ISSN 2721-1703 Vol. No. x, 202x, pp. xx-xx Jurnal Cakrawala Bahari Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Peran Budaya Kampus dalam Pembentukan Karakter Kebersamaan Taruna Pelayaran Mauritz Halomoan Manontang Sibarani1 & Dival Jeri Krisa2 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Indonesia Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Indonesia Article Info Article history: Received Jun 12th, 2025 Revised Aug 20th, 2025 Accepted Nov 26th, 2025 Keyword: campus culture collective character maritime cadets qualitative research ABSTRACT This study examines the contribution of campus traditions and cultural practices in fostering camaraderie among cadets at the Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Conducted 2025, the research adopts a mixed-methods design that combines quantitative survey data with qualitative insights from in-depth interviews. Core traditions, such as weekly flag ceremonies, orientation programs, and maritime symbols emerge as key instruments for instilling collective values and reinforcing social unity. A survey of 50 cadets indicates consistently high levels of camaraderie and collectivism. These findings are complemented by interviews with 20 informants, which highlight the role of institutional culture in developing emotional resilience, a strong sense of belonging, and teamwork skills essential for navigating the pressures of the maritime profession. The results reaffirm DurkheimAos theory that rituals function as instruments of social cohesion, while also contextualizing its relevance within maritime education in Indonesia. Theoretically, this research enriches sociological discourse by situating maritime traditions within broader frameworks of collective identity formation. Practically, it offers a strategic model for character development, positioning traditions as intentional mechanisms to cultivate both professional expertise and interpersonal solidarity. Policy recommendations emphasize the need for maritime academies to sustain, adapt, and institutionalize traditions as a strategy for preparing competent and resilient cadets. Overall, this study bridges theoretical perspectives with practical applications, providing valuable insights for educators, policymakers, and maritime institutions seeking to enhance holistic cadet development through culturally embedded practices. A 2021 The Authors. Published by Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Mauritz Halomoan Manontang Sibarani Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta Email: mauritz. 1968@gmail. Sibarani & Krisa Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx PENDAHULUAN Pendidikan tinggi di bidang pelayaran memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan pendidikan vokasi maupun akademik lainnya. Profesi pelaut tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual, keahlian teknis, dan kesiapan fisik, tetapi juga membutuhkan fondasi karakter yang kuat, terutama dalam aspek solidaritas, kedisiplinan, dan kebersamaan (MetroviN et al. , 2. Taruna yang menempuh pendidikan di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dituntut tidak hanya memahami teori navigasi, teknik permesinan kapal, dan hukum maritim, tetapi juga harus menguasai kemampuan bekerja dalam tim, mengembangkan kesadaran kolektif, serta memiliki komitmen saling mendukung untuk menghadapi dinamika di laut lepas yang penuh risiko. Dalam konteks ini, tradisi dan budaya kampus memainkan peran sentral sebagai sarana internalisasi nilai-nilai nonformal yang tertanam kuat dalam diri setiap taruna. Perubahan zaman membawa tantangan serius terhadap nilai kebersamaan di kalangan generasi muda. Arus individualisme, kompetisi yang berlebihan, serta pengaruh budaya global yang cenderung menonjolkan pencapaian pribadi sering kali mengikis solidaritas (Oubiya Lypez & Gymez Baya, 2025. Pezzi et al. , 2. Kondisi ini berpotensi menjadi masalah besar di dunia pelayaran, sebab profesi pelaut tidak dapat dijalani secara individual. Sebuah kapal hanya dapat berfungsi dengan baik apabila setiap awak menjalankan tugasnya secara harmonis dalam bingkai kolektivitas. Oleh karena itu, kajian tentang peran tradisi dan budaya kampus dalam membentuk karakter kebersamaan taruna menjadi sangat relevan. Sebagai institusi pendidikan vokasi maritim. Politeknik Pelayaran Sumatera Barat memiliki beragam tradisi yang terus dipelihara, baik dalam bentuk kegiatan formal seperti apel bendera, penyematan atribut, maupun aktivitas nonformal seperti malam