JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Model Pembelajaran PECARA (Peta Cerita Rakya. Berbasis Literasi Digital dan Budaya untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa SMA Faiza Nurrahmah1*. Syahrul R2 . Tressyalina3 . Afnita4 1*,2,3,4 Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia Article Info Article history: Received May 15, 2025 Accepted Jul 25, 2025 Published Online Aug 31, 2025 Keywords: Budaya Cerita Rakyat Digital Literasi ABSTRACT Rendahnya keterampilan literasi membaca dan pengetahuan budaya di kalangan siswa SMA Indonesia menjadi masalah serius yang berimplikasi pada prestasi akademik sekaligus pemahaman terhadap identitas nasional, ditambah dengan penggunaan gawai yang lebih dominan untuk hiburan daripada edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan desain model pembelajaran Pecara (Peta Cerita Rakya. serta manfaatnya sebagai model literasi digital dan budaya dalam meningkatkan minat baca siswa SMA. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan narrative review terhadap 30 artikel ilmiah terbitan 2020Ae2025 yang relevan dengan literasi digital, literasi budaya, dan gerakan literasi sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa model Pecara terdiri atas tiga tahap . endahuluan, inti, dan penutu. yang melibatkan kegiatan membaca cerita rakyat, menceritakan kembali, mendiskusikan nilai budaya, serta menempelkan hasil pembelajaran pada mosaik peta Indonesia. Temuan penelitian mengindikasikan potensi manfaat model ini dalam meningkatkan kemampuan literasi digital siswa, memperkuat pemahaman budaya dan identitas nasional, membangun kedekatan antara guru dan siswa, serta menghadirkan representasi visual cinta tanah air melalui mosaik peta. Meskipun bersifat konseptual dan belum diuji empiris, model ini memberikan kontribusi teoritis berupa kerangka pembelajaran integratif antara literasi digital dan budaya yang relevan untuk mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Penelitian selanjutnya disarankan menguji efektivitas implementasi model Pecara secara langsung di sekolah guna mengevaluasi dampaknya terhadap literasi, berpikir kritis, dan penguatan identitas budaya siswa. This is an open access under the CC-BY-SA licence Corresponding Author: Faiza Nurrahmah. Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia. Jalan Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Barat. Padang-Sumatra Barat 25131. Indonesia Email: faizanurrahmah@student. How to cite: Nurrahmah. Tressyalina. , & Afnita. Model Pembelajaran PECARA (Peta Cerita Rakya. Berbasis Literasi Digital dan Budaya untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa SMA. Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran, 5. , 806Ae819. https://doi. org/10. 51574/jrip. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Model Pembelajaran PECARA (Peta Cerita Rakya. Berbasis Literasi Digital dan Budaya untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa SMA Pendahuluan Era era digitalisasi semakin berkembang, keterampilan membaca menjadi salah satu aspek fundamental yang harus dimiliki oleh siswa di era ini (Ambarwati et al. , 2. Namun, rendahnya keterampilan membaca siswa masih menjadi permasalahan serius dalam pendidikan di Indonesia (Wardiyati, 2. Menurut laporan hasil studi PISA 2022 yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development. Indonesia menduduki peringkat bawah dalam keterampilan membaca di antara negara-negara anggota PISA (Putrawangsa & Hasanah, 2. Hal ini menunjukkan bahwa siswa di Indonesia mengalami kesulitan dalam memahami dan menganalisis teks bacaan secara kritis. Keterampilan membaca yang rendah tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga membatasi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan mencapai tujuan Selain keterampilan membaca, pengetahuan budaya di kalangan siswa SMA juga tergolong rendah. Siswa SMA di Indonesia memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai keragaman budaya dan adat istiadat yang ada di negara mereka sendiri (Irawati & Winario. Dalam konteks ini, rendahnya pengetahuan budaya dapat menjadi ancaman