Hamdan Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi Dalam Perspektif Sosiologi Dakwah Author Name: . Hamdan Institut Agama Islam Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah. Indonesia Corresponding Author: hamdanwildany45@gmail. ARTICLE HISTORY Received: 19 Maret 2025 Revised: 20 May 2025 Accepted: 29 Jun 2025 HOW TO CITE THIS ARTICLE (APA) Hamdan. Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi Dalam Perspektif Sosiologi Dakwah Mudabbir : Jurnal Manajemen Dakwah, 6 . , 21Ae32. https://doi. org/10. 20414/mudabbir. The readers can link to article via https://doi. org/10. 20414/mudabbir. SCROOL DOWN TO READ THIS LICENCES Abstract: Globalization, as a worldwide phenomenon, has significantly impacted various aspects of life, including Islamic religious education. Transformation in Islamic Education is inevitable in the face of complex and challenging global currents. In this context, the sociology of da'wah serves as an analytical approach that explains social changes and relevant da'wah strategies. This study aims to examine the forms of transformation in Islamic Education and how the perspective of sociology of da'wah can address these challenges. The method used is a qualitative literature review. The results indicate that transformation occurs in curriculum, teaching methods, da'wah media, and educational The sociology of da'wah provides a theoretical foundation to understand the interaction between religious education and global social dynamics. Thus, the transformation of Islamic Education is not only an adaptation but also a da'wah strategy to preserve Islamic values in an era of change. Keywords: Islamic Education. Globalization Transformation. Sosiology of DaAowah Pendahuluan Fenomena globalisasi telah menciptakan keterhubungan lintas negara dalam berbagai aspekkehidupan, termasuk Pendidikan yang terjadi akibat pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek budaya lainnya. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan teknologi, tetapi juga merambah ke dalam dunia pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam tidak bisa lagi dipahami secara konvensional, tetapi harus mampu menjawab berbagai tantangan zaman yang terus berkembang. Salah satu dampak nyata dari globalisasi adalah meningkatnya arus informasi, budaya populer global, serta pergeseran nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat, khususnya generasi JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi Hal ini menuntut adanya perubahan atau transformasi dalam sistem dan pendekatan Pendidikan Agama Islam agar tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian Islami. Transformasi Pendidikan Agama Islam menjadi sebuah keharusan dalam merespon tantangan-tantangan tersebut. Perubahan dalam kurikulum, metode pengajaran, dan penggunaan media digital merupakan bagian dari upaya menyesuaikan pendidikan dengan kondisi masyarakat yang semakin dinamis dan Transformasi ini juga tidak bisa dipisahkan dari tantangan internal seperti stagnasi metode pembelajaran, keterbatasan guru yang kompeten, serta rendahnya inovasi dalam pengembangan kurikulum yang kontekstual. Di sisi lain, tantangan eksternal seperti arus informasi global, dominasi budaya barat, dan krisis identitas generasi muda menuntut respons cepat dari lembaga pendidikan Islam1. Dalam perspektif sosiologi dakwah, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan bagian dari upaya membangun masyarakat beriman dan bertakwa di tengah gempuran nilai-nilai global yang cenderung sekuler. Dalam hal ini, perspektif sosiologi dakwah menjadi penting untuk dikaji, karena mampu melihat peran dakwah dalam membentuk struktur sosial serta adaptasinya terhadap perubahan sosial dan Sosiologi dakwah memandang dakwah sebagai proses sosial yang tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam, sebagai bagian dari instrumen dakwah, harus mampu menjawab kebutuhan zaman, terutama dalam menghadapi disrupsi nilai yang dibawa oleh globalisasi seperti sekularisme, individualisme, dan hedonisme2 Dalam konteks ini, transformasi Pendidikan Islam harus diarahkan tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik guna membentuk insan kamil yang berkarakter, kritis, dan berdaya saing global. Berdasarkan latar belakang tersebut, jurnal ini akan mengkaji bagaimana transformasi Pendidikan Agama Islam dilakukan dalam menghadapi tantangan globalisasi serta bagaimana perspektif sosiologi dakwah dapat memberikan kontribusi dalam memahami dan menjawab tantangan tersebut. Azyumardi Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru , (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1. , hlm. Burhanuddin Daya. Sosiologi Dakwah: Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Hamdan Kajian Teori Transformasi Pendidikan Agama Islam Transformasi dalam Pendidikan Agama Islam merujuk pada proses perubahan yang bersifat sistematis baik dalam aspek kurikulum, metode, maupun media pembelajaran. Perubahan ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor internal pendidikan, tetapi juga oleh dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang berkembang di masyarakat. Pendidikan Agama Islam kini tidak hanya berfokus pada penguasaan teks-teks keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter, pemikiran kritis, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global. Menurut Muhaimin, transformasi pendidikan Islam merupakan respon terhadap kompleksitas kehidupan modern yang menuntut sistem pendidikan yang lebih kontekstual dan responsif terhadap perubahan sosial. Kurikulum PAI harus mencakup aspek spiritual, intelektual, sosial, dan kultural Hal ini sejalan dengan pendapat Muhaimin yang menyatakan bahwa pendidikan Islam harus responsif terhadap perubahan sosial agar tidak tertinggal dalam proses transformasi zaman. yang mendukung terbentuknya manusia yang religius sekaligus mampu hidup dalam masyarakat global. Dalam pendekatan teoritis, teori fungsionalisme struktural melihat dakwah sebagai alat integrasi sosial yang membentuk keteraturan masyarakat4. Dakwah membantu memperkuat nilai kolektif dan norma sosial yang menjadi dasar harmoni Sementara itu, teori konflik menganggap dakwah sebagai alat perubahan sosial ketika struktur yang ada tidak lagi mewakili keadilan 5. Pendekatan ini membantu memahami peran dakwah dalam merespon ketimpangan sosial akibat Globalisasi dalam Konteks Pendidikan Globalisasi ditandai oleh keterbukaan informasi, mobilitas manusia, dan pertukaran budaya yang lintas batas negara. Dalam dunia pendidikan, globalisasi menghadirkan peluang dan tantangan sekaligus. Di satu sisi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan akses terhadap ilmu pengetahuan secara Namun di sisi lain, globalisasi juga membawa nilai-nilai sekuler, individualisme, dan konsumerisme yang dapat mengikis nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2. , hlm. Emile Durkheim. The Division of Labour in Society (New York: Free Press, 1. , hlm. Karl Marx. A Contribution to the Critique of Political Economy (New York: International Publishers, 1. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi Anthony Giddens menjelaskan bahwa globalisasi bukan hanya proses ekonomi, tetapi juga proses sosial yang menciptakan hubungan timbal balik lintas negara dalam bidang budaya, ideologi, dan informasi. Dalam konteks pendidikan agama, globalisasi menuntut adanya keseimbangan antara pelestarian nilainilai Islam dan keterbukaan terhadap perkembangan global. Anthony Giddens menggambarkan globalisasi sebagai proses intensifikasi hubungan sosial yang mendunia, yang mampu mempengaruhi cara hidup dan struktur masyarakat6. Sosiologi Dakwah Sosiologi dakwah merupakan kajian interdisipliner antara ilmu dakwah dan sosiologi, yang fokus pada bagaimana pesan-pesan dakwah disampaikan dan diterima dalam struktur sosial tertentu. Perspektif ini melihat dakwah tidak hanya sebagai aktivitas penyampaian ajaran agama, tetapi juga sebagai proses interaksi sosial yang melibatkan agen dakwah, pesan, media, dan masyarakat. Menurut M. Amin Abdullah, pendekatan sosiologi dalam studi dakwah mampu menjelaskan dinamika sosial, struktur masyarakat, serta tantangan yang nilai-nilai Sosiologi memberikan perhatian pada kondisi sosial masyarakat sebagai