Vol. No. Januari 2024, page 11-17 ISSN: 2809-0225 (Onlin. DOI: 10. 35584/carejournal. Pemberian Terapi Musik Dangdut dalam Menurunkan Tanda dan Gejala Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Adhisthi Amellinda Gunawan1. Retno Twistiandayani1a* 1Universitas Gresik a twistiandayani@unigres. *Corresponding author INFORMASI ARTIKEL Sejarah artikel: Tanggal diterima: 29 Desember 2023 Tanggal revisi: 08 Januari 2024 Diterima: 10 Januari 2024 Diterbitkan: 17 Januari 2024 Kata Kunci : Terapi Musik Halusinasi Musik Dangdut ABSTRAK Halusinasi pendengaran adalah halusinasi yang paling sering dialami oleh penderita gangguan mental, misalnya mendengar suara melengking dalam bentuk kata-kata atau kalimat, sering merasa suara itu tertuju padanya, sehingga penderita sering terlihat berbicara dengan suara yang didengarnya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh terapi musik dangdut terhadap penurunan tanda dan gejala pada pasien halusinasi. Rancangan penelitian ini adalah Pra Eksperimental, dengan pendekatan control group Pre-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien halusinasi pendengaran di Ruang Gelatik Rumah Sakit Jiwa Menur sebanyak 18 orang. Sampel penelitian ini adalah sebagian pasien halusinasi pendengaran sebanyak 16 orang dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol. Teknik sampling dilakukan secara Non probability sampling tipe Purposive Sampling dengan responden sebanyak 16 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel indepen dalam penelitian ini adalah terapi musik dangdut dan Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penurunan tanda dan gejala halusinasi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah terapi musik dangdut. Terapi musik dangdut dilakukan di rumah sakit jiwa menur sebanyak 6 kali dalam 30 menit. Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon < 0,05. Hasil penelitian pada kelompok perlakuan p=0,011 dan pada kelompok kontrol p=0,008. Berarti ada pengaruh terapi musik dangdut terhadap penurunan tanda dan gejala pada pasien halusinasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan dengan dilakukan terapi musik dangdut rata-rata skor halusinasi pada pasien halusinasi pendengaran akan lebih rendah, hal ini disebabkan terjadinya pengalihan perhatian pasien dari suara halusinasinya. Untuk itu peneliti mengharapkan penelitian ini bisa dijadikan salah satu bentuk kegiatan untuk menurunkan tanda dan gejala halusinasi Copyright . 2022 Care Journal This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Halusinasi merupakan perasaan yang dinyatakan tanpa ada suatu rangsangan . yang jelas dari luar diri klien terhadap panca indera pada saat klien dalam keadaan sadar atau bangun. Dampak yang ditimbulkan dari adanya halusinasi adalah kehilangan kontrol diri, yang mana dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain, bahkan merusak lingkungan. Untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan halusinasi, dibutuhkan penanganan yang tepat. Hasil studi pendahuluan pada tanggal 16 april yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap 10 perawat di ruang rawat inap RSJ Menur didapatkan perawat mengatakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien halusinasi adalah mengidentifikasi halusinasi, cara Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: twistiandayani@unigres. Amellinda Gunawan, et al. , 2024 mengontrol halusinasi, dan terapi aktivitas kelompok: stimulasi persepsi sensori Selain itu perawat mengatakan pernah melakukan terapi musik klasik sebagai terapi nonfarmakologi pada pasien halusinasi, namun RS lebih sering melakukan TAK dalam 1 minggu sekali (Try Wijayanto. And Agustina, 2. Gangguan halusinasi dapat diatasi dengan terapi farmakologi dan non farmakologi, terapi nonfarmakologi lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping seperti obat-obatan, karena terapi nonfarmakologi menggunakan proses fisiologi (Utami Sri. Jumaini, 2. Salah satu terapi nonfarmakologi untuk mengatasi tanda dan gejala halusinasi adalah mendengarkan musik. Salah satu cara untuk mengatasi tanda dan gejala halusinasi yaitu dengan