Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Edukasi Budaya Jepang Sebagai Daya Tarik Wisata di Kampung Sakura Kota Batu Jawa Timur Rahadiyan Duwi Nugroho1*. Cicilia Tantri Suryawati2. Titien Wahyu Andarwati3. Cahyaningsih Pujimahanani4. Sitty Najwa Amalia Putri5. Satria Ammar Fayadh6. Alvina Salshabilla Linjani Putri7 1*, 2, 3, 5,6 Sastra Jepang, 4,7Sastra Inggris. Fakultas Sastra. Universitas Dr. Soetomo. Indonesia. *Corresponding Author. Email: rahadiyan. duwi@unitomo. Abstract: This community service program aims to enhance the understanding and skills of tourism managers about Japanese culture as a tourist attraction in Kampung Sakura Batu. East Java. The service method employs Participatory Action Research (PAR) oriented towards community empowerment. The evaluation instruments utilize questionnaires and interviews, with qualitative descriptive data analysis techniques to assess the outcomes. The results of this service activity show an increase in knowledge among Kampung Sakura managers about several Japanese cultures, including how to wear a Yukata correctly, perform a tea ceremony, make sushi, arrange Japanese flowers (Ikeban. , and understand simple Japanese conversations that can be used to welcome tourists visiting Kampung Sakura. Article History: Received: 18-06-2025 Reviewed: 20-07-2025 Accepted: 30-07-2025 Published: 25-08-2025 Key Words: Community Empowerment. Japanese Culture. Tourist Attractions. Sakura Village. Abstrak: Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pengelola wisata tentang budaya Jepang sebagai daya tarik wisata Kampung Sakura Batu Jawa Timur. Metode pengabdian ini menggunakan Participatory Action Research (PAR) berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Instrumen evaluasi menggunakan kuesioner dan wawancara dengan teknik analisis data menggunakan dekriptif kualitatif. Hasil kegiatan pengabdian ini yakni, bertambahnya pengetahuan pengelola Kampung Sakura mengenai beberapa kebudayaan Jepang, seperti cara mengenakan Yukata dengan benar, cara melaksanakan Upacara minum teh, cara membuat sushi, cara merangkai bunga a la Jepang (Ikeban. , dan pemahaman tentang percakapan sederhana dalam bahasa Jepang yang dapat digunakan untuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke Kampung Sakura. Sejarah Artikel: Diterima: 18-06-2025 Direview: 20-07-2025 Disetujui: 30-07-2025 Diterbitkan: 25-08-2025 Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat. Budaya Jepang. Daya Tarik Wisata. Kampung Sakura. How to Cite: Nugroho. Suryawati. Andarwati. Pujimahanani. Putri. Fayadh. , & Putri. Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Edukasi Budaya Jepang Sebagai Daya Tarik Wisata di Kampung Sakura Kota Batu Jawa Timur. Jurnal Pengabdian UNDIKMA, 6. , 615-625. https://doi. org/10. 33394/jpu. https://doi. org/10. 33394/jpu. This is an open-access article under the CC-BY-SA License. Pendahuluan Pasca Covid-19 industri pariwisata mengalami keterpurukan. Salah satu alternatif pengembangan pariwisata di Indonesia pasca covid-19 adalah kesadaran masyarakat untuk mengembangkan desa menjadi desa wisata. Desa-desa wisata di Indonesia banyak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata yang unggul dan berdaya saing di tingkat internasional, dengan catatan dapat dikelola dengan baik. Kalaupun tidak sampai terkenal mendunia, setidaknya dapat meningkatkan pereokonomian desa dan menciptakan lapangan Untuk mengagas dan mewujudkan desa wisata ada 3 komponen penting yang Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 perlu dimiliki yakni, adanya potensi desa, minat masyarakat, dan keunikan yang dimiliki sebagai pembeda dengan desa wisata yang lain (Krisnawati, 2. Pendampingan dalam mengembangkan sektor pariwisata di desa sebagai salah satu alternatif untuk mendongkrak