SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan ISSN: 3047-8618 (Onlin. | DOI: . https://doi. org/10. 31959/js. Volume 03 . No. Desember 2025 . Homepage: https://ejournal-polnam. id/index. php/JS/index Pengembangan English for Tourism pada Program Destinasi Pariwisata: Perspektif ESP dan Implikasi Pedagogis . Marcha Stephanie Inapratama Matitaputty . Meiti Leatemia msimatitaputty@gmail. com, meitileatemia510@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata dalam perspektif English for Specific Purposes (ESP) serta implikasinya terhadap pengembangan pembelajaran pada pendidikan vokasi. Kajian ini menggunakan pendekatan konseptual melalui analisis literatur terkait ESP, kompetensi komunikatif, dan kebutuhan bahasa dalam industri Hasil kajian menunjukkan bahwa kebutuhan utama mahasiswa mencakup komunikasi lisan fungsional, penguasaan genre profesional seperti promosi destinasi dan penanganan keluhan, serta kompetensi interkultural dalam konteks pelayanan wisata. Selain itu, karakteristik mahasiswa dengan latar belakang kemampuan bahasa Inggris yang beragam menuntut desain pembelajaran yang adaptif, bertahap, dan berbasis tugas autentik. Implikasi pedagogis penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri, penerapan pembelajaran berbasis tugas, serta evaluasi berbasis performa untuk meningkatkan kesiapan kerja mahasiswa. Dengan demikian, pengembangan English for Tourism pada pendidikan vokasi harus dirancang secara kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan profesional serta karakteristik pembelajar. Kata kunci: English for Specific Purposes, kebutuhan bahasa, pendidikan vokasi, pariwisata, desain Developing English for Tourism in Destination Tourism Programs: An ESP Perspective and Pedagogical Implications Abstract This study aims to examine the English language needs of Destination Tourism students from the perspective of English for Specific Purposes (ESP) and to explore its pedagogical implications for vocational education. This study employs a conceptual approach through a literature-based analysis of ESP theory, communicative competence, and language needs in the tourism industry. The findings indicate that students primarily require functional oral communication skills, mastery of professional genres such as destination promotion and complaint handling, and intercultural competence in tourism service contexts. Furthermore, the diverse English proficiency backgrounds of students necessitate an adaptive, progressive, and task-based instructional design. The pedagogical implications highlight the importance of industry-oriented curriculum development, the implementation of authentic task-based learning, and performancebased assessment to enhance studentsAo workplace readiness. Therefore, the development of English for Tourism in vocational education must be contextualized and responsive to both professional demands and learner characteristics. Keywords: English for Specific Purposes, language needs, vocational education, tourism, course design Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 PENDAHULUAN Pengembangan sektor pariwisata di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan seperti Maluku, menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami pengelolaan destinasi, tetapi juga memiliki kompetensi komunikasi internasional. Pembukaan Program Studi Destinasi Pariwisata di Politeknik Negeri Ambon merupakan langkah strategis dalam mendukung kebutuhan tersebut. Sebagai institusi pendidikan vokasi, orientasi kurikulum diarahkan pada kesiapan kerja . ob readines. , sehingga kompetensi bahasa Inggris menjadi komponen yang tidak terpisahkan dari profil lulusan. Dalam industri pariwisata global, bahasa Inggris berfungsi sebagai lingua franca yang menjembatani komunikasi antara penyedia layanan dan wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris dalam pendidikan pariwisata tidak lagi dapat diposisikan sebagai General English, melainkan harus dirancang secara spesifik sesuai dengan kebutuhan profesional. Konsep ini selaras dengan pendekatan English for