AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 . Submitted: July. Accepted: Oktober. Published: Desember ETIKA MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF HADIS (Aplikasi Desain Penelitian Tematik Hadi. Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia E-mail: imann98@gmail. Abstrak Penelitian ini berupaya mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip etika media sosial dari sudut pandang hadis. Dengan pendekatan tema . terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan komunikasi, etika lisan, amar ma'ruf nahi munkar, dan penyampaian informasi, metodologi yang digunakan adalah kajian kualitatif yang berbasis pada penelitian Kesimpulan utama menunjukkan bahwa hadis-hadis Nabi mencakup prinsipprinsip berikut: kejujuran, berbicara dengan hati-hati, menahan diri dari menyebarkan fitnah, dan pentingnya verifikasi . Prinsip-prinsip ini dapat menjadi panduan untuk menciptakan budaya digital yang bermoral, bertanggung jawab, dan moderat dalam kehidupan umat Islam kontemporer. Prinsip-prinsip ini juga sangat relevan untuk menjadi landasan etika media sosial. Revolusi dalam komunikasi manusia telah terjadi akibat perkembangan teknologi informasi, khususnya melalui media sosial. Selain membuat informasi lebih mudah dan cepat diakses, media sosial telah berubah menjadi platform untuk penyebaran ujaran kebencian, pencemaran nama baik, berita bohong, dan praktik-praktik tidak bermoral lainnya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dalam hal ini, ajaran moral dan etika yang terkandung dalam ajaran Islam yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW relevan untuk mengarahkan individu menuju interaksi daring yang bermartabat dan sehat. Selain merefleksikan peran media sosial dalam pengembangan literasi digital Islam. Kata Kunci: Tabayyun. Hadits Tematik. Media Sosial. Etika Abstract This study seeks to identify and analyze the ethical principles of social media from the perspective of hadith. Using a thematic approach . to hadiths related to communication, oral ethics, enjoining good and forbidding evil, and conveying information, the methodology used is a qualitative study based on library research. The main conclusions indicate that the hadiths of the Prophet encompass the following principles: honesty, speaking with caution, refraining from spreading slander, and the importance of verification . These principles can serve as a guide for creating a moral, responsible, and moderate digital culture in the lives of contemporary Muslims. These principles are also highly relevant as a foundation for social media ethics. The revolution in human communication has occurred due to the development of information technology, particularly through social media. In addition to making information more easily and quickly accessible, social media has transformed into a platform for the spread of hate speech, defamation, fake news, and other immoral practices that contradict Islamic principles. In this regard, the moral and ethical teachings contained in Islamic teachings, derived from the hadith of the Prophet Muhammad . eace be upon hi. , are relevant for guiding individuals toward dignified and healthy online interactions. They also reflect the role of social media in developing Islamic digital literacy. Keywords: Tabayyun. Thematic Hadith. Social Media. Ethics Copyright A2025. AL ISNAD. ISSN 2775 Ae 0167 (Prin. ISSN 2775 Ae 3247 (Onlin. AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi PENDAHULUAN Kehidupan sosial manusia telah mengalami perubahan signifikan akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi di era digital. Kini, orang-orang dapat mengekspresikan pikiran, bertukar informasi, dan menciptakan identitas sosial di platform media sosial seperti Facebook. Instagram. Twitter. TikTok, dan YouTube. Namun, kebebasan berekspresi daring seringkali disalahgunakan untuk menyebarkan informasi yang bertentangan dengan prinsip moral dan agama, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan hoaks. Kondisi ini menunjukkan lemahnya etika komunikasi media sosial, yang, dari sudut pandang Islam, seharusnya diatur oleh ajaran moral yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Ajaran hadits Nabi tentang menjaga lisan . ifzh al-lisa. dan menjauhi perkataan yang sia-sia . sesungguhnya mencakup pula etika bermedia sosial, yakni menyangkut tanggung jawab moral terhadap dampak tutur kata dan perbuatan di ranah digital, di samping sopan santun dalam berkomunikasi (Septian, 2. Etika komunikasi telah ditekankan sepanjang sejarah dari perspektif hadis. Sabda Nabi Muhammad termasuk di antara hadis-hadis yang relevan: a a a a a a a a a a a eA aeeAE aOCeO UeOee aE aOA aIA a AIIeIeeOIa Iee acEEaeeOEOO aIeA Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau Ay (HR. al-BukhAr dan Musli. (BukhAriy, 1. Hadits ini menetapkan landasan moral bagi semua komunikasi tertulis dan lisan, termasuk media sosial, yang didasarkan pada kejujuran, niat baik, dan kebaikan Pelajaran dari hadits ini sangat relevan untuk menciptakan budaya media sosial yang bertanggung jawab dan santun di era digital. Etika media sosial telah dibahas dalam sejumlah karya sebelumnya dari berbagai sudut pandang Islam. Penelitian "Etika Komunikasi Digital dari Perspektif Al-Qur'an" karya Malik . , misalnya, menekankan cita-cita komunikasi Islam berdasarkan ayatayat Al-Qur'an, terutama yang berkaitan dengan larangan fitnah dan ghibah(Malik et al. Sebaliknya. Ghulam Dzaljad . menyatakan dalam bukunya "Etika Paradigma IntegratifAy bahwa tanggung jawab moral, kejujuran, dan kesantunan harus tercermin dalam aktivitas media sosial (Ghulam Dzaljad et al. , 2. Studi ini menunjukkan bagaimana etika digital telah berkembang menjadi topik penting dalam studi Islam Kajian hadis yang berfokus pada etika media sosial masih jarang, dan seringkali bersifat normatif-deskriptif. Misalnya. Syihabuddin . membahas relevansi hadis tentang menjaga lisan dengan perilaku media sosial dalam makalahnya "Menjaga Ucapan di Era Digital: Sebuah Kajian Hadis tentang Etika Komunikasi. " Namun, ia belum menggunakan pendekatan metodologis yang sistematis terhadap hadis (Syihabuddin. Akan tetapi. Hikmat . belum memasukkan pendekatan penelitian hadis dengan tema yang lebih relevan dalam karyanya "Islam dan Komunikasi", yang bertujuan untuk mengkaji hadis tentang kejujuran dan larangan berbohong dalam konteks penyampaian berita di media sosial (Hikmat, 2. Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 145 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi Kekurangan studi-studi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian: belum ada paradigma yang secara metodologis mengintegrasikan latar fenomena sosial digital dengan metodologi kajian hadis tematik . Namun, karena metodologi ini dapat mengelompokkan berbagai hadis relevan ke dalam satu tema tertentu, menganalisis makna kontekstualnya, dan menafsirkannya berdasarkan tantangan terkini, desain penelitian hadis tematik memiliki potensi besar untuk memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang prinsip-prinsip etika media sosial. Quraish Shihab, yang menyoroti penggunaan pendekatan tematik dalam menafsirkan teks-teks agama agar ajaran Islam dapat diimplementasikan secara kontekstual dan merespons perubahan masyarakat, sependapat dengan metode ini (Shihab, 2. Kebutuhan untuk menciptakan paradigma analisis hadis yang tekstual sekaligus bermanfaat dalam menangani isu-isu sosial kontemporer terutama yang berkaitan dengan penggunaan media sosial menjadi pendorong utama penelitian ini. Untuk mendorong perilaku komunikasi yang santun, jujur, dan beradab di ranah digital, sebuah studi hadis topikal tentang etika media sosial akan membantu mengidentifikasi norma-norma moral Islam yang relevan. Selain itu, sebuah Desain Penelitian Tematik Hadis, yang dapat digunakan sebagai panduan untuk penelitian hadis di masa mendatang, diharapkan dapat menjadi kontribusi metodologis dari penelitian ini. METODE PENELITIAN Untuk menyelidiki dan menjelaskan prinsip-prinsip moral media sosial dari sudut pandang hadis Nabi Muhammad SAW, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Alih-alih menggunakan pendekatan kuantitatif atau statistik, penelitian ini menjelaskan secara menyeluruh isi ajaran hadis yang relevan dengan kebiasaan komunikasi digital umat Islam saat ini. Penelitian pustaka, yang didasarkan pada analisis sumber pustaka primer dan sekunder, merupakan metodologi yang digunakan. Teks hadis terkemuka termasuk Sahih al-Bukhari. Sahih Muslim. Sunan Abu Dawud, dan Jami' at-Tirmidzi merupakan contoh sumber primer. Buku-buku tentang tafsir hadis, buku-buku tentang metode studi hadis, dan buku-buku serta makalah terbaru dari jurnal ilmiah yang membahas etika media sosial dari sudut pandang Islam merupakan contoh sumber Penelusuran hadis-hadis yang berkaitan dengan tema etika media sosial, seperti yang berkaitan dengan kejujuran, larangan fitnah dan gosip, tutur kata yang baik, dan pentingnya tabayyun, merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data dikumpulkan dengan memanfaatkan alat pencarian teks hadis dan pencarian manual maupun digital dari literatur hadis. Dengan pendekatan analisis deskriptif-tematik, metode analisis data ini menganalisis isi hadis secara tematik . Setelah berhasil mengumpulkan hadis-hadis tersebut, hadis-hadis tersebut dikategorikan menurut tematema etika, dan dijabarkan maknanya secara rinci. Makna hadis tersebut kemudian dikontekstualisasikan dalam kaitannya dengan permasalahan media sosial kontemporer, termasuk ujaran kebencian, pencemaran nama baik daring, dan berita bohong. Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 146 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi Melalui kajian ini, ajaran normatif hadis dapat dihubungkan dengan gaya hidup digital umat Islam, sehingga pesan-pesan kenabian dapat ditafsirkan dengan cara yang relevan dan bermanfaat untuk menjawab dilema etika yang ditimbulkan oleh media sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan Subjek untuk Desain Studi Hadits Tematik Pemilihan tema atau pokok bahasan yang akan dikaji merupakan langkah awal yang sangat penting dalam teknik kajian hadis tematik . Pemilihan pokok bahasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai relevansi dan kontribusi ilmiah penelitian, selain menentukan arah dan batasannya. Pokok bahasan atau pokok bahasan yang dipilih haruslah bermakna secara akademis dan sosial, dan harus mewakili masalahmasalah nyata yang dihadapi umat Islam dan masyarakat dunia pada umumnya. Untuk melakukan sintesis makna yang mendalam, kajian hadis tematik berupaya menghimpun, mengkategorikan, dan mengkaji hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang terkait dengan suatu tema tertentu. Oleh karena itu, sejumlah faktor, termasuk urgensi ilmiah, kelayakan data hadis, dan relevansi dengan realitas sosial terkini, harus diperhitungkan saat memilih isu(Z. Rahman, 2. Saat ini, kajian hadis topikal dapat menggunakan berbagai isu kontemporer sebagai tema. Etika media sosial adalah Tema ini tidak hanya relevan saat ini, tetapi juga memberikan peluang nyata bagi kajian Islam untuk secara aktif membahas isu-isu kontemporer(Susanto & Hermanto. Tema "Etika Media Sosial dalam Perspektif Hadits" adalah salah satu contoh yang dilakukan dalam penelitian ini. Maraknya penggunaan media sosial oleh masyarakat muslim di Indonesia dan di seluruh dunia membuat isu ini menjadi sangat relevan. Media sosial dapat berfungsi sebagai wadah untuk berdakwah, tetapi juga sering digunakan untuk menyebarkan rumor, fitnah, provokasi, dan berita bohong(Shihab, 1. Dalam hal ini, hadits Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya berbicara dengan jelas, menjauhi dusta, menjaga lisan, dan menyampaikan fakta dengan bijaksana. Di antara hadits yang relevan adalah: a aa a a a a a a a a a a a a a aeAOecEEA a a aIA AeceAEA AeA aOIeIeI sOeIeI aA ae aIe aO ae aI aeI a sIeIe aOeO seEA a AOeCEeCeOEA a a a a a a a a a a a a a aa a a a a a a a AI aeO aI aIeA eA aeAEO aI aeuEOA AEONa eOEIeIIeEA a A aeAE aOE aIeOANeIIeEIeO aII aeA a AceOEOO aIeEA a AceOEOO aIeEA a a a a a a a a a a AI aeOIa aIeA eA aeAE aOCEeO UeOe aE aOA aIA A aNa eIIeEA a AceOEOO aIeEA Telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im dari Abu Syuraij Al khuza'i dia berkata, "Rasulullah bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia menghormati tamunya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik terhadap tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau "(BukhAriy, 1. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, beberapa hadits juga menegaskan pentingnya mengklarifikasi ilmu sebelum menyebarkannya: Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 147 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi a a a a a a a a aa a a a a a aa a a a aa a a a a a a aa a a a Ae aA e AeE aI aIe aI aeIN aOA eAece aI aeI seEI a acOeIe aOeeOeIeIIeIeEIIOeIA a AOeIeOA a a a a aa aa a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a aa a a e AeO aE aIA a AA sIeCEeCEeOEA aAeceAEOeceONA a ACEeIeeIeO ae aIe aeEI aIeIeA aAe aIeA a a a a aa a U a a a a a a aa a a a aa a a ca a a a a a a a a eAOeE aIa eE aeIeO a aeE aEeIe aIeOeIeOeE aeIe aOeOeIe aEO eIeA sAeIeA a a AEA a a aa aa a a a a a a a a a a a AOeceONa e aO aE aI ae aI aEe aEEA AA sIeIe aOeN aO aeIeEIOeAEA a AIeO ae aIe aeEI aIeIeA aAe aIeA aa Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al Anbari, telah menceritakan kepada kami Bapakku . alam riwayat lain disebutka. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata, "Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang . berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia " Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi dengan seperti hadits tersebut. "(Ibn al-ajjAj, 1. Pemilihan tema ini sangat penting untuk menjamin bahwa kajian didasarkan pada kebutuhan aktual masyarakat, bukan sekadar teori. Selain itu, pemilihan tema yang baik dan benar harus memenuhi empat persyaratan utama: Satu relevansi kontekstual mengacu pada hubungan langsung tema dengan isu-isu sosial aktual. Dua sumber hadis tersedia, artinya ada cukup banyak hadis asli atau hasan yang relevan dengan tema. Tiga nilai kebaruan ilmiah mengacu pada fakta bahwa tema tersebut belum dipelajari secara ekstensif atau menawarkan sudut pandang baru pada tema-tema yang mapan. Empat kontribusi praktis mengacu pada fakta bahwa temuan penelitian menawarkan solusi atau arahan yang menguntungkan bagi masyarakat dan budaya (Shihab, 2. Dalam praktiknya, pemilihan tema juga memerlukan tinjauan awal terhadap kumpulan literatur terkini. Para peneliti harus membaca jurnal ilmiah, literatur hadis, buku tentang penafsiran tema, dan publikasi ilmiah terkait lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai sejauh mana isu tersebut telah diteliti oleh para peneliti sebelumnya dan mengidentifikasi kesenjangan atau prospek baru untuk penelitian tambahan. Selain itu, saat mengidentifikasi tema, peneliti dapat menggunakan pendekatan Misalnya, menggunakan perspektif psikologis terhadap hadis tentang kesehatan mental atau teori komunikasi terhadap hadis tentang komunikasi sosial. Hal ini memperluas perspektif peneliti terhadap isu yang disorot dan meningkatkan metodologi (Amin Abdullah, 2. Pengamatan langsung terhadap kejadian-kejadian sosial atau masalah-masalah teologis yang baru berkembang juga dapat menjadi titik awal untuk pemilihan tema. Temuan-temuan survei, pengamatan, atau pemikiran introspektif tentang keadaan sosialkeagamaan yang terus berkembang dapat menjadi dasar untuk penelitian. Penelitian tentang hadis tentang persaudaraan, etika berdiskusi, dan larangan memecah belah Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 148 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi manusia, misalnya, sangat didorong oleh meningkatnya perpecahan dan permusuhan politik di media sosial. Pengumpulan dan Seleksi Hadis yang Relevan Langkah berikutnya setelah menentukan tema bahasan penelitian hadis tematik adalah pengumpulan dan pengkatalogan hadis. Pencarian dan pengumpulan hadis yang relevan dengan tema dalam hal ini, "etika media sosial dari perspektif hadis" merupakan pekerjaan peneliti saat ini. Untuk mencegah kesalahpahaman makna hadis, metode ini memerlukan ketepatan dalam memilih hadis yang asli dan relevan serta kesadaran Dalam metode tematik, hadis dikumpulkan baik secara tekstual yakni dengan mencari kalimat-kalimat yang secara khusus menyebutkan istilah tertentu maupun secara konseptual yakni dengan mengumpulkan hadis-hadis yang relevan dengan nilai-nilai, makna-makna, dan prinsip-prinsip etika yang berlaku dalam lingkungan media sosial saat ini(Ikromul, 2. Hal ini karena hadits tersebut tidak secara khusus menyebutkan tentang "media sosial", namun nilai-nilai etika seperti qaulan sadidan . capan yang bena. , larangan menyebarkan berita bohong, menjaga lisan, larangan menggunjing dan namimah, serta anjuran tabayyun . sangat relevan dengan perilaku media sosial Ada banyak langkah penting yang terlibat dalam prosedur pengumpulan hadis. Pertama, mengidentifikasi sumber hadis cetak dan digital dari berbagai publikasi utama termasuk Sahih al-Bukhari. Sahih Muslim. Sunan Abu Dawud. Sunan Tirmidzi, dan Musnad Ahmad. Saat mencari hadis menggunakan kata kunci, sumber digital seperti Maktabah Syamilah. Al-Maktaba al-Shamila. Islamweb. net, dan Sunnah. com sangat bermanfaat(Shihab, 1. Sebagai contoh pengumpulan hadis Nabi Muhammad Saw sebagai berikut: Hadis Arti Hadis Hubungan dengan Tema A eI IaA aa aeIA a A aacaIaATelah mengabarkan kepada ide komunikasi dasar yang a A eI sOA a A eIA a A eA aO aIA e A a aO ae aeI aIAkami Sufyan dari 'Amru dari baik dan benar juga berlaku AeA a A saIA s A eI a aO a aOA ca AAEacOA acEEA a A eE aa aO a Ca aE Ca aE aANafi' bin Jubair bin Muth'im untuk a ca AO aEA a AacEEA AacEE aO eE aO eO aIA a ca AEac aI aI eI aEIa Oae Ia Ia aA a dari Abu Syuraij Al khuza'i sosial. a AEa eO aN aOA AacEEA a ca A eOAaNa aI eI aEIa Oae aIIa aA a A eEa a Aa eEOa eE a eIAdia berkata, "Rasulullah A aN aI eIA a A aO eE aO eO aI eEa a Aa eEOa e eaI auEaO aAbersabda, "Barang siapa ca A aEIa