merumuskan strategi dakwah yang kontekstual dan efektif. Dalam pendekatan teoritis, teori fungsionalisme struktural melihat dakwah sebagai alat integrasi sosial yang membentuk keteraturan masyarakat. Dakwah membantu memperkuat nilai kolektif dan norma sosial yang menjadi dasar harmoni Sementara itu, teori konflik menganggap dakwah sebagai alat perubahan sosial ketika struktur yang ada tidak lagi mewakili keadilan. Pendekatan ini membantu memahami peran dakwah dalam merespon ketimpangan sosial akibat Pendekatan dakwah yang kontekstual ini ditegaskan oleh M. Amin Abdullah yang menyatakan bahwa studi agama harus memahami realitas sosial yang hidup, bukan sekadar teks normatif 7. Metodologi Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Fenomenologi merupakan ilmu yang mempelajari fenomena atau Teori ini menekankan pada metode penghayatan atau pemahaman Anthony Giddens. Runaway World (London: Profile Books, 2. , hlm. Amin Abdullah. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Hamdan interpretatif . Tujuan utama dari fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai dan diterima secara estetis. Pendapat lain, fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani AuphainesthaiAy yang berarti menampak, dan terbentuk dari akar kata fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya sinar atau cahaya. Dari kata itu terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena bercahaya. Secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang Dalam penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti dan seksama pada kesadaran pengalaman manusia. Konsep utama dalam fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari pengalaman kesadaran manusia. Dan untuk mengidentifikasi kualitas yang esensial dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstrusi makna dan konsep-konsep Jika menunjukkan perilaku tertentu dalam masyarakat, maka perilaku tersebut merupakan realisasi dari pandangan-pandangan atau pemikiran yang ada dalam kepala orang Kenyataan merupakan ekspresi dari dalam pikiran seseorang. Oleh karena itu, realitas tersebut bersifat subyektif dan interpretatif. Mengingat, bahwa judul yang diusung peneliti adalah Transformasi Pendidikan Agama Islam Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi dalam Perspektif Sosiologi Dakwah. Melalui pendekatan fenomenologi, peneliti akan menggambarkan realitas yang kompleks mengenai Transformasi Pendidikan Agama Islam Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi dalam Perspektif Sosiologi Dakwah. Hasil dan Pembahasan Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi Zakiah Daradjat menekankan bahwa pendidikan agama berfungsi sebagai pengendali moral dan pembentuk karakter, terutama di tengah arus perubahan 9 Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dulunya bersifat konvensional dan berorientasi pada hafalan teks-teks agama, kini dituntut untuk (Jonathan Sarwono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatifi. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal. Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi bersifat adaptif, kontekstual, dan transformatif. Transformasi ini dilakukan sebagai bentuk respon terhadap tuntutan zaman agar PAI tetap relevan bagi generasi muda Muslim yang hidup dalam dunia yang serba cepat, terbuka, dan kompleks. Transformasi PAI mencakup beberapa aspek penting. Pertama, transformasi kurikulum, di mana isi materi ajar tidak hanya fokus pada aspek ritualistik semata, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, etika global, moderasi beragama, dan pemikiran Islam kontemporer. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata yang plural dan dinamis. Kedua, transformasi metode pembelajaran. PAI kini tidak lagi didominasi oleh metode ceramah satu arah, melainkan lebih interaktif dan dialogis, seperti diskusi, studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan pemanfaatan media digital. Metode ini memungkinkan siswa untuk berpikir kritis dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, transformasi media dakwah dan pendidikan. Di era digital, proses pendidikan agama tidak terbatas pada ruang kelas formal. Media sosial, platform video, podcast, dan aplikasi keislaman menjadi sarana baru dalam menyampaikan ajaran Islam. Guru, ustaz, dan pendidik agama dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi ini untuk menjangkau generasi digital. Terakhir, transformasi juga terjadi pada orientasi tujuan pendidikan agama, dari yang semula berfokus pada pembentukan pribadi yang taat secara individual, kini juga diarahkan untuk mencetak generasi Muslim yang aktif, toleran, terbuka terhadap perbedaan, serta mampu berkontribusi dalam kehidupan global dengan tetap menjaga identitas keislamannya. Transformasi ini menunjukkan bahwa PAI tidak statis, melainkan dinamis dan terbuka terhadap perubahan. Namun demikian, perubahan tersebut harus tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam agar tidak kehilangan arah dan tujuan utama pendidikan agama, yaitu membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Sebagai contoh nyata, beberapa pesantren modern di Indonesia, seperti Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pesantren Tebuireng telah berhasil menggabungkan pendidikan klasik dengan teknologi informasi. Mereka tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menyelenggarakan kelas komputer, pelatihan public speaking, hingga membuat konten dakwah dalam bentuk vlog dan Azyumardi Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos, 1. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Hamdan Inovasi ini memperlihatkan bagaimana transformasi PAI dapat berjalan seiring antara tradisi dan kemajuan zaman. Transformasi pendidikan juga terlihat dari berkembangnya pendidikan Islam berbasis teknologi, seperti pembelajaran daring . nline learnin. , aplikasi AlQurAoan digital, serta platform e-learning berbasis pesantren. Banyak institusi PAI kini telah memanfaatkan Learning Management System (LMS) dan media sosial sebagai sarana memperluas akses pendidikan. Hal ini memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk mengakses materi agama kapan saja dan di mana saja. Tantangan Globalisasi terhadap Pendidikan Islam Globalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap tatanan kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan agama Islam. Di satu sisi, globalisasi menawarkan kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, dan peluang kerjasama lintas budaya. Namun di sisi lain, globalisasi juga menghadirkan tantangan serius terhadap nilai-nilai keislaman yang selama ini dijaga melalui institusi pendidikan. Menurut Mansur Fakih, globalisasi telah menciptakan kesenjangan sosial dan budaya yang mengancam identitas lokal dan keagamaan jika tidak dikelola dengan bijak. Salah satu tantangan utama globalisasi adalah sekularisasi nilai-nilai kehidupan, yang cenderung menggeser nilai-nilai spiritual dan keagamaan menjadi lebih bersifat materialistik dan individualistik. Hal ini berdampak pada menurunnya minat peserta didik terhadap pelajaran agama, serta munculnya persepsi bahwa agama tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Tantangan berikutnya adalah arus informasi bebas tanpa filter, yang dapat membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda secara instan melalui media sosial, internet, dan budaya populer global. Hal ini menyebabkan benturan nilai antara ajaran Islam dengan gaya hidup liberal yang ditampilkan secara masif di ruang digital. Selain itu, pluralitas budaya dan agama sebagai dampak globalisasi menuntut adanya pendekatan pendidikan agama yang moderat, inklusif, dan dialogis. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa memunculkan konflik identitas atau eksklusivisme keagamaan yang berlebihan. Dalam konteks institusi pendidikan, globalisasi juga menghadirkan tantangan dalam bentuk: Kompetisi global dalam kualitas dan mutu pendidikan, yang menuntut PAI Mansur Fakih. Analisis Sosial (Yogyakarta: LKiS, 2. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi untuk tidak hanya mengajarkan doktrin agama, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan komunikatif. Komersialisasi pendidikan, yang kadang menjadikan pelajaran agama sebagai pelengkap, bukan inti pembentukan karakter. Di samping tantangan ideologis dan nilai, globalisasi juga menimbulkan tantangan struktural dalam sistem pendidikan Islam. Misalnya, ketimpangan akses terhadap teknologi antara lembaga pendidikan di kota dan daerah terpencil menyebabkan terjadinya kesenjangan digital . igital divid. Hal ini mempersulit lembaga PAI di daerah untuk mengikuti tren transformasi digital secara optimal. Tak hanya itu, globalisasi juga menciptakan Aucrisis of identityAy bagi sebagian generasi muda Muslim yang hidup dalam tekanan nilai-nilai barat dan budaya populer global. Banyak dari mereka mengalami disorientasi antara identitas keislaman dengan gaya hidup modern yang serba bebas. Di sinilah pendidikan agama Islam memiliki peran krusial dalam membimbing mereka membentuk identitas diri yang Islami, toleran, dan progresif. Peran dan Respons Sosiologi Dakwah dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi. Sosiologi dakwah sebagai pendekatan ilmiah memandang dakwah tidak hanya sebagai aktivitas penyampaian ajaran Islam, tetapi juga sebagai interaksi sosial yang dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, budaya, teknologi, serta perubahan zaman. Dalam konteks globalisasi, sosiologi dakwah memainkan peran penting dalam memahami tantangan-tantangan sosial yang dihadapi Pendidikan Agama Islam serta bagaimana strategi dakwah dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat global yang plural dan kompleks. Salah satu kontribusi utama sosiologi dakwah adalah kemampuannya membaca realitas sosial secara objektif. Melalui perspektif ini, dakwah dan pendidikan agama tidak dipaksakan dalam bentuk doktrin yang kaku, tetapi disampaikan melalui pendekatan yang humanis, dialogis, dan kontekstual. Sosiologi dakwah membantu pendidik dan dai untuk memahami latar belakang sosial peserta didik, perubahan gaya hidup mereka, serta tantangan budaya digital yang mereka Sosiologi dakwah juga mendorong perubahan dalam strategi dan media dakwah, dari yang bersifat tradisional menuju pendekatan yang lebih modern dan teknologi-informatif. Dakwah melalui platform digital seperti media sosial, podcast, video edukatif, hingga komunitas daring merupakan bentuk inovasi dakwah kontemporer yang selaras dengan gaya komunikasi generasi digital. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Hamdan Selain itu, sosiologi dakwah menekankan pentingnya interaksi sosial yang inklusif dan multikultural, sejalan dengan prinsip Islam rahmatan lil Aoalamin. Hal ini sangat relevan dalam konteks globalisasi, di mana interaksi antaragama dan antarbudaya menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Pendidikan agama yang didasari oleh pendekatan sosiologi dakwah akan mendorong lahirnya generasi Muslim yang mampu berdakwah secara cerdas, santun, dan toleran di tengah masyarakat global. Menurut Jalaluddin, media komunikasi berperan sebagai jembatan utama antara dai dan madAou di era modern, dan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan demikian, sosiologi dakwah bukan hanya sekadar alat analisis sosial, tetapi juga menjadi landasan dalam merumuskan strategi pendidikan dan dakwah Islam yang responsif terhadap globalisasi. Ia mengajak para pendidik dan dai untuk tidak alergi terhadap perubahan, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang Dalam perspektif sosiologi dakwah, globalisasi bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang dakwah. Pendekatan ini mengajak pelaku dakwah untuk melakukan perubahanperilaku, pola komunikasi, dan kebutuhan spiritual masyarakat. Transformasi Pendidikan Agama Islam tidak cukup hanya berhenti pada perubahan kurikulum dan metode pembelajaran. Untuk menjawab tantangan globalisasi secara konkret, perlu dirumuskan strategi implementatif yang sistematis dan adaptif. Strategi ini harus mempertimbangkan dinamika masyarakat, perkembangan teknologi, serta pendekatan sosial yang inklusif. Salah satu strategi utama adalah penguatan peran guru PAI sebagai agen Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menjadi teladan, komunikator, dan fasilitator dalam menghadapi perubahan sosial. Guru perlu