasuk peningkatan risiko operasional dan keamanan (Andal et al. , 2021. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Supari & Anton, 2022. Widiawati et al. , 2. Karena itu, adopsi digital keuangan perlu diuji posisinya dalam model sebagai jalur yang berpotensi memperkuat atau melemahkan keberlanjutan UMKM. Sejumlah studi menunjukkan bahwa literasi keuangan berperan dalam memperkuat ketahanan UMKM melalui pembentukan perilaku keuangan yang disiplin, termasuk business saving sebagai cash buffer untuk menjaga kelancaran operasi dan daya tahan usaha (Korompis et al. , 2023. Abbas et al. , 2024. Widagdo & SaAodiyah, 2023. Nassuna et al. , 2. Adopsi digital keuangan sering dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi pengelolaan keuangan. Temuan empiris menunjukkan bahwa dampak adopsi digital keuangan terhadap keberlanjutan tidak selalu konsisten, karena dipengaruhi oleh kesiapan, tata kelola, serta kondisi internal UMKM (Heliani, 2023. Cueto et al. , 2022. HS & Himawati, 2. Riset gap studi adalah keterbatasan penelitian yang menguji secara simultan peran business saving dan adopsi digital keuangan sebagai jalur mediasi dalam hubungan literasi keuangan dan keberlanjutan. Hasil pengujian tersebut digunakan sebagai dasar untuk merancang blueprint intervensi digital yang operasional (Cueto et al. , 2022. Heliani, 2023. Setiadi et al. , 2. Kebaruan studi adalah tersusunnya model terintegrasi untuk memetakan jalur pengaruh yang relevan sebagai dasar perancangan blueprint yang memprioritaskan literasi keuangan terapan dan praktik saving, serta menempatkan komponen digital sesuai tingkat kesiapan UMKM (Heliani, 2023. Cueto et al. HS & Himawati, 2024. Setiadi et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan menguji model literasi keuanganAebusiness saving sebagai dasar penyusunan blueprint intervensi digital UMKM dengan menilai pengaruh langsung literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha serta pengaruh tidak langsung melalui business saving dan adopsi digital KAJIAN PUSTAKA Literasi keuangan dan tabungan usaha Literasi keuangan dipahami sebagai kapasitas pengetahuan dan keterampilan untuk mengambil keputusan finansial yang tepat, termasuk pemisahan keuangan pribadiAeusaha, pencatatan transaksi, penganggaran, dan perencanaan arus kas. Pada konteks UMKM, literasi keuangan berkontribusi pada perilaku keuangan yang lebih disiplin dan penggunaan sumber daya usaha secara lebih terarah (Pangestu & Karnadi, 2020. Mpaata et al. , 2020. Morgan & Long, 2020. Baporikar & Akino, 2. Dalam penelitian ini, literasi keuangan diukur melalui indikator pemisahan keuangan pribadiAeusaha (Pangestu & Karnadi, 2020. Mpaata et al. , 2. , pencatatan pemasukan dan pengeluaran (Morgan & Long, 2020. Baporikar & Akino, 2. , perencanaan arus kas (Morgan & Long, 2020. Pangestu & Karnadi, 2. , penganggaran dan alokasi dana (Mpaata et al. , 2020. Baporikar & Akino, 2. , serta pemahaman produk/layanan keuangan (Morgan & Long, 2020. Pangestu & Karnadi, 2. Perilaku business saving . abungan usaha/dana cadanga. merupakan bentuk implementasi literasi keuangan yang paling relevan bagi ketahanan arus kas, karena menekankan kebiasaan menyisihkan dana usaha untuk kebutuhan darurat dan reinvestasi. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kemampuan menabung usaha berkaitan dengan perencanaan finansial yang lebih baik dan peningkatan kapasitas adaptasi usaha terhadap guncangan (Morgan & Long, 2020. Sumastuti et , 2024. Kamau et al. , 2025. Zhang et al. , 2. Dalam penelitian ini, tabungan usaha diukur melalui indikator disiplin menyisihkan dana usaha secara rutin (Sumastuti et al. , 2024. Morgan & Long, 2. , ketersediaan dana cadangan darurat (Kamau et al. , 2025. Zhang et al. , 2. , target tabungan usaha (Morgan & Long, 2020. Sumastuti et al. , 2. , aturan penggunaan dana cadangan (Zhang et al. , 2025. Kamau et al. , 2. , serta orientasi reinvestasi dan kelancaran kas (Sumastuti et al. , 2024. Zhang et al. , 2. Dengan demikian, semakin tinggi literasi keuangan, semakin besar kemungkinan pelaku UMKM membangun tabungan usaha secara rutin dan Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H1. Literasi keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap tabungan usaha. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Literasi keuangan dan adopsi digital keuangan Adopsi digital keuangan merujuk pada pemanfaatan layanan keuangan digital . isalnya pembayaran non-tunai, mobile banking, dan pencatatan digita. untuk mendukung aktivitas usaha. Secara teoritis, literasi keuangan dapat meningkatkan kesiapan individu untuk mengenali manfaat, risiko, dan tata kelola penggunaan layanan digital, sehingga mendorong adopsi yang lebih efektif (Mpaata et al. , 2020. Morgan & Long, 2020. Tay et al. , 2. Namun, literatur juga menegaskan bahwa adopsi digital bergantung pada kesiapan pengguna dan konteks lingkungan termasuk kemampuan manajerial, infrastruktur, serta literasi digital yang dapat membatasi manfaat yang diharapkan (Timeus et al. , 2020. Charfeddine et al. , 2. Dalam penelitian ini, adopsi digital keuangan diukur melalui indikator penggunaan pembayaran digital (Timeus et al. Charfeddine et al. , 2. , penggunaan mobile banking/transfer digital (Tay et al. , 2022. Charfeddine et al. , 2. , penggunaan pencatatan digital (Timeus et al. , 2020. Tay et al. , 2. pemanfaatan teknologi digital untuk monitoring keuangan yang lebih cepat dan akurat (Tay et al. Charfeddine et al. , 2. , serta kenyamanan dan kemampuan menggunakan layanan keuangan digital untuk usaha (Charfeddine et al. , 2024. Timeus et al. , 2. Meski demikian, pada level perilaku awal, literasi keuangan tetap dipandang sebagai faktor pendorong yang memfasilitasi keputusan untuk mengadopsi layanan digital keuangan dalam operasional UMKM (Dela Cruz et al. , 2. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H2. Literasi keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap adopsi digital keuangan. Tabungan usaha dan keberlanjutan usaha Keberlanjutan usaha mengacu pada kemampuan UMKM untuk mempertahankan operasi dan kinerja, beradaptasi terhadap perubahan pasar, serta menjaga kelangsungan usaha dalam jangka menengahAepanjang. Tabungan usaha berfungsi sebagai bantalan . yang memperkuat ketahanan finansial, mengurangi tekanan likuiditas, dan menyediakan sumber dana untuk reinvestasi ketika menghadapi fluktuasi permintaan atau kenaikan biaya input (Sumastuti et al. Kamau et al. , 2025. Zhang et al. , 2. Dalam perspektif ketahanan usaha, keberadaan dana cadangan dan praktik saving yang konsisten mendukung stabilitas operasional serta menurunkan risiko gangguan aktivitas produksi/penjualan. Dalam penelitian ini, keberlanjutan usaha diukur melalui indikator ketahanan terhadap guncangan (Ricci & Santilli, 2024. Aristei et , 2. , stabilitas operasional (Sumastuti et al. , 2024. Kamau et al. , 2. , orientasi pengembangan usaha dalam jangka menengah (Ricci & Santilli, 2024. Aristei et al. , 2. adaptabilitas terhadap perubahan pasar/permintaan (Aristei et al. , 2024. Timeus et al. , 2. , serta stabilitas/peningkatan kinerja usaha (Ricci & Santilli, 2024. Sumastuti et al. , 2. Dengan demikian, tabungan usaha diperkirakan berkontribusi positif pada keberlanjutan UMKM. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H3. Tabungan usaha berpengaruh positif signifikan terhadap keberlanjutan usaha. Literasi keuangan dan keberlanjutan usaha Literasi keuangan berperan dalam memperkuat kualitas keputusan usaha, terutama terkait pengendalian biaya, perencanaan kas, dan kemampuan mengelola risiko. Literatur menunjukkan bahwa literasi keuangan berhubungan dengan peningkatan ketahanan dan keberlanjutan usaha, karena pelaku UMKM yang literat lebih mampu menavigasi ketidakpastian dan memilih strategi finansial yang lebih tepat (Pangestu & Karnadi, 2020. Morgan & Long, 2020. Ricci & Santilli. Aristei et al. , 2. Temuan tersebut juga mengindikasikan bahwa literasi keuangan yang terimplementasi dalam praktik pencatatan dan perencanaan keuangan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, memperkuat pengendalian arus kas, serta mendukung kemampuan UMKM mempertahankan operasi pada kondisi yang berfluktuasi (Pangestu & Karnadi, 2020. Morgan & Long, 2. Selain itu, perspektif ketahanan usaha menekankan bahwa kapasitas pengelolaan keuangan yang memadai berkontribusi pada kemampuan bertahan dan beradaptasi, yang merupakan dimensi penting dari keberlanjutan usaha (Ricci & Santilli, 2024. Aristei et al. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Temuan empiris pada konteks negara berkembang juga menunjukkan bahwa literasi keuangan berkontribusi terhadap keberlanjutan UMKM melalui penguatan praktik pengelolaan keuangan dan keputusan usaha yang lebih terencana, sehingga literasi keuangan layak diposisikan sebagai determinan keberlanjutan (Burchi et al. , 2021. Ye & Kulathunga, 2. Dengan demikian, selain melalui jalur perilaku, literasi keuangan juga diperkirakan memiliki pengaruh langsung terhadap keberlanjutan usaha. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H4. Literasi keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap keberlanjutan usaha. Adopsi digital keuangan dan keberlanjutan usaha Digitalisasi keuangan sering diposisikan sebagai enabler yang dapat meningkatkan efisiensi transaksi, mempercepat pencatatan, dan memperluas akses layanan keuangan. Akan tetapi, temuan empiris menunjukkan arah pengaruh yang tidak selalu konsisten: pada sebagian konteks digitalisasi dapat memperkuat kinerja, sementara pada konteks lain dampaknya lemah atau bahkan kontraproduktif ketika UMKM menghadapi biaya adopsi, kompleksitas operasional, atau keterbatasan kemampuan pengelolaan (Timeus et al. , 2020. Charfeddine et al. , 2024. Tay et al. Sejumlah kajian menegaskan bahwa adopsi digital keuangan cenderung memberikan manfaat ketika UMKM memiliki kesiapan yang memadai, termasuk literasi digital, kapasitas manajerial, dan integrasi proses bisnis, sehingga teknologi digital benar-benar mendukung monitoring arus kas dan pengambilan keputusan (Cueto et al. , 2022. Heliani, 2023. HS & Himawati, 2024. Setiadi et al. , 2. Sebaliknya, ketika kesiapan dan tata kelola belum kuat, digitalisasi dapat menambah friksi operasional, menimbulkan biaya tambahan, serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan, sehingga dampaknya terhadap keberlanjutan menjadi lemah atau berlawanan arah (Andal et al. , 2021. Widiawati et al. , 2022. HS & Himawati. Di sisi lain, bukti empiris terbaru juga melaporkan bahwa adopsi layanan keuangan digital/fintech dapat meningkatkan keberlanjutan finansial UMKM melalui efisiensi transaksi, perluasan akses layanan, dan penguatan daya saing, terutama bila produk digital selaras dengan kebutuhan modal kerja dan siklus kas usaha (Arifin, 2025. Pitaloka & Afandy, 2. Karena bukti literatur bersifat beragam, hubungan adopsi digital keuangan dengan keberlanjutan usaha layak diuji secara empiris pada konteks UMKM. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H5. Adopsi digital keuangan berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan usaha. Peran mediasi tabungan usaha Literasi keuangan tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, melainkan kemampuan yang harus diwujudkan menjadi perilaku finansial produktif agar memberikan dampak nyata pada Tabungan usaha merupakan bentuk konkret konversi literasi keuangan menjadi praktik ketahanan finansialAimelalui rencana saving, dana cadangan, dan reinvestasiAiyang pada akhirnya mendorong keberlanjutan (Morgan & Long, 2020. Sumastuti et al. , 2024. Kamau et al. Zhang et al. , 2. Dengan argumen ini, tabungan usaha diposisikan sebagai mekanisme mediasi antara literasi keuangan dan keberlanjutan usaha. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan H6. Tabungan usaha memediasi pengaruh literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha. Peran mediasi adopsi digital keuangan Pada sisi lain, literasi keuangan dapat mendorong adopsi digital yang lebih terarah . isalnya penggunaan kanal pembayaran dan pencatatan digita. , yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan melalui efisiensi dan kemudahan monitoring. Namun, literatur menekankan bahwa dampak digitalisasi bergantung pada kesiapan dan tata kelola (Kaftan et al. , 2. , sehingga jalur mediasi ini perlu diuji pada konteks UMKM (Timeus et al. , 2020. Tay et al. , 2022. Charfeddine et al. , 2. Oleh karena itu, adopsi digital keuangan ditempatkan sebagai mediator alternatif dalam hubungan literasi keuangan dan keberlanjutan usaha. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan adalah: H7. Adopsi digital keuangan memediasi pengaruh literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Kerangka pemikiran teoritis Berdasarkan kajian pustaka, kerangka pemikiran teoritis menempatkan literasi keuangan sebagai variabel eksogen yang memengaruhi keberlanjutan usaha secara langsung dan tidak langsung, seperti pada Gambar 1. Jalur tidak langsung dibangun melalui dua mediator, yaitu tabungan usaha dan adopsi digital keuangan. Tabungan usaha diposisikan sebagai mekanisme utama pembentuk ketahanan finansial . uffer dan reinvestas. yang mendorong keberlanjutan, sedangkan adopsi digital keuangan diposisikan sebagai enabler yang efeknya terhadap keberlanjutan dapat bervariasi tergantung kesiapan dan konteks. Kerangka ini digunakan untuk membangun pengujian hipotesis H1AeH7 sebagai dasar empiris penyusunan blueprint intervensi digital UMKM. Tabungan Literasi Keberlanjutan Adopsi digital Gambar 1. Kerangka Pemikiran Teoritis METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei untuk menguji model hubungan literasi keuangan, tabungan usaha . usiness savin. , adopsi digital keuangan, dan keberlanjutan usaha UMKM. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh langsung dari pelaku UMKM melalui kuesioner terstruktur. Objek penelitian adalah UMKM sektor kuliner di Kota Semarang dan Kota Pekalongan, dengan unit analisis pemilik/pengelola usaha sebagai pengambil keputusan keuangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan bantuan mitra/pendamping UMKM, disertai pengarahan singkat mengenai tujuan penelitian dan kerahasiaan data. Penentuan jumlah sampel didasarkan pada kebutuhan analisis PLS-SEM, yaitu memenuhi ukuran minimum sampel sesuai kompleksitas model struktural dan jumlah indikator konstruk, sehingga memadai untuk estimasi parameter dan pengujian signifikansi melalui bootstrapping. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan pendekatan purposive, yaitu memilih responden yang memenuhi kriteria sebagai pemilik/pengelola aktif UMKM kuliner pada lokasi penelitian dan bersedia mengisi kuesioner secara lengkap. Berdasarkan proses pengumpulan data, kuesioner yang terkumpul berjumlah 225 responden. Setelah proses penyaringan kelengkapan dan konsistensi jawaban, data yang dinyatakan lengkap dan diolah dalam analisis berjumlah 210 responden. Jumlah 210 responden dinilai memadai dan representatif untuk konteks penelitian ini karena sampel diambil dari populasi sasaran, yaitu pemilik/pengelola UMKM kuliner di Semarang dan Pekalongan, dengan kriteria inklusi yang relevan terhadap tujuan penelitian. Selain itu, ukuran sampel tersebut melampaui kebutuhan minimum analisis PLS-SEM berdasarkan kompleksitas model dan jumlah indikator konstruk, sehingga estimasi parameter dan pengujian signifikansi dapat dilakukan secara andal. Kecukupan ukuran sampel juga diperkuat melalui perhitungan Pertama, menggunakan pedoman 10-times rule pada PLS-SEM, ukuran sampel minimum ditetapkan sebesar sepuluh kali jumlah prediktor terbanyak yang menuju satu konstruk endogen atau sepuluh kali jumlah indikator terbanyak pada satu konstruk (Hair et al. , 2. Pada SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 model ini, konstruk keberlanjutan usaha diprediksi oleh tiga konstruk . iterasi keuangan, tabungan usaha, dan adopsi digital keuanga. , sedangkan jumlah indikator per konstruk maksimum adalah dengan demikian kebutuhan minimum adalah sepuluh kali lima . ima pulu. Kedua, berdasarkan power analysis untuk model dengan tiga prediktor pada tingkat signifikansi lima persen dan daya uji delapan puluh persen, ukuran sampel minimum berada jauh di bawah jumlah sampel yang tersedia, sehingga 210 responden dinilai memadai untuk estimasi parameter dan pengujian signifikansi melalui bootstrapping (Hair et al. , 2. Instrumen penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Konstruk. Kode. Item Pengukuran, dan Sumber Referensi Konstruk Kode Item Pengukuran Sumber Referensi Literasi Keuangan FL1 Saya memahami cara Pangestu & Karnadi . (FL) memisahkan keuangan pribadi Mpaata et al. dan keuangan usaha. FL2 Saya mampu membuat Morgan & Long . pencatatan pemasukan dan Baporikar & Akino . pengeluaran usaha secara FL3 Saya mampu menyusun Morgan & Long . rencana arus kas . Pangestu & Karnadi . usaha untuk periode tertentu. FL4 Saya memahami cara Mpaata et al. menentukan alokasi dana Baporikar & Akino . untuk biaya operasional, tabungan usaha, dan kebutuhan lain. FL5 Saya memahami risiko dan Morgan & Long . manfaat menggunakan Pangestu & Karnadi . produk/layanan keuangan . isalnya tabungan/kredi. bagi usaha. Tabungan Usaha BS1 Saya menyisihkan sebagian Sumastuti et al. (BS) pendapatan/laba usaha sebagai Morgan & Long . tabungan usaha secara rutin. BS2 Usaha saya memiliki dana Kamau et al. Zhang et cadangan yang dapat . digunakan saat kondisi darurat. BS3 Saya memiliki target tabungan Morgan & Long . umlah/period. yang Sumastuti et al. BS4 Saya memiliki aturan Zhang et al. Kamau et penggunaan dana cadangan . apan boleh dipakai dan untuk ap. BS5 Tabungan usaha saya Sumastuti et al. Zhang digunakan untuk reinvestasi et al. atau menjaga kelancaran Adopsi Digital Saya menggunakan Timeus et al. Keuangan (D) pembayaran digital . isalnya Charfeddine et al. QRIS/e-walle. dalam transaksi usaha. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Konstruk Kode Item Pengukuran Saya menggunakan mobile banking/transfer digital untuk kebutuhan usaha. Saya menggunakan pencatatan digital . isalnya spreadsheet/aplikasi sederhan. untuk transaksi Teknologi digital membantu saya memantau keuangan usaha lebih cepat/akurat. Saya merasa mampu dan nyaman menggunakan layanan keuangan digital untuk usaha. Keberlanjutan Usaha saya mampu bertahan Usaha (S) meskipun terjadi penurunan penjualan/kenaikan biaya. Usaha saya mampu memenuhi kewajiban operasional . ahan baku, tenaga kerja, sew. secara stabil. Saya memiliki rencana untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha dalam 1Ae2 tahun ke depan. Usaha saya mampu beradaptasi terhadap perubahan pasar/ permintaan. Kinerja usaha saya cenderung stabil atau