Specific Purposes (ESP) yang menurut Hutchinson dan Waters . berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai alasan pembelajar mempelajari bahasa Inggris. ESP menekankan bahwa isi, metode, dan evaluasi pembelajaran harus ditentukan oleh kebutuhan penggunaan bahasa di masa depan. Dudley-Evans dan St John . menegaskan bahwa ESP memiliki karakteristik absolut berupa fokus pada kebutuhan spesifik pembelajar dan penggunaan bahasa yang relevan dengan disiplin tertentu. Dalam perkembangan mutakhir. Paltridge dan Starfield . serta Hyland . menekankan bahwa ESP modern tidak hanya berorientasi pada struktur bahasa, tetapi juga pada praktik sosial dan genre profesional yang digunakan dalam konteks kerja nyata. Dalam bidang pariwisata, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan bahasa mahasiswa bersifat komunikatif dan kontekstual. Mulyono . mengidentifikasi bahwa mahasiswa pariwisata membutuhkan kemampuan komunikasi pelayanan yang efektif dalam interaksi dengan wisatawan asing. Rahman . menemukan bahwa keterampilan berbicara menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan pemberian informasi, arahan, serta penanganan permintaan dan keluhan wisatawan. Temuan ini diperkuat oleh Setiawan. Hustarna, dan Yanto . yang menunjukkan bahwa kemampuan berbicara merupakan kompetensi dominan dalam praktik pemanduan wisata. Selain keterampilan lisan, perkembangan digital tourism turut memperluas kebutuhan komunikasi tertulis profesional. Al Fachrizah Fitra et al. menyoroti pentingnya kemampuan menulis email reservasi dan konfirmasi layanan sebagai bagian dari kompetensi kerja. Sementara itu. Kurniawan. Herman, dan Purwanto . mengidentifikasi adanya kesenjangan antara kurikulum bahasa Inggris di perguruan tinggi dan kebutuhan komunikasi aktual di industri pariwisata. Matitaputty. LeatemiaAuPengembangan English for Tourism. Ay Meskipun berbagai penelitian telah membahas kebutuhan bahasa dalam sektor pariwisata, sebagian besar berfokus pada analisis kebutuhan industri atau efektivitas metode pembelajaran tertentu. Kajian yang secara konseptual merumuskan pengembangan English for Tourism dalam konteks program studi vokasi baru dengan karakteristik mahasiswa yang heterogen masih terbatas. Padahal, sebagai program studi yang baru dibuka. Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Negeri Ambon memerlukan kerangka konseptual yang jelas dalam merancang mata kuliah bahasa Inggris berbasis ESP sejak tahap awal pengembangan kurikulum. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pengembangan English for Tourism pada Program Studi Destinasi Pariwisata dalam perspektif ESP serta mengidentifikasi implikasi pedagogisnya dalam konteks pendidikan Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual terhadap desain pembelajaran bahasa Inggris yang relevan, aplikatif, dan selaras dengan kebutuhan industri pariwisata. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. dengan sifat deskriptif kualitatif. Fokus penelitian diarahkan pada penelaahan dan pengkajian berbagai sumber ilmiah yang berkaitan dengan English for Specific Purposes (ESP), analisis kebutuhan bahasa, serta pengembangan English for Tourism dalam konteks pendidikan vokasi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak bertujuan mengumpulkan data lapangan, melainkan membangun kerangka konseptual berdasarkan sintesis teori dan hasil penelitian terdahulu. Sumber data penelitian berupa literatur teoretis dan empiris yang relevan dengan topik Literatur klasik mengenai ESP dan analisis kebutuhan digunakan sebagai landasan konseptual, sementara artikel dan publikasi ilmiah beberapa tahun terakhir dimanfaatkan untuk melihat perkembangan mutakhir dalam pengajaran bahasa Inggris di bidang pariwisata. Selain itu, dokumen akademik yang berkaitan dengan profil lulusan dan kurikulum Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Negeri Ambon turut dikaji untuk memastikan kesesuaian konteks pembahasan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan menelaah dan memilih sumber-sumber yang memiliki relevansi langsung dengan fokus penelitian