Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 MANAJEMEN NYERI PERAWAT DENGAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN CIDERA DI IGD RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR Kisena Gwijangge1. Suandi2. Sri Nurindasari3. Adnan M4. Abdul Rahman5 Prodi S1 Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Patria Artha. Indonesia Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Patria Artha. Indonesia 1,2,3,4 E-mail: kisenagwija@gmail. com, suandipratama74@gmail. com, sri21@patria-artha. mhaezar023@gmail. com, abdulrahmanpambudi@gmail. Abstrak Cidera merupakan hilangnya kontinuitas tulang yang disebabkan oleh trauma seperti kecelakaan lalu lintas. Komplikasi yang sangat fatal yaitu terjadinya syok neurogenik akibat adanya reaksi vasovagal berlebih. Tujuan dari studi kasus ini yaitu untuk menggambarkan asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien cidera dengan pemenuhan rasa nyaman nyeri. Cedera masih menjadi masalah yang global, dimana menjadi penyebab utama kematian distabilitas pada usia mudah cedera menyebakan respon nyeri pada penderitanya. Nyeri disebabkan karena peningkatan asam laktat dan tekanan untuik mengatasi nyeri maka dapat dilakukan dengan prosedur yang benar dan tepat, dan prosedur tersebut dapat di dukung dengan peralatan yang menghasilkan suara lembut dan menenangkan menghasilkan suara lembut. Metode: Design penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini berjumlah sebanyak 30 responden pada pasien cidera di IGD RSUD Labuang Bajiteknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuesioner. Hasil. penelitian ini adalah didapat kasus cidera paling umum Sedangkang tingkat nyeri yang banyak di rasakan pasien adalaha nyeri ringan . dengan penangan nyeri terapi farmakologi, seharusnya nyeri ringan bisa saja di terapi dengan non farmakologiKata Kunci: Manajemen Nyeri Intensitas Cidera Nyeri Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 PENDAHULUAN Dalam kehidupan manusia, seseorang sering kali terkena trauma yang entah kenapa berujung pada cedera. akibat dari kecelakaan lalu lintas, menyebabkan cidera terauma dan kasus penanganan trauma bersifat segera dan kritis semua korban kecelakaan motor olahraga, jatuh yang dicurigai terdapat jejas pada tulang belekang, harus dicurigai terkena trauma spinal yang mengalami akibat kecelakaan lalu lintas seluruh dunia ribuan orang meningal dan mengalami trauma cidera psikologis. setiap hari yang mengakibatkan oleh bermacam jenis sekitar 12% mewakili seluruh penyakit cidera yang dapat secara kecelakaan lalu rintas mengakibatkan berbagai trauma. pada kondisi umumnya terjadi pada pengendarah motor tanpa mengunakan helem. trauma yang paling banyak kepala akibat kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama disabilitas dan mortalitas di indonesia. Trauma cide menyebabkan nyeri sensorik ke induvindu dan nyeri mendadak kematian cider mengalami trauma akibat kecelakaan lalus. Berdasarkan studi pendauluan pada kecelakaan lalu lintas di RSUD Labuang Baji bulan Januari 2025 tercacat sebanyak 9 kasus kecelakaan lalu lintas pada bulan Februari 11 kasus dan bulan maret mencapai 13 kasus Patah tulang adalah kelainan muskuloskeletal yang disebabkan oleh kerusakan tulang. Patah tulang dapat menyebabkan bagian tubuh tidak berfungsi, bahkan cacat permanen, dan bahkan dapat menyebabkan kematian Kecelakaan lalu lintas didefinisikan sebagai kejadian yang tidak terencana yang dapat menyebabkan cedera, kematian, atau kerusakan properti. WHO menekankan bahwa kecelakaan ini seringkali merupakan hasil dari interaksi antara faktor manusia. Penilaian keparahan cedera pada korban menentukan prioritas penanganan medis dan prognosis pasien