meningkat dibanding periode Sumber: data primer diolah, 2026 Sumber Referensi Tay et al. Charfeddine et al. Timeus et al. Tay et al. Tay et al. Charfeddine et al. Charfeddine et al. Timeus et al. Ricci & Santilli . Aristei et al. Sumastuti et al. Kamau et al. Ricci & Santilli . Aristei et al. Aristei et al. Timeus et Ricci & Santilli . Sumastuti et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Responden Tabel 2 menyajikan profil responden untuk menggambarkan karakteristik sampel UMKM yang Mayoritas responden tersebar relatif merata pada kelompok usia <35 tahun . ,8%) dan >45 tahun . ,2%), dengan pendidikan didominasi 45 < SLTA SLTA Pendidikan Frekuensi (%) SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Variabel Lama usaha . Tabungan usaha (Juta R. Deskripsi Sarjana <1,5 1,5-2,5 >2,5 1-1,5 >1,5 Frekuensi (%) Sumber: data primer diolah, 2026 Uji Validitas dan Reliabilitas Tabel 3 menyajikan hasil evaluasi model pengukuran untuk memastikan indikator valid dan reliabel sebelum menguji hubungan struktural. Seluruh outer loading berada pada kisaran memadai (>0,. , sedangkan nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability (CR) menunjukkan reliabilitas tinggi pada tiap konstruk. Nilai AVE juga melampaui batas 0,50, sehingga validitas konvergen terpenuhi dan instrumen layak digunakan untuk analisis lanjutan. Standar evaluasi model pengukuran mengacu pada literatur PLS-SEM terkini yang merekomendasikan outer loading minimal sekitar 0,70. CronbachAos alpha minimal 0,70. CR minimal 0,70, serta AVE minimal 0,50 untuk memenuhi validitas konvergen (Hair et al. , 2019. Hair et al. , 2. Tabel 3. Outer Loading. Validitas dan Reliabilitas Indikator Outer Loading Cronbach's Alpha BS1 0,740 0,851 BS2 0,752 BS3 0,847 BS4 0,762 BS5 0,856 0,859 0,917 0,852 0,865 0,898 0,856 FL1 0,852 0,928 FL2 0,910 FL3 0,898 FL4 0,910 FL5 0,837 0,765 0,857 0,777 0,783 0,827 0,835 Sumber: data primer diolah, 2026 0,894 AVE 0,629 0,937 0,750 0,946 0,778 0,898 0,637 Uji R-Square Tabel 4 menyajikan nilai R-square untuk menilai daya jelaskan model struktural terhadap variabel Nilai R-square menunjukkan bahwa literasi keuangan mampu menjelaskan variasi SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 adopsi digital keuangan sebesar 0,326 dan tabungan usaha sebesar 0,553. Secara keseluruhan, model ini menjelaskan variasi keberlanjutan usaha secara kuat (RA=0,. , sehingga model memiliki kemampuan prediktif yang baik untuk mendukung pengujian hipotesis. Tabel 4. R -Square Variabel Dependen Adopsi digital keuangan Keberlanjutan usaha Tabungan Usaha Sumber: data primer diolah, 2026 R-Square 0,326 0,697 0,553 R-Square Adjusted 0,323 0,693 0,551 Uji Hipotesis Gambar 2 menampilkan model struktural PLS-SEM untuk menguji pengaruh literasi keuangan terhadap keberlanjutan melalui tabungan usaha dan adopsi digital. Gambar 2. Model Struktural PLS-SEM Hasil penelitian Sumber: data primer diolah, 2026 Tabel 5 menyajikan hasil uji hipotesis pada model struktural PLS-SEM berdasarkan nilai original sample (). T-statistics, dan P-values hasil bootstrapping. Hasil ini digunakan untuk menilai pengaruh langsung antar konstruk serta pengaruh tidak langsung . dalam menjelaskan keberlanjutan usaha UMKM. Tabel 5. Uji Hipotesis Hipotesis Statistics Values 0,744 24,540 0,000 H1: Literasi keuangan Ie Tabungan Usaha H2: Literasi keuangan Ie Adopsi digital H3: Tabungan Usaha Ie Keberlanjutan usaha H4: Literasi keuangan Ie Keberlanjutan usaha 0,571 11,140 0,000 0,416 0,554 6,897 10,137 0,000 0,000 SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 H5: Adopsi digital keuangan Ie Keberlanjutan usaha H6: Literasi keuangan Ie Tabungan Usaha Ie Keberlanjutan usaha H7: Literasi keuangan Ie Adopsi digital keuangan Ie Keberlanjutan usaha Sumber: data primer diolah, 2026 -0,147 2,526 0,012 0,309 6,200 0,000 -0,084 2,518 0,012 H1: Literasi keuangan Ie Tabungan Usaha Berdasarkan Tabel 5, hubungan antara literasi keuangan terhadap tabungan usaha memiliki nilai =0,744 dengan T-statistics 24,540 serta P-values 0,000, yang berarti positif dan signifikan. sehingga H1 diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan pelaku UMKM memahami dan menerapkan pencatatan, pemisahan keuangan, penganggaran, dan perencanaan arus kas (FL1AeFL. mendorong kebiasaan menyisihkan dana usaha secara rutin dan terukur (BS1AeBS. Hasil ini konsisten dengan literatur yang menegaskan literasi keuangan meningkatkan perilaku pengelolaan keuangan dan pembentukan cadangan usaha (Pangestu & Karnadi, 2020. Mpaata et , 2020. Morgan & Long, 2020. Sumastuti et al. , 2. H2: Literasi keuangan Ie Adopsi digital keuangan Berdasarkan Tabel 5, diketahui bahwa literasi keuangan