MABNY : Journal of Sharia Management and Business Vol. 5 No. 1 April 2025 Pengaruh Distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Tidak Merata terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah Kebawah Dusun Jati Agung Desa Gumukmas Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi. , . Universitas Al-Falah Assunniyyah. Jember. Indonesia Corresponding author : anasofi61692@gmail. Abstract: Direct Cash Assistance (BLT), is a form of social assistance provided by the government to help the economy of communities affected by various economic crises. However, the problem of unequal distribution of BLT often triggers dissatisfaction among beneficiaries. This research aims to analyze the influence of the unequal distribution of Direct Cash Assistance (BLT) on the dissatisfaction of the lower middle class community in Jatiagung District. Gumukmas. Quantitative research method with case study research type, sampling using purposive sampling, involving 100 respondents. Data were analyzed using Structure Equation Modeling (SEM) with SmartPLS 3 analysis software. The research results showed that cost transparency had a positive and significant effect on the consumer interest variable in choosing PT. The research results show that the unequal distribution of BLT has a significant effect on community dissatisfaction, especially in terms of the amount and time of distribution. This inequality has the potential to exacerbate social tensions and weaken the effectiveness of aid programs. These findings provide new insight into the importance of government policy in improving the social assistance distribution system to make it more fair, equitable and targeted. Keywords: BLT. Unequal Distribution. Dissatisfaction Abstrak: Bantuan Langsung Tunai (BLT), merupakan salah satu bentuk bantuan sosial yang diberikan pemerintah untuk membantu perekonomian masyarakat yang terdampak oleh berbagai krisis ekonomi. Namun, masalah ketidakmerataan distribusi BLT sering kali memicu ketidakpuasan di kalangan penerima manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata terhadap ketidakpuasan masyarakat menengah ke bawah di Kecamatan Jatiagung. Gumukmas. Metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian studi kasus, pengambilan sampel dengan purposive sampling, yang melibatkan 100 responden. Data dianalisis menggunakan Stuctur Equetion Modeling (SEM) dengan software analisis SmartPLS 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transparansi biaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel minat konsumen memilih PT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi BLT yang tidak merata berpengaruh signifikan terhadap ketidakpuasan masyarakat, terutama dalam hal jumlah dan waktu penyaluran. Ketidakmerataan ini berpotensi memperburuk ketegangan sosial dan memperlemah efektivitas program bantuan. Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kebijakan pemerintah dalam memperbaiki sistem distribusi bantuan sosial agar lebih adil, merata dan tepat sasaran. Kata Kunci: BLT. Distribusi Tidak Merata. Dissatisfaction Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi PENDAHULUAN Bantuan Langsung Tunai (BLT) dirancang untuk membantu masyarakat yang terdampak oleh kondisi krisis ekonomi atau bencana, kenyataannya, banyak penerima yang merasa tidak mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan atau ketentuan yang berlaku. Ketimpangan ini seringkali terjadi karena sejumlah faktor, seperti kesalahan dalam pendataan, ketidakakuratan data penerima, atau bahkan manipulasi di tingkat bawah. Akibatnya, kelompok masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan justru terlewatkan, sementara sebagian lainnya menerima lebih dari yang seharusnya. Fenomena ini menunjukkan adanya celah dalam sistem distribusi bantuan sosial. Fenomena sosial terkait distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata di Desa Jatiagung. Gumukmas, menjadi