ekonomi produktif telah dilakukan di Desa Bumiaji. Kecamatan Bumiaji. Kota Batu. Jawa Timur. Kegiatan pendampingan melalui workshop serta diskusi untuk membentuk kelembagaan yang terintegrasi dalam pengelolaan pariwisata desa. Kegiatan ini menghasilkan usulan skema kelembagaan dalam pengelolaan pariwisata di Desa Bumiaji yang dapat diadaptasi sebagai kerangka pendirian lembaga bagi para pengelola yang integratif dan akomodatif bagi kepentingan partisipasi masyarakat, dan diharapkan di program selanjutnya kegiatan ini dapat dikembangkan dan terintegrasi pula dengan program penelitian sosial budaya (Ristiawan et al. , 2. Kampung Sakura juga merupakan sebuah desa wisata yang terletak di Kota Batu. Jawa Timur yang berada di RT 5 RW 11. Desa Sidomulyo. Kecamatan Batu. Kampung Sakura merupakan destinasi wisata baru yang mengusung konsep budaya Jepang. Gagasan terbentuknya Desa Wisata Kampung Sakura Sidomulyo ini dikarenakan adanya kegiatan lomba merias kampung tingkat RT. Oleh karena mayoritas warga di wilayah Desa Sidomulyo RT 5 ini sebagai petani bunga, terusunglah Bunga Sakura untuk dijadikan tema riasan kampung warga RT 5. Dengan memanfaatkan limbah plastik, limbah bekas bangunan, dan pohon apel yang sudah mati. Ibu-Ibu warga RT 5 merakit limbah-limbah tersebut menjadi bunga sakura buatan untuk menghias kampungnya. Dari hasil lomba tersebut. RT 5 menjadi juara di tingkat desa, dan dilombakan hingga kota kemudian menjadi juara. Dari sini, warga masyarakat RT 5 Desa Sidomulyo kemudian mematenkan wilayahnya sebagai Desa Wisata Kampung Sakura. Sidomulyo. Walau Kampung Sakura sudah memiliki konsep unik bertema budaya Jepang dengan berbagai fasilitas seperti gerbang khas Jepang, jembatan, kolam koi, miniatur pohon sakura, penyewaan yukata, dan penjualan suvenir, pengelolaan oleh Paguyuban PAPA TAKARA masih menemui kendala. Pemanfaatan fasilitas belum optimal karena pengelola kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan paket wisata yang menarik dan berkelanjutan. Selain itu, belum ada strategi promosi yang terencana, sehingga kunjungan wisatawan masih musiman dan dampak ekonominya bagi warga belum terasa besar. Koordinasi warga dan keberlanjutan kegiatan juga perlu ditingkatkan agar konsep budaya Jepang yang ada tidak sekadar menjadi dekorasi, tetapi benar-benar memberi pengalaman wisata yang otentik dan edukatif. Karena itu, pengabdian masyarakat penting dilakukan untuk memperkuat kemampuan pengelolaan, memperluas promosi, dan memanfaatkan potensi lokal dalam mengembangkan Kampung Sakura menjadi destinasi wisata yang kompetitif. Gambar 1. Kampung Sakura. Sidomulyo Batu Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Agar eksistensi Kampung Sakura ini dapat bertahan, penyediaan sarana dan prasarana fisik bergaya Jepang saja tidaklah cukup. Oleh karena, suguhan berupa sarana atau prasarana fisik saja dikhawatirkan tidak akan dipahami oleh pengunjung, manakala para pengelola maupun warga Kampung Sakura tidak dipacu keahlian dan pengetahuannya tentang budaya Jepang. Di samping itu, sebelum Kampung Sakura di Desa Sidomulyo ini berdiri, wisata kejepangan di Jawa Timur yang sudah lebih dahulu berdiri misalnya. The Onsen Hot Spring di Songgoriti Batu. Legend Star di Jatim Park 3. Batu, dan Goa Jepang di Pasuruan. Hal ini tentu menambah persaingan destinasi wisata bertema kejepangan di Jawa Timur yang tentunya dapat menentukan naik dan turunnya minat pengunjung. Oleh sebab itu perlu adanya pelatihan tentang budaya Jepang yang meliputi Bahasa Jepang, chanoyu, ikebana, membuat sushi. Selain di Jawa Timur, desa wisata yang potensial dikunjungi oleh wisatawan asal Jepang karena panorama alam dan potensi budayanya adalah Desa di Kecamatan Blahbatuh. Kabupaten Gianyar Bali. Meski bukan desa wisata bertema kejepangan, jumlah wisatawan