Data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistika menunjukkan jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia pada tahun 2022. Manajemen nonfarmakologis merupakan dua kategori. Penggunaan obat pereda nyeri untuk meredakan nyeri dikenal sebagai manajemen nyeri farmakologis. Dokter dan apoteker adalah tenaga medis profesional yang bertanggung jawab atas terapi obat. Sebaliknya, manajemen nyeri nonfarmakologis adalah metode manajemen nyeri yang lebih mengandalkan perilaku perawatan seperti pengalihan perhatian dan relaksasi, alih-alih obat-obatan. (Jerliawanti Tuna & Pipin Yunus. Nyeri diketahui dapat mengganggu fungsi pernapasan, respons imun, dan penyembuhan luka serta memperburuk hasil pasien dengan meningkatkan kebutuhan metabolik pada pasien dengan trauma berat. Penanganan nyeri akut yang tidak memadai setelah trauma menunda kembalinya pasien ke tempat kerja, mengganggu kualitas hidup, dan meningkatkan risiko komplikasi seperti gangguan stres Patah tulang adalah putusnya kontinuitas jaringan tulang atau saraf-sarafnya sendi,jaringan otot dan pembuluh darah, serta dapat disebabkan oleh tekanan pada tulang, jatuh dari ketinggian, persalinan,dan lainlain. cedera olahraga, dan patah tulang . steoporosis, kanke. , tumor tulang (Suwahyu et al. , 2. Dalam hal ini, perawat harus menjadi lebih profesional dalam memberikan perawatan karena mereka berfokus pada sistem Selain itu, perawat harus mematuhi standar profesional mereka saat memberikan perawatan keperawatan. Karena tugas mereka sebagai perawat, yang mencakup penyediaan layanan kesehatan berdasarkan diagnosis kecelakaan sehingga mereka dapat merencanakan dan menilai situasi, perawat sangat penting dalam memberikan pertolongan pertama. Dalam menangani pasien trauma, perawat Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 UGD berada di garda terdepan. Mereka melakukan evaluasi awal yang cepat dan Perawat melakukan triase, yaitu berdasarkan tingkat keparahan kondisinya, berdasarkan evaluasi awal ini. Perawatan prioritas untuk pasien dengan cedera paling serius dijamin melalui triase yang Menurut Asosiasi Studi Nyeri, nyeri adalah pengalaman emosional dan sensorik yang tidak menyenangkan yang terkait atau didefinisikan sebagai kerusakan jaringan aktual atau potensial (Black & Hawks. Menurut leksikon medis, nyeri ketidaknyamanan, atau ketidak nyamanan yang disebabkan oleh aktivasi ujung saraf Nyeri terutama memiliki fungsi nyeri memperingatkan seseorang akan kerusakan jaringan dan mendorong menghilangkan nyeri pada sumbernya (Rosdahl & Kowalski, 2. Rasa sakit terburuk yang dapat dibayangkan diwakili oleh salah satu ujung, sementara ujung lainnya tidak menunjukkan rasa sakit. Skala dapat diatur horizontal atau vertikal. Selain itu, rasa sakit dapat dihilangkan atau dikurangi dengan menyesuaikan VAS. Baik orang dewasa maupun anak-anak di Manfaat utama VAS adalah kesederhanaan dan kemudahan Namun, karena VAS melibatkan koordinasi visual dan motorik serta kemampuan fokus, alat ini kurang bermanfaat pada periode pengalaman nyeri adalah persepsi nyeri, atau interpretasi nyeri. Oleh karena itu, persepsi dan interpretasi kita terhadap nyeri tidak semata-mata dipengaruhi oleh Kecemasan, ekspektasi, dan signifikansi keadaan di sekitar cedera merupakan beberapa aspek psikososial dan fisik yang mungkin memengaruhi persepsi nyeri (Black & Hawks, 2. Aspek Sosial dan Budaya Semua reaksi sensorik, termasuk reaksi terhadap nyeri, dipengaruhi oleh ras, budaya, dan etnis. Para peneliti telah menemukan bahwa keyakinan pribadi dan latar belakang budaya perawat berdampak penderitaan klien mereka (Black, 2. Usia Berdasarkan usia kronologis, terdapat beberapa variasi dalam ambang nyeri. Karena