keakraban, baris-berbaris, serta penggunaan simbol-simbol maritim yang sarat makna (Pinto et al. , 2024. Yang & Wang, 2. Tradisi tersebut bukan hanya sebatas ritual, tetapi berfungsi sebagai media internalisasi nilai kebersamaan yang diterapkan sejak awal pendidikan taruna. Penyambutan taruna baru, misalnya, bukan hanya acara simbolis, melainkan juga tanda pengakuan bahwa individu telah diterima sebagai bagian dari komunitas dengan identitas kolektif. Dengan demikian, tradisi di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dapat dipahami sebagai hidden curriculum yang efektif dalam membentuk perilaku, sikap, dan karakter taruna. Selain itu, tradisi kampus di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat memiliki dimensi Taruna yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya berbeda akan melebur melalui ritual kampus, sehingga nilai-nilai individualistis bertransformasi menjadi nilai kolektif yang menekankan solidaritas (Pinto et al. , 2024. Ye, 2. Hal ini sejalan dengan pemikiran yOmile Durkheim yang menekankan bahwa ritual sosial berfungsi sebagai penguat kohesi kelompok. Dengan demikian, tradisi kampus dapat dipandang sebagai ritual sekuler yang berperan membangun keterikatan sosial. Urgensi penelitian ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga Dunia pelayaran identik dengan kondisi ekstrem seperti badai, isolasi panjang di laut, hingga tekanan psikologis akibat ruang gerak terbatas. Dalam situasi seperti itu, kebersamaan bukanlah nilai tambahan, tetapi syarat utama agar kehidupan kapal dapat berjalan stabil (Hayes-Mejia & Stafstrym, 2023. Svetina et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan maritim harus mempersiapkan taruna yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga berkarakter kolektif dan resilien. Beberapa studi terdahulu menegaskan pentingnya budaya kampus dalam pembentukan karakter mahasiswa. Suryadi. Hakim, dan Putri . menyoroti peran upacara bendera di akademi maritim dalam memperkuat nilai kebangsaan dan solidaritas. Rahman dan Fitri . menemukan bahwa politeknik pelayaran yang konsisten melestarikan tradisi cenderung menghasilkan taruna dengan tingkat kebersamaan lebih tinggi. Sementara itu. Santoso . menekankan pentingnya mentoring lintas generasi sebagai sarana transfer nilai budaya dan solidaritas di kampus maritim. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Peran Budaya Kampus dalam Pembentukan Karakter Kebersamaan Taruna Pelayaran Namun, penelitian yang secara spesifik mengkaji peran tradisi dan budaya kampus di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dalam membentuk kebersamaan masih jarang dilakukan, sehingga menjadi celah penelitian yang perlu dijawab. Pendidikan maritim, khususnya di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, tidak hanya menekankan pencapaian akademik, melainkan juga pembentukan karakter yang mencakup kedisiplinan, daya tahan mental, kemampuan beradaptasi, serta solidaritas. Kebersamaan merupakan inti profesi pelayaran, sebab kapal hanya dapat beroperasi apabila seluruh awak bekerja Tanpa solidaritas, keselamatan maupun efisiensi operasional kapal akan terancam (HayesMejia & Stafstrym, 2024. Svetina et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan maritim menekankan pentingnya pembentukan kebersamaan sejak dini, bahkan sebelum taruna menghadapi praktik laut. Budaya kampus dalam hal ini dapat dipahami sebagai seperangkat nilai, norma, simbol, dan praktik yang dijalankan civitas akademika dalam keseharian. Tradisi kampusAibaik berupa upacara resmi maupun kegiatan nonformalAimenjadi sarana internalisasi nilai (Lee et al. , 2024. Pinto et al. , 2. Di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, tradisi hadir melalui apel bendera, penyematan tanda kehormatan, malam keakraban, kegiatan baris-berbaris, hingga simbolisasi atribut taruna. Tradisi ini menciptakan atmosfer kebersamaan yang menumbuhkan identitas kolektif bagi setiap taruna. Teori klasik membantu menjelaskan fenomena ini. Durkheim menegaskan bahwa ritual memperkuat solidaritas sosial, sementara Berger dan Luckmann melalui teori konstruksi sosial menunjukkan bahwa realitas dibangun melalui interaksi dan simbol (Pizarro et al. , 2022. Vine, 2. Dengan demikian, tradisi kampus tidak hanya memperkuat solidaritas, tetapi juga membentuk cara pandang taruna sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Literatur kontemporer juga mendukung pentingnya tradisi kampus. Wijaya dan Maharani . menemukan bahwa ritual akademik meningkatkan keterlibatan sosial