serta berasal dari publikasi yang kredibel. Proses analisis dilakukan secara bertahap dengan mengidentifikasi gagasan utama dari setiap sumber, mengelompokkannya berdasarkan tema, kemudian menyusunnya menjadi sintesis konseptual yang utuh. Melalui proses ini, dirumuskan gambaran kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa Destinasi Pariwisata serta implikasinya terhadap pengembangan mata kuliah berbasis ESP pada pendidikan SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 HASIL English for Tourism dalam Perspektif ESP Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa English for Tourism secara teoretis berakar pada kerangka English for Specific Purposes (ESP). Dalam perspektif Hutchinson dan Waters . ESP merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang berorientasi pada kebutuhan spesifik pembelajar serta tujuan penggunaannya dalam konteks Mereka menekankan bahwa orientasi utama ESP adalah alasan mengapa bahasa dipelajari, sehingga pembelajaran harus selalu dikaitkan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Dudley-Evans dan St John . menambahkan bahwa ESP memiliki karakteristik berupa fokus pada kebutuhan khusus, relevansi isi pembelajaran dengan bidang tertentu, serta fleksibilitas metode. Prinsip ini tetap menjadi landasan utama pengembangan English for Tourism. Namun, perkembangan kajian ESP kontemporer menunjukkan bahwa pendekatan ini kini semakin terintegrasi dengan praktik berbasis kompetensi, pembelajaran berbasis tugas, serta kebutuhan komunikasi global dalam era industri 4. dan digitalisasi layanan. Dalam konteks Program Studi Destinasi Pariwisata, penggunaan bahasa Inggris tidak lagi terbatas pada komunikasi tatap muka, tetapi juga mencakup komunikasi digital, promosi melalui media daring, serta interaksi lintas budaya dalam lingkungan global. Oleh karena itu. English for Tourism perlu dirancang sebagai bahasa profesional berbasis fungsi yang mendukung performa kerja di berbagai kanal komunikasi. Analisis Kebutuhan dan Relevansi Industri Analisis kebutuhan tetap menjadi prinsip utama dalam ESP sebagaimana ditegaskan oleh Munby . melalui Target Situation Analysis. Model ini menempatkan situasi komunikasi masa depan sebagai dasar perancangan kurikulum. Dalam konteks pariwisata, situasi tersebut meliputi pelayanan wisatawan, komunikasi reservasi, penyampaian informasi destinasi, promosi produk, dan penanganan keluhan. Penelitian Mulyono . Rahman . , serta Setiawan dkk. menunjukkan bahwa keterampilan berbicara merupakan kebutuhan dominan mahasiswa pariwisata. Temuan ini sejalan dengan tren penelitian ESP modern yang menekankan communicative performance dalam konteks kerja. Dalam praktik industri pariwisata saat ini, kemampuan berkomunikasi secara lisan tetap menjadi kompetensi inti, baik dalam pelayanan langsung maupun dalam presentasi profesional. Kajian ESP kontemporer juga menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa untuk tujuan khusus semakin diarahkan pada workplace communication dan authentic task-based Pendekatan ini menekankan bahwa materi pembelajaran harus merefleksikan tugas nyata di lapangan, bukan sekadar struktur bahasa. Matitaputty. LeatemiaAuPengembangan English for Tourism. Ay Selain aspek linguistik. Paltridge dan Starfield . menegaskan bahwa ESP juga mencakup praktik sosial dan profesional yang melatarbelakangi penggunaan bahasa. Dalam industri pariwisata modern, komunikasi tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pengalaman pelanggan . ustomer experienc. , menjaga reputasi institusi, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan Hal ini menunjukkan bahwa dimensi pragmatik, kesantunan, dan sensitivitas budaya tetap relevan dalam konteks global saat ini. Kompetensi Komunikatif dan Pendekatan Pembelajaran Modern Kerangka kompetensi komunikatif yang dikembangkan oleh Canale dan Swain . tetap menjadi dasar penting dalam memahami kemampuan berbahasa. Kompetensi ini mencakup aspek gramatikal, sosiolinguistik, wacana, dan strategis. Dalam konteks pariwisata, dimensi sosiolinguistik dan strategis sangat penting karena