terapi musik dangdut, musik dangdut merupakan jenis musik yang banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat di berbagai kelas sosial karena teks lagunya ringan dan mudah dinikmati (Alfionita, 2. Kegiatan terapi yang sudah diberikan di Rumah Sakit Jiwa Menur pada pasien halusinasi yaitu mengontrol halusinasi dengan Hal ini sejalan penelitian R Twistiandayani . setelah dilakukan terapi, pasien skizofrenia mengalami peningkatan kemampuan dalam mengontrol halusinasinya, hampir seluruh responden bisa mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, mengatakan stop dan mengusir halusinasi tersebut. Namun kegiatan ini masih belum mengurangi tanda gejala halusinasi pada pasien halusinasi sehingga pasien masih sering mengalami halusinasinya seperti berbicara sendiri, bahkan kadang bertengkar dengan suara yang didengarkannya Berdasarkan data WHO (World Health Organizatio. pada tahun 2019, di dunia terdapat 264 juta orang terkena depresi, 45 juta orang terkena bipolar, 20 juta orang terkena skizofrenia serta 50 juta orang terkena dimensia (WHO, 2. Data Riskesdes 2018 menunjukkan angka pravalensi gangguan jiwa di Jawa Timur menduduki nomor 12 di Indonesia (Riskesdas, 2. Berdasarkan data Kesekretariatan Rumah Sakit Jiwa Menur Kota Surabaya hasil angka kejadian kasus di Rumah Sakit Jiwa Menur Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur selama bulan Januari sampai April 2021 didapatkan jumlah pasien rawat inap sebanyak 299 pasien dengan rincian kasus halusinasi mencapai 47,5%, data tersebut diketahui bahwa jenis halusinasi yang paling banyak diderita oleh pasien dengan skizofrenia adalah halusinasi pendengaran (Data rekam medik RSJ Menur Surabaya . dikutip dari Anisa, 2. Halusinasi yang paling banyak diderita adalah halusinasi pendengaran yang mencapai kurang lebih 70% (Wicaksono, 2. Terapi musik yang diterapkan pada pasien halusinasi pendengaran bertujuan untuk meminimalisir halusinasi, melalui musik pasien secara berangsur dan akan menyadari suara yang tidak ada sumbernya. Musik terdiri dari beberapa jenis yaitu musik pop, musik klasik, musik etnik, musik keroncong, musik dangdut, musik blues, musik Ska dan musik metal. Berdasarkan uraian latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh Terapi Musik Dangdut Terhadap Penurunan Tanda dan Gejala pada Pasien HalusinasiAy. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Dengan menggunakan desain penelitian Pra- Eksprimental, dengan rancangan penelitian control group Prepost test design. Pre- Test sebelum dilakukan terapi musik dangdut dan Post-Test setelah dilakukan terapi musik dangdut untuk menentukan Pengaruh Terapi Musik Dangdut Terhadap Penurunan Tanda dan Gejala Halusinasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien halusinasi pendengaran di Ruang Gelatik Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya sebanyak 18 orang. Sampel penelitian ini adalah sebagian pasien halusinasi pendengaran yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 16 Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah terapi musik dangdut. Variabel dependen pada penelitian ini Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: twistiandayani@unigres. Amellinda Gunawan, et al. , 2024 adalah penurunan tanda dan gejala halusinasi. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan SOP Terapi Musik Dangdut modifikasi peneliti beradasarkan penelitian Simatupang . dan lembar obeservasi tanda dan gejala halusinasi. Penelitian ini telah dilakukan di ruang Gelatik Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya pada tanggal 22 Mei sampai dengan 03 Juni 2023. Penelitian ini telah dinyatakan laik etik berdasarkan Surat Keterangan Kelaikan Etik Nomor : 070/1775/102. 