terhadap kesatuan nasional karena siswa tidak memahami, apalagi menghargai, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas bangsa. Rendahnya pengetahuan budaya ini menjadi salah satu masalah yang memerlukan intervensi karena seharusnya sekolah berperan sebagai media edukasi untuk mengenalkan dan menanamkan wawasan budaya bagi generasi muda (Muwahhida, 2. Meskipun siswa SMA memiliki akses luas terhadap teknologi, teknologi berupa gawai ini lebih sering digunakan untuk aktivitas yang bersifat hiburan daripada untuk kegiatan edukatif atau literasi (Alyana & Hidayati, 2. Sebagian besar siswa SMA di Indonesia lebih sering menggunakan gawai untuk mengakses media sosial, bermain gim, dan menonton video dibandingkan untuk membaca atau mencari informasi yang relevan untuk pendidikan (Pratiwi et al. , 2019. Suhendriani & Nugroho, 2. Padahal, dengan kemampuan literasi digital yang baik, gawai dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang efektif dan memungkinkan siswa untuk memperoleh informasi lebih banyak, terutama mengenai Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 kebudayaan nasional (Haslinda et al. , 2. Ketidakefektifan pemanfaatan gawai ini menyebabkan hilangnya potensi besar dalam meningkatkan literasi dan pemahaman budaya Literasi adalah kemampuan dasar yang sangat penting dalam pembentukan kompetensi siswa untuk menghadapi tantangan abad ke-21 dalam bidang pendidikan (Afnita & S, 2. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami, dan menganalisis informasi yang diperoleh dari berbagai sumber media (Nurul et al. , 2023. Wuyckens et al. , 2. Keterampilan literasi yang baik akan membantu siswa mengembangkan kemampuan untuk memahami informasi secara mendalam, berpikir analitis, dan mengekspresikan gagasan mereka dengan jelas. Dalam konteks pendidikan modern, literasi menjadi salah satu pilar utama yang menentukan keberhasilan siswa di dunia akademik dan kehidupan sehari-hari (Sundari, 2. Peningkatan literasi pada siswa SMA sangat penting karena pada usia ini, siswa membutuhkan keterampilan untuk memahami dan beradaptasi dengan perkembangan informasi dan teknologi yang pesat (Syam et al. , 2. Literasi digital dan budaya dapat dilakukan dengan membaca karya sastra. Karya sastra sebagai produk budaya yang mampu memberikan pencerahan bagi siapapun yang mengapresiasinya (Agustina et al. , 2. Selain itu, literasi budaya melalui karya sastra juga dapat meningkatkan kemmapuan berpikir kritis siswa (Ramadhana et al. , 2. Dengan membaca karya sastra yang diakses melalui internet, siswa akan memiliki pengalaman berharga dalam hal literasi digital dan budaya. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah inisiatif yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa di sekolah melalui berbagai aktivitas membaca dan menulis. GLS bertujuan untuk menciptakan budaya literasi yang menyenangkan dan menantang, sehingga siswa terinspirasi untuk meningkatkan kemampuan literasinya secara mandiri (Sutrianto et al. , 2. GLS berupaya untuk tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi dasar, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter melalui kegiatan literasi yang terstruktur. Model literasi yang terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah mampu memberikan dampak positif pada keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pemahaman budaya siswa (Handayani, 2. Model seperti GLS dirancang agar mampu menumbuhkan kebiasaan membaca serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap berbagai jenis literasi, termasuk literasi digital dan budaya, yang penting bagi generasi muda di era digital ini. Literasi digital dan literasi budaya merupakan dua kompetensi penting yang saling melengkapi dalam pendidikan abad ke-21. Literasi digital mencakup kemampuan Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 ISSN 2776-8872 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran menggunakan, memahami, mengevaluasi, dan mengelola informasi digital melalui berbagai perangkat seperti komputer dan internet (Wajdi et al. , 2. , serta keterampilan berpikir kritis dalam menilai informasi daring