isu yang mencuat belakangan ini. Meskipun BLT bertujuan untuk membantu masyarakat desa yang terdampak oleh kondisi ekonomi yang sulit, banyak warga yang mengeluhkan ketidakmerataan dalam pembagian bantuan tersebut1. Ketidakmerataan pembagian Bantuan Langsug Tunai (BLT) bisa berpengaruh besar terhadap ketidakpuasan masyarakat. Akan timbul rasa kecemburuan antar warga karena masyarakat merasa pemerintah tidak memprioritaskn yang membutuhkan. Ketentuan penerima BLT, yang dasarnya adalah mengacu pada data pemerintah kecamatan, dan bukan kepada sub wilayah desa yang secara praktis lebih paham kondisi sosial ekonomi Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat ketidakpuasan masyarakat Jatiagung terhadap distribusi penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi persepsi ketidakadilan dalam pembagian bantuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak ketidakmerataan dalam distribusi BLT terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, serta bagaimana ketidakmerataan tersebut mempengaruhi hubungan antar warga Jatiagng Gumukmas. Sebagian besar studi penelitian cenderung menganggap Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata otomatis mempengaruhi ketidakpuasan masyarakat, khususnya rasa kepercayaan masyarakat pada pemerintah akan berkurang. Belum ditemukan penelitian yang mengeksplorasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata tidak berpegaruh terhadap ketidakpuasan masyarakat, dalam konteks, justru menerima atau tidak terlalu mempermasalahkan ketidakmerataan distribusi bantuan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata dapat mempengaruhi tingkat ketidakpuasan masyarakat menengah ke bawah di Desa Jatiagung. Ketidakmerataan dalam distribusi BLT, baik dalam hal jumlah bantuan yang diterima maupun ketepatan waktu pemberian, berpotensi menciptakan ketidakadilan sosial yang dirasakan oleh warga yang seharusnya mendapatkan bantuan namun tidak menerima sesuai dengan harapan atau Masyarakat menengah ke bawah, yang seringkali bergantung pada bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, kemungkinan besar akan merasa dirugikan dan kecewa apabila bantuan tersebut tidak didistribusikan secara adil. Ketidakpuasan ini dapat mempengaruhi persepsi mereka terhadap pemerintah dan lembaga yang bertanggung jawab atas distribusi, serta memperburuk ketegangan sosial di tingkat desa. Penelitian ini mengasumsikan bahwa ketidakpuasan masyarakat akan meningkat seiring dengan meningkatnya ketidakmerataan dalam proses distribusi BLT, yang pada gilirannya dapat memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan publik terhadap program bantuan Teori mengenai distribusi tidak merata mengacu pada konsep di mana sumber daya, kekayaan, kesempatan, atau bahkan fenomena tertentu tersebar secara tidak setara di berbagai wilayah atau kelompok dalam suatu masyarakat, negara, atau bahkan dalam Irma Yunita and Agustang Andi. AoKetidakmerataan Bantuan Langsung Tunai Dimasa Pandemi Covid19 Pada Masyarakat Kurang Mampu Di Desa Carawali Kabupaten SidrapAo. Pinisi Journal Of Sociology Education Review, 1. , 181Ae91. Pengaruh Distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Tidak Merata terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah kebawah dusun Jatiagung Gumukmas konteks global. Distriusi Tidak Merata sering kali dikaitkan dengan ketimpangan ekonomi, sosial, dan politik, yang dapat mempengaruhi perkembangan dan kesejahteraan individu maupun kelompok2. Dalam perspektif keadilan sosial, distribusi BLT yang tidak merata dapat dilihat sebagai ketidakadilan karena bantuan seharusnya diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan . isalnya, keluarga miskin dan renta. John Rawls, dalam teorinya, menyatakan bahwa ketimpangan dalam distribusi hanya dibenarkan jika ketimpangan tersebut menguntungkan mereka yang paling terpinggirkan. Oleh karena itu, distribusi BLT yang tidak merata dapat dianggap tidak