8/2023 yang dikeluarkan oleh Komite Etik Penelitian (KEP) Rumah Sakit Jiwa Menur Provinsi Jawa Timur. HASIL DAN DISKUSI Tanda dan Gejala Sebelum di Berikan Terapi Musik Dangdut Pada Pasien Halusinasi Pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tanda Dan Gejala Halusinasi Sebelum Pada Pasien Halusinasi Kelompok Perlakuan dan Kontrol Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya Mulai 22 Mei Ae 03 Juni 2023. Pre-test Perlakuan Pre-test Kontrol Karaktersitik Frekuensi Presentase(%) Frekuensi Presentase(%) Baik Cukup Kurang Total Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum diberikan terapi musik dangdut pada kelompok perlakuan didapatkan sebagian besar responden dengan kriteria cukup yaitu sebanyak 4 responden . ,0%) sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan sebagian besar responden tanda gejala kurang. Hasil penelitian menunjukkan responden pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, halusinasi pendengaran di dunia menunjukan kejadian antara laki-laki dan wanita adalah sama. Laki-laki mempunyai onset perjalanan penyakit yang lebih awal dari pada wanita (Cikita, 2. Menurut Puspaningrum . faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya halusinasi yaitu faktor perkembangan, sosiokultural, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor Berdasarkan faktor pendidikan, responden pada kelompok perlakuan paling banyak berpendidikan SMA. Menurut penelitian Cikita . mengatakan tingkat pendidikan yang cukup diharapkan seseorang akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stressor atau masalah kekerasan baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus kognitif. Tingkat pendidikan rendah pada seseorang akan dapat menyebabkan cara berfikir rasional, menangkap informasi yang baru dan kemampuan menguraikan masalah menjadi rendah. Pendidikan sangat penting pada keseluruhan aspek kehidupan manusia baik pikiran, perasaan maupun sikap. Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi pula kemampuan dasar seseorang dan kemampuan dalam manajemen stress. Berdasarkan faktor status pernikahan, responden pada kelompok perlakuan paling banyak berstatus belum menikah. Menurut penelitian Simatupang . menyatakan bahwa status pernikahan pada pasien halusinasi pendengaran meningkat pada individu yang hidup seorang diri. status perkawinan belum tentu mempengaruhi kejiwaan seseorang. Salah satu faktor resiko halusinasi pendengaran meningkat pada individu yang hidup seorang diri. Berdasarkan faktor usia responden pada pada kelompok perlakuan dan kontrol paling banyak berusia 31 Ae 45 tahun . ,5% dan 50,0%). Menurut Simatupang, . Halusinasi pada laki-laki mulai dari umur 18-25 Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: twistiandayani@unigres. Amellinda Gunawan, et al. , 2024 tahun, dilaporkan bahwa frekuensi mencari bantuan perawat psikisatrik puncaknya adalah pada usia antar 25 sampai dengan 44 tahun dan semakin menurun seiring dengan pertambahan usia, usia berhubungan dengan meningkat dan menurunya penggunaan pelayanan kesehatan mental usia, masa dewasa mengalami masa ketegangan emosi dan itu berlangsung hingga usia 30-an dalam umur dewasa ini individu akan mudah mengalami ketidakmampuan dalam mengatasi masalah sehingga akan mudah menyebabkan gangguan emosional Berdasarkan faktor jenis kelamin responden pada pada kelompok perlakuan dan kontrol seluruh responden berjenis kelamin laki-laki . %). Hasil penelitian Puspaningrum . laki-laki lebih banyak mengalami halusinasi dibandingkan dengan perempuan dimana laki-laki cenderung mengalami perubahan peran dan penurunan interaksi sosial, kehilangan pekerjaan, serta putus alkohol, hal ini yang sering menjadi penyebab terjadinya halusinasi dan laki- laki lebih rentan terhadap masalah mental, termasuk depresi. Berdasarkan faktor berapa kali dirawat pada kelompok perlakuan dan kontrol seluruh responden baru 1Ae5x dirawat . %). Penelitian yang dilakukan Hawari . menyatakan bahwa apabila perawatan lebih dari 30 hari cenderung meningkatkan resiko kekambuhan yang disebabkan karena klien merasa jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang berbeda dengan aktivitas sewaktu klien dirumah. Semakin lama seorang seorang pasien dirawat tentu semakin mengenal dan mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah yang dialami, dan semakin mandiri untuk melakukan aktivitas harian yang harus dilatih. Tanda dan Gejala Sesudah Diberikan Terapi Musik Dangdut Pada Pasien Halusinasi Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Tabel 2 Karakteristik Responden berdasarkan Tanda Dan Gejala Halusinasi Sesudah Diberikan Terapi Musik Dangdut Pada Pasien Halusinasi Kelompok Perlakuan dan Kontrol Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya Mulai 22 Mei Ae 03 Juni Post-test Perlakuan Post-test Kontrol Karaktersitik Frekuensi Presentase(%) Frekuensi Presentase(%) Baik Cukup Kurang Total Berdasarkan tabel 5. 