Hubungan Pestisida terhadap Hipertensi pada Petani Sayur Mayur di Wilayah Puskesmas Sambirejo Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2021 Almaini1*. Mulyadi2. Yanti Sutriyanti3. Chandra Buana4 Prodi Keperawatan Curup. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Curup. Indonesia *almaini. 10@gmail. 1,2,3,4 Abstract Hypertension is often called the silent killer because it is often without complaints, so the patient does not know he is suffering from hypertension and is only known after complications occur. It is estimated that hypertension cases in Indonesia are 63,309,620 people, while the death rate in Indonesia due to hypertension is 427,218 deaths. Exposure to pesticides in the long term can cause chronic poisoning in humans so that it can cause various health impacts on the community, especially farmers who use pesticides, one of the effects is hypertension. Puskesmas Sambirejo. Rejang Lebong Regency. This study used a cross-sectional study method . ross-sectional stud. Sampling was done using a simple random technique, and the number of samples drawn was 52 people. The data collection instrument used a questionnaire. From the results of the bivariate statistical analysis, there was a statistically significant relationship between years of being a farmer p=0. OR=2. 98, and the combination of pesticide use p=0. 001 OR=9. 9 and the incidence of hypertension. The results of the multivariate analysis found that length of time being a farmer was the dominant factor in influencing the incidence of hypertension in vegetable farmers in the Sambirejo Health Center area, p = 0. OR = 2. The conclusion is that there is a statistically significant relationship between length of time being a farmer and the incidence of hypertension in vegetable farmers in the Sambirejo Health Center area. It is suggested that further research is needed to obtain a causal relationship between hypertension and length of time being a farmer. Keywords: hypertension, pesticides, farmer Abstrak Hipertensi sering disebut the silent killer karena acap kali tanpa keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya sedang menderita hipertensi. Diperkirakan kasus hipertensi di Indonesia 620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia sebesar 427. 218 kematian. Pemaparan pestisida dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan keracunan kronik dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, salah satunya penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan pestisida terhadap kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah puskesmas Sambirejo Kabupaten Rejang Lebong. Metode penelitian crosectional study ( studi potong lintan. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik acak sederhana, jumlah sampel sebanyak 52 orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan tensimeter dan Dari hasil analisis statistic bivariat terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara lama menjadi petani p=0,019. OR=2,98, dan kombinasi pengunaan pestisida p= 0,001 OR=9,9 dengan kejadian hipertensi. Hasil analisis multivariat menemukan lama mejadi petani menjadi faktor dominan dalam mempengaruhi kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah Puskesmas Sambirejo p=0,019. OR=2,098. Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara lama menjadi petani dengan kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah Puskesmas Sambirejo. Saran perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hubungan sebab akibat antara hipertensi dan lama menjadi petani. Kata kunci: hipertensi, pestisida, petani Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 ISSN: . 2656-6222, . 2657-1595 DOI 10. 33088/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 42 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 PENDAHULUAN Hipertensi sering disebut the silent killer karena acap kali tanpa keluhan. Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427. 218 kematian (Kemenkes 2. Pada tahun 2013, prevalensi hipertensi pada petani Indonesia mecapai 25% (Kemenkes 2. Hasil penelitian Fitria dkk . di Kabupaten Batang menemukan 16,8%. hipertensi pada Petani. Di Hasil survey yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan pada tahun 2019 ditemukan 37 % Proporsi hipertensi pada populasi petani sekitar 20%. Pemaparan pestisida dalam waktu yang lama dapat menimbulkan keracunan kronik terhadap manusia sehingga dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan salah satu dampak tersebut adalah hipertensi. Petani menjadi kelompok yang berisiko karena selama bekerja petani mendapat kontak menimbulkan dampak kenaikan tekanan darahyaitu bahan kimia beracun yang