e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF BARAT DAN ISLAM (KAJIAN PSIKOLOGI KELUARGA MENURUT ZAKIAH DARADJAT) Jarman Arroisi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor jarman@unida. Martin Putra Perdana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor martinputra@mhs. Abstract Zakiah Daradjat is present as a family consultant, psychologist and observer of Indonesian Islamic education. Many works are very influential, especially in the realm of psychology and With a background of extensive thinking and experience. Zakiah Daradjat is able to formulate psychiatric problems that are difficult to solve including marriage and family relationship problems. The existence of a gap in a family is not to be imagined, especially regarding children. Problems arise when the parents lack teach their children by religious Whereas religious education is not only teach religious knowledge and train children in performing worship. However religious education also should be establish personality of children in accordance with religious teachings. Using critical analyst methods supported by adequate literature, this paper will seek to uncover Zakiah Daradjat's version of the family model that is expected to be able to answer inequalities in terms of education and modern family relations. Keywords: Zakiah Daradjat. Family. Mental. Education. Islam. West PENDAHULUAN Berkeluarga merupakan aspek fundamental dalam menjalani kehidupan, yang dengannya . mampu menentukan masa depan manusia. Jalinan keluarga sendiri muncul dari adanya pernikahan, yakni suatu kebutuhan dasar manusia dengan mengikrarkan janji suci untuk saling berkomitmen. Dengan pernikahan manusia tidak hanya dapat menyalurkan nafsu biologisnya, namun juga dapat melestarikan keturunan demi keberlangsungan hidup sebagai khalifah fyl ard (Hathout, 2008:. Dengan ikatan pernikahan, dua orang insan dapat membentuk keluarganya sendiri yang dapat menghasilkan kasih sayang, ketenangan dan kebahagiaan. Dalam prosesinya, pernikahan harus dijalani dengan serius MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 160 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif karena diselimuti dengan unsur tanggung jawab dan keimanan kepada Allah (Ipandang 2020 : Pernikahan memang mengisyaratkan adanya perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, yang dengannya akan menimbulkan keserasian. Keserasian yang dimaksud disini adalah saling melengkapi satu dengan lainnya, bukan justru menuntut kesetaraan (Shalahuddin, 2020: . Adanya keserasian tersebut dapat memunculkan keluarga harmonis yang dapat membantu terbentuknya pola pikir dan pola hidup yang baik. Keluarga juga merupakan institusi pendidikan terbaik, sehingga lingkungan keluarga sudah seharusnya menjadi tempat untuk mendidik dan membentuk anak-anak yang baik. (Wahy, 2012: . Namun dewasa ini, konsep keluarga yang harmonis itu dikaburkan oleh pengaruh paham keluarga Barat yang menuntut kesetaraan. Yakni kondisi menuntut sama rata dan tidak ada kesenjangan yang dianggapnya sebagai bentuk keadilan (Megawangi, 1999: . Tentunya hal ini tidak berkesesuaian dengan konsep keluarga dalam Islam. Dengan adanya problem Aukeluarga BaratAy tersebut, menarik untuk memunculkan bagaimana konsep keluarga yang Islami? Dalam hal itu, penulis mengambil pandangan Zakiah Daradjat untuk meneropong bentuk keluarga ideal yang sesuai dengan Islam. METODE/GAGASAN Penelitian ini merupakan penelitian analisis kritis yang memaparkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan pemaknaan keluarga Islam dan keluarga Barat. Perbedan antara keduanya sangatlah terlihat dalam hal pendidikan, tujuan keluarga serta kebermaknaan hidup, terutama yang berkaitan dengan agama. Perbedaan tersebut di tegaskan dengan pemaknaan keluarga perspektif Zakiah Daradjat yang menjadi tokoh utama dalam penelitian. Proses penelitian ini menggunakan metode pustaka . ibrary researc. , sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan sumber bacaan baik buku maupun jurnal yang terkait dengan permasalahan yang diangkat. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif HASIL DAN PEMBAHASAN/PEMBAHASAN Geneologi pemikiran Zakiah Daradjat Zakiah Daradjat merupakan seorang tokoh cendikiawan Muslim yang konsen dalam bidang psikologi sekaligus pendidikan Islam dari Indonesia (Saifuddin, 2019: . Ia lahir di Koto Marapak Ampek Angkek. Bukitinggi. Kabupaten Agam. Sumatra Barat pada tanggal 6 November 1929 dari ayah bernama H. Daradjat Ibnu Husain yang memiliki gelar Raja Ameh (Raja Ema. seoramg tokoh Sarekat Islam dan ibunya Hj. Rapiah. Binti Abdul Karim, yang merupakan tokoh aktif Muhammadiyah (Daradjat, 2002: . Zakiah Daradjat merupakan anak pertama dari dua belas bersaudara (Marwing and Yunus, 2021: Latar belakang ketokohan orangtua sangat mempengaruhi lingkungan intelektual Zakiah Daradjat. Standard School Muhammadiyah di Biaro Gadang. Ampek. Angkek di tahun 1942, yang kemudian merangkap bersekolah di Kulliyat Muballighat Muhammadiyah dan pendidikan SMPN di Padang Panjang tahun 1951. Beliau juga belajar di Sekolah Umum Pemuda (Taman Sisw. pada tahun 1951 dan melanjutkan pendidikan tingginya di PTAIN . ekarang UIN Sunan Kalijag. Yogyakarta di tahun 1955 (Daradjat, 2002: . Disamping itu. Zakiah juga pernah bersekolah di Universitas Islam Indonesia namun tidak sampai (Djafar, 2017: . Zakiah mengambil konsentrasi pada bidang pendidikan hingga memperoleh gelar Doktoral Satu (BA) di PTAIN Yogyakarta. Setelah mampu menyelesaikan pendidikan sarjananya, beliau mendapatkan kesempatan dari Departemen Agama untuk meneruskan studinya di Mesir, di Ein Shame University Cairo pada jurusan Special Diploma For Education (Diploma Al Khasa. di Fakultas Pendidikan pada tahun 1958 (Nunzairina. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 162 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif 2018: . Kesempatan mengenyam pendidikan di Mesir tidak beliau sia-siakan, beliau langsung melanjutkan ke jenjang Magister dengan konsentrasi di bidang kesehatan mental (Daradjat, 2002: . Zakiah menulis thesis dengan tema AuProblem Remaja dengan Spesialisasi Mental HygineAy, selama program magister inilah beliau mempelajari klinik kejiwaan. Bahkan Zakiah sudah terbiasa dengan praktik konsultasi psikologi. Dari sinilah Zakiah Daradjat dikenal sebagai generasi pertama Indonesia yang mampu mencapai gelar psikologi di luar negri dari kalangan santri (Marwing, 2021: . Zakiah Daradjat juga dikenal sebagai seorang konselor psikolog atau psikoterapis yang berpegang teguh dengan pondasi Islam dan nilai-nilai Al-QurAoan (Marwing, 2021: Melanjutkan konsetrasinya dalam bidang psikologi, beliau kemudian menapaki studi Doktoralnya di bidang pendidikan (Spesialisasi Psikoterap. masih di Universitas yang sama dengan judul disertasi AuExperimental Study terhadap Perubahan-perubahan yang Terjadi Atas Kepribadian Anak-anak yang mengalami Emotional Disturbances, pada perawatan jiwa Non Directive Play Therapy (Daradjat, 2002: . Sepulangnya ke Indonesia setelah menyelesaikan pengembaraan intelektualnya. Zakiah Daradjat banyak diamanahi jabatan penting, yang diantaranya adalah: . Pada tahun 1972-1984 diberi amanah untuk menjadi Direktur Direktorat Perguran Tinggi Agama Islam, . Di tahun 1983-1988 menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, . Menjadi Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga di tahun 1986 (Marwing, 2021: Di tahun 1967-1972, diangkat menjadi Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum. Periode 1992-1997 menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, dll. (Daradjat, 2002: . Zakiah Daradjat juga berkontribusi besar dalam membangun pendidikan Islam dan psikologi di Indonesia dengan pengabdian dan sumbangsih beberapa karyanya yang monumental. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif Makna Keluarga Menurut Barat Keluarga versi Barat memang memiliki konsep yang berangkat dari kebingungan dan harapan palsu, yang bahkan dengannya mereka berusaha mengubah tatanan moral yang beruya disesuaikan dengan jeritan hawa nafsunya (Muslih, 2021: . Bagaimana tidak, dalam sebuah majalah Better Homes and Gardens di Amerika yang dikutip oleh Elisabeth Dewi memberikan pertanyaan terkait kepuasan hidup berumah tangga di Amerika Serikat. Jawabannya, 85% pembacanya menyatakan bahwa harapan mereka akan keluarga yang harmonis belumlah terpenuhi dan 7,6% lainnya menyatakan bahwa banyak masalah yang dihadapi dalam keluarganya (Dewi, 2006: . Kata keluarga sendiri dalam dalam bahasa Inggris diambil dari kata AufamilleAy atau AufamilyAy yang dimaknai sebagai pengetahuan atau pengenalan. Akar katanya adalah AufamiliarAy dengan arti dikenal atau menyenangkan, padahal kata menyenangkan tidak hanya bisa diartikan kepada istri, suami atau anak, bisa juga pada hewan seperti anjing atau kucing dan lain sebagainya. Jadi tidaklah heran, apabila binatang terkadang memiliki kedudukan isitimewa dalam keluarga Barat bahkan melebihi istri atau suaminya sendiri (Thohir, 2015: . Problem keluarga Barat di contohkan Hamid Fahmy dalam bukunya AuMisykat: Refleksi Tentang Islam. Westernisasi dan LiberalisasiAy, mengenai Nancy yang memiliki kebingungan antara memilih hidup sendiri atau berkeluarga, ia merasa hidup sendiri lebih nyaman daripada berkeluarga. Nancy beranggapan, kesuksesan suaminya membuatnya merasa inferior dan tertindas, sehingga ia memilih untuk berpisah dan mengurus karir dan anaknya sendiri (Zarkasyi, 2012: . Adanya ketidakstabilan rasio pernikaan juga menjadi problem di Barat (Laslett, 1977: . , salah satu penyebabnya dikarenakan adanya kekacauan prilaku seksual di masyarakat. Banyak masyarakat Barat yang menganggap MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 164 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif pernikahan adalah opsi kedua, pertama adalah seks, memuaskan nafsu birahinya terlebih Seks bebas terjadi dimana-mana tanpa tebang pilih, bahkan hamil di luar nikah menjadi hal yang lumrah, dimana perempuan Barat memang menjadi objek pemuas hawa nafsu (Hathout, 2008: . Konsep keluarga yang kacau tersebut berimplikasi pada meningkatnya kejahatan. Kejahatan perselingkuhan dan aborsi semakin lama semakin meningkat. Bahkan praktek oborsi sudah menjadi bagian industrialisasi yang menguntungkan, dikarenakan banyaknya wanita muda yang hamil di luar nikah (Yusuf, 2001:. Keluarga kacau versi Barat tersebut memang tidaklah mengherankan, karena dalam diri masyarakat Barat sendiri seperti halnya yang di jelaskan Freud, mereka berusaha untuk memisahkan agama bahkan Tuhan dari kehidupan. Tuhan menurutnya merupakan refleksi dari oedius complex dan menganggap agama hanyalah angan-angan serta ilusi belaka (Arroisi, 2021: . Model keluarga di Barat seperti halnya dijelaskan oleh M. Saeful Amri dan Tali Tulab dalam artikelnya memiliki berbagai bentuk, . Ada yang memilih melajang, tidak menikah karena menomersatukan kariernya, . Cohibitation, atau orang-orang yang memilih hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, . Rumah tangga Aubebas anakAy, dimana mereka beranggapan bahwa memiliki anak hanyalah akan menjadi beban yang membuatnya tidak bisa hidup bebas karena diselimuti dengan tanggung jawab. Jadi di Barat, orang bebas memilih jenis apa hubungan yang diinginkannya, tanpa perlu memikirkan adanya hukum dan tanggung jawab yang mengikat. Adapun mereka yang memilih untuk menikah adalah didorong rasa ingin mencari kesenangan dan kenikmatan. Apabila pernikahan dirasa sudah tidak dapat membawa kesenangan, maka ia akan memilih untuk hidup sendiri (Amri, 2018: 124Ae. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif Problem lain yang berkembang di Barat prihal keluarga adalah munculnya kelompok-kelompok seperti halnya gerakan feminisme, hak asasi manusia, dan LGBT yang saling bahu-membahu menggugat kemapanan tentang isu nilai, keluarga dan Mereka bersama-sama mengutamakan arus kepuasan individu dengan mendongkrak konsep yang sudah mapan (Megawangi, 2014: . Salah satu isu yang mereka gemborkan adalah konsep kesetaraan, dengan penghapusan sistem yang dianggap Mereka menolak adanya campur tangan negara dan agama dalam mengatur tubuh mereka. Aumy body, my choice, my pleasureAy (Shalahuddin, 2020: . Akibat dari adanya penolakan tersebut, mereka dengan bangga berupaya menggugat konsep kepemimpinan laki-laki dalam keluarga, menggugat hukum waris dua banding satu, penggugatan adanya otoritas ulama laki-laki dan mendekonstruksi ayat Al-QurAoan yang dianggap patriarkhi (Megawangi, 2014: . Makna Keluarga dalam Islam Wujud keluarga merupakan sebuah ikatan suci . ontrak pernikaha. yang mensyaratkan adanya komitmen bersama antar pasangan dengan mewujudkan hak-hak dan kewajiban bersama, dimana didalamnya termasuk kewajiban-kewajibannya terhadap anak (Hathout, 2008: 17Ae. Kata keluarga dalam al-QurAoan mengacu pada ahl, qurba, asyirah atau arham. Term tersebut dapat dijelaskan secara luas sebagai sekelompok orang yang tinggal bersama . l-hayAt al-musytaraka. pada suatu tempat . ykan mahu. (Tamam, 2018: . Keluarga juga bisa diartikan sebagai sekelompok orang yang dipersatukan dalam suatu hubungan tertentu, seperti halnya hubungan darah, rumah, pekerjaan, negara ataupun agama (Warsah, 2020: . Bagi Islam, keluarga merupakan salah satu persoalan fundamental yang sangat Bahkan legitimasi keluarga harus didahului dengan adanya ikatan pernikahan dan memenuhi persyaratan yang harus dilaksanakan. Keluarga bukanlah soal MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 166 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki ikatan pernikahan. Lebih dari itu, menurut Badrut Tamam, keluarga merupakan: . Kesepakatan sepasang kekasih untuk hidup bersama yang dijalin dalam tali pernikahan, . Tujuan dari berkeluarga adalah mencari rahmah . aik dari pasangan maupun kasih sayang Tuha. sekaligus bertujuan mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup . , . Azas kekeluargaan adalah monogami, meskipun diperbolehkan untuk poligami, itu memerlukan syarat ketat seperti halnya jumlah istri dan kemampuan berbuat adil, . Didasarkan pada sistem kekerabatan bilateral, yakni merujuk pada garis keturunan kedua orangtua dan . hubungan suami istri adalah hubungan yang saling memahami, melengkapi dan melindungi. (Tamam, 2018:6Ae Demi mewujudkan keluarga ideal, ia harus menjadikan keluarganya sebagai tempat tinggal senyaman mungkin yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan (Asman, 2020: . Keluarga juga harus memiliki nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan dan keutuhan keluarga yang dibangun. Seperti halnya kepemilikan jiwa yang seimbang antara suami-istri yang mengetahui kewajibannya sebagai orangtua kepada anaknya (Megawangi, 2014: . Dalam penjabaran Euis Sunarti dikutip Syamsuddin Arief, beliau menjelaskan bahwa ketahanan atas keutuhan keluarga memerlukan tiga komponen dasar: Pertama. Ketahanan fisik, yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang mumpuni. Kedua. Ketahanan sosial, yakni keluarga yang berorientasi pada komitmen nilai agama, komunikasi yang efektif, komitmen keluarga tinggi . danya pembagian peran, kebersamaan, hubungan sosial, dukungan untuk maju dan berkembang, serta beker-janya mekanisme problem solvin. Ketiga. Ketahanan psikologis, yakni keluarga yang memiliki kemampuan dalam MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif menanggulangi problem non-fisik, konsep diri yang positif dan pengendalian diri (Arif, 2018: . Keluarga yang didukung unsur ketahanan seperti yang dijelaskan Euis Sunarti diatas tentunya memiliki potensi besar menjadi keluarga bahagia yang harmonis serta Pendapat ini sesuai dengan apa yang dijanjikan Allah Swt, bahwa dengan adanya