Oae Ia Ia aAberiman kepada Allah dan AacEEa aO eEOa eO aI eEa a Aa eEOaCa eEA e AA aIA e aA aO Ue a eO aEOAhari akhir hendaknya ia barang siapa beriman kepada Allah hendaknya berbuat baik terhadap tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 149 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi ca aAO aacaIa aa eOA AOA ca AacEEa e aI aIa s eEa eIa aA acaIa aaO O aacaIa aI a acIa eIa eE aIaIacOA AEe aI aI eIa aI eNaO s CaaE aacaIaA ca aA eA a acaIaA A eIA ca A e aA a A eI aa eOA a AEe aI aIA a A aeIA a a eaA ca AA sI Ca aE Ca aE aaO aEA acEEA a Aa eAA a AA a AA aeIA ca AAEacOA AEac aI aEAaO a eE aI ea aE aUA a acEEA a AEa eO aN aOA A aI a O aacIa aO aE aA a A a eI Oa aa aE aE aIA a a Ae aI aaOA s AO eIa a eAA a A eOaa aacaIaA ca A aEA AEe aI aIA ca A e aA a A eI aa eOA a A aeIA a acaIa a eaA a A eI a aO N aaO aeA a A eI a eAA a AA sIA a AA a AA aeIA AEac aI a aIe aEA AOA ANA AOA AEA AacEEA AOA AEA a AOA AIA AEA AIA a a a a a a a a AaEaEA a acaIa Oa eOaO eIa a aEO se aacaIa EEacOA A eIA a AeA A Ca aE Ca aEA a a eA aa aeI aaOaA a A eI ea aeA ca ca AAEOA acEEA a aO N aaO ae a Oae a aA a a A eI EIacaOA ca A acI Aaua acI EA ca AEac aI Ca aE uaOacEa eI aOEA A acIA a AEa eO aN aOA AaO aOaEA a AaEaa E aaOA ca A aOaE a aA AaO aOEaOIaO ua e aOIUA a AaO aOaE a ca A a aA AEO a a a a O aNA ca aOaE OaA a AE a aEA acO Oa eI aE a a eO Oae aEA hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan telah menceritakan menunjukkan kepada kami Ubaidullah bin pentingnya mengonfirmasi Mu'adz al Anbari, telah informasi menceritakan kepada kami menyebarkannya. Bapakku . alam riwayat lain sangat relevan dengan Dan telah masalah berita palsu yang menceritakan kepada kami terdapat pada media sosial Muhammad bin al Mutsanna, saat ini. telah menceritakan kepada Abdurrahman Mahdi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata, "Rasulullah "Cukuplah . berbohong apabila dia menceritakan semua yang Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi dengan seperti hadits tersebut. Telah menceritakan kepada Media sosial memudahkan kami Yahya bin Bukair Telah orang untuk menyebarkan menceritakan kepada kami Al informasi Laits dari Ja'far bin Rabi'ah mengomentari kehidupan dari Al A'raj ia berkata: Abu pribadi orang lain, dan Hurairah Satu memancing fitnah dengan warisan dari Nabi shallallahu membuat asumsi yang 'alaihi wa sallam, beliau tidak berdasar tanpa fakta bersabda: "Jauhilah oleh . u'udza. Hadits kalian prasangka, sebab mendorong Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 150 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi adalah budaya husnuzan . erpikir ungkapan yang paling dusta. dan tabayyun. Dan mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Janganlah seorang laki-laki meminang atas pinangan Pengelompokan ini bertujuan untuk mempermudah analisis dan sintesis makna yang akan terjadi pada langkah berikutnya. Dari sudut pandang yang lebih metodis dan menyeluruh, pengelompokan ini juga memungkinkan para peneliti untuk melihat peta norma etika Islam yang tersebar di antara berbagai hadis(Suryadi, 2. Selanjutnya verifikasi kualitas hadis dari perspektif sanad dan matan sangatlah Pendekatan takhrij hadis, yang melibatkan pencarian sumber asli dan evaluasi kualitas hadis menurut derajatnya . ahih, hasan, dan dai. , digunakan untuk melakukan hal ini. Evaluasi ilmiah tentang derajat hadis dapat ditemukan dalam karya-karya takhrij seperti Tahrir Taqrib at-Tahdzib karya Ibn Hajar atau program digital seperti HadithApp. Al-Mawsu'ah al-Haditsiyyah, dan Makhtutat Shamila. Para peneliti juga dapat menggunakan program hadis yang terhubung dengan basis data mu'tabar di era digital. Misalnya, edisi digital "Maktabah Shamila" memiliki kemampuan menerjemahkan dan mencari kata kunci bahasa Arab. Anda dapat mencari hadis tentang komunikasi sosial digital dengan menggunakan kata kunci seperti qaul, sidq, fitnah, ghibah, namimah, dan Pengumpulan dan pengkatalogan hadis merupakan langkah dalam proses ilmiah untuk mempertimbangkan ajaran moral dan spiritual Islam yang universal dan relevan. Dalam dunia digital saat ini, para peneliti berkewajiban untuk memperhatikan kedalaman makna dan kepentingan praktis hadis bagi kehidupan masyarakat, selain kuantitasnya. Hadits Pencegahan Cyberbullying dan Ujaran Kebencian Penelitian ini menunjukkan bahwa ujaran kebencian dan cyberbullying berkaitan erat dengan hadis yang melarang penghinaan, kritik, dan penyebaran kebencian. Sabda Nabi Muhammad . , a aa aa a a aa a a a aa a AEOA eAOA a AeEA AEA AeOAU AIA AeA AEA AeOAU AIA AEA AeA AIA AIA AeEA aAIA a AeOe aAUA aA AuSeorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, atau berbicara kotor (Tirmiiy, 1. Ay (HR. al-Tirmi, no. Hadits ini melarang segala bentuk komunikasi di media sosial yang merendahkan martabat orang lain, termasuk penghinaan terhadap tubuh, penyerangan pribadi berbasis identitas, dan komentar yang merendahkan. Pengguna diwajibkan untuk menghormati Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 151 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi hak, privasi, dan martabat pengguna daring lainnya, yang sejalan dengan aturan etika digital global yang dikenal sebagai konsep kewarganegaraan digital(Ghulam Dzaljad et , 2. Namun, dari sudut pandang hadis, etika media sosial didasarkan pada kesadaran spiritual: bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Hal ini berbeda dengan etika digital global yang bersifat sekuler dan berfokus pada standar "Tidaklah sepatah kata pun terucap melainkan ada malaikat pelindung yang selalu siap mencatatnya," firman Allah dalam QS. QAf ayat 18. Hal ini menunjukkan bagaimana etika Islam lebih komprehensif karena secara bersamaan membahas aspek spiritual, moral, dan sosial. Membandingkan Etika Digital Global Etika digital, komunikasi digital, literasi digital, serta hak dan kewajiban digital merupakan bagian dari sembilan komponen perilaku digital yang bertanggung jawab yang tercakup dalam gagasan kewarganegaraan digital (Ribble, 2. Meskipun sumber normatifnya berbeda secara fundamental, cita-cita ini sebagian besar sejalan dengan ajaran etika hadis. Etika hadis berakar pada wahyu dan ranah transendental, sedangkan etika digital modern didasarkan pada konsensus sosial dan hukum positif. Misalnya, gagasan adab al-kalAm dalam hadis ini sebanding dengan prinsip etiket digital, yang menekankan komunikasi yang santun. Demikian pula, perintah Nabi untuk berhati-hati saat mengonsumsi berita . sejalan dengan literasi digital, atau kemampuan untuk menyaring informasi. Allah berfirman dalam QS. al-ujurAt ayat 6: "Jika orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Ayat ini, yang mendukung hadis tentang verifikasi informasi, menjadi dasar Al-Qur'an. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ajaran Islam dan prinsip-prinsip etika digital global sebenarnya tidak bertentangan. Islam justru memberikan dasar yang lebih mendalam: spiritualitas, akuntabilitas abadi, dan niat baik dalam hubungan daring. Etika hadis memperluas kesadaran sosial hingga kesadaran ilahi, sementara kewarganegaraan digital berfokus pada kesadaran sosial. Tahapan Kritik Sanad dan Matan Kritik sanad dan matan, yang menetapkan keandalan dan keaslian hadis yang digunakan dalam analisis tematik, merupakan langkah penting dalam desain kajian hadis Prosedur ini menjamin bahwa hadis yang diteliti benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW dan bahwa matan . tidak bertentangan dengan hukum syariah atau penalaran yang baik ketika mengkaji hadis tematik, yang mencakup tema-tema modern seperti etika media sosial. Serangkaian perawi yang dikenal sebagai Sanad mewariskan hadis dari Nabi Muhammad SAW kepada juru tulis hadis. Sebaliknya, matan adalah kata-kata atau isi hadis yang sebenarnya. Sementara kritik matan menilai substansi hadis dari segi makna, bahasa, dan kepatuhan terhadap Al-Qur'an dan realitas, kritik sanad menilai keandalan dan kontinuitas rantai perawi hadis . tsal al-sana. (Bawafie, 2. Kritik ini penting dilakukan karena tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis dapat langsung dijadikan dasar moralitas atau hukum tanpa melalui proses validasi ilmiah terlebih dahulu. Kesalahan dalam menilai sanad dan matan dapat berujung pada kesalahan penerapan hadis dalam konteks kontemporer, seperti saat menetapkan standar moral untuk media Dalam tema etika dalam media sosial, misalnya hadis : Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 152 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi a a a a a a a a a a a a a a a a AeAaEA a a aIA eAOecEEA AecEEA AOEA AeA AEA AeCA AEA AeCA AOA AeEA AOA AOeA AeA AeA aOIeIeI sOeIeI aA ae aIe aO ae aI aeI a sIeIA a a a a a a a a a a aa a a a a a a AI aeO aI aIeA a a a a AI aeO aI aIeA eA aeAE aO aI aeuEOA A aeAE aOE aIeOANeIIeEA AEONa eOEIeIIeEA a AceOEOO aIeEA a AceOEOO aIeEA a a a a a a a a a a AcEE aeOEA eA aeAE aOCEeO UeOe aE aOA aIA AeEA AIA AOA AOA A aNa eIIeEIeOIa I aeA Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al Anbari, telah menceritakan kepada kami Bapakku . alam riwayat lain disebutka. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata, "Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang . berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia " Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi dengan seperti hadits tersebut (BukhAriy, 1. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang menceritakan ratusan hadits Nabi Muhammad SAW. Untuk mengevaluasi kualitas sanad, peneliti perlu: Satu mengikuti transmisi hadits dari Abu Hurairah kepada Imam Bukhari, atau Muslim. Dua menggunakan teks rijAl seperti Tahdzb al-KamAl karya al-Mizzi. Taqrb at-Tahdzb karya Ibnu Hajar, dan MzAn al-IAotidAl karya adz-Dzahabi untuk menilai kehandalan narator(Ibn ajar, 1. Tiga mengevaluasi kebenaran perawi . , keadilan ('adAla. , dan kesinambungan . Sanad hadis ini dianggap sahih karena diriwayatkan oleh sumber yang dapat dipercaya dan muncul dalam kitab-kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim . uttafaq 'alay. Para peneliti hanya perlu memberikan referensi asli dan mencatat bahwa hadis tersebut memiliki tingkat keaslian tertentu saat melakukan kajian hadis tema tersebut. Kontekstualisasi Penafsiran Hadits dalam Penelitian Hadits Tematik Langkah selanjutnya dalam teknik kajian hadis tematik adalah mengontekstualisasikan makna hadis, khususnya ketika pokok bahasan yang ditonjolkan menyentuh berbagai isu terkini seperti etika media sosial. Pada titik ini, para peneliti tidak hanya harus memahami teks hadis secara tekstual, tetapi juga menafsirkan maknanya secara kontekstual, yakni dengan mempertimbangkan berbagai isu sosial, budaya, dan kontemporer saat itu. Hal ini sesuai dengan semangat maqAid al-syariAoah, yang mengidentifikasi kemaslahatan sebagai salah satu prinsip utama yang digunakan untuk memperoleh etika dan hukum Islam. Praktik menafsirkan hadis dengan mempertimbangkan konteks sosial tempat ia diturunkan . sbAb al-wur. dan mengadaptasi penafsirannya dengan kondisi sosial kontemporer dikenal sebagai kontekstualisasi makna hadis. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk memperluas atau menyegarkan makna hadis sehingga bertahan lama, bukan untuk mengubahnya. Beranjak dari masa kini ke masa lalu . embali ke makna asl. dan dari masa lalu ke masa kini . enafsirkan ulang untuk konteks saat in. adalah dua gerakan Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 153 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi yang menurut Fazlur Rahman diperlukan untuk memahami sunnah Nabi(F. Rahman. Prinsip-prinsip inti Islam tentang rahmah . asih sayan. , 'adAlah . , dan maslahah . juga harus disertakan dalam kontekstualisasi. Media sosial dapat berfungsi sebagai platform untuk persahabatan dan dakwah, tetapi jika dibiarkan, hal itu juga dapat menyebabkan amoralitas digital. Oleh karena itu, hadis tersebut menyarankan orang untuk menegakkan prinsip-prinsip moral baik di dunia nyata maupun dimedia sosial Kontekstualisasi dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ketika melakukan kajian hadis topikal pada topik AuEtika Media SosialAy: a a a a a a a a a a a a a a a aAOe aOeEA a a AeAaEA a a aIA eAOecEEA AecEEA AeA AeA aOIeIeI sOeIeI aA ae aIe aO ae aI aeI a sIeIA a AOeCEeCeOEA a a a a a a a aa a a a a a a a a a a AI aeOIA a AeOEA a AcEEA a AeOE aOOIeE aeAEA a AcEEA eA aeAE aO aI aeuEOA AeEA AIA AOA AOA AeA AIA AeEA AIA AeIA ANA a AOA AeA AIA AEA AOA AEONa eOEIeIIeEIeO aII aeA a a a a a a a a a a a a AI aeOIa aIeA eA aeAE aOCEeO UeOe aE aOA aIA A aNa eIIeEA a AceOEOO aIeEA Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al Anbari, telah menceritakan kepada kami Bapakku . alam riwayat lain disebutka. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata, "Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang . berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia " Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi dengan seperti hadits tersebut. (BukhAriy, 1. Etika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang tepat dan menahan diri dari ucapan yang menyinggung atau tidak berguna merupakan nilai universal hadis. Karena melampaui waktu dan geografi, nilai ini berlaku di mana-mana. Kontekstualisasi, menurut Quraish Shihab, bukanlah Aumenyesuaikan agama dengan perkembangan zaman,Ay tetapi lebih kepada memahami ajaran agama dalam konteks sejarah agar pesan moral hadis tetap terjaga dan tidak hilang dalam kehidupan masa kini(Shihab, 2. Hasil dan Kontribusi Tematik dalam Penelitian Studi Kasus Etika Media Sosial Pengembangan hasil dan kontribusi tema merupakan langkah terakhir dan paling krusial dalam teknik kajian hadis tematik . audhuAo. Pada titik ini, peneliti menarik kesimpulan dari telaah hadis-hadis yang relevan dan merumuskan gagasan atau solusi hadis terhadap isu-isu yang diteliti, khususnya dalam konteks masa kini. Langkah ini penting untuk menghubungkan cita-cita kenabian dengan kesulitan komunikasi digital kontemporer dalam konteks isu "Etika Media Sosial dalam Perspektif Hadis. Kumpulan standar moral yang memandu perilaku orang saat menggunakan platform digital baik berupa teks, foto, video, atau interaksi daring dikenal sebagai etika media sosial. Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW merupakan sumber prinsip etika Islam. Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 154 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi Oleh karena itu, konsep etika dari hadis yang membahas komunikasi lisan, amar ma'ruf, nahi munkar, dan distribusi informasi dapat diteliti melalui kajian hadis tematik. a a a a a a a a a a a a a a a aAOe aOeEA a a AeAaEA a a aIA eAOecEEA AecEEA AeA AeA aOIeIeI sOeIeI aA ae aIe aO ae aI aeI a sIeIA a AOeCEeCeOEA a a a a a a a aa a a a a a a a a a a AI aeOIA a AeOEA a AcEEA a AeOE aOOIeE aeAEA a AcEEA eA aeAE aO aI aeuEOA AeEA AIA AOA AOA AeA AIA AeEA AIA AeIA ANA a AOA AeA AIA AEA AOA AEONa eOEIeIIeEIeO aII aeA a a a a a a a a a a a a AcEE aeOEA eA aeAE aOCEeO UeOe aE aOA aIA AeEA AIA AOA AOA A aNa eIIeEIeOIa I aeA Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al Anbari, telah menceritakan kepada kami Bapakku . alam riwayat lain disebutka. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata, "Rasulullah bersabda, "Cukuplah seseorang . berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia " Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi dengan seperti hadits tersebut. (BukhAriy, 1. Dalam konteks media sosial, hadis ini dapat dilihat sebagai panduan untuk menyaring konten sebelum diunggah atau disebarkan. Menyebarkan ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan materi yang menghasut yang merusak kerukunan sosial dilarang oleh konsep "berkata baik". Mengembangkan temuan dan kontribusi tema dalam penelitian hadis tematik merupakan proses menyatukan cita-cita Islam sejati dengan isu-isu sosial terkini, bukan sekadar menarik kesimpulan dari temuan hadis. Hadis Nabi telah menunjukkan kemampuannya untuk menawarkan nasihat moral dan hukum yang dibutuhkan masyarakat kontemporer dalam hal etika media sosial. Temuan penelitian ini berpotensi untuk memajukan filsafat Islam kontemporer secara signifikan jika pendekatan yang tepat KESIMPULAN Ajaran Islam telah memberikan dasar etika yang kuat bagi individu untuk mengatur perilaku mereka saat berinteraksi di media sosial, menurut temuan penelitian yang dilakukan dengan pendekatan tematik terhadap hadis Nabi Muhammad SAW. Etika komunikasi digital Islam didasarkan pada nilai-nilai termasuk bersikap jujur saat berbagi informasi, sesuai dengan prinsip tabayyun sebelum menyebarkan berita, melarang fitnah dan gosip, dan menekankan pentingnya menghormati kehormatan orang lain. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan tanggung jawab moral dalam tutur kata dan penggunaan informasi, menurut hadis yang dikaji. Hal ini relevan dengan lanskap media sosial saat ini. Berdasarkan hadis, etika media sosial tidak hanya bersifat normatifteologis, tetapi juga berguna untuk menciptakan budaya daring yang beradab, bertanggung jawab, dan moderat dalam masyarakat yang beragam. Kajian ini merupakan langkah awal dalam mengembangkan landasan berbasis Etika Media Sosial dalam Pesrspektif HadisA | 155 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Maryamah. Muhammad Alif. Salim Rosyadi hadis untuk etika digital. Disarankan agar kajian lebih lanjut dilakukan dengan menggunakan metode interdisipliner untuk kemajuan, seperti menggabungkan teknologi informasi, psikologi media, atau ilmu komunikasi dengan kajian hadis. Di era kecerdasan buatan dan algoritma digital, hal ini penting untuk memperkuat penerapan hadis dalam mengatasi masalah komunikasi etika yang lebih rumit. Lebih jauh, kajian konseptual hadis tematik tetap menjadi satu-satunya fokus karya ini. Oleh karena itu, kajian empiris diperlukan untuk mengevaluasi sejauh mana pengguna Muslim di media sosial telah memahami dan menerapkan ajaran etika yang ditemukan dalam hadis. Berdasarkan hadis, penelitian ini dapat membantu dalam menciptakan rekomendasi atau modul literasi digital Islam yang bermanfaat yang dapat digunakan di lembaga pendidikan, pesantren, dan ruang publik daring lainnya. DAFTAR PUSTAKA