terdapat di dalam pestisida (Berg dkk, 2. Penelitian ini bertujuan untuk pestisida terhadap kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah puskesmas Sambirejo Kabupaten Rejang Lebong. Wilayah Puskemas Sambirejo sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Selupu Rejang yang memiliki potensi pada sektor pertanian khususnya pertanian tanaman sayur mayur. Berdasarkan data Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Selupu Rejang terdapat sebanyak lebih dari 2000 orang petani sayur mayur. Luas lahan pertanian tanaman sayur mayur di kecamatan Selupu Rejang mencapai 800 Tanaman memerlukan perwatan khusus baik pemupukan dan pengendalian hama. Pengendalian berlangsung sejak pembibitan hingga sampai akhir masa panen. Sehingga petani tanaman sayur mayur lebih banyak kontak dengan pestisida dibandingkan dengan petani tanaman sayur mayur lainnya. Semakin sering orang terpapar dengan racun pestisida semakin besar potensi terjadi keracunan, karena terjadi akumulasi kadar racun di dalam tubuh (Abou-Donia. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil Analisis Univariat. Dari hasil analisis univariat dapat responden berdasarkan Jenis kelamin. Tingkat pendidikan dan Tempat tinggal di wilayah Puskesmas Sambirejo, sebagai mana disajikan dalam tabel 1 dan tabel 2. Tabel 1. Gambaran Distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin dan tingkat No. Variabel Jenis Kelamin -Laki-laki -Perempuan Tingkat Pendidikan -SD -SMP -SMA Sebagian besar . ,1 %) responden adalah berjenis kelamin laki-laki, hanya 2 orang . ,9%) responden yang berjenis kelamin Almaini dkk. Hubungan Pestisida Terhadap Hipertens. 43 Tabel 2. Gambaran Distribusi Responden berdasarkan tempat tinggal No. Nama Desa/Kelurahan Desa Sambirejo Desa Suban Ayam Desa Air Putih Kali Bandung Desa Karang Jaya Kelurahan Air Duku TOTAL Frekuensi Responden bertempat tinggal menyebar di seluruh wilayah Puskesmas Sambirejo dan yang terbanyak adalah bertempat tinggal di Desa Sambirejo yaitu 13 orang . %) sedangkan yang paling sedikit adalah yang betempat tinggal di Desa Karang Jaya 8 orang . ,4%). Analisis Bivariat Hasil analisis bavariat faktor risiko penggunaan pestisida yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah Puskesmas Sambirejo disajikan pada tabel tabel 4. Tabel 3. Hubungan Penggunaan Pestisda dengan Hipertensi Variabel Lama Menjadi >10 tahun <10 tahun Durasi Menyemprot >2jam <2jam Frekuensi >2 kali <2 kali Penggunaan APD APD TidakLengkap APD Lengkap N (%) Nilai OR ( CI- 16 . 0,026 4,8 . ,1220,. 0,013 6,0 . ,3227,. 0,963 1,05. ,1010,. 0,963 1,05. ,1010,. Posisi Melawan Searah angin Cara Tidak sesuai Sesuai Kombinasi Pestisida <2macam 2 . 0,482 80 . 0,482 9,91. ,0947,. Dari hasil uji statistik bivariate terdapat 3 variabel yang berhubungan bermakna secara statistik yaitu variable lama menjadi petani p=0,026. OR= 4,8. CI. 95% . ,1220,. , artinya orang yang menjadi petani penyemprot lebih dari 10 tahun berisiko menderita hipertensi 4,8 kali dibandingkan dengan yang kurang dari 10 tahun. Variabel Durasi Menyemprot p=0,013. OR=6,0. CI. 95% . ,32-27,. , artinya orang yang menyemprot lebih dari 2 kali per minggu berisiko menderita hipertensi 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang menyemprot kurang dari 2 kali dan variable Kombinasi penggunaan Pestisida p=0,001. OR=9,91. CI. ,09-47,. Artinya orang yang mengkombinasikan pestisida lebih dari 2 macam pesitsida berisiko 10 kali lebih mengkominasikan 2 maacam saja. Analisis Multivariat Analisis Multivariat bertujuan untuk mencari hubungan variable variabel terhadap suatu obyek secara simultan atau Analisis multivariat dilakukan pada variable lama menjadi petani dan 44 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 kombinasi penggunaan pestisida. Hasil analisis multivariate disajikan pada tabel 5. Tabel 4. Analisis multivariat factor risko berhungan dengan Hipertensi pada petani sayur mayur Variabel Independen Lama Menjadi Petani Durasi Menyemprot Kombinasi Pestisida 1,323 0,019 (EXp. 2,098 1,046,88 0,219 0,461 1,020 1,407 0,032 2,090 0,922,90 1,015,81 Dari tabel 4, variabel lama menjadi petani . =0,019 OR=2,. memiliki hubungan yang signifikan secara statistic dengan kejadian hipertensi setelah dianalisis secara bersamaan dengan Durasi Menyemprot dan kombinasi penggunaan pestisida, responden yang menjadi petani penyemprot lebih dari 10 tahun mempunyai risiko 2,098 kali lebih besar akan menderita hipertensi dibandingkan dengan responden yang menjadi petani kurang dari 10 Nilai B = Logaritma natural dari 2,098 yaitu 1,323 . Nilai B positif berarti lama menjadi petani berhubungan positif dengan kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Sambirejo. Variabel