JURNAL PENGABDIAN WIDYA DHARMA Volume 04 No. 02 Agustus 2025 E ISSN 2962-3758 MENGEMBANGKAN TOLERANSI MASYARAKAT MELALUI PILOT PROJECT DESA PANCASILA WarsitoA. Dhiva Maulida Rizqi NurAoainiA. Wisnu Nugroho AjiA. Septiana Wijayanti4. Sukasih Ratna Widayanti5. Gunawan Budi Santoso6 1,3,4,5,6 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Widya Dharma Klaten Program Doktor. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: 1warsito. unwidha@gmail. com, 2dhivamaulida13@student. wisnugroaji@gmail. com, 4septiana. wijaya28@gmail. com, 5ratnawisnumurti@gmail. gunawan@unwidha. Article Info ARTICLE HISTORY Received: 02/08/2025 Reviewed: 02/08/2025 Revised: 03/08/2025 Accepted: 05/08/2025 DOI: 54840/widharma. Abstract Globalization has not only had a positive impact on tolerance, but also a negative one. The pilot project for the launch of the Pancasila Village is one effort to develop community This study has three objectives: . to determine the implementation model for the Pancasila Village pilot project in developing community tolerance, . to identify the reasons why the launch of the Pancasila Village is appropriate at this time, and . to determine the extent of community participation in ensuring the success of Pancasila Village This community service activity was carried out through methods of outreach, training, technology application, mentoring and evaluation, and program sustainability. The study concluded that, first, the implementation model for the Pancasila Village pilot project in developing community tolerance involved both physical and non-physical activities. Physical activities included installing street signs, displaying the national emblem on each house, and naming the Ngemplak Village field as the Pancasila Village Field. Non-physical activities included focus group discussions (FGD. , outreach, outreach, and so on. Second, the rationale for declaring Ngemplak Village a Pancasila Village is appropriate at this time because of the deviant behaviors and inferiority complexes resulting from globalization. Third, community participation in the success of the Pancasila Village, in efforts to develop societal tolerance, is significant and urgent. Keywords: tolerance, pilot project. Pancasila village, society PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu negara besar di dunia. Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke setara dengan panjangnya benua Eropa, dari Portugal sampai Rusia. Wilayah yang luas ini dihuni oleh penduduk yang sangat heterogen. Multikultur bangsa Indonesia menumbuhkan budaya yang beraneka ragam yang menjadi khazanah bangsa Indonesia. Dari sisi sosial budaya. Indonesia dianugerahi Tuhan dengan banyaknya budaya dan kearifan lokal yang mewarnai kehidupan masyarakat. Sikap saling memahami dan menghargai sesama bangsa sangat Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Kerukunan dan toleransi dapat dikembangkan karena sarana dan prasarana yang mendukung seperti keberadaan tempat-tempat ibadah yang aman dan nyaman, tidak saling Namun demikian ternyata masih terjadi benturan-benturan antara warga Salah satu faktor penyebab adalah karakter yang masih rendah. Lemahnya karakter seseorang dapat menyebabkan permasalahan bangsa (Suardi dkk. , 2. Karakter dan budaya bangsa sangat urgen dibutuhkan bagi kelangsungan hidup bangsa. Rahman . Pendidikan karakter merupakan sarana utama bagi bangsa dalam menapaki perjalanan ke depannya. Nilai-nilai Pancasila, sarat dengan pendidikan karakter dan toleransi (Hermawati, dkk. , 2. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial secara holistik mengandung nilai-nilai karakter yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia dalam pengembangan karakter dan toleransi melalui pencanangan Desa Pancasila. Gambar 1. Pencanangan Pilot Project Desa Pancasila Tingkat Nasional Nilai-nilai Pancasila seyogyanya bukan hanya untuk dihafal dan dipahami, namun yang lebih utama adalah diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air Indonesia. Pengamalan nilai-nilai Pancasila, salah satunya berdampak kepada peningkatan ketahanan Dari perjalanan kehidupan bangsa Indonesia, ketahanan nasional mengalami pasang dan surut. Banyak faktor yang mempengaruhi pasang surutnya ketahanan nasional. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan nasional adalah arus globalisasi dan perkembangan Globalisasi dan perkembangan zaman, bisa berdampak positif dan juga negatif bagi ketahanan nasional. Salah satu upaya dapat dilakukan untuk lebih memantapkan ketahanan nasional adalah dengan memantapkan ideologi Pancasila. Pemberdayaan Desa Pancasila adalah salah satu upaya penting pemantapan ideologi Pancasila sekaligus peningkatan penghayatan dan pengamalan Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, menghayati dan mengamalkan Pancasila adalah sangat urgen. Role model ini berupaya menawarkan tentang penguatan toleransi dengan strategi pengamalan Pancasila melalui pencanangan Desa Pancasila. Agar pembahasan lebih terarah dan berjalan sesuai rel, maka perlu dirumuskan masalah. Tiga permasalahan yang akan dicari solusi pemecahannya, yakni . bagaimana model penerapan pilot project Desa Pancasila dalam mengembangkan toleransi masyarakat? . mengapa pencanangan Desa Pancasila era saat ini tepat dilakukan? dan . seberapa besar partisipasi masyarakat dalam menyukseskan program-program Desa Pancasila dalam upaya menumbuhkembangkan toleransi masyarakat? Urgensi dan rasionalisasi kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut. Era globalisasi membawa pengaruh baik positif maupun negatif (Gumbira dan Wiwoho, 2. Masyarakat yang tadinya rukun, bersatu, dan senantiasa kompak, terusik dengan arus Masyarakat yang tadinya hidup bertoleransi, karena era globalisasi mulai luntur dan kurang bertoleransi. Dari fakta-fakta ini, maka alternatif pemberdayaan Desa Pancasila menghidupkan kembali sebuah tatanan yang sebelumnya sudah mapan dan baik dengan menghidupkan kembali sesuatu yang telah baik. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Tim abdimas menghubungi Kepala Desa Ngemplak. Ibu Tri Maryani dan Sekretaris Desa Bapak Sugiyanto untuk melakukan koordinasi, merealisasikan terwujudnya Desa Ngemplak sebagai Desa Pancasila Tingkat Nasional dengan peran yang lebih nyata. Koordinasi yang dilakukan tim abdimas menunjukkan bahwa program-program ini sudah mendapatkan persetujuan mitra sasaran yang diperkuat dengan munculnya surat kesediaan mitra sasaran. Kegiatan abdimas ini diharapkan memberi dampak positif baik bagi masyarakat maupun Dengan pencanangan Desa Pancasila, pengamalan nilai-nilai Pancasila lebih sistematis, operasional, dan holistik. Masyarakat Desa Ngemplak lebih menyadari betapa pentingnya eksistensi Pancasila bagi bangsa Indonesia. Kegiatan kolaborasi antara Universitas Gajah Mada. Universitas Widya Dharma Klaten, dan Desa Ngemplak dalam pencanangan Desa Pancasila sangat efektif untuk direalisasikan. Gambar 2. Salam Pancasila. Koordinasi Tim Abdimas (Unwidha Klate. dengan Prof. Suratman (UGM). Perangkat Desa, dan Mahasiswa Dari uraian di atas, ada tiga kajian yang akan dicari solusi terbaik dalam penyelesaiannya yakni sebagai berikut. Pertama, menemukan model penerapan pemberdayaan warga masyarakat Desa Ngemplak sebagai pilot project Desa Pancasila dalam menumbuhkembangkan toleransi. Kedua, menemukan alasan sehingga pencanangan Desa Ngemplak. Kecamatan Kalikotes. Kabupaten Klaten, sebagai Desa Pancasila tepat dilakukan. Ketiga, mengetahui partisipasi masyarakat dalam menyukseskan program-program nyata Desa Pancasila dalam upaya menumbuhkembangkan toleransi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berkontribusi dalam menemukan strategi menumbuhkan masyarakat dalam mengembangkan toleransi. Pengabdian kepada masyarakat ini juga mampu menemukan alasan-alasan sehingga pencanangan sebuah desa menjadi desa Pancasila adalah sebuah keniscayaan. Kehidupan masyarakat yang dahulunya sayuk rukun, saling menghargai, saling membantu dapat ditumbuhkembangkan lagi dengan kehadiran desa Pancasila. Dengan pencanangan dan kehadiran desa Pancasila akan diketahui seberapa besar partisipasi masyarakat khususnya dalam kehidupan bertoleransi terhadap sesama. TINJAUAN PUSTAKA Ngemplak adalah nama salah satu desa di Kabupaten Klaten. Desa ini tidak jauh dari Rowo Jombor yang merupakan tempat wisata yang dikunjungi para wisatawan. Dari arah kota Klaten, untuk Rowo Jombor belok kanan ke arah timur dan Desa Ngemplak lurus ke utara. Sejak digunakan untuk pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang bekerja sama dengan Universitas Widya Dharma Klaten, desa ini dinyatakan sebagai Pilot Project Desa Pancasila Tingkat Nasional. Salah satu pertimbangan pencanangan desa Pancasila tingkat nasional ini adalah semakin lunturnya masyarakat dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan Pancasila. Sebelumnya masyarakat Desa Ngemplak dikenal sebagai masyarakat yang berkarakter dan penuh toleransi. Perkembangan iptek bisa berdampak positif dan negatif. Kolaborasi Universitas Gajah Mada dan Universitas Widya Dharma Klaten berupaya memprakarsai Desa Ngemplak dijadikan pilot project sebagai Desa Pancasila Tingkat Nasional Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 dengan harapan dapat mengembalikan dan memajukan desa tersebut. Desa Ngemplak yang dahulunya sangat kondusif, dengan arus globalisasi muncul pula dampak negatif tentang lemahnya karakter dan kurang harmonisnya toleransi. Lemahnya karakter dapat menyebabkan terjadinya deviant behaviours atau