asing dari negara ini cukup mendominasi kunjungan di sana. Panorama alamnya berupa Yeh Pulu dan Goa Gajah. Di sini, pengelola dan pemandu wisata lokal . mendapatkan pembinaan kepariwisataan melalui pendidikan pariwisata, pelatihan bahasa Jepang dan diskusi agar pengetahuan mengenai kepariwisataan meningkat dan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Jepang pun juga meningkat. Pembinaan ini dilakukan karena wisatawan Jepang tidak banyak yang mampu atau fasih berbahasa Inggris. Jikalau mampu, mereka akan lebih nyaman menggunakan bahasa mereka sendiri dalam berkomunikasi (Sendra et al. , 2. Upaya promosi desa wisata menggunakan bahasa asing juga dilakukan lewat kegiatan pengabdian di Desa agrowisata Cihideung Kabupaten Bandung Barat. Kebun Mini Serba Ada Kabupaten Bandung Barat. Cibugary Jakarta Timur, dan Hutan Mangrove Kota Tegal. Kegiatan tersebut berupa pengenalan bahasa asing untuk meningkatkan promosi daerah Bahasa asing yang dikenalkan yakni, bahasa Inggris. Jepang. Prancis. Jerman dan Rusia. Bahasa asing tersebut diimplementasikan menjadi poster pengenalan agrowisata berbahasa asing, ornamen bahasa asing, pembagian buku edukasi tentang pengenalan bahasa asing, serta video promosi desa agrowisata dengan bahasa asing tersebut (Susanti et al. Pelatihan bahasa Jepang kepada pelaku wisata di desa wisata agar lebih mengenalkan lokasi dan produk yang ditawarkan kepada wisatawan Jepang juga dilakukan di tempat Misalnya, pelatihan bahasa Jepang bagi pelaku wisata Kampung Kelengkeng Desa Simoketawang. Kecamatan Wonoayu. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur (Yuana et al. , 2. Lalu, pelatihan bahasa Jepang bagi masyarakat di Desa Wisata Claket. Kecamatan Pacet. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur (Andari et al. , 2. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Sakura Kota Batu ini menitikberatkan pada edukasi budaya Jepang yang dikemas dalam bentuk materi dan Materi dan pelatihan budaya Jepang tersebut yakni, pakaian tradisional Jepang yukata, upacara minum teh atau chanoyu, merangkai bunga atau ikebana dan membuat sushi. Edukasi dan praktik budaya Jepang kepada Pengelola Kampung Sakura atau PAPA TAKARA ini dilakukan atas permintaan para pengelola agar diberi edukasi dan keilmuan mengenai budaya Jepang, karena kegiatan-kegiatan budaya Jepang tersebut juga merupakan rangkaian paket wisata yang ditawarkan oleh Pengelola Kampung Sakura kepada para Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa pemahaman keilmuan yang benar dan utuh tentang budaya Jepang bagi para pengelola. Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 sehingga ketika para pengelola menyampaikan dan mempraktikkan kegiatan budaya Jepang tersebut kepada pengunjung, penyampaiannya sudah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan konsep budaya Jepang yang sesungguhnya. Metode Pengabdian Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Desa Wisata Kampung Sakura. Jln. Mawar Batik RT 05 RW 11 Desa Sidomulyo. Kecamatan Batu. Kota Batu. Sasaran kegiatan ini adalah Paguyuban Pengelola Wisata Kampung Sakura (PAPA TAKARA) dengan jumlah pengurus sebanyak 17 orang. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini menggunakan Participatory Action Research (PAR). PAR atau Penelitian Tindakan Partipatif adalah pendekatan penelitian yang mengutamakan nilai pengetahuan pengalaman untuk mengatasi masalah (Cornish. Flora et al. , 2. Metode ini bertujuan pada pemberdayaan masyarakat, dengan memberikan pengalaman secara langsung dalam kegiatan pengabdian. Masyarakat dapat dikatakan berdaya jika pemenuhan kebutuhan penyelesaian masalah praktis, pengembangan ilmu pengetahuan, dan proses perubahan sosial keberagaman terpenuhi (Afandi et al. , 2. Sejalan dengan kondisi mitra yakni. Paguyuban Pengelola Wisata