durasi Menyemprot . =0,461 OR=1,. tidak berhubungan signifikan secara statistic dengan kejadian hipertensi setelah dilakukan analisis secara bersamaan dengan faktor lama menjadi petani kombinasi penggunaan pestisida. Sedangkan variabel kombinasi penggunaan pestisida . = 0,032 OR=2,. memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan hipertensi setelah dilakukan analisis secara bersamaan dengan faktor lainnya yaitu lama menjadi petani dan durasi menyemrot, penggunaan pestisida lebih dari 2 macam lebih berisiko 2,090 kali lebih besar menderita hipertensi di bandingkan yang hanya mengkombinasikan 2 macam pestisida saja. Nilai B= Logaritma natural 2,090 adalah 1,407, dengan nilai B positif bearti kombinasi penggunaan pestisida lebih dari 2 macam hipertensi di Wilayah Puskesmas Sambirejo. PEMBAHASAN Gangguan kesehatan akibat pestisida dapat timbul pada berbagai sistem organ manusia termasuk sistem kontrol tekanan darah dan neurobehavior, (Wiadi, dkk Paparan pestisida yang dialami oleh petani dapat melalui berbagai kegiatan petani seperti proses membawa pestisida penyemprotan pestisida di lahan pertanian dan mencuci alat yang sudah digunakan berpotensi menimbulkan paparan pada petani baik melalui kulit ataupun pernapasan (Pratama, 2. Hasil penelitian ini menemukan bahwa menjadi petani penyemprot lebih dari 10 tahun memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan hipertensi pada petani sayur mayur. Faktor risiko lain yang berhubungan secara signifikan dengan hipertensi pada petani sayur mayur adalah mengkombinasikan pestisida lebih dari 2 Lama menjadi petani Hasil analisis deskriptif frekuensi variabel lama menjadi petani lebih dari 10 tahun sebanyak 16 orang . ,8 %). Hasil analisis bivariate menunjukkan ada hubungan yang signifikan secara statistik p= 0,026. OR=4,8. Hasil analisis multivariate variable lama menjadi petani juga menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistic p=0,019. OR=2,98. Hasil Almaini dkk. Hubungan Pestisida Terhadap Hipertens. 45 penelitian yang dilakukan oleh Niza dkk 2016, yang menyatakan bahwa paparan jangka panjang organofosfat peningkatan risiko aterosklerosis sehingga dapat memicu penyakit hipertensi. Kelainan yang muncul akibat pemaparan ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya peningkatan radikal bebas, akumulasi oksigen reaktif yang tinggi,serta dapat meningkatkan peroksidase lemak. Semua pajanan ini akan menginduksi terjadinya modifikasi oksidatif didalam pembuluh Terdapat korelasi yang signifikan antara kadar kolesterol total dalam darah dengan sistolik,juga trigliserida dan tekanan darah diastolik. Kontribusi kolesterol total dan LDL terhadap nilai tekanan darah sistolik adalah 11,9% (Anika Dkk, 2. Penelitian Berg dkk, . di Hono Lulu Hawaii, menemukan bahwa paparan kronis pekerjaterhadap pestisida memainkan peran dalam perkembangan penyakit Keracunan akut dan keracunan kronis insektisida dapat menyebabkan degenerasi dinding pembuluh darah. Stres oksidatif yang beredar di dalam pembuluh darah juga akan mengoksidasi LDL . ow-density lipoprotei. , dan lama kelamaan akan terjadi agregasi sel radang pada pembuluh Terdapat korelasi yang signifikan antara kolesterol total dengan tekanan darah sistolik, juga antara trigliserida dan tekanan darah diastolik. Kontribusi kolesterol total dan LDL terhadap nilai tekanan darah sistolik adalah 11,9% (Anika Dkk, 2. Hasil menyemprot tidak menunjukan hubungan yang signifikan secara statistic p=0,461, or=1,020. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Agustina F dkk, 2018 di Jawa tengah yang menemukan ada hubungan yang signifikan antara Durasi penyemprotan dengan kejadian hipertensi pada petani. Hasil penelitian ini juga berbeda dengan hasil penelitian Ipnawati dkk, yang menemukan bahwa durasi penyemrotan dalam berhubungan dengan risiko keracunan pestisida. Atero sclerosis menjadi pemicu penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk Pemaparan pestisida dalam jangka waktu yang lama membuat aorta menjadi lebih kaku, hal ini terjadi akibat perubahan serabut kolagen dan elastin. Ketika pembuluh aorta menjadi kaku, maka tekanan sistolik akan meningkat. Variabel durasi meyemprot pada analisis univariat menemukan 5 ororang . ,6%) responden yang menyemprot lebih dari 2 kali seminggu. Hasil analisis bivariate menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara frekuensi menyemprot lebih dari 2 kali seminggu dengan kejadian hipertensi p=0,963. OR=1. Temuan penelitian ini tidak sama dengan penelitian Ipnawati dkk hubungan yang signifikan antara frekuensi menyemprot dengan keracunan pestisida p=0,001. OR = 13. 95% CI =3. 