keluarga yang harmonis, kehidupan manusia akan terus berlangsung dari generasi ke AuDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu . manusia yang berkembang biak. Ay Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tandatanda pada kaum yang berfikir. Ay (Q. Ar-Ruum: 21-. Keluarga yang harmonis jelas merupakan sebuah keniscayaan. Adanya komunikasi dialogis yang baik, yang didukung dengan sikap lemah lembut, pemaaf serta mengedepankan aspek keadilan adalah kunci untuk bisa saling mengerti dan menyayangi demi terwujudnya keharmonisan (Chadijah, 2018: . Anggapan keluarga Barat bahwa adanya keluarga yang harmonis adalah sebuah kemustahilan lebih didorong karena rusaknya konsep keluarga mereka, yang mana keluarga tidak berpegang pada nilai agama, melainkan berpijak pada nilai kebebasan dan kesamaan. Zakiah Daradjat dan Konsep Keluarga Zakiah Daradjat hadir sebagai seorang konsultan keluarga sekaligus ahli psikologi dan pendidikan Islam di Indonesia. Beliau menanamkan butir-butir kesehatan mental sebagai pondasi terhindarnya manusia dari berbagai varian gangguan kejiwaan dan penyakit jiwa, serta kemampuan untuk dapat beradaptasi dengan masyarakat dimanapun dia hidup (Daradjat, 2016: . Kesehatan mental yang baik tentunya menjadi kunci peredam adanya konflik dalam berkeluarga. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 168 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif Bagi Zakiah Daradjat, dalam pembentukan keluarga, adanya ikatan pernikahan merupakan unsur utama yang perlu dilewati terlebih dahulu. Pernikahan memerlukan bentuk yang pasti yang disebut dengan Aupernikahan yang bertanggung jawabAy. Maksudnya adalah kepemilikan rasa tanggung jawab . antar suami-istri atas keutuhan keluarga dan anaknya, yang didukung dengan mengikuti ketentuan agama (Daradjat, 1975: Dalam keluarga, orangtua bertanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya, bahkan orang tua berkewajiban menjadi pendidikan pertama . adrasah al-ul. bagi perkembangan anak (Daradjat, 1973: . Selain dalam hal pengurusan anak, keluarga juga perlu dibangun dalam beberapa unsur, yang mana unsur-unsur tersebut sangat membantu membentuk keluarga yang ideal. Disebut Zakiah Daradjat, unsur tersebut adalah: saling mengerti, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai satu sama lain dalam keluarga (Daradjat, 1993: 2Ae. semua unsur tersebut akan terwujud dengan baik apabila didukung dengan keteguhan dalam memegang agamanya (Daradjat, 1982: . Peran Agama dalam Membentuk Keluarga Di tengah derasnya arus modernisasi, kebanyakan orang terlalu fokus pada kebendaan hingga meninggalkan peran sentral agama dalam kehidupan. Kebutuhan akan segala sesuatu meningkat, mereka cenderung memburu waktu, memburu benda dan memburu prestise, hidupnya tak jauh beda dari mesin yang tak mengenal istirahat dan ketenangan. Akibatnya, karena merasa tertekan dengan tuntuan hidup yang tiada habisnya, mereka menjadi gelisah . yang membuatnya susah untuk merasa bahagia (Daradjat, 1973: . Hidup yang mendahulukan keinginan daripada kebutuhan tersebut, manusia modern menjadi sangat individualistik dan egois. Tidak ada namanya hubungan kekeluargaan yang saling mengasihi dan menyayangi, yang ada adalah hubungan MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif kepentingan (Daradjat, 1973: . Hal tersebut tidak hanya berlaku pada perseorangan, tapi juga pada keutuhan keluarga yang dibangun. Problem seperti ini ternyata menyangkut pada problem kejiwaan, dimana cara berfikir, bereaksi, bersikap dan tingkah laku seseorang tidak dapat dipisahkan dari keyakinan akan sesuatu. Keyakinan tersebut kemudian membentuk konstruk pribadi yang dimilikinya (Daradjat, 1970: . Seseorang yang pada dirinya kemudian menghilangkan nilai-nilai agama ternyata membuat jiwanya menjadi kusam dan rusak. Oleh sebab itu, membangun kepribadian dan jiwa yang sehat secara keseluruhan sangatlah dibutuhkan. Membangun kepribadian dan jiwa yang sehat ternyata akan menjadi sebuah kemustahilan apabila tidak dibangun di atas agama dan keimanan yang kuat (Daradjat, 1982: . Demikian halnya pembentukan keluarga yang tidak didasari dengan keteguhan iman dan agamanya. Keluarga tersebut tentunya akan mudah goyah dan terombang-ambing oleh buaian dunia modern yang penuh tipu daya. Contohnya adalah adanya ketidak serasian antara orang tua dan anak yang terpancar pada adanya perbedaan antara nilai-nilai agama dan prilaku orang tuanya. Orang tuanya cenderung sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu cukup untuk melihat perkembangan sang anak (Daradjat, 2002: . Bahkan terkadang anak seringkali dijadikan kambing hitam dalam perselisihan rumah tangga. Persoalan seperti ini membuat anak merasa terintevensi dan tidak dihargai, akhirnya mereka mencari perhatian lain, bahkan ia akan cenderung membenci keluarganya karena ketidak adilan yang dideritanya. Anak seperti ini biasanya mudah terjerumus menjadi nakal, bahkan melakukan tindakan kriminal (Daradjat, 2002: . Melihat hal tersebut, ikatan intens orang tua dan anak tidak boleh memiliki sekat, karena orang tualah penyebab berkembangnya kehidupan rohani anak. Pengenalan anak akan Tuhannya dengan didukung akan metode dan lingkungan yang baik sangatlah MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 170 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif Orang tua perlu memberikan latihan-latihan keagamaan untuk menumbuhkan nilai-nilai dan rasa aman pada anak (Daradjat, 1970: . Memberikan contoh pembiasaan perilaku baik, perbuatan adil pada anak dapat membentuk pribadinya. Apabila pendidikan agama tidak diberikan sedari kecil, maka anak di kemudian hari akan sulit untuk mencerna ilmu agama ketika dewasa. Padahal adanya unsur agama yang tertanam dalam diri setiap insan inilah yang akan membantunya membentuk mental dan kepribadian religius, sehingga segala keinginan dan kebutuhan duniawinya akan terpenuhi tanpa harus keluar dari syariat. Dia sadar, dengan melanggar syariat agama jiwanya justru akan tergoncang, dikarenakan tidak sesuai dengan kepribadian hakikinya yang telah ditanam orang tuanya sedari kecil (Daradjat, 2016: . Iman yang diinterpretasikan dalam bentuk ajaran agama, bangunan keluarga akan menjadi kokoh sehingga membuatnya tenang dan bahagia. Pendapat ini juga di dukung surat Ali-Imron ayat 104 yang menjelaskan mengenai keberuntungan orang-orang beriman yang berbuat baik dan menyeru pada kebajikan (Arrois, 2020: . Keluarga yang dibangun dengan pondasi agama akan menstimulus untuk selalu berbuat kebaikan sehingga mampu mengendalikan dirinya dari hal yang kurang bermanfaat dan mengguncang kejiwaan (Daradjat, 1982: . Urgensi Pendidikan Keluarga dalam Membentuk Generasi Zakiah Daradjat dalam karyanya AuPsikoterapi IslamAy membagi keluarga dalam dua bentuk yakni keluarga besar dan keluarga kecil. Pertama, keluarga besar adalah keluarga yang terdiri dari ibu-bapak, anak-cucu, kakek-nenek, paman-bibi dan keluarga lainnya yang tinggal dalam satu rumah besar yang cukup menaungi keluarga tersebut, dengan perabotan dan kamar yang memadai. Dicontohkan seperti halnya Aurumah gadang tujuh ruang salanja kudo balariAy milik keluarga di Minangkabau (Daradjat, 2002: . Kedua, keluarga kecil yang meliputi ibu-bapak dan anak-anaknya yang MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif belum menikah. Namun pengaruh keluarga besar masih ada, karena dianggap mereka masih memiliki hak untuk menasihati dan membimbing keluarga kecil tersebut yang memang belum memiliki pengalaman yang cukup (Daradjat, 2002: . Dua gambaran di atas, perlu dirumuskan bagaimana pengaruh keluarga dalam pendidikan anak, yang mana keluarga memanglah menjadi faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Secara kodrati, keluarga berkawajiban mendidik anak-anaknya, sejak dalam buaian hingga dewasa dan berkeluarga (Widayanti, 2020: Pendidikan juga berkaitan dengan kesehatan mental, pendidikan bisa berpengaruh pada sikap anak, entah anak akan menjadi nakal, sulit diatur atau sopan dan menjadi orang baik. Sebaliknya, anak yang tidak tersentuh oleh pendidikan keluarga atau merasa kurang diperhatikan akan mempengaruhi kesehatan mental mereka. Perasaan tidak menyenangkan tersebut akan berakumulasi dan membentuk mental yang tidak sehat (Daradjat, 2016: . Melihat pentingnya pendidikan keluarga dalam perkembangan anak, kita perlu merumuskan apa saja pra-syarat yang harus dipenuhi dalam membangun keluarga yang Dengan mengambil perspektif Zakiah Daradjat setidaknya penulis menyimpulkan adanya tiga prasyarat utama mendidik anak, yakni: Pertama, kedua orang tua perlu membangun pengertian, saling menghargai dan mencintai. Hubungan baik antara suami-istri tentunya akan sangat mempengaruhi pola didik anak, sikap saling melengkapi kekurangan yang ada pada pribadi masing-masing akan menimbulkan ikatan yang harmonis. Mereka harus saling bahu-membahu satu sama Hal inilah yang juga akan berpengaruh pada pola pengasuhan yang berimplikasi pada kesehatan mental anak. (Daradjat,2016:. Kedua, orang tua perlu memperhatikan dan mencurahkan kasih sayangnya pada anak, dan jangan pernah mengabaikannya dengan alasan apapun. Diantara penyebab MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 172 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif adanya kegelisahan jiwa seorang anak adalah merasa tidak disayangi baik pada orang tua, saudara dan teman sejawatnya. Banyak kasus anak yang menderita karena kehilangan kasih sayang dalam hidupnya, bahkan ada yang menderita berbagai penyakit yang sulit disembuhkan. Tidak sedikit juga yang pribadinya cenderung menjadi kasar dan kejam, karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang dalam pengalaman hidupnya (Daradjat, 1982: . Namun, perhatian berlebihan yang diberikan orang tua kepada anak juga tidaklah baik, justru bisa menjadi bumerang pada Anak cenderung akan menjadi AumanjaAy dan sulit untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia akan tumbuh besar dengan bayang-bayang orang tuanya (Daradjat, 2002: . Ketiga, orang tua perlu paham agama. Sikap dan pribadi orang tua akan langsung membekas pada benak anak, karena anak memang sejatinya adalah peniru ulung prilaku orang tuanya. Pendidikan dan perilaku orang tua terhadap anaknya seperti penanaman adab, tata cara beribadah dan pembiasaan berbuat baik akan sangat berpengaruh pada masa depan anak. Ketika seorang anak di masa pertumbuhan pertamanya . mur 0-12 tahu. tidak memiliki pengalaman pendidikan keagamaan, maka ia akan menjadi pribadi yang antipati terhadap agama (Daradjat, 1970: 58Ae. Pemahaman orang tua terkait agama sangatlah urgent. Pertumbuhan agama pada anak sangatlah tergantung pada didikan agama orang tuanya. Adanya rasa kasih sayang, melindungi dan perlakuan baik orang tuanya akan sangat mendukung anak untuk mudah menerima dan mengikuti ajaran agama yang di berikan orang tuanya (Daradjat, 1970: . MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif PENUTUP Keluarga merupakan salah satu bangunan fundamental dalam Islam yang sangat Keluarga yang baik dengan segala pendidikan dan lingkungannya akan membantu membentuk generasi yang gemilang. Pandangan ini diamini oleh Zakiah Daradjat, selaku psikolog dan pemerhati pendidikan Islam ia berpandangan bahwa tujuan berkeluarga dalam Islam adalah membentuk manusia-manusia yang beriman dan beradab. Dengan adanya iman yang di interpretasikan dalam bentuk ajaran agama, bangunan keluarga akan menjadi kokoh sehingga membuatnya tenang dan bahagia. Keluarga yang dibangun dengan pondasi agama akan menstimulus untuk selalu berbuat kebaikan sehingga mampu mengendalikan dirinya hal yang kurang bermanfaat dan mengguncang kejiwaan. DAFTAR RUJUKAN Amri. Saeful, and Tali Tulab. AuTauhid: Prinsip Keluarga Dalam Islam (Problem Keluarga Di Bara. Ay Ulul Albab 1 . Arif. Syamsuddin. Islam Dan Diabolisme Intelektual. Jakarta Selatan: INSIST. Arroisi. M P Perdana, and R Hutama. AuPembaharuan Pemikiran Islam Model Muhammadiyah Dan Nahdlatul Ulama. Ay Jurnal Islam Nusantara 04 . : 172Ae88. https://doi. org/10. 