yang esensial agar siswa mampu memilah informasi bermanfaat dan menghindari hoaks (Naufal, 2021. Tuwu et al. , 2. Sementara itu, literasi budaya mengacu pada kemampuan memahami dan menghargai nilai-nilai budaya lokal di tengah keragaman Indonesia(Nursaptini & Widodo, 2. , yang penting dalam membentuk karakter toleran, cinta tanah air, dan identitas nasional (Khasanah & Herina, 2019. Widiastuti et al. , 2. Keduanya menjadi landasan penting dalam pendidikan SMA untuk menyiapkan siswa menghadapi tantangan global tanpa kehilangan akar budayanya. Dalam upaya meningkatkan keterampilan literasi siswa, diperlukan model yang dapat mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran (Warsinah et al. , 2. Beberapa penelitian terkait model pembelajaran literasi berbasis digital di sekolah telah dilakukan. Pantiwati et al. melakukan penelitian pengembangan model pembelajaran Li-Pro-GP menemukan bahwa model Li-Pro-GP dapat meningkatakan literasi dan penguatan karakter pada siswa. Selain itu. Madjid et al. , . melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Literasi Digitalmelalui Model Pembelajaran MANISE pada SMP Swasta 08 Namrole. Dalam MANISE mengembangkan kemampuan berliterasi digital dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa. Namun, dari hasil penelitian terdahulu belum ditemukan model pembelajaran yang mengintegrasikan literasi digital dan budaya, sehingga peneliti bermaksud mengonsepkan model Pecara ini sebagai model pembelajaran di sekolah. Model pembelajaran Pecara (Peta Cerita Rakya. dirancang sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan rendahnya keterampilan litersi dan pemahaman siswa terkait Model ini dirancang untuk mengenalkan budaya literasi digital dan meningkatkan pemahaman siswa mengenai keberagaman budaya di Indonesia melalui kegiatan membaca dan menulis yang terstruktur. Dengan melibatkan siswa dalam aktivitas membaca cerita rakyat dari daerah tertentu dan menuliskannya pada kertas stiker yang disediakan sesuai dengan pola mosaik peta Indonesia, model ini tidak hanya meningkatkan keterampilan literasi digital siswa, tetapi juga memperkenalkan mereka pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Melalui model ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami dan menghargai kebudayaan Indonesia sekaligus memanfaatkan gawai secara lebih produktif untuk tujuan pendidikan. Model pembelajaran Pecara (Peta Cerita Rakya. dikembangkan sebagai model yang mengintegrasikan literasi digital dan literasi budaya untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa secara keseluruhan. Dalam model ini, siswa tidak hanya diajarkan keterampilan digital. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 ISSN 2776-8872 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran tetapi juga dibimbing untuk memahami kebudayaan Indonesia dengan cara yang menarik dan Penggunaan teknologi dalam kegiatan literasi budaya dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar dan mengeksplorasi kebudayaan nasional (Nursaptini & Widodo, 2. Integrasi literasi digital dan literasi budaya melalui model Pecara memungkinkan siswa untuk memperoleh keterampilan literasi digital sambil mendalami budaya lokal, sehingga mereka dapat mengenal nilai-nilai dan identitas nasional. Pendekatan pembelajaran yang terintegrasi dengan budaya meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan membangun kesadaran siswa akan pentingnya kebudayaan lokal (Muwahhida, 2. Dengan menggabungkan literasi digital dan literasi budaya, model Pecara diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memanfaatkan gawai untuk kegiatan edukatif yang positif, membangun karakter, dan memperkuat rasa cinta tanah air. Dukungan guru sebagai fasilitator juga penting dalam memastikan bahwa siswa dapat mengikuti kegiatan ini secara efektif, sehingga model ini dapat memberikan dampak yang nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan literasi di SMA. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk . mendeskripsikan desain model pembelajaran Pecara berbasis literasi digital dan budaya untuk meningkatkan minat baca siswa SMA dan . mendeskrispsikan potensi manfaat dari penerapan model pembelajaran Pecara. Penelitian ini memberikan sumbangan teoritis berupa pemahaman yang lebih mendalam tentang model pembelajaran Pecara untuk mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Selain itu, model ini dapat menjadi inspirasi bagi guru dan pengembang kurikulum dalam merancang model pengembangan literasi yang efektif dan menyenangkan, serta menjadi rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait pengembangan model Pecara untuk meningkatkan minat baca siswa. Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan narrative review. Metode studi literatur digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menginterpretasikan data yang diperoleh dengan tujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian (Nur & Uyun. Dengan mengidentifikasi potensi pengembangan model pembelajaran Pecara berdasarkan penelitian terkait gerakan literasi sekolah yang telah ada. Prosedur narrative review ini dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis. Pertama, peneliti mengidentifikasi sumber data dengan melakukan pencarian artikel ilmiah menggunakan perangkat lunak Publish or Perish yang terhubung ke pangkalan data Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian meliputi Augerakan literasi sekolahAy. Auliterasi digitalAy, dan Auliterasi budayaAy. Kedua, peneliti Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 menetapkan untuk menyeleksi artikel yang relevan. Artikel yang dipilih merupakan publikasi dalam rentang waktu lima tahun terakhir . 0Ae2. yang relevan dengan konteks pendidikan dan membahas implementasi atau evaluasi program literasi. Ketiga, artikel yang telah terseleksi dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi tematema utama, tren penelitian, serta potensi kontribusinya terhadap pengembangan model pembelajaran Pecara. Aspek yang dikaji meliputi tujuan, pendekatan, hasil, dan rekomendasi dari masing-masing artikel. Keempat, hasil analisis diinterpretasikan dan disintesiskan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai potensi pengembangan model pembelajaran yang berbasis pada literasi sekolah, baik dalam dimensi digital maupun budaya. Melalui tahapan ini, diperoleh 30 artikel yang menjadi dasar pijakan dalam merumuskan arah dan kerangka model pengembangan pembelajaran Pecara yang sesuai dengan kebutuhan literasi di lingkungan sekolah. Hasil dan Pembahasan Desain Model Pembelajaran Pecara (Peta Cerita Rakya. Permasalahan terkait rendahnya literasi perlu diatasi dengan dibuatnya model pembelajaran berbasis teknologi (Syam et al. , 2. Upaya yang dapat dilakasanakan adalah perancangan model Pecara yang mengintegrasikan budaya literasi digital dan budaya. Konsep model ini dirancang agar dapat diterapkan menjadi bagian dari GLS dengan harapan mampu menumbuhkan budaya literasi bagi siswa SMA. Konsep sintak model pembelajaran Pecara dapat diamati pada Gambar 1 berikut. Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Gambar 1. Sintaks pelaksanaan model Pecara Untuk melaksanakan model Pecara, langkah pertama yang dilakukan guru bersama siswa adalah membuat peta Indonesia dan menempelkan daftar cerita rakyat dari berbagai daerah di belakang kelas. Selanjutnya, pada hari pelaksanaan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), guru mengarahkan siswa untuk membaca cerita rakyat dari berbagai wilayah Nusantara. Setelah membaca, siswa diminta untuk menceritakan kembali isi cerita dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelas yang menggali nilai-nilai moral, sosial, dan budaya dari cerita yang dibaca. Sintaks ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menyampaikan kembali isi teks . emampuan literasi fungsiona. , tetapi juga untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap keragaman budaya Indonesia. Konsep ini selaras dengan prinsip pembelajaran berbasis budaya yang mengedepankan koneksi antara teks dan konteks sosial budaya siswa (Muwahhida, 2. Dibandingkan dengan pendekatan GLS konvensional yang sering kali hanya berfokus pada kegiatan membaca mandiri, model Pecara menekankan interaksi