mahasiswa. Putra dan Lestari . menegaskan pentingnya penerimaan taruna baru dalam membentuk identitas kolektif. Rahman dan Fitri . menyatakan bahwa konsistensi pelestarian tradisi berhubungan dengan kohesi emosional mahasiswa, sedangkan Harahap dan Firdaus . menyoroti kontribusi tradisi terhadap resiliensi mental taruna (Chye et al. , 2024. Pinto et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini mendapat dukungan teoritis dan empiris yang kuat. Namun demikian, terdapat kekosongan kajian yang cukup jelas. Sebagian besar studi sebelumnya hanya membahas tradisi kampus secara umum atau pada institusi non-maritim. Penelitian khusus mengenai tradisi Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dalam membentuk kebersamaan taruna masih sangat terbatas, padahal pendidikan maritim memiliki keunikan Tradisi seperti penggunaan simbol maritim atau kegiatan baris-berbaris yang menyerupai kehidupan di kapal mengandung makna berbeda dari tradisi kampus lain (Academy, 2021. MetroviN et al. , 2. Hal inilah yang memperkuat relevansi penelitian ini. Perubahan sosial generasi muda juga memperkuat urgensi penelitian. Generasi digital saat ini cenderung lebih individualistis, bebas mengekspresikan diri, tetapi sering kurang memiliki ikatan kolektif. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, akan timbul ketidaksesuaian antara karakter generasi muda dengan tuntutan profesi pelayaran yang menekankan kolektivitas (Hayes-Mejia & Stafstrym, 2024. MetroviN et al. , 2. Tradisi kampus di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menanamkan nilai kebersamaan yang dibutuhkan. Dari sudut pandang praktis, penelitian ini relevan bagi kebutuhan institusi. Sebagai lembaga vokasi. Politeknik Pelayaran Sumatera Barat bertanggung jawab mencetak lulusan yang tidak hanya berkompetensi akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan karakter. Manajemen kampus perlu memahami sejauh mana tradisi yang ada efektif membentuk kebersamaan taruna. Data empiris dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan, baik mempertahankan tradisi tertentu, memperbarui ritual agar sesuai konteks generasi, maupun merancang tradisi baru yang lebih relevan (S. Wang et , n. Wang & Chen, 2. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Sibarani & Krisa Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis peran tradisi serta budaya kampus dalam membentuk karakter kebersamaan taruna di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Pertanyaan penelitian difokuskan pada bentuk tradisi dominan, pengalaman subjektif taruna dalam menghayati tradisi, serta kontribusi tradisi terhadap internalisasi nilai kebersamaan. Dengan menjawab hal ini, penelitian diharapkan memberi gambaran menyeluruh tentang hubungan budaya kampus dan pembentukan karakter taruna. Kontribusi penelitian ini tidak hanya pada pengembangan teori pendidikan karakter, tetapi juga pada praktik pendidikan maritim. Selama ini pendidikan karakter banyak dibahas dalam konteks kurikulum formal, padahal pengalaman nonformal seperti tradisi kampus juga berperan penting (Li et al. , 2. Dengan menyoroti aspek ini, penelitian dapat memperkaya wacana akademik sekaligus menginspirasi lembaga pendidikan lain untuk mengoptimalkan tradisinya. Selain itu, penelitian ini memiliki relevansi sosial yang luas. Dalam kehidupan bermasyarakat, kebersamaan adalah fondasi harmoni sosial. Di tengah arus globalisasi yang menekankan kompetisi individu, pelestarian tradisi yang menanamkan nilai solidaritas menjadi semakin penting (MartynLucas et al. , 2024. Pizarro et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya signifikan bagi dunia akademik atau praktik Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan karakter bangsa. Dengan uraian tersebut, penelitian tentang tradisi dan budaya kampus dalam pembentukan karakter kebersamaan taruna di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat memiliki urgensi akademis, praktis, dan sosial. Penelitian ini mengisi celah studi sebelumnya, memperkuat teori klasik maupun modern, serta memberi kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan vokasi maritim di Indonesia. Karenanya, penelitian ini tidak hanya menjadi kajian akademik, melainkan juga strategi mempersiapkan generasi pelaut Indonesia yang unggul secara teknis, tangguh secara karakter, dan berjiwa kolektif dalam menghadapi tantangan global. MATERI DAN METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif guna menelaah secara mendalam kontribusi tradisi dan budaya kampus dalam membentuk karakter kebersamaan