Kampung Sakura yang membutuhkan gagasan-gagasan baru dalam pengembangan desa wisata Kampung Sakura agar semakin diminati para pengunjung. Sejalan dengan gagasan tim pengabdi, (Afandi et al. , 2. menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah usaha untuk menciptakan kemandirian masyarakat dari sifat ketergantungan pada pihak lain. Apabila masyarakat telah berhasil membangun kemandirian, maka perubahan sosial akan terjadi dengan sendirinya. Tahapan kegiatan pengabdian dilakukan melalui 3 tahap yakni, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Tahapan persiapan dimulai dengan observasi lokasi Desa Wisata Kampung Sakura serta dialog dengan Pengelola Kampung Sakura terkait masalah yang dihadapi mitra dalam upaya pengembangan Kampung Sakura. Setelah observasi dilakukan dan data kebutuhan mitra didapatkan, tim pengabdi merumuskan solusi dengan rencana kegiatan edukasi dan pelatihan budaya Jepang yang kemudian disampaikan kepada Pengelola Kampung Sakura. Kedua, pelaksanaan dilakukan di Kampung Sakura dengan wujud edukasi dan pelatihan budaya Jepang berupa pakaian yukata, chanoyu, ikebana dan sushi. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara bertahap. Tim pengabdian dari Fakultas Sastra datang ke Kampung Sakura sebanyak 3 kali dengan melaksanakan kegiatan tersebut secara bertahap kepada Pengelola Kampung Sakura. Ketiga, evaluasi. Di sini, tim pengabdi datang bersamaan dengan kegiatan Pengelola Kampung Sakura memberikan pelatihan budaya kepada SMK Kartika IV/1 Malang. Dari sini, tim pengabdi turut mengevaluasi seberapa banyak serapan pengetahuan budaya Jepang dan hasil pelatihan yang telah diberikan kepada Pengelola Kampung Sakura dapat ditransfer dengan baik, benar dan akurat kepada pengunjung melalui penjelasan dan demonstrasi budaya Jepang seperti yukata, chanoyu, ikebana dan sushi di kesempatan ini. Secara teknis, pelaksanaan pelatihan budaya Jepang dibagi ke dalam teori dan Secara lebih ringkas, kegiatan tersebut diuraikan dalam tabel berikut. Tabel 1. Pelatihan Budaya Jepang Durasi waktu . No. Topik Penjabaran Yukata Pemaparan pakaian tradisional Jepang . , jenis, dan cara pemakaiannya. Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Chanoyu Ikebana Sushi Demonstrasi/praktik. Pemaparan filosofi chanoyu dan manfaat dari upacara minum teh. Demonstrasi/praktik. Pemaparan filosofi ikebana dan kegunaannya Demonstrasi/praktik. Pemaparan makanan tradisional Jepang . Demonstrasi/praktik. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Hasil Pengabdian dan Pembahasan Pengenalan dan Demonstrasi Budaya Jepang Hasil dari kegiatan pengabdian di Kampung Sakura. Kota Batu ini berwujud edukasi dan praktik/demonstrasi budaya Jepang kepada Pengelola Kampung Sakura dan juga disampaikan kepada SMK Kartika IV/1 Malang. Hasil kegiatan pengabdian ini yakni, cara memakaikan pakaian yukata, upacara minum teh . , merangkai bunga . , dan membuat sushi. Kegiatan pengabdian ini merupakan kegiatan yang diharapkan mitra agar dibekali oleh pengetahuan budaya Jepang, sehingga ketika mereka menjelaskan kepada pengunjung dapat memberikan pemahaman yang benar terkait budaya Jepang. Hal ini, tentu berbeda dengan penelitian terdahulu yang dalam kegiatan pengabdiannya, lebih banyak memberikan edukasi dan praktik bahasa Jepang kepada mitranya. Berikut uraian hasil dari kegiatan pengabdian ini. Cara Memakaikan Yukata Gambar 2. Penjelasan Materi Baju Yukata dan Pemakaiannya Yukata adalah salah satu pakaian tradisional Jepang yang tetap dipakai sampai saat Berbeda dengan kimono yang dibuat dengan kain yang tebal, yukata terbuat dari katun, sehingga lebih cocok dipakai di Indonesia yang beriklim tropis. Di Jepang, yukata merupakan salah satu pakaian tradisional Jepang . yang biasa digunakan ketika sore hari atau setelah berendam di malam hari dan biasa juga dipakai pada musim panas (Amri, 2. Yukata biasa digunakan pada musim panas, bahan dan kain yang tipis membuatnya lebih nyaman digunakan di saat cuaca panas, sedangkan kimono biasanya pada musim dingin, baik untuk di luar maupun di dalam rumah. Yukata lebih sering digunakan di luar ruangan, khususnya acara musim panas seperti pertunjukan hanabi dan festival bon odori, serta Sedangkan, kimono lebih sering digunakan pada acara formal, seperti kelulusan atau doa pertama tahun baru (Amri, 2. Di berbagai acara kejepangan yang diselenggarakan di Indonesia, banyak peserta yang mengenakan yukata tidak terkecuali di Kampung Sakura. Pengunjung Kampung Sakura di Desa Sidomulyo. Batu dapat menyewa yukata dan mengambil foto dengan latar Kampung Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Sakura yang memang dirancang menyerupai taman di Jepang. Tetapi baju yukata yang disewakan adalah yukata AuinstanAy yang lebih mudah dipakai, sehingga dipandang perlu untuk belajar memakai yukata yang sesuai pakem. Oleh karena itu, pada kegiatan PkM kali ini, tim abdimas mengajarkan cara memakai yukata yang sesuai pakem. Sebelum mempraktikkan memakai yukata dengan benar, tim abdimas menampilkan gambar yang menunjukkan tahapan-tahapan pemakaian yukata. Setelah itu, tim abdimas Fakultas Sastra Unitomo mempraktikkan cara memakaikan yukata ke salah satu peserta. Berikutnya, giliran peserta mempraktikkan cara memakaikan yukata ke peserta lain. Peserta pun langsung bisa memakaikan yukata ke peserta lain sesuai dengan yang diajarkan tim abdimas. Gambar 3. Demonstrasi Memakai Yukata . Chanoyu (Upacara Minum Te. Gambar 4. Penjelasan Materi Chanoyu Chanoyu merupakan salah satu seni tradisional Jepang yang dilakukan sejak zaman Edo (Rahmah, dkk. , 2. Chanoyu adalah seni menyeduh teh, menyiapkan untuk tamu, dan menikmatinya. Chanoyu atau yang biasa juga disebut dengan sadou tidak hanya mengajarkan cara menyeduh teh dan meminumnya, melainkan juga sarat akan ajaran tentang etika dan estetika ala Jepang. Tanaka . alam Rahmah et al. , 2. menyebutkan bahwa Chanoyu bukanlah acara minum teh biasa melainkan sebuah upacara karena menggunakan suatu metode yang berstruktur sangat rumit dalam menyiapkan minuman yang terbuat dari bubuk teh . , untuk disajikan kepada tamu yang dihormati. Kampung Sakura, sebuah destinasi wisata yang dikelola oleh perkumpulan masyarakat di Desa Sidomulyo Batu, merancang paket wisata edukasi dengan latar bahasa dan budaya Jepang, mencanangkan chanoyu sebagai salah satu kegiatan budaya yang akan ditawarkan kepada pengunjung. Sebagai persiapan untuk hal tersebut, maka Tim Abdimas Unitomo mengajarkan chanoyu kepada ibu-ibu di Kampung Sakura. Pertama-tama, tim pengabdi menjelaskan sejarah, filosofi, dan etika yang diperlukan dalam upacara minum teh tersebut. Setelah itu, tim pengabdi melakukan demonstrasi supaya ibu-ibu/ peserta dapat melihat secara langsung langkah-langkah yang diperlukan saat upacara minum teh. Setelah demonstrasi, peserta mempraktikkan apa yang telah dipelajari, baik berperan sebagai tamu maupun sebagai tuan Dari hasil pelatihan, peserta sangat antusias untuk terus mencoba mempraktikkan Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 sendiri dengan peralatan yang ada di tempat mereka, walaupun banyak dari peserta yang belum terbiasa dengan rasa maccha yang pahit. Gambar 5. Demonstrasi Chanoyu . Seni Merangkai Bunga Ikebana Gambar 6. Penjelasan Filosofi Ikebana Ikebana adalah seni merangkai bunga tradisional Jepang yang tidak hanya menitikberatkan pada keindahan bunga, tetapi juga pada harmoni, keseimbangan, dan makna mendalam di balik setiap susunannya. Pada awalnya Ikebana dibuat sebagai persembahan kepada Budha dan roh leluhur (Rosliana et al. , 2. Berbeda dengan gaya merangkai bunga pada umumnya, ikebana