penyimpangan tingkah laku dan inferiority complex atau rendahnya derajad (Warsito. Wiryawan. Mulyoto. Asrowi, dan Nurrahmah, 2. Kurang dipeliharanya kerukunan dan toleransi bisa menyebabkan timbulnya gesekangesekan antar warga yang dapat melemahkan masyarakat itu sendiri. Ada istilah yang menyatakan rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Istilah ini sepertinya tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya kerukunan dan toleransi (Hasibuan dan Sulistyono, 2. Toleransi yang kurang dijaga dengan baik, bisa menyebabkan ketegangan antar warga, memunculkan sikap kurang menghargai antar sesama, tumbuh sikap dan perasaan paling hebat, dan bisa menyebabkan dis-integrasi bangsa. Dis-integrasi bangsa ini sangat rentan muncul karena bangsa Indonesia bersifat multikultur dan heterogen. Rahman dkk. , . , menyatakan bahwa bangsa Indonesia memiliki beragam budaya, suku, agama, dan lain-lain, sehingga dibutuhkan toleransi yang bagus. Nuryadi, dkk . menyatakan bahwa keberagaman sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak dulu kala. Kekayaan alam dan suku bangsa di Indonesia merupakan bonus yang pada saatnya sangat bermanfaat. Warsito dan Asrowi . membedakan multikultur bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang tidak seberagam bangsa Indonesia. Warsito dan Asrowi . menyatakan bahwa Jawa Tengah adalah sebuah wilayah yang dihuni penduduk yang beraneka ragam. Keberagaman membutuhkan sarana sebagai media untuk Pancasila dalam hal ini memiliki peran yang urgen dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan serta mengembangkann toleransi. Dari awal disahkan sebagai dasar negara sejak tanggal 18 Agustus 1945. Pancasila berperan penting dalam mempersatukan seluruh unsur, golongan, paham, dan lain-lain sehingga lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana tersurat dalam pita yang dicengkeram burung Garuda menguatkan bangsa Indonesia untuk senantiasa bersatu meskipun berangkat dari yang berbeda-beda (Shofiah F. , 2. Di era sekarang ini, keberadaan Desa Pancasila sangat diperlukan. Derasnya pengaruh globalisasi terutama yang memberi pengaruh negatif harus diantisipasi atau ditangkal. Keberadaan Desa Pancasila merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi dan menangkal masuknya budaya dan pengaruh negatif khususnya dari luar. Salah satu upaya menangkal pengaruh negatif globalisasi, sangat diperlukan pengamalan Pancasila secara murni dan Pencanangan Desa Ngemplak sebagai Desa Pancasila merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila. Belum lama ini. Desa Ngemplak mengadakan Festival di lapangan desa pada tanggal 11 Agustus 2024. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam Festival Pancasila tersebut adalah senam bersama, lomba catur, lomba fashion show, lomba menyusun puzzle, bazar UMKM, lomba cerdas cermat, dan lomba menghafal teks Pancasila. Festival Pancasila (Gambar . yang terselenggara pada tanggal 11 Agustus 2024 banyak memberi dampak positif dalam pengembangan karakter dan memupuk toleransi. Kegiatan senam bersama, bazar UMKM, loba cerdas cermat dibutuhkan kerja sama yang baik. Karakter gotong royong dalam festival Pancasila ini sangat kondusif untuk dapat direalisasikan. Agar ada persepsi yang sama, kita kembali lagi pada konsepsi karakter sehingga memudahkan dalam Karakter adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan budi pekerti luhur (Warsito, dkk. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Fakry Gaffar dalam Warsito, dkk . , mengemukakan bahwa karakter adalah transformasi nilai yang mengalami proses, guna menumbuhkembangkan kepribadian seseorang dan menjadi perilaku keseharian. Dalam definisi ini ada tiga hal penting yakni transformasi nilai, dikembangkan dalam kepribadian, dan mengendap dalam perilaku. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Gambar 3. Program Kegiatan Festival Pancasila Desa Ngemplak Dharma Kesuma dkk. dalam Warsito, dkk . , dalam seting persekolahan, bahwa pendidikan karakter adalah Aupembelajaran yang mengarah pada penguasaan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Ay Dalam konsep karakter ini sangat relevan dan mendukung tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Karakter kejujuran dan kerja keras merupakan aspek yang ingin dikembangkan dalam pendidikan nasional. Mencermati fungsi pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa seharusnya memberikan pencerahan yang memadai bahwa pendidikan harus berdampak pada watak manusia atau bangsa Indonesia. Fungsi ini amat berat untuk dipikul oleh pendidikan nasional, terutama apabila dikaitkan dengan siapa yang bertanggung jawab untuk keberlangsungan fungsi ini. Awwaliyah dan Baharun . menyatakan bahwa pendidikan nasional mengemban peran penting dalam membentuk