sesuai dengan prinsip keadilan distributif jika kelompok paling miskin tidak mendapatkan proporsi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Menurutnya indikator keadilan sosial meliputi Gini Index atau Lorent Curve. Tingkat Kemiskinan Absolut. Index Kualitas Hidup3. Teori strukturalisme yang dipopulerkan oleh tokoh seperti yOmile Durkheim dan Louis Althusser menyoroti bagaimana struktur sosial dan ekonomi yang ada membatasi akses bagi kelompok tertentu4. Ketidaksetaraan dalam akses dipandang sebagai akibat dari struktur sosial yang tidak adil, di mana individu atau kelompok yang berada pada posisi marginal tidak mendapatkan akses yang setara terhadap sumber daya. Menurutnya indikator Strukturalisme untuk Distribusi tidak merata adalah. Hierarki dalam struktur sosial. Dikotomi Biner. Dominasi subordinasi. Relasi Kuasa dan sistem5. Distribusi BLT yang tidak merata dapat dinilai sebagai ketimpangan ekonomi, menurut Max Weber dilihat dari teori Stratifikasi sosial . Ketimpangan Ekonomi bukan hanya karena kepemilikan modal, tetapi juga dipengaruhi oleh status sosial dan kekuasaan politik6. Menurut Weber ada tiga indikator Stratifikasi sosial yaitu. Kelas Ekonomi. Status Sosial, dan Kekuasaan Politik7. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dibagikan secara tidak merata mempengaruhi rasa kepercayaan masyarakat pada pemerintah menurun. Menurut Gery Becker ini merupakan Rational Choice atau Pilihan rasional yang dimana masyarakat membuat penilaian berdasarkan keuntungan dan kerugian yang mereka alami8. Ketidakmerataan distribusi bantuan dilihat sebagai kegagalan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat, menyebabkan penurunan kepercayaan. Indikator Rational Choice menurut Gery Becker meliputi. Efektivitas Distribusi. Kerugian Kelompok Marginal, dan Perbandingan Antar Kelompok9. Teori Social Trust yang dipopulerkan oleh Francis Fukuyama menjelaskan bahwa distribusi yang tidak merata dapat merusak kepercayaan sosial, yang merupakan pilar utama dalam menjaga legitimasi pemerintah10. Ketidakadilan dalam distribusi menciptakan persepsi negatif yang berdampak pada tingkat kepuasan masyarakat. Indikatornya Menurut Francis adalah. Kriteria Alokasi. Akuntabilitas Pemerintah, dan Kelompok Rentan11. Dissatisfaction atau ketidakpuasan, dalam hal ini ketidakpuasan masyarakat desa Jatiagung mengenai pendistribusian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata pada masyarakat menengah kebawah. Ada beberapa tokoh yang mengemukakan tentang teori 2 Sakinah Pokhrel. AoNo TitleiuiyAo, c, 15. , 37Ae48. 3 T S Amadi. AoKonsep Keadilan John Rawls Dan Relevansinya Terhadap Pengembangan MasyarakatAo, 4 Semmy Tyar Armandha and Nurul Fauziah. AoBuku Ajar Ekonomi Politik MediaAo, 01 . , 1Ae23. 5 Armandha and Nurul Fauziah. 6 Rahayu Fitriana. AoNo TitleAo. Procedia Manufacturing, 1. 22 Jan . , 1Ae17. 7 Fitriana. Rosidin. AoAnalisis Teori Pilihan Rasional Terhadap Transformasi MadrasahAo. Madrasah: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 7. , 22 56 Tahun Total Tidak Sekolah SLTP Tingkat Pendidikan SLTA Total Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Frekuensi Presentase Hasil analisis karakteristik yang diperoleh dari 50 orang Menengah kebawah yang tidak mendapat distribusi Bantuan Langsung Tunai di Dusun Jatiagung Gumukmas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden sangat beragam, mencerminkan tanggapan yang luas dengan berbagai latar belakang. Dari segi jenis kelamin, mayoritas responden adalah pria, mencapai 62%, sedangkan wanita hanya 38%. Hal ini mengindikasikan bahwa kaum pria lebih banyak merasakan imbas dari distribusi Bantuan Langsung Tunai yang tidak merata, meskipun konsumen wanita tetap memiliki kontribusi yang signifikan. Berdasarkan usia responden, sebagian besar berada pada rentang usia dibawah 25 tahun . %), terdapat pula responden berusia 25 hingga 40 tahun yang berjumlah 32%. Kelompok usia 41 hingga 45 tahun . %), terdapat pula responden berusia 46 hingga 55 tahun yang berjumlah 20%, dan di atas 56 tahun . %) menunjukkan bahwa usia pertengahan atau dewasa lebih merasakan ketidakpuasan dari Distribusi Bantuan Langsung Tunai yang tidak Merata. Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas responden merupakan lulusan SLTA dengan presentase . %/). Tidak sekolah . %). SD . %). SLTP . %), dan S1 . %). Presentase ini menunjukkan responden dengan tingkat kelulusan SLTA lebih merasakan ketidakpuasan terhadap Distribusi Bantuan Langsung Tunai yang tidak merata. Secara keseluruhan, profil responden ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai ketidakpuasan masyarakat menengah kebawah terhada distribusi bantuan langsung tunai yang tidak merata, yang didominasi oleh pria dewasa dengan pendidikan yang cukup baik. Pengujian Outer Model Partial Least Squares (PLS), sebuah teknik Structural Equation Modeling (SEM), digunakan untuk mengevaluasi data yang dikumpulkan dari respons responden dalam Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi kuesioner penelitian menggunakan perangkat lunak SmartPLS versi 3. Gambar berikut menunjukkan model eksterior: Gambar 4. Outer Model Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Dalam analisis PLS, validitas dan reliabilitas indikator pengukuran dinilai oleh model Sebelum beralih ke analisis model struktural, model ini memeriksa kualitas dan kebenaran data dengan memeriksa hubungan antara variabel laten dan indikator teramati yang sesuai. 1 Pengujian Validitas Konvergen (Convergent Validit. Dengan menggunakan SmartPLS Versi 3. 0, pengujian validitas konvergen dilakukan dan dinilai berdasarkan nilai Average Variance Extracted (AVE) atau faktor pemuatan setiap Jika nilai outer loading suatu indikator lebih tinggi dari 0,70, maka indikator tersebut dikatakan memiliki tingkat validitas yang tinggi dan memenuhi validitas konvergen. Selanjutnya, jika nilai AVE lebih besar dari 0,50, maka validitas konstruk dianggap valid. Evaluasi ini menjamin bahwa struktur pengukuran model sudah baik dan indikator tersebut secara akurat mencerminkan variabel laten. Tabel 4. Uji validitas konvergen Variabel Indikator Outer Loading Keterangan DT1. 0,950 Valid DT1. 0,977 Valid DT1. 0,990 Valid DT2. 0,948 Valid Distribusi Tidak merata (DT) DT2. 0,905 Valid DT2. 0,944 Valid DT3. 0,989 Valid DT3. 0,970 Valid DT3. 0,962 Valid D1. 0,974 Valid D1. 0,965 Valid D1. 0,980 Valid D2. 0,991 Valid D2. 0,976 Valid D2. 0,917 Valid D3. 0,962 Valid D3. 0,982 Valid D3. 0,989 Valid D3. 0,936 Valid Dissatisfaction (D) Nilai Ave Keterangan 0,921 Valid 0,936 Valid Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Pengaruh Distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Tidak Merata terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah kebawah dusun Jatiagung Gumukmas Berdasarkan Tabel 4. 2, setiap indikator memenuhi persyaratan validitas dengan nilai outer loading lebih dari 0,70 dan nilai AVE lebih dari 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa validitas konvergen semua variabel memenuhi persyaratan yang ketat. Semua item pengukuran secara umum reliabel dan secara akurat menggambarkan variabel yang diteliti dalam penelitian ini. 2 Pengujian Validitas Diskriminan (Discriminant Validit. Dengan menggunakan SmartPLS Versi 3. 0, pengujian validitas diskriminan dilakukan dan dinilai menggunakan kriteria Fornell-Larcker, yang membandingkan nilai korelasi di seluruh konstruk dengan akar kuadrat AVE . ilai diagona. Akar kuadrat AVE setiap konstruk harus lebih tinggi daripada korelasinya dengan konstruk lain agar memenuhi Cross-loading juga digunakan untuk mengevaluasi validitas diskriminan. Jika nilai cross-loading suatu indikator setidaknya 0,70, maka dianggap cukup. Untuk memenuhi kriteria validitas diskriminan, loading setiap indikator pada konsepnya sendiri harus lebih besar daripada loadingnya pada konstruk lain. Tabel berikut menampilkan hasil uji validitas Tabel 4. Uji Validitas Diskriminan Nilai Fornell-Larcker Variabel Distribusi tidak merata x1 Distribusi tidak merata x1 0,960 0,988 0,967 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. 