komunikasi harus sesuai dengan situasi sosial dan kebutuhan wisatawan. Perkembangan penelitian terbaru dalam pendidikan bahasa menunjukkan bahwa kompetensi komunikatif kini juga dikaitkan dengan kemampuan interaksi global, literasi digital, serta fleksibilitas komunikasi lintas budaya. Hal ini memperluas pemahaman bahwa English for Tourism tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga kesiapan komunikasi dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi. Bachman dan Palmer . menekankan pentingnya asesmen berbasis performa dalam konteks bahasa untuk tujuan khusus. Dalam perkembangan modern, prinsip ini semakin diperkuat oleh pendekatan assessment for learning dan task-based assessment yang banyak digunakan dalam pendidikan vokasi. Evaluasi dalam English for Tourism seharusnya mencerminkan tugas nyata seperti simulasi pelayanan, presentasi destinasi, atau studi kasus penanganan wisatawan. Pendekatan pembelajaran berbasis tugas yang dijelaskan oleh Nunan . serta pembelajaran berbasis konteks kerja menurut Burns . tetap relevan, namun dalam konteks terbaru, pendekatan ini juga terintegrasi dengan digital task-based activities, collaborative learning, dan scenario-based learning yang lebih kontekstual terhadap industri pariwisata modern. PEMBAHASAN Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa pengembangan English for Tourism harus dipahami sebagai bagian integral dari kerangka English for Specific Purposes (ESP), bukan sebagai mata kuliah bahasa umum yang diberi label konteks pariwisata. Dalam perspektif Hutchinson dan Waters . , pembelajaran bahasa dalam ESP selalu berangkat dari kebutuhan spesifik dan tujuan penggunaan bahasa. Oleh karena itu, desain kurikulum tidak dapat dilepaskan dari analisis situasi kerja yang akan SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 dihadapi mahasiswa setelah lulus. Hal ini menjadi penting karena orientasi pembelajaran akan sangat memengaruhi jenis kompetensi yang dikembangkan di kelas. Implikasi dari pendekatan ini adalah perlunya reposisi tujuan pembelajaran. English for Tourism tidak lagi diposisikan sebagai sarana untuk menguasai struktur bahasa semata, tetapi sebagai alat untuk membangun kompetensi komunikasi profesional. DudleyEvans dan St John . menegaskan bahwa ESP harus memiliki isi yang relevan dengan bidang tertentu serta fleksibel dalam metode pengajarannya. Dalam konteks ini, materi pembelajaran perlu dirancang berdasarkan praktik komunikasi nyata di industri pariwisata, seperti pelayanan wisatawan, komunikasi reservasi, promosi destinasi, dan penanganan situasi tidak terduga. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna bagi mahasiswa. Dominasi kebutuhan keterampilan berbicara yang ditemukan dalam penelitian Mulyono . Rahman . , dan Setiawan dkk. memperkuat argumentasi bahwa pendekatan pembelajaran perlu mengalami transformasi. Pembelajaran yang terlalu berorientasi pada tata bahasa tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan komunikasi di industri jasa. Dalam industri pariwisata, komunikasi lisan merupakan inti dari interaksi pelayanan. Oleh karena itu, kelas English for Tourism perlu menyediakan ruang yang cukup untuk praktik berbicara, diskusi, simulasi, dan role play. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga mampu menggunakannya dalam situasi nyata. Transformasi ini sejalan dengan konsep kompetensi komunikatif yang dikemukakan oleh Canale dan Swain . Mereka menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya mencakup aspek gramatikal, tetapi juga kompetensi sosiolinguistik, wacana, dan strategis. Dalam konteks pariwisata, dimensi sosiolinguistik sangat penting karena mahasiswa harus mampu menyesuaikan bahasa dengan latar belakang budaya Selain itu, kompetensi strategis memungkinkan mereka tetap berkomunikasi secara efektif ketika menghadapi keterbatasan kosakata atau situasi komunikasi yang tidak terduga. Pendekatan ini juga memiliki implikasi terhadap sistem evaluasi. Bachman dan Palmer . menekankan bahwa asesmen bahasa untuk tujuan profesional sebaiknya berbasis performa dan tugas