watak anak, termasuk di dalamnya pendidikan Islam. Mengembangkan kemampuan dapat dipahami bahwa pendidikan nasional menganut aliran konstruktivisme, yang mempercayai bahwa peserta didik adalah manusia yang potensial dan dapat dikembangkan secara optimal melalui proses pendidikan. Setiap layanan pendidikan yang ada di Indonesia harus dipersepsi secara sama bahwa peserta didik itu memiliki potensi yang luar biasa dan perlu difasilitasi melalui proses pendidikan untuk mengembangkan potensinya. Pendidikan nasional adalah membentuk watak, mengandung makna bahwa pendidikan nasional harus diarahkan pada pembentukan watak. Pendidikan yang berorientasi pada watak peserta didik merupakan suatu hal yang tepat, tetapi perlu diperjelas mengenai istilah perlakuan terhadap Aywatak. Ay Benarkah watak harus AudikembangkanAy. AudibentukAy maupun Audifasilitasi?Ay Dalam pembangunan dibutuhkan karakter dan kejujuran kerja keras. Kedua karakter ini diperoleh dari implementasi sila kesatu dan kelima Pancasila. AuBangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter . haracter buildin. , inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya, serta di bangsa kuli. Ay Karakter bangsa yang salah satunya sikap hidup bertoleransi penting untuk dipupuk dan dikembangkan. Pengembangan Desa Pancasila merupakan salah satu strategi mengembangkan kehidupan bertoleransi. Berdasarkan pemikiran di atas, maka merealisasikan Desa Pancasila menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan kehidupan bertoleransi. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam penerapan pemberdayaan Desa Pancasila dalam mengembangkan toleransi memerlukan beberapa tahapan yang pelaksanaannya melibatkan mitra dan mahasiswa. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut. Perencanaan desain dan sosialisasi sebagai tahap pertama yang berupa identifikasi kebutuhan masyarakat dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait upaya pengembangan rencana yang berupaya menjawab kebutuhan tersebut. Persiapan pengabdian masyarakat sebagai tahap kedua dengan melakukan kegiatan yang melibatkan perancangan dan perencanaan kegiatan pengabdian masyarakat, termasuk mengidentifikasi sumber daya masyarakat, merekrut sukarelawan, dan menentukan waktu Implementasi kegiatan masyarakat sebagai tahap ketiga meliputi kegiatan melaksanakan pengabdian masyarakat terhadap rencana yang telah ditentukan pada tahapan awal. Tahapan implementasi kegiatan melibatkan peran para sukarelawan, pengelolaan sumber daya, dan memastikan bahwa layanan disampaikan secara efektif dan efisien. Kegiatan penting dalam tahapan ini adalah penyampaian pelatihan. Pada tahapan ketiga ini peran mahasiswa dan mitra sangat diperlukan. Para mahasiswa membantu pengumpulan data, mengikuti kegiatan Focus Group Disscussion (FGD), memberi masukan saat FGD, dan Mitra dari kepala desa membantu mengkoordinasikan warganya dalam kegiatan pelatihan. FGD, penyuluhan atau sosialisasi dan sebagainya. Gambar 4. Kegiatan Focus Group Discussion Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui metode tahapan pelaksanaan yang sistematis, runtut, dan operasional. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui urut-urutan sebagai upaya mengatasi problema mitra. Tahapan-tahapan tersebut adalah . Sosialisasi, yakni mensosialisasikan kepada masyarakat perihal desa Pancasila tingkat nasional, peran, program-program, dan sebagainya. Pelatihan, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan terkait realisasi program-program desa Pancasila. Penerapan teknologi, pembangunan fisik terkait realisasi desa Pancasila, misalnya pembuatan papan Desa Pancasila, pembuatan Tugu Garuda, penamaan beberapa nama jalan di desa yang berhubungan dengan desa Pancasila misalnya jalan demokrasi, jalan persatuan, jalan keadilan, dan sebagainya. Pendampingan dan evaluasi, mengundang pakar di bidang penerapan desa Pancasila untuk melakukan pendampingan dan evaluasi. Keberlanjutan program, membentuk tim-tim di desa Pancasila untuk bersedia melanjutkan realisasi program yang belum Berbagai strategi pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini. Strategi-strategi tersebut antara lain teknik observasi atau pengamatan, wawancara mendalam . ndepth interviewin. , dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati segala aktivitas masyarakat terkait dengan pengembangan Desa Pancasila, misalnya bagaimana mereka bergaul, berkomunikasi, bertutur sapa, dan sebagainya. Wawancara dilakukan dengan informan yakni perangkat Desa Ngemplak, tokoh masyarakat, dan sebagainya. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif (Miles. Huberman. Saldana, 2. dalam Warsito dan Asrowi . Teknik ini meliputi tiga langkah yakni reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah kegiatan memilah-milih data yang ada. Data yang mendukung digunakan dan yang tidak mendukung dibuang. Penyajian data adalah menampilkan data-data yang telah direduksi untuk disajikan. Tahapan terakhir dari analisis data adalah penarikan kesimpulan. Triangulasi adalah pengecekan data. Langkah ini dilakukan dalam upaya memenuhi keabsahan data. Triangulasi penelitian ini menggunakan dua cara yakni triangulasi sumber atau data serta metode. Triangulasi sumber adalah upaya menguji keabsahan data dari sumber yang berbeda, misal data dari perangkat desa dicek dengan data dari tokoh masyarakat, dan Data dari tokoh masyarakat dicek dari pemuka agama. Triangulasi metode dilakukan dengan cara menggunakan berbagai macam metode pengumpulan data yakni dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Data hasil observasi dapat dilakukan pengecekan ulang dengan menggunakan wawancara mendalam. Data hasil dari wawancara dapat dicek dengan menggunakan dokumentasi dan seterusnya. Dengan cara seperti ini maka data-data yang diperoleh dari penelitian akan terjamin keabsahannya atau Mitra dalam kegiatan ini adalah masyarakat dan Pemerintah Desa Ngemplak. Pemerintah Desa Ngemplak berperan dalam mengorganisasikan masyarakat yang akan mengikuti kegiatan FGD dan pelatihan-pelatihan terkait dengan program merealisasi terwujudnya Desa Pancasila. Ini melibatkan identifikasi individu atau kelompok yang tertarik untuk mengembangkan bakat mereka dalam berbagai bentuk seni, seperti tari, karawitan, dan mengundang masyarakat untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Tugas kedua adalah menyediakan tempat pelatihan dan pentas seni. Tugas ketiga adalah sosialisasi ke masyarakat terkait kegiatan PKM. Untuk memastikan bahwa program pelatihan dapat diakses oleh khalayak luas, sosialisasi kepada masyarakat juga diperlukan. Ini melibatkan secara aktif mempromosikan program ke berbagai kelompok dan individu dalam masyarakat, seperti sekolah, pusat komunitas, dan organisasi budaya lokal lainnya. Terakhir, adalah komunikasi dengan kantor desa terkait dengan administrasi dan perizinan kegiatan. Ini melibatkan perolehan persetujuan administrasi dan perizinan yang diperlukan dari pemerintah daerah untuk memastikan bahwa program dapat dilakukan dengan lancar dan tanpa masalah hukum. Pelaksanaan pengabdian ini disajikan dalam bagan sebagai berikut. Bagan 1. Bagan Sistematis Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Untuk lebih jelasnya, gambaran IPTEK disajikan dengan skema sebagai berikut. Bagan 2. Skematis Gambaran IPTEK Kegiatan Pengabdian Masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki keberagaman dalam suku, agama, ras, dan Meskipun hidup dalam kebinekaan, bangsa Indonesia senantiasa rukun dan penuh Salah satu motivasi yang mendasari kerukunan hidup adalah perasaan senasib dan Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa (Zainuri, 2. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ideologi merupakan hal penting. Ideologi digali dari lingkungan hidup sendiri. Ideologi pada prinsipnya memuat cita-cita bangsa (Armawi, 2. Ideologi sangat mempengaruhi kuat lemahnya ketahanan nasional. Idiologi berimplikasi bagi ketahanan nasional (Damanhuri, dkk, 2. Nilai ketuhanan masyarakat Desa Ngemplak sangat baik. Masyarakat dalam menganut agama, berjalan baik dan harmonis. Meskipun agama yang dianut berbeda, masyarakat saling Agama selain Islam yang dipeluk oleh warga masyarakat Desa Ngemplak yang tergolong minoritas, sedangkan agama Islam dipeluk warga masyarakat mayoritas. Kehidupan bertoleransi berjalan sangat baik bagi warga desa Ngemplak. Moderasi beragama senantiasa dihargai (Shihab, 2. Pada dasarnya, memeluk suatu agama adalah hak setiap warga negara. Moderasi penting dilakukan karena bangsa Indonesia bangsa yang beragam. Melalui pendekatan sosio religius, moderasi beragama perlu diimplementasikan (Sutrisno, 2. Dalam pelaksanaan moderasi beragama, peran guru amat penting terutama dalam penerapan visi dan misi (Prihatin, 2. , ketidaksetujuan . gree in disagreemen. (AR, 2. Bentuk-bentuk konten yang mampu mengarahkan kehidupan toleransi perlu diberikan kesempatan yang selonggar-longgarnya. Faktor konten amat penting, khususnya konten-konten yang mendukung pengembangan karakter dan toleransi. Pembelajaran dengan konten yang tepat untuk siswa, akan menjadikan anak senang dan termotivasi untuk belajar. Husna dan Thohir . , menyatakan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif menjadikan sekolah lebih diminati siswa. Dalam masyarakat Desa Pancasila, kebiasaan beribadah sangat Ibadah dan menuntut ilmu berjalan seiring seirama. Konsepsi kemanusiaan terkait erat dengan ketuhanan. Manusia sebagai makhluk adalah ciptaan Tuhan sebagai Khaliq. Manusia harus menghambakan dirinya