3, setiap indikator memenuhi persyaratan validitas diskriminan karena nilai Fornell-Larcker lebih tinggi daripada nilai korelasinya dengan konstruk lain. Hal ini menunjukkan bahwa item pengukuran setiap variabel memiliki fokus yang kuat untuk mengukur variabel tersebut dan memiliki sedikit keterkaitan dengan variabel lain. Tabel 4. Uji Validitas Diskriminan Nilai Cross Loadings Variabel Distribusi Tidak merata (DT) Dissatisfaction (D) Indikator Distribusi tidak merata x1 D1. 0,958 0,974 D1. 0,971 0,965 D1. 0,973 0,980 D2. 0,992 0,991 D2. 0,954 0,976 D2. 0,917 D3. 0,956 0,962 D3. 0,989 0,982 D3. 0,970 0,989 D3. 0,906 0,936 DT1. 0,950 0,941 DT1. 0,977 0,959 DT1. 0,990 0,966 DT2. 0,948 0,918 DT2. 0,905 0,878 DT2. 0,944 0,945 DT3. 0,989 0,982 DT3. 0,970 0,979 DT3. 0,962 0,960 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi Semua indikator yang disorot merah pada Tabel 4. 4 memiliki nilai cross-loading yang lebih tinggi dari 0,70 dan lebih tinggi dari korelasinya dengan konstruk lain. Persyaratan untuk validitas diskriminan terpenuhi oleh hal ini. Hal ini menunjukkan korelasi yang berkurang dengan variabel lain dan menunjukkan bahwa item pengukuran untuk setiap variabel secara khusus difokuskan untuk menilai variabel yang dimaksud. 3 Uji Reliabilitas Tingkat reliabilitas dan konsistensi suatu pengukuran, yang menghasilkan data yang konsisten dalam pengukuran yang sama, diukur dengan pengujian reliabilitas. Cronbach's alpha. Composite Reliability . , dan Composite Reliability . digunakan untuk mengevaluasi reliabilitas. Agar suatu nilai dianggap konstan atau reliabel, nilainya harus lebih dari 0,70 (Ghozali & Kusumadewi, 2. Pengukuran ini menunjukkan stabilitas dan reliabilitas data dengan menjamin bahwa item pengukuran yang digunakan dalam penelitian secara konsisten mencerminkan konstruk yang mendasarinya. Tabel 4. Uji Reliabilitas Variabel Cronbach's Alpha Reliabilitas Komposit Rata-rata Varians Diekstrak (AVE) Distribusi tidak merata x10,989 0,990 0,991 0,921 0,993 0,993 0,936 0,992 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. 5, setiap indikator menunjukkan hasil yang konsisten dengan nilai alpha Cronbach dan Composite Reliability . lebih tinggi dari 0,70. Hal ini menunjukkan seberapa baik alat penelitian mengukur konstruk dengan tingkat konsistensi dan ketergantungan yang tinggi. Pengujian Inner Model Partial Least Squares (PLS), sebuah teknik Structural Equation Modeling (SEM), digunakan untuk mengevaluasi data yang dikumpulkan dari respons responden dalam kuesioner penelitian menggunakan perangkat lunak SmartPLS versi 3. Gambar berikut menampilkan model internal: Gambar 4. Inner Model Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Pengaruh Distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Tidak Merata terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah kebawah dusun Jatiagung Gumukmas Untuk memahami efek kausal dalam penelitian, model internal dalam analisis PLS menilai hubungan struktural antara variabel laten, dengan melihat lintasan dan kekuatan hubungan 1 Koefisien Determinasi (R. Persentase varians variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen ditunjukkan oleh koefisien determinasi (RA). Berikut ini adalah interpretasi umum nilai R2: 0,75 menunjukkan model yang kuat, 0,50 menunjukkan model yang moderat, dan 0,25 menunjukkan model yang lemah. Oleh karena itu, nilai R2 yang lebih tinggi menyiratkan kecocokan model yang lebih kuat dan prediksi model yang lebih baik. Berikut ini adalah temuan R2 dari penelitian ini: Tabel 4. Uji Koefisien determinasi (R. Variabel R Square AdjustedKeterangan R Square 0,977 0,976 Kuat Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Kapasitas prediktif dan ketergantungan