33852/jurnalin. Arroisi. Jarman. Iqbal Maulana Alfiansyah, and Martin Putra Perdana. AuPsikologi Modern Perspektif Malik Badri ( Analisis Kritis Atas Paradigma Psikoanalisa Dan Behaviourisme ),Ay no. February: 0Ae13. Asman. AuKeluarga Sakinah Dalam Kajian Hukum Islam. Ay Al-Qadha: Jurnal Hukum Dan Perundang-Undangan 7 . Chadijah. Siti. AuKarakteristik Keluarga Sakinah Dalam Islam. Ay Rausyan Fikr 14 . Daradjat. Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. AiAiAi. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung. AiAiAi. Perkawinan Yang Bertanggung Jawab. Jakarta: Bulan Bintang. AiAiAi. Islam Dan Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 174 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif AiAiAi. Ketenangan Dan Kebahagiaan Dalam Keluarga. Jakarta: Bulan Bintang. AiAiAi. Psikoterapi Islam. Jakarta: Bulan Bintang. AiAiAi. Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung. Dewi. Elisabeth Diana. AuProfil Keluarga Di Barat. Ay Al-Insan: Jurnal Kajian Islam 3 . Djafar. Herdiyanto. AuStudi Komparasi Konsep Pendidikan Dalam Keluarga Menurut Zakiah Daradjat Dan Ki Hajar Dewantara. Ay Jurnal Ilmiah Al-Jauhari 2 . Hathout. Hassan. Panduan Seks Islami. Jakarta: Zahra. Ipandang. Ipandang. AuADAB PERNIKAHAN PERSPEKTIF HUKUM ISLAM MENURUT MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL ALBANI. Ay Muaddib: Studi Kependidikan Dan Keislaman 1 . : 205Ae14. Laslett. Peter. AuCharacteristics of the Western Family Considered Over Time. Ay Journal of Family History 2 . Marwing. Anita, and Yunus. Perempuan Islam Dalam Berbagai Perspektif: Politik. Pendidikan. Psikologi. Ekonomi. Sosial. Budaya. Edited by Hamsah Hasan. Yogyakarta: Anggota IKAPI. Megawangi. Ratna. Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Bandung: IKAPI. AiAiAi. Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender (Edisi Revis. Depok: Indonesia Heritage Foundation (IHF). Muslih. Mohammad. Happy Susanto, and Martin Putra Perdana. AuThe Paradigm of Islamization of Knowledge According to SMN Al-Attas (From Islamization of Science Islamic Scienc. Ay Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam. https://doi. org/10. 21111/tasfiyah. Nunzairina. AuSejarah Pemikiran Psikologi Islam Zakiah Daradjat. Ay JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam 2 . Saifuddin. Ahmad. Psikologi Agama: Implementasi Psikologi Untuk Memahami Perilaku Beragama. Jakarta Timur: Kencana. Shalahuddin. Henri. Indahnya Keserasian Gender Dalam Islam. Jakarta Selatan: INSIST. Tamam. Ahmad Badrut. AuKeluarga Dalam Perspektif Al QurAoan: Sebuah Kajian Tematik Tentang Konsep Keluarga. Ay Alamtara 2 . Thohir. Umar Faruq. AuKonsep Keluarga Dalam Al-QurAoan: Pendekatan Linguistik Dalam Hukum Perkawinan Islam. Ay ISTIAoDAL 2 . Wahy. Hasbi. AuKeluarga Sebagai Basis Pendidikan Pertama Dan Utama. Ay Didaktika MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol. 11 No. 02 Juli-Desember 2021 e-ISSN: 2540-8348 p-ISSN: 2088-3390 Jarman Arroisi dan M. Perdana. Pendidikan Keluarga Perspektif XII . Warsah. Idi. Pendidikan Islam Dalam Keluarga: Studi Psikologis Dan Sosiologis Masyarakat Multi Agama Desa Suro Bali. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press. Widayanti. Fera Eka. AuPendidikan Anak Dalam Keluarga (Telaah Kitab Haditst Riyadush Shalihin. Ay Muaddib: Studi Kependidikan Dan Keislaman 10 . : 169Ae81. Yusuf. Husein Muhammad. Keluarga Muslim Dan Tantangannya. Edited by Salim Basyarahil. Gema Insani Press. Zarkasyi. Hamid Fahmy. Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi. Liberalisasi. Dan Islam. Jakarta: INSIST-MIUMI. MUADDIB: Studi Kependidikan dan Keislaman. Volume 11 Nomor 01 Tahun 2021 176