taruna di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Pendekatan ini dipilih karena tujuan studi adalah menggali makna, pengalaman, serta persepsi taruna terhadap tradisi kampus, sekaligus menelusuri bagaimana budaya institusional memengaruhi nilai solidaritas dan kolektivitas. Metode kualitatif dianggap paling sesuai untuk menangkap kompleksitas sosial, emosional, dan kultural yang tidak terukur secara kuantitatif, serta untuk mengungkap interaksi simbolis yang lahir dari pelaksanaan tradisi di lingkungan pendidikan maritim (MetroviN et al. , 2. Lokasi penelitian ditetapkan di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat mengingat kampus ini memiliki tradisi kuat, baik formal maupun nonformal, yang melibatkan seluruh civitas akademika. Tradisi formal meliputi apel bendera mingguan, orientasi taruna baru, penyematan tanda kehormatan, serta apel besar sebagai bagian dari pembinaan karakter (Jessiman et al. , 2022. Taylor, 2. Sedangkan tradisi nonformal meliputi malam keakraban, latihan baris-berbaris, kegiatan ekstrakurikuler bernuansa maritim, mentoring antarangkatan, hingga ritual simbolik yang meneguhkan identitas kolektif taruna. Semua bentuk kegiatan ini dijadikan fokus penelitian karena diyakini memainkan peran penting dalam menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan. Sumber data utama terdiri dari taruna, instruktur, pejabat akademik, dan pengurus organisasi Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah dokumen resmi. Sebanyak 30 informan kunci diwawancarai, meliputi taruna senior, taruna junior, staf pengajar, dan pegawai administrasi. Wawancara dilakukan dengan format semiterstruktur untuk memungkinkan eksplorasi makna dan pengalaman subjektif, khususnya terkait pengaruh tradisi kampus terhadap kedisiplinan, identitas kolektif, kerja tim, dan solidaritas (Beard et , 2023. Taylor, 2. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Peran Budaya Kampus dalam Pembentukan Karakter Kebersamaan Taruna Pelayaran Observasi partisipatif dilaksanakan dalam berbagai kegiatan tradisi, antara lain apel bendera, kegiatan orientasi, latihan baris-berbaris, dan acara malam keakraban. Peneliti mencatat interaksi sosial, pola keterlibatan, ekspresi emosional, komunikasi verbal maupun nonverbal, serta simbol-simbol budaya yang muncul. Observasi berfungsi sebagai cara memverifikasi data wawancara sekaligus menangkap konteks sosial yang melandasi pembentukan kebersamaan (Ahmed, 2024. Wu & Shen, 2. Selain itu, observasi juga menyingkap dinamika mentoring, peran taruna senior, serta proses transfer nilai lintas generasi. Dokumentasi menjadi sumber data tambahan untuk memperkuat analisis wawancara dan observasi(Dalglish et al. , 2. Dokumen yang ditelaah mencakup panduan orientasi, arsip kegiatan upacara, laporan evaluasi program tradisi, serta pedoman resmi pengembangan budaya kampus. Telaah dokumen bertujuan memahami struktur, frekuensi, serta peran institusi dalam menjamin keberlangsungan internalisasi nilai kebersamaan. Kombinasi dari tiga teknik pengumpulan data ini memberikan gambaran holistik tentang bagaimana tradisi kampus membentuk karakter taruna. Tahapan penelitian dimulai dengan koordinasi bersama pihak manajemen Politeknik Pelayaran Sumatera Barat guna memperoleh izin dan menetapkan daftar calon informan. Proses wawancara dijadwalkan agar tidak mengganggu aktivitas akademik dan praktik taruna. Observasi dilakukan secara berulang pada beragam kegiatan formal maupun nonformal untuk menangkap perspektif yang lebih kaya. Seluruh prosedur pengumpulan data dilakukan sesuai kaidah etis, mencakup informed consent, jaminan kerahasiaan identitas, serta hak partisipan untuk menarik diri kapan pun tanpa konsekuensi (Dalglish et al. , 2. Analisis data mengikuti pendekatan tematik dengan tahapan coding terbuka, axial coding, dan selective coding(Kim & Yoo, 2. Data dari wawancara, observasi, serta dokumen diproses secara iteratif hingga muncul tema-tema utama, yaitu: . ragam tradisi kampus. pengalaman subjektif taruna. internalisasi nilai kebersamaan. pengaruh tradisi terhadap disiplin, solidaritas, dan kerja sama. mekanisme transfer nilai antar generasi. Setiap tema ditelaah untuk memahami bagaimana praktik sosial, simbolis, dan kultural membentuk identitas kolektif Validitas penelitian dijaga dengan beberapa strategi. Pertama, triangulasi sumber melalui perbandingan data wawancara, observasi, dan dokumen. Kedua, member checking dengan meminta informan memverifikasi interpretasi awal peneliti. Ketiga, audit trail yang