Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 e-mail: pahlawanjurnal@gmail. com | P-ISSN: 2338-0853 | E-ISSN: 2685-9920 Hal. 420-425 | DOI: https://doi. org/10. 57216/pah. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DI KELAS V SD NEGERI 4 TAMBUN RAYA KABUPATEN KAPUAS Fenroy Yedithia1. Nani Setiawati2. Orbit Thomas3. Krisnayadi Toendan4. Christian Novan5. Pradana Din Permadi6. Lisa Agustina7. Whilis Putri Pitaloka8*. Efriani9. Jonathan Elzada Patianom10, & Maria Enjelina11 1 -8*-11 Universitas Palangka Raya. Alamat: Jl. Yos Sudarso. Palangka. Kec. Jekan Raya. Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah 74874 *Koresponden e-mail: whilis. pitaloka@fkip. Submit Tgl: 30-Agustus-2025 Diterima Tgl: 06-September-2025 Diterbitkan Tgl: 01-Oktober-2025 Abstract: This study aims to describe the implementation of the Project Based Learning (PjBL) model in enhancing the critical thinking skills of fifth-grade students at SD Negeri 4 Tambun Raya. Kapuas Regency. The research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, interviews, and document analysis. The findings reveal that PjBL fosters studentsAo learning motivation, encourages collaborative engagement, and strengthens critical thinking skills, particularly in aspects of analysis, argumentation, and problem solving. However, limitations in school facilities and teachersAo ability to design innovative learning activities remain significant challenges in its application. This study contributes by highlighting the relevance of PjBL in rural primary school contexts, which have received relatively limited scholarly attention. Keywords: Project Based Learning. Critical Thinking. Primary School Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dapat mendukung peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V di SD Negeri 4 Tambun Raya. Kabupaten Kapuas. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan teknik observasi, wawancara, serta analisis dokumen sebagai sumber data. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa PjBL mampu menumbuhkan motivasi belajar, meningkatkan keterlibatan siswa dalam kerja kelompok, serta mengasah kemampuan berpikir kritis terutama dalam hal menganalisis, menyusun argumen, dan mencari solusi atas masalah yang Kendati demikian, keterbatasan fasilitas belajar dan masih terbatasnya kompetensi guru dalam merancang pembelajaran inovatif menjadi hambatan dalam penerapannya. Temuan ini menegaskan bahwa PjBL relevan diterapkan di sekolah dasar, khususnya pada konteks pedesaan yang belum banyak mendapat perhatian dalam kajian sebelumnya. Kata kunci: Project Based Learning. Berpikir Kritis. Sekolah Dasar Lisensi CC-BY | https://ojs. id/index. php/pahlawan Cara mengutip Yedithia. Setiawati. Thomas. Toendan. Novan. Permadi. Agustina. Pitaloka. Efriani. Patianom. , & Enjelina. Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di Kelas V SD Negeri 4 Tambun Raya Kabupaten Kapuas. Pahlawan Jurnal Pendidikan-Sosial-Budaya, 21. , 420Ae425. https://doi. org/10. 57216/pah. Yedithia. , dkk. Implementasi Model Pembelajaran A Copyright A 2025: Yedithia,Setiawati,Thomas dkk. PENDAHULUAN Pada dasarnya pendidikan dirancang untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis sebagai kompetensi utama yang harus dimiliki setiap generasi bangsa dalam menjawab tantangan global yang semakin dinamis. Kemampuan ini tidak hanya terkait dengan pemecahan masalah, tetapi juga mencakup keterampilan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta membuat keputusan logis dan bertanggung jawab (Facione, 2. Keterampilan berpikir kritis perlu ditanamkan sejak dini agar siswa berkembang menjadi individu reflektif, kreatif, dan mandiri. Untuk itu keterampilan ini sudah dapat diterapkan sejak jenjang sekolah dasar agar siswa tidak hanya berada pada kecakapan kognitif dengan penguasaan hafalan, tetapi juga mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan menghasilkan solusi yang tepat. Pada kenyataannya praktik pembelajaran di lapangan masih cenderung konvensional dan berpusat pada guru, sehingga membatasi ruang gerak siswa untuk mengembangkan daya kritis (Yulianti & Kurniawan, 2. Proses belajar di sekolah dasar masih sering terjebak dalam pola menghafal dan berpusat pada guru. Model ceramah dan pemberian tugas yang bersifat rutin membatasi ruang siswa untuk berlatih berpikir kritis. Pembelajaran yang demikian menyebutkan