7 menunjukan bahwa sesudah diberikan terapi musik dangdut pada kelompok perlakuan kriteria didapatkan baik sebanyak 5 responden . ,5%). Berdasarkan tabel 5. 8 menunjukan bahwa pada kelompok kontrol hasil kriteria tetap sama dan tidak ada perubahan yaitu pada kriteria kurang sebanyak 6 responden . ,0%). Pada kelompok perlakuan sesudah diberikan terapi musik dangdut tanda gejala halusinasi menjadi frekuensi dan durasi yang paling sering dialami, sedangkan pada kelompok kontrol tanda gejala yang sering dialami tetap sama yaitu frekuensi, durasi, tingkat kenyaringan, jumlah konten negatif dari suara-suara, jumlah distress, dan intensitas ketebalan. Berdasarkan faktor usia responden pada pada kelompok perlakuan dan kontrol paling banyak berusia 31 Ae 45 tahun . ,5% dan 50,0 %). Menurut Simatupang, . Halusinasi pada laki-laki mulai dari umur 18-25 tahun, dilaporkan bahwa frekuensi mencari bantuan perawat psikisatrik puncaknya adalah pada usia antar 25 sampai dengan 44 tahun dan semakin menurun seiring dengan pertambahan usia, usia berhubungan dengan meningkat dan menurunya penggunaan pelayanan kesehatan mental usia, masa dewasa mengalami masa ketegangan emosi dan itu berlangsung hingga usia 30-an dalam umur dewasa ini individu akan mudah Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: twistiandayani@unigres. Amellinda Gunawan, et al. , 2024 mengalami ketidakmampuan dalam mengatasi masalah sehingga akan mudah menyebabkan gangguan emosional. Berdasarkan faktor jenis kelamin responden pada pada kelompok perlakuan dan kontrol seluruh responden berjenis kelalmin laki-laki . %). Hasil penelitian Puspaningrum . laki-laki lebih banyak mengalami halusinasi dibandingkan dengan perempuan dimana laki-laki cenderung mengalami perubahan peran dan penurunan interaksi sosial, kehilangan pekerjaan, serta putus alkohol, hal ini yang sering menjadi penyebab terjadinya halusinasi dan laki-laki lebih rentan terhadap masalah mental, termasuk depresi. Berdasarkan faktor berapa kali dirawat pada kelompok perlakuan dan kontrol seluruh responden baru 1 Ae 5 x dirawat . %). Penelitian yang dilakukan Hawari . menyatakan bahwa apabila perawatan lebih dari 30 hari cenderung meningkatkan resiko kekambuhan yang disebabkan karena klien merasa jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang berbeda dengan aktivitas sewaktu klien dirumah. Seseorang yang dirawat dirumah sakit akan mendapatkan asuhan tentang bagaimana mengatasi masalah yang dialami. Semakin lama seorang seorang pasien dirawat tentu semakin mengenal dan mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah yang dialami, dan semakin mandiri untuk melakukan aktivitas harian yang harus dilatih. Pengaruh Terapi Musik Dangdut Terhadap Penurunan Tanda Dan Gejala Pada Pasien Halusinasi Tabel 3 Karakteristik Responden berdasarkan pengaruh terapi musik dangdut terhadap penurunan tanda dan gejala Pada Pasien Halusinasi Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya Mulai 22 Mei Ae 03 Juni 2023 Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Test Post-Test Pre-Test Post-Test Pre-Test 25,2500 16,3750 36,3750 32,8750 Mean Std. Deviation 6,36396 5,18066 5,01248 5,11126 p=0,011 p=0,008 Uji Wilcoxon Berdasarkan hasil analisis statistik pada kelompok perlakuan terapi musik dangdut responden diperoleh nilai p=0,011 berarti p < 0,05 maka H1 diterima yang artinya terdapat pengaruh pemberian terapi musik dangdut terhadap penurunan tanda dan gejala pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol responden diperoleh nilai p= 0,008 berarti p < 0,05 artinya ada pengaruh pemberian obat yang dikonsumsi responden kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi musik dangdut sehingga hasil penurunan tanda dan gejala pada kelompok kontrol