takut salah didiagnosis, orang dewasa mungkin tidak menyebutkan nyeri. Bagi orang dewasa, nyeri juga dapat mengindikasikan kelemahan, kegagalan, atau hilangnya kendali. Gender Anak laki-laki lebih jarang melaporkan rasa sakit dibandingkan anak perempuan, menunjukkan bahwa gender mungkin berperan dalam respons terhadap rasa Di beberapa komunitas Amerika, anak laki-laki cenderung lebih jarang mengomunikasikan rasa sakit mereka dibandingkan anak perempuan. Meskipun laki-laki memang merasakan sakit, mereka Arti Rasa Sakit Elemen-elemen yang Mempengaruhi Nyeri Persepsi Nyeri Salah satu aspek terpenting dari Beberapa klien mungkin lebih terbuka terhadap penderitaan dibandingkan yang lain, tergantung pada keadaan dan bagaimana mereka menafsirkannya. Jika klien dapat menghubungkan penderitaan dengan hasil yang baik, mereka mungkin dapat mengelolanya dengan cukup efektif. Sebaliknya, ketidaknyamanan kronis dan berkelanjutan Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 mungkin lebih tertekan (Kozier 2. Karena nyeri sangat dipengaruhi oleh faktor subjektif seperti faktor fisiologis, psikologis, dan lingkungan, keparahan nyeri secara akurat. Oleh karena itu, riwayat yang sensitif dan andal berdasarkan laporan diri pasien sangat penting. Jika penilaian diri pasien tidak memungkinkan. Teknik penilaian lain diperlukan dalam kasus-kasus seperti kecemasan akut, kesulitan komunikasi, kurangnya kerja sama, pasien anak, penurunan kesadaran, dan gangguan kognitif. Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan nyeri dan, idealnya, meningkatkan manajemen nyeri akut, nyeri kini diakui sebagai tanda vital kelima. Keperawatan yang fokus pada penanganan cepat dan komprehensif terhadap pasien dengan kondisi kritis atau keadaan darurat medis yang mengancam jiwa. Tujuannya adalah untuk memberikan perawatan yang meminimalkan risiko kematian atau Emergency Nurses Association. perawatan memiliki peran penting dalam kondisi gawat darurat, termasuk melakukan evaluasi cepat, menyediakan berkualitas, melakukan tindakan resusitasi jika di perlukan, serta memberikan dukungan emosional dan informasi kepada pasien dan keluarganya. Hoyt. S, et, al. IGD merupakan titik masuk yang sangat penting untuk pelayanan kesehatan bagi pasien yang membutuhkan penanganan dan perawatan yang mendesak baik itu secara gawat dan darurat. Gawat suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong, apabila tidak segera ditolong maka akan mengalami kecacatan atau kematia. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang dingunakan adalah deskriptif analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional study, dimana peneliti melihat ada tidaknya hubungan antara variabel independent dengan dependen. HASIL 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penangan Nyeri Berdasarkan tabel 4. 2 menunjukkan bahwa setiap pasien cidera ditangani dengan terapi farmakologi dengan jumlah responden 30 orang . %) dan tidak ada yang menggunakan teknik terapi non farmakologi. Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Skala Nyeri Tabel 4. 3 berdasarkan distribusi frekuensi menunjukkan mayoritas responden mempunyai skala nyeri ringan sebelum dilakukan terapi farmakologi sebanyak 23 . 7%) sedangkan nyeri sedang . 4 Berdasarkan distribusi frekuensi responden penangan nyeri sesudah diberikan terapi farmakologi . = . Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Skala Nyeri pasien setiap cidera mempunyai skala nyeri sedang 6 . 0%) dan yang mempunyai skala nyeri ringan 23. 7%) yang menunjukkan mayoritas responden yang ditangani dengan terapi farmakologi dengan jumlah responden 30 orang . %) dan tidak ada yang menggunakan teknik terapi non farmakologi. 5 Sebelum dan sesudah intervensi terhadap penangan nyeri di instalasi cedera pasien . = . Tabel 4. 5 diatas menunjukkan ada pengaruh teknik relaksasi terhadap nyeri pada pasien cidera di IGD Rumah Sakit RSUD Labuang Baji Makassar dengan nilai 0,000 (<0,. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh signifikan terhadap nyeri pada pasien cidera dengan 30 responden pada penelitian mengalami penurunan skala nyeri setelah diberikan intervensi. Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 PEMBAHASAN Manajemen nyeri dan pada pasien Distribusi Responden penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden Berdasarkan 1 diketauhi bawah 30 responden yang menjadi sampel penelitian ini, umur . 3%) 14-20 thn kebawah dan berjenis kelamin laki laki 16 . 3% dan perempuan 14. 7% lebih aktif secara fisik dan rentan terhadap cedera,termasuk patah tulang. Pasien cenderung berpartisipasi dalam olahraga atau aktivitas fisik yang meningkatkan risiko cedera. Dewasa muda juga kebugaran, sehingga mereka lebih berisiko seperti kecelakaan atau aktivitas yang membutuhkan kekuatan fisik. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan penanggap pertama dalam perawatan pasien cidera (Kabisch dkk. , 2. Pendidikan mayoritas responden, 13 orang . ,3%), telah menyelesaikan perguruan tinggi dan SMA 9. 0%) Sebagian besar negara, termasuk Indonesia, memiliki sekolah pendidikan yang paling sering ditempuh. Banyak orang tua dan siswa di Indonesia menganggap sekolah menengah atas pendidikan tinggi, seperti universitas. Akibatnya, studi ini (Hartomi, 2. pendaftaran sekolah menengah atas. Akibatnya,memiliki bahwa mayoritas SMA menunjukkan hubungan antara tingkat pendidikan dan karakteristik sosial ekonomi (Atika & Rasyid, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 6. 0%) mengalami tingkat nyeri sedang . sebelum terapi Fraktur adalah cedera tulang yang dapat menyebabkan nyeri hebat. Namun, tingkat nyeri dapat bervariasi tergantung pada jenis cidera, lokasi cedera, dan karakteristik pribadi lainnya. Sebelum intervensi, responden dalam penelitian ini mengalami yang tidak terlalu parah sehingga menimbulkan ketidaknyamanan (Yelvita, taggung jawab yang lebih besar terhadap rekan satu tim mereka dan lebih Beberapa responden mengonsumsi obat sebelum pemeriksaan, yang mungkin telah mengurangi rasa sakit mereka. Akibatnya, sebagian besar responden melaporkan merasakan nyeri sedang. Faktor psikologis dan emosional dapat memengaruhi penilaian Beberapa orang kini memiliki strategi penanganan nyeri yang lebih efektif dari pada sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden . -0%) melaporkan nyeri ringan Perawatan nonfarmakolog adalah teknik pergerakan pada lokasi cidera, yang dapat memadai, terapi ini dapat membantu mengurangi tekanan pada area yang terluka dan meminimalkan nyeri bagi pasien (Ramadina dkk. , 2022. Lebih lanjut, terapi farmakologi dapat mengurangi risiko cedera jaringan di dekat lokasi cidera. Dengan menghindari perpindahan atau pergerakan tulang yang tidak perlu, terapi ini dapat jaringan, edema, dan peradangan, yang dapat menyebabkan nyeri. (Sulistiawan dkk. KESIMPULAN Berdasarkan tabel 4. 7 distribusi frekuensi mempunyai skala nyeri sedang sebanyak . 0%) kemudian mempunyai skala nyeri ringan 23 . 7%) dan nyeri berat 1. dan selebihnya tidak ada nyeri . mengalami ketidaknyamanan ringan . selama pengendalian nyeri dengan obatobatan. Ketidaknyamanan ringan dapat Tingkat Kecemasan pada kategori tidak ada kecemasan yaitu 30 responden Kisena Gwijangge. Suandi. Sri Nurindasari. Adnan M. Abdul Rahman Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. Oktober 2025 ,2%). Sedangkan kategori kecemasan menggunakan obat-obatan DAFTAR PUSTAKA