bahwa siswa cenderung pasif karena jarang diberi kesempatan berdiskusi, mengajukan pertanyaan, atau menyelesaikan masalah melalui pengalaman nyata (Kusumawati, et al, 2. Kondisi ini berpotensi membuat proses belajar menimbulkan kebosanan dan akhirnya siswa tidak merasakan keadaan belajar yang bermakna. Model Project Based Learning (PjBL) menjadi salah satu pendekatan yang relevan dan dianggap mampu menjawab permasalahan tersebut. PjBL menekankan pembelajaran berbasis proyek yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam merancang, melaksanakan, dan menyelesaikan suatu tugas yang dekat dengan kehidupan nyata (Thomas, 2. Model ini menawarkan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Dengan mengerjakan proyek nyata, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, kolaborasi, serta kreativitas (Khairunnisa. K et al. , 2. PjBL menciptakan pembelajaran bermakna yang menumbuhkan keterampilan problem solving (Wahyuni & Pratama, 2. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan efektivitas PjBL dalam menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Misalnya, penelitian mengemukakan bahwa penerapan PjBL pada siswa sekolah dasar mampu meningkatkan kemampuan analisis dan kreativitas melalui kegiatan proyek yang terstruktur (Nuraini, et al, 2. Temuan serupa juga menunjukkan bahwa PjBL berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi siswa sekolah dasar (Nuryadi & Saputra, 2. Namun, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan pada sekolah perkotaan dengan fasilitas memadai. Konteks pedesaan, di mana sarana prasarana terbatas, belum banyak diteliti secara mendalam. Hal ini membuka ruang kebaruan penelitian untuk mengkaji bagaimana PjBL dapat diimplementasikan secara kreatif di sekolah dengan keterbatasan dan karena masih terbatas kajian mengenai implementasi PjBL di sekolah dasar pedesaan dengan keterbatasan infrastruktur. Hal ini menjadi penting untuk dijawab, terutama pada konteks sekolah dasar di Tambun Raya. Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi PjBL diterapkan di SD Negeri 4 Tambun Raya serta Yedithia. , dkk. Implementasi Model Pembelajaran A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 menganalisis kontribusinya terhadap peningkatan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menitik beratkan pada efektivitas PjBL pada lingkungan dengan sarana terbatas, sehingga dapat memperkaya diskursus implementasi pembelajaran inovatif di Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan Tengah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan menggambarkan secara mendalam implementasi model Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk memahami fenomena pendidikan secara kontekstual tanpa manipulasi terhadap kondisi belajar (Creswell, 2. Lokasi penelitian adalah SD Negeri 4 Tambun Raya. Kabupaten Kapuas dengan subjek penelitian siswa kelas V berjumlah 26 orang, guru kelas, dan kepala sekolah. Fokus penelitian mencakup: . perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis proyek. keterlibatan siswa dalam kegiatan PjBL. pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan indikator mengajukan pertanyaan, menganalisis masalah, mengemukakan pendapat, dan menyimpulkan informasi (Ennis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi difokuskan pada aktivitas belajar di kelas, wawancara untuk menggali pengalaman guru, siswa, dan kepala sekolah, sedangkan dokumentasi mencakup RPP, hasil proyek, dan catatan pembelajaran. Data dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 2. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik (Sugiyono, 2. , dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan konsistensi informasi. Tahap penelitian meliputi: . persiapan, yakni koordinasi dengan pihak sekolah dan penentuan fokus. pelaksanaan, mencakup pengumpulan data lapangan. analisis, yaitu pengolahan data. pelaporan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Bagian hasil Implementasi model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) di kelas V SD Negeri 4 Tambun Raya dilaksanakan melalui beberapa tahap utama sebagai berikut: Perencanaan Proyek Guru memfasilitasi diskusi bersama siswa mengenai ide proyek berbasis pemanfaatan bahan bekas. Berbagai gagasan muncul, seperti membuat rumah mini dari karton, bunga hias dari sedotan, tempat pensil dari plastik bekas deterjen, hingga hiasan dinding dari botol plastik. Pada tahap ini, siswa menunjukkan kemampuan berpikir kritis dengan mengidentifikasi bahan yang tersedia, menimbang fungsi dan estetika, serta menyusun desain awal karya. Yedithia. , dkk. Implementasi Model Pembelajaran A Copyright A 2025: Yedithia,Setiawati,Thomas dkk. Pelaksanaan Proyek Observasi menunjukkan bahwa guru membuka pembelajaran dengan pertanyaan pemantik terkait pemanfaatan barang bekas. Siswa kemudian dikelompokkan untuk merancang dan membuat karya seni dari kardus, botol plastik, kertas, dan daun kering. Dalam proses diskusi kelompok menunjukkan adanya antusiasme yang tinggi dan interaksi aktif, saling bertukar ide, dan pembagian peran. Misalnya, sebagian siswa bertugas memotong dan menyusun bahan, sementara yang lain menghias atau merangkai. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing jalannya proyek, dan sesekali memberikan arahan ketika siswa menemui kendala teknis maupun ide kreatif. Presentasi dan Evaluasi Setiap kelompok menampilkan hasil karya di depan kelas. Guru bersama siswa lain memberikan umpan balik terkait nilai estetika, fungsi, serta kreativitas dari karya yang Dalam presentasi, siswa mengemukakan argumen logis mengenai alasan penggunaan bahan tertentu, cara mengatasi kekurangan, dan ide pengembangan karya Aktivitas ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, komunikasi, serta keberanian dalam mengemukakan pendapat. Secara umum, hasil penelitian memperlihatkan bahwa implementasi dari model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa, menumbuhkan ide-ide kreatif, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui tahapan analisis, penilaian, dan Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan PjBL dalam pembelajaran SBdP memberikan dampak positif, baik dari sisi keterampilan berpikir kritis maupun aspek kreatif siswa. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menegaskan bahwa PjBL efektif dalam mendorong kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar (Putri, et Lebih jauh, penggunaan bahan bekas dalam proyek ini memperkuat hasil penelitian bahwa PjBL dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus membangun kepedulian lingkungan (Rahmawati & Kurniawan, 2. Dalam konteks mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP), kegiatan ini sangat relevan karena tujuan pembelajaran SBdP tidak hanya menekankan aspek estetika dan keterampilan praktis, tetapi juga menanamkan kemampuan berpikir kritis, apresiasi seni, serta kesadaran sosial. Proses siswa dalam memilih bahan, menilai kegunaan, hingga mempresentasikan karya mencerminkan praktik berpikir kritis sebagaimana ditegaskan bahwa berpikir kritis melibatkan kemampuan membuat keputusan rasional berdasarkan bukti dan pertimbangan logis (Ennis, 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian model PjBL dengan isu lingkungan dalam pembelajaran SBdP. Proyek daur ulang bahan bekas menjadi karya seni tidak hanya melatih keterampilan berpikir kritis, tetapi juga mengajarkan siswa nilai keberlanjutan dan kepedulian ekologis sejak dini. Dengan demikian. PjBL tidak hanya memberi pengalaman belajar yang bermakna, tetapi juga menyiapkan generasi yang peduli terhadap masalah lingkungan. Yedithia. , dkk. Implementasi Model Pembelajaran A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, terutama pada minimnya sarana pendukung dan keterampilan guru dalam mengelola PjBL yang masih perlu Oleh karena itu, dukungan fasilitas dan program pelatihan bagi guru menjadi kunci keberlanjutan implementasi model Project Based Learning PjBL dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model Project Based Learning (PjBL) di kelas V SD Negeri 4 Tambun Raya mampu memberikan ruang bagi siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan terlibat dalam pembelajaran. Siswa menunjukkan peningkatan dalam aspek berpikir kritis, terutama pada kemampuan mengajukan pertanyaan, menganalisis informasi, serta menyampaikan pendapat secara logis. Kegiatan proyek yang menggunakan bahan sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar membuat pembelajaran lebih kontekstual, menyenangkan, sekaligus bermakna. Meskipun demikian, masih terdapat kendala berupa keterbatasan sarana dan prasarana serta kemampuan guru dalam mengembangkan variasi proyek. Namun secara keseluruhan. PjBL terbukti relevan dan efektif diterapkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Saran