lebih menonjolkan unsur garis, ruang kosong, dan keseimbangan antara elemen alami seperti bunga, ranting, dan daun. Seni yang berkembang sejak abad ke-15 ini kemudian berkembang menjadi sebuah bentuk seni yang mencerminkan filosofi hidup Jepang, yaitu keindahan dalam kesederhanaan dan penghormatan terhadap alam. Setiap rangkaian ikebana memiliki tujuan untuk menciptakan keselarasan antara manusia dan lingkungan, sekaligus menggambarkan keindahan yang bersifat sementara dalam kehidupan. Hingga kini, ikebana terus dipelajari dan diapresiasi di berbagai belahan dunia, tidak hanya sebagai seni rupa tetapi juga sebagai bentuk meditasi yang membawa ketenangan dan kedekatan dengan alam. Oleh karena uniknya seni merangkai bunga ikebana ini. Tim Abdimas Fakultas Sastra Universitas Dr. Soetomo juga berkesempatan mempraktikkan seni ikebana kepada siswasiswi SMK Kartika IV/1 Malang di Kampung Sakura. Dalam kegiatan ini. Tim Abdimas Fakultas Sastra berkolaborasi dengan mitra, yaitu Bapak Bertoes yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris 1 Pengelola Kampung Sakura. Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama. Tim Abdimas Fakultas Sastra memberi paparan teori, sejarah dan filosofi Setelah sesi pertama selesai, kegiatan berikutnya yaitu praktik ikebana. Pada sesi praktik ini, para peserta pelatihan telah disiapkan dengan bermacam-macam bunga seperti bunga mawar, bunga krisan, dan lain-lain. Mereka boleh mengambil bunga sesuai selera masing-masing untuk nantinya dibuat praktik ikebana. Selain itu, para peserta juga mendapat kokedama semacam pot bunga dan savana atau busa untuk merangkai bunga. Sesi kedua atau sesi praktik ikebana ini sangat dinikmati oleh seluruh peserta pelatihan. Mereka dapat berkreasi sesuai selera masing-masing tanpa meninggalkan aturan-aturan dalam ikebana. Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Gambar 7. Praktik Membuat Ikebana . Membuat Makanan Jepang Sushi Gambar 8. Penjelasan Makanan Jepang. Sushi Sushi, salah satu makanan tradisional Jepang yang telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. Sushi pada awalnya adalah salah satu metode mengawetkan ikan dari China (Trahutami, 2. Ikan dibungkus nasi dan garam dan disimpan beberapa bulan bahkan ada yang sampai dua tahun sehingga terjadi fermentasi. Kemudian, nasinya dibuang dan ikan yang sudah terfermentasi inilah yang dikonsumsi. Metode pengawetan ini kemudian masuk ke Jepang pada zaman Yayoi yaitu sekitar 300 SM sampai 300 M bersamaan dengan teknik menanam padi di lahan basah. Kemudian pada abad ke 9, seiring dengan masuknya agama Budha yang melarang memakan daging akhirnya, sushi menjadi salah satu makanan favorit. Pada awal abad ke 19, variasi sushi muncul, misalnya: sushi yang dikepal . igiri sush. atau yang digulung . aki sush. , dan lain-lain. Hingga saat ini, nigiri sushi maupun maki sushi menjadi makanan Jepang yang terkenal ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbeda dengan asal muasalnya, sushi yang dikonsumsi sekarang justru menggunakan ikan segar/mentah sebagai topping-nya, dan dalam perkembangannya juga dapat menggunakan telur dadar, natto . lahan kedela. , dan lain-lain. Karena cara pengolahan yang tidak sulit dan rasa yang dapat disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, pengelola Kampung Sakura kemudian mempelajari cara membuatnya. Pelatihan membuat sushi telah dilaksanakan pada pengabdian sebelumnya. Saat ini, mereka mempraktikkan bagaimana cara mengajar membuat sushi kepada pengunjung dengan pendampingan dari Tim Abdimas Fakultas Sastra Unitomo. Ibu-ibu di Kampung Sakura yang telah mendapatkan pelatihan dari tim abdimas menyiapkan bahan, memasak, dan mempersiapkan untuk pelatihan membuat sushi kepada siswa SMK Kartika IV-1 Malang yang saat itu berkunjung dan belajar budaya Jepang. Dengan mengikuti cara yang telah diajarkan oleh tim abdimas. Ibu-ibu di Kampung Sakura berhasil melatih cara membuat maki sushi, dan para peserta sangat gembira dan antusias mengikutinya. Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Gambar 9. Praktik Membuat Sushi Dari hasil kegiatan pengabdian ini, tim abdimas memberikan angket kepuasan berupa kuisioner kepada para siswa-siswi SMK Kartika IV-1 Malang. Hasil angket terkait kebermanfaatan kegiatan pengenalan budaya Jepang yang dipraktikkan oleh mitra, tersaji dalam diagram lingkaran ini. Gambar 10. Pie Chart Kebermanfaatan Kegiatan Edukasi Budaya Jepang Berdasarkan diagram lingkaran, dari total 25 siswa SMK Kartika IV, sebanyak 15 siswa . %) menilai kegiatan ini sangat bermanfaat, sedangkan 9 siswa . %) menganggapnya Hanya 1 siswa . %) yang berpendapat bahwa kegiatan ini biasa saja, dan tidak ada siswa yang menilai kegiatan ini kurang atau tidak bermanfaat. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki minat dan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut, yang mencerminkan relevansi serta dampak positifnya bagi proses belajar mereka. Selain itu, mitra telah mampu mempraktikkan penggunaan Yukata, membuat Sushi, dan Ikebana, serta mengajarkannya kepada para pengunjung Kampung Sakura. Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desa wisata Kampung Sakura telah membawa pengelola menjadi lebih bertambah pengetahuan dan keterampilannya dalam bahasa dan budaya Jepang. Hal itu ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam mempraktikkan keterampilan yang diperoleh dari tim pengabdi dan mengajarkannya kepada pengunjung Kampung Sakura yaitu siswa siswi SMK Kartika IV/1 Malang saat berkunjung ke Kampung Sakura. Keterampilan tersebut meliputi memakaikan yukata, upacara minum teh . , merangkai bunga . dan membuat sushi. Keempat kegiatan ini dapat diterima dan diserap dengan baik oleh Pengelola Kampung Sakura. Dengan demikian. Tim Abdimas Fakultas Sastra telah mampu mentransfer pengetahuan perihal budaya Jepang kepada para Pengelola Kampung Sakura untuk dikembangkan lebih baik lagi. Copyright A 2025. The Author. Jurnal Pengabdian UNDIKMA: Jurnal Hasil Pengabdian & Pemberdayaan kepada Masyarakat https://e-journal. id/index. php/jpu/index Email: pengabdian@undikma. Vol. No. 3 (Agustus 2. E-ISSN : 2722-5097 Pg : 615-625 Saran Di Desa Sidomulyo terdapat tiga spot destinasi wisata bertemakan kejepangan, tetapi yang dikelola secara professional baru satu spot. Saran dari tim pengabdi sebagai gagasan selanjutnya kegiatan abdimas ini adalah perlakuan secara profesional terhadap dua spot lainnya, misalnya menjadikan dua spot tersebut menjadi destinasi wisata tematik, misalkan spot Chanoyu yang dilengkapi dengan ruang Jepang, spot makanan Jepang dengan dibuat cafy a la Jepang. Dalam kegiatan abdimas ini, tim abdimas Fakultas Sastra juga mengalami beberapa hambatan seperti belum mendapatkan dokumen tertulis tentang sejarah Kampung Sakura Sidomulyo Batu, batas wilayah adminstrasinya, serta tupoksi dari Pengelola Kampung Sakura. Meski demikian, data-data yang dibutuhkan oleh tim abdimas Fakultas Sastra sudah didapatkan dari Bapak Wakil Sekretaris 1 Pengelola Kampung Sakura. Sidomulyo Batu melalui rekaman voice note. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak LPM Universitas Dr. Soetomo yang telah menyelenggarakan dan mendanai kegiatan pengabdian melalui skema Program DIPA Pengabdian Kompetitif Universitas Dr. Soetomo tahun 2024. Kedua, ucapan terima kasih disampaikan kepada mitra tim pengabdi. Paguyuban Pengelola Wisata Kampung Sakura (PAPA TAKARA). Desa Sidomulyo. Kecamatan Batu. Kota Batu. Jawa Timur yang telah memberi izin dan mendukung kegiatan pengabdian Tim Pengabdi Fakultas Sastra Universitas Dr. Soetomo di Kampung Sakura. Daftar Pustaka