merekam seluruh proses penelitian agar dapat ditelusuri. Keempat, peer debriefing melalui diskusi dengan pakar pendidikan maritim guna meminimalkan bias subjektif (Johnson et al. , 2. Penelitian dilakukan secara longitudinal sepanjang 6 bulan terakhir. Desain ini memungkinkan pengamatan terhadap dinamika tradisi dari waktu ke waktu, termasuk adaptasi dan inovasi yang dilakukan kampus, misalnya perubahan format apel, orientasi, atau kegiatan keakraban agar lebih relevan dengan generasi muda. Pendekatan jangka panjang ini memberikan pemahaman mengenai proses internalisasi nilai kebersamaan yang berlangsung bertahap serta dampaknya dalam jangka panjang terhadap pembentukan karakter (Tian, 2. Metodologi ini menekankan pemahaman holistik terhadap pengalaman taruna. Wawancara mendalam menggali makna subjektif, observasi mengungkap dinamika simbolis dan interaksi kelompok, sementara dokumen memberikan kerangka formal mengenai regulasi dan pelaksanaan tradisi (Alexander. Wright, et al. Kombinasi teknik ini memastikan gambaran menyeluruh mengenai peran tradisi kampus dalam menumbuhkan kebersamaan secara sosial, emosional, dan kultural. Analisis juga merujuk pada teori pendidikan karakter dan sosiologi ritual. Tradisi kampus diposisikan sebagai instrumen pembentukan kolektivitas, sedangkan budaya kampus dipahami sebagai konteks sosial yang mendukung internalisasi nilai (Arthur, 2024. Nurasiah et al. , 2. Dengan demikian, data empiris dihubungkan dengan teori Durkheim mengenai solidaritas, konstruksi sosial Berger dan Luckmann, serta literatur mutakhir tentang pendidikan karakter. Analisis tematik yang digunakan tidak hanya deskriptif, melainkan interpretatif, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika kebersamaan. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Sibarani & Krisa Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Secara keseluruhan, rancangan metodologi kualitatif ini dimaksudkan agar temuan penelitian merefleksikan pengalaman nyata taruna Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Melalui triangulasi data, member checking, audit trail, peer debriefing, serta pendekatan longitudinal, validitas dan kredibilitas temuan dapat terjamin(Lloyd et al. , 2024. Scantlebury & Adamson, 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberi kontribusi teoritis bagi pengembangan studi pendidikan karakter berbasis tradisi, sekaligus menghadirkan rekomendasi praktis bagi pengelola institusi maritim dalam menumbuhkan solidaritas, disiplin, serta identitas kolektif taruna. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan dari penelitian kualitatif ini menegaskan bahwa tradisi serta budaya kampus di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat memainkan peran fundamental dalam membentuk karakter kebersamaan taruna. Dari wawancara mendalam dengan 30 informan utamaAiyang terdiri atas taruna senior, taruna junior, instruktur, serta pejabat akademikAiterungkap bahwa keterlibatan taruna dalam tradisi kampus berkontribusi pada lahirnya kesadaran kolektif, rasa solidaritas, dan kedisiplinan yang tertanam secara mendalam. Para taruna menekankan bahwa tradisi tidak sematamata bersifat seremonial formal, melainkan sarana pembelajaran sosial yang secara nyata menanamkan nilai kebersamaan melalui praktik kolektif dan interaksi harian (Christiansen et al. Salah satu tradisi yang menonjol adalah orientasi taruna baru yang berlangsung selama beberapa hari dengan kegiatan berupa pengenalan lingkungan kampus, simulasi kerja sama tim, permainan kelompok, mentoring lintas angkatan, serta pengenalan nilai-nilai kemaritiman(Karahalil et al. , 2023. Popa et al. , 2. Taruna junior mengungkapkan bahwa pengalaman orientasi memberikan rasa diterima sebagai bagian dari komunitas. Seorang informan menyatakan. AuSaya merasa telah menjadi bagian keluarga besar Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Kegiatan orientasi mengajarkan saya bekerja sama serta menghormati teman seangkatan dan senior. Ay Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi berfungsi sebagai pintu masuk internalisasi nilai kolektif sejak awal pendidikan. Tradisi lain yang berperan penting adalah upacara bendera mingguan(Alexander. Haight, et , 2. Hasil observasi memperlihatkan seluruh taruna terlibat aktif dengan mengikuti aturan baris-berbaris, menunjukkan sikap hormat, serta menjunjung tinggi disiplin selama prosesi. Menurut para taruna, kegiatan ini menumbuhkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kesadaran bahwa setiap individu memegang peranan krusial dalam keberhasilan kelompok. Seorang instruktur menambahkan bahwa melalui upacara, taruna belajar bahwa solidaritas dan kerja sama adalah fondasi keberhasilan timAisuatu hal yang sangat relevan ketika mereka kelak bekerja di atas kapal yang menuntut koordinasi tinggi. Tradisi nonformal berupa malam keakraban juga menjadi medium penguatan hubungan Kegiatan ini berisi permainan kelompok, refleksi pengalaman, pertunjukan seni, serta mentoring senior kepada junior (Eubank & DeVita, 2. Dari wawancara, taruna menilai malam keakraban mendorong tumbuhnya rasa percaya, empati, dan kebersamaan, khususnya bagi mereka yang baru bergabung. Seorang informan menyampaikan. AuLewat malam keakraban, saya belajar menghargai perbedaan teman dan menyadari bahwa kita harus saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan nonformal mampu memberikan dampak signifikan terhadap pembentukan nilai sosial dan emosional. Latihan baris-berbaris, baik saat orientasi maupun kegiatan rutin, juga menjadi pengalaman kolektif yang bernilai. Observasi menunjukkan kegiatan ini menuntut koordinasi, disiplin, ketepatan, serta ketaatan pada instruksi (Altaftazani et al. , 2020. Saul et al. , 2. Taruna mengungkapkan bahwa latihan baris-berbaris melatih mereka bekerja dalam keselarasan, memahami peran masingmasing, dan menaati aturan. Walau berbentuk aktivitas fisik, praktik ini memiliki pengaruh psikologis yang memperkuat solidaritas sekaligus tanggung jawab kelompok. Selain itu, mekanisme mentoring Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Peran Budaya Kampus dalam Pembentukan Karakter Kebersamaan Taruna Pelayaran lintas angkatan menjadi sarana transfer nilai antar generasi (Penman et al. , 2. Taruna junior menuturkan bahwa bimbingan dari senior membantu mereka memahami tradisi kampus, budaya, serta nilai kebersamaan secara langsung. Di sisi lain, taruna senior merasakan adanya tanggung jawab moral untuk membimbing adik tingkat, yang sekaligus menumbuhkan kepemimpinan dan rasa tanggung jawab sosial. Temuan ini selaras dengan teori sosiologi pendidikan yang menegaskan pentingnya proses pewarisan sosial-budaya dalam pembentukan identitas kolektif. Hasil analisis dokumen kampus memperkuat bukti lapangan. Panduan orientasi, arsip upacara, serta laporan evaluasi tradisi memperlihatkan bahwa setiap kegiatan dirancang sistematis untuk menanamkan nilai solidaritas, disiplin, dan tanggung jawab kolektif. Tingginya frekuensi kegiatan, keterlibatan penuh seluruh taruna, dan sinergi antara program formal maupun nonformal menegaskan bahwa tradisi kampus berfungsi sebagai hidden curriculum yang efektif dalam pembentukan karakter(Hopkins et al. , 2024. Li et al. , 2. Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi kampus juga mendukung penguatan resiliensi mental taruna. Aktivitas kolektif yang sarat disiplin, kerja sama, dan adaptasi sosial melatih taruna menghadapi tekanan, mengelola konflik interpersonal, serta beradaptasi dengan situasi kompleks(Navickien & Vasiliauskas, 2024. Zueger et al. , 2. Kondisi ini relevan dengan realitas dunia pelayaran yang menuntut koordinasi intensif, pengambilan keputusan kelompok, serta daya tahan psikologis tinggi. Taruna bahkan menyebut bahwa keterlibatan rutin dalam tradisi membuat mereka lebih siap menjalani praktik laut maupun dinamika kerja tim di kapal. Pola internalisasi nilai kebersamaan tampak berkesinambungan. Taruna tidak hanya menjalani tradisi karena kewajiban, melainkan menginternalisasi nilai-nilai melalui pengalaman emosional, interaksi sosial, serta praktik kolektif(Stein et al. , 2021. Warran, 2. Misalnya, permainan kelompok dalam orientasi membentuk rasa percaya, empati, dan tanggung jawab terhadap rekan seangkatan. Nilai tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di kampus hingga praktik pelayaran, membuktikan bahwa tradisi memiliki dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter. Analisis tematik mengidentifikasi lima tema utama: . tradisi formal sebagai sarana pembentukan disiplin dan tanggung jawab kolektif. tradisi nonformal sebagai media penguatan ikatan emosional dan solidaritas. mentoring lintas angkatan sebagai jalur transfer nilai dan pembentukan identitas kolektif. internalisasi kebersamaan melalui pengalaman nyata dan interaksi sosial. penguatan resiliensi mental sebagai konsekuensi dari keterlibatan tradisi(Thornton, 2025. Zueger et al. , 2. Kelima tema tersebut saling berkaitan membentuk kerangka holistik tentang bagaimana tradisi kampus menumbuhkan karakter kebersamaan taruna. Dari perspektif teori, temuan ini sejalan dengan pemikiran Durkheim mengenai solidaritas sosial, bahwa ritual kolektif berfungsi memperkuat kohesi kelompok. Tradisi kampus bertindak sebagai ritual sekuler yang menanamkan identitas kolektif sekaligus nilai kebersamaan(Jr et al. Warran, 2. Selain itu, teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann mendukung interpretasi bahwa nilai kolektif dibentuk melalui interaksi, pengalaman bersama, serta pengakuan atas norma kelompok. Dengan demikian, tradisi kampus menjadi arena penerapan nilai sosial secara praktis, bukan sekadar konsep teoritis. Penelitian ini juga memperkaya literatur kontemporer tentang pendidikan karakter. Hasilnya menunjukkan tradisi kampus dapat berfungsi sebagai instrumen efektif dalam pembentukan karakter holistikAimencakup dimensi sosial, emosional, maupun profesional. Taruna tidak hanya berlatih disiplin dan kerja sama, tetapi juga mengembangkan rasa percaya, empati, tanggung jawab, serta daya tahan mental(Kumar et al. , 2024. Zueger et al. , 2. Oleh karena itu, tradisi di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat tidak boleh dipandang sekadar formalitas, melainkan strategi pendidikan karakter yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari taruna. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Sibarani & Krisa Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pengelola Politeknik Pelayaran Sumatera Barat agar tradisi yang terbukti efektif dipertahankan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan generasi muda. Penambahan kegiatan baru yang tetap berfokus pada solidaritas dan kebersamaan dapat meningkatkan relevansi(Forces, 2023. Navickien & Vasiliauskas, 2. Mentoring lintas angkatan harus dipertahankan karena terbukti menjadi mekanisme efektif dalam transfer nilai, sementara kegiatan nonformal dapat dimodifikasi untuk memperkuat keterlibatan emosional taruna. Evaluasi berkala terhadap pelaksanaan tradisi juga penting guna menjamin kesinambungan nilai dan efektivitas pendidikan karakter. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa tradisi dan budaya kampus merupakan instrumen strategis dalam pembentukan karakter kebersamaan taruna. Tradisi di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat menumbuhkan solidaritas, disiplin, tanggung jawab, resiliensi mental, serta identitas kolektif secara komprehensif. Melalui pengalaman nyata, interaksi sosial, dan pembelajaran kolektif, taruna mampu menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi karakter profesional Temuan ini memberikan kontribusi berarti, baik dari segi teoritis maupun praktis, sekaligus dapat dijadikan rujukan bagi pendidikan vokasi maritim di Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat sepanjang periode 2023Ae2025, dapat disimpulkan bahwa tradisi serta budaya kampus memiliki fungsi strategis dalam pembentukan karakter kebersamaan taruna. Tradisi formal seperti upacara bendera, orientasi taruna baru, penyematan tanda kehormatan, dan apel rutin, bersama dengan tradisi nonformal berupa malam keakraban, latihan baris-berbaris, mentoring lintas angkatan, dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis nilai maritim, secara konsisten menjadi wadah pembelajaran sosial yang menanamkan nilai solidaritas, disiplin, tanggung jawab, serta kerja sama (Pinto et al. , 2024. Velden et al. , 2023. Keterlibatan aktif taruna memungkinkan terjadinya proses internalisasi nilai kebersamaan yang mempersiapkan mereka menghadapi tuntutan dunia pelayaran dengan lebih Hasil wawancara mendalam dengan taruna senior maupun junior menegaskan bahwa tradisi formal bukan sekadar simbol seremonial, melainkan mekanisme transfer nilai antar Orientasi taruna baru berfungsi sebagai sarana internalisasi solidaritas, rasa tanggung jawab, dan identitas kolektif (Cooper, 2021. Velden et al. , 2023. Sementara itu, mentoring oleh taruna senior memberikan pengalaman langsung bagi junior dalam memahami arti kerja sama, penghargaan terhadap perbedaan, serta dukungan tim. Mekanisme ini menjamin keberlanjutan budaya kampus sekaligus memperkuat penanaman nilai kebersamaan lintas generasi. Observasi partisipatif memperlihatkan bahwa tradisi formal mampu memperkuat kedisiplinan sekaligus koordinasi kelompok. Melalui upacara bendera maupun latihan baris-berbaris, taruna dilatih menghormati aturan, menaati instruksi, dan menjaga kesatuan kelompok. Aktivitas terstruktur ini menjadi pengalaman nyata dalam membangun kesadaran tanggung jawab kolektif, keterampilan bekerja sama, serta resiliensi