model yang disarankan ditunjukkan oleh nilai R2 ini, yang menunjukkan seberapa besar faktor independen menjelaskan variabel dependen. Berdasarkan Tabel 4. tersebut menunjukkan bahwa nilai R-square variabel Dissaticfaction sebesar 0,977 dalam kriteria kuat. 2 Goodness of Fit (GoF) Dengan mengevaluasi penerapan dan akurasi keseluruhan model, pengujian Goodness of Fit (GoF) memvalidasi kinerja model struktural . odel dala. dan model pengukuran . odel lua. Akar kuadrat dari produk rata-rata varians yang diekstraksi (AVE) dan koefisien determinasi (R. menghasilkan nilai GoF, yang merupakan angka antara 0 dan 1. Tingkat kesesuaian model ditunjukkan oleh nilai GoF, yang dibagi menjadi tiga kategori: kecil . , sedang . , dan besar . Rumus OoGoF = Oo(AVE y RA) harus digunakan untuk menghitung GoF secara manual. Tabel 4. Uji Goodness of Fit Variabel Distribusi tidak merata Nilai Mean Nilai Mean AVE* R Square Rata-rata Varians Diekstrak (AVE) Adjusted Square 0,921 0,976 0,936 0,976 0,94365 0,976 0,943647541 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Nilai Goodness of Fit = Oo0,943647541 Nilai GoF = 0,971 18 Nurhidayat Nurhidayat. Fathul Muin, and Ibnu Mansyur Hamdani. AoPengaruh Kemampuan Operasi Hitung Matematika. Kemampuan Berpikir Divergen Dan Kecerdasan Linguistik Siswa Terhadap Hasil Belajar MatematikaAo. Kognitif: Jurnal Riset HOTS Pendidikan Matematika, 3. , 115Ae28. Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi Angka GoF, yang ditetapkan sebesar 0,779 berdasarkan Tabel 4. 7, berada di bawah ambang batas GoF "besar". Hal ini menunjukkan bahwa model tersebut memiliki daya penjelasan yang baik dan tepat serta akurat dalam menjelaskan data aktual. 3 Ukuran Pengaruh F2 (Effect Siz. Dengan setiap variabel yang dikaitkan dengan ukuran efek yang berbeda, ukuran efek . digunakan untuk memahami bagaimana variabel dependen memengaruhi variabel Pengaruh yang signifikan ditunjukkan oleh nilai f2 > 0, sedangkan dampak minimal ditunjukkan oleh nilai f2 < 0. Pada tingkat struktural, nilai f2 sebesar 0,02. 0,15. 0,35 masing-masing menyiratkan dampak sedang, sedang, dan tinggi pada variabel prediktor 19 Nilai f2 yang ditemukan dalam penelitian ini tercantum di bawah ini: Tabel 4. Uji F2 . ffect siz. Variabel 41,580 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. 8, nilai f-square untuk variabel *ketidakpuasan* lebih dari 0,35, yang menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap model struktural. Menurut Cohen . , nilai f2 sebesar 0,35 atau lebih dianggap sebagai pengaruh yang signifikan, yang menunjukkan pengaruh variabel *ketidakpuasan* yang signifikan terhadap variabel dependen dalam penelitian ini. 4 Q-Square Predictive Relevance (Q. Uji yang disebut relevansi prediktif Q-Square (QA) digunakan untuk mengevaluasi seberapa baik hasil yang dihasilkan mendukung kekuatan prediktif model. Angka ini, yang berfokus pada nilai Q2, menunjukkan seberapa baik prediksi yang dibuat dengan menggunakan proses blindfolding berhasil. Prediksi yang relevan dari model prediktif ditunjukkan oleh nilai Q2 yang lebih tinggi dari 0 atau mendekati 1. Sebaliknya, skor Q2 O 0 menunjukkan bahwa model tersebut tidak relevan secara prediktif. Tabel 4. Uji Q-Square Predictive Relevance (Q. Variabel SSO SSE QA (=1-SSE/SSO) Distribusi tidak merata x1 450,000 450,000 500,000 50,948 0,898 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. 9, nilai Q-Square (Q. untuk variabel Ketidakpuasan adalah 0,898. Nilai Q2 yang lebih besar dari 0 menunjukkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini memiliki relevansi prediktif yang baik. Dengan demikian, model dapat menjelaskan variasi dalam data empiris dengan cara yang bermakna. 5 Indeks Kesesuaian Normal (NFI) Salah satu metrik untuk mengevaluasi kesesuaian model statistik adalah Indeks Kesesuaian Normatif (NFI). NFI dihitung dengan membandingkan nilai chi-kuadrat model nol dengan nilai chi-kuadrat model yang dihipotesiskan. NFI memiliki rentang 0 hingga 1, dengan nilai yang mendekati 1 menunjukkan kesesuaian yang lebih baik. Jadi, jika nilai NFI suatu model mendekati satu, model tersebut dianggap baik dan optimal. 19 Mohammad Ghozali. Norazzah Binti Kamri, and M Ali Zi Khafid. AoThe Merger of Indonesian Islamic Banks: Impact on the Islamic Economy DevelopmentAo. Al-Iktisab: Journal of Islamic Economic Law, 6. , 23 0,988 0,989 0,006 171,362 0,000 Sumber: Data primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. tersebut menunjukkan nilai-nilai yang dihasilkan dalam uji pengaruh langsung yang dapat dideskripsikan sebagai berikut: H1 : Pengaruh Segmentasi Pasar terhadap Keputusan pembelian sepatu olahraga merek Adidas, memiliki nilai koefisien . riginal sampl. sebesar 0,988 . ernilai positi. , nilai t-statistik sebesar 171,362 (>2,. , dan nilai p-value sebesar 0,000 (<0,. Hal tersebut menandakan variabel Distribusi Bantuan Langsng Tunai Tidak Merata berpengaruh signifikan terhadap variabel Dissatisfaction Masyarakat Menengah Kebawah (H1= Diterim. Pembahasan Hasil Penelitian Distribusi Bantuan Langsung Tunai Tidak Merata berpengaruh terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah Kebawah. Berdasarkan hasil analisis statistik yang diperoleh dari uji pengaruh antara variabel Distribusi Bantuan Langsung Tunai Tidak Merata terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah Kebawah, terdapat beberapa poin penting yang dapat dibahas lebih lanjut. Pertama, nilai koefisien original sample sebesar 0,988 menunjukkan bahwa Distribusi Bantuan Langsung Tunai Tidak Merata memiliki pengaruh yang sangat positif terhadap Dissatisfaction Masyarakat Menengah Kebawah. Ini berarti bahwa masyarakat menengah kebawah di dusun Jatiagung merasakan ketidakpuasan terhadap distribusi bantuan langsung tunai yang tidak merata. Karena dianggap pemerintah kurang teliti dan menyaring kembali penerima distribusi Bantuan Langsung Tunai SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata terhadap ketidakpuasan . masyarakat menengah ke bawah di Desa Jatiagung Gumukmas. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi BLT yang tidak merata memang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat ketidakpuasan Masyarakat yang merasa tidak mendapatkan akses atau bagian yang sebanding dari bantuan ini cenderung mengalami kekecewaan yang berujung pada meningkatnya ketidakpuasan sosial dan ekonomi di tingkat desa. Sofiana Firdaus Zahro. Muhammad Syarofi Berdasarkan temuan tersebut, dapat disarankan secara teoritis agar kebijakan distribusi bantuan tunai lebih mempertimbangkan prinsip keadilan dan pemerataan. Pemerintah sebaiknya memperbaiki sistem distribusi BLT dengan menggunakan data yang lebih akurat dan mekanisme yang transparan agar tidak menimbulkan ketimpangan sosial di antara penerima. Secara praktis, disarankan agar desa atau pihak terkait dapat melakukan sosialisasi yang lebih intensif mengenai mekanisme penyaluran bantuan, serta melibatkan masyarakat dalam proses pemantauan untuk meningkatkan rasa keadilan dan kepercayaan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan sampel yang terbatas hanya pada masyarakat Desa Jatiagung Gumukmas, sehingga generalisasi hasil penelitian ini perlu dilakukan dengan hati-hati untuk daerah atau konteks yang lebih luas. Selain itu, faktorfaktor lain yang mempengaruhi ketidakpuasan masyarakat, seperti pendidikan atau kondisi sosial ekonomi lainnya, juga belum dianalisis secara mendalam. Untuk penelitian mendatang, disarankan agar memperluas sampel penelitian ke desadesa lain dengan karakteristik sosial ekonomi yang berbeda, serta menggali lebih dalam tentang faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap distribusi bantuan. Penelitian lebih lanjut juga dapat mencakup analisis lebih komprehensif terkait efektivitas kebijakan distribusi BLT dan dampaknya terhadap stabilitas sosial di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA