Vol 2 No. 1 Januari 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 38 - 42 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/twtydg42 PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA SD MELALUI METODE CERITA BERGAMBAR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Sheza Nazwa Aulia a. Siti Rohmah b*. Desty Endra Wati Subroto c a Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar shezanazwa2609@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten b Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar , sitirohmah12479@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten c Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar , desty2. subroto@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten Korespondensi ABSTRACT The ability to read comprehension is one aspect of the skills that elementary school students need to have. However, many students still experience difficulties in understanding the content of the text they read. This article examines the use of picture story method as a strategy to improve students reading comprehension This method integritas visual element with narrative text,thereby helping students more easily understand the content of the reading. Apart from improving understanding of the illustrated stories also play a role in increasing students interest and motivation to learn. This article advocates the wider application of the picture story method in Indonesia language learning in elementary schools Keywords: reading comprehension,picture stories,Indonesian language learning Abstrak Kemampuan membaca pemahaman merupakan salah satu aspek keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh siswa sekolah dasar. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami isi teks yang Tulisan ini mengkaji penggunaan metode cerita bergambar sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Metode ini mengintregritaskan elemen visual dengan teks naratif, sehingga membantu siswa lebih mudah memahami isi bacaan. Selain itu dapat meningkatkankan pemahaman terhadap teks, cerita bergambar juga berperan dalam meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Artikel ini menganjurkan penerapan metode cerita bergambar secara lebih luas dalam pembelajaran bahasa Indonesia disekolah dasar Kata Kunci: pemahaman membaca,cerita bergambar,pembelajaran bahasa Indonesia PENDAHULUAN Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap individu, sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan Hal ini juga ditegaskan dalam UUD 1945 Pasal 31, yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi hak yang harus dinikmati oleh semua orang tanpa memandang latar belakang atau kondisi mereka. Selain itu, pendidikan memainkan peran penting dalam pengembangan potensi individu dan membantu mereka mewujudkan diri. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menegaskan hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Pendidikan menjadi salah satu cara penting untuk membangun kemajuan bangsa. Sebuah negara yang maju sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang berkualitas. Kesadaran akan pentingnya pendidikan di Indonesia telah diterapkan sejak lama, seperti terlihat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008. Received November 25, 2024. Revised Desember 11, 2024. Accepted Januari 18, 2025. Published Januari 20, 2025 Sheza Nazwa Aulia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 38 Ae 42 yang mewajibkan program belajar selama sembilan tahunAienam tahun di tingkat sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. Sekolah dasar menjadi pondasi utama dalam sistem pendidikan, mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah dasar memiliki peran signifikan dalam membentuk dasar-dasar ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai konsep serta materi yang diajarkan. Seiring dengan perkembangan global mengenai arti penting pendidikan, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pendidikan diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi secara menyeluruh. Jika dibandingkan dengan masa lalu, fokus kompetensi sumber daya manusia saat ini lebih diarahkan pada kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Kemampuan berpikir mencakup kemampuan untuk berkolaborasi secara efektif serta menyampaikan gagasan yang kritis dan kreatif, yang menjadi kunci dalam menghadapi tuntutan dunia kerja dan kehidupan Salah satunya yaitu,Pembelajaran bahasa Indonesia ditingkat sekolah dasar bertujuan agar siswa dapat mempelajari bahasa Indonesia dengan baik. Dalam hal ini,guru memiliki peran utama dalam keberhasilan pembelajaran tersebut. Banyak anak belum mampu berbicara bahasa Indonesia secara baik dan benar karna mereka lebih serang menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari hari. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab guru untuk mengajarkan bahasa Indonesia agar siswa dapat berkomunikasi dengan lancar menggunakan bahasa nasional. Melalui standar kompetensi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu mengoptimalkan potensi mereka sesuai dengan bakat, kebutuhan, dan minat masing-masing. Selain itu, siswa juga didorong untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra dan hasil intelektual bangsa. Peran guru adalah memfokuskan perhatian pada pengembangan kemampuan berbahasa siswa dengan menyediakan beragam aktivitas berbahasa dan sumber belajar yang mendukung peningkatan keterampilan berbahasa mereka. Literasi menjadi isu yang sangat penting, terutama di era modern seperti saat ini, karena keberhasilan suatu masyarakat bergantung pada kemampuan generasi mudanya untuk menghasilkan inovasi. Bangsa yang memiliki budaya literasi yang kuat