dibekali dengan pemahaman sosiologis agar mampu mengelola keberagaman dan perbedaan budaya dalam konteks pendidikan Selain itu, lembaga pendidikan Islam perlu mengintegrasikan dakwah digital dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini bisa diwujudkan melalui pemanfaatan platform daring seperti YouTube Edu. Instagram edukatif, atau podcast keislaman. Jalaluddin. Psikologi Dakwah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Transformasi Pendidikan Agama Islam Menghadapi Tantangan Globalisasi Peserta didik juga dapat diajak membuat konten dakwah digital sebagai bagian dari praktik pembelajaran berbasis proyek. Strategi lainnya adalah kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemerintah dalam memperkuat nilai-nilai keislaman moderat. Program pelatihan, seminar multikultural, dan pelibatan pesantren modern dalam forum global bisa menjadi jembatan antara pendidikan Islam dan masyarakat Strategi Implementasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Dakwah di Era Global Transformasi Pendidikan Agama Islam tidak cukup hanya berhenti pada perubahan kurikulum dan metode pembelajaran. Untuk menjawab tantangan globalisasi secara konkret, perlu dirumuskan strategi implementatif yang sistematis dan adaptif. Strategi ini harus mempertimbangkan dinamika masyarakat, perkembangan teknologi, serta pendekatan sosial yang inklusif. Salah satu strategi utama adalah penguatan peran guru PAI sebagai agen Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menjadi teladan, komunikator, dan fasilitator dalam menghadapi perubahan sosial. Guru perlu dibekali dengan pemahaman sosiologis agar mampu mengelola keberagaman dan perbedaan budaya dalam konteks pendidikan Selain itu, lembaga pendidikan Islam perlu mengintegrasikan dakwah digital dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini bisa diwujudkan melalui pemanfaatan platform daring seperti YouTube Edu. Instagram edukatif atau podcast keislaman. Peserta didik juga dapat diajak membuat konten dakwah digital sebagai bagian dari praktik pembelajaran berbasis proyek14. Strategi lainnya adalah kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemerintah dalam memperkuat nilai-nilai keislaman moderat. Program pelatihan, seminar multikultural, dan pelibatan pesantren modern dalam forum global bisa menjadi jembatan antara pendidikan Islam dan masyarakat Dengan strategi ini. Pendidikan Agama Islam tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan moral dan sosial dalam menghadapi tantangan Kesimpulan Umar. Nasaruddin. Argumen Pluralisme Agama. (Jakarta: Paramadina, 2. Jalaluddin. Psikologi Dakwah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , hlm. JURNAL MANAJEMEN DAKWAH Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 Hamdan Transformasi Pendidikan Agama Islam merupakan suatu keniscayaan dalam menghadapi dinamika globalisasi yang terus berkembang. Globalisasi telah membawa dampak signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan, termasuk pola pikir, budaya, dan nilai-nilai masyarakat, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi sistem pendidikan agama. Oleh karena itu. Pendidikan Agama Islam harus terus melakukan inovasi dan adaptasi agar tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. Perubahan dalam aspek kurikulum, metode pembelajaran, media dakwah, dan orientasi pendidikan menjadi wujud konkret dari proses transformasi tersebut. Dalam hal ini, pendekatan sosiologi dakwah memberikan kontribusi penting dalam memahami realitas sosial yang dihadapi serta merumuskan strategi dakwah yang kontekstual, komunikatif, dan efektif. Sosiologi dakwah menempatkan proses pendidikan agama bukan hanya sebagai transfer ilmu agama, tetapi sebagai upaya membentuk kesadaran sosial-keagamaan yang mampu berinteraksi secara bijak di tengah masyarakat global yang multikultural dan kompleks. Dengan demikian, transformasi Pendidikan Agama Islam yang berlandaskan pendekatan sosiologi dakwah dapat menjadi instrumen penting dalam membentuk generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, moderat, dan siap menghadapi tantangan globalisasi. Daftar Pustaka