sosial, refleksi nilai Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 budaya, dan integrasi visual-spasial melalui pemetaan cerita rakyat. Sementara itu, jika dibandingkan dengan literasi berbasis proyek . roject-based literac. , model ini cenderung lebih ringan dari sisi beban teknis, tetapi tetap mampu menumbuhkan kompetensi berpikir kritis dan kolaboratif melalui aktivitas diskusi dan penyampaian ulang teks. Pendekatan ini juga konsisten dengan prinsip multiliterasi. Artinya, siswa tidak hanya memahami isi bacaan, tetapi juga mengaitkannya dengan identitas dan latar sosial budayanya (Pantiwati et al. , 2. Dengan demikian, sintaks model Pecara efektif dalam mengembangkan literasi yang kontekstual dan berakar pada kearifan lokal, sekaligus membangun kesadaran kebinekaan di lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaan model Pecara, dukungan dan partisipasi dari guru serta siswa sangat Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam proses membaca, memahami, serta menyampaikan informasi budaya yang diperoleh dari berbagai sumber digital (RifaAoi et al. , 2. Siswa akan memanfaatkan gawai masing-masing untuk mencari informasi budaya dari suku atau daerah tertentu, melakukan kegiatan membaca, kemudian menuliskan informasi yang didapat dalam bentuk catatan pada kertas berwarna yang nantinya ditempelkan pada bidang mosaik berbentuk peta Indonesia di belakang kelas. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya wawasan siswa terhadap kebudayaan Indonesia tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui representasi visual peta Indonesia yang terbentuk dari kertas berisi catatan terkait budaya. Tampilan visual dari peta literasi Indonesia disajikan pada Gambar 2 berikut. Gambar 2. Ilustrasi peta Indonesia dari mosaik kertas model Pecara Melalui model ini, literasi digital dan budaya siswa SMA dapat berkembang secara Literasi digital yang baik akan membantu siswa dalam memilah informasi yang bermanfaat, sementara pemahaman budaya yang kuat akan memperkaya identitas mereka Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 sebagai bagian dari bangsa Indonesia (Fahman Arbi & Amrullah, 2. Seiring waktu, model ini mampu menciptakan generasi muda yang literat, berbudaya, dan cinta tanah air. Potensi Manfaat Penerapan Model Pembelajaran Pecara (Peta Cerita Rakya. Implementasi model Pecara berpotensi meningkatkan minat baca, literasi digital, dan pemahaman budaya pada siswa SMA. Meskipun temuan ini belum diuji melalui data lapangan, potensi manfaat dari penerapan model Pecara dapat dilihat dari beberapa indikator konseptual dan temuan studi terdahulu. Beberapa potensi manfaat yang dari penerapan model Pecara adalah sebagai berikut. Peningkatan Literasi Digital Model ini berpotensi meningkatkan kemampuan literasi digital siswa, khususnya dalam hal pencarian informasi, penilaian kredibilitas sumber, serta pemahaman isi secara kritis. Proses pencarian dan pengkajian cerita rakyat dari berbagai suku di Indonesia mendorong siswa untuk menggunakan berbagai platform digital secara aktif. Keterlibatan siswa dalam kegiatan berbasis teknologi yang diarahkan secara pedagogis mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara kritis (Wisudojati et al. , 2. Selain itu, penggunaan gawai untuk kegiatan literasi yang diintegrasikan dengan konten lokal mampu memperkuat relevansi pembelajaran bagi siswa dan meningkatkan partisipasi mereka dalam aktivitas literasi (Susandi et al. , 2. Dengan demikian, meskipun masih bersifat prospektif, model Pecara memiliki potensi sebagai sarana pengembangan literasi digital yang bermakna dan kontekstual di era pembelajaran berbasis teknologi. Penguatan Pemahaman Budaya dan Identitas Nasional Model Pecara dirancang tidak hanya untuk memperkuat literasi digital siswa, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran akan keragaman budaya Indonesia. Dalam praktiknya, siswa diminta mencari informasi tentang budaya dari salah satu suku di Indonesia, menuliskannya di atas kertas berwarna, dan menempelkannya pada mosaik peta Indonesia yang dipajang di Aktivitas ini secara konseptual berpotensi meningkatkan