autentik. Artinya, penilaian tidak cukup dilakukan melalui tes tertulis, tetapi harus mencerminkan kemampuan nyata dalam konteks kerja. Dalam English for Tourism, evaluasi dapat dilakukan melalui simulasi pelayanan wisata, presentasi destinasi, dialog reservasi, atau studi kasus penanganan keluhan. Model asesmen seperti ini lebih sesuai dengan karakter pendidikan vokasi yang menekankan kesiapan kerja. Selain aspek pedagogis, pembahasan ini juga menunjukkan pentingnya integrasi antara teori dan konteks institusional. Dudley-Evans dan St John . menekankan bahwa ESP bersifat fleksibel dan harus disesuaikan dengan kondisi pembelajar. Dalam konteks mahasiswa dengan kemampuan bahasa yang beragam, pendekatan bertahap sangat Pembelajaran dapat dimulai dari latihan komunikasi yang terstruktur. Matitaputty. LeatemiaAuPengembangan English for Tourism. Ay kemudian secara progresif diarahkan pada simulasi yang lebih kompleks dan mendekati kondisi kerja sebenarnya. Strategi scaffolding ini membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri sekaligus meningkatkan kompetensi secara sistematis. Lebih jauh lagi, pengembangan English for Tourism perlu mempertimbangkan dinamika industri pariwisata saat ini. Industri jasa pariwisata menuntut standar pelayanan yang tinggi, komunikasi yang efektif, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan yang semakin beragam. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa tidak hanya berfokus pada aspek teknis bahasa, tetapi juga pada pengembangan sikap profesional, empati, dan kesadaran lintas budaya. Paltridge dan Starfield . menegaskan bahwa ESP modern harus memperhatikan praktik sosial dan diskursif dalam penggunaan bahasa, sehingga pembelajaran tidak terlepas dari konteks sosialnya. Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa pengembangan English for Tourism memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Integrasi antara prinsip ESP, analisis kebutuhan industri, teori kompetensi komunikatif, serta pendekatan pembelajaran berbasis tugas menjadi fondasi utama dalam merancang kurikulum yang relevan. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat landasan teoretis, tetapi juga memastikan bahwa pembelajaran mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan dan mendukung kesiapan kerja lulusan di bidang pariwisata. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan English for Tourism pada Program Studi Destinasi Pariwisata harus dirancang secara kontekstual, berbasis kebutuhan industri, dan disesuaikan dengan profil kemampuan mahasiswa. Pembelajaran bahasa Inggris dalam konteks vokasi tidak dapat diperlakukan sebagai General English, melainkan sebagai bahasa fungsional yang mendukung komunikasi pelayanan, promosi destinasi, serta interaksi lintas budaya. Temuan menunjukkan bahwa kompetensi komunikatif menjadi orientasi utama pembelajaran, terutama dalam aspek kelancaran berbicara, kemampuan menyampaikan informasi secara runtut, serta strategi komunikasi untuk mengatasi keterbatasan Karakteristik mahasiswa dengan latar belakang kemampuan bahasa Inggris yang beragam menuntut pendekatan pembelajaran yang bertahap, adaptif, dan berbasis Berdasarkan temuan tersebut, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, kurikulum Bahasa Inggris perlu dirancang melalui analisis kebutuhan yang sistematis agar selaras dengan tuntutan industri pariwisata. Kedua, pembelajaran sebaiknya menerapkan pendekatan berbasis tugas dengan simulasi autentik untuk meningkatkan kesiapan kerja mahasiswa. Ketiga, materi perlu disusun secara progresif dengan scaffolding yang jelas guna mengakomodasi variasi tingkat kemahiran mahasiswa. Keempat, sistem evaluasi harus menekankan penilaian berbasis performa sehingga kemampuan komunikasi profesional dapat diukur secara nyata. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Secara keseluruhan, pengembangan English for Tourism pada pendidikan vokasi harus mengintegrasikan relevansi industri, kesiapan pedagogis, dan karakteristik pembelajar agar menghasilkan lulusan yang kompeten dan adaptif terhadap dinamika industri DAFTAR PUSTAKA