551 Ae Kadar LDL dalam darah lebih tinggi di antara pekerja yang terpapar pestisida daripada kelompok pembanding (Zago et al. , 2. (Niza, dkk. Durasi Menyemprot. Frekuensi Menyemprot 46 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 557, petani yang menyemprot > 2 kali dalam seminggu berisiko 14 kali lebih besar menjadi keracunan pestisida menyemprot O 2 kali dalam seminggu. petani terpapar racun pestisida sehingga tidak terjadi akumulasi pestisida didalam tubuh dan mencegah keracunan kronis pestisida sehingga mencegah risiko Penggunaan APD Cara mencampur pestisida Dari hasil analisis univariat variable penggunaan alat pelindung diri (APD), responden yang tidak menggunakan APD dengan benar sebanyak 6 orang . ,5%). Hasil analisis bivariate menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistic antara tidak penggunakan APD dengan benar terhadap kejadian hipertensi p=0,936. OR=1,05. Hasil penelitian ini berbeda dengan penlitian Lousa M, dkk 2018 yang menemukan ada hubungan yang signifikan secara statistik p=0,015 antara penggunaan APD dengan kejadian hipertensi di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Pada hasil analisi univariat variable cara mencampur pestisida, responden yang mencampur pestisida yang tidak sesuai dengan petunjuk hanya 2 orang . ,8%), selebihnya 96,2% mencampur pestisida dengan benar. Hasil analisis bivariate menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistic p=0,482 antara cara mencampur pestisida dengan kejadian Puskesmas Sambirejo. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Septiana dkk . , di Sumowono Kabupaten Semarang yang menemukan ada hubungan yang bermakna secara statisti antara praktik pencampuran pestisida dengan kejadian hipertensi. Pencampuran pestisida yang tidak benar dapat meningkatkan paparan pestisida pada petani. Perbedaan ini dapat saja terjadi karena pada penelitian ini sebagian besar responden dapat melakukan pencampuran pestisida dengan benar sehingga terhindar dari paparan pesisida kronik dan terhindar dari risiko Posisi Menyemprot. Dari hasil analisis univariat variable posisi tubuh saat menyemprot yang melawan angin hanya 2 orang responden . ,8%). Sebagian besar responden 50 orang . ,2%) melakukan penyemprotan searah dengan angin. Sedangkan pada analisis bivariat tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistic p=0482 antara posisi tubuh saat menyemprot Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nikmah dan Pawenang . , pada petani penyemprot bunga di kecamatan Bandungan Jawa Tengah. Kesamaan ini dapat saja terjadi karena sebagai besar petani sudah mengerti tehnik penyemprotan yang benar yaitu searah dengan tiupan angin. Posisi penyemprotan yang aman akan mencegah Kombinasi Pestisida Variabel kombinasi penggunaan pestisida pada analisis univariat menunjukkan 8 ,8%) mengkombinasikan lebih dari 2 macam Sedangkan hasil analisis bivariate menunjukkan nilai p= 0,001 OR=9,91artinya ada hubungan yang kombinasi penggunaan pestisida dengan Almaini dkk. Hubungan Pestisida Terhadap Hipertens. 47 Setelah dilakukan analisis multivariate yaitu dilakukan analisis secara bersamaan dengan faktor lama menjadi petani dan durasi menyemrot, variabel mengkombinasikan penggunaan pestisida lebih dari 2 macam lebih berisiko 2,090 kali lebih besar menderita hipertensi di mengkombinasikan 2 macam pestisida Nilai B= Logaritma natural 2,090 adalah 1,407, dengan nilai B positif bearti kombinasi penggunaan pestisida lebih dari 2 macam berhubungan positif dengan kejadian hipertensi di Wilayah Puskesmas Sambirejo. Hasil penelitian bersesuaian dengan hasil penelitian lain di kepulauan Canary Spanyol yang menunjukkan bahwa arah hubungan antara tekanan darah dan kombinasi pestisida dapat bergantung pada struktur kimia serta konsentrasi pestisida (Henryquez-Hernyndez dkk, 2. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna secara statistic antara lama menjadi petani penyemprot dengan kejadian hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah Puskesmas Sambirejo. Lama menjadi petani menjadi factor yang dominan terhadap kejadian penyakit hipertensi pada petani sayur mayur di wilayah Puskesmas Sambirejo. Keterbatasan penelitian ini tidak melakukan pengukuran kadar pestisida dalam darah petani, sehingga berdasarkan lamanya waktu menjadi Diharapkan kepada Puskesmas Sambirejo untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya penyakit hipertensi pada petani sayur mayor. Diharapkan bagi instansi terkait bidang tanaman pangan agar melakukan pengawasan dalam dikombinasikan lebih dari 2 macam Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan mengapalama menjadi petani berisiko menderita 48 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 4 Nomor 1. Mei 2022 DAFTAR PUSTAKA