kepada Tuhan. Keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan sangat dianjurkan dalam agama (Haidar, 2. Masyarakat Desa Pancasila, diajarkan bagaimana pola hidup berketuhanan menurut dasar Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Toleransi berkehidupan dikembangkan dengan baik. Sikap hidup saling menghormati dan menyayangi sesama diberikan iklim yang seluas-luasnya. Mengembangkan sikap tenggang rasa terhadap sesama wajib dipahami dan diamalkan. Terkait dengan pengamalan sila persatuan, masyarakat Desa Pancasila memiliki ikatan emosional yang kuat sebagai bangsa Indonesia, meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Nasionalisme dan patriotisme adalah sikap bela negara yang senantiasa diajarkan. Sikap hidup yang senantiasa mementingkan kepentingan bersama atau umum diutamakan daripada kepentingan individu. Hal ini dilakukan para warga di Desa Pancasila demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kegiatan gotong-royong senantiasa terjadwal demi menjaga kerukunan masyarakat dan kekompakan warga. Kegiatan yang sifatnya refreshing dan hiburan demi kebersamaan warga secara rutin dilaksanakan di Desa Pancasila, misalnya wisata bersama, kegiatan sepeda santai, dan sebagainya. Pengamalan sila keempat Pancasila sudah berjalan jauh-jauh hari sebelumnya. Rembug desa menjadi agenda rutin dalam memecahkan persoalan atau permasalahan di Desa Pancasila. Penyelesaian permasalahan senantiasa dilakukan dengan muisyawarah untuk mufakat. Dalam mengambil keputusan dilakukan musyawarah didasari hikmat kebijaksanaan dalam Masyarakat Desa Pancasila senantiasa menghindari perdebatan yang memang tidak perlu. Prinsip demokrasi diajarkan dan dibiasakan dalam masyarakat Desa Pancasila. Meskipun masyarakatnya majemuk atau beragam, dalam masyarakat Desa Pancasila dihindari perdebatan-perdebatan yang memunculkan konflik dan memang dianghgap tidak Pengamalan sila keadilan dalam kehidupan masyarakat desa Pancasila senantiasa berjalan dengan baik. Dalam kegiatan FGD, masyarakat mendapatkan penjelasan perihal jiwa adil dan Masyarakat mendapatkan pemahaman bagaimana menerapkan keadilan sosial secara proporsional. Masyarakat saling memberikan pertolongan, dari yang merasa lebih mampu kepada yang lebih membutuhkan. Terkadang setiap masyarakat yang merasa masih mampu, jika mendapat bantuan dari pemerintah atau pihak luar, akan diberikan kepada tetangganya yang lebih membutuhkan. Warga memandang bahwa hidup harus saling menolong. Sikap menolong sesama menjadi kebiasaan yang berjalan baik bagi masyarakat Desa Pancasila. Kebiasaan menolong ini bentuk pengamalan yang terkandung dalam sila kelima Pancasila. Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat perihal Desa Pancasila adalah pemberian nama-nama jalan di desa, khususnya Ngemplak. Nama-nama jalan diambilkan dari nama-nama yang seirama dengan pengamalan Pancasila misalnya Jalan Musyawarah. Jalan Kesejahteraan. Jalan Garuda. Jalan Demokrasi, dan sebagainya. Nama-nama jalan tersebut diputuskan bersama dan dibuatkan papan-papan yang selanjutnya dipasang sesuai yang diputuskan. Gambar di bawah ini adalah nama-nama jalan di papan yang siap dipasang di tempat-tempat yang telah disepakati bersama. Gambar 5. Papanisasi Penamaan Jalan di Desa Ngemplak. Kecamatan Kalikotes. Kabupaten Klaten (Jalan Demokrasi. Jalan Kesejahteraan. Jalan Proklamasi, dan sebagainy. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Masyarakat Desa Pancasila senantiasa menjaga kerukunan hidup dan keberlangsungan Sikap hidup rukun dan saling menghargai merupakan sarana untuk bisa hidup bersama dengan baik (Shofa, 2. Masyarakat Desa Pancasila senantiasa menghargai paugeran atau aturan-aturan yang ada di lingkungannya. Keberadaan norma-norma yang senantiasa dijunjung seperti norma agama, norma hukum, norma kesusilaan, dan norma kesopanan semuanya mengarahkan warga untuk bisa hidup dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dalam hal pengembangan karakter, keempat norma yang ada tersebut sangat besar peranannya. Masyarakat Desa Pancasila senantiasa menjaga diri dan keluarganya dari hal-hal negatif yang tidak sesuai dengan pengembangan karakter. Secara umum, manusia memiliki sifat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam lingkungan sosial (Widiatmaka, dkk. , 2. Toleransi dalam kehidupan masyarakat perlu dipupuk dan dikembangkan. Dengan adanya toleransi, maka hidup rukun dan saling menghargai akan tumbuh dan berkembang. Toleransi perlu dikembangkan karena pada dasarnya tidak ada manusia yang memiliki kesamaan secara penuh. Toleransi perlu ditumbuhkan karena adanya perbedaan, misal perbedaan suku, agama, ras, golongan, dan sebagainya. Perbedaan tingkat sosial ekonomi jika tidak didasari sikap toleransi akan menimbulkan gejolak dan konflik-konflik. Pengembangan Desa Ngemplak sebagai pilot project Desa Pancasila salah satunya adalah untuk mengembangkan toleransi masyarakat. Menurut Anang dan Zuhroh . , toleransi merupakan sikap dan perilaku menghargai, menghormati, dan memberi kesempatan kepada sesama memegang prinsip, pandangan, dan Antar umat beragama dibutuhkan toleransi yang memerlukan sarana edukasi demi kemaslahatan bersama. Dengan toleransi maka akan tercipta ketenangan, kedamaian, dan keharmonisan hidup. Dalam tataran nasional, toleransi berperan dalam menciptakan kerukunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan pencanangan Desa Ngemplak sebagai pilot project Desa Pancasila Tingkat Nasional memberi dampak positif dalam menumbuhkembangkan toleransi masyarakat. Hasil wawancara dengan ibu Tri Maryani. Kepala Desa Ngemplak menunjukkan bahwa pola perilaku masyarakat yang toleran tercermin dalam beberapa hal yakni: . tidak melakukan debat-debat tentang agama dalam komunikasi sehari-hari. gotong royong dalam membangun tempat ibadah. tidak menonjolkan penggunaan atribut agama saat hajatan atau kegiatan keagamaan lain yang tidak perlu. kerukunan dalam lingkup keluarga yang berbeda agama. sikap menghargai atas berlangsungnya peringatan hari besar maupun acara kebudayaan antar agama. Masyarakat secara sosiologis merupakan komponen penting terbentuknya Desa Pancasila. Pola perilaku masyarakat umumnya menjadi cerminan keberlangsungan kehidupan suatu Desa (Smeer. , & Rosyidah. , 2. Praktik toleransi yang berlangsung di Desa Ngemplak Kecamatan Kalikotes Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah kiranya dapat dijadikan role model atas keberagaman masyarakat. Desa tersebut memiliki keberagaman etnis dan juga agama, namun keberagaman tersebut tidak menghalangi untuk bekerja sama atau gotong-royong dan tolong-menolong antar sesama, meskipun memiliki perbedaan agama dan etnis. Selain itu, tidak pernah terjadi konflik antar umat beragama atau antar perbedaan di desa tersebut. Kepala Desa Ngemplak juga menyatakan bahwa Desa Pancasila didirikan atas dasar kerukunan antar umat beragama, saling bergotong-royong dan saling menolong, sehingga tidak pernah terjadi konflik perihal adanya perbedaan di desa. Saling menghormati antar pemeluk agama atau mengedepankan toleransi menjadi kunci utama terjalinya keharmonisan di desa tersebut. Fenomena tersebut sejalan dengan konsep toleransi, di mana kunci utama di dalam masyarakat yang majemuk adalah mengedepankan sikap toleransi. Pancasila adalah suatu nilai yang digunakan oleh masyarakat Indonesia di dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila senantiasa diamalkan bangsa Indonesia, sebelum Indonesia menjadi negara yang merdeka dan diyakini masyarakat Indonesia mampu mempersatukan bangsa (Widiatmaka dan Purwoko. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 Adha dan Susanto . mengemukakan perihal implementasi nilai-nilai Pancasila yang juga merupakan suatu bentuk mengantisipasi perpecahan antar perbedaan atau disintegrasi Nilai religius, humanis, nasionalisme, demokratis, dan keadilan adalah lima nilai yang harus dibumikan oleh setiap masyarakat Indonesia. Keberagaman di Indonesia merupakan keniscayaan yang harus dirawat dengan mengimplementasikan nilai-nilai atau karakter Pancasila yang mengedepankan sikap toleransi (Al Fariz, 2. Indonesia memiliki ciri khas atau ide sikap toleransi. Toleransi menjadi kunci utama di Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini mengingat masyarakat Indonesia sangat majemuk sehingga keharmonisan kehidupan di Indonesia perlu dijaga dan dirawat dengan baik. Sikap toleransi merupakan sikap yang mengedepankan rasa hormat dan menghargai, meskipun memiliki perbedaan latar belakang (Supriyanto dan Wahyudi, 2. Kerukunan antar suku dengan mengedepankan sikap toleransi juga terlihat di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. DKI Jakarta. Jawa Timur. Jawa Barat. Maluku, dan sebagainya (Muslim, 2. Beberapa daerah di Jawa memiliki sebutan sebagai desa Pancasila sehingga desa tersebut harus mampu mengimplementasikan sikap toleransi dengan maksimal dan juga menjadi role model terkait praktik kehidupan toleransi untuk daerah lainnya (Rukmana. Samsuri, dan Wahidin, 2. Apabila hal tersebut dapat dilakukan dengan maksimal, maka kerukunan antar umat beragama dan antar suku dapat terjalin dengan baik dan akan berimplikasi pada ketahanan ideologi yang tangguh (Wajihuddin, 2. Melalui teknis analisis data interaktif, maka dapat menghasilkan kesimpulan berdasarkan data-data yang diperoleh dari lapangan (Miles & Huberman, 2. Beberapa fenomena yang memprihatinkan dan menimpa bangsa Indonesia dijabarkan sebagai berikut. Fenomena pertama adalah rusaknya moral bangsa dan sudah menjadi akut . orupsi, asusila, kejahatan, tindakan krimina. Wadi dan Hendri . menyatakan bahwa rusaknya moral bangsa dimungkinkan dari pendidikan nasional yang belum menjalankan fungsinya dengan baik. Kedua, bencana yang sering dan terus berulang dialami bangsa Indonesia. Ketiga, kemiskinan yang mencapai 40 juta dan terus bertambah. Keempat, daya kompetitif yang rendah sehingga banyak produk dalam negeri dan SDM yang tergantikan oleh produk dan SDM yang tergantikan dari luar negeri. Ketujuh, in-efisiensi pembiayaan Dari berbagai permasalahan dan kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, maka di sinilah letak pentingnya pencanangan Desa Pancasila. PKn atau Civic Education sebagai salah satu program pendidikan karakter, melakukan pembelajaran yang secara programatikprosedural berupaya memanusiakan . dan membudayakan . serta memberdayakan . manusia/ anak didik . iri dan kehidupanny. menjadi warga negara yang baik sebagaimana tuntutan keharusan/ yuridis konstitusional bangsa/ negara Indonesia. Untuk lebih jelasnya, rangkaian program pengabdian kepada masyarakat ditampilkan dalam bagan di bawah ini. Bagan 3. Program. Tujuan, dan Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 KESIMPULAN DAN SARAN Pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi bukan hanya berdampak positif, namun juga negatif. Deviant behaviours dan inferiority complex adalah contoh dampak negatif globalisasi yang melemahkan karakter dan toleransi masyarakat. Lemahnya karakter dan toleransi dapat menyebabkan terjadinya deviant behaviours atau penyimpangan tingkah laku dan inferiority complex atau rendahnya derajat. Selain itu globalisasi juga bisa menyebabkan melunturnya toleransi. Toleransi yang kurang dijaga dengan baik, bisa menyebabkan ketegangan antar warga, memunculkan sikap kurang menghargai antar sesama, tumbuh sikap dan perasaan paling hebat, dan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat urgensi Desa Pancasila yang didanai oleh Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi menyimpulkan pertama, model penerapan pemberdayaan warga masyarakat Desa Ngemplak sebagai pilot project Desa Pancasila dilakukan dengan kegiatan fisik dan non fisik. Kegiatan fisik berupa pemasangan papan nama jalan, pemasangan lambang negara di setiap rumah dan tempat-tempat yang sesuai, pemasangan nama lapangan Desa Ngemplak dengan sebutan Lapangan Desa Pancasila. Kegiatan non fisik misalnya Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, penyuluhan, dan sebagainya. Kedua, alasan pencanangan Desa Ngemplak. Kalikotes. Klaten. Jawa Tengah sebagai Desa Pancasila saat ini tepat dilakukan karena deviant behaviours atau penyimpangan tingkah laku dan inferiority complex atau rendahnya derajad sebagai akibat globalisasi. Ketiga, partisipasi masyarakat dalam menyukseskan programprogram nyata Desa Pancasila dalam upaya menumbuhkembangkan karakter dan toleransi masyarakat adalah sangat tinggi dan urgen dalam harmonisasi kehidupan masyarakat serta dalam skala yang lebih besar adalah kehidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa saran yang dapat diberikan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai Kepada masyarakat hendaknya ikut aktif dalam menyukseskan program-program kegiatan desa Pancasila baik berupa kegiatan fisik maupun non fisik. Kepada pemerintah desa khususnya perangkat desa hendaklah bersikap ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Arus globalisasi ternyata bukan hanya berdampak positif, namun juga negatif. Terhadap hal ini maka setiap masyarakat hendaklah lebih berhati-hati dalam menyikapi globalisasi yang saat ini berjalan sangat kencang dan deras. Ambillah sisi-sisi positif dan buanglah hal-hal yang negatif. Kepada perangkat desa hendaklah dapat memberikan contoh dalam menyikapi derasnya arus Semakin lunturnya karakter toleransi menjadikan kita harus senantiasa mawas diri untuk mengembalikan sifat-sifat positif bangsa Indonesia yakni sayuk rukun, saling menghargai, saling menghormati untuk bisa digali dan dikembangkan. Perangkat desa seyogyanya mampu memberikan teladan-teladan terkait kehidupan bertoleransi. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM). Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains, dan Teknologi Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi sangat berarti berupa pendanaan pengabdian kepada masyarakat Skema Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) bidang Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) sehingga pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di Desa Ngemplak. Kecamatan Kalikotes. Kabupaten Klaten. Provinsi Jawa Tengah berjalan dengan lancar. Warsito. Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini, et al/WIDHARMA Vol 04 No 02 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA