Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X http://ojs. id/index. php/JPP/index Status kesuburan kimia tanah pada lahan perkebunan karet dengan tingkat lereng dan posisi tapak polypedon yang berbeda Zuhri Multazam a,1,*. Muhammad Syarif b. Ajidirman b *a Politeknik Negeri Sriwijaya. Indonesia. b Universitas Jambi. Indonesia. 1 zuhri. multazam@polsri. *Correspondent Author Received: 20 Februari 2024 Revised: 10 Oktober 2024 ABSTRAK KATAKUNCI Kesuburan tanah Survey lahan Polypedon Perkebunan karet rakyat Accepted: 10 Oktober 2024 Penilaian status kesuburan tanah penting dijadikan acuan dalam optimalisasi pengelolaan, peningkatan efisiensi dan produktivitas lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kesuburan kimia tanah pada perkebunan karet rakyat melalui survei dengan pendekatan konsep posisi polypedon tanah dan kelas lereng lahan di Provinsi Jambi. Sampel tanah komposit diambil dari polypedon tanah atas, tengah, dan bawah pada tingkat persen lereng lahan 15-24%, 8-15%, 3-8%, dan 0-3%. Paramater kesuburan kimia tanah yang dianalisis adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK). Kejenuhan Basa (KB). P2O5. K2O. C-Organik. N-Total dan pH tanah. Penentuan status kesuburan berdasarkan kriteria yang dikeluarkan Pusat Penelitian Tanah Bogor tahun 1983. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kesuburan kimia tanah tergolong rendah pada semua tingkat lereng lahan dan pada semua polypedon. Optimalisasi produktivitas budi daya tanaman karet di lokasi penelitian direkomendasikan agar melakukan pengapuran untuk peningkatan pH tanah, pemberian bahan organik dan pemupukan, terutama pupuk dengan unsur hara nitrogen, dan kalium. Status of soil chemical fertility on land of smallholder rubber plantation with difference of slope and site position KEYWORDS Soil fertility Land survey Polypedon Smallholder rubber plantation Assessment of soil fertility status is important as a reference in optimizing management, increasing efficiency and productivity of agricultural land. This research aims to determine the status of soil chemical fertility in smallholder rubber plantations through a survey with the concept approach of soil polypedon position and land slope class in Jambi Province. The soil composite samples were taken from the top, middle, and bottom soil polypedons at the percent level of land slope of 15-24%, 8-15%, 3-8%, and 0-3%. Soil chemical fertility parameters analyzed were Cation Exchange Capacity (CEC). Base Saturation. P2O5. K2O. C-Organic and N-Total and soil pH. Determination of fertility status is based on criteria issued by the Bogor Soil Research Center in 1983. The results showed that soil chemical fertility status was low at all land slope levels and in all polypedons. Optimizing the productivity of rubber plant cultivation at the research site is recommended to liming to increase soil pH, providing organic matter and fertilizing, especially fertilizers with nitrogen and potassium nutrients. http://doi. org/10. 54387/jpp. jpp@polteklpp. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Perkebunan karet di Indonesia dengan luas 3,546 juta ha. memiliki memainkan peran penting dalam perekonomian dan menjadi negara eksportir karet alam terbesar di dunia. , namun menghadapi banyak tantangan terutama bagi petani kecil, salah satunya adalah tingkat kesuburan tanah, pemupukan dan keberlanjutannya . , . Kesuburan kimia tanah menjadi faktor yang menentukan dalam menunjang pertumbuhan tanaman perkebunan karet (Hevea brasiliensi. Penilaian kesuburan tanah pada lokasi budi daya sangat diperlukan untuk menentukan tingkat pengelolaan, rekomendasi dan strategi pengembangan budidaya tanaman karet yang produktif . Status kesuburan kimia tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekstur tanah, kandungan unsur hara, pH tanah, dan faktor topografi seperti tingkat lereng . Upaya pemanfaatan dan pendayagunaan lahan untuk peningkatan pendapatan petani secara maksimal harus selalu diupayakan, sehingga sangat penting untuk mengetahui lebih detail mengenai kendala-kendala spesifik tanah perkebunan yang berbasis lokasi, terutama di Provinsi Jambi memiliki perkebunan karet terluas ke tiga setelah Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kesuburan kimia tanah pada lahan perkebunan karet rakyat di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo Provinsi Jambi pada berbagai tingkat lereng dan posisi tapak polypedon lahan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih baik dalam upaya meningkatkan manajemen tanah dan produktivitas pertanian, dan umumnya dalam konteks pertanian karet di Indonesia. Metode Pengambilan sampel tanah di lapangan diperoleh dengan survei melalui pendekatan polypedon tanah . sebagai satuan unit individu tanah pada berbagai kelas lereng kemiringan topografi lahan. Satuan sampel tanah komposit diperoleh dari polypedon atas, tengah dan bawah, dan datar di mana dari masing-masing polypedon tersebut dengan pengambilan sebanyak tiga kali ulangan, sehingga total didapatkan 10 sampel tanah komposit seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Multazam . dan Putri . Pengambilan sampel di lapangan dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. mengambil contoh tanah tidak dari galengan, selokan, bibir teras, tanah tererosi, bekas pembakaran sampah/ sisa tanaman/ jerami, tanah tertimbun, bekas penimbunan pupuk, kapur dan bahan organik, dan bekas penggembalaan ternak. Permukaan tanah yang diambil contohnya dibersihkan dari rumput-rumputan, sisa tanaman, bahan organik/serasah, dan batu-batuan atau kerikil. Alatalat yang digunakan bersih dari kotoran-kotoran dan tidak berkarat, kantong plastik yang digunakan masih baru. Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah pada lahan kering dilakukan pada kondisi kapasitas lapang . elembaban tanah sedang yaitu keadaan tanah kirakira cukup untuk pengolahan tana. Analisis tanah di laboratorium dilakukan pada sampel masing-masing tanah komposit persatuan polypedon tanah untuk analisis kesuburan kimianya. Jenis parameter analisis laboratorium dan metode yang digunakan . ditampilkan pada Tabel 1. Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Tabel 1. Parameter dan Metode Analisis Sampel Tanah di Laboratorium Parameter Satuan Metode Analisis C-Organik Walkley dan Black N-Total Kjeldahl P2O5 (HCL 25 %) g/100. Spektrofotometer K2O (HCL 25 %) . g/100. Flamefotometer Kapasitas Tukar Kation (KTK) . e/100. NH4OAc pH 7 1N Basa-basa tertukar (K. Na. Ca. e/100. NH4OAc pH 7 1N Kejenuhan Basa (KB) Perhitungan Analisis kesuburan tanah dilakukan pada setiap satuan tanah secara repsentatif. Satuan tanah sampel ini ditentukan dengan pendekatan polypedon. Data hasil pengamatan di lapangan dan hasil analisa tanah di laboratorium diinterpretasikan secara deskriptif untuk masing-masing Satuan Tanah. Penentuan nilai kandungan bahan organik diperoleh dari persen kandungan C-Organik yaitu C-Org x 1,724 . Sistem penentuan harkat penilaian sifat kimia dan kesuburan tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah berdasarkan kriteria yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Tanah (PPT) Bogor . Hasil dan Pembahasan Parameter sifat kimia tanah dianalisis dan dikaitkan antar satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan analisis yang lebih mendasar berkaitan dengan kandungan unsur hara tanah dalam kaitannya dengan proses dan kelas lerengnya. Hasil penelitan dan pembahasannya disajikan ke dalam: 1. Kandungan C-Organik dan Bahan Organik, 2. Kandungan unsur hara makro (N-Total. P2O5 dan K2O), 3. Basa-basa terlarut. Kejenuhan Basa dan Kapasitas Tukar Kation, dan 4. Analisis Status Kesuburan Tanah. Kandungan Bahan Organik dan C-Organik Tanah Kandungan C-Organik tanah pada kedalaman 0-30 cm pada semua sampel daerah penelitian memiliki kriteria rendah yakni berkisar antara 1,14-1,87% dan persen kandungan bahan organik berkisar 1,97-3,22%. Nilai C-organik dan bahan organik tanah ditampilkan pada Tabel 2 berikut. Kandungan C-Organik dan bahan organik pada topografi datar lereng 0-3% memiliki nilai kandungan yang tertinggi . ,87%) dibandingkan dengan semua polypedon lereng yang lainnya. Hal ini di sebabkan proses penimbunan bahan organik terjadi lebih intensif dan relatif tidak tererosi sehingga nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan polyepdon lainnya. Tabel 2. Kandungan persen C-Organik dan Bahan Organik Lereng (%) Kode Polypedon C-Organik (%) Bahan Organik (%) 1,87 R 3,22 K3 A 1,46 R 2,52 K3 T 1,14 R 1,97 K3 B 1,48 R 2,55 K2 A 1,74 R 3,00 K2 T 1,45 R 2,50 K2 B 1,65 R 2,84 Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Keterangan Kode : A=Polypedon tapak atas. T=Polypedon tapak tengah. B=Polypedon tapak bawah Tabel 2. Lanjutan Lereng (%) Kode Polypedon C-Organik (%) Bahan Organik (%) K1 A 1,39 R 2,40 K1 T 1,33 R 2,29 K1 B 1,44 R 2,48 Keterangan Kode : A=Polypedon tapak atas. T=Polypedon tapak tengah. B=Polypedon tapak bawah Kandungan nilai C-Organik dan Bahan Organik pada polypedon topografi berombak 3-8% (K3A,K3T,K3B), bergelombang 8-15% (K2A,K2T,K2B), dan berbukit kecil 15-24% (K1A,K1T,K1B), pada semua polypedon tapak atas (Kode A) memiliki nilai lebih tinggi dari pada polypedon tapak tengah (Kode T) dan naik lebih tinggi pada polypedon tapak bawah (Kode B). Rendahnya nilai C-organik pada polypedon tapak tengah tersebut disebabkan oleh kemiringan lereng yang lebih tinggi sehingga erosi tanah dan bahan organik berjalan lebih cepat yang mengakibatkan tebalnya bahan organik lebih tipis dan terbawa oleh air karena limpasan permukaan. Tingginya C-organik dan bahan organik polypedon tapak atas karena permukaan tanahnya cenderung datar dan jumlah relatif air erosi lebih rendah dan lebih banyak meresap ke dalam tanah. Sedangkan nilai C-Organik pada lereng bawah lebih tinggi dari pada lereng tengah adalah selain karena laju erosi lebih kuat pada lereng tengah dan terakumulasi pada lereng bagian bawah. Rendahnya bahan organik pada tanah pada lokasi penelitian adalah memang kendala tanah Ultisol. , selain umumnya pada lahan tersebut tidak ada input, kecuali dari dedaunan serasah secara alami. Kandungan Unsur Hara Makro (N-Total. P2O5, dan K2O) Unsur hara makro terutama N. P dan K penting untuk diketahui karena dibutuhkan dalam jumlah yang banyak untuk tanaman yang produktif. Kandungan unsur hara makro N-Total pada lokasi penelitian semuanya tergolong rendah. Kandungan Posfor (P) tinggi dan sangat tinggi dan unsur hara K tergolong sangat rendah. Perbedaan nilai kandungan unsur hara tersebut sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi masing-masing unsur di Adapun kandungan unsur hara tersebut terdapat pada tabel 3. Kandungan N-Total Tanah hasil analisis pada seluruh sampel tanah penelitian pada kedalaman 0-30 cm semua nilai N-totalnya berkisar 0,15 Ae 020%, hal ini menunjukkan kelas kriteria kesuburan yang Rendahnya kriteria kandungan nitrogen disebabkan karena rendahnya bahan organik yang merupakan sumber utama di dalam tanah dan pengaruh kemasaman tanah yang cukup Selain itu rendahnya nilai N-total sangat mungkin disebabkan karena N di dalam tanah maupun tanaman sangat mobile, sehingga keberadaan N dalam tanah cepat berubah atau bahkan hilang. Kehilangan N atau penyebab rendahnya kandungan N-total dari tanah ini adalah karena pengaruh pH yang masam dan pengaruh denitrifikasi dan erosi. Kadar liat tanah juga mempengaruhi kandungan N, makin tinggi kadar liat juga semakin tinggi kandungan N Sehingga rata-rata kandungan N-Total pada polypedon datar, polypedon tapak bawah, dan polypedon tapak atas lebih tinggi jika dibandingkan dengan polypedon tapak tengah. Tabel 3. Kandungan Unsur Hara Makro Lokasi Penelitian Lereng (%) Kode Polypedon N-Total (%) P2O5 Ekstraksi HCl 25% K2O 0,19 R 80,15 ST 4,57 SR Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X K3 A 0,16 R 55,88 T 4,65 SR Keterangan Kode Polypedon: A=Polypedon lereng atas. T=Polypedon lereng tengah. B=Polypedon lereng bawah Tabel 3. Lanjutan Lereng (%) Kode Polypedon N-Total (%) P2O5 Ekstraksi HCl 25% K2O K3 T 0,15 R 50,34 T 4,61 SR K3 B 0,18 R 53,60 T 4,66 SR K2 A 0,17 R 41,17 T 4,63 SR K2 T 0,16 R 41,50 T 5,69 SR K2 B 0,20 R 48,44 T 6,62 SR K1 A 0,16 R 56,43 T 6,67 SR K1 T 0,15 R 48,74 T 4,64 SR K1 B 0,19 R 48,64 T 5,64 SR Keterangan Kode Polypedon: A=Polypedon lereng atas. T=Polypedon lereng tengah. B=Polypedon lereng bawah Topografi dan proses erosi juga mempengaruhi jumlah N-Total dalam tanah. Pada polypedon tanah datar 0-3% . ode K. termasuk lebih tinggi nilainya . karena memiliki bahan organik yang lebih tebal dibandingkan dengan semua polypedon kecuali pada polypedon bawah bergelombang (K2B) dan sama pada polypedon bawah topografi berbukit (K1B). Pada semua topografinya dari polypedon atas ke polypedon tengah semua nilainya mengalami turun dan naik pada polypedon bawah atau, pada semua polypedon tengah ( Kode T) nilainya selalu lebih rendah dibandingkan dengan N-total pada polyepdon atas (Kode A) dan pada polypedon bawah (Kode B). Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena pengaruh bentuk bentuk dan posisi lereng. Erosi tanah atau limpasan permukaan pada polypedon tengah lebih massif sehingga bahan organik lebih tipis dan terbawa air sehingga terjadi akumulasi pada polypedon di bawahnya. Kandungan N-Total dapat dilihat untuk topografi berombak 3-8% pada polypedon tapak atas K3A ke polypedon tengah K3T lebih rendah dan K3B lebih tinggi . ,16. 0,15. Pada topografi bergelombang 8-15% polypedon K2A dari polypedon atas ke polypedon tengah K2T nilai N-totalnya menurun dan dan mengalami kenaikan pada polypedon dibawahnya (K2B) dengan nilai . ,17. 0,16. Demikian juga pada topografi berbukit kecil 15-24% nilainya menurun pada polypedon tengah dari polypedon atas dan naik pada polypedon bawah. Selanjutnya jika kita perhatikan pada masing-masing topografinya antara berombak, bergelombang dan berbukit kecil dengan antar semakin tinggi kecuraman atau persen lereng terlihat bahwa nilai N-total menjadi lebih rendah yaitu dari bergelombang ke berbukit, kecuali dari berombak ke bergelombang yang naik. Nilai N-Total pada polypedon tapak atas (K3A,K2A,K1A) pada topografi berombak, bergelombang dan berbukit berturut-turut adalah 16,17,dan 16. Pada polypedon tapak tengah (K3T,K2T,K1T) dengan lereng lebih tinggi . , 16. Sedangkan pada polypedon tapak bawah (K3B,K2B,K1B) dengan semakin curam . , 20. Pada topografi bergelombang . -15%) memiliki nilai N-Total lebih tinggi dari yang lainnya terutama pada polypedon bawah nilainya paling tinggi . ,20%) adalah karena kecenderungan bentuk topografi terkhusus pada polypedon bawah kaki lerengnya di lapangan berbentuk cekungan dan mendatar. Sementara pada topografi 15-24% polypedon bawahnya rata-rata adalah berbentuk aliran drainase cekungan tajam (V) dan langsung berseberangan polypedon Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X bukit lainnya. Kandungan P2O5 Kandungan P2O5 tergolong kriteria tinggi sampai sangat tinggi berkisar antara 41,1780,15%. Kriteria sangat tinggi hanya pada polypedon datar (K. kandungan P dengan nilai 80,15. Tingginya kandungan P2O5 pada polypedon K4 ini sebabkan oleh pengelolaan lahan yang pernah di pupuk P meski dengan tidak dilakukan dengan secara intensif dan teratur. Pada selain polypedon datar K4 kriterianya adalah tinggi, baik pada polypedon atas, tengah maupun Pada semua polypedonnya kandungan nilai P2O5 memiliki kriteria nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan unsur hara lainnya. Pada polypedon topografi berombak dari polypedon atas K3A ke polypedon K3T dan ke polypedon K3B yang terjadi turun dari atas ke tengan dan ke bawah naik. Pada polypedon topografi bergelombang terjadi kenaikan nilai dari polypedon atas K2A ke polypedon tengah K2T dan polypedon bawah K2B. Pada topografi berbukit dari polypedon atas K1A ke polypedon tengah K1T nilainya turun dan polypedon tengah ke polypedon bawah K1B Meningkat dan turunnya nilai P ini dipengaruhi erosi yang mempengaruhi tingkat dekomposisi dan ketebalan bahan organik pada masing-masing polypedonnya. Demikian juga untuk pengaruh yang terjadi pada semakin curamnya lereng. Meskipun kandungan P2O5 termasuk tinggi namun ketersediaan untuk tanaman menjadi sangat terbatas karena disebabkan nilai pH yang masam sehingga P tidak dapat diserap tanaman karena diikat oleh Al. Pada tanah yang bereaksi masam ketersediaan unsurunsur makro terutama fosfat sangat rendah, karena pada umumnya dijerap terutama oleh Al dan Fe. Serapan fosfor yang normal oleh tanaman akan berlangsung selama kemasaman tidak terlalu tinggi. Kandungan K2O Kandungan unsur hara kalium pada lokasi penelitian tergolong sangat rendah berkisar antara 4,57-6,67. Pada polypedon datar kandungan K2O 4,57 ini lebih rendah dibandingkan pada polypedon lainnya. Rendahnya hara kalium merupakan kendala utama tanah Ultisol. Sangat rendahnya unsur hara kalium di dalam tanah selain mudah tercuci, tingkat ketersediaanya sangat dipengaruhi oleh pH dan kejenuhan basa. Pada pH rendah dan kejenuhan basa rendah kalium mudah hilang tercuci, pada pH netral dan kejenuhan basa tinggi kalium diikat oleh Ca. Kapasitas tukar kation yang makin besar meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan kalium, dengan demikian larutan tanah lambat melepaskan Kalium dan menurunkan potensi pencucian. Seperti yang diungkapkan Nursyamsi . bahwa kekahatan kalium pada lokasi penelitian merupakan gejala umum yang terjadi pada tanah Ultisol. Pada topografi berombak dari polypedon atas ke tengah dan bawah nilainya turun, pada polypedon tengah K3T dan naik pada polypedon bawah K3B. Pada topografi bergelombang (K. nilainya semakin naik dari atas ke tengah dan ke bawah, 4,63. 5,69. 6,62. Pada polypedon topografi berbukit nilainya turun dari polypedon atas ke polypedon tengah dan naik pada polypedon di bawahnya. Selanjutnya untuk sama-sama polypedon atas (K3A. K2A. K1A) dengan semakin curamnya lereng dari topografi berombak ke bergelombang nilai kandungan K2O menurun, dan meningkat dari topografi bergelombang ke berbukit nilainya yaitu, 4,65. 4,63. 6,67. Untuk polypedon tengah (T) dan polypedon bawah (B) dengan semakin curamnya lereng nilainya semakin meningkat dari berombak ke bergelombang dan menurun dari bergelombang ke topografi berbukit. Rendahnya kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah . , pemupukan, dan pemberian bahan organik. Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Basa-basa terlarut. KTK dan KB Kation nilai basa-basa terlarut. KTK dan KB juga sangat mempengaruhi tingkat kesuburan Kapasitas tukar kation (KTK) adalah ukuran total muatan negatif dalam tanah yang menyerap dan mempertukan kation-kation hara tanaman. Kejenuhan basa (KB) adalah persentase KTK yang ditempati oleh kation-kation basa (Ca2 . Mg2 . K ). Adapun tabel datanya dapat dilihat pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Data nilai basa-basa terlarut. KTK dan KB Leren g (%) Kode Polypedo Basa-basa terlarut . e/100 . KTK e/100 KB(%) OcBasa 3,17R 2,42T 0,68T 0,37R 6,64 12,44 R 53,38 T K3 A 3,27R 2,28T 0,68T 0,39 R 6,62 12,16 R 54,44 T K3 T 2,62R 2,16T 0,65T 0,40S 5,83 11,68 R 49,91 S K3 B 3,71R 2,84T 0,69T 0,39R 7,63 13,64 R 55,94 T K2 A 2,75R 1,62S 0,61T 0,36R 5,34 12,48 R 42,79 S K2 T 2,87R 1,94S 0,68T 0,39R 5,88 12,05 R 48,80 S K2 B 2,36R 1,92S 0,71T 0,39R 5,38 11,84 R 45,44 S K1 A 2,72 R 2,08T 0,82T 0,36R 5,98 11,23 R 53,25 T K1 T 2,24R 1,95S 0,79T 0,32R 5,30 10,84 R 48,89 S K1 B 2,78R 1,53S 0,63T 0,39R 11,06 R 48,19 S Keterangan Kode : A=Polypedon lereng atas. T=Polypedon lereng tengah. B=Polypedon lereng bawah. R=Rendah. S=Sedang. T=Tinggi. ST=Sangat Tinggi Basa-basa terlarut Kandungan basa-basa terlarut Ca. Mg. K dan Na kriterianya berkisar dari rendah sampai Semua basa Ca pada semua polypedonnya adalah rendah. Kandungan Mg dari sedang sampai tinggi, kriteria tinggi pada polypedon topografi datar dan berombak sedangkan tinggi pada polypedon topografi bergelombang. Kandungan K memiliki kriteria tinggi pada semua polypedonnya sedangkan kriteria Na pada semua polypedon adalah rendah. Tingginya nilai Mg dan K pada lokasi penelitian menjadi pertanyaan yang perlu jawaban lebih lanjut, dimungkinkan oleh kandungan mineral bahan induk tanahnya. Jumlah kation basa pada polypedon topografi berombak lereng 3-8 % pada polypedon atas K3A ke polypedon tengah K3T terjadi penurunan Ca. Mg. K dan jumlah basa kecuali Na Pada polypedon tengah K3T ke polypedon bawah K3B mengalami kenaikan yaitu pada Ca. Mg. K dan jumlah basa kecuali Na. Pada topografi bergelombang lereng 8-15 % pada polypedon atas K2A ke polypedon tengah K2T terjadi kenaikan Ca. Mg. K dan Na dan jumlah Pada polypedon tengah K2T ke polypedon K2B bawah terjadi kenaikan nilai Ca. Mg. Ka dan jumlah basa sementara Na stabil. Pada topografi berbukit di atas 15%. Polypedon atas K3A ke polypedon tengah K3T nilai basa-basanya semuanya menurun. Polypedon K3T ke polypedon K3B Ca. Na dan jumlah basa naik. Mg dan K menurun. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Pada tabel terlihat bahwa kapasitas tukar kation (KTK) tanah lokasi penelitian berkisar antara 10,84-13,64 me/100g tanah. Kapasitas Tukar Kation pada semua polypedon lokasi penelitian termasuk dalam kriteria rendah. Rendahnya nilai KTK tanah Ultisol tersebut adalah hasil analisis amonium asetat (NH4OAc pH . Belum termasuk kation-kation asam seperti Al3 dan H sehingga nilai KTK tersebut termasuk rendah . Nilai KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri antara lain adalah: 1. Reaksi tanah atau pH 2. Tekstur tanah atau jumlah liat 3. Jenis mineral liat 4. Bahan organik 5. Pengapuran dan pemupukan. Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Kejenuhan Basa (KB) Kejenuhan basa pada lokasi penelitian dari tabel terlihat berkisar antara 42,79 Ae 55,94 %. Nilai kejenuhan basa pada kisaran ini menunjukkan kriteria tinggi sampai sangat tinggi. Kejenuhan basa kriteria tinggi pada polypedon K4. K3A. K3B, dan K1A. Sedang kriteria sedang pada Polypedon K3T, polypedon K2A. K2T. K2B dan pada polypedon K1T dan K1B pada topografi berbukit kecil. Nilai kejenuhan basa pada polypedon atas (K3A. K2A. K1A), polypedon tengah (K3T. K2T. K1T) dan pada polypedon bawah (K3B. K2B. K1B) dengan semakin curamnya lereng dari berombak ke bergelombang semuanya nilai KB menurun dan dari lereng bergelombang ke berbukit semuanya nilai KB naik. Nilai kejenuhan basa pada tanah Ultisol seharusnya adalah rendah dengan nilai sekitar di bawah 35%, namun menurut Hardjowigeno . kejenuhan basa pada kedalaman kurang dari 1,8 m dapat lebih rendah atau lebih tinggi dari 35 persen. Adapun tingginya kejenuhan basa tersebut disebabkan karena rendahnya nilai KTK yang tanpa kation-kation asam. Analisis Status Kesuburan Tanah Analisis status kesuburan kimia tanah pada masing-masing satuan tanah hasil analisis laboratorium dilakukan dengan cara membandingkan data parameter dengan kriteria penilaian sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Staf Pusat Penelitian Tanah 1983. Selanjutnya ditetapkan status kesuburan tanahnya berdasar kriteria penetapan status kesuburan tanah yang dikeluarkan oleh Staf Pusat Penelitian Tanah 1983. Hasil analisis status kesuburan kimia tanah lokasi penelitian adalah seperti pada tabel berikut. Tabel 5. Penilaian Status Kesuburan Kimia Tanah N Lereng o (%) Kode Polype Status Kesubur Nilai data dan Kriteria sifat kimia tanah KTK e/100 (%) P2O5 K2O e/100 C-Org (%) 12,44 R 53,38 T 80,15 4,57 1,87 Rendah K3 A 12,16 R 54,44 T 55,88 4,65 1,46 Rendah K3 T 11,68 R 49,91 50,34 4,61 1,14 Rendah K3 B 13,64 R 55,94 T 53,60 4,66 1,48 Rendah K2 A 12,48 R 42,79 41,17 4,63 1,74 Rendah K2 T 12,05 R 48,80 41,50 5,69 1,45 Rendah K2 B 11,84 R 45,44 48,44 6,62 1,65 Rendah K1 A 11,23 R 53,25 T 56,43 6,67 1,39 Rendah K1 T 10,84 R 48,89 4,64 1,33 Rendah 48,74 K1 B 11,06 R 48,19 S 48,64 T 5,64 SR 1,44 R Rendah Keterangan : A=Polypedon lereng atas. T=Polypedon lereng tengah. B=Polypedon lereng bawah. R=Rendah. S=Sedang. T=Tinggi. ST=Sangat Tinggi. Status kesuburan tanah dari tabel 5 di atas dapat dilihat dan dijelaskan sebagai berikut: Polypedon tapak datar Nilai data status kriteria kesuburan tanah pada polypedon datar (K. sebagai berikut: nilai KTK adalah 12,44 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 53,38 termasuk kriteria tinggi. nilai P2O5 80,15 masuk kriteria sangat tinggi. K2O nilainya 4,57 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai datanya 1,87 termasuk kriterianya rendah. Sehingga jika KTK=Rendah. Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X KB=Tinggi. P2O5=Sangat Tinggi. K2O =Sangat Rendah. C-Organik=Rendah, maka status kriteria kesuburan tanahnya adalah rendah. Polypedon Tapak Atas Status kesuburan tanah pada polypedon tapak atas topografi 3-8% (K3A), nilai KTK adalah 12,16 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 54,44 termasuk kriteria tinggi. nilai P2O5 55,58 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 4,65 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai datanya 1,46 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah Pada polypedon tapak atas topografi 8-15% (K2A), untuk KTK adalah 12,48 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 47,79 termasuk kriteria tinggi. nilai P2O5 41,17 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 4,63 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai datanya 1,74 termasuk kriteria rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah rendah. Untuk polypedon tapak atas topografi 15-24% (K1A), untuk KTK adalah 11,23 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 53,25 termasuk kriteria tinggi. nilai P2O5 56,43 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 6,67 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai datanya 1,39 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah rendah. Polypedon tapak tengah Polypedon tapak tengah lereng 3-8% (K3T), untuk KTK adalah 11,68 kriterianya termasuk Nilai KB adalah 49,91 termasuk kriteria sedang. nilai P2O5 50,34 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 4,61 masuk kriteria sangat rendah. dan C-Organiknya adalah 1,14 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah rendah. Polypedon tapak tengah lereng 8-15% (K2T), untuk KTK adalah 12,05 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 48,80 termasuk kriteria tinggi. nilai P2O5 41,50 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 5,69 masuk kriteria sangat rendah. dan C-Organiknya adalah 1,45 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah rendah. Polypedon tapak tengah lereng 15-24% (K1T), untuk KTK adalah 10,48 kriterianya termasuk rendah. Nilai KB adalah 48,89 termasuk kriteria sedang. nilai P2O5 48,74 masuk kriteria tinggi. K2O nilainya 4,64 masuk kriteria sangat rendah. dan C-Organiknya adalah 1,33 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kesuburan tanahnya adalah rendah. Polypedon tapak bawah Polypedon tapak bawah lereng 3-8% (K3B). KTK adalah 13,64 kriterianya termasuk KB 55,94 termasuk kriteria tinggi. P2O5 53,60 masuk kriteria tinggi. K2O 4,66 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai 1,48 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kriteria kesuburan pada polypedon tapak bawah topografi berombak lereng 3-8% adalah Polypedon tapak bawah lereng 8-15% (K2B). KTK adalah 11,84 kriterianya termasuk KB 45,44 termasuk kriteria sedang. P2O5 48,44 masuk kriteria tinggi. K2O 6,62 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai 1,65 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kriteria kesuburan pada lereng 8-15% adalah rendah. Polypedon bawah lereng 15-24% (K1B), bawah KTK adalah 11,06 kriterianya termasuk KB 48,19 termasuk kriteria sedang. P2O5 48,64 masuk kriteria tinggi. K2O 5,64 masuk kriteria sangat rendah. C-Organik nilai 1,44 termasuk kriterianya rendah. Sehingga status kriteria kesuburan pada lereng 15-24% adalah rendah. Dari data tabel 5 dan bahasan di atas terlihat bahwa status kesuburan tanah lokasi penelitian pada semua polypedon, topografi dan persen lerengnya adalah termasuk kriteria Rendahnya status kesuburan tersebut disebabkan rendahnya semua nilai KTK dan kandungan C-Organik serta K2O yang sangat rendah. Status kesuburan yang rendah tersebut jamak terjadi pada perkebunan karet daerah lain seperti yang telah dilaporkan di Kalimantan Selatan. Bengkulu. dan Sumatera Barat . Untuk menaikkan status kesuburan dari kriteria rendah agar menjadi lebih baik maka upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian bahan organik untuk meningkatkan kandungan C-organik tanah dan pemupukan terutama pupuk dengan kandungan kalium (K2O). Zuhri Multazam et al. (Status kesuburan kimia tanah pada lahan. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Simpulan Berdasarkan hasil survei dan analisis yang dilakukan pada daerah penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa status kesuburan kimia tanah pada perkebunan karet tergolong rendah pada semua polypedon dan semua tingkat persen lereng lahan dari 0-3%, 3-8%, 8-15%, dan 15-24%, baik pada polypedon tapak atas, tengah, bawah dan datar. Rendahnya status kesuburan tanah lokasi penelitian dikarenakan sangat rendahnya kandungan unsur hara tanah terutama K2O, kandungan KTK dan C-organik. Untuk optimalisasi produktivitas budi daya tanaman karet di lokasi penelitian direkomendasikan agar melakukan pengapuran untuk peningkatan pH tanah, pemberian bahan organik dan pemupukan, terutama pupuk dengan unsur hara nitrogen, dan kalium. Daftar Pustaka