mental. Disiplin yang terbentuk melalui kegiatan tersebut sangat relevan baik untuk konteks akademik maupun kehidupan profesional di atas kapal, yang menuntut ketepatan, koordinasi, dan kolaborasi intensif. Tradisi nonformal seperti malam keakraban maupun kegiatan ekstrakurikuler berbasis nilai kemaritiman menekankan dimensi sosial dan emosional dari pembentukan karakter. Melalui kegiatan ini, taruna merasa dihargai, diterima, dan semakin termotivasi untuk bekerja sama dengan rekan seangkatan. Proses interaksi, pengalaman emosional, serta keterlibatan aktif dalam tradisi nonformal memperkuat identitas kolektif dan menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan kelompok merupakan hasil kontribusi setiap individu. Analisis dokumen kampus menunjukkan bahwa tradisi dijalankan secara konsisten dan terencana. Panduan orientasi, laporan evaluasi, serta catatan upacara memperlihatkan desain kegiatan yang matang untuk memastikan nilai kebersamaan benar-benar terinternalisasi. Tingginya tingkat partisipasi tarunaAilebih dari 90%Ai menunjukkan bahwa tradisi diterima secara sukarela dan telah menjadi bagian integral kehidupan Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Peran Budaya Kampus dalam Pembentukan Karakter Kebersamaan Taruna Pelayaran Konsistensi tersebut menegaskan bahwa nilai disiplin, solidaritas, dan kerja sama tidak hanya diajarkan secara formal, tetapi benar-benar dijalani dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa tradisi kampus membangun ketahanan mental Aktivitas fisik seperti latihan baris-berbaris maupun pengalaman kerja kelompok saat menghadapi tekanan dan praktik laut melatih daya tahan psikologis, kemampuan adaptasi, serta keterampilan mengelola konflik interpersonal. Taruna yang aktif dalam tradisi terbukti memiliki kesiapan lebih baik untuk menghadapi dinamika kerja tim, tanggung jawab profesional, dan disiplin Tradisi kampus, dengan demikian, membentuk karakter taruna secara holistik, mencakup aspek sosial, emosional, dan profesional. Selain itu, mentoring lintas angkatan, kegiatan orientasi, dan interaksi sosial nonformal menjamin proses transfer nilai antar generasi. Taruna senior tidak hanya membimbing secara teknis, tetapi juga menanamkan norma, budaya, dan semangat solidaritas yang memperkuat identitas kolektif meski terjadi pergantian angkatan. Mekanisme ini menjaga kohesi sosial, loyalitas, serta keterikatan kelompok, yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan profesional taruna di dunia pelayaran yang penuh tantangan multikultural. Secara tematik, penelitian ini mengidentifikasi lima tema utama, yaitu: pengalaman kolektif, internalisasi solidaritas, transfer nilai antar generasi, pembentukan disiplin, serta penguatan resiliensi mental dan profesional. Kelima tema ini saling melengkapi, menciptakan kerangka yang menggambarkan karakter taruna secara menyeluruh. Partisipasi aktif taruna dalam tradisi kampus tidak hanya melahirkan rasa bangga terhadap kelompok, tetapi juga membangun motivasi untuk saling mendukung, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan kohesi sosial. (Lloyd et al. , 2. Dari sisi teori, hasil penelitian mendukung pemikiran Durkheim tentang solidaritas sosial, yang menegaskan bahwa ritual dan tradisi berfungsi memperkuat kohesi kelompok serta identitas kolektif. Demikian pula, teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann menekankan bahwa nilai serta norma sosial terbentuk melalui interaksi sehari-hari, termasuk dalam tradisi kampus. Penelitian ini memperluas perspektif tersebut dengan menyoroti pengalaman subjektif taruna, dinamika antar generasi, serta dampak jangka panjang tradisi terhadap pembentukan karakter kebersamaan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi dan budaya kampus di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat terbukti menjadi instrumen efektif dalam pembentukan karakter kebersamaan taruna. Melalui kombinasi tradisi formal, tradisi nonformal, mekanisme mentoring, pengalaman kolektif, internalisasi solidaritas, pembiasaan disiplin, serta penguatan resiliensi mental, karakter taruna terbentuk secara utuh. Temuan ini menjadi landasan empiris penting untuk pengembangan kebijakan institusional, praktik pendidikan karakter yang efektif, serta rujukan dalam pengembangan pendidikan vokasi maritim di Indonesia. Tradisi kampus bukanlah sekadar simbol seremonial, tetapi sarana pendidikan sosial yang membentuk taruna berkarakter kuat, disiplin, solid, serta siap menghadapi tantangan profesional di dunia pelayaran. REFERENSI