menunjukkan kemampuan untuk berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif, sehingga mampu bersaing di tingkat global (Laksmi, 2. Membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan berbagai aspek, tidak hanya sekadar melafalkan kata-kata dari teks tertulis. Aktivitas ini mencakup proses visual, pemikiran, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca melibatkan penerjemahan simbol-simbol tulisan menjadi kata-kata yang dapat dipahami secara lisan. Sebagai bagian dari proses berpikir, kegiatan ini meliputi pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, analisis kritis, dan pengembangan pemahaman yang kreatif. Aktivitas membaca di sekolah dasar melibatkan pengenalan huruf, bunyi, serta pemahaman terhadap makna dari suatu bacaan. Membaca tidak sekadar aktivitas pasif, melainkan proses aktif di mana pembaca menafsirkan, mengekstraksi, menegosiasikan, dan membangun makna dari teks (Zuchdi, 2. Membaca pemahaman, salah satu jenis keterampilan membaca, adalah proses kognitif yang kompleks yang bertujuan menemukan makna dalam bacaan. Aktivitas ini mencakup interaksi antara pembaca dengan teks untuk membangun pemahaman (Duke & Pearson, 2. Kemampuan membaca yang baik sangat penting bagi siswa untuk mendukung berbagai keterampilan Siswa yang menguasai keterampilan ini dapat memperoleh informasi baru, memahami bacaan lebih baik, menulis secara ekspresif, dan menyelesaikan masalah (Aybala, 2017. Verhoeven. Reitsma, & Siegel, 2. Membaca juga melibatkan proses membangun kesadaran terhadap makna di lingkungan sekitar, sehingga siswa dapat menginterpretasikan pesan yang terkandung dalam teks dan memberikan pemahaman mendalam terhadap bacaan. Buku cerita bergambar adalah buku yang mengintegrasikan teks dan gambar secara harmonis, di mana gambar mendukung cerita yang disampaikan melalui teks. Media gambar dalam buku ini membantu memperkuat daya ingat siswa serta mempermudah mereka memahami isi Buku cerita bergambar menjadi pilihan ideal untuk siswa karena tampilannya menarik dan menyenangkan, dilengkapi dengan berbagai desain gambar berwarna yang membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, ilustrasi dalam buku cerita bergambar mampu menciptakan suasana atau emosi tertentu melalui penggambaran latar, ekspresi wajah, dan pakaian tokoh-tokohnya. Hal ini memungkinkan siswa untuk lebih mendalami karakter dalam cerita serta memahami makna yang terkandung di dalamnya dengan lebih baik. Berdasarkan uraian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa SD Melalui Metode Cerita Bergambar Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia (Sheza Nazwa Auli. Sheza Nazwa Aulia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 38 Ae 42 mengidentifikasi sejauh mana pengaruh penggunaan media buku cerita bergambar terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Hakikat membaca pemahaman Menurut Sunarti . , membaca pemahaman . eading for understandin. adalah aktivitas membaca yang bertujuan memahami dan menganalisis isi bacaan . Hal ini dapat terlihat dari hasil belajar siswa, di mana mereka mampu menjawab pertanyaan dalam bentuk soal pilihan ganda yang berkaitan dengan isi buku cerita bergambar yang diberikan. Berdasarkan pendapat tersebut, membaca pemahaman dapat disimpulkan sebagai proses membaca yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari teks. Aktivitas ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan, melainkan harus memperhatikan prinsip-prinsip membaca Dalam prosesnya, pembaca diharapkan dapat menangkap ide atau pesan, baik yang tersurat maupun tersirat, yang ingin disampaikan oleh penulis melalui teks yang dibaca. Menurut Nopriani & Pebrianti . , membaca pemahaman adalah proses membaca yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang terdapat dalam teks bacaan . Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman lebih dari sekadar aktivitas membaca biasa. Dalam proses ini, seseorang diharapkan tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna yang terkandung dalam teks bacaan yang dibaca Hakikat media buku cerita bergambar Ngura et al. menyatakan bahwa buku cerita bergambar adalah buku yang menyajikan cerita dengan gaya bahasa yang sederhana dan cenderung informal, dilengkapi dengan gambar yang saling terkait untuk menyampaikan informasi dan membantu mengembangkan kemampuan anak dalam memahami kalimat . Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar adalah buku yang menggabungkan gambar dan teks, di mana gambar berfungsi sebagai representasi cerita, sementara teks membantu menyampaikan cerita yang ditampilkan melalui gambar. Secara keseluruhan, buku cerita bergambar adalah buku yang mengandung unsur gambar yang mendukung dan memperindah teks cerita, serta berperan penting dalam memfasilitasi pemahaman cerita oleh pembaca, khususnya siswa. Gambar dalam buku ini dapat mempermudah siswa dalam memahami isi cerita yang sedang mereka baca. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak pada pelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kajian tentang penerapan metode tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif, yang menurut Zed dalam (Rahayu, 2. berkaitan dengan analisis terhadap kejadian atau fenomena secara sosial. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menurut Ibnu dalam (Arifudin, 2. menggunakan data dalam bentuk verbal tanpa melibatkan teknik statistik. Dengan demikian, penelitian ini menganalisis data tanpa menggunakan angka. Penelitian ini memiliki dua objek, yaitu objek formal dan objek material (Arifudin, 2. , di mana objek formal berisi data yang berkaitan dengan kajian tentang penerapan metode bercerita untuk meningkatkan literasi anak. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, observasi, dan wawancara, sesuai dengan pendapat Bahri . yang menyebutkan bahwa pengumpulan data adalah langkah penting dalam Sumber data yang digunakan mencakup data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari individu yang diselidiki, sementara data sekunder berasal dari pustaka seperti buku dan jurnal-jurnal nasional maupun internasional. Metode observasi, dokumentasi, dan wawancara digunakan sebagai alat pengumpulan data, karena penelitian ini bersifat kepustakaan. Seperti yang dijelaskan oleh Ulfah . , teknik ini mengumpulkan data dari sumber primer dan sekunder. Analisis data dimulai sejak pengumpulan data dan dilakukan dengan pendekatan induktif untuk menghasilkan kesimpulan umum, seperti yang disarankan oleh Apiyani . Data yang terkumpul dicatat, diklasifikasikan, dan dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif analitis untuk memperoleh hasil yang representatif, sebagaimana dijelaskan oleh Nasser . dan Ulfah . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Mekarsari dengan tujuan menerapkan media buku cerita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa saat membaca buku. Penelitian ini melibatkan 35 siswa kelas 4, terdiri dari 20 laki-laki dan 15 perempuan. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 38 - 42 Sheza Nazwa Aulia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 38 Ae 42 dan dilakukan pada bulan desember 2024 selama satu hari. Kegiatan ini dilakukan secara tatap muka. Selama masa penugasan, peneliti bertugas membantu mengajarkan Bahasa Indonesia di SD Mekarsari dengan fokus pada peningkatan literasi siswa. Materi yang diajarkan berkaitan dengan tema binatang, khususnya mengenai kisah Nabi Nuh yang menyelamatkan binatang dari banjir besar. Kegiatan literasi ini mengkombinasikan metode bercerita dengan teknik bertanya . , penggambaran . , penarikan kesimpulan . , dan menceritakan ulang . Untuk menghubungkan cerita dengan kehidupan siswa, metode bercerita dilakukan dengan tujuan menarik minat siswa untuk membaca lebih banyak buku, mengingat mereka lebih tertarik pada buku yang banyak gambar dan warna daripada teks biasa. Teknik penyampaian ini bertujuan untuk menyelaraskan pertanyaan yang diajukan oleh pengajar dengan isi cerita yang disampaikan. Tabel 1. 1 Rekapitulasi Pencapaian Daya Ingat Mata Pembelajaran Bahasa Indonesia pada presets Ketertarikan membaca Ketertidaktarikan membaca Siswa laki laki 85% Siswa perempuan 85% Penelitian ini fokus pada hasil observasi kegiatan literasi menggunakan "metode bercerita" yang dilakukan Di SD Mekarsari pada hari Rabu bulan Desember 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menilai penerapan metode tersebut dalam meningkatkan literasi siswa di sekolah tersebut. Pembahasan dibagi menjadi dua bagian: pertama, mengenai kecocokan jawaban siswa terhadap pertanyaan yang diberikan, yang disajikan dalam tabel, dan kedua, tentang observasi sikap atau perilaku siswa sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang diajukan, yang disajikan dalam bentuk narasi. Pada awalnya, banyak siswa yang kurang tertarik karena lebih suka bermain daripada membaca buku. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membiasakan mereka dengan kegiatan membaca. Guru kemudian menugaskan siswa untuk membawa satu buku cerita atau buku lainnya yang relevan untuk dibaca dan dikumpulkan di sekolah. Buku-buku tersebut disusun di rak untuk menciptakan sudut baca, yang diharapkan dapat menarik minat siswa dan meningkatkan kebiasaan membaca mereka. Peran guru sangat penting dalam meningkatkan minat baca siswa, dengan menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti perpustakaan yang bersih dan rapi serta menyediakan buku yang Selain itu, penerapan berbagai metode mengajar yang mendukung perkembangan minat baca siswa, seperti metode yang membangkitkan rasa ingin tahu dan memberikan peluang untuk berekspresi kreatif, turut mendukung proses literasi di sekolah. Guru di SD Mekarsari sudah menggunakan berbagai strategi pembelajaran, seperti pendekatan yang berpusat pada siswa melalui strategi pembelajaran discovery dan inquiry, yang mendukung proses pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan literasi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa meskipun kegiatan literasi ini berlangsung dalam waktu yang singkat, pelaksanaannya berjalan dengan baik dan antusiasme siswa melebihi ekspektasi. Namun, tantangan utama terletak pada keberlanjutan kegiatan ini. Kegiatan literasi tidak hanya dapat dilaksanakan di sekolah, namun harus dimulai dari lingkungan keluarga. Hasil survei PISA 2012 menunjukkan bahwa anak-anak yang sering berdiskusi tentang isu sosial atau budaya dengan orang tuanya memiliki kemampuan literasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, meskipun orang tua mungkin kesulitan dalam membacakan atau menceritakan cerita, mereka dapat memperbaikinya dengan menciptakan interaksi atau komunikasi tentang topik sosial budaya di rumah. Penelitian ini juga menyarankan agar orang tua memilih media yang menarik serta menggunakan metode bercerita yang efektif, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan logis anak. Meskipun kegiatan literasi ini dilakukan dalam waktu singkat dan belum mencapai hasil maksimal, pelaksanaan kegiatan literasi di lingkungan keluarga dalam jangka waktu lebih lama diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi penelitian di masa depan. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa SD Melalui Metode Cerita Bergambar Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia (Sheza Nazwa Auli. Sheza Nazwa Aulia dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 38 Ae 42 DAFTAR PUSTAKA