pemahaman lintas budaya dan memperluas wawasan siswa terhadap keberagaman etnik. Kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan elemen budaya lokal dapat mendorong perkembangan sikap toleran dan memperkuat identitas nasional siswa (Muwahhida, 2. Meskipun belum diuji secara empiris, model Pecara berpotensi membentuk sikap menghargai perbedaan karena siswa dikenalkan pada budaya di luar daerah asalnya melalui proses eksploratif dan kolaboratif. Hal ini sejalan dengan penelitian Ridho et al. , . bahwa pembelajaran berbasis budaya yang dilakukan secara konsisten mampu memperkuat identitas kebangsaan serta membangun Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. Dengan menggabungkan teknologi digital dan kekayaan budaya lokal, model ini dapat menjadi pendekatan literasi yang relevan untuk meningkatkan literasi digital dan menumbuhkan kesadaran budaya pada siswa. Pembangun Kedekatan antara Guru dengan Siswa Peran guru sebagai fasilitator dalam model Pecara memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan literasi digital dan budaya di sekolah. Guru tidak hanya membimbing siswa dalam mencari dan menilai informasi yang relevan, tetapi juga mengarahkan siswa untuk menggunakan sumber yang kredibel serta melatih keberanian menyampaikan hasil eksplorasi secara lisan di kelas. Penelitian yang dilakukan RifaAoi et al. menunjukkan bahwa keterlibatan aktif guru dalam proses pembelajaran literasi digital dapat meningkatkan motivasi belajar dan memperkuat keterampilan komunikasi siswa. Selain itu, peran guru dalam memfasilitasi eksplorasi budaya berdampak positif terhadap tumbuhnya rasa percaya diri siswa dalam berbicara di depan umum dan meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan (RifaAoi et al. , 2. Dengan demikian, model Pecara berpotensi menciptakan suasana belajar yang akrab antara guru dan siswa sehingga menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, partisipatif, dan bermakna. Mosaik Peta Indonesia sebagai Representasi Visual Cinta Tanah Air Salah satu bagian unik dari model Pecara adalah pembentukan mosaik peta Indonesia dari kertas-kertas berisi catatan siswa tentang cerita rakyat dari berbagai daerah yang dibaca. Peta ini berfungsi sebagai representasi visual dari rasa cinta tanah air yang ingin ditumbuhkan dalam diri siswa. Representasi visual seperti ini dapat memperkuat identitas budaya dan nasional karena secara simbolis menggambarkan keragaman yang menjadi karakteristik negara (Tamrin, 2. Dengan mosaik peta ini, siswa merasa lebih dekat dengan budaya Indonesia melalui mosaik yang mereka bentuk secara kolektif. Peta ini tidak hanya berfungsi sebagai hasil akhir model, tetapi juga sebagai simbol keberhasilan dalam menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air dan literasi digital yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, model Pecara dapat meingintegrasikan literasi digital dan budaya bagi siswa SMA dapat berkembang secara beriringan melalui kegiatan yang dirancang secara kreatif dan terintegrasi dengan teknologi. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Pertama, model pembelajaran Pecara dilaksanakan dalam beberapa sintaks, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Kedua, model pembelajaran Pecara menunjukkan potensi manfaat untuk Vol. 5 No 2. Tahun 2025, hal. 806 Ae 819 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 meningkatkan literasi digital sisiwa, penguatan pemahaman budaya dan identitas nasional, membangun kedekatan antara guru dan siswa, serta mosaik yang dihasilkan menjadi representasi cinta tanah air. Kontribusi ilmiah dari penelitian ini terletak pada penyusunan kerangka konseptual model pembelajaran Pecara berbasis literasi digital dan budaya. Untuk pengembangan lebih lanjut, penelitian berikutnya disarankan untuk fokus pada pengujian efektivitas penerapan model Pecara ini secara langsung di sekolah. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengevaluasi dampaknya terhadap kemampuan berliterasi, berpikir kritis, dan penguatan identitas budaya pada siswa. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. DAFTAR PUSTAKA