terhadap adopsi digital keuangan memiliki =0,571 dengan T-statistics 11,140 dan P-values 0,000, sehingga H2 diterima. Ini bermakna bahwa literasi keuangan memperkuat kesiapan UMKM menggunakan layanan keuangan digital, seperti pembayaran non-tunai, transfer digital, dan pencatatan digital sederhana (D1AeD. Secara praktis, pelaku UMKM yang memahami manfaat dan risiko layanan keuangan lebih mampu memilih kanal digital yang relevan untuk operasional. Temuan ini sejalan dengan kajian yang menempatkan literasi sebagai prasyarat adopsi dan pemanfaatan layanan digital secara lebih terarah (Tay et al. , 2022. Charfeddine et al. , 2024. Timeus et al. , 2020. Loke et al. H3: Tabungan Usaha Ie Keberlanjutan usaha Berdasarkan Tabel 5, tabungan usaha terhadap keberlanjutan usaha memiliki =0,416 dengan Tstatistics 6,897 serta P-values 0,000, sehingga H3 diterima. Artinya, peningkatan tabungan/dana cadangan dan orientasi reinvestasi (BS1AeBS. berkontribusi pada ketahanan usaha, stabilitas operasional, dan kemampuan adaptasi (S1AeS. Dana cadangan membantu UMKM menghadapi guncangan, menjaga kelancaran biaya operasional, serta menyediakan ruang untuk reinvestasi. Temuan ini mendukung literatur yang menekankan peran saving sebagai buffer finansial dan pengungkit keberlanjutan UMKM (Sumastuti et al. , 2024. Kamau et al. , 2025. Zhang et al. , 2025. Avgoustaki & Xydis, 2. H4: Literasi keuangan Ie Keberlanjutan usaha Berdasarkan Tabel 5, literasi keuangan terhadap keberlanjutan usaha memiliki =0,554 dengan T-statistics 10,137 dan P-values 0,000, sehingga H4 diterima. Ini menunjukkan bahwa literasi keuangan meningkatkan keberlanjutan tidak hanya melalui perilaku saving, tetapi juga melalui perbaikan kualitas keputusan manajerial-keuangan, seperti kontrol biaya, perencanaan kas, dan pemilihan strategi finansial yang tepat (FL1AeFL. untuk menjaga kinerja dan ketahanan (S1AeS. Hasil ini konsisten dengan studi yang menautkan literasi keuangan dengan ketahanan dan keberlanjutan usaha, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan risiko (Morgan & Long. Ricci & Santilli, 2024. Aristei et al. , 2024. Alshebami & Marri, 2. H5: Adopsi digital keuangan Ie Keberlanjutan usaha Berdasarkan Tabel 5, adopsi digital keuangan terhadap keberlanjutan usaha memiliki =-0,147 dengan T-statistics 2,526 serta P-values 0,012, sehingga H5 diterima namun berarah negatif. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan intensitas adopsi digital (D1AeD. tidak selalu SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 diikuti perbaikan keberlanjutan (S1AeS. pada konteks tertentu, digitalisasi dapat menambah biaya, kompleksitas operasional, atau risiko ketidakefisienan ketika kesiapan manajerial/digital belum memadai. Hasil ini sejalan dengan literatur yang menekankan bahwa dampak digitalisasi dapat bersifat lemah atau kontraproduktif tanpa kesiapan dan tata kelola yang memadai (Timeus et al. , 2020. Charfeddine et al. , 2024. Wandaogo, 2. Temuan bahwa adopsi digital keuangan berhubungan negatif dengan keberlanjutan usaha dapat dipahami sebagai indikasi adanya Aubiaya dan kompleksitasAy yang belum diimbangi kesiapan internal UMKM. Literatur menekankan bahwa adopsi digital baru memberi manfaat ketika pelaku memiliki literasi digital, keterampilan penggunaan, serta kapasitas manajerial untuk mengintegrasikan layanan digital ke proses bisnis (Cueto et al. , 2022. Heliani, 2023. HS & Himawati, 2. Jika prasyarat tersebut belum terpenuhi, penggunaan pembayaran/transfer digital dan pencatatan digital dapat menambah beban administratif, memicu kesalahan pencatatan, serta meningkatkan biaya transaksi dan kebutuhan perangkat, yang pada akhirnya mengganggu efisiensi operasional. Selain itu, adopsi yang tidak terintegrasi dengan proses . isalnya pengendalian biaya, pengelolaan kas, dan pengambilan keputusan persediaa. cenderung menghasilkan dampak yang lemah dan dapat memunculkan risiko operasional maupun keamanan (Andal et al. , 2021. Widiawati et al. , 2. Meskipun demikian, literatur juga menunjukkan bahwa adopsi digital keuangan berpotensi memperkuat keberlanjutan UMKM ketika digunakan untuk meningkatkan efisiensi transaksi, mempercepat rekonsiliasi arus kas, dan memperbaiki kualitas pencatatan yang mendukung pengambilan keputusan. Penggunaan kanal pembayaran dan transfer digital dapat mengurangi friksi transaksi serta membantu pelaku usaha memantau penerimaan dan pengeluaran secara lebih tepat waktu, sehingga mendukung stabilitas operasional dan kemampuan beradaptasi (Tay et al. Charfeddine et al. , 2. Selain itu, pencatatan digital sederhana dapat membantu UMKM membangun disiplin administrasi keuangan dan menyediakan informasi yang lebih