tidak sebanyak penurunan pada kelompok intervensi yang dberkan terapi musik dangdut. Penelitian ini telah dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya pada 22 Mei 2023 sampai 03 Juni 2023, pemberian terapi musik diberikan selama 1 minggu 3 kali yang pertama mendengarkan musik dangdut pada hari kedua yaitu mendengarkan musik dan bernyanyi dan pada hari ketiga yaitu mengikuti irama musik dangdut dengan berjoget. Hal ini berpengaruh terhadap nilai minimum tanda gejala halusinasi pada kelompok intervensi sebelum diberikan terapi musik dangdut atau Pre-test yaitu 14,00 dan niai maximum yaitu 33,00, pada kelompok kontrol nilai minimum tanda gejala halusinasi yaitu 29,00 dan nilai maximum yaitu 42,00. Nilai minimum tanda gejala halusinasi setelah diberikan terapi musik dangdut atau post-test didapatkan nilai yaitu 10,00 dan nilai maxiumun yaitu 24,00 pada kelompok kontrol nilai minimum yaitu 25,00 dan nilai maximunnya 35,00. Dengan dilakukan terapi musik dangdut ratarata skor halusinasi pada pasien halusinasi pendengaran akan lebih rendah, hal ini Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: twistiandayani@unigres. Amellinda Gunawan, et al. , 2024 disebabkan terjadinya pengalihan perhatian pasien dari suara halusinasinya kepada suaranya sendiri ketika pasien mendengarkan musik dangdut, keyakinan tentang kekuatan dan kekuasaan halusinasi akan melemah ketika pasien dilatih strategi koping untuk mengontrol halusinasi secara konsisten. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Andri . dengan tujuan menurunkan tingkat halusinasi pendengaran dengan terapi musik klasik. Yang menunjukan, hasil uji statistik pada kelompok eksperimen didapatkan nilai p = 0,003 yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol didapatkan nilai p = 0,414 Ou 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest. Sesuai dengan penelitian Maulana. Hernawati. And Shalahuddin . mengatakan bahwa kemampuan mengontrol halusinasi responden setelah dilakukan terapi musik Mozart mengalami peningkatan yaitu kemampuan mengontrol halusinasi tinggi dengan 33 responden atau 61. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi musik Mozart terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi. Penelitian lain dilakukan oleh Alfionita . bertujuan menstabilkan emosi pada pasien skizofrenia dengan terapi musik dangdut di RSJD Surakarta, didapatkan ada penurunan tingkat emosi yang lebih bermakna dengan menggunakan terapi musik dangdut dibandingkan dengan jenis musik lain, musik dangdut dengan tempo 60-70 bpm mampu memberikan efek yang positif bagi perkembangan sosial dan psikologis pasien seperti menstabilkan emosi, melatih beradaptasi, mengembalikan kepercayaan diri, mampu berkomunikasi, bersosialisasi dan berinteraksi serta meningkatkan gairah untuk hidup di lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini dilakukan intervensi terapi musik dangdut. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan melakukan wawancara dan mengisi lembar kuesioner tentang skor halusinasi pendengaran, lalu mengumpulkan responden di setiap ruangan dan menjelaskan tentang penelitian yang akan dilakukan setelah pasien bersedia untuk menjadi responden peneliti dan dua teman yang membantu melakukan kontrak waktu pada responden selama kurang lebih 30 menit, setelah itu peneliti meminta responden untuk mendengarkan musik yang disukai sambil berjoget maupun bernyanyi. KESIMPULAN Tanda dan gejala pada pasien halusinasi pada kelompok perlakuan dan kontrol sebelum diberikan terapi musik dangdut pada kelompok perlakuan didapatkan sebagian responden dengan kriteria cukup, sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan sebagian responden dengan kriteria kurang. Tanda dan gejala pada pasien halusinasi pada kelompok perlakuan dan kontrol sesudah diberikan terapi musik dangdut pada kelompok perlakuan didapatkan sebagian responden dengan kriteria cukup, sedangkan pada kelompok kontrol hasil kriteria tetap sama dan tidak ada perubahan yaitu pada kriteria kurang. Ada pengaruh Terapi Musik Dangdut Terhadap Penurunan Tanda Dan Gejala Pada Pasien Halusinasi Pendengaran. REFERENSI