konsisten untuk perencanaan kas, terutama ketika aktivitas usaha meningkat dan transaksi makin beragam (Timeus et al. , 2. Oleh karena itu, arah pengaruh H5 yang negatif pada studi ini lebih tepat dibaca sebagai temuan kontekstual yang menandai adanya kesenjangan kesiapan dan integrasi proses, bukan sebagai penolakan atas manfaat digital secara umum. Implikasinya, intervensi digital perlu dirancang bertahap dan berorientasi pada fungsi inti . encatatan dan monitoring minima. agar manfaat efisiensi dapat muncul tanpa menambah beban biaya, kompleksitas, maupun risiko operasional (Cueto et al. , 2022. HS & Himawati, 2024. Heliani, 2. Dengan kata lain, temuan ini bukan menolak peran digital, melainkan menegaskan bahwa digitalisasi harus disejajarkan dengan tingkat kesiapan, kesesuaian produk dengan kebutuhan modal kerja, serta dukungan pendampingan agar memberi kontribusi positif (Supari & Anton, 2022. HS & Himawati, 2. H6: Literasi keuangan Ie Tabungan Usaha Ie Keberlanjutan usaha Berdasarkan Tabel 5, pengaruh tidak langsung literasi keuangan terhadap keberlanjutan melalui tabungan usaha memiliki =0,309 dengan T-statistics 6,200 dan P-values 0,000, sehingga H6 Ini berarti tabungan usaha berperan sebagai mekanisme mediasi utama yang menerjemahkan peningkatan literasi keuangan (FL1AeFL. menjadi ketahanan dan keberlanjutan (S1AeS. melalui pembentukan dana cadangan, target saving, dan reinvestasi (BS1AeBS. Temuan ini memperkuat argumen bahwa program intervensi berbasis literasi perlu diarahkan pada pembentukan perilaku saving yang terstandar agar dampaknya pada keberlanjutan lebih nyata (Morgan & Long, 2020. Sumastuti et al. , 2024. Zhang et al. , 2025. Segovia-Vargas et al. , 2. H7: Literasi keuangan Ie Adopsi digital keuangan Ie Keberlanjutan usaha Berdasarkan Tabel 5, pengaruh tidak langsung literasi keuangan terhadap keberlanjutan melalui adopsi digital keuangan memiliki =-0,084 dengan T-statistics 2,518 dan P-values 0,012, sehingga H7 diterima namun berarah negatif. Artinya, literasi keuangan memang meningkatkan adopsi digital, tetapi peningkatan adopsi digital pada konteks ini justru berasosiasi dengan SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 penurunan keberlanjutan. Secara implikatif, komponen AudigitalAy dalam blueprint intervensi perlu diposisikan sebagai enabler yang sederhana dan terukur . isalnya monitoring/pencatatan minima. , bukan sekadar mendorong adopsi platform, agar tidak menambah beban biaya dan kompleksitas bagi UMKM (Timeus et al. , 2020. Tay et al. , 2022. Charfeddine et al. , 2024. Yanto et al. , 2. Jalur mediasi negatif melalui adopsi digital menunjukkan bahwa literasi keuangan memang mendorong penggunaan layanan digital, tetapi peningkatan penggunaan digital tidak otomatis memperkuat keberlanjutan usaha pada konteks ini. Interpretasi yang relevan adalah adanya AumismatchAy antara intensitas adopsi digital dan kapasitas UMKM dalam mengelola Studi-studi terkini menekankan bahwa readiness . eterampilan, infrastruktur, dan kemampuan pengelolaa. akan menentukan arah dampak digital. Pada UMKM yang siap, digital dapat meningkatkan ketepatan pencatatan, transparansi arus kas, dan efektivitas Pada UMKM yang belum siap, digital justru dapat menjadi sumber friksi, misalnya ketergantungan platform, kebingungan fitur, biaya layanan, dan potensi risiko penipuan (Cueto et , 2022. Heliani, 2023. Widiawati et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan argumentasi bahwa teknologi perlu diadopsi secara bertahap dan selaras dengan kebutuhan utama UMKM, yakni stabilitas likuiditas dan disiplin pengelolaan kas, agar tidak mengalihkan fokus dari praktik manajemen keuangan inti (Supari & Anton, 2022. HS & Himawati, 2. Meskipun hasil penelitian menunjukkan jalur mediasi yang negatif, hipotesis mediasi adopsi digital tetap memiliki dasar teoritis. Literasi keuangan dapat meningkatkan kesiapan pelaku usaha untuk mengenali manfaat, risiko, dan tata kelola penggunaan layanan digital, sehingga mendorong adopsi pembayaran/transfer digital dan pencatatan digital yang lebih terarah (Tay et al. , 2022. Charfeddine et al. , 2. Dalam kondisi kesiapan memadai, adopsi digital berpotensi menjadi mediator karena dapat mempercepat pencatatan, meningkatkan visibilitas arus kas, dan memperkuat monitoring keuangan, yang pada gilirannya mendukung keputusan biaya, pengendalian kas, serta stabilitas operasional sebagai elemen keberlanjutan (Timeus et al. , 2020. Tay et al. , 2. Dengan demikian, jalur literasiIeadopsi digitalIekeberlanjutan secara konseptual mengasumsikan bahwa teknologi berfungsi sebagai enabler manajemen keuangan. Namun, pada konteks penelitian ini, efek mediasi menjadi negatif karena adopsi digital belum sepenuhnya terintegrasi dengan proses inti dan belum didukung kesiapan yang memadai, sehingga manfaat efisiensi dan kualitas informasi belum terkonversi menjadi keberlanjutan (Cueto et al. , 2022. Heliani, 2023. HS & Himawati, 2. Oleh karena itu, blueprint intervensi digital yang diturunkan dari model empiris ini harus mengutamakan Audigital minimalisAy yang memperkuat praktik keuangan, bukan digitalisasi yang memperluas kompleksitas operasional. Berdasarkan pola pengaruh langsung dan tidak langsung, blueprint intervensi digital UMKM dapat dirancang dengan prioritas yang jelas. Pertama, karena literasi keuangan berperan sebagai pengungkit utama, konten intervensi perlu menekankan literasi terapan yang langsung terkait praktik, seperti pemisahan keuangan pribadiAeusaha, pencatatan transaksi, penganggaran, dan perencanaan arus kas (Mukarromah et al. , 2020. Meitriana et al. , 2022. Kaban et al. , 2. Kedua, karena business saving terbukti sebagai jalur mediasi yang paling kuat, blueprint perlu memasukkan mekanisme pembentukan dana cadangan yang terstruktur, mencakup penetapan target saving, aturan setoran, aturan penggunaan dana cadangan, dan orientasi reinvestasi sebagai bantalan likuiditas (Korompis et al. , 2023. Abbas et al. , 2024. Nassuna et al. , 2. Ketiga, komponen digital harus diposisikan sebagai enabler sederhanaAimisalnya template pencatatan dan monitoring kas berbasis spreadsheet/form yang mudahAidan disertai pedoman penggunaan yang ringkas serta pendampingan bertahap agar selaras dengan kesiapan pengguna (Cueto et al. Heliani, 2023. Setiadi et al. , 2. Dengan desain ini, digital berfungsi memperkuat disiplin pencatatan dan pengawasan saving, bukan menjadi beban baru, sehingga blueprint yang dihasilkan berbasis bukti empiris dan berorientasi pada keterpakaian. PENUTUP SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 214 - 231 Penelitian ini bertujuan menguji model literasi keuanganAebusiness saving sebagai dasar penyusunan blueprint intervensi digital UMKM dengan menilai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap keberlanjutan usaha. Temuan menunjukkan literasi keuangan meningkatkan tabungan usaha dan keberlanjutan usaha, serta tabungan usaha berperan sebagai mekanisme mediasi utama yang memperkuat keberlanjutan usaha. Literasi keuangan juga mendorong adopsi digital keuangan, tetapi adopsi digital berasosiasi negatif dengan keberlanjutan usaha, sehingga jalur mediasi literasiIeadopsi digitalIekeberlanjutan usaha berarah negatif. Secara substantif, hasil ini menjawab tujuan penelitian bahwa fondasi blueprint yang paling kuat adalah literasi keuangan terapan yang dikonversi menjadi praktik saving usaha yang disiplin, misalnya penetapan target, aturan setoran, pembentukan dana cadangan, dan keputusan reinvestasi. Temuan negatif pada adopsi digital memberi komentar penting bahwa digitalisasi bukan tujuan, melainkan sarana yang harus ditata agar tidak menambah biaya, kompleksitas, atau risiko Implikasi praktisnya, blueprint perlu merancang komponen digital yang ringan, seperti monitoring dan pencatatan minimal berbasis template, disertai pedoman penggunaan dan batasan yang jelas. Dengan demikian, intervensi digital menjadi enabler yang mendukung pembentukan business saving dan stabilitas usaha, bukan beban baru bagi pelaku UMKM. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan desain cross section dan data persepsi responden, sehingga inferensi kausalitas serta perubahan perilaku dari waktu ke waktu belum dapat dipastikan. Selain itu, variasi kesiapan digital, heterogenitas praktik manajerial, dan perbedaan biaya adopsi antar pelaku usaha berpotensi menentukan arah pengaruh adopsi digital terhadap keberlanjutan usaha, namun belum dievaluasi melalui moderasi atau segmentasi yang lebih rinci. Ukuran keberlanjutan usaha yang digunakan juga masih berbasis persepsi, sehingga pengayaan indikator objektif . isalnya tren penjualan, margin, atau ketahanan ka. dapat meningkatkan kekuatan kesimpulan. Agenda penelitian mendatang perlu menguji blueprint melalui uji coba lapangan . dan desain longitudinal untuk menilai perubahan perilaku saving dan indikator keberlanjutan usaha secara aktual, sekaligus membedakan kelompok UMKM berdasarkan kesiapan digital dan kapasitas manajerial. Penelitian berikut juga dapat menguji desain intervensi digital yang lebih adaptif . isalnya pelatihan bertahap, coaching berbasis risiko, dan dashboard sederhan. agar adopsi digital berkontribusi positif. Dengan pendekatan tersebut, model empiris dapat ditransformasikan menjadi program